Let It Rain. [Chapter 2]




Main Cast                   : Choi Min Ho

Krystal Jung

Kwon Yuri

Cho KyuHyun.

Kim JongHyun

Jung Jessica

Im YoonA

Lee DongHae

Hwang Tiffany

Genre                       : Romantic

PG                              : +15

Backsound             : SNSD – Let It Rain

Krystal – Because Of Me

Ost 49 Days Jung Yeop (Brown Eye Soul), Shin Jae, Park Boram. (author lupa nama judulnya hehehe…😀 kalau kalian penasaran cari aja nama penyanyinya hehehe…😀

Disclaimer             : This fanfic is mine. All plot is my imagination and my feeling. DON’T COPY AND PLAGIAT PLEASE!!!😀

Note                         : — : End, harinya berakhir diganti hari lainnya.

=== : belanjut pada hari itu aja, tapi mungkin alurnya dipercepet. YoonA dan Jung Sister untuk sementara belum main dulu hehehe…😀 tapi mungkin dipart selanjutnya.

JANGAN MENCOPY/MEREBLOG FANFIC INI TANPA SEPENGETAHUAN AUTHOR DAN SEIZIN AUTHOR!!!

DON’T BE PLAGIAT PLEASE!!!

ENJOY READ PLEASE!!😀

~Yuri Pov.~

Hari ini akhirnya berakhir juga. Aku sungguh merasa bosan.

Aku melangkahkan kaki ke luar kelas dengan malas. Rasanya berat sekali. Banyak pikiran yang berada diotakku. Termasuk Tiffany yang hari ini bertingkah laku aneh padaku. Ia selalu memasang wajah khawatirnya padaku hampir seharian ini. Aku tak mengerti kenapa? Dan salah satunya ucapan dokter yang baru saja aku pergi ke rumah sakit beberapa hari yang lalu karena merasakan ada sesuatu yang aneh dari dalam diriku. Huft! Menyebalkan!

“ Yul!” panggil MinHo dibelakangku saat aku telah berjalan ke luar kelas ingin pulang, karena pelajaran telah usai. Aku membalikkan badan dan mendapati MinHo tengah berlari padaku.

“ Bye.” Ucapnya sambil memelukku sesaat lalu melepaskan pelukannya padaku dan pergi berlari lagi.

Aku masih diam mematung. Tak percaya apa yang baru saja terjadi. “ Eh?” hanya kataku yang yang bisa ku keluarkan.

Seulas senyum tersungging diwajahku setelah sadar dan mempercayai apa yang terjadi baru saja.

KyuHyun melihatku dari jauh. Tapi, aku mengabaikannya dan meloncat kesenangan sambil bertepuk tangan. Sedangkan siswa yang lain melihatku dengan aneh.

KyuHyun berjalan sambil menatapku dingin. Aku tersenyum padanya yang dibalasnya dengan membuang muka padaku. Huh! Dasar menyebalkan!

Aku merasa kesal diperlakukan seperti itu olehnya. Sekali menyebalkan tetap saja menyebalkan! Batinku.

“ Pabo!” bisiknya pelan ditelingaku ketika ia melewatiku.

Aku diam beberapa saat. Menyebalkan! Aku membalikkan badan dan menarik tangannya lalu memutarkan badannya menghadapku. Ia menatapku kesal.

Sebelum ia ingin marah padaku dan sebelum ia mencacimakiku, lebih baik aku bertanya padanya tentang DongHae yang tiba-tiba teringat Tiffany. “ Kau tahu dimana Lee DongHae berada?” tanyaku padanya sambil tetap memegang tangannya.

“ Apa pedulimu?” tanyanya dengan nada ketus.

Apa peduliku? Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengalihkan perhatianmu saja. Batinku.

“ Ya! Sudah jawab saja!” bentakku.

“ Huh! Apa urusanmu menanyakan DongHae?”

Ah, lebih baik aku pergi daripada aku masih disini bersamamu. Batinku.

“ Ya! Cho KyuHyun-ssi!! Kenapa kau begitu menyebalkan sekali? Kau membuatku hampir membencimu!” ucapku kesal dan mengalihkan perhatiannya. Tapi berkata seperti itu membuatku ingin menangis tapi ku tahan. Sungguh! Aku takkan kuat menahannya jika ia terus membuat hatiku sakit. Rasanya perasaanku pada namja itu terulang lagi. Aish! Lupakan! Yul lupakan!

“ Huh! Baguslah kalau begitu!” ucapnya dingin. Aku diam mematung ucapannya yang baru saja ia ucapkan padaku. Benarkah? Batinku. Aku melepaskan tangannya dari cengramanku secara perlahan-lahan.

