DESTINY [ Part 2 ] – In Your Dream


DESTINY

[ In Your Dream ]

Main Cast : Kwon Yuri

Cho KyuHyun

Choi Siwon

Victoria Song

Tiffany Hwang

Lee DongHae

Support Cast : SNSD and Super Junior members

PG : 16+ and BO (?)

Length : Series / Vignatte

POV : Kwon Yuri side’s

Disclaimer : They belong to God. I just have this plot. All of story is my MINE, PURE, and OWN. So, please, don’t be an Plagiator!

“ Dalam setiap mimpimu, apakah kau pernah bermimpi tentang diriku? Dalam setiap hembusan napasmu, apakah aku pernah menjadi alasanmu untuk tetap hidup? Dalam setiap benakmu, apakah kau pernah berpikir untuk tetap mencintaiku? Bisakah kau memberitahuku tentang apa yang kau rasakan saat ini? Jawab aku.” -Kwon Yura.

 

 

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Apakah kau mencintaiku? Tidak, bukan, lebih tepatnya apakah kau benar-benar mencintaiku? Di dalam hembusan napas-mu apakah aku pernah menjadi bagian dari hembusan itu? Di dalam benakmu apakah pernah terlintas tentang diriku yang mencintaimu? Di dalam setiap mimpimu, apakah aku pernah menjadi salah satu bagian penting dalam mimpimu?

Walau aku tahu jawabannya adalah tidak. Tapi, pernahkah sekali saja? Sekali saja kau memikirkanku?

Apa kau pernah merasakannya oppa, merasa mencintai seseorang tetapi tak dicintai oleh orang itu? Menganggap seseorang begitu berarti dalam hidup, tetapi hanya dianggap seperti udara tanpa pernah dihiraukan?

Aku tahu, aku bodoh. Mencintaimu. Mencintai sampai seperti ini. Mencintaimu dengan begitu dalam hingga kapan saja bisa meledak karenamu.

Tetapi…

Aku tidak pernah menyesalinya. Karena mencintaimu adalah sesuatu hal yang sangat menghangatkan jiwaku.

Aku tahu, aku pantas mendapatkan caci makimu. Karena aku bodoh. Karena aku tidaklah peka terhadapmu. Karena aku begitu terlambat menyadari bahwa kau-lah yang mencintaiku dengan begitu dalam. Mungkin?

Dan…

Saat menyadari hal itu, kau telah pergi. Pergi meninggalkanku dengan seribu bahasa tanpa ada sepatah kata sekalipun dari bibirmu.

Hingga saat ini, aku bisa saja meledak karena kau pergi. Pergi meninggalkanku yang telah terlambat menyadari sesuatu hal yang begitu berharga dalam hidupku.

Tetapi…

Tahukah kau? Aku mencintainya, aku mencintai temanmu itu.

Bukan kau… maaf, maafkan aku.

Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri.

Aku mencintainya.

Aku tahu aku egois dan bodoh. Karena aku juga telah jatuh padamu. Aku juga mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.

Jika aku memiliki kesempatan untuk mengatakannya, aku… aku mungkin akan berusaha mengatakannya. Mengatakan dengan lantang dan keras walau harus malu yang akan ku terima nantinya.

Tapi, sayangnya, aku tidak pernah memiliki kesempatan itu. Hingga kini. Aku hanya diam, tak bergerak sedikitpun. Hanya bisa memperhatikanmu dari jauh. Memperhatikan setiap gerak-gerikmu setiap saatnya dengan hati yang pilu dan sakit.

Walau seperti itu,  aku tetap memiliki harapan. Harapan yang tak pernah sirna.

Semoga kau bahagia dengan seseorang yang kau cintai.

Hanya itu, hanya sesederhana itu dan semudah itu. Lalu, aku akan pergi. Pergi meninggalkanmu yang selalu bahagia. Walau hanya luka dan perih yang ku terima, aku akan berusaha menahannya dengan baik.

Tuhan, apakah kau mendengar doa tulusku ini? Aku ingin kau mendengarnya dan mengabulkannya dengan suka cita.

 

Semoga ia selalu bahagia, selamanya.

Hanya itu, hanya sesederhana itu. Maka aku akan pergi meninggalkannya dengan membawa luka yang ku terima.

