Do Should I Have To Say Sorry?


Do Should I Have To Say Sorry?

Author : Kwon Yura
Main Cast : Kwon Yuri
Cho KyuHyun
Lee SungMin
Choi SooYoung
Shim Changmin
Genre : Fluff, Angst, Romance, and Friendship.
PG : +16 and BO (Bimbingan Orangtua)

Art Poster : Park KyungJin makasih ^^
Disclaimer : I just writing how my feel. I don’t own them. They are belong to God, not mine anymore . And, I write this because of I want to share with you friends. SO, DON’T BE A PLAGIATOR, PLEASE! This is MINE.  Happy reading all~ and DON’T FORGET TO LEAVE COMMENT! Thank you for your support  And NO BASH, please!🙂
Mohon perhatiannya sebentar!  Perhatikan kata-kata Sungmin oppa yang aku miringkan kalimat-kalimatnya/kata-katanya yang dia ucapkan ya! Terima kasih.🙂
Semoga bermanfaat ahhahahaahahaha🙂
Plus, Merry Christmas all~ and Happy New Year!🙂
POV : Hanya aku ambil dari sudut pandang Yuri. Dan terakhir dari sudut pandangku sebagai author🙂
“ Masihkah adakah ruang dihatimu untuk memberiku maaf? Maafkan aku atas kebodohanku ini. Aku mencintaimu begitu dalam walau ku tahu aku akan menderita begitu dalam karenamu. Tetapi aku mencintaimu dengan tulus. Jadi bisakah kau memaafkan kesalahanku ini? ”


Note to listening : MBLAQ – I Shouldn’t Have To Said It
As One – Do Should I To Have Apologize?

Apakah aku boleh memilih?
Apakah aku boleh meminta?
Apakah aku boleh egois?
Apakah aku boleh berharap?
Apakah aku boleh melakukannya?

Apakah aku boleh memilih untuk tidak mencintaimu?
Apakah aku boleh meminta untuk kau tetap disampingku?
Apakah aku boleh egois untuk menjadikanmu hanya milikku saja?
Apakah aku boleh berharap bahwa hanya akulah orang yang kau cintai di dunia ini?
Apakah aku boleh melakukannya? Melakukan itu semua?
Aku tahu aku egois.
Tapi, salahkah aku jika aku memilih, meminta, bersikap egois, berharap, dan melakukan sesuatu hal untukmu? Apakah itu salah?

***

Aku hanya bisa terdiam mematung saat melihatnya berjalan melewatiku begitu saja. Tanpa mempedulikan aku. Darahku membeku dan jantungku berhenti berdetak. Mataku panas dan berair. Napasku tercekat dan juga kepalaku hanya dapat tertunduk ke bawah tanpa bisa melihatnya lagi yang masih tak mempedulikan aku.
‘ Aku benci dia.’ Kata-kata itu selalu terus-menerus berulang dalam benakku. Walau terlihat percuma dan hanya menyakiti diri sendiri. Setidaknya untuk saat ini, untuk saat ini saja, aku ingin benar-benar melakukannya.
Aku ingin membenci dia. Dia… yang telah membuatku merasakan hal yang seharusnya tak ku rasakan. Kakiku bergetar hebat saat ia sudah melewatiku. Aku menghela napas lega dan langsung memerosotkan tubuhku dilantai. Airmataku ku biarkan jatuh begitu saja tanpa bisa ku tahan lagi. Tidak perlu sok kuat untuk saat ini. Setidaknya untuk saat-saat ia mengacuhkanku. Seperti tadi.
“ Ku ucapkan selamat, Cho KyuHyun.” Ucapku disela tangisku. Sakit. Sangat sakit. “ Semoga… semoga… kau..” aku menggigit bibir bawahku. Menahan rasa sakit, setidaknya aku berharap rasa sakit dihatiku berkurang. “… kau.. bahagia…” lanjutku dan sudah tak kuasa lagi untuk menahan rasa sakit yang ku terima.
‘ Aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci dia! Aku benci dia! Aku benci dia, Tuhan!’ teriakku dalam hati sambil terus menangis sesenggukkan. Ya Tuhan..
Saat ini sekolah telah sepi tak ada anak murid satupun disini. Hanya ada aku. Dan mungkin, ada beberapa anak murid yang masih mengikuti kegiatan sekolah. Tapi, saat ini aku sendiri, di teras kelasku yang terletak dilantai teratas sekolahku. Dan dilantai ini hanya ada aku seorang saja. Jadi, aku tak perlu berpura-pura menjadi kuat untuk saat ini.
Aku tahu aku terlihat bodoh. Bodoh karena mencintai ‘dia’. Dia yang dulu ku benci tetapi entah mengapa menjadi ‘dia’ yang aku cintai? Mungkinkah ini suatu hukuman untukku? Karena dulu- jauh sebelum aku jatuh cinta dengannya – aku selalu mencaci maki dirinya.
Oh, Tuhan, please! Tell me now! Hatiku menjerit kesakitan, membuatku mengaduh-aduh dalam diam. Aku hanya bisa menutupi mulutku dengan ke dua tanganku untuk mencegah suara tangisku terdengar.
“ Kau menang! Kau hebat!” ucapku sambil menahan rasa sakit di dadaku. Ya Tuhan, Ya Tuhan…

I shouldn’t have said that we should break up
I haven’t done anything good for you
I just hated myself for that, I’m sorry
Because I was bad
Because I felt like I was becoming a burden to you
Come back to me
Like this, I don’t want to end it like this
Come back to me
Something, say something to me
Come back to me
I thought about this for a long time now
If you would just come to me
Come back Come back
MBLAQ – I Shouldn’t Said It