Aku menatap kosong lantai. “ Tentu sangat bagus jika aku membencimu.” ucapku pelan pada diriku sendiri. Aku menatapnya sekilas lalu berjalan menuruni tangga. “ Bye! Lebih baik aku cari DongHae sendiri saja.” ucapku padanya yang entah ia mendengarnya atau tidak.

Akhirnya terlepas juga. Batinku yang entah mengapa membuatku merasa tertekan.

“ Pabo!” ucap KyuHyun yang masih dapat ku dengar.

Bodoh? Kau sendiri yang bodoh Cho KyuHyun! Aku menuruni tangga dengan kaki lemas. Seandainya ia bisa sedikit baik terhadapku, seandainya ia tak selalu membuatku kesal setiap hari saat melihatnya, pasti.. pasti aku takkan seperti ini.

Aku takkan.. takkan.. Ahh! Sudahlah Yul lupakan saja! Ucapku.

“ Ya! Cho KyuHyun! Kau sungguh bodoh!!” ucap seseorang di atas. Aku mengenal suara itu. Lalu, terdengar suara langkah berlari.

“ Yuri! Kwon Yuri!!” panggil Tiff dilantai atas.

Aku menghapus air mataku yang masih di ujung pelupuk mataku. “ Ye?” ucapku sambil menatap lantai 4. Tiff memasang raut wajah khawatir. “ Gwenchana?” tanyanya khawatir.

“ Huh?” tanyaku bingung.

“ Changkaman! Aku akan turun sekarang.” Ucapnya sambil berlari menuruni tangga dan menyusulku yang berada dilantai 3.

Aku menatapnya diam dan bingung.

“ Kau baik-baik sajakan? Tidak ada yang sakitkan?” tanyanya khawatir sambil memegang ke dua bahuku.

Aku tersenyum padanya. “ Ne, memangnya aku kenapa?” tanyaku bingung.

Tiff menatap sekelilinginya yang sepi tak ada siapaun. Tiff lalu menatapku dengan wajah polosnya. “ Yul kau kira aku tidak tahu tentang penyakitmu itu?” ucapnya.

DEG! Aku diam tak percaya pada alat pendengaranku. “ Ye?” tanyaku bingung, berharap Tiff salah mengucapkannya.

“ Yul aku melihat kau sendirian Sabtu kemarin di rumah sakit, aku ingin menyapamu tapi kau sudah masuk ke ruang periksa. Saat kau keluar wajahmu murung sekali! Aku melihatmu dari meja resepsionis. Lalu, aku memanggilmu tapi sepertinya kau tak mendengar panggilanku. Saat kau pulang aku menghampiri dokter yang menanganimu dan ia menceritakan penyakitmu itu padaku setelah aku memaksanya dan meyakinkannya.” Jelas Tiff.

Aku tertegun dan terdiam selama beberapa saat. Berharap yang ku dengar salah. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, berharap ini hanya mimpi.

“ Yul! Kenapa kau sebodoh ini?!” ucapnya marah padaku.

Aku melihat ke lantai 4, berharap KyuHyun tak mendengar perbincangan kami. Aku melihat KyuHyun yang sedang menelpon, entah dari siapa? Semoga ia tak mendengar pembicaraan kami. Doaku.

“ Tiffany-ssi, aku baik-baik saja.” Ucapku sambil tersenyum padanya berharap KyuHyun tak tahu apa yang kami bicarakan.

“ Yuri ya! Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Ucapnya lemas padaku.

Aku tersenyum padanya. “ Arraseo, tapi saat ini aku benar-benar baik-baik saja.”

Tiff menepuk-nepuk bahuku. Aku tahu ia sangat khawatir padaku. Tapi, untuk saat ini aku.. aku tak ingin mempedulikan ucapan dokter itu bahwa aku mengidap penyakit.. penyakit.. Huh! Sudahlah! Aku tak ingin mengingat ucapan dokter itu lagi.

“ Ayo Yul! Kita pulang!” ajak Tiff dengan seulas senyum tipis yang tersungging diwajahnya. Aku mengangguk lalu kami berjalan secara berdampingan.

~ KyuHyun Pov.~

“ Ya! Cho KyuHyun! Kau sungguh bodoh!!” ucap Tiffany yang tiba-tiba ia muncul dihadapanku yang entah dari mana asalnya.

“ Yuri! Kwon Yuri!!” panggil Tiffany sambil melongok ke lantai bawah.

Aku menatapnya bingung. Sedang apa yang ia lakukan? Batinku.

. “ Ye?” Ucap Yuri yang dapat ku dengar.