Asalkan ia bahagia. Hanya itu, hanya sesederhana itu.

***

Lagi. Aku mendapati diriku tengah menangis saat sedang tertidur. Aku mengusap air mataku dengan pelan dan berusaha menyunggikan senyum yang masih dapat ku miliki.

Rapuh.

Saat ini aku tengah rapuh. Setiap wanita, tidak, bukan, setiap manusia, tanpa sadar selalu rapuh. Terlebih, jika mereka mendapatkan persoalan yang sesungguhnya mudah namun terlalu sulit baginya jika ia menghadapinya. Dalam kehidupan, hanya memiliki dua pilihan yang tak pernah urung lepas dari setiap hal aktifitas. Ya atau tidak?

Hanya pilihan sesederhana itu dan semudah itu. Sesungguhnya. Tetapi, akan menjadi sulit jika dilengkapi dengan sebuah alasan yang berlawanan untuk dilakukan, membuatnya sedikit ragu untuk memilih salah satu dari pilihan itu.

Aku juga, adalah seorang wanita yang kapan saja bisa rapuh dan hancur saat menghadapi suatu masalah yang sesungguhnya mudah namun akan sulit karena salah diri kita sendiri. Karena diri kitalah yang telah mempersulit masalah itu sendiri.

Terlebih adalah… seseorang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Hanya alasan itu, mampu membuat setiap manusia menjadi rapuh dan hancur.

Tidak perlu menjadi seseorang yang munafik untuk mengatakan ‘tidak’. Karena kenapa? Karena sesungguhnya kau tidak perlu berpura-pura menjadi kuat untuk hal itu. Jika kau ingin menangis, menangislah. Teriak, berteriaklah sekencang dan sekuat mungkin. Memaki, makilah hingga kau merasa puas. Tetapi, jangan hancur. Jika kau hancur, kau hanya akan merugikan dirimu sendiri pada akhirnya. Karena di depan sana, masih akan ada banyak cinta yang disematkan untukmu.

Karena Tuhan tidak akan pernah tinggal diam saat melihat hamba-hambanya terluka. Ia pasti bertindak. Entah dengan apa? Ia pasti selalu memberikanmu yang terbaik. Entah kau sadar ataupun tidak sadar, Ia selalu memberikan yang terbaik untukmu.

Tidakkah kau pernah menyadari? Betapa Ia mencintaimu, dibandingkan kau yang mencintai-Nya?

Jika kau telah menangis, setelahnya, jangan lupa untuk tetap menjaga senyum-mu dengan baik. Karena sedikit demi sedikit, tanpa sadar itu adalah obat yang paling mujarab yang pernah kau temui, luka itu akan sembuh. Secara perlahan-lahan.

Walau perlahan-lahan, itu adalah suatu anugrah. Jalani saja dulu yang ada. Karena yang ada itu adalah kado terindah yang Tuhan berikan untukmu. Tidak peduli Tuhan memberikanmu kado yang buruk atau baik? Karena pada akhirnya, semua itu akan berakhir dengan sebuah cerita manis yang tak akan pernah kau lupakan sepanjang hidupmu.

Jangan menangislah lagi karena kesedihan, tetapi tersenyumlah karena apa yang kau miliki selama ini.

Jangan pernah menyalahkan Tuhan-mu sedikitpun. Karena ia sedang mempersiapkan kado terindah untukmu.

Maka, teruslah tersenyum dan tertawa.

Aku menyelingkap selimut tebalku.  Tersenyum menyambut hari yang telah berganti. Walau sakit, walau perih, dan walaupun pilu, tetaplah tersenyum. Karena sesungguhnya, orang yang kau cintai itu tanpa sadar selalu ada untukmu.

Ia mencintaimu. Selalu ada untukmu walau tak pernah terlihat. Tetapi, hatinya akan selalu tinggal dihatimu.

Jangan lupakan itu. Percaya saja dengan rasa cintamu.

Aku masuk ke dalam kamar mandi.

Harus menjalani beberapa aktivitaskan? Jadi, bersemangatlah untuk melakukannya. Entah kau senang atau tidak? Tersenyumlah dengan baik saat melakukannya. Dengan begitu, semuanya akan jauh terasa lebih ringan.