Tangisku semakin jadi saat mendengar lagu itu. Ya Tuhan, Ya Tuhan, kuatkanlah aku. Entah darimana suara itu berasal, tapi yang jelas, tangisku semakin jadi saat mendengarnya.
Ya, Cho KyuHyun-ssi, bisakah kau kembali lagi padaku? Bisakah? Bisakah? Ku mohon, siapapun bilang padaku bahwa saat ini aku hanya tertidur. Tertidur dengan pulas. Jadi, bangunkanlah aku dari tidurku!
***
“ Yuri~!” panggil seseorang yang sangat familiar ditelingaku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Sungmin sedang berlari kecil menghampiriku. Aku tersenyum tipis melihatnya.
“ Ada apa kau memanggilku?” tanyaku saat ia sudah berdiri di depanku.
“ Aigoo, kau ini. Bermanis-manislah terlebih dahulu padaku.” Ucapnya sambil memincingkan matanya padaku dengan senyuman yang tersungging diwajahnya.
Aku tertawa pelan. “ Palli, malhaebwa!” ucapku tak sabaran. Sungguh, aku ingin pergi meninggalkan sekolah ini. Aku takkan kuat lagi jika berlama-lama berada di sini.
“ Ck, kau ini.” Decaknya sambil memberiku selembar kertas pemberitahuan. Aku melihatnya sesaat lalu menatapnya sambil mengernyitkan kening.
“ Untuk apa?” tanyaku.
“ Oh, come on, Yul. Maukah kau pergi denganku?” pintanya. Aku masih mengernyitkan kening menatapnya. “ Aku bingung mengajak siapa lagi? Setidaknya, aku mengajakmu karena kita teman yang yah, mungkin lumayan dekat?” jelasnya.
“ Mian, tapi aku takkan ikut acara ini.” Ucapku sembari mengembalikan lembaran kertas tersebut padanya. “ Ini.”
Ia menatapku sendu. “ Wae?” tanyanya dengan suara yang terdengar kecewa.
Aku menggelengkan kepalaku. “ Ani, aku malas dan lelah. Lagipula, aku akan merayakan natal hari ini dirumah bersama keluargaku. Bukan disekolah.” Jelasku lagi.
“ Apa kau… apa kau masih mencintai KyuHyun?” tanyanya ragu namun tepat sasaran. Aku terdiam selama beberapa saat. “ Benarkah?” tanyanya lagi.
Aku diam sambil menggigit bibir bawahku lalu langsung menggelengkan kepala. “ Anio, bukan begitu.” Elakku.
“ Kau bukan pembohong yang baik nona Yuri. Melainkan kau pembohong yang buruk.” Ucapnya sambil menatapku tajam. Aku menghela napas dalam-dalam.
“ Ya, berhentilah melakukan itu! Aku lelah. Aku ingin pulang. Bye. Satu lagi, ini sama sekali tak ada hubungannya dengan orang itu!” Ucapku sembari memaksakan Sungmin untuk menerima kertas lembaran yang daritadi belum ia ambil.
“ Bagaimana jika aku antar kau pulang? Lagipula aku ingin membeli sesuatu yang ku rasa aku membutuhkanmu untuk membeli barang itu.” Tawarnya. Aku menatapnya sambil menggigit bibir bawahku.
“ Barang apa? Apakah penting?” tanyaku.
“ Tidak, tapi aku butuh. Oh, ayolah, hitung-hitung agar kau tidak bosan dan suntuk karena mata pelajaran yang mulai tertumpuk.” Rayunya.
Aku menghela napas. “ Baiklah, tapi hanya sebentar saja.” Ucapku pasrah.
“ Of course!” ucapnya sambil mencubit pipiku lalu pergi berlari ke parkiran. “ Tunggu aku di gerbang sekolah!” pintanya sambil berlari. Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke gerbang sekolah.
“ Ya, oppa! Palli~!” ucap seorang yeoja dengan manja yang sangat familiar ditelingaku. Aku terdiam sesaat lalu berusaha mengabaikannya dan terus berjalan.
“ Oppa, hari ini kita pergi ya!” pinta yeoja itu dengan suara yang manja.
“ Ne, kau ingin kemana?” tanya seorang namja yang sangat familiar ditelingaku dengan lembut dan ramah.
Aku terdiam membisu mendengarnya dan terus memaksakan kakiku untuk terus melangkah tanpa berhenti. Setidaknya aku ingin pergi jauh. Jauh dari mereka hingga aku tak dapat mendengar dan melihat mereka berdua.
“ Tidak tahu, tapi bagaimana jika kita melihat film? Ada yang ingin ku tonton.” Pintanya manja.
Aku menghela napas dalam. Airmataku tertahan dipelupuk mataku. Dadaku sesak saat mengingat semua kejadian-kejadian tentangnya. Aku berusaha menegarkan diriku. Berusaha tidak lemah di saat seperti ini. Aku berdiri terdiam di depan pagar, menunggu Sungmin datang menghampiriku dan membawaku pergi dari tempat ini.
“ Baiklah, aku akan menemanimu menonton film.” Ucap namja itu dengan lembut. Aku hanya dapat menghela napas mendengar semua perbincangan mereka.
Ya Tuhan, kuatkanlah aku.
Tak lama kemudian, Sungmin datang menghampiriku dengan motor sport miliknya. Aku tersenyum simpul melihatnya.
“ Maaf membuatmu menunggu lama. Ayo, cepat naik!” ucapnya sambil memberiku helm. Aku memakainya dan ada kesulitan saat mengkaitkan pengait helmnya. Ia –Sungmin- menatapku sembari tersenyum lembut, sangat lembut malah. Ia menarik lenganku untuk mendekat dengannya. Ia lalu membantuku untuk mengaitkan helmnya. “ Kau itu lucu sekali.” Ucapnya sambil menatapku dengan lembut.
“ Sudah.” Ucapnya lagi dengan lembut. Aku membalas menatapnya dengan lembut juga.
“ Gomawo.” Ucapku padanya sambil menundukkan sedikit kepalaku.
“ Cheonma Yul. Ayo naik!” ucapnya-yang lagi-lagi dengan- lembut.
Aku menganggukkan kepala lalu naik ke motornya.
“ Yuri?” panggil seorang yeoja yang ku kenal. Aku menoleh kaku dan tersenyum kaku padanya.
“ Hai Soo.” Sapaku balik.
“ Kalian?” tanyanya dengan bingung sambil menunjukku kemudian Sungmin.
“ Kami ingin pergi berdua.” Jelas Sungmin.
“ Nde?” tanya Soo kaget dan bingung.
“ Aku ingin menemaninya untuk membeli sesuatu.” Jelasku padanya.
“ Jeongmal?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk yakin.
“ Oh, ku kira kalian ada sesuatu.” Ucapnya lalu tertawa sendiri. Aku hanya dapat memaksakan seulas senyuman tersungging diwajahku untuk melihatnya.
“ Baiklah, kami pergi dulu. Bye.” Pamitku lalu menepuk bahu Sungmin untuk menyuruhnya cepat membawaku pergi.
“ Yul..” panggil seseorang yang sangat familiar ditelingaku. Aku diam dan sama sekali tak menoleh ke arahnya sedikitpun. “ … kalian sangat cocok.” Lanjutnya. Aku diam, darahku membeku, jantungku berhenti berdetak, hatiku sakit, air mataku terasa sekali ingin turun saat ini jika aku tak bisa menahannya. Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan…
“ Terima kasih, Cho KyuHyun.” Ucapku dingin tanpa melihat ke arahnya. “ Ayo Sungmin, kita pergi.” Pintaku pada Sungmin yang menoleh ke belakang untuk melihatku.
“ Baik. Kami pergi dulu. Sampai jumpa.” Ucapnya lalu menarik gas dengan kecepatan sedang.
Aku hanya bisa diam selama perjalanan. Aku melihat jalanan dengan air mata yang tertahan dipelupuk mataku. Aku berusaha mengendalikannya dengan melihat-lihat jalanan yang ditumbuhi oleh pepohonan. Berharap, semua itu dapat membantuku untuk tidak menangis saat ini.
“ Gwenchana?” tanya Sungmin yang membuatku hampir tak mendengar suaranya karena bisingnya suara yang ditimbulkan oleh kendaraan lain.
“ Ye?” tanyaku padanya.
“ Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya dengan hampir berteriak.
“ Tentu, aku baik-baik saja.” Ucapku sembari tersenyum padanya, walau ku tahu ia tak dapat melihatnya.
“ Kau pembohong yang buruk, Kwon Yuri.” Ucapnya yang dapat ku dengar.
“ Ani, sungguh, aku baik-baik saja.” Ucapku meyakinkannya.
“ Benarkah? Huh? Tapi matamu tak menunjukkan bahwa kau tak baik-baik saja.” ucapnya sambil menekankan kata-katanya.
Oh, Ya Tuhan, kenapa laki-laki ini ingin tahu sekali perasaanku?
“ Sungmin-ah, aku sungguh baik-baik saja. Jadi, berhentilah untuk menanyai hal yang tak perlu kau ketahui. Mengerti?” ucapku dengan sedikit kesal padanya.
“ Wae? Apa kau takut jika aku mengetahui perasaanmu? Apa kau takut jika aku mengetahui betapa lemahnya dirimu tanpanya?” sindirnya.
Ya Tuhan, laki-laki ini kenapa sih? Dia aneh. Tidak biasanya, Sungmin bersikap seperti ini bukan?
