RUN [ Part 1 ]


Author : Kwon Yura

Main Cast : Cho KyuHyun

Kwon Yuri

Seo JoHyun

Choi Siwon

Ok Taecyeon

Support : SNSD, Super Junior, 2PM members

PG : +17 and BO

Genre : Fluff, Angst and Romance

Art : MinHye Harmonic @ KoreanChingu

Disclaimer : They belong to God, I just have this plot. All of story is my Mine, Own, and Pure for me.

Do Not Try to Copy-Paste / Take Out / Plagiat, please!

I don’t ever permit it.

Respect me as who person you loved.

“Jika kau lelah untuk berlari bersamaku, maka biarkan aku saja yang berlari darimu dan kembali kepelukanmu untuk menemukan atas apa yang ku cari dari dirimu.” –Kwon Yura.

Listening :

MBLAQ – Running and Running

(Ost. The Fegutive Plan B)

All Reserved © Kwon Yura 2012.

Ruang kerja yang dipenuhi oleh bau parfum seorang wanita yang ia cintai tercium oleh siapapun yang datang ke dalam ruang itu. Ia sengaja memasukkan bau parfum itu ke dalam ruangannya untuk tetap bisa bernapas dengan baik walau sesak menghampiri dirinya saat ini. Sang pemilik ruang itu menatap tajam seseorang yang saat ini tengah duduk dihadapannya. Laki-laki itu menatap balik dirinya dengan senyum mengejek.

Ia tak habis pikir bagaimana cara istrinya itu untuk kabur dari rumah padahal pengawasan dirumahnya begitu ketat sekali hingga sekecil apapun gerak mencurigakan, akan langsung tertangkap kamera tersembunyi dirumahnya. Apalagi ia menyewa beberapa bodyguard bertubuh kekar dan tinggi menjulang untuk menjaga serta mengawasi dirinya dengan baik kemanapun ia pergi kecuali ke kamar pribadi mereka sendiri. Tetapi, kali ini ia bisa lolos begitu saja dari pengawasan dan penjagaannya itu.

“Sudah menemukannya?” ejek laki-laki itu sembari memainkan frame foto yang sengaja ia –sang pemilik ruangan itu- pajang untuk tetap mengingatnya walaupun setiap hembusan napasnya ia selalu mengingat dengan baik seluk-beluk yang ada pada istrinya itu. “Sayang sekali, seharusnya aku lebih cepat darimu.” Lanjut laki-laki itu sembari mengelus kaca frame yang berisikan foto ia dan istrinya itu.

“Kau tahu dimana dia kan?” tanya sang pemilik ruangan itu dengan datar dan dingin. Ia melirik sekilas ke ponselnya dengan dingin, secelah harapan masih terselip dihatinya untuk tetap berharap istrinya akan mengabari dirinya saat ini. Ia tersenyum sinis menatap ponselnya, lalu menatap laki-laki dihadapannya kini.

Laki-laki yang duduk dihadapannya kini mengangkat alis dengan tatapan meremehkan dirinya. Ia sekali-kali mengusap bibirnya dengan jari telunjuknya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan.

“Kalau begitu, beritahu aku sekarang juga.” Titah laki-laki itu dengan dingin dan sedang tak ingin bermain-main.

“Tenanglah, KyuHyun-ah, dia saat ini tengah bersenang-senang. Ia sedang menikmati liburannya denganku tanpa dirimu. Lagipula, ini kesempatan bagus untukku, untuk tetap berada di dekatnya. Siapa suruh kau merebutnya dariku, padahal aku hanya telat menyadari beberapa jam sebelum kau. Cih! Kau kira sampai saat ini perasaanku padanya akan berubah?” Ejek laki-laki itu sembari menyelipkan senyum meremehkan disetiap kata-katanya.

“Kau tahu aku tidak suka bermain-main jika ini menyangkut masalah dia. Hal sekecil apapun itu. Dan satu hal lagi, kubur saja perasaanmu padanya hidup-hidup. Aku tidak akan peduli, karena saat ini ia adalah milikku.” Ucap KyuHyun dengan nada tegas dan tidak suka untuk berbasa-basi dan senyum remeh tersungging diwajahnya saat ia telah menyelesaikan kaliamatnya barusan.

