DON’T CRY! [Chapter 2]


DON’T CRY.

 

Author                        : Kwon Yura
Main Cast                   : Kwon Yuri
Cho KyuHyun
Hwang Tiffany
Jung Jessica
Choi Min Ho
Im YoonA
Choi Siwon
TOP(Choi SeungHyung)
GD (Kwon JiYoung)
Key (Kim Kibum)
Park Bom
Seo Joo Hyun (SeoHyun)
Backsound : – Park Bom – Don’t Cry
–         SNSD Tiffany Yuri – Baby Baby
–         As One – Miahn Gu Nih
–         Jung YongHwa –  Banmal Song
–         Cn Blue – Love Light
–         SNSD Yuri SooYoung – For Sure
–         SNSD Teyeon – I Love You (Ost Anthena)
–         Park Bom – You and I
–         Ost It Started With Kiss – Track 5 (drama Taiwan)
Gendre                        : Series
Rated                           : +15
Descleimer               : This fanfic is my imagination and my feeling. Don’t COPY AND PLAGIAT PLEASE!!!

 

~ Min Ho Pov~
“ Jagi, nanti kita jalan-jalan ya?” pinta Sica sambil merangkul lenganku. Saat ini kami sedang berjalan menuju kelas kami yang terletak di lantai 3.
Aku menatapnya sekilas denngan tatapan senang. Tentu saja aku bohong, bila aku menatapnya seperti itu sebenarnya, aku kesal mendengar semua ke manjaannya dan permintaannya yang begitu egois!
“ Jagi?” panggil Sica dengan nada memelas.
“ Mwo? Lihat nanti saja, Sic.” Jawabku dengan malas.
“ Ok.” Katanya dengan senyum senang diwajahnya.
Aku tersenyum balik padanya. Aku tidak tahu, mengapa aku bisa menembak Sica dulu? Padahal ia bukan tipe idealku sama sekali. Tipe idealku sebenarnya adalah Yuri, Kwon Yuri. Ia benar-benar cantik, manis, tinggi, dewasa, dan ia selalu berpikir jernih dalam menghadapi permasalahan.
Aku tersenyum mengingat Yuri yang sedang tersenyum. Dan satu lagi, ia tak mudah didekati! Ia selalu menjaga jarak bila bersama namja-namja lain.
“ Jagi? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Sica yang mengalihkan perhatianku padanya.
“ Ani.” Jawabku datar. Aku ingin cepat-cepat masuk ke kelas daripada membahas yang tak penting bersama Sica.
“ Jagi, rasanya aku lelah sekali.”
Aku menatap Sica dengan wajah malas mendengar semua omongannya. “ Wae?”
“ Aku malas sekolah.” Ucapnya dengan suara malas.
“ Kalau begitu tidak usah sekolah.” Ucapku cuek.
“ Tapi kalau tidak sekolah aku tidak bisa melihatmu, Choi Min Ho!” ucapnya sambil menatapku.
Aku menatap lurus ke depan jalan. “ Kalau begitu sekolah saja.” cuek.
“ Tapi…” Sica berhenti bicara karena bunyi bel masuk telah berbunyi.
“ Bye Jagi.” Ucapku sambil tersenyum padanya dan merasa senang karena tak perlu mendengar ocehan dia lagi.
Sica memenjamkan matanya menantikan ciuman dariku. Aku menghela napas. Aku mencium keningnya sesaat.
~ Yuri Pov~
Pelajaran telah usai semuanya. Dan sekarang, aku akan pergi dengan Tiffany, YoonA, Jessica, Min Ho, TOP, Daesung, Taeyang, Taeyon, SeoHyun, dan HyoYeon ke rumah hantu.  Sebenarnya aku tidak mau, tapi kata Min Ho KyuHyun ikut. Jadi aku mau ikut pergi. Tapi, saat ingin berangkat KyuHyun tak jadi ikut karena ia lelah.
Dan disinilah kami, di mall X yang ada rumah hantunya. Aku hanya menatap bangunan yang dibuat dengan bentuk labu saat hallowen datang.
“ Andwae! Aku tidak jadi! Kalian saja.” Ucap Sica saat kami ingin membeli tiket.
“ Wae? Kau kan yang mengajakku Sic.” Ucapku bingung. Ia mengajakku ke rumah hantu dan menertawaiku sebelum kami pergi ke sini.
“ Ani, ani, Yuri ya~ aku tidak bisa dan aku tidak ingin ok?” ucapnya sambil menahan tangis dan memegangi perutnya.
“ Lho? Bukankah kau sudah biasa melihat setan-setan?” tanyaku bingung. Iya, dia memang memiliki indra keenam untuk melihat hal-hal yang tak mungkin kita lihat.
“ Iya, tapi kalau yang sebenarnya sih masih tak apa Yul, kalau yang benar-benar tampak.. I’m sorry Yul.” Memasang wajah melas.
“ Kau ini gimana sih Sic, kau kan mengajak kami.” Ucap YoonA.
“ Andwae, kalian semua saja.” Ucapnya
“ Jagi, kau tenang saja, ada aku disampingmu.” Ucap Min Ho.
“ Kalau kalian ingin ya sudah masuk saja, jangan pedulikan aku. Aku disini saja menunggu kalian.” Ucap Sica
“ Oh oke arra. Come on Yoong.” Ucapku sambil menarik tangan YoonA.
“ Min Ho?” tanya YoonA.
“ Min Ho apa kau ingin masuk? Ikut saja bersama mereka.” Ucap Sica.
“ Lalu, kau bagaimana?” tanya Min Ho.
“ Gwenchanayo, tidak usah khawatir.” Ucap Sica meyakinkan.
“ Tidak usah, aku disini saja menemani Sica.” Ucap Min Ho sambil menghela napas.
“ Jeongmal Jagi?” tanya Sica pada Min Ho. Min Ho membalasnya dengan anggukan.
“ Gomawo.” Ucap Sica lagi.
Aku dan YoonA pergi meninggalkan mereka berdua.
“ So, kita akan membagi grup kita.” Ucap YoonA saat kami sudah membeli tiket masuk. “ Aku, Yuri, Tiffany dan Daesung serta dua orang namja yang tak dikenal grup pertama. Serta grup ke dua TOP, Taeyang, SeoHyun, Taeyeon, dan HyoYeon. So, kita akan bertemu di dalam sana jika kita bertemu ok?” ucap YoonA menjelaskan. Karena jumlahnya harus 6, terpaksa aku, YoonA, Fany, dan Daesung menerima orang yang tak dikenal.
“ Ya, kenapa di grup satu namjanya hanya Daesung seorang?” protesku.
“ Sudahlah Yuri, kau terima saja kenyataan itu.” Ucap Teyeon.
“ Aishh, dasar kalian ini.” Pasrahku.
“ Ayo kita mengantri.” Ucap YoonA.
Kami memasuki pintu masuk pertama. Tempat ini gelap dan bau amis darah. Di depan kami ada tirai yang menutupi setiap ruangan yang ada. Oh My God! It’s really make me scared!
“ Ya! Daesung kau didepan!” ucap YoonA.
“ Ya! Kenapa harus aku?” protesnya.
“ Karena kau seorang namja!” ucap Tiffany.
“ Sudahlah, kau menyerah saja.” Ucapku.
“ Dasar para yeoja ini, mau menangnya saja.” Ucapnya pasrah.
Kami berjalan dan memasuki ruang pertama. Diruangan ini sungguh gelap dan hanya di sinari lampu remang-remang yang tak bisa diandalkan. Ke dua namja dibelakangku ketakutan. Didepan kami, ada seorang wanita berpakaian putih dan berambut acak-acakkan. Pakaiannya terkena banyak darah.
Aku menahan napasku. Ya Tuhan, setan apa itu? Aku memenjamkan mataku dan aku sempat melihat setan itu mencolek Desung. Kami berlari-lari menyelamatkan diri kami masing-masing. Aku berpegangan pada baju YoonA, aku menggenggamnya sangat erat.