“ Sungmin-ah, jebal, berhentilah bertanya seperti itu.” Pintaku padanya.
Ia menghela napas dalam. “ Arraseo. Mian Yul.”
Air mataku tanpa ku sadari turun membasahi pipiku. Aku diam mematung. Kalian sangat cocok. Kata-kata itu terus saja teringang-ingang dikepalaku. Ya Tuhan, sakit sekali mendengar perkataan itu dari mulutnya sendiri.
Oh Tuhan, apakah aku benar-benar harus berhenti mencintainya?
Aku memeluk Sungmin dengan erat. Aku dapat merasakan tubuh Sungmin yang menegang dan kaget akibat perbuatanku ini. Tapi, ku mohon…
“ Sungmin-ah, bisakah kau mengendarainya lebih cepat lagi?” pintaku menyenderkan kepalaku dipunggungnya. Aku memeluknya dengan erat. Berharap Sungmin mengabulkan permintaanku. Aku butuh kecepatan yang lebih untuk melampiaskan perasaan ini. Perasaan yang sangat menyebalkan dan mengganggu ini.
Sungmin mengabulkan permintaanku. Ia menambahkan laju motornya dengan kecepatan tinggi dan ekstrim. Aku hanya dapat memenjamkan mataku dengan erat dan juga memperat pelukanku padanya. Bulir-bulir lembut turun mengalir membasahi pipiku. Entahlah mengapa?
Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini?
Sungmin, bawa aku pergi sejauh mungkin.
***
Aku duduk terdiam di atas motor Sungmin sambil menatap keindahan sunset yang sebentar lagi mulai terbenam. Saat ini kami berada di pinggir jalan sungai Han. Pikiranku berkecamuk menjadi satu. Kata-katanya yang tadi masih dapat ku ingat dengan baik seakan ia baru saja mengatakannya sedetik yang lalu.
“ Ini.” Ucap Sungmin sambil memberiku sekaleng minuman. Aku tersenyum tipis dan mengambil minuman itu.
“ Jadi, apakah kau masih menyukai KyuHyun?” tanya, membuka pembicaraan di antara kami. Aku tersenyum tipis mendengar pertanyaannya itu. Aku membuka tutup kalengku lalu meneguknya secara perlahan. “ So, do you still love him?” ulangnya lagi.
Sungmin menatapku dan menunggu dengan sabar jawabanku atas pertanyaan yang ia tanyakan padaku. Aku menghela napas dalam sambil memandang jauh ke matahari.
“ Huft, entahlah. Aku tidak tahu, jadi jangan pertanyakan tentang hal itu. Aku tidak ingin membahasnya.”
“ Jika kau butuh sandaran, aku siap kapanpun yang kau butuhkan.” Tawarnya.
Aku memandangnya lurus. Mencari kebohongan disetiap kata-katanya. Tetapi hasilnya, nihil. Ia mengucapkan dengan serius dan tulus. “ Terima kasih. Tetapi aku tidak butuh.” Tolakku halus.
Sungmin tertawa hambar. “ Tidak butuh? Memangnya kau siapa? Kau tidak perlu menjadi gadis kuat, Yul. Kau tahu itu. Menangislah jika kau ingin menangis. Teriak lah jika kau ingin berteriak. Lalu tertawalah dengan bahagia kemudiannya. Kau tahu? Di dunia ini, tidak ada seorang-pun manusia yang kuat. Termasuk aku, kau, dan yang lainnya.” Tuturnya yang membuatku mendengarkannya sambil lalu.
“ Kata-kata seperti itu, aku sudah bosan mendengarnya. Terlalu sering aku mendengar dan mengucapkannya. Tapi, tidak membantu sama sekali.” Ucapku dengan dingin.
Mengucapkan bukan berarti melakukan. Dan juga, apakah kau mendengarnya kemudian melakukannya? Jika kau sering mengucapkannya, apa yang kau lakukan? Apa hanya terdiam dan termangun saja sambil memikirkan kata-kata itu?
Aku melihatnya sekilas lalu menatap kembali sunset.
Kau, kau terlalu egois dan keras kepala. Kau tahu itu? Terkadang tanpa sadar kau menyakiti orang yang kau cintai. Bahkan kau sering melukai dirimu sendiri.
Aku mengernyit mendengar perkataannya barusan.
Egois? Keras kepala? Apa aku ini egois dan keras kepala? Apa aku masih bisa dibilang egois setelah mengalah pada temanku sendiri? Aku menyerahkan orang yang ku cintai pada seseorang yang ku anggap sahabat.
Apa aku egois? Apa aku masih bisa dibilang egois? Dan keras kepala? Mungkin. Keras kepala untuk tidak mencintai laki-laki itu lagi.
Kau bahkan tidak pernah tahu perasaan seseorang. Karena kau bodoh. Karena kau terlalu polos dan lugu. Jadi, kau mudah terpengaruh oleh perasaan disekitarmu. Yang ingin ku pertanyakan saat ini adalah…” ia menatap lurus ke mataku. “ apa kau bahagia?” tanyanya lembut sembari tersenyum.
Aku terdiam menatapnya. Apa aku bahagia? Apa aku bahagia? Apa aku bahagia? Entahlah. Jika aku boleh jujur, aku tidak bahagia sama sekali. Aku sangat tersiksa harus melihat seseorang yang ku cintai bersama dengan wanita lain, walaupun itu adalah sahabat-ku sekalipun. Jika boleh jujur, aku tersiksa. Sangat tersiksa.
Apa pertanyaan mudah itu terlalu sulit kau jawab?” tanyanya dengan tawa hambar.
Aku terdiam menatapnya. Jika aku boleh menjawab, Lee Sungmin, aku tidaklah bahagia.
“ Kau tidak bahagiakan saat ini?” tanyanya sambil menatap lurus sunset.
“ A-aniya, a-aku bahagia…” elakku.
“ Kau tidak pandai berbohong. Apa kau pernah mempertanyakan ini pada KyuHyun?” tanyanya dengan tatapan lembutnya.
“ Apa?”
Siapa orang yang kau cintai? Pernahkah kau bertanya seperti itu padanya.”
Aku terdiam mematung menatapnya. Mataku terasa basah saat ini. “ A-ani.” Jawabku lemah.
“ Kau. Kaulah orang yang dicintainya bukan wanita lain selain kau. Hanya kau seorang saja, wanita yang dicintainya.”
Aku terdiam mematung mendengar ucapannya. Bulir-bulir lembut keluar begitu saja tanpa ku inginkan dan ku minta. Aku lalu tertawa hambar sambil menghapus air mataku. “ Selera humor-mu bagus sekali, Sungmin-ah.” Ucapku dengan suara yang bergetar.
“ Tidak, aku sedang tidak bercanda Kwon Yuri. Hanya kau yang ia cintai.” Jelasnya yakin.
“ Huh, Sungmin-ah, lebih baik kita pulang saja. Oh ya, apa kau jadi ingin membeli barang denganku? Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Aku lelah. Bagaimana jika besok saja? Aku akan menemanimu. Aku pulang naik taksi saja, kau tidak perlu repot-repot untuk mengantarkanku. Terima kasih dan sampai jumpa.” Ucapku tanpa jeda sama sekali. Lalu ingin berjalan pergi. Tetapi tangan Sungmin menahan lenganku, membuatku berbalik menatapnya. Wajah kami terlalu dekat. Membuatku dapat merasakan hembusan napasnya.
Sampai kapan kau ingin lari? Apa kau tidak lelah? Berbaliklah dan selesaikan masalahmu. Jangan terus berlari. Hanya akan menyakiti dirimu sendiri bukan? Hanya akan menyisakan luka dihati yang sangat mendalam.” Sarannya dengan lembut.
Aku menghela napas dan air mataku terjatuh tanpa bisa ku tahan lagi. Sakit dan pilu, selama ini hanya itu yang ku rasakan.
“ Pergilah, temui KyuHyun. Dia sangat merindukanmu dan juga mencintaimu.” Ucapnya dengan lembut dan tenang. Ia mengelus puncak kepalaku dengan begitu lembut dan penuh kasih.
Aku masih menangis tersendu—sendu. “ Tidak, masalahnya tidak semudah itu. SooYoung, SooYoung sangat menyukai KyuHyun. Dan… dan KyuHyun sangat menyukainya. Aku.. aku tidak mungkin menghancurkan ke..bahagian mereka. Tidak mungkin…” Ucapku dengan susah payah karena terlalu sulit mengucapkannya. Perasaan ini… sangat menyiksaku.
Kau lebih dulu mencintainya dan kau lebih dulu memilikinya. Salahkah kau jika kau memiliki cinta-mu kembali? KyuHyun mencintaimu. Dia sangat mencintaimu. Dan kau juga mencintainya bukan?”
“ Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa merusak kebahagian mereka. Mereka… mereka terlalu berarti untukku.”
Lalu, membiarkan dirimu terluka terus?” tanyanya dengan sedikit kesal.
Aku terdiam.
Pergi dan selesaikanlah, ku mohon. Selesaikanlah.” Pintanya memohon dengan lembut. Aku menatapnya nanar karena air mataku masih tertahan dipelupuk mataku.
“ KyuHyun tersiksa, kau juga tersiksa. Dan, ku yakin SooYoung juga sangat tersiksa. Pergilah, temui KyuHyun.”