***

Aku melangkahkan kakiku. Walau tidak begitu bersemangat, aku harus tetap memiliki semangat untuk menjalani hidup ini.

Hanya lima langkah saja, jarak memisahkan kita. Aku menatapnya dengan nanar. Jika boleh, aku ingin berlari menghambur ke dalam pelukanmu dan menangis. Menangis dengan kencang dan keras. Lalu, memintamu untuk berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Walau kau tak pernah menyadari keberadaanku sedikitpun.

Tapi, itu mustahil. Karena sekarang ini, aku sudah harus tersenyum dengan baik saat melihatmu. Walau dengannya. Aku sudah harus tersenyumkan?

Walau seperih apapun itu.

“ KyuHyun-ah!” panggil seseorang. Aku tahu dengan baik siapa pemilik suara itu? Kekasihmu. Kekasih yang kau cintai. Bulir lembut jatuh begitu saja disalah satu pipiku. Aku membalikkan tubuhku, pergi menjauh darimu, dan memilih jalan lain untuk pergi menuju kelasku sendiri.

Pilihan yang salah. Aku tahu itu. Aku tahu dengan baik itu.

Tetapi, maaf. Maafkan aku. Aku masih belum bisa melihatmu pergi dengannya. Maaf, maafkan aku. Aku menyembunyikan wajahku dibalik balutan syal tebal yang sanggup menutupi wajahku hingga setengah tinggi kepalaku.

Aku masih bersyukur kepada Tuhan karena kebaikan-Nya-lah, mereka tidak terlalu memedulikanku.

Aku ingin sendiri. Hanya sendiri, untuk saat ini.

***

“ Apa kau baik-baik saja?” tanya Tiffany khawatir padaku. Aku menatapnya sembari menyunggikan sebuah senyum kecil diwajahku.

“ Tidak tahu. Tapi, ku harap kau jangan khawatir!” ucapku berusaha menenangkan hati sahabat terbaikku, Tiffany Hwang. Kami sudah menjalin hubungan selama 3 tahun lebih sebagai sahabat karib.

“ Yuri-ya, apakah kau benar-benar mencintai sunbae menyebalkan itu?” tanyanya, merasa ikut sedih atas kesedihanku ini.

Aku menghela napas dalam lalu menatapnya. “ Ya, tetapi aku sudah harus melupakannya. Ia sudah memiliki seseorang disampingnya saat ini.” Ucapku, dengan nada setenang dan seceria mungkin. Walau masih ada nada getar dalam suaraku.

“ Yuri-ya…” panggilnya lirih. Aku tahu ia juga pasti merasa sedih atas kabar buruk atau mungkin kabar baik ini? Bahwa sunbae itu, telah memiliki seorang kekasih.

Aku menahan napas dan menutup ke dua mataku dengan dalam, menahan semua rasa yang berkecamuk di dadaku.

“ Kau tidak boleh lemah seperti ini…” sarannya lembut sembari menyentuh bahuku dengan pelan. Hangat. Ia memberikanku kehangatan yang ia miliki sebagai teman.

Aku diam, menikmati kehangatan yang diberikan Tiffany padaku. Setidaknya, aku saat ini membutuhkan kehangatan. Terima kasih, temanku, Tiffany.

“ Bangunlah, dan cerialah kembali! Kau tidak boleh terlarut dalam kesedihanmu!” ucapnya antusias.

Aku membuka ke dua mataku lalu menatapnya lembut. “ Aku tahu, terima kasih.” Ucapku pelan.

Tiffany hanya tersenyum lembut padaku, menepuk-nepuk bahuku sebelum ia berdiri meninggalkanku sendirian dipojok sudut koridor kelas. Aku hanya menganggukkan kepala kecil.

Tiffany lalu bangkit berdiri dan meninggalkanku sendiri. Ia tahu aku butuh waktu untuk menyindiri, merenungkan sesuatu untuk menyemangati diri sendiri.

***

Sudah berapa lama waktu berlalu begitu saja? Hanya diam sambil menatap awan putih yang bersih tanpa noda sedikitpun. Putih dan bersih. Tanpa ada cacat atau noda sedikitpun. Bisakah jalan takdirku seperti itu?