Siwon tertawa puas mendengar ucapan sahabatnya itu dan senyum meremehkan darinya, tentu saja. Itu sudah menjadi makanan empuk bagi Siwon untuk sedikit melihat sahabatnya menjadi kelimpungan dan tidak terarah. “Jangan khawatir, aku akan menjaganya, Cho KyuHyun.”

“Tidak ada yang bisa menjaganya selain aku.” Peringat KyuHyun dengan dingin dan angkuh.

“Kau salah. Aku bisa menjaganya juga, buktinya saat ini kau tidak bisa menemukan istrimu yang saat ini entah dimana.”  Senyum meremehkan kembali tersungging diwajah Siwon.

“Kalau begitu, aku akan segera menemukannya.” Jawab KyuHyun dengan tenang dan datar.

“Kita lihat saja.” ucap Siwon dengan santai dan tidak mengambil pusing tatapan pembunuh dari KyuHyun.

Tahu jika ia berdiam diri saja untuk menghadapi sahabatnya itu akan berbuah sia-sia saja, ia mulai mengeluarkan sifat aslinya.

“Ya! Kau tahu aku tidak bisa tidur dengan baik selama empat hari terakhir ini, huh! Cepat beritahu aku atau aku akan membunuhmu sekarang juga.” Ancamnya dengan datar dan dingin sembari menatap Siwon dengan tatapan pembunuh.

Siwon yang ditatap seperti itu menjadi sedikit bingung dan gelagapan sembari membenarkan posisi duduknya. Ia yakin, siapapun yang ditatap seperti itu oleh KyuHyun akan langsung melarikan diri untuk tetap bisa melanjutkan hidup. “Hm, tidak. Aku tidak bisa memberi tahumu. Aku sudah berjanji pada Yuri untuk tidak mengatakannya padamu. Ia bilang ia merasa lelah dan jengah jika kau terlalu protektif dan posesif padanya. Ia ingin… Well, sedikit kebebasan dari dekapanmu. Jadi, aku hanya ingin membantunya. Tetapi, mungkin kau butuh informasi ini…”

Senyum puas menghiasi wajah KyuHyun yang saat ini ia mulai merasa lega, walau tidak lega seutuhnya. Setidaknya, ia tahu dengan baik keberadaan istrinya saat ini.

***

Aku bergulat malas saat sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden berwarna putih dan sedikit transparan. Aku merutuk sebal mendapat kenyataan bahwa saat ini aku tengah sendirian tanpa sebuah tangan yang melingkari pinggulku seperti biasanya, dengan begitu posesif dan protektif.

Aku bangun dari tempat tidurku sembari  meregangkan otot-ototku yang masih kaku. Aku menatap ponselku yang sengaja ku matikan selama 4 hari terakhir ini. Aku menghela napas berat saat menyadari bahwa aku ini sedang pergi berlari menjauh darinya.

Aku berjalan menuju ke kamar mandi dengan langkah kaki yang berat sembari menggulung rambutku hingga ke atas agar tidak basah. Aku melepas pakaianku dengan sedikit malas , menyalakan shower, menarik pelan gorden berwarna putih untuk menutupi tubuhku dan mulai membasahinya. Aku memilih air hangat untuk menemaniku membersihkan diri hingga selesai nanti, aku tidak begitu suka dengan air dingin atau panas karena membuatku merasakan sensasi-sensasi menyebalkan saat setelah aku selesai mandi. Aku mengernyitkan keningku saat sebuah suara pintu terbuka terdengar oleh telingaku.

Aku yakin sekali, semalam aku mengunci pintu dan sampai saat ini aku tidak membukanya. Lagipula, aku tidak mengijinkan siapapun masuk ke kamar termasuk pelayan hotel ini sekalipun. Apakah itu hanya halusinasiku saja? Aku menggeleng pelan untuk menyingkirkan ilusi aneh yang hampir saja menyergap diriku. Aku memusatkan kembali pikiranku pada shower yang saat ini tengah aku pegang.

Sesuatu memelukku dengan erat, mencium leherku dengan lembut, dan menjalajahi tubuhku dengan tangannya. Aku mengenal pelukan, ciuman, dan sentuhan ini. Untuk beberapa saat, aku lupa caranya untuk tetap bernapas dengan normal, dan sistem sarafku bekerja lambat untuk benar-benar mencerna apa yang ingin ku katakan.