“ Aku mencintaimu.”
….
“ Jangan pernah tinggalkan aku. Karena aku, hanya mencintaimu seorang saja dan hanya kau yang ingin ku miliki.”
…..
“ Kau bodoh! Kau membuatku khawatir!”
….
“ Aku akan selalu berada di sampingmu.”
….
“ Kau. Hanya kau yang aku cintai. Tak ada yang lain lagi.”
…..
“ Hidup bahagia bersamamu dan anak-anak kita nantinya adalah cita-citaku.”
…..
“ Kwon Yuri, aku sangat mencintaimu.”
…..
Sekelebat kenang-kenangan bersama KyuHyun memenuhi diriku. Kata-katanya yang membuatku melayang jauh ke udara masih dengan baik dapat ku simpan dan ku ingat. Cara bicaranya yang terkadang kasar, namun juga terkadang lembut. Perilakunya yang selalu bersikap lembut dan sabar padaku, semuanya masih dapat tersimpan dengan baik.
Air mataku kembali mengalir dengan deras mengingat semua kenangan tentangnya.

“ Kita berakhir disini saja.” Putusku saat kami berada di ruang musik sekolahku. Aku menahan amarah, sakit, dan juga pilu yang ku rasakan. Kenapa harus aku yang mengatakan ini?
KyuHyun terdiam mematung mendengar ucapanku dan napasnya tercekat. Mulutnya sedikit terbuka dan terkejut menatapku. “ K-kau.. bercandakan?” tanyanya terbata-bata.
“ Tidak, aku serius. Hubungan kita cukup sampai di sini. Selamat tinggal. Semoga kau bahagia dengan SooYoung.” Ucapku lalu pergi berlari begitu saja. Meninggalkan dia yang masih diam membisu menatap punggungku yang semakin menjauh.
….
“ Apa ini alasanmu? Apa kau sudah tahu kalau SooYoung menyukaiku dan akan menyatakan cintanya padaku? Jadi kau memutuskan aku?” tanyanya saat kami berdua di ruang musik. Ia datang begitu saja dan menggebrak papan piano yang sedang ku mainkan.
Aku menatapnya sinis. “ Tidak, karena aku menyukai laki-laki lain.” Ucapku sinis lalu berdiri dari dudukku dan berjalan pergi meninggalkannya.
Lebih baik pergi saat ini. Aku tak mungkin tahan berlama-lama di dekatmu.
“ Ya! Aku belum selesai berbicara denganmu!” ucapnya dibelakangku. “ Tunggu!” pintanya sambil menahan tanganku. Aku menghela napas dengan kasar. “ Apa kau sudah tau dari awal semuanya? Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanyanya.
Jangan! Jangan cegah aku pergi! Ku mohon!
Aku menepis cengkramannya dan mencoba melepaskan diri. “ Ya, aku memang sudah tahu. Bukankah kau bilang kau menyukai dia? Dan, sekarang permohonanmu terkabul.”
“ Apa kau benar-benar ingin aku berpacaran dengannya?” tanyanya dengan kesal dan emosi.
“ Ya, aku ingin kau berpacaran dengannya. Kau menyukainya dan dia menyukaimu. Dan lagipula, kalian cocok. The King and The Queen Prom Nite. Kau terpilih sebagai raja dan dia terpilih sebagai ratu! Cocok bukan? Dan lagi, kalian juga pernah kencankan setelah acara itu!” ucapku emosi dan dengan nada tak mau kalah dengannya.
“ Bukankah itu sudah ketentuan peraturannya? Raja dan ratu akan berkencan dan menjalin hubungan selama 1 hari. Dan lagi, SooYoung adalah temanmu! Jadi mana mungkin aku berselingkuh!” ucapnya tak mau kalah dariku.
“ Seterah apapun itu!! Aku tidak peduli! Kau lebih baik berpacaran saja dengannya!! Dia sangat menyukaimu!!” ucapku hampir berteriak.
“ Baik!! Baik!! Jika itu mau mu!!” ucapnya lalu pergi meninggalkanku. “ Satu hal lagi, aku tidak pernah menyukainya. Karena aku tak memiliki perasaan apapu terhadapnya. Selamat tinggal.” Ucapnya berhenti dan berbalik menatapku lalu ia kembali berjalan pergi.
Dan, saat ia pergi aku telah menangis dengan tersendu-sendu. Bodoh. Cho KyuHyun bodoh. Dan sekarang…
Kau telah pergi. Meninggalkanku.
“ Akh~!!!!” teriakku sekeras mungkin. Percuma, ini lantai paling atas dan hari semakin sore. Tidak ada orang di sekolah ini. Semuanya telah pergi ke rumahnya masing-masing.
……