Mereka berdua pergi. Pergi meninggalkanku secara perlahan-lahan, membuatku kebingungan setengah mati karena kehilangan bayang-bayang mereka.

Mereka pergi… ia dan dia. Sama-sama laki-laki yang aku cintai. Sama-sama laki-laki yang mampu membuatku tersenyum dengan sangat baik dan tertawa lepas tanpa beban. Tetapi, mereka juga selalu bisa membuatku rapuh dan hancur setiap waktu.

Siwon… KyuHyun… Mungkin saat ini mereka telah bahagia dengan seseorang yang mereka cintai melebihi apapun yang ada didunia ini?

Ketika aku membuka mata, aku hanya memiliki satu permintaan disetiap awal hariku.

Semoga kau bahagia.

 

Hanya itu, hanya sesederhana itu. Lalu, setelah itu aku akan pergi. Pergi meninggalkanmu. Atau mungkin kalian?

“ Yuri-ya…” panggil Lee DongHae, salah satu sahabat laki-laki-ku. Aku menoleh ke arahnya. Ia sedang berdiri tak jauh dariku sembari memperhatikanku dengan raut wajah khawatir. Aku tersenyum padanya sebagai jawaban untuk mengusir semua kekhawatiran dan kegelisahannya. “ Apa kau baik-baik saja?” lanjutnya sembari berjalan menghampiriku.

“ DongHae-ya!” panggilku berpura-pura ceria di depannya. Aku tidak ingin membuat orang-orang disekelilingku ikut merasakan kesedihanku lebih dari ini. Jadi, tidakkah aku harus bersemangat lagi? Aku harus hidup kembali lagi! Harus!

“ Apa kau baik-baik saja?” ulangnya sekali lagi saat ia telah berdiri disampingku lalu menatap langit biru yang tinggi. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.

Sesungguhnya, aku bingung harus menjawab apa? Pertanyaannya ini hampir sama dengan pertanyaannya Tiffany tadi. Aku tidak mungkin menjawab ya, karena itu adalah sebuah kebohongan yang tak berarti. Jika aku jawab tidak, maka itu juga adalah sebuah kebohongan belaka. Karena kenyataannya sekarang adalah aku masih baik-baik saja, walau tidak begitu baik seutuhnya.

“ Yuri?” panggil DongHae lembut. Aku menoleh menatapnya. “ Apa pertanyaanku sulit sekali untuk dijawab? Hingga kau tidak bisa menjawabnya? Bukankah jawabannya sangat mudah? Ya atau tidak?” tanyanya, sembari menatapku dengan dalam.

Aku menghela napas dalam. “ Err… Aku tidak tahu. Mungkin. Mungkin aku baik-baik saja.” ucapku sedikit bingung sendiri.

“ Ya, apa yang terjadi padamu? Apakah karena laki-laki itu?” tanyanya lirih. Ia menatapku dengan raut wajah sedih, membuatku merasa tak enak hati padanya.

Lee DongHae temanku yang baik hati, terima kasih. Karena telah mencemaskanku. Terima kasih. Maaf, maafkan aku telah membuatmu cemas dan sedih. Maaf. Tapi, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan bangun lagi setelah kesedihan ini hilang! Aku pasti kembali seperti dulu lagi. Aku berjanji.

Aku menatap DongHae dengan dalam sambil bengong. Sedangkan ia melambaikan tangannya di depan wajahku. “ Yuri?” panggilnya beberapa kali, membuatku tersadar dari lamuananku.

“ Err.. ya?” sahutku dengan bingung.

“ Ceritalah padaku. Aku akan menjadi tempatmu bersandar.” Tawarnya dengan tulus sembari menepuk-nepuk bahunya. Aku tertawa kecil melihatnya.

“ Terima kasih, DongHae-ya! Kau dan Tiffany, pasti akan menjadi tempatku untuk bersandar.” Ucapku dengan berpura-pura semangat.

Terlihat sekali ia sedikit kecewa dari raut wajahnya bahwa aku menolak tawarannya yang tulus itu. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu. Maafkan aku DongHae-ya, tapi aku tidak ingin menjadi beban dalam hidupmu. Aku ingin berjalan sendiri. Jadi, suatu saat nanti aku tidak akan begitu rapuh dan hancur lagi.