Ruang ke dua, adalah setan sadako! O My God! It’s really not good! Batinku. Kami melewati setan itu dengan harap-harap cemas.  Setan itu merentangkan tangannya seakan siap menangkap kami dan menangkap kami. Ia menatapku. Kami semua berteriak dan menjerit melihat setan itu. Desung mencari jalan keluar dengan bingung, sedangkan kami menunggunya untuk membawa kami keluar.
Kami sudah berada di pojok sudut ruangan. Tubuh kami semua bergemetar ketakutan. “ Daesung1 Palli cari jalan keluarnya.” Ucapku gemetar.
“ Sabar, aku sedang mencari.” Ucapnya.
Setan sadako itu semakin mendekati kami. Aku menjerit sekeras mungkin.
“ Desung! Please!” pintaku.
“ Eh, Ahjusshi, pintu keluarnya dimana ya?” tanya Desung pada setan sadako itu, pada akhirnya.
“ Ha? Oh, pintunya disana.” Ucap setan sadako tersebut sambil menunjuk jalan lebar .
“ Oh, kamshamnida ahjussi.” Ucap Dasung yang membuatku menatap mereka heran.
Mwo?! Batinku heran.
Kami melewati setan sadako dengan ketakutan kecuali.. Desung? Dua orang namja dibelakangku mendorongku keluar dari barisan. Aku panic saat berbalik sudah tak ada grupku lagi. Aku harus kemana?! Batinku bingung.
Aku kembali ke ruang dua dimana tempat kami tadi dengan berlari. Dan disinilah aku disudut ruang sama seperti tadi, dan setan sadako itu mendekatiku. Aku berteriak keras sedangkan setan itu semakin dekat.
Yul! Berpikir! Ucapku panic.
“ Sirheo! Jangan mendekat! STOP! STOP! STOP!” pintaku pasrah dan meyakinkan dengan tangan ke depan memperingatkan. Lambungku terasa sakit sekali tiba-tiba. Aku merasa lemas dan tak bertenaga lagi.
Setan itu berhenti. “ Ok, ok, tenang, tenang.” Ucap setan itu.
“ Ayo, lewat sini!” ucap pemberitahu jalan yang entah darimana. Aku mengikutinya yang membawaku ke ruang tiga. “Sudah masuklah.” Ucap orang pemberitahu itu.
Aku memasukinya dengan tanpa pikir panjang. Saat masuk betapa kagetnya aku, saat ada setan didepanku berjalan dengan mengesot dilantai. Aku berteriak sekencang mungkin lalu membalikkan badan  dan berlari dengan kencang. Dan menemukan grup ke dua. Aku ingin berlari memeluk Taeyang tapi tak jadi, karena entah kenapa hatiku menolaknya.
(*backsound: Banmal Song)
Aku berlari ke belakang barisan dan melihat TOP. Tanpa pikir panjang, aku memeluknya dengan erat sekali. TOP membalas pelukanku dengan erat juga.
“ Gwenchana Yul, gwenchana, aku ada disini untukmu.” Bisiknya ditelingaku.
Aku menangis dan terisak mendengar ucapannya. Ia menghapus air mataku dengan lembut dan pelan. Lambungku bertambah sakit karena mungkin merasa ketakuan.
“ Gwenchana ok?” ucapnya sambil menenangkan hatiku.
Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Saat ini, wajah kami sangat dekat sekali. Ia tersenyum padaku. Aku tahu, ia mencoba menenangkanku. Aku membalas senyumannya.
“ Kita lanjutkan perjalanan lagi ok? Biar kita semua bisa keluar. Tenang saja aku akan melindungimu Yul.” Ucapnya lagi. Membuatku tenang mendengarnya.
Aku tahu ia tak bohong padaku. Karena ia terus memelukku dari belakang dengan erat dan menjagaku dari setan-setan yang menakutkan.
Kami memasuki ruang ke-3. Setan yng mengesot dilantai itu menyentuh kakiku tapi TOP langsung menendangankan kakinya ke arah setan wanita itu. Tapi, ia tahan karena ada peraturan sebelum memasuki ruangan tertulis : “ JANGAN MERUSAK ALAT-ALAT DAN FASILITAS YANG ADA! SERTA JANGAN MENYAKITI SETAN YANG ADA!”
“ Aisshh!” gumamnya kesal.
Aku menatapnya dengan rasa yang masih ketakutan. “ Gwenchanayo?” tanyaku.
“ Gwenchana Yuri.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.
Kami melanjutkan perjalanan ke ruang 4. Disana rupanya banyak setan-setan. Aku menatap mereka dengan takut dan juga rasa cemas. TOP mempererat pelukannya padaku. Membuatku tenang sekali. Aku melihat setan wanita berambut panjang sedang duduk di ayunan, dan laki-laki bertubuh tinggi menjulang.
Mereka menakut-nakuti kami. Kami semua berjalan cepat sambil mencari pintu keluar. Dan saat kami keluar dari ruang 4, kami memasuki ruang 5. Disini tak ada apa-apa. Saat kami ingin berbelok dan berlari menuju pintu keluar, kami dikagetkan dengan setan yang dibungkus kain putih? Setan macam apa itu? Batinku. Kami semua berteriak ketakutan dan berlari menuju pintu keluar. Aku berlari keluar dan TOP mengikutiku dibelakangku.
Begitu sampai luar, aku melihat YoonA yang sedang ngosh-ngoshan dan wajah yang pucat serta ia menahan air mata yang hampir keluar. Aku memeluknya erat, ia juga membalas pelukanku dengan erat. Aku hampir benar-benar menangis. Kami mensudahi pelukan kami.
Aku menghampiri Sica yang daritadi melihatku. Aku berlari ke arahnya.
“ Otthokhe?” tanyanya.
“ Menakutkan.”
Min Ho menatapku. Aku tahu, ia pasti juga penasaran dengan rumah hantu itu.
“ Mana Tiffany?” tanyaku yang daritadi tidak melihatnya.
“ Beli air katanya sama SeoHyun.” Ucap Sica.
“ Oh.” Ucapku masih ngosh-ngoshan dan masih merasakan lambungku sangat sakit.
“ Gwenchana?” tanya TOP khawatir, yang entah darimana datangnya. Ia berdiri tepat disampingku. ( backsound: Banmal song. )
Aku mengangguk. “ Gomawo.” Ucapku padanya.
“ Chomaneyo Yul.” Ucapnya padaku sambil mengelus rambutku dengan perasaan sayang?
Aku ahu semua mata teman-temanku menatap kami berdua. Tapi, apa peduli kami?
“ Apa kau membutuhkan sesuatu? Seperti makanan atau minuman?” tanyanya lagi.
“ Ani, tidak usah.” Tolakku halus.
“ Sudah jangan menangis lagi ok?” pintanya. Sambil membalikkan badanku. Saat ini, kami berhadap-hadapan satu sama lain.
Aku mengangguk. TOP mengangkat wajahku yang sedaritadi aku menundukkan kepala. Ia menatapku dan aku menatapnya dengan heran. Mau apa dia? Batinku.
Ia lalu menghapus air mataku yang masih tertahan dipelupuk mataku dengan lembut dan pelan. Ia tersenyum padaku. “ Jangan menangis, kau lebih cantik saat tersenyum.” Ucapnya tiba-tiba yang membuatku tertawa mendengar ucapannya.
“ Ya! Apa kau sedang mencoba merayuku?” tanyaku padanya. Ia masih memegang wajahku.
“ Merayumu? Ani, enak saja! Aku sedang mengejekmu! Mana mungkin aku merayu kau yang jelek ini!” ucapnya tiba-tiba yang membuatku kesal.
“ Ya! Dasar alien!!” ucapku kesal padanya. Aku menepis tangannya yang memegang wajahku.
“ Mwoya?! Enak saja! Dasar MiYoungi!” ucapnya tak mau kalah. MiYoungi adalah nama nenekku, ia guru SMP kami berdua.
“ Ya! Dasar kau ini!” ucapku kesal sambil memukul lengannya dengan kesal.
“ Ya! Appa!” rintihnya sambil mengelus lengan kiri yang ku pukul.
“ I don’t care!” menatapnya kesal.
“ Aishh! Sudahlah aku ingin pulang dulu.” Pamitnya.
“ Mwo? Wae? Kau tidak ikut makan?” tanyaku.