Ingatan saat kami putus-pun masih dapat tersimpan dan teringat dengan jelas.
“ Sampai saat ini, ia masih mencintaimu, Yul.” Ulangnya lagi dengan lembut. Aku hanya dapat mendengarnya dalam tangisku yang semakin pecah.
“ Bodoh…” lirihku dalam tangisku yang semakin jadi.
“ Pergilah… Temui dia saat ini juga…” pintanya lembut sambil memelukku dengan lembut bahkan seakan tubuhnya mengatakan aku tak rela melepasmu. Tetapi pelukan yang hangat. Hampir membuatku merasa nyaman. Tapi, bukan pelukan dan orang ini yang ku inginkan.
“ Tapi Sungmin….” Ucapku bingung.
Haruskah aku pergi? Haruskah aku menemui dia?
“ Tunggu apa lagi? Ayo! Aku antar kau.” Tawarnya sambil menarik tanganku dan menyuruhku untuk naik ke motornya. Aku menurutinya dengan ragu.
Haruskah?
Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa? Aku hanya dapat memeluknya dari belakang dengan erat sambil menangis. Air mata yang selama ini ku coba tahan, semuanya keluar mengalir begitu saja. Tanpa bisa ku hentikan dan ku tahan lagi.
***
“ Pergilah, temui dia. Kau merindukannya bukan?” tanyanya saat kami kembali ke disekolah. Dan aku sudah turun dari motornya.
Entahlah aku tidak tahu mengapa ia membawaku kemari? Bukankah KyuHyun sudah pergi? Lebih tepatnya, pergi bersama SooYoung.
“ Sungmin-ah, kenapa kau membawaku kemari? Ia sudah tidak ada disini. Lebih baik kita pulang saja.” Ucapku ingin menaiki kembali motornya itu.
“ Tidak, mana mungkin ia pulang saat ini?” tanyanya sambil melihat jam tangan miliknya. “ Ini masih sore, Yul. Ia takkan pulang sebelum pukul enam sore. Sedangkan ini, masih pukul lima lewat empat puluh menit. Jadi, ia pasti masih disini.”
Pukul 6? Pulang sebelum pukul 6? Benarkah? Bukankah itu… waktu tepat saat kami berpisah? Ya Tuhan…
Aku menutup mulutku dengan ke dua tanganku untuk tidak mengeluarkan suara. Mataku kembali basah. Aku membalikkan badan dan berlari secepat mungkin menemuinya.
Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Cho bodoh! Runtukku dalam hati sambil menangis. Sakit dan pilu… masih menghinggapiku.
Aku hanya bisa berlari dengan cepat, secepat mungkin dengan energi yang ku miliki. Ya Tuhan…
Suara dentingan piano terdengar, membuatku memperlambat laju lariku. Terlalu merasa lemas tiba-tiba. Aku mengenali nada suara dentingan piano ini.

Do I have to apologize? Should I apologize?
Im falling in love with you
I know my love
has made you suffer
But I cant forget you
If you could understand me
Please forgive me
although Im crying again

Aku membuka sedikit pintu ruang musik agar aku bisa melihatnya dengan jelas. Seorang lelaki, duduk sambil memainkan piano dan menyanyikan sebuah lagu dengan memenjamkan kedua matanya. Seakan-akan menghayati begitu dalam lagu ini. Lagu yang ku sukai selama ini. Lagu yang selalu mengingatkanku padanya. Lagu yang hanya ingin ku dengar dari mulutnya. Dan saat ini, ia menyanyikannya dengan begitu dalam.

Although its wrong, I cant
Although I closed my eyes
I still can see you
Although I’ve suffered with you but Im happy thinking of it
Even though I closed my ears,
I still hear your voice
since I can’t forget you
Im going to love you
Although its wrong, I cant
Although I closed my eyes
I still can see you
Although Ive suffered with you but Im happy thinking of it
Yeahhh
Although its wrong, I cant
Although I closed my eyes
I still can see you
Although Ive suffered with you but Im happy thinking of it
As One – Do Should I Have To Apologize?