Tawaku terhenti karena bayang-bayang mereka memenuhi diriku kembali. Entah mengapa setiap kali aku tertawa, bayang-bayang mereka selalu ada dalam benakku. Membuatku selalu merasakan sedih kembali. Rasa sakit itu kembali menggerogoti hatiku.

“ Ada apa denganmu?” tanyanya dengan khawtir dan cemas. Ia menyentuh bahuku dengan lembut. “ Yuri-ya?” panggilnya lirih, seakan-akan ia tahu dengan baik apa yang aku rasakan saat ini. Sakit dan pilu.

DongHae-ya, mereka pergi… meninggalkanku yang masih berdiri sendiri disini. Mereka pergi… meninggalkanku… Pergi… tanpa memedulikanku lagi…

Bulir-bulir lembut turun mengalir begitu saja dipipiku, membuat mata dan pipiku menjadi basah tanpa bisa aku cegah lagi. Mereka tumpah dan mengalir… bersama rasa sakit dan pilu atas kepergian mereka.

Untuk beberapa saat, DongHae diam melihatku dengan dalam. Kemudian ia memelukku dengan erat.

***

Terkadang, aku pernah berpikir tentang satu hal. Kenapa aku harus jatuh cinta padamu?

Hanya pikiran sesederhana itu dan sekecil itu, mampu menarik semua perhatianku. Bahkan lebih menarik dari semua pelajaran yang diajarkan oleh guru-guruku.

Kenapa harus kau, yang aku cintai?

Pertanyaan sederhana itupun juga bisa menyita semua waktu yang ku punya dibandingkan dari tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guruku.

Hanya sesederhana itu saja padahal… Tapi mampu menyita segala yang aku punya.

Aku kembali memfokuskan pikiranku pada papan tulis putih yang telah berisikan banyak rumus-rumus Fisika yang baru saja diberikan oleh guru Fisika-ku.

Aku melirik Tiffany dengan sedikit takut dan cemas. Apakah ia marah padaku? Apa ia melihat DongHae memelukku tadi? Apa ia salah paham tentang hubunganku dan DongHae? Apakah ia ada ditempat kejadian itu tadi? Aduh, bagaimana ini? Bagaimana jika semua pertanyaanku ini hanya jawab dengan satu kata? Hanya dengan kata ‘ya’ saja?

Tiffany hanya diam sembari berkonsentrasi pada apa yang ia tulis. Apakah tidak mengganggu jika aku bertanya seperti itu padanya? Sepertinya akan mengganggunya? Ia terkadang sangat sensitive sekali dengan hal-hal yang berbau dengan ‘Lee DongHae’. Jadi, sepertinya lebih baik nanti saja aku tanyakan padanya.

Aku kembali memfokuskan pikiranku pada binder milikku dan mulai menuliskan rumus-rumus Fisika. Pagi-pagi sudah diberi sarapan yang tidak enak. Hehh…

***

Ini sudah beberapa kalinya aku mengketuk-ketuk meja milikku sembari sesekali melirik ke arah Tiffany yang duduk disampingku. Bimbang. Apakah aku harus mempertanyakan hal itu padanya?

Atau tidak perlu sama sekali?

Aish! Aku harus bagaimana? Tanyaku pada diriku sendiri sembari mengacak-acak rambutku sendiri dengan sedikit kesal.

“ Katakan jika kau ingin mengatakan sesuatu. Jangan bertingkah seperti orang yang tidak waras seperti itu.” Ucapnya terdengar sedikit dingin dan cuek ditelingaku sembari tetap focus pada buku Kimia yang memiliki ketebalan yang cukup. Tapi, abaikanlah, yang terpenting adalah apakah ia marah padaku?

“ Err… Fany-ah, apakah kau marah padaku?” tanyaku sedikit takut dan gugup. Ada nada getar dalam suaraku.

Ia melirkku sekilas dengan cuek lalu menatap kembali pada buku Kimia yang menurutnya lebih menarik dibandingkan denganku. “ Tidak.” Jawabnya datar dan cuek.

“ Lalu, kenapa kau bersikap seperti ini?” tanyaku dengan kening yang berkerut sembari menatapnya dengan selidikan yang memautkan seseorang (?).