“Apakah liburanmu sangat menyenangkan?” tanyanya dengan sedikit mengejek dan juga terdengar menyebalkan ditelingaku.

“KyuHyun, lepaskan! Apa yang kau lakukan? Tsk! Aish! Cepat lepaskan!” pintaku padanya dengan kesal dan susah payah. KyuHyun semakin menjadi saat mendengar desahanku yang tak sengaja keluar dari mulutku.

“Tidakkah kau juga merindukanku?” tanyanya dengan mengejek menyebalkan.

“Ten-tentu saja tidak. Sudahlah, jangan lakukan ini padaku.” Bohongku sembari memohon padanya dan mendorong-dorong tubuhnya agar menjauh dariku. Tetapi, sepertinya ia tidak mendengarkanku dan malah menjadi-jadi. “Hentikan, atau aku akan lari lagi darimu.” Ancamku kesal padanya.

“Kalau begitu, aku akan menemukanmu lagi.” Balasnya dengan santai.

“K-kau, bagaimana bisa tahu aku berada disini?” tanyaku padanya dengan sedatar mungkin agar tidak terhanyut oleh perlakuannya padaku.

“Menemukanmu bukanlah suatu hal yang sulit, Cho Yuri. Kau tahu resort dan investasi-ku berada dimana-mana. Dan, kau memilih pulau yang salah sebagai tempat pelarianmu.” Ucapnya sembari mengecup keningku dengan lembut. terbesit dibenakku bayangan Siwon yang memberitahu KyuHyun tentang keberadaanku terlihat jelas dibenakku. Benar, tentu saja dia. Memang siapa lagi jika bukan ia sendiri atau KyuHyun yang mengancamnya untuk memberitahu keberadaanku?

“Hentikan, aku lapar.” Ucapku untuk menghindarinya. Aku merindukannya, sangat. Tetapi, tidak berniat melakukan hal itu saat ini.

Ia mengernyitkan keningnya dengan tidak suka. “Kau ini kenapa masih malu padaku? Kita ini adalah suami-istri, dan kita sudah sering melakukannya, bukan? Jadi kenapa kau tetap menghindariku?” tanyanya beruntun sembari menatapku dengan tidak suka.

“Sudahlah, pergi sana. Aku ingin mandi lalu berjalan-jalan sebentar. Jika kau ingin mandi, nanti saja, tunggu hingga aku selesai mandi baru setelah itu giliranmu datang.”

KyuHyun menatapku dengan kesal sembari melepaskan dekapannya dengan berat hati. Ia mencium keningku dengan lembut sebelum ia benar-benar melepaskan dekapannya. Aku hanya berdiam diri, menahan desir-desir aneh yang mengganggu hatiku.

“Maaf.” Sesalku padanya.

Ia lalu keluar begitu saja dari kamar mandi dengan handuk putih yang masih bertengger dipinggulnya. Aku tertawa pelan saat melihat tingkah lakunya itu yang sangat seperti anak kecil saat sedang marah karena tak diberi permen oleh ibunya.

Dasar KyuHyun.

***

Sudah 30 menit berlalu begitu saja saat aku keluar dari kamar mandi, melihat ia berbaring bermalas-malasan membelangkangi diriku yang saat ini tengah duduk disofa sembari menonton televise. Aku bernapas berat saat melihatnya seperti itu. Ia benar-benar marah sepertinya padaku.

Well, aku tahu persis masalahnya. Pertama, selama 4 hari aku pergi darinya tanpa memberi kabar sama sekali padanya atau siapapun, kecuali Siwon tentang keberadaanku yang hilang begitu saja dari dekapannya. Tentu saja Siwon telah membantuku dan ia selalu datang menjengukku atau meneleponku untuk sekadar menanyakan kabar atau memastikan bahwa aku ini tetap baik-baik saja.

Aku mengabaikan suara televise dan mulai beranjak dari sofa menuju tempat tidur. Aku naik ke tempat tidur lalu menyentuh bahunya dengan ragu. “KyuHyun-ah?” panggilku pelan sembari mengguncang-guncangkan bahunya dengan pelan. Tidak ada respon darinya, yang ada hanya sebuah suara dengkuran kecil yang aku rasa keluar dari mulutnya.