“ Gwenchana?” Tanya Tiff khawatir yang dapat ku tebak.

Memangnya Yuri kenapa? Aku kan taka pa Yuri! Kenapa Tiffany tiba-tiba marah padaku? Batinku sambil tetap memandang Tiffany yang sedang melihat ke lantai bawah.

“ Huh?” Tanya Yuri bingung.

“ Changkaman! Aku akan turun sekarang.” Ucap Tiffany sambil berlari menuruni tangga dan mungkin menyusul Yuri dibawah.

Aku berjalan santai saat ingin menuruni tangga. Aku menatap Tiffany dan Yuri sedang membicarakan hal yang tak dapat ku dengar. Alunan dering terdengar dari ponselku. Aku merogoh saku celanaku dan mendapati seseorang sedang menelponku. Aku mendengus kesal.

Mr. Im, sekretaris Appaku.

Aku mengangkatnya dengan malas.

“ Ne, ada apa?” ucapku tanpa menggunakan tatanan sopan santun sama sekali.

“ Tuan muda Cho, Ayah anda ingin berangkat pergi Paris untuk mengunjungi saham disana. Ayah anda memintaku untuk menyampaikan pada anda bahwa perusahaan di Korea Selatan ini untuk sementara anda dulu yang menanganinya. Dan jadwal keberangkatan pesawat Ayah anda pada pukul 14.30 KST. Apakah anda ingin mengantar kepergian Ayah anda?” Tanya Mr. Im setelah menyelesaikan kalimat yang ingin ia ucapkan.

Aku menghela napas. Ini bukan kali pertamanya Ayah menyuruhku memegang saham terbesar di Korea. Saat pertama kali aku memegangnya, perusahaan Ayah dapat memenangkan investasi keuntungan yang sangat besar berkatku, lalu setelah itu ia selalu menyuruhku menangani perusahaannya padaku daripada oranglain. Itu memang tak masalah bagiku, hanya saja membuat waktu luangku berkurang.

“ Baiklah.” Ucapku singkat pada Mr. Im.

“ Arraseumnida Tuan.” Ucapnya.

Aku memutuskan sambungan.

“ Yul kau kira aku tidak tahu tentang penyakitmu itu?” ucap Tiffany yang dapat ku dengar dengan jelas.

DEG! Aku diam tak percaya pada alat pendengaranku.

Penyakit? Penyakit apa?

Aku melihat Yuri yang masih terdiam. “ Ye?” tanyanya bingung.

Apa benar Yuri sakit? Benarkah?

“ Yul aku melihat kau sendirian Sabtu kemarin di rumah sakit, aku ingin menyapamu tapi kau sudah masuk ke ruang periksa. Saat kau keluar wajahmu murung sekali! Aku melihatmu dari meja resepsionis saat aku menanyakan nomor kamar saudaraku yang sakit karena aku tidak tahu nomornya. Lalu, aku memanggilmu tapi sepertinya kau tak mendengar panggilanku. Saat kau pulang aku menghampiri dokter yang menanganimu dan ia menceritakan penyakitmu itu padaku setelah aku memaksanya dan meyakinkannya dengan susah payah.” Jelas Tiffany lagi.

DEG! Aku diam beberapa saat mendengar penjelasan Tiffany.  Aku mencari nomor kontak Rumah Sakit yang menangani Yuri. Entah apa yang ku pikirkan tiba-tiba jemarikuku sudah mengotak-atik kontak telfon yang ada dibuku ponselku.

“ Yul! Kenapa kau sebodoh ini?!” ucapnya Tiffany lagi yang dapat ku dengar.

Saat aku menemukan kontak Rumah Sakit yang ada di Seoul ini aku langsung menghubunginya tanpa pikir panjang.

“ Tiffany-ssi, aku baik-baik saja.” Ucap Yuri.

“ Yuri ya! Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Ucap Tiffany.

Butuh beberapa waktu yang lama untuk mengangkat sambungan telfonku.

“ Annyeonghaseyo!” sapa seseorang disana.

“ Ne, apakah dirumah sakit ini ada pasien bernama Kwon Yuri pada hari Sabtu kemarin?” tanyaku sambil mengabaikan ucapan salam sang perawat disana.

“ Changkamaniyeyo.” Ucap perawat itu.

“ Arraseo, tapi saat ini aku benar-benar baik-baik saja.” Ucap Yuri. Aku menatapnya.

Tiff menepuk-nepuk bahunya.

“ Ayo Yul! Kita pulang!” ajak Tiffany. Yuri mengangguk lalu mereka berjalan secara berdampingan.

“ Ne, Hari Sabtu kemarin memang ada pasien yang bernama Kwon Yuri.” Ucap perawat itu.