“ Ani, tidak usah. Aku pulang saja, bye!” ucapnya sambil melambai padaku kemudian pada teman-temanku yang lainnya.
“ Yul, kenapa kau tak jadian saja dengan TOP?” tanya Sica membuatku kaget mendengar ucapannya.
“ Mwo?!!” tanyaku shock.
“ Kalian berdua lucu tau! Kalau kalian pacarankan nanti pasti lucu banget.” Tambah YoonA.
Aku menatap mereka berdua dengan bingung. “ Aniyo. We are just friend.” Ucapku yakin.
“ Wae? Kalian benar-benar cocok!” ucap YoonA.
“ Ani, lagipula ia sudah memiliki Bom Onnie.”
“ Aishh, sayang sekali.” Pasrah Sica dan YoonA barengan.
“ Ngomong-ngomong Tiff mana?” tanyaku.
“ Mollaseo~ katanya ingin beli minum.” Ucap Sica sambil melihat sekeliling.
“ Telpon saja.” Usulku sambil menatap YoonA.
“ Ok.” YoonA mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Tiff.
“ Odieseo?” tanya YoonA. “ Oh, cepat ya kami masih ditempat tadi.”…  “Ok. Bye.” Sambungan terputus.
“ Dimana dia?” tanyaku.
“ Toilet.”
“ Oh.”
“ Aku ingin masuk.” Ucap Sica tiba-tiba.
“ Masuk? Kemana?” tanyaku bingung.
“ Ke rumah hantu.”Sica memasang wajah melas.
“ Masuk bersama Min Ho.” Usulku.
“ Nggak mau, pasti dia meninggalkanku di dalam dan pergi melarikan diri sendiri.” Ucap Sica menatap Min Ho disampingnya.
Min Ho hanya tersenyum menatap Sica balik.
“ Lalu sama siapa?” tanya YoonA.
“ Maunya sama TOP.” Ucap Sica menatapku.
“ Dia sudah pulang.” Ucapku.
“ Yahh…” keluhnya.
“ Sudahlah, sama Min Ho saja sana.” Usulku.
“ Nggak mau dia pasti meninggalkan aku.”
“ Aniyo jagi, aku pasti menjagamu.” Ucap Min Ho.
“ Jeongmal?” tanya Sica menatap Min Ho dengan memelas.
“ Ne.” yakin Min Ho.
“ Yoong antarkan aku beli tiket.” Ucap Sica. YoonA mengangguk lalu mengantarkan Sica mengantri tiket.
Sekarang hanya aku dan Min Ho saja.
“ Bagaimana rasanya di dalam sana?” tanya Min Ho tiba-tiba.
“ Hm? Oh. Menakutkan.”
“ Apa kau tadi kepisah dengan Tiff dan YoonA?”
“ Ne.”
“ Wae?”
“ Aku di dorong ke luar barisan oleh dua orang namja dibelakangku.” Ucapku sambil mengingat kejadian tadi.
“ Kejam sekali dua orang namja itu.” Kesal Min Ho sendiri.
“ Hm? Tidak juga. Aku tahu mereka pasti juga panic dan yang hanya dipikiran mereka adalah bagaimana cara keluar dari sini.” Ucapku tenang.
“ Hm? Mungkin. Kau baik-baik sajakan?” tanyanya.
“ Mungkin?” tanyaku pada diri sendiri.
“ Maksudmu?”
“ Ani, gwenchana.” Bantahku. Tak ingin siapapun tau kalau lambungku terasa perih dan sakit.
“ Jeongmal?” tanyanya untuk meyakinkan.
“ Ne, gwenchana.” Senyumku padanya.
“ Yul!” panggil seseorang yang suaranya sangat familiar ditelingaku. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Tiff sedang berlari ke arahku. Aku tersenyum padanya.
“ Ya! Kenapa kau menghilang dari barisan?” tanyanya.
“ Aku di dorong dua orang namja.” Ucapku polos.
“ Mwo?! Namja yang dibarisan kita itu?” tanyanya.
“ Ne.” anggukku.
“ Gwenchana?”
“ Gwenchanayo Tiff.” Ucapku sambil tersenyum padanya.
“ Apa lambungmu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.
“ Ne.” ucapku meyakinkan. Tentu saja aku bohong.
“ Memangnya lambungnya kenapa?” tanya Min Ho bingung.
“ Lambungnya dia sedikit…” ucapannya terpotong karena aku menyela ucapannya.
“ Lambungku tidak apa-apa!” ucapku tegas.
Fany menatapku dengan bengong. “ Ha?” tanyanya bingung.
Aku menggelengkan kepalaku. Berharap Tiffany mengerti apa yang ku maksud. Min Ho menatap Fany, berharap Fany memberitahunya.
“ Oh, lambungnya tidak apa-apa kok.” Ucap Fany sambil tersenyum pada Min Ho.
“ Oh.” Ucap Min Ho pasrah.
“ Sica YoonA mana?” tanya Tiff.
“ Mengantri tiket.”
“ Tiket apa?” menatapku.
“ Rumah hantu.” Ucapku polos.
“ Oh.”
Tak lama kemudian Sica dan YoonA kembali.
“ Bagaimana?” tanyaku pada mereka. “ Jadi?” tambahku.
“ Ani, aku tidak berani.” Ucap Sica. Sica menatap Min Ho dengan perasaan tak enak. “ Mianhae jagi, aku tahu kau ingin masuk, tapi aku benar-benar tak berani.” Ucapnya.
“ Tidak apa-apa jagi, aku mengerti.” Ucap Min Ho sambil memeluk Sica.
“ Kita beli minum yuk!” ajakku pada Tiff dan YoonA.
“ Ok.” Ucap mereka berdua dengan barengan.
“ Aku ikut.” Ucap Sica.
Lambungku benar-benar terasa perih. Aku hampir tak kuat berjalan dan pandangan mataku memudar. Mungkin saat ini wajahku pucat sekali.
“ Gwenchana?” tanya Min Ho. Aku membalasnya dengan tersenyum.
“ Yul?” panggil Tiffany lembut. Aku tau mereka khawatir padaku. Tapi aku benar-benar tak ingin terlihat lemah di depan mereka.
“ Gwenchanayo. Aku hanya terasa lapar dan haus saja.” Ucapku bohong.
“ Kalau begitu kita cari makan ok?” usul YoonA.
“ Makan dimana ya?” tanya Sica pada dirinya sendiri.
“ Chiken Restaurant bagaimana?” tanya YoonA.
“ Disitu saja.” Ucapku.
“ OK.” Ucap mereka setuju.
Aku berjalan paling belakang. Aku berjalan sangat lambat karena menahan rasa sakit lambungku dan energiku juga mulai habis. Pandangan mataku memudar. Semuanya terlihat samar dan buram.
Tenagaku habis. Aku lelah. Sepertinya aku akan pingsan dan terjatuh. Mungkin itu akan lebih baik. Aku benar-benar tak kuat untuk melakukan apa saja. Aku merasakan aku akan jatuh ke lantai. Aku merasa diriku sedang melayang. Antara sadar dan tidak sadar. Mataku terpenjam. Lebih baik aku tidur saat ini.
Saat tubuhku ingin jatuh. Ada yang memegangi tubuhku dari belakang dengan kuat. Orang itu lalu memelukku. Aku tidak tahu siapa orang itu. Tapi pelukannya sepertinya tidak asing lagi.
“ Kenapa kau membohongiku?” tanya orang itu.
Suaranya sangat familiar ditelingaku. Aku masih memejamkan mataku dan aku tak dapat berpikir apa-apa lagi.
“ Yuri, bangunlah.” Ucapnya.
Aku mencoba membuka mataku tapi rasanya susah sekali. Aku benar-benar lemah.
“ Aku akan mengantarkanmu pulang.” Ucap orang itu.
Pulang? Tidak bisa! Kalau Appa dan Omma tau kalau aku pingsan mereka bisa marah padaku! Bisa-bisa aku tak bisa keluar selama 1 bulan lebih! Dan yang ada hanya terapi dan minum obat! Membuatku mual!
Aku memberontak dalam pelukannya dengan lemah. Aku masih belum bisa membuka mataku. Rasanya susah sekali.