Tangisku semakin pecah saat ia menyelesaikannya. Aku berjalan pelan menghampirinya. Perlahan-lahan sampai ia tak menyadari keberadaanku yang saat ini telah tepat disampingnya.
Ia masih memenjamkan kedua matanya. Seakan sungkan untuk membuka matanya. Seakan ia menikmatinya. Bulir air mataku jatuh membasahi pipinya. Ia tersentak kaget dan ingin membuka ke dua matanya.
Aku lalu menutup matanya dengan salah satu tanganku, sedangkan tangan yang satunya lagi merangkul lehernya. Suara tangisku pecah dan terdengar keluar. Tanpa ku minta dan sadar.
“ SooYoung?” tanyanya. “ Apa ini kau?” tanyanya lagi.
Tangisku semakin jadi saat mendengar suaranya.
“ Kau, kenapa menangis? Bukankah seharusnya kau pulang? Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang?” tanyanya lagi. Kali ini ke dua tangannya ingin melepaskan diri. Aku mempererat gengamanku.
“ Tidak, jangan buka!” pintaku dengan suara yang kacau.
“ Kau kenapa? Kenapa kau menangis?” tanyanya sambil mencoba melepaskan genggaman tanganku pada matanya.
“ Ku mohon, jangan buka…” pintaku lirih sedangkan tangisku semakin jadi.
KyuHyun lalu terdiam. Menurunkan ke dua tangannya kembali di pahanya. Aku melemahkan genggamanku.
“ Maaf, hari ini aku tak dapat menemanimu menonton film. Aku lelah.” Ucapnya yang tiba-tiba setelah jeda beberapa detik di antara kami. Ia tersenyum tipis. “ Tapi, bukankah kau harusnya saat ini menonton film dengan Changmin? Apakah kalian tidak jadi? Dan, apakah kau menangis karena aku tak bisa menemanimu? Maafkan aku.” Tambahnya.
Tangisku semakin jadi saat mendengar ucapannya. Tak bisakah kau mengenaliku? Aku Kwon Yuri, Cho KyuHyun, bukan Choi SooYoung!
“ Sudahlah, jangan menangis lagi. Maaf, maafkan aku.” Ucapnya lagi kali ini dengan suara lirih.
“ Apa kau tak mengenaliku?” tanyaku padanya dengan suara yang lirih.
“ Hm? Apa? Tentu saja aku tak tahu kau. Kau menutup mataku. Mana bisa aku melihatmu? Tapi, bukankah kau SooYoung?” sahutnya dengan diiringi senyum getir di wajahnya.
“ Apa kau masih mencintaiku?” tanyaku lagi dengan suara ragu.
Ia terdiam beberapa saat. Membuat jeda diantara kami. “ Maaf…” ucapnya lirih dan merasa bersalah kemudian.
Napasku tercekat, rasa pedih dan pilu mulai menghampiriku, dan darahku membeku. Ia… sudah tidak mencintaiku lagi.
“ … Aku… aku masih mencintai Yuri. Sampai sekarang, aku masih mencintainya.” Jelasnya lagi yang membuatku kaget dan terkejut. “ Maaf, aku tahu aku egois, aku tahu aku mempermainkanmu. Tapi, sungguh, aku minta maaf padamu. Sampai saat ini, hanya ia yang ku cintai dan hanya dia yang ingin ku miliki. Selain dia, tidak ada wanita lain yang ingin ku miliki. Sekalipun ia telah pergi meninggalkanku.” Tambahnya yang membuatku semakin kaget dan terkejut. Kakiku terasa lemas. Tubuhku bergetar hebat mendengar ucapannya itu.
Aku lalu memeluknya dengan erat. Terlalu erat malah. Tidak tahu membuatnya sulit bernapas atau tidak? Aku hanya ingin memeluknya. Aku melepaskan genggamanku pada matanya. Membuatnya kembali melihat lagi.
“ Bodoh! Cho bodoh!” makiku padanya dalam pelukanku.
“ Yu-ri?”panggilnya kaget dan terkejut saat mengetahui aku sedang memeluknya saat ini.
“ Maaf, maaf, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…” ucapku lirih ditelinganya.
Ia terdiam selama beberapa saat, sedangkan tangisku semakin jadi dalam pelukanku sendiri.
“ Bodoh…” makinya lembut lalu membalas pelukanku.
Dan, tangisku-pun semakin jadi dalam pelukannya. “ Aku mencintaimu, Kwon Yuri. Maaf, sampai saat ini aku masih tetap mencintaimu.” Ucapnya lembut sambil mempererat pelukannya pada pinggulku. Lengkaplah sudah, tangisku-pun semakin jadi sejadi-jadinya. Tapi kali ini, bukan tangis yang menyisakan luka dalam dihati, melainkan menyisakan kebahagian di dalam hati. Dan aku menyukainya.
Bruukk!!
Suara mengkagetkan itu membuatku dan KyuHyun terkejut. Aku menyudahi pelukanku dan tangisku lalu mencari asal suara itu.
Choi SooYoung, sedang berdiri di depan pintu dengan mulut terbuka dan mata membulat kaget. Buku-buku yang ia bawa terjatuh ke lantai begitu saja. Aku menatapnya kaku dan merasa bersalah. Yang ku takutkan dan khawatirkan terjadi.
“ Soo…” panggilku takut.
Ia menatapku lalu menatap KyuHyun, ia menatapku kembali, lalu menatap KyuHyun lagi, ia menatap kami secara bergantian dengan kaget dan terkejut secara berkali-kali.
“ Soo… aku bisa jelaskan..” ucapku takut-takut sambil berjalan menghampirinya dengan ragu.
“ Huh?” desahnya dalam sambil menundukkan kepala dan memenjamkan ke dua matanya. Aku berjalan menghampirinya dengan perasan takut dan ragu.
“ Soo…” panggilku lagi.
“ Aku kalah…” ucapnya lirih dengan posisi yang masih sama.
Aku berhenti melangkah karena aku sudah berada tepat di depannya. “ Soo..” panggilku lagi. Ia lalu memelukku secara tiba-tiba dengan erat lalu memukul-mukul punggungku dengan sedikit keras tetapi pelan.
“ Maafkan aku, Yul. Dan selamat. Aku turut bahagia.” Ucapnya dengan tenang. Tetapi terlihat sekali tubuh dan suaranya bergetar hebat. Seakan ia menyembunyikan kesakitan yang ia terima, ia mencoba bersikap biasa dan ceria. Seakan tidak terjadi apa-apa. Ia melepaskan pelukannya dan menatapku sambil tersenyum ramah.
“ Soo, maaf. Aku.. aku.. masih mencintai KyuHyun. Aku sudah mencoba melupakannya, melepaskannya, dan membiarkannya denganmu. Tapi.. tapi.. aku, tak bisa. Aku.. semakin mencintainya… maaf, maafkan aku, Soo..” ucapku kacau karena saat ini aku menangis.
“ Sstt! Kau bodoh! Kenapa harus kau yang meminta maaf? Bukankah harusnya aku yang meminta maaf padamu? Aku telah merebutnya darimu. Bukan kau yang merebutnya dariku. Dan lagi, maafkan aku atas permintaan bodohku waktu itu. Harusnya aku tak bilang padamu bahwa aku menyukainya. Harusnya aku tak bilang bahwa aku mencintainya. Harusnya aku tak bilang bahwa kau ingin memilikinya. Padahal, aku tahu, dia itu adalah milikmu dan kau sangat mencintainya. Padahal aku juga tahu, dia sangat mencintaimu. Bukan aku. Jadi, maafkan aku atas kebodohanku ini. Tiffany dan SeoHyun benar, aku ini jahat dan menyebalkan.” Ucapnya lalu tertawa getir sambil menahan bulir air mata yang tertahan dipelupuk matanya.
Aku mengernyitkan keningku. Tiffany dan SeoHyun?
“ Kau tidak tahu kan? Mereka berdua marah padaku. Bahkan mungkin mereka membenciku. Hanya kau yang tetap baik padaku sekalipun aku telah menyakitimu.” Jelasnya sambil tersenyum lembut padaku. “ Maaf.” Tambahnya.
Aku terdiam mendengar ucapannya. Terlihat sekali bulir-bulir air itu ingin jatuh membasahi pipinya.
“ Ahahahahaha… Sudah ya, hari sudah semakin gelap. Aku lebih baik pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Ucapnya lalu merunduk untuk mengambil buku-bukunya yang jatuh.
“ Sekali lagi, selamat. Aku turut bahagia.” Ucapnya sembari tersenyum padaku dan mengacak halus kepalaku lalu pergi meninggalkan kami lalu kemudian menghilang tak terlihat lagi.
Aku masih terdiam melihat kepergiannya.
Maaf Soo, aku tahu, kau pasti terluka.
KyuHyun berjalan menghampiriku dan memelukku dari belakang. “ Akhirnya, kau kembali lagi ke sisiku.” Ucapnya lembut ditelingaku lalu mencium sekilas pipiku kemudian leherku.
Aku tersenyum lembut padanya.  Ia membalikkan tubuhku untuk menghadapnya dan ia menarik tengkuk-ku dan kemudian mencium bibirku dengan lembut dan perlahan.
Ciuman yang sangat ku rindukan selama ini.
“ Aku mencintaimu.” Ucapnya lembut disela ciuman kami. Dan aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Terlalu bahagia dan senang saat ini.
Kembali padanya, adalah sesuatu hal yang paling ku inginkan selama ini.
Aku juga, aku juga mencintaimu, Cho KyuHyun.