“ Siapa dokter yang menanganinya?”

“ Ehm… Dokter Park yang menanganinya. Ada yang bisa saya bantu lagi?” Tanya perawat itu lagi dengan sopan.

“ Apakah dokter Park hari ini ada?”

“ Ehm… Dia bekerja pada pukul 16.40 sampai 22.45.”

“ Kamsahamnida.” Ucapku lalu memutuskan sambungan.

Berarti benar Yuri sakit. Batinku.

Aku melangkah kakiku dengan terburu-buru.

Changkaman! Batinku tiba-tiba membuatku berhenti berjalan terburu-buru. Apa peduliku kalau ia sakit? Ia kan rivalku. Aniyo KyuHyun! Jangan lakukan tindakan bodoh! Biarkan saja dia! Ia kan hanya temanmu saja! Jadi bersikaplah seperti teman yang tak peduli padanya.  Batinku.

Huh! Biarkan saja yeoja menyebalkan itu!

Apa peduliku? Toh, ia tak mengharapkanku. Batinku.

Aku menghela napas dalam-dalam.

~ DongHae Pov.~

Aku menuruni tangga sambil memasang earphone ke telingaku untuk mendengarkan mp3 di Ipodku. Aku menatap jalan dan mendapati seorang namja yang sedang berdiam diri sambil menundukkan kepala.

Aku menyipitkan mataku. Sepertinya aku mengenal orang ini? Batinku.

Namja itu menghela napas dalam-dalam lagi. Seperti sedang mendapatkan suatu kabar yang buruk.

“ KyuHyun-ssi?” panggilku. Ya, namja yang ku lihat memang KyuHyun, sahabatku.

KyuHyun membalikkan badannya dan menatapku. Aku berjalan mendekatinya.

“ DongHae.” Ucapnya lalu tersenyum tipis padaku.

“ Apa ada masalah? Kenapa kau murung sekali ku lihat tadi?” tanyaku sambil menyalakan mp3.

“ Huh? Aku tidak apa-apa Hae. Aku baik-baik saja.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.

“ Jeongmal?” tanyaku masih ragu pada ucapannya.

KyuHyun mengangguk ragu.

Aku tertawa hambar. “ Huh! Dasar namja pabo! Kau kira aku tak tahu kalau kau sebenarnya ‘tak baik-baik saja’?” tanyaku padanya yang dibalas dengan kebingungan KyuHyun. “ Ya! Aku sudah mengenalmu cukup lama. Kita sudah berteman sejak bayi. Jadi kau tak mungkin bisa berbohong padaku. Aku tahu kau saat ini sedang merisaukan suatu hal.” Ucapku padanya sambil berjalan.

“ Ye?” ucap KyuHyun bingung.

Aku berjalan dengan melihat-lihat sekelilingku. “ Aku tahu kau memikirkan apa dan siapa?” ucapku, membuatnya semakin penasaran.

“ Aisshh! Ya! Dasar kau ini Lee DongHae!” ucapnya dibelakangku.

Aku tertawa pelan mendengar ucapannya barusan. “ Itu karena aku mengenal kau lebih lama. Jika kau menginginkan mendapatkan apa yang kau ingingkan, maka berusahalah untuk mendapatkannya. Tidak peduli kau merasakan sesakit apapun yang kau dapat darinya, yang terpenting adalah ia selalu tersenyum bukan bersedih. Kau mengertikan maksudku kan?” ucapku menggodanya dengan senyuman mautku.

“ Aisshh! Jeongmal! Kau ini kenapa menjijikan sekali?” omelnya padaku yang ku balas dengan tawaku.

“ Ya! Hentikan tawamu itu!” omelnya.

“ Arra arra.” Ucapku yang berusaha menghentikan tawaku.

“ Gawat! Liontin itu! Pabo! Pabo!” ucap seorang yeoja.

Aku mengernyitkan keningku. Suara itu sepertinya aku mengenalnya.

“ Memangnya ada apa dengan liontin itu? Kau ceroboh sekali.” ucap seorang yeoja, kali ini suaranya berbeda.

Dua orang yeoja berlari dengan terburu-buru. Yuri dan Tiffany.

“ Molla! Ah!” ucap Tiffany sambil berlari menatapku lalu membuang muka dan menatap Yuri.

“ Aishh! Jinja!” ucap Yuri sambil menatapku. “ Hai DongHae!” sapanya padaku sambil tersenyum manis. Aku membalasnya tersenyum. Ia lalu menatap KyuHyun dengan jutek lalu membuang mukanya dan menganggap seolah-olah disini tak ada KyuHyun.