“ Wae?” tanya orang itu. Dari suaranya aku tau dia itu namja. Badannya juga mengatakan demikian.
“ Jangan… bawa.. aku.. pulang…” bisikku pelan dan dengan susah payah berbicara. Aku tahu namja itu pasti tidak bisa mendengarkanku.
“ Kalau begitu kita cari tempat istirahat.” Usul namja itu. Sepertinya namja itu mendengar suaraku.
Aku mencoba membuka mataku. Yul bangun! Bangun! Perintahku. Aku ingin melihat wajah namja itu. Dengan susah payah aku membuka mataku. Yang pada akhirnya aku bisa! Pandangan pertama yang ku lihat adalah wajah samar-samar seorang namja.
Wajah itu berbayang menjadi tiga bagian? Aku mengerutkan keningku untuk memperjelas pandanganku. Namja itu tersenyum padaku.
TOP? Batinku.
“ Gwenchana?” tanyanya khawatir.
Aku mengangguk lemah.
“ Apa kau mencoba membohongiku lagi Yul?” tanyanya.
Tubuhku masih lemas dan aku juga tidak bisa berkata apa-apa. Kepalaku terasa sakit.
“ Lebih baik kau ke rumahku dulu.” Ucapnya lalu membopongku dan membawaku pergi dari tempat ini.
Aku tak menolak saat ia membawaku ke rumahnya. Entahlah mengapa? Yang ku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya aku bisa tidur dengan nyaman dan ada yang menggangguku.
(*backsound: Taeyeon –  I Love You.)
Aku tahu, TOP membopongku sampai ke tempat tidursaat sampai disuau tempat. Karena aku merasakan kasur yang empuk dan nyaman. Selanjutnya, ia memberikanku selimut yang cukup tebal dan memakaikannya pada tubuhku.
Aku tertidur. Dan aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Aku terlalu lemah.
~ TOP Pov~
(*backsound: Taeyeon – I Love You)
Aku tak mengerti apa yang dipikirkan gadis ini. Ia selalu menyembunyikan ke lemahannya pada semua orang.
Aku menatap wajahnya saat tertidur. Aku memperhatikan seluk-beluk bentuk wajahnya. Aku hanya mematung menatapnya. Ia terlalu cantik dan manis. Aku bertopang dagu.
Aku menunggunya dan menjaganya di kursi samping tempat tidurnya. Di rumah ini, hanya ada aku dan Yuri. Para pembantuku semua telah pulang ke rumah mereka masing-masing karena jam kerja mereka telah habis.
Ayah dan Ibuku pergi ke Amerika untuk membangun saham baru disana. Dan mereka mungkin akan tinggal lama di sana.
Aku mengganti kompressan Yuri. Mungkin malam ini, aku tak bisa tidur. Aku tahu, ia memiliki masalah pencernaan. Saat SMP dulu ia sering pulang karena sakit. Aku selalu bertanya padanya : “ Kau sakit apa? Mengapa pulang?” dan ia selalu menjawab: “ Maag-ku kambuh TOP. Sudahlah jangan khawatir.” Lalu tersenyum padaku.
“ Kenapa kau tak bisa menjaga dirimu sendiri Yul? Kau selalu membuatku khawatir!” omelku padanya yang saat ini ia sedang tidur. Walau aku tahu ia tak bisa mendengar omelanku.
“ Kau selalu bilang, sudah jangan khawatir, aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku, urus dirimu sendiri, dan yang paling sering kau ucapkan I don’t care! Aku tak mengerti kenapa kau pura-pura baik-baik saja? Padahal, lihatlah dirimu! Kau begitu lemah!” omelku padanya.
Aku menghela napas panjang. Lalu berdiri dari dudukku. Pergi mencari makanan dibawah. Tiba-tiba terasa lapar.
Aku membuka kulkas di dapur. Dan melihat-lihat ada makanan apa yang bisa ku makan. Hanya ada buah-buahan saja, aku menutup kulkas. Berjalan menuju laci dapur yang isinya mie instan semua. Lebih baik masak mie daripada mati kelaparan, batinku.
Setelah selesai memasak mie, aku kembali ke kamar Yuri yang terletak  disamping kamarku dengan membawa semangkuk mie yang ku buat. Aku membuka pintu kamar Yuri dan mendapati ia duduk di kasur dengan tatapan bingung.
“ Kau sudah sadar?” tanyaku padanya sambil menutup pintu.
“ TOP?” tanyanya bingung.
“ Ini memang aku, memang siapa lagi namja paling tampan sedunia?” ucapku sambil menaruh mangkuk mie yang ku pegang di meja samping tempat tidur Yuri.
“ Aishh kau ini. Apa itu?” tanyanya.
“ Kau tidak lihat kalau ini mie?” tanyaku sambil menatapnya.
“ Aku lapar.” Ucapnya sambil memegang perutnya.
“ Kau ingin makan mie juga?”
“ Apa kau ingin membunuhku?” tanyanya.
“ Lebih baik seperti itu.” Ucapku asal bicara sambil memasukkan mie panas dalam mulutku.
“ Apa kau tak bisa ramah pada wanita?” tanyanya, yang membuatku menatapnya dengan bingung.
“ Memangnya kenapa?” tanyaku.
“ Kenapa kau begitu kasar sekali pada wanita? Aisshh, Bom Onnie kasihan sekali memiliki namjachingu sepertimu!” ucapnya sambil menatapku kesal.
“ Tidak, dia malah bahagia denganku.” Ucapku sambil memasukkan mie ke dalam mulutku.
“ Aku lapar.” Ucapnya memasang wajah memelas.
“ Makan sana! Masak sendiri tapinya.” Ucapku asal bicara lagi.
“ Ya! Apa kau membiarkan orang sakit sepertiku untuk masak.” Protesnya.
“ Kau sakit? Sepertinya sudah tidak.” Ucapku sambil memasukkan mie ke dalam mulutku.
“ Aishh kau ini! Dasar alien!” kesalnya.
Ia lalu bangun dari duduknya dan mungkin ia berencana memasak sekarang.
“ Changkaman!” ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh menatapnya. “ Dimana aku?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“ Ya! Aku serius! Dimana aku?” tanyanya ulang.
Aku masih tertawa. Ia mendekatiku dan duduk di sampingku. “ TOP-ssi! Sekarang aku dimana?!” kesalnya.
“ Di rumahku.” Ucapku sambil menahan tawa.
“ Oh, di rumahmu toh.” Ucapnya sambil mengangguk. “ Hah! Dirumahmu?!!” tanyanya panic.
“ Ne, wae? Siapa suruh kau yang menolak tawaranku untuk membawamu pulang.”
“ Bagaimana ini? Omma Appa pasti khawatir sekali!” paniknya.
“ Sudahlah tenang, aku sudah menelpon mereka tadi.” Ucapku sambil menenagkannya.
“ Bagaimana kau bisa tahu nomor telpon rumahku?” tanyanya bingung.
“ Ya! Kwon Yuri! Tenanglah sedikit dan jangan menanyakan pertanyaan bodohmu itu!” ucapku.
“ Mwo?!” ucapnya kesal.
Aku bangun dari dudukku. Ia menatapku. “ Mau kemana?” tanyanya.
Aku menarik tangannya untuk berdiri. “ Ikut aku.”
“ Oddieseo?”
“ Masak untukmu.” Ucapku.
“ Jeongmal?” ucapnya dengan mata berbinar-binar.
“ Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran.”
“ Arraseo!” kesalnya.
“ Ya! Kenapa kau marah? Padahal aku kan berbuat baik padamu.”
“ Ne, gomawo.” Ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.
Aku hanya menghela napas saja.
“Kau ingin ku masakkan apa?” tanyaku saat sudah tiba di dapur.
“ Hm? Kimchi!” ucapnya sambil tersenyum padaku.
“ Ya! Apa kau ingin mati makan kimchi?!” protesku.
“ Wae?” tanyanya polos.
Aisshh, gadis ini.
“ Kimchikan pedas! Sedangkan kau tak bisa makan pedas!” tegasku.
“ Tapi, aku ingin.” Ucapnya sambil memasang tampang memasang wajah memelas.