Apakah ia tengah tertidur?

“KyuHyun-ah?” panggilku sekali lagi. tetapi, hasilnya tetap sama dan aku menyerah untuk memanggilnya kembali. Membiarkan ia tertidur karena aku tahu dengan baik bahwa ia tidak akan bisa tidur pulas saat aku tidak berada dalam dekapannya.

Aku turun dri tempat tidur, mematikan televise, menggenggam ponsel milikku, lalu keluar dari kamar hotel yang aku tempati.

***

“Uh, aku mengerti, Siwon-ah. jangan khawatir, walau sesungguhnya aku sangat kecewa padamu. Tetapi, aku sangat bahagia karena kau telah mempertemukan kami kembali.” Ucapku menenangkan seorang laki-laki disebrang telepon sana. Mana mungkin aku memarahi laki-laki yang membantuku melarikan diri darinya selama 4 hari terakhir ini? Setidaknya, ia sudah cukup berhasil untuk itu.

“Apa itu? Aku tidak menyukai kata-katamu itu. ‘Tetapi, aku sangat bahagia karena kau telah mempertemukan kami kembali.’ Kau ingin aku merebutmu darinya ya?” ucapnya pura-pura tak suka.

Aku tertawa pelan mendengar ucapannya barusan. “Maaf, tetapi aku sungguh-sungguh berterima kasih.”

“Yuri-ya, kau sungguh-sungguh tidak ingin kembali ke sisiku? Aku tidak akan menawarkannya untuk kesekian kalinya, kau tau? Aku ini bukanlah tipe seseorang yang memelas dan memohon pada seseorang. Kau sungguh-sungguh tidak bisa dan ingin kembali padaku?” rayunya dengan nada memohon dengan sangat.

Aku tertawa pelan mendengar ucapannya barusan. “Kau ini bicara apa? Aku-“ ucapanku terpotong karena sebuah tangan mengambil alih teleponku dengan sedikit kasar.

“Mati saja kau ke nereka!” maki seseorang dengan kesal sebelum memutuskan sambungan telepon. Aku menatapnya dengan takut-takut, sedangkan ia menatapku dengan tatapan ingin membunuh.

“Sampai kapan kau akan mempermainkan hatiku, huh?” tanyanya dengan kesal dan dingin. Aku menggigit bibir bawahku saat ia mulai menatapku tajam, ia berjalan mendekatiku secara perlahan-lahan. Aku berjalan mundur dengan takut-takut, hingga terpojok disebuah pohon pantai besar. Ia mengunciku dengan ke dua tangan yang ia letakkan disisiku. “Kau. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau mulai padaku. Sampai akhir. Dan aku tidak akan melepaskanmu atau membiarkanmu lari lagi dari dekapanku. Mengerti?” ucapnya sedikit lirih dan terdengar lelah menghadapiku.

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban iya atas apa yang ia pertanyakan.

“Satu lagi.” ucapnya sembari menatapku tajam. Aku menatapnya dengan kening berkerut. “Bisakah kau tidak pergi begitu saja dan meninggalkanku dengan mudah? Membuatku terkena serangan jantung tingkat rendah tiba-tiba, huh?” omelnya. Aku hanya tersenyum manis sebagai penyesalan terhadap apa yang ku perbuat.

“Siapa suruh kau terlalu protektif padaku, mengambil alih semua hakku, dan melarangku untuk berhubungan dengan siapapun. Kau tahu? Ada kalanya aku merasa lelah dan jengah saat kau melarangku untuk berhubungan dengan teman-temanku. Bahkah, Tiffany saja kau tidak mengijinkanku untuk menemuinya. Apakah aku harus berdiam diri dirumah tanpa melakukan apapun, menunggumu pulang dari kantor, melihatmu pergi dari kantor, lalu pulang dari kantor lagi. Aku tidak masalah dengan perlakuanmu yang seperti itu, tetapi aku selalu merasa kesepian tanpa seorang teman disampingku. Dan saat-saat seperti itu aku membutuhkan Tiffany, sahabatku.” ucapku, mencoba bersikap tenang walau hatiku bergemuruh emosi yang tertahan atas perlakuannya.

Ia memincingkan kedua matanya. “Kau, kau pergi meninggalkanku hanya karena masalah sekecil itu?” tanyanya tak percaya.