Aku tertawa melihat Yuri mengacuhkan KyuHyun. Wajah KyuHyun tiba-tiba  terlihat kesal.

“ Sudahlah, ayo kita bantu mereka.” Ajakku padanya.

“ Untuk apa?” tanyanya pasrah.

“ Ya KyuHyun-ssi! Aku tahu kau memiliki perasaan khusus untuk Kwon Yuri seorang. Perasaan yang berbeda untuk yeoja lainnya termasuk Im YoonA.” Ucapku padanya.

“ Huh! Kau ini bicara apa sih?” ucapnya masih tak mengakui perasaannya.

“ It’s okay!” ucapku lalu berbalik arah, ingin menyusul Tiffany dan Yuri.

“ Ya! Kau ingin kemana?” tanyanya.

“ Bukannya sudah ku bilang?” ucapku sambil terus berjalan dan melambaikan tangan.

“ Aisshh! Jinja orang ini!” ucapnya kesal.

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Dasar Cho KyuHyun pabo! Batinku.

“ KyuHyun-ssi! Jika kau tak ingin mendapatkan Kwon Yuri maka jangan salahkan aku jika aku mendapatkannya besok!” ucapku dengan nada serius.

Aku tahu KyuHyun pasti shock mendengar ucapanku barusan. Karena aku tahu ia menyukai Yuri lebih dari yang ku kira. Ckck… namja jenius tapi sebenarnya pabo!

“ Ya! Berhenti kau Lee DongHae! Kau! Kau! Tidak bisa mendapatkan Kwon Yuri!! Karena aku akan berusaha mendapatkannya!” teriaknya dibelakangku.

Telat Cho-KyuHyun! Aku sudah menaiki tangga. Senyumku mengembang. Aku mendengar suara langkah kaki yang sedang berlari. Aku tahu itu KyuHyun.

“ Ya! Lihat saja kau Lee DongHae! Aku akan berusaha mendapatkannya!” ucap KyuHyun saat tepat disampingku dan saat ini sedang menyamakan langkahnya denganku.

Aku tersenyum puas. “ Kita buktikan saja.” Tantangku.

“ Ya! Kau ini!” omelnya.

~ Tiffany Pov.~

“ O odiga? Why not here?” tanyaku pada diriku sendiri saat mencari liontin pemberian Ommaku saat aku masih kecil.

“ Tiffany ya! Kenapa kau begitu bodoh! Menghilangkan pemberian dari seseorang yang begitu penting!!” omelku pada diriku sendiri.

“ Fany-ssi! Bentuknya seperti apa?” Tanya Yuri yang sedang membantuku mencari liotinku yang hilang dan saat ini sedang mengobrak-abrik semua laci meja dikelas.

“ Berbentuk peri berwarna pink soft disayapnya.” Ucapku sambil mengobrak-abrik laci meja guru.

“ Apakah seperti ini?” Tanya seseorang. Aku menoleh dan mendapati 2 orang namja berdiri di depan kelas. Namja ini. Aku diam beberapa detik. Aku berjalan mendekatinya.

“ Kau.. kau.. bagaimana bisa mendapatkannya?” tanyaku padanya.

Namja itu tersenyum padaku. “ Kau menjatuhkannya Tiffany.” Ucap namja itu sambil menatapku dengan tajam.

Lee DongHae? Namja itu memang Lee DongHae. Aku mengambil dengan kasar dari genggaman tangannya.

“ Gomawo.” Ucapku ketus lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhinya. Aku berjalan menghampiri jendela dan menjauhi teman-temanku termasuk Yuri.

“ Fany ya~ apa kau tak bisa mengucapkan kata terimakasih dengan baik dan sopan?” tanyanya padaku dengan lembut.

Aku diam. Pangilan itu.. panggilan itu.. aku merindukannya. Aku sangat merindukannya. Kenapa.. kenapa.. ia memanggilku seperti itu disaat-saat seperti ini? Kenapa?!

“ Fany ya~” panggilnya lagi dengan lembut.

Aku diam tak bergeming. Air mataku tertahan dipelupuk mataku.

“ Fany ya?” panggil Yuri.

Aku menahan perasaan sakitku lebih dalam. “ Ye Yul?” ucapku mencoba bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Aku menatap keluar jendela. “ Sepertinya kita harus pulang Yul! Sudah terlalu sore dan akan bahaya untuk kita kalau pulang malam.” Ucapku sambil menarik tangan Yuri dengan kasar dan menembus 2 orang namja ini dengan kasar.

“ Fany ya?” panggil Yuri.

“ Ye?” ucapku tetap cuek dan terus menarik tangannya.