“ Andwae!” ucapku tegas.
“ Aisshh dasar namja ini! Pelit sekali!” protesnya.
“ Mau masak apa?” tanyaku sekali lagi.
“ Sup ayam saja.” Ucapnya pasrah.
“ Kalau begitu ayo kita masak berdua!” usulku.
“ Masak berdua?” tanyanya.
“ Ne, wae?” tanyaku.
“ Ku kira kau memasak untukku.”
“ Kau yakin sekali. Sudahlah ayo! Lalu setelah itu kita tidur.” Ucapku.
“ Arraseo.” Ucapnya sambil menjinjingkan baju panjangnya dan bersiap-siap ingin memasak.
“ Changkaman!!” ucapnya lagi tiba-tiba.
Aku menatapnya. “ Ada apa lagi?” tanyaku.
“ Bajuku? Bajuku?” tanyanya bingung. “ Bajuku ganti! Sejak kapan aku ganti pakaian?” tanyanya heran.
“ Aku yang yang mengganti pakaian seragammu menjdi baju itu.” Ucapku cuek sambil memotong wortel.
“ MWO?!!” teriaknya kaget.
“ Kau ini kenapa sih?!!” omelku.
“ Kau yang mengganti pakaian seragamku?!!” tanyanya kaget.
Aku mengangguk.
“ Kenapa kau tega sekali padaku?!!” ucapnya hampir menangis.
“ Ya! Kenapa kau menangis?” Tanyaku sambil berhenti memotong wortel.
“ Aku benar-benar tak menyangka kalau kau melakukan itu padaku.” Ucapnya sesenggukkan.
“ Ya! Kau ini ngomong apa sih?! Pembantuku yang mengganti pakaianmu.” Ucapku sambil bingung menatapnya.
Ia menatapku dengan heran. “ Jeongmal?” tanyanya.
Aku mengangguk. Ia menghapus air matanya lalu tersenyum padaku. Dasar yeoja aneh!!
“ Hei, apa kau berpikir aku yang mengganti pakaianmu?” tebakku.
Ia diam lalu pipinya memerah dan mungkin ia merasa malu.
“ Apa benar kau berpikir seperti itu?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya. Ia menatapku dengan bingung.
“ Mwo?” tanyaku sambil menatapku lalu membuang muka.
“ Lebih baik kita memasak lalu pergi tidur.” Ucapku dengan kesal tertahan. Tentu saja aku tak kesal padanya. Aku hanya ingin meledeknya.
Ia diam lalu pergi ke westafel untuk mencuci tangannya lalu memotong bawang Bombay.
“ Hei! Apa kita perlu memasukkan ayam?” tanyaku padanya setelah kehening menyelimuti kami.
“ Tentu saja.” Ucapnya sambil terus memotong Bombay.
“ Wae? Kenapa kau bengong?” tanyaku sambil berjalan ke arahnya. Aku sedikiit membungkukkan badanku untuk melihat wajahnya yang tertunduk ke bawah.
“ Aniyo, pikiranku hanya sedang melayang saja.” Ucapnya dengan cuek.
“ Apa kau ingin memberitahuku?” tanyaku.
“ Apa kau berharap aku berbagi cerita padamu?” omelnya.
Aku mencibir dan melanjutkan memotong ayam.
Kami sama-sama diam. Tak ada seorangpun diantara kami yang saling berbicara.
Aku juga lebih memilih diam daripada mendapatkan omelannya.
“ Auww!!!” jerit Yuri yang membuatku menoleh dan menatapnya. Aku menghampirinya.
“ Wae?” tanyaku saat tepat disampingnya.
Ia hanya menunjukkan jari telunjuknya yang sedang keluar darah.
(*backsound: Taeyeon – I Love You)
 Tanpa pikir panjang membersihkan darah yang mengalir dengan mulutku. Entah apa yang ku pikirkan saat ini.
Yuri menatapku. Aku mengabaikannya. Aku tahu yang dia pikirkan saat ini adalah “ Mau apa namja ini?”.
“ Sudah selesai.” Ucapku.
Ia masih bengong.
“ Wae?” tanyaku.
“ Ani, kenapa kau melakukan ini? Golongan darahmu dan darahku berbeda. Kenapa kau tak membersihkan darahku dengan mencucinya saja? Lagipula, kalau kau kenapa-kenapa bagaimana?” tanya dengan bertubi-tubi.
Aku hanya menghela napas. Yeoja ini!
“ Lebih baik kita melanjutkan memasak.” Ucapku mengalihkan perhatian. Aku membalikkan badan.
“ TOP-ssi!” panggilnya sambil menyentuh lenganku. “ Gomawo.” Lanjutnya.
Aku hanya mengangguk.
Aku melanjutkan kembali memotong ayam.
“ Aku ingin kue.” Ucapnya tiba-tiba. Aku menatapnya.
“ Kita buat kue saja ya?” pintanya.
“ Tapi kitakan sudah hampir selesai membuat sup.”
“ Tapi, aku ingin kue.”
“ Kue apa? Bagaimana kalau kita membelinya di toko kue 24 jam?” usulku.
“ Jeongmalkah?”
Aku mengangguk.
Kami selesai membuat sup. Aku menaruh sup diatas meja makan. Aku menyiapkan semangkuk nasi untuknya dan untukku.
“ Ayo kita makan!” ajakku.
Ia mengangguk.
“ Kau kan sudah makan, kenapa makan lagi?” tanyanya.
“ Memangnya kenapa?”
“ Tidak apa-apa.”
Hening sejenak. Ia memakan supnya saja tanpa menyentuh nasi yang ku sediakan.
“ Ya! Makan nasinya juga.” Omelku.
“ Tidak mau! Supnya saja.”
“ Ya! Mana boleh seperti itu!!” protesku. “ Makan nasinya juga!” lanjutku.
Ia mencibir kesal. Tapi ia melakukan hal yang ku minta juga.
“ Kita akan kemana?” tanyanya.
Saat ini kami ada di luar rumahku, setelah kami selesai makan malam bersama.
“ Kau bilang ingin makan kue.” Ucapku saat ingin masuk mobil. Ia berlari ke pintu samping kananku dan duduk di sampingku.
“ Wa! Aku tak menyangka kau benar-benar membelikanku kue.” Ucapnya polos.
“ Sudahlah diam. Kau ingin makan kue dimana?” tanyaku sambil memaju mobil dengan kecepatan sedang.
“ Aku tidak tahu  toko kue yang buka 24 jam.” Ucapnya sambil menatap jalanan lurus ke depan.
“ Apa kau tak pernah keluar malam-malam?” tanyaku.
“ Ya! Ini sudah jam 10 malam, mana berani aku keluar selarut ini.”
“ Ini belum larut malam.” Bantahku.
“ Itu menurutmu, menurutku ini sudah malam.” Bantahnya juga tak mau kalah.
“ Dasar!” ucapku kesal.
Ponselku tiba-tiba berdering. Aku melihat display ponselku untuk mengetahui siapa yang menelponku. BOM. Nama itu tertulis di ponselku. Aku memasang earphone untuk mengangkat telponnya.
“ Wae?” ucapku saat ditelpon.
“ Oddieseo?” tanya Bom.
“ Di rumah.” Ucapku bohong.
“ Oh, jagi, I miss you.” Ucapnya sambil tertawa.
Aku tersenyum. “ Me too jagi.”
“ Sudah ya, aku ingin tidur. Aku hanya ingin bilang padamu itu saja. Hahahha..” ucapnya sambil tertawa.
Aku tersenyum. “ Hm, annyeong.” Ucapku. Sambungan terputus.
Aku mendapati Yuri menatapku dengan bingung.
“ Bom Onnie?” tanyanya padaku.
“ Ne.” ucapku.
“ Kenapa kau bilang di rumah? Padahal kitakan dijalan.” tanyanya bingung.
“ Aku tak mungkin bilang seperti itu karena ia pasti menanyakan ingin kemana dan dengan siapa? Kalau aku bilang dengan mu, itu tak mungkin, adanya dia curiga pada ku.”
“ Oh, arraseo.”
“ Kau mau makan disana atau bawa pulang?” tanyaku.