Aku menatapnya kesal karena merasa sedikit diremehkan. “Kecil? Kau kira jika itu terus dibiarkan akan berakibat baik terhadap hubungan kita? Ya, KyuHyun-ah, bisakah kau tetap seperti dulu lagi? Tidak melarangku melakukan apapun yang ku suka. Membiarkan aku bebas berbicara dan bertemu dengan siapapun, membiarkanku pergi sesuka hatiku, dan terakhir, apakah kau bisa memberiku kepercayaan? Aku butuh kebebasan.

Aku bukanlah sebuah bonekamu yang tidak memiliki hati dan perasaan. Apa salahnya sih jika kau memberiku sedikit kebebasan, huh? Bertemu dengan teman-temanku setidaknya kau ijinkan, bukannya kau larang. Kau kira aku ini burung yang tidak akan bosan hidup di dalam sangkar, heh? Bahkan burungpun bisa kabur dari sangkarnya jika ia benar-benar lelah dan bosan.” Ucapku dengan kesal mencurahkan perasaan yang tertahan dihatiku.

Ia menatapku dengan tidak percaya pada apa yang baru saja aku katakan, aku menghela napas pendek. Aku tahu, ini akan menjadi suatu perdebatan panjang antara kami jika salah satu diantara kami berdua tidak ada yang ingin mengalah.

“Sudahlah, lupakan saja.” Ucapku tanpa bertenaga sembari mendorong pelan tubuh KyuHyun agar bisa sedikit memberiku jalan untuk menjauh darinya. Aku menggigit bibir bawahku, sedikit menyesali apa yang baru saja ku ucapkan.

Tetapi, itu benar. Aku benar-benar merasa jengah saat ia melarangku untuk melakukan sesuatu hal yang aku suka. Dan, aku butuh kebebasan untuk itu.

Aku berjalan menyusuri pantai menuju hotel yang aku tempati. Ingin merebahkan diri dikasur yang empuk atau berenang dipantai untuk menghilangkan penat yang aku rasakan.

Apakah ia sedang memikirkan kata-kataku barusan? Apakah ia setelah ini akan mendiamkanku? Atau mungkin meninggalkanku dan pergi dari pulau Jeju ini dan lebih memfokuskan diri pada pekerjaannya?

Aku merapatkan cardigan berwarna putih yang saat ini tengah ku kenakan. Musim panas, tetapi terasa tetap dingin karena hembusan-hembusan angin yang cukup kencang untuk menari-narikan cardiganku serta rambutku.

***

Pukul 07.30 KST. Dan ia sudah mendiamkanku semenjak 30 menit yang lalu. Aku menyuapi mulutku dengan makanan seafood yang telah disajikan untuk kami. KyuHyun yang memesan makanan ini sebelum kami bertengkar kecil diluar tadi. Sesekali aku mencuri-curi pandang untuk meliriknya yang saat ini tengah asyik dengan Koran pagi disalah satu tangannya, sedangkan tangan yang satunya lagi memegang secangkir kopi.

Aku menghela napas berat melihatnya seperti itu.

“KyuHyun-ah, apa kau tidak ingin makan?” tanyaku yang sudah tak kuasa menahan perilaku dirinya yang tak menyentuh sama sekali makanannya.

Ia melirikku sekilas lalu kembali memfokuskan pada lembaran-lembaran Koran. Aku menghela napas berat dan melihat makananku dengan tidak penuh napsu lagi, padahal hanya 2 suap makanan yang masuk ke dalam perutku tetapi rasa itu enyah begitu saja tanpa bekas. Aku meletakkan kembali sendok-garpu yang ku gunakan dengan pelan dan rapih lalu beranjak dari kursi.

“Aku sudah selesai.” Ucapku dengan datar dan dingin. Ia hanya melirikku sekilas lalu kembali mengacuhkanku.

Mungkin menurutnya, aku ini sudah tidak penting lagi untuknya. Koran lebih penting daripada aku.

Aku berjalan menuju lemari, mengeluarkan koper yang aku pakai saat diam-diam pergi meninggalkannya, lalu memasukkan semua baju-bajuku yang aku bawa kemari. Aku menghela napas berat saat telah selesai merapikan baju-bajuku ke dalam koper dan hendak menutup pintu lemari. Aku terperanjat kaget saat mendapati KyuHyun telah berdiri di balik pintu lemari dan menatapku dengan tatapan ingin membunuh.