“ Aku antar kau.” Ucap seseorang sambil menarik tanganku yang satunya yang kosong tak menarik tangan Yuri.

“ Aa!!” ucapku sambil mengaduh kesakitan.

Aku menatap namja yang memegangi tanganku. Aku menatapnya tajam. “ Kau!! Kau ingin apa sih?!” tanyaku ketus sambil menarik kembali tanganku dengan kasar.

Tapi genggaman namja ini terlalu kuat, membuatku merasakan sakit. Ia menatapku tajam. “ Aku akan mengantarkanmu pulang. KyuHyun kau antarkan Yuri pulang.” Ucap DongHae sambil menarikku kasar untuk berjalan bersamanya. Tak sengaja aku melepaskan genggaman tangan Yuri.

“ DongHae! Kau akan membawanya kemana?” Tanya Yuri.

“ Yuri! Kwon Yuri!!” panggilku. Berharap Yuri menolongku. Tapi KyuHyun menahan Yuri. Dasaar! Ke dua namjaa ini! Mereka sama sajaa!

“ Aissh!! Jinja! Ya! Lee DongHae!! Lepaskan aku!!” ucapku sambil berteriak padanya.

“ Tiffany ya! Kita perlu berbicara berdua saja!” ucapnya padaku.

“ Kalau kau ingin bicara, bicaralah sekarang dan disini! Aku tak ada waktu untukmu LEE DONGHAE!!!” Ucapku padanya tapi saat aku menyebut namanya aku meneriakinya.

“ Aisshh!! Jeongmal kau ini Tiffany.” Ucapnya sambil menarikku untuk mengikutinya.

“ DongHae! Ya! Lee DongHae!!” panggilku terus secara berulang-ulang.

~ KyuHyun Pov.~

“ Ya! Diamlah!!” bentakku pada Yuri yang terus memukul punggungku dengan kasar. Membuatku merasakan sakit karena tenaganya yang berlebihan itu.

“ Ya!! Lepaskan aku!! Aku bisa pulang sendiri! Kau tak perlu mengantarku!!” ucapnya yang sambil terus memukulku.

“ Ya! Kwon Yuri! Diamlah!!” ucapku sambil menatapnya kesal.

“ Ya! Cho KyuHyun!” ucapnya sambil menatapku kesal dan berhenti memukulku. “ Kau tidak perlu mengantarku. Karena aku bisa pulang sendiri.” Ucapnya sambil menatapku kesal. Ia menarik tangannya dengan kasar.

Aku diam. Tidak tahu apa yang harus ku lakukan.

“ Kau pulanglah. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya sambil berjalan menjauh dariku.

“ Aku akan menemanimu.” Ucapku sambil menatap lantai lalu menatapnya.

Yuri terus berjalan. “ Aku tidak butuh ditemani oleh mu.” Ucapnya sambil berjalan.

DEG! Aku diam. Hatiku sakit mendengar ucapannya barusan.

“ Berhentilah berbuat bodoh.” Ucap Yuri.

Aku berjalan cepat untuk menyusulnya. “ Apa maksudmu?” tanyaku saat tepat disampingnya.

“ Kau menyebalkan. Kau selalu membuat ku sakit dan kesal.” Ucapnya sambil menatapku kosong.

Aku menatapnya balik. “ Apa kau begitu membenciku?” tanyaku padanya. Aku berdebar-debar menunggu jawabannya.

“ Ne, aku memang membencimu.” Ucapnya sambil menatapku lembut.

DEG! Seulas senyum tersungging diwajahku tanpa ku sadari. Sungguh, benarkah ia mengatakan yang sejujurnya?

Aku mendekatkan wajahku. “ Neomu yeppo.” Bisikku ditelinga kirinya. Aku menatapnya dan menunggu reaksinya. Aku menggodanya. Tapi ia diam dan menatapku kaget serta bingung.

Ia memang cantik. Aku tak bohong. Wajahnya yang disinari matahari membuatnya semakin cantik. Membuatku semakin… Ehm! Seperti itulah.

Yuri terdiam. Wajahnya memerah dan ia tersipu malu. “ Huh! Kau!..-” ucapannya terpotong karena aku tiba-tiba merangkulnya.

Aku tersenyum. Hatiku merasa senang sekali walau hanya bisa merangkulnya seperti ini.

Jika waktu bisa diputar ke masa lalu, aku ingin memeutarnya ke masa itu.

“ Kkaja!” ucapku padanya sambil tersenyum sebelum ia protes.

“ Ya! Ya! Ya!!” protesnya sambil memukul punggungku.

Ashhh! Yeoja ini!