“ Tidak apa-apa, aku hanya sedang ingin belajar saja. Jangan menatapku seperti itu! Membuatku terganggu saja.” ucapnya dengan cuek dan datar dengan posisi yang masih sama.

“ Sungguh?” tanyaku lagi untuk memastikan. Ia lalu mengangguk pelan dengan cuek lalu menuliskan sesuatu dalam binder file miliknya. Sedangkan aku bergidik ngeri melihatnya seperti itu. Apa menariknya rumus-rumus Kimia itu? Aish! Persetan dengan rumus-rumus menyebalkan seperti itu!

Selanjutnya, aku memilih untuk diam dan mendengarkan music lewat ponsel milikku. Aku memasanng earphone ditelingaku lalu menyalakan lagu F(x) – Is It Okay.

 

***

Ku kira hanya membiarkan semuanya berlalu begitu saja, aku bisa melupakannya tanpa harus mengingat-ingatnya dengan baik. Tetapi, aku salah. Aku justru malah membiarkan diriku semakin terjatuh terlalu dalam tanpa aku ketahui.

Aku masih bisa ingat dengan jelas bahwa aku dapat tersenyum dengan sangat baik saat aku masih jatuh cinta dengan salah satu seorang sunbae laki-laki-ku, Choi Siwon. Seorang laki-laki tampan dan beribawa. Senyumannya bisa membuat semua wanita jatuh takhluk padanya dalam hitungan detik.

Begitupun denganku. Aku bisa dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukannya hanya dalam hitungan detik saja. Padahal, aku masih dapat mengingat dengan baik bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya sekalipun ia bertekuk lutut dihadapanku dan meminta hatiku. Tidak akan pernah. Tetapi, karena dengan sombongnya aku mengatakan itu, terpaksa aku menelan kembali ludah yang sudah keluar. Menjijikan? Sangat!

Aku menikmatinya. Aku menikmati setiap detiknya saat-saat aku jatuh cinta padanya. Senyumku tak pernah sirna dari wajahku, apapun yang terjadi aku selalu tersenyum. Hingga aku menyadari satu hal, bahwa aku mencintainya. Dan saat itu jugalah, aku kehilangan dirinya. Mungkin untuk selamanya? Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, perih dan pilu saat mengetahui bahwa ia sudah memiliki kekasih, namanya Choi SooYoung. Ia bersekolah ditempat lain.

Atas hubungan mereka aku terpuruk dalam kesedihan dengan cukup lama. Tapi, setelah 3 bulan lebih mereka berpacaran, dengan sendirinya aku mulai menerima hubungan mereka. Hingga saat ini aku merima hubungan mereka. Walau sering kali aku ingin kembali padanya, ingin jatuh dalam pelukannya. Tapi, sayangnya, hati kecilku selalu menolaknya. Entah mengapa? Tetapi, hati kecilku jugalah yang kerap sekali untuk tetap mencintainya. Hingga tanpa sadar aku menutup hati dan mataku untuk orang lain.

Cho KyuHyun, salah satu sahabat Siwon yang dekat sekali dengannya. Ia-lah yang tanpa aku sadari lebih sering memperhatikan gerak-gerikku. Memperhatikanku dari jarak yang cukup aman yang tak mungkin aku gapai.

Tapi, bukan dirinya, pemilik senyum baikku, bukan. Bukan. Tapi, Choi Siwon-lah yang memiliki senyumku. Dia. Hanya dia, pemilik senyumku.

Pernahkah suatu hari kau merasakan takut? Takut suatu saat nanti kau tidak bisa tersenyum dengan baik? Takut kehilangan senyum-mu itu? Dan takut kehilangan sang pemilik senyum-mu itu? Aku pernah. Aku pernah mengalaminya.

Hidup seperti itu, sama seperti hidup tanpa matahari.

Pernahkah kau merasakan kehilangan tetapi kau tidak pernah tau kau kehilangan apa? Pernahkah kau bertanya pada langit seperti ini, dimana matahari-ku? Pernahkan kau merasakan sakit yang luar biasa saat kau orang terakhir yang mengetahui sesuatu terjadi dibalik layar?