***

SooYoung berjalan dengan terburu-buru. Bulir-bulir lembut sudah mengalir keluar begitu saja semenjak ia meninggalkan Yuri satu menit yang lalu. Ia menghapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya yang bebas tak memeluk buku yang ia bawa.
“ Terima kasih karena kau mau mengalah.” Ucap seseorang yang membuatnya terkejut dan berhenti melangkah karena saking terkejutnya.
“ Sungmin?” tanyanya lalu ia bernapas lega saat mengetahui orang yang berbicara itu Sungmin yang sedang berdiri dan sedang menyenderkan punggungnya pada dinding sekolah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“ Ku pikir kau akan bersikap egois lagi.Tapi, diluar dugaanku, kau bersikap dewasa dan bijak.” Ucapnya sambil menatap SooYoung dengan sebuah senyuman ramah di wajahnya.
“ Huh? Itu sebuah sindiran atau pujian?” tanya Soo sambil berjalan mendekati Sungmin yang tak merubah sikapnya. Ia menyenderkan punggungnya di dinding, mengikuti Sungmin.
“ Pujian, untuk orang se-egois-mu, tapi sekarang untuk orang se-dewasa kau karena mau mengalah.” Ucapnya masih tetap tersenyum.
“ Huh? Kau menyindirku?” tanya Soo sedikit kesal. “ Tapi, baiklah, aku akui. Aku memang egois, hampir saja aku merusak hubungan sepasang kekasih yang saling mencintai dengan tulus dan murni.” Ia menatap langit-langit sekolah dengan nanar. “ Hampir saja merusak kebahagian sahabatku dan orang yang ku cintai. Tapi, syukurlah, semuanya telah menjadi baik-baik saja. Ini pasti karena cinta mereka yang tulus dan murni. Jadi Tuhan tak rela merusak hubungan mereka dan menyuruhku mengalah.” Lanjutnya.
Sungmin tertawa pelan. “ Yah, mungkin. Tuhan tak rela merusak kebahagian mereka. Padahal, jika aku bisa dan ingin, seharusnya aku tak melakukan ini.” Ucapnya sambil memandang jauh ke langit.
SooYoung menatap Sungmin dengan bingung. “ Hm? Apa maksudmu?” tanyanya bingung.
“ Jika Tuhan boleh mengijinkan aku untuk memiliki Yuri, pasti saat ini juga aku telah memilikinya. Hahh.. tapi nyatanya, Tuhan berkehendak lain. Mungkin ini yang disebut Magic Christmas? Keajaiban disaat natal.” Ucapnya sambil tersenyum pahit pada langit.
“ Apa maksudmu saat ini kau bisa menjadikan Yuri milikmu? Aku tak mengerti.” Tanya Soo lagi, masih merasa penasaran.
“ Kau lihat aku dan dia tadi pergi bersamakan? Harusnya, aku menyatakan cintaku saat itu padanya. Tapi, melihatnya terluka saat KyuHyun bersamamu tadi, aku malah tak jadi menyatakan perasaanku padanya. Malah sebaliknya, mengatakan hal-hal yang tak berhubungan dengan perasaanku.” Sungmin terdiam beberapa saat sambil mengingat kejadian tadi. Sedangkan SooYoung masih terdiam mendengarkan Sungmin berbicara kembali.
“ Aku memintanya untuk kembali pada KyuHyun. Karena entah mengapa teringat pada ucapan KyuHyun yang mengatakan bahwa ia masih tetap mencintai Yuri. Bukan wanita lain, termasuk kau. Hanya pikiran kecil itu saja yang terbayang dalam benakku, walaupun aku terluka pada setiap kata-kata yang ucapkan. Pilu dan pedih. Yang pada akhirnya aku hanya dapat mengutuk kebodohanku sendiri. Bahkan sampai detik ini.” Lanjutnya.
“ Tetapi, entah mengapa aku bahagia. Aku bahagia bisa melihat mereka kembali seperti dulu lagi.” ucapnya lembut sembari dihiasi sebuah senyuman manis di wajahnya.
“ Huh? Aku jadi merasa iri pada Yuri.” Ucap Soo tiba-tiba yang membuat Sungmin menatapnya dengan kening berkerut.
“ Aku iri dicintai dua orang laki-laki yang mencintainya begitu tulus dan dalam.” Jelasnya. Sebuah senyuman lembut menghiasi wajah cantiknya.
“ Kau ini bicara apa? Bukankah kau telah memilikinya satu?” tanya Sungmin lembut sambil membalas senyuman SooYoung.
“ Hm? Apa?” tanya Soo tak mengerti.
Sungmin menoleh ke arah yang berlawanan dan diikuti oleh tatapan penasaran SooYoung. Seorang lelaki yang jaraknya masih jauh dri mereka berdua, sedang berjalan menghampiri mereka.
“ Kau benar. Aku memiliki satu orang laki-laki yang mencintaiku dengan tulus dan dalam. Dan itu sudah cukup.” Ucap SooYoung, seakan ia baru mengerti ucapan Sungmin tadi.
“ Kali ini, jangan kau sia-siakan orang yang mencintaimu itu.” Saran Sungmin yang dibalas dengan sebuah senyuman bahagia dari wajah SooYoung.
“ Tentu. Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.” ucap Soo yakin lalu berjalan menghampiri Changmin yang berjalan menghampiri mereka.
Dari kejauhan, Sungmin melihat SooYoung yang malu-malu pada Changmin. Terlihat sekali wajahnya yang memerah karena malu. Entah apa yang mereka bicarakan? Yang jelas, wajah SooYoung dan Changmin terlihat bahagia sekali.
Sungmin tersenyum senang melihat tingkah laku mereka yang sama-sama canggung. Lalu ia beralih lagi pada langit.
Magic Christmas?
Bisakah aku mendapatkannya?
Sungmin lalu menghela napas dalam.
Jika aku tak dapat memilikimu saat ini, dapatkah aku memilikimu di waktu berikutnya?
Aku mencintaimu, Kwon Yuri. Dan saat ini, aku terluka. Tapi aku bahagia melihatmu dapat tersenyum bahagia saat ini.
Merry Christmas, Kwon Yuri. Cinta pertamaku.
Seulas senyum tersungging di wajahnya lalu, ia berjalan pergi menuju motornya lalu memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Selamat tinggal, my first love.
Bulir-bulir lembut keluar begitu saja dari ujung matanya. Rasa sakit menghampirinya tetapi perasaan bahagia masih dapat ia rasakan dengan begitu jelas.
Magic Christmas, semoga aku mendapatkannya suatu saat nanti.