~ Yuri Pov.~

“ Ya! Kau seharusnya tak perlu mengantarku! Aku bisa naik bus.” gerutuku pada KyuHyun yang diam menatap langit yang gelap yang sedang turun bulir-bulir hujan.

“ Aku bisa pulang sendiri lagipula. Kau seharusnya tak nekat seperti ini.” Lanjutku.

KyuHyun diam menatap langit yang gelap.

Aku menghela napas panjang. Saat ini kami terjebak dalam hujan yang lebat dan sedang berteduh di halte bus. Aku menatap lantai halte yang mulai kotor karena banyak orang yang berlalu-lalang disini.

Seharusnya kau tak perlu melakukan seperti ini. Kau semakin membuatku sakit.

Aku menghela napas panjang.

“ KyuHyun a~ gomawo.” Ucapku pelan dan tetap menatap lantai.

“ Mianhae Yul.” Ucapnya lembut ditelingaku.

Aku menatapnya. Ia tersenyum lembut padaku. “ Huh?”

Ku rasakan pipiku mulai memanas. Sial!

“ Aku akan mengantarmu sampai rumah.” Lanjutnya.

Aku menghela napas sambil berpikir sejenak. “ Baiklah, tapi hanya hari ini saja.” Ucapku padanya sambil tersenyum padanya.

KyuHyun membalas senyumku. “ Baiklah.”

Aku menatapnya sambil tersenyum. Mengamati setiap inchi wajahnya.

Perasaan yang ku rindukan mulai merasuki diriku. Perasaan ini lagi, keluhku.

“ Wae? Apa aku terlalu tampan sehingga kau menatapku seperti itu?” tanyanya dengan menggodaku.

“ Huh? Are you kidding? MinHo lebih tampan daripada kau!” ucapku sambil menatapnya dengan lembut.

“ Mwo?” ucapnya kesal, mungkin karena aku bilang ada yang lebih perfect dari dirinya.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

“ Kau..” ucapnya sambil menatapku penuh selidik.

“ Hm?”

“ Jangan bilang kau menyukai MinHo?” tanyanya dengan senyum liciknya.

Aku tertawa mendengarnya. “ Aku menyukainya…” aku diam tak melanjutkan kalimatku.

KyuHyun tersenyum licik. “ Dugaanku tepat.” Ucapnya sambil melipat ke dua tangannya di depan dadanya sambil memasang wajah dinginnya itu.

“ KyuHyun a~ sudahlah.” Ucapku sambil tersenyum padanya. “ Bukan urusanmu lagipula.” Lanjutku.

“ Benar, bukan urusanku.” Ucapnya sambil memaksakan senyum diwajahnya padaku.

Aku diam.

“ Sepertinya kau tak perlu mengantarku. Rumahku sudah dekat.” Ucapku mengalihkan perhatian.

KyuHyun menatapku. “ Aku akan tetap mengantarmu.” Ucapnya bersikeras.

“ Tidak perlu, aku bisa naik bus atau jalan kaki. Lagipula, hujan ini mungkin akan lama berhentinya. Daripada kau sakit setelah mengantarku pulang lebih baik kau pulang dan tidak perlu mengantarku.” Ucapku bersikeras agar KyuHyun tak mengantarku pulang.

Sungguh! Aku tak ingin bersama dengannya lebih lama.

“ Aku tak peduli, aku akan tetap mengantarmu pulang.”

Aku menghela napas panjang. “ Kau kenapa bersikeras sekali ingin mengantarku pulang? Aku bukan anak kecil Cho KyuHyun! Aku sudah besar dan dewasa sekarang!” ucapku kesal.

“ Aku hanya ingin melihat kau selamat sampai rumahmu.” Ucapnya polos.

“ Jeongmal? Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“ Ya! Kwon Yuri! Aku hanya ingin menantarmu pulang saja, kenapa aku tidak boleh berbuat baik padamu? Bukankah ini hal kecil dan tak perlu dipermasalahkan?” tanyanya kesal.

Orang-orang disekeliling kami menatap kami kesal. Mungkin karena kami terlalu berisik.

Aku meanatap KyuHyun lembut.

Kau benar Cho KyuHyun, ini memang hanya hal kecil bagimu, tapi bagiku akan berdampak besar. Kau akan menyakitiku lagi. Tak puaskah kau telah menyakitiku lebih dari 7 tahun?

Selama 3 tahun aku menyukaimu secara diam-diam, tapi kau selalu menyakitiku. Kau selalu berbuat baik padaku membuatku berharap kau juga memiliki perasaan yang sama. Kau sealu mempermainkan perasaanku. Membuatku sakit. Tapi, aku tak pernah menyalahkanmu karena akulah yang bodoh karena telah menyukai orang sepertimu.