Tapi, sudahlah, jangan hiraukan hal-hal itu lagi. Mari, mulai saat ini kita melangkah maju ke depan tanpa harus menoleh ke belakang lagi.

KyuHyun-ah, dalam setiap mimpimu apakah kau pernah memimpikan aku? Aku pernah kali pertama memimpikanmu atau… entah berapa kali aku telah memimpikanmu tanpa sadar. Ku kira mimpi itu tidak berarti, ternyata aku terbukti salah. Mimpi itu ternyata sangat berarti.

Dalam mimpiku, kau selalu berdiri memperhatikanku dari jarak yang aman. Memperhatikan setiap gerak-gerikku.

KyuHyun-ah, bolehkah aku mengenang semua yang telah kau lakukan untukku selama ini? Selama waktu yang tak pernah aku sadari bahwa kaulah yang selalu berdiri disampingku, bukan Siwon yang berdiri disampingku. Tetapi, kau. Kau lah yang berdiri menungguku dengan sabar dan selalu tersenyum lembut padaku.

Walau saat ini kau telah pergi meninggalkanku. Maka, akulah yang akan berlari mengejarmu untuk mencegah kau pergi dari sisiku.

KyuHyun-ah, ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu.

Apakah kau bahagia?

 

Jawab aku. Lalu, setelah itu aku akan pergi meninggalkanmu. Atau mungkin… aku akan tetap tinggal disisimu.

Walau aku terlambat untuk menyadarinya, tetapi aku berharap aku tidak akan terlalu terlambat untuk mengatakannya.

Aku mencintaimu, Cho KyuHyun.

 

========================= END ========================

Comment(s) like is Oxygen for me😀

Seharusnya sih, Never Mind dulu baru ini -___- tapi malah feel yang keluar ini dulu wkwkwk😀

So, please, tell me how about you think?

Thank you for support😀

I love you all😀 wkwkwk😀😀😀

Note : Poster Yuri Pov jelek mah, jangan ditanya dan dikomen . Wajar nggak bisa bikin art yang bagus ._.v wkwkkwk😀

36 thoughts on “DESTINY [ Part 2 ] – In Your Dream

  1. Akhirnya Unni post FF juga..

    Kasian banget Yuri oenni harus kehilangan Siwon. Gimana sama Kyuhyun? Yuri oenni udah suka sama Kyuhyun.
    Jangan pisahin mereka ya Unn, kan kasian Yuri nya.. Hehehe..

    Fighting Unn! Next ya..
    Ff yang lain juga jangan lupa di Next ya Unn, aku masih nunggu lho..^^

    1. Err??? Iya apa? Hayoo kamu udah baca part sebelumnya belum?😀
      Oke sip, soalnya part sebelumnya nyambung hahahahhaha😀

      oke makasih banyak ya Bella ^^😀

  2. bagus eon kata katanya, tapi dialognya jadi agak kurang *eh? Hehe. KyuRi KyuRi ! Aku mau KyuRi xD #pletak

  3. Kata”nya dalem banget eon , aku jd mau nangis😥 #peluk yeppa ..
    Emang yg never mind itu povnya siapa ?
    Lanjut ya eonni , aku tunggu ff barunya

  4. Sebenernya Yuri ma sapa th???
    KyuRi ajj ya#hehehe
    Kata2 nya dalem n menyentuh
    Daebak eon,fighting

  5. Annyeong!!!Riku comeback jadi reader!
    udah lama ga komen d FF mu v__v
    Tapi selama ini riku suka baca FF mu lewat HP, Mian ya akhir2 ini ry jadi Sider V__V *Plaakkk
    Bukan maksud begitu loh, tpi kalo komen d Hp itu susahnya minta ampun..
    kalo d kompi?uhhh beberapa minggu ini kompi ry suka eror mulu #Ngeles (Tapi beneran kok alasananya V)

    FF mu semakin bagus
    apa lgi yg ni, meskipun awal2 nya ga ngerti tp akhirnya ngerti juga *Lemot Mode On
    Yuri awalnya suka siwon tapi akhirnya suka m Kyu tapi ga ada satu pun yg Yuri dapatkan?hm…penasaran deh m series selanjutnya dari Destiny ini,,,,
    eh eh yang TFFB kok ga lanjuttt sh ???d tunggu bgt tau

  6. Kata2 bagus bgt, aku suka. Tpi aku jg stju sm yg diktain kwonkyuri “dialognya kurang”. Part ke-3nya kira2 siapa ya? Penasaran. Eh iya…Kyu ini akhinya sama yuri kan? Soalnya dari critanya menurut aku begitu (He…He…He…Sok tahu aku)

  7. sdih nya..jd pengen nangis T.T . yuri tenyata jga suka kyu yee..brrti ending nya hrus kyuri..ya^^hehe..