“ Bawa pulang tapi kita makannya di sungai Han ya?” pintanya.
“ Baiklah.” Ucapku.
Aku memakirkan mobilku begitu sampai di toko kue 24 jam Chocolate Cake. Yuri keluar dari mobil lebih dulu. Aku menyusul keluar. Aku mendekatinya untuk melihatnya. Matanya berbinar-binar senang.
“ Kau sedang apa? Ayo kita masuk.” Ucapku sambil berjalan lebih dulu. Ia menyusulku dengan berlari-lari kecil dan berjalan tepat disampingku.
Kami memasuki toko kue. Begitu kami masuk, Yuri berlari ke kasir kue lalu menatap dan mencari-cari kue di dalam etalase kaca. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“ Kau ingin kue apa?” tanyaku saat tepat disampingnya.
“ Hot Chocolate cake ada?” tanyanya pada penjaga kasir.
“ Ada, ingin berapa?” ucap penjaga kasir itu.
“ Kau ingin juga?” tanyanya padaku.
Aku mengangguk.
“ Dua.  Hot chocolate ada tidak?” tanyanya.
“ Ada, ingin berapa?”
“ Dua. Semua ukurannya besar ya.” Pintanya pada penjaga kasir itu.
“ Baiklah, totalnya 150 ribu won.” Ucap penjaga kasir itu.
Ia mencari dompetnya di dalam tasnya.
Aku mengeluarkan kartu atm dari saku jaketku dan memberikannya pada penjaga kasir itu.
“ Baiklah, tunggu 20 menit untuk membuat coklat hangatnya.” Ucap penjaga itu ramah.
“ Kenapa kau yang membayar? Harusnya aku.” Protesnya.
“ Aku tak kan mau dibayarin oleh orang-orang sepertimu.” Ucapku asal.
“ Apa maksudmu? Apa karena kau orang terkaya di Korea, kau bisa merendahkan orang-orang sepertiku?” ucapnya kesal.
“ Mwo? Kenyataannya kok.”
“ Aku benci kau.” Ucapnya sambil menatapku kesal dan sinis.
“ Apa peduliku?” tanyaku padanya.
Ia berjalan ke meja nomor 5 sisi kanan paling ujung dekat jendela. Matanya menatap jendela. Tapi pikirannya sepertinya tidak.
Apa yang sedang dipikirkannya. Aku menatapnya dan berjalan ke arahnya. Aku duduk dihadapannya. Ia melihatku sekilas lalu membuang muka padaku.
Kenapa yeoja ini? Apakah ia marah padaku?
“ Ya! Kau kenapa? Apa kau marah padaku?” tanyaku padanya.
Ia diam tak ada jawaban. Ia hanya menatap ke arah luar jendela yang langsung menuju tempat parkiran mobil dan motor.
“ Ya~ aku kan hanya asal bicara saja.” jelasku polos.
“ Sudahlah, lagipula aku tak marah padamu. Hanya saja aku kesal padamu.” Ucapnya sambil sekilas menatapku.
“ Bukankah itu sama saja?” tanyaku.
“  Kalau aku akan marah padamu saat ini juga aku akan meninggalkan tempat ini dan tak mau bicara padamu sebelum amarahku mereda, tapi kalau aku kesal padamu aku hanya mendiamkanmu dan menanggapi hal-hal yang penting saja.” Jelasnya sambil menatapku lalu terseyum.
“ Ya! Mana ada orang marah seperti itu?” ucapku memasang wajah kesal walaupun sebenarnya merasa senang. Entah mengapa?
“ Ya! Kenapa kau protes?” tanyanya.
“ Wae? Kau tak terima?” tanyaku.
“ Whatever!” ucapnya cuek.
Aku tertawa melihatnya kesal. Entah mengapa aku merasa senang melihat semua ekspresi wajahnya yang hanya ditunjukkan padaku.
“ Wae? Kenapa tertawa? Apakah hal yang lucu.” Tanyanya bingung.
“ Ani, tidak apa-apa.” Elakku.
“ Untung saja besok libur jadi aku bisa menginap di rumahmu.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.
Senyum yang manis. Aku membalas senyumannya.
“ Omo! Aku lupa! Ponselku!” ucapnya panic. “ Sepertinya tertinggal di etalase kasir kue tadi.” Tambahnya lalu, pergi ke kasir tadi. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku menatap keluar kaca jendela. Ada sebuah mobil parkir disamping mobilku. Orang yang membawa mobil itu ke luar dengan seorang yeoja yang sepertinya ku kenal.
Mereka masuk ke dalam dengan senyum. Namja itu membukakan pintu toko untuk yeoja yang bersamanya.
Aku melihat Yuri yang sedang melihat ponselnya. Lalu kemudian ia melihat dua orang yang masuk tadi. Ia diam dan mematung. Matanya melihat namja yang baru masuk.
Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.
~ Yuri Pov~
Aku menatap ponselku dan melihat inbox-ku. 10 new message. Aku membukanya dan melihat untuk mengetahui siapa yang mengirimiku pesan. Aku baru saja ingin menatap jalan dan kembali ke tempat dudukku. Tapi semuanya terasa berhenti! (*backsound: Ost It started with kiss – Track 5)
Namja yang ku sukai sedang bersama yeoja yang sering bersamanya. Aku tak tahu itu siapa? Air mataku ingin turun. Jantungku berhenti berdetak. Hatiku terasa perih dan sakit. KyuHyun menatapku, yeoja disampingnya juga. Mereka menatapku bingung. Aku langsung tersadar. Aku langsung berlari ke tempat TOP berada.
Air mataku tertahan dipelupukku. Aku tak mungkin menangis di depan TOP lagi. Itu sangat memalukan.
“ Ya! Kau kenapa?” tanyanya.
Aku diam. Tak bisa bicara. Kalau aku bicara, suaraku pasti ke dengaran seperti habis menangis.
“ Yuri, kau kenapa?” tanyanya lembut.
Aku menggelengkan kepala dan berusaha tersenyum padanya.
“ Kenapa kau selalu berusaha pura-pura tegar?” tanyanya yang membuatku shock.
“ Cukup TOP! Jangan membuatku menangis!” ucapku kesal.
“ Wae? Kenapa tiba-tiba kau ingin menangis?” tanyanya.
“ TOP please! Jangan membuatku benar-benar menangis saat ini! Jangan sekarang dan jangan di tempat ini.” Pintaku.
“ Wae? Apa ada sesuatu?” tanyanya lagi.
Aku diam tak ingin menjawab. Bell kasir berbunyi. Mengalihkan pandanganku dan TOP. Aku menatap KyuHyun di sisi kiri pojok. Mereka duduk berhadap-hadapan. Mereka saling tertawa. Terutama KyuHyun, ia tertawa lepas. Membuatku sakit menerima kenyataan ini.
TOP diri dari duduknya. Aku melihatnya. Aku mengikutinya ke kasir untuk mengambil pesananku. Aku melangkah dengan tatapan kosong.
(*backsoun: Ost It started with kiss – track 5)
Hatiku sakit, sakit sekali. Yuri pabo! Mencintai orang yang jelas-jelas orang itu tak menyukaimu. Kalau begini terus, aku bisa mati karena mencintaimu! Pabo! Pabo! Pabo! Yuri pabo! Hei, Kwon Yuri kau sungguh pabo! Omelku pada diri sendiri. Air mataku turun membasahi pipiku dengan deras.
Jangan! Jangan sekarang dan jangan saat ini!! Perintahku pada diri sendiri.
Aku berhenti berjalan. Aku menghapus air mataku sebelum siapaun melihatku menangis. Tapi, air mataku tetap saja ke luar. Tak peduli sekuat apapun menahan perasaan ini.
TOP tiba-tiba langsung memelukku. Entah mengapa ia melakukan ini?
“ Menangislah, aku akan memelukmu sampai kau berhenti menangis. Dan aku akan memastiskan tidak ada yang tahu kalau saat ini kau sedang menangis.” Ucapnya lembut ditelingaku.
Aku menangis dalam pelukannya. Air mataku turun dengan derasnya. Hatiku sakit melihatnya dengan yeoja lain.