Saat aku tak masuk sekolah selama 1 minggu karena sakit. Kau bahkan tak memberiku kabar kalau kau pergi bersama ke dua orangtuamu ke California. Kau tahu Cho KyuHyun? Penyakitku kambuh setelah mendengar berita itu. Lalu ke depannya selama 4 tahun aku mencoba melupakanmu tapi, sekarang… kau kembali lagi ke kehidupanku. Dan kau menghancurkan semua usahaku selama 4 tahun itu.

“ Aku tak peduli. Lagipula aku tak membutuhkanmu.” Ucapku cuek padanya. “ Bye.” Lanjutku sambil berjalan menerobos hujan.

Aku tidak peduli aku akan sakit atau tidak? Yang terpenting saat ini adalah aku tidak bersama denganmu lagi. Aku ingin menganggapmu sebagai temanku saja, tak lebih.

(*Backsound: Let It Rain.)

KyuHyun memanggil namaku berkali-kali. Aku tak peduli.

Aku hanya berharap setelah hujan berhenti aku bisa melakukan hal dengan baik dan aku tak kan bingung lagi.

Jadi biarkan hujan turun. Karena setelah hujan, matahari akan bersinar lagi.

Aku tersenyum. Mulai saat ini, aku akan melupakanmu Cho KyuHyun. Aku takkan mengingatmu lagi pada ingatanku ini. Karena jika aku terus mengingatmu, aku akan sakit.

Bulir-bulir air hangat mengalir dipipiku. Saat ini aku menangis. Membiarkan rasa sakit hatiku pergi dengan turunnya hujan.

KyuHyun a~ aku merindukanmu.

KyuHyun a~ kau tahu satu hal yang ingin ku katakan padamu?

Aku tersenyum. “ Aku mencintaimu.” Ucapku tanpa sadar mengucapkanya.

“ Kwon Yuri!” panggil seseorang sambil mencengkram lenganku dengan erat.

Aku diam. Tak ingin berbalik badan.

“ Kau sungguh bodoh!” ucap orang itu.

Aku diam. Air mataku terus membasahi pipiku.

“ Naik ke motorku! Aku akan mengantarmu pulang!” ucapnya.

Aku diam. “ Kau tidak perlu mengantarku.” Ucapku cuek.

“ Kau membuatku gila!” ucapnya.

Aku melepaskan cengkramannya dengan kasar. “ Pulanglah! Aku bisa pulang sendiri tanpa bantuan kau!” ucapku cuek sambil terus berjalan.

“ Kau tahu Cho KyuHyun?” tanyaku padanya tanpa membalikan badan dan berhenti berjalan. “ Aku membencimu.” Ucapku dingin lalu berjalan kembali.

Aku tahu KyuHyun dapat mendengarku. Karena ia memiliki pendengaran yang baik.

“ Tidak, aku mencintaimu Cho KyuHyun.” Ucapku pelan. “ Tapi, aku tidak bisa terus menyukaimu, karena kau tak menyukaiku. Aku muak dengan perasaan bertepuk sebelah tangan ini. Maafkan aku Cho.”

Air mataku mengalir lagi membasahi pipiku.

———————————————- TBC ———————————————–

15 thoughts on “Let It Rain. [Chapter 2]

  1. kyaaaaa
    sedih…

    ettt dah Onn lagi galau gini, kamu bwt ff super galau..

    nangis dipojokkan bareng hyunseungsmgongchan
    huaaaaa

    rimaaaaa kau jahaaaattt >.< pleeetakkk, hahahaha ^^

  2. bang jonghyun kapan tampilnya nih???
    ini nnt nya bakalan ada minstal yah chingu?
    Gilakh! lagi romance2 nya… yah yurinya kabur trs jd cuek lg deh sm kyu –”

    ditunggu😉

  3. wah, ternyata Kyuhyun jga ska Yuri!!
    senangnya,,🙂
    tp, Yurinya sakit apa chingu??
    kasian Kyuri, sma2 suka tpi d smpen aja,,
    d tunggu lanjutannya chingu!!🙂

  4. Bener tuh kta icha eonni ceritanyaa Sediiiih sediiiihh sediiiiiihhh bgt…

    Author,, mana part 3nya,, aku tunggu tunggu nieeh,,, ceritanya keren bgt,, aku sukkaaa,,,

    part selanjutnya cepetin ya!!! Aku pengen ngeliat kelanjutan kisah cinta KyuRi couple,, pkoknya Yuri hrs sma Kyuhyun… Jgn sma Minho😥
    (readers Nyolot)
    gumawo😀

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s