========================== THE END =====================

Hai!! I’m Back!!! Hahahahahhaha😀 Setelah sekian lama kita tak berjumpa readers, aku merindukan kalian semua!😀 Hehehehe…😀 Aku baca komen-komen kalian di Sleeping Beauty, ahahhahaha pengen banget bales tapi.. males ahahahahahahahaa #plaakk-_-v Selanjutnya aku tunggu komenan kalian di ff ini.^^

Gimana menurut kalian tentang ff ini? Anehkah? Atau jelek banget ya? Ya ampun maaf ya kalau sedikit mengecewakan kalian ahahhahaa soalnya aku bikin lagi terinspirasi ke-2 lagu diatas sama film drama Korea hehehehe😀

Ff ini sebenernya udah lama banget aku buatnya pas sebelum hari natal dan tahun baru. Makanya ada tulisan Marry Christmas sama Happy New Year!😀 Ahahahahha😀😀

Tapi, walau bagaimanapun aku ucapkan terima kasih banyak pada kalian yang selalu memberikanku dukungan-dukungan ahahahaha😀 Kamsahamnida ^^ Oh ya menurut kalian ff ini gimana? Apakah ada yang tersampaikan pada kalian? Atau tidak? Ahahahahha oke ditunggu komennya ^^ Ayo komen yang banyak biar aku makin semangat!! Ahahahahhahaaahahahhaha😀😀😀😀

16 thoughts on “Do Should I Have To Say Sorry?

  1. Waw…Ceritanya! Aku suka ma karakter sungmin disini. Ga’ egois, dws bgt, rela korban perasaan bwt orang yg dicintai. “so sweet”. Acungan jempol deh buat author, coz bisa bkn aku hanyut ma ceritanya. Kyuri couple I like it.

    1. Waw! ahahhahahahha iy sungmin oppa keren~😀 hehehhee
      ahahahhaha aniyo chingu, aku cuma menulis ini dengan biasa saja tapi terima kasih atas pujiannya ^^ hehehehee kamsaahamnida ^^
      ahahahhaha yey! kyuri shipper makin bertambah lagiii~ horeee~!! ahahahhhaha😀😀😀
      kamsahamnida ^^

  2. suka sm karakter sungmin..
    bnr” dewasa si Oppa🙂
    kkk~

    pantes Yuri balikkan sm Kyu
    Soo sm Changmin
    Victoria sm Nickhun??? apa hubungannya coba? LOL XDD

    nice ff saeng, buat yg bagus” ya ^^

  3. bgus saeng,,,,
    akhr’a udh kmbli berkarya lg stelah hiatus slama sminggu,,,#lho?!!hiatus???he,,,,,:D
    eummhh,,,yg psti inti dri ff ini cinta gg selamanya harus sling memiliki,mskipun qta mncintai seseorang tpi qta tdak bsa memaksakan prasaan tersebut,asal melihat orng yg qta sayangi bahagia saja udh cukup,,yaah mskipun ttep sakit hati,,,haha,,,,#lho ko jdi malah b’filosofi sih?!!wkwkwk,,mian,,,,:p

  4. hebat .. Sedih crta na ,ngena bgt ..
    Ksian sungmin ,mrelakn cintany . Bca ni jd pngn sungmin am yuri biar gg sdih tp kyu jg .. Arh pkokna bgus ..

  5. Wahh~ ini beneran mengharukan😦
    awal’x nyesek liat KyuRi yg brpisah saat msh saling cinta bt seolah gak trjdi apa” saat mreka ktmu . Itu menyakitkan😥
    Bt kemudian , sngat sesak ngeliat Sungminnie .. Gmna bisa dy sebaik & setulus itu? Ahh~ oppa , kau dgnku saja . Mau? /error/slap
    Youngie yg dewasa . Meskipun awal’x smpet kesel sama dy , bt liat gmna akhir’x dy mncoba mnerima knyataan .. Lgsg seneng .🙂

    Hha~ sllu suka deh sama tulisanmu . Happy ending tuh emng paling menyenangkan .. Lagi~ ttap smangat yaa .. Makin bersinar .

  6. kyuhyun romantis banget^^ seneng bnget sm ff ini.. tentang endless love^^
    ditunggu ide kreatif km di ff selanjut’a^^ fighting kwon yura^^

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s