~ KyuHyun Pov~
Aku masuk ke toko kue. Dan membukakan pintu untuk Victoria. Aku tersenyum padanya. Aku melihat sekelilingku. Mencari tempat untuk di duduki. Mataku menatap heran pada yeoja dekat kasir sambil bengong melihatku.
Bukankah dia itu temannya Sica? Kenapa dia?
Yeoja itu lalu berlari ke arah kanan lalu duduk di pojok yang dihadapannya ada namja menunggunya.
“ Kyu kita mau duduk dimana?” tanya Victoria, mengalihkan pandanganku.
“ Disana saja.” Usulku.
Aku menatap gadis itu. Gadis yang aneh, batinku.
“ Kyu, tahu tidak? Sulli sudah pacaran dengan Teamin lho!” ucapnya mengalihkan perhatianku.
“ Jeongmal? Bukankah mereka terlihat seperti musuh?” tanyaku.
“ Iya! Sulli yang memberitahuku barusan.” Ucapnya.
“ Bagaimana bisa?”
“ Molla~ katanya saat pertandingan basket hari ini berakhir, Taemin menyatakan cinta padanya.” Victo dan aku tertawa membayangkan mereka berdua.
“ Apakah Sulli menyukainya?” tanyaku heran.
Victo mengangguk. “ Sebenarnya Sulli juga diam-diam menyukai Taemin.” Ucap Victo membuatku tertawa geli membayangkan mereka berdua.
Tawaku terhenti saat melihat gadis itu bediri. Ia mengikuti namja yang bersamanya. Mungkin namja itu namjachingu yeoja itu.
Gadis itu berhenti berjalan. Air matanya turun membasahi pipinya. Ia menghapus airmatanya dengan kasar. Tapi, air matanya tetap saja keluar tak peduli seberapa berusahanya ia mengahapus air matanya.
Namja yang bersama yeoja itu tiba-tiba memeluknya. Mendekapnya dengan erat. Aku menahan napasku. Entah mengapa? Tiba-tiba aku merasa aneh melihat namja itu memeluk yeoja itu.
 (*backsound: Ost It started with kiss – track 5)
Mereka berdiri di sana cukup lama. Aku berusaha tak melihat mereka. Tapi, mataku selalu menuju yeoja itu. Tak bisa mengalihkan pandanganku.
“ Kyu kau tak apa-apa?” tanya Victo. Aku hanya mengangguk dan menatapnya. Entah kenapa mataku hanya terpusat pada yeoja itu.
“ Kau ingin pesan apa? Aku akan pesankan.” Ucap Victo lagi.
“ Sama sepertimu saja.” Ucapku asal.
“ Oh.” Ucap Victo lalu pergi ke kasir untuk memesan.
Tak berapa lama kemudian pesanan kami kami tiba. Tapi tetap saja mataku menuju pada dua orang itu.
Tak bisa melihat yang lainnya lagi. Mengalihkan perhatianku juga susah. Aku mencoba menatap meja atau kursi atau Victoria. Namun, mataku kembali lagi menatap yeoja itu.
Entahlah ada apa denganku?
Mereka mensudahi pelukan lalu pergi ke luar dan masuk ke mobil disamping mobilku parkir. Lalu pergi entah kemana.
Aku melanjutkan makanan yang ku pesan. Perasaanku terasa aneh sekali. Aku menatap kue yang ku pesan. Selera makanku tiba-tiba hilang.
~ Yuri Pov~
TOP meberhentikan mobilnya disungai Han. Aku hanya diam tak berbicara sama sekali dalam perjalan menuju ke sini.
“ Ya! Kita sudah sampai.” Ucap TOP saat sudah sampai. Ia keluar dari mobil.
Aku mengikutinya. Aku duduk diatas mesin mobil miliknya. Aku duduk mengarah aliran Sungai Han. TOP duduk tepat di sampingku.
Ia mengeluarkan cake yang kami pesan tadi.
“ Makanlah! Dan aku yakin kau akan merasa lebih baik.” Ucapnya.
Aku menuruti perkataanya. Aku memakan cake hot chocolate yang ku pesan tadi. Pikiranku melayang jauh. Yang ada dipikiranku saat ini adalah KyuHyun.
Namja itu.
“ Apa kau merasa lebih baik?” tanya TOP khawatir. Aku menatapnya dan mencoba tersenyum, walau yang ku tunjukkan senyuman tipis dan samar setidaknya aku berusaha untuk menunjukkan aku baik-baik saja.
“ Jangan sok tegar!” omelnya.
Aku menatapnya. (*backsound: Banmal Song)
“ Aku tahu kau sebenarnya tidak baik-baik saja. Walau kau seribu kali bilang aku baik-baik saja. Karena aku mengenalmu Yul, sangat.” Ucapnya.
Aku menatapnya dengan tersenyum. Kau benar TOP, aku benar-benar tidak baik-baik saja saat ini. Batinku.
“ Aku akan menunggumu cerita padaku.” Ucapnya sambil melihatku lalu menatap sungai Han.
Aku tertawa pahit. “ Wae? Sepertinya kau selalu memperhatikanku.” Ucapku sambil menundukkan kepala.
“ Ani, aku tak pernah memperhatikanmu. Aku selalu memperhatikan Bom.” Ucapnya yang membuatku senyum pahit.
Right, kau tak pernah memperhatikanku. Batinku.
“ Jadi, apakah kau akan menceritakan perasaanmu padaku?” tanyanya lagi.
Aku merasa bingung pada diriku sendiri. Aku menatap TOP yang masih menatap sungai Han. “ Wae? Kenapa kau begitu penasaran sekali?” tanyaku.
“ Aku hanya mencoba membuat perasaan mu ringan.” Ucapnya masih dengan posisi yang sama.
Aku hanya diam mendengar ucapannya. Tidak tahu ingin membalas apa ucapannya. 
“ Kenapa kau diam?” tanyanya sambil menatapku.
“ Memangnya kenapa?” tanyaku balik.
“ Makanlah kuemu itu!” ucapnya sambil menatap kue yang baru ku gigit sekali.
“ Kenapa kau tidak makan kuemu?” tanyaku.
“ Aku masih kenyang.” Ucapnya sambil menatap Sungai Han.
“ Sungai ini indah ya?” tanyaku padanya sambil menatap sungai Han dengn kosong.
Ia hanya diam saja. Tapi, aku tak peduli. Aku memakan kueku sampai habis.
Aku meminum hot chocolate ku yang masih panas. Aku membuka tutupnya lalu meniupnya. Asapnya mengepul di udara.
“ Aku tak mengerti.” Ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh menatapnya.
“ Maksudmu?” tanyaku.
“ Aku tak mengerti tentang dirimu yang pura-pura sok tegar!” lanjutnya.
Aku diam tak ingin menjawab.
“ Aku merasa aneh saat bersamamu.” Lanjutnya. Aku menaikkan alisku. “ Aku merasakan perasaan yang tak ku rasakan saat bersama Bom.”  Tambahnya.
“ Setiap berada di dekatmu aku selalu merasa kesal, senang, dan… perasaan yang tak dapat ku ketahui lainnya. Tapi saat bersama dengan yeoja lainnya, aku merasa biasa saja. Aku hanya menganggap mereka sebagai teman biasa.”
“ Maksudmu aku bukan temanmu?” tanyaku bingung.
“ Molla, aku sendiri juga tak mengerti.” Ucapnya sambil menatapku dengan tatapan mautnya.
“ Lalu apa kau menganggapku musuhmu?” tanyaku lagi dengan polos.
“ Aku tidak tahu Kwon Yuri-ssi. Yang ku rasakan kau special dihatiku.” Ucapnya.
“ Oh.” Ucapku masih bingung.
Angin bertiup kencang. Membuatku menggigil merasakan dingin.
“ Wae?” tanyanya.
Aku menggeleng. Ia lalu melepas setengah bagian  jaketnya dan memakaikannya pada tubuhku.
“ Aku tahu kau merasa dingin sama sepertiku. Jadi, karena kita sama-sama dingin, kita berbagi jaket saja.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.
Aku bengong menatapnya. Kenapa ia baik sekali padaku? Tanyaku dalam hati.