  8. akhirnya post jga.. hehe..
    kereeen…

    kok ga ada kyuri moment nya sih.. pengen kyuri.. hehe..

    next part nya ditnggu ya.. sama ff yg lain jga. hehe..

  9. Annyeong ,,
    Mungkin part ini kebanyakan curahan hati yuri kali yaa !!
    Slnyaa kloo percakapan kurang !!
    Tapi bagus kok, kata”nya dimengerti semua ,,
    Btw yg jdian smaa kyu pastii si victoria yaa (¬_¬”)!!!
    Lanjutin donk FF yg lain , msih gantung nie bacanya , the fourth flower, I wanna say I love u ,🙂
    Hwaiting yaa buat author !!

  10. hikzhikz….
    sedih bnget….
    hrus kyuri!!!!pkok.a kyuri!!!!!!#plaakk
    eonnie,,,klanjtan TFFB mna eonn????
    koq lma bnget????
    pnasran nich…
    hehehe^^

  11. kyuu, kasian tuh yuri eonnie, cuma bisa nyimpen kesedihannya sendiri.
    😦

    eonn, kyu jadiin sama yuri dongg jebal

    oh ya, ditunggu kelanjutan FF yg sekuelnya sleeping beauty (mermaid princess ya kalo ga salah) loo, aku suka ceritanya🙂

    Buat chingudeul sama yura onnie, aku juga ada buat FF tapi ga tau bagus ato nggak. Kkk~

    Di sini nihh –> http://www.sparkyudreamland.blogspot.com

    Commentnya ya🙂 gomawoyo *bow*

  12. bagus banget ceritanya cingu,, apalagi klo endingnya kyuri couple bersatu,, uihh pasti bakal lebih romantis,,, yg TFFB dilanjutin donk,, udah penasaran nih,, hehehe,, tapi salut deh buat author,, ffnya keren2…..

  13. ya ampun onn,kata katanyaaa u,u
    Bagus bener dah!
    Oon.. Yuri nya jngan di buat sedih terus dong wkwk. Aku jadi kebawa sedih gara2 baca tntg yuri nya. Wkwk semua ff eonni yg ku baca,yuri nya dapat peran(?) sedih terus.. Hehe
    Onnie *mujuk sambil toel toel eonni* , kapan kapan buat kyuri yg yuri nya tangguh(?) , atau cuek ya hihi
    Tpi tetep kok,ff eonni.. Apalagi yg tntg yurii. Semuanya daebak!😀
    Lanjut yaa yura eonni!!^^

  14. DAEBAK onn!!
    itu yuri suka sm siwon & kyu ya?
    atau skrg cm sm kyu?
    kasian bgt yuri, mesti ditinggalin sm dua org itu.
    ga rela nih onn..
    tp kyu baik deh,caranya beda buat yuri hehehe. dia jaganya dri jauh tp selalau ada

    lanjut ya onn!! nunggu pt siwon atau kyu

  15. Lanjut
    Lanjut
    Lanjut
    Lanjut

    Ak berharap KYURI
    Because me is KYURI shipper
    Hehehehe
    Athor DAEBAK dechhh *ngegombal

    Cepetan ya min lanjutnya #puppy eyes

  16. Jdi c yuri tu suka siwon sm kyu ya…
    Py skrg dia sukanya sm kyu..
    Ak jdi agak mngerti, cinta segi apa ya… Hmm segienam. Rumit. Huahahha.
    D tnggu next part.a. Trutama part kyu.😀

  17. eonni, knp kyuhyun jadian’a sm victoria? kan cocokan sm yuleonn, ah eonni mah bgitu.. apa isi hati’a si kyuhyun? apakah dia jg suka yuleonn atau victoria?
    ada sequel gk eonn?

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s