“Kau.” Ucapnya dengan dingin sembari menyipitkan ke dua matanya menatapku tajam. “Apakah kau bisa untuk tetap tinggal dan tidak pergi kemanapun?” tanyanya lirih. Aku menatapnya lalu mengabaikan ucapannya.

“Bisakah kau memberiku waktu untuk menuruti semua keinginanmu itu?” tanyanya lagi dengan suara yang sama. Aku menatapnya dengan bingung. Ia mendesah berat. “Aku tahu aku terlalu protektif padamu, tetapi tidak mengertikah perasaanku padamu hanya untuk mencoba melindungimu dari berbagai macam bahaya? Terlebih, untuk tetap tinggal disisiku.” ucapnya dengan serba salah dan lirih.

Aku mengernyit bingung, tak mengerti ucapannya barusan.

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangatlah mencintaimu, Cho Yuri. Terakhir aku memberimu kebebasan, kau hampir saja menghancurkan kepercayaanku padamu.” Lanjutnya yang semakin membuatku mengernyitkan keningku. “Kau ingat kejadian malam itu, saat kau digoda oleh laki-laki lain dan hampir saja tubuhmu disentuh oleh orang lain. Kau baru saja pulang dari club malam, dan kau tau betapa hancurnya hatiku saat itu terjadi jika saja aku tidak lewat jalan itu dan menaruh GPS pada mobilmu.” Ucapnya yang kembali mengingatkanku kepada kejadian lampau yang entah kapan terjadinya tetapi aku ingat pada kejadiannya. Perasaan bersalah menghampiriku, membuatku merasakan sakit yang di derita KyuHyun jika saja kejadian itu benar-benar terjadi, tetapi semenjak kejadian itu ia lebih sering melakukan hubungan intim padaku dan ia menghukumku atas kecerobohanku terhadap apa yang telah ku perbuat padanya dengan cara melayani napsunya itu.

“Semenjak itulah, aku selalu melarangmu untuk tidak pergi ketempat-tempat terkutuk seperti itu dan melarangmu berhubungan dengan teman-temanmu, walau itu wanita sekalipun. Yuri-ya, aku masih sedikit trauma pada kejadian itu.” Ucapnya melembut dan membuatku semakin merasa bersalah.

“Maaf.” Sesalku padanya sembari memeluknya dengan erat, lalu mengecup bibirnya sesaat. Hatiku luluh saat mendengar penjelasan singkat darinya. Aku tidak menyangka ia masih menaruh trauma pada kejadian itu.

“Ci-cium aku.” Pintanya dengan senyum evil miliknya. Aku menurutinya, dan sepertinya aku akan tahu bahwa ciuman ini akan berlangsung dan memakan proses waktu yang panjang atau mungkin lama.

***

“Kita akan kemana?” tanyaku padanya saat ia akan membawaku ke sebuah tempat yang entah tak ku ketahui tujuannya.

“Pulang, tidak rindukah kau pada rumah kita?” jawabnya dengan senyum manis yang tersungging diwajah tampannya.

“Tentu saja rindu.” Ucapku menatapnya dengan penuh haru. Aku kembali menatap ke arah luar jendela. Bibirku mengulum senyum tanpa ku sadari. Mataku menyipit aneh pada sebuah mobil berada tak jauh di depan kami yang sepertinya tengah mogok. KyuHyun menghentikan mobilnya lalu bergegas keluar begitu saja tanpa memedulikan guratan-guratan bingung dikeningku.

Ada apa? Apakah ia mengenalnya?

KyuHyun berlari-lari kecil menghampiri seorang wanita muda yang sepertinya pemilik mobil itu. Gadis itu tampak tidak begitu terkejut dengan ke datangan KyuHyun yang notebanenya adalah tiba-tiba. Gadis itu justru senang sembari menyapa KyuHyun dengan menyentuh lengan KyuHyun. Untuk beberapa saat aku menatap tak percaya pada ke duanya karena saling mengenal. Aku bisa melihat dan menerka pada apa yang saat ini terjadi. Tetapi, tidak tahu dengan jelas dengan apa yang terjadi.