“ Mianhae, aku hanya memberikan setengah bagian  jaketku.” Ucapnya sambil menunduk.
“ Kenapa minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf padamu karena selama seharian ini aku telah merepotkanmu.”
“ Merepotkanku?” tanyanya sambil menatapku bingung. “ Sepertinya tidak, aku malah senang kau berada di rumahku dan menemaniku.” Ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
Aku menatapnya bingung. Saat ini kami duduk sangat dekat sekali karena jaket TOP membuat kami susah menjaga jarak. Aku memakai bagian kiri jaket TOP sedngkan dia memakai bagian kanannya. Untung saja, jaketnya besar jadi muat untuk kami berdua.
Aku menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang bersinar. Aku melihat ada bintang yang paling bersinar diantara bintang yang lainnya.
“ Ya! Bintang itu cantik sekali!” tunjukku pada bintang yang paling bersinar.
TOP mengikuti arah jari telunjukku dan melihat bintang ku maksud. Ia hanya tertawa tertahan saat melihat bintang itu.
“ Wae?” tanyaku menatapnya.
“ Ani, tidak apa-apa.” Ucapnya sambil memalingkan wajahnya dariku.
Kenapa dia? Aneh sekali.
“ Apa kau masih tak mau memberitahuku tentang perasaanmu?” tanyanya yang membuatku diam.
Aku meniup hot chocolate yang masih panas. Aku menyeruputnya dengan perlahan. Aku tahu TOP menatapku dan menunggu aku bicara tentang perasaanku di toko tadi. Aku menatap sungai Han yang aliran airnya tidak begitu deras.
“ Baiklah, aku akan menunggumu bicara padaku.” Ucapnya sambil menatapku dengan tatapan mautnya.
Apakah aku harus memberitahukan rasa sukaku pada KyuHyun padanya? Aku bingung dan berpikir menimbang-nimbang apakah aku harus menceritakankannya atau tidak. Mungkin bercerita padanya lebih membuatku merasa jauh lebih baik.
TOP membuka tutup hot chocolate miliknya. Lalu meniupnya yang membuat kepulan asap di udara.
Aku tahu ia menungguku untuk bicara padanya.
“ Aku menyukai namja itu.” Ucapku setelah meyakinkan hatiku untuk bicara padanya. “ Aku tak tahu bagaimana aku bisa menyukai namja itu. Perasaan itu begitu alami di dalam hatiku. Dan aku juga tidak tahu sejak kapan aku memperhatikan namja itu.” Ucapku menerawang ke jadian beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali aku menyukai namja itu.
“ Awalnya aku berpikir ‘ apakah perasaan ini akan baik-baik saja?’, ‘ apakah perasaan ini akan menghancurkanku?’, ‘ apakah ia sudah memiliki yeojachingu?’, dan pikiran lainnya yang selalu membuatku bertanya pada diriku sendiri.” Aku diam.
TOP menatapku lalu mengelus rambutku dengan lembut. “ Apakah yang kau maksud namja itu adalah laki-laki yang bersama yeoja di toko kue tadi?” tanyanya.
Aku menatapnya lalu mengangguk.
“ Lalu bagaimana perasaanmu melihat namja itu bersama dengan yeoja selain dirimu?”
“ Aku tidak tahu, yang ku rasakan saat itu adalah perasaan perih pada hatiku. Aku selalu berharap, bahwa suatu saat nanti KyuHyun menjadi milikku.” Ucapku sambil bengong.
TOP tersenyum getir. “ Jadi namja itu bernama KyuHyun?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“ Jika suatu saat nanti ia menjadi milik orang lain, aku tidak dapat membayangkannya. Aku tahu, aku memang yeoja pabo! Aku tahu harapanku adalah harapan kosong. Tapi satu hal yang ku ketahui adalah aku mencintai KyuHyun dengan tulus.”
“ Kalau begitu berusahalah mendapatkannya.” Usul TOP.
Aku menatapnya. “ Aku tidak tahu apakah aku bisa mendapatkannya atau tidak.” Mataku berkaca-kaca.
Aku tahu TOP menatapku. Aku hanya menundukkan kepala. Tidak ingin siapapun tahu kalau aku sebenarnya lemah.
“ Angkat kepalamu.” Pintanya.
Aku tak mempedulikan ucapannya.
“ Ya! Yuri, Kwon Yuri!” panggilnya.
Aku mengangkat kepalaku. “ Wae?” tanyaku.
“ Berhentilah menangis sendirian, aku ada disini menemanimu.” Ucapnya membuatku menatapnya.
Aku mematung dengan ucapannya barusan. Kenapa? Kenapa ia baik sekali kepadaku? Aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Gomawo TOP, kau selalu disisiku kalau aku sedih.” Ucapku.
“ Tidak juga.” Ucapnya.
Lagi-lagi namja ini membuatku kesal.
“ Seterahlah, kau membuatku kesal saja.” Ucapku sambil memalingkan wajahku darinya.
Aku menatap jalanan yang gelap dan sepi. Tiba-tiba TOP memelukku dari samping. Aku menatapnya.
(*backsound: You and I)
“ Ya! Lepaskan aku!” pintaku padanya yang membuatnya semakin erat memelukku.
“ Sirheo!” ucapnya lalu membaringkan kepalanya pada bahuku.
“ Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku!” berontakku dalam pelukannya.
“ Diamlah, aku sedang lelah.” Ucapnya sambil memejamkan matanya.
“ Lelah? Memangnya kau lelah kenapa?” protesku.
“ Sudahlah, yang jelas aku lelah sekali saat ini.”
Aku diam dan tak memberontak lagi dalam pelukannya dan membiarkannya berbaring di bahuku. Aku menatap sungai Han. Entah mengapa aku merasa senang dan tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajahku.
Aku menatap ke depan jalan. Aku melihat ada sebuah mobil berhenti dipinggir jalan. Aku memperjelas penglihatanku untuk melihat siapa pengendara mobil itu. Sepertinya aku kenal namja yang mengendarai mobil itu. Disamping pengemudi, ada seorang yeoja yang berwajah kesal. Pengemudi itu melihat ke arahku dan TOP. Cahaya yang ku dapat sangat sedikit, hanya dari lampu jalan berwarna oranye dan cahaya dari mobil yang berlalu-lalang.
Saat ada mobil yang melintas ke arah yang berlawanan, cahaya mobil lampu itu mengenai wajah namja yang mengemudikan mobil itu. Aku tertegun dan menelan ludah. KyuHyun. Sedang menatapku.
Aku memalingkan wajahku.
Sedang apa dia? Mengapa ia disini? Mengapa ia menatapku dengan tatapan … aishh entahlah aku tak mengerti tatapannya itu.
Aku menundukkan kepalaku untuk melihat TOP. Ia sedang tidur dibahuku. Lalu bagaimana caranya untuk pergi dari sini? Sejak kapan ia berada disana? Apakah aku harus membangunkan TOP agar aku bisa pergi dari sini?
——————————— TBC ————————————————
Bagaimana menurut kalian DON’T CRY! Chapter 2 ini? Aneh tidak? Aku harap para readers komen! Soalnya banyak diantara kalian yang baca tapi nggak komen! Coba kalian pikirin perasaan author atau kalian sendiri mungkin yang udah susah payah bikin tapi readers kalian dengan enaknya baca tanpa meninggalkan komentar!! Sakit hati nggak sih?! So, please leave comentar please!! I’m sorry I mad😀


12 thoughts on “DON’T CRY! [Chapter 2]

  1. hmmm
    g bnyk adegan KYURI..

    emg sprtinya bakaln tragis sprti yg km blg sm Onn kmrin😀

    sm TOP >> krg setuja >> syp gue???

    lanjuttt yahh😀
    unn bru sembuh jd klo comment g trlalu pnjg harap maklum yah say🙂

  2. onnie itu kyu oppa marah ya yuri onnie dipeluk sm TOP??
    aduh kasian yuri onnie sakit, tp emg yuri onnie skt apa sih onnie?
    penyakit serius ya?
    aku bc next chap aja deh onnie spy lbh jls
    maaf nih chap 1 aku ga komen, mianhe onnie ^^v

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s