Gadis itu memberi sebuah kunci Inggris pada KyuHyun dan beberapa alat perkakas lainnya yang tak ku ketahui namanya. Dengan senyum dan ringan hati ia membantu gadis itu membetulkan mobilnya yang mogok.

Aku mengatur napasku, mencoba menenangkan kembali hatiku. Beribu-ribu pertanyaan menghampiri diriku dan membuat hatiku tak tenang.

Yuri, dengar, mungkin mereka hanyalah teman rekan kerja saja. Tidak lebih. Ayo, kendalikan emosimu itu. Batinku mencoba menangkan hatiku sendiri.

Aku mengipas-kipaskan tanganku ke dapan wajahku untuk menghilangkan rasa panas yang mulai menjalari tubuhku. Bukan, bukan karena hawa udara, tetapi hawa panas cemburu yang menyergapiku.

Sudah 1 jam berlalu. Peluh-peluh keringat KyuHyun bercucuran, ia menyeka keringatnya sendiri tetapi, gadis itu membantunya menghilangkan keringat laki-laki itu dengan sapu tangan miliknya. Ia menawarkan minum pada KyuHyun untuk menghilangkan haus yang mungkin diterima akibat panasnya terik matahari. KyuHyun menatap gadis itu sembari menyugingkan sebuah senyuman untuknya.

Aku terperangah saat KyuHyun menerima minuman itu dengan suka cita. Aku menatap KyuHyun yang mulai meneguk air mineral itu hampir sepertiganya, lalu memberikan gadis itu kembali. Gadis itu tersenyum manis padanya sembari berkata -yang entah itu apa- kepada KyuHyun, ia lalu membuka tutup botolnya lalu meneguk minuman itu sampai sepertiga dari KyuHyun. KyuHyun menatapnya dengan biasa saja, seolah tidak ada masalah sama sekali untuknya. Ia justru membiarkan gadis itu mencubit lengannya, juga perutnya dengan gemas.

Dari sekian banyak pembicaraan yang mereka bicarakan, aku hanya bisa menangkap bibir KyuHyun yang selalu mengucapkan kata-kata yang sama pada gadis itu. ‘SeoHyun-ah…’ . Apakah itu namanya? Aish!

Baik, ini sudah ketelaruan. Aku keluar dari mobil dan menurunkan koperku, menghentikan taksi yang lewat kali pertama ku lihat dengan perasaan amarah yang luar biasa.

“Incheon Airport.” Ucapku memberi intruksi pada si supir taksi. Aku membungkukkan tubuhku saat mobil yang ku tumpangi ini melewati mereka berdua, agar tidak terlihat oleh KyuHyun bahwa saat ini aku pergi darinya. Atau mungkin menyadari.

Ia bahkan tak melihat aku di dalam mobil atau tidak, untuk sekadar mengetahui keberadaanku seperti apa. Satu jam, ia bisa mengabaikanku begitu saja.

***

Aku menatap tiket pesawat yang saat ini tengah ku pegang. Kali ini, aku meminta bantuan Tiffany untuk melindungiku dari pencarian KyuHyun. Aku menyuruh Tiffany untuk memesan tiket pesawat secara tidak langsung, dan dalam hitungan menit, tiket bertujuan Paris berpindah tangan padaku.

Aku sengaja memanfaatkan Tiffany untuk sementara waktu, karena pemilik bandara Internasional ini adalah kekasihnya, Lee DongHae. Passport-ku tentu saja tidak dipalsukan, mungkin ia akan mudah menemukanku tetapi untuk beberapa waktu akan sulit untuk mencariku. Jadi, tidak akan ada masalah akan waktu yang bergulir secara lambat, hingga mengulur waktu dan membantunya menemukanku segera mungkin. Aku sudah mengatakannya pada Tiffany saat jalan menuju ke bandara agar ia cepat mengurusnya dengan segera. Aku cukup dengan berkata : ‘Ini penting…” , hanya dengan kata ‘penting’ itu dan sedikit bumbu beralasan apapun, maka Fany tanpa berpikir panjang lagi pasti akan mengiyakan permintaanku dan melakukannya. Terlebih, hanya sesederhana ini. Aku mengantri untuk check in sebelum masuk ke pesawat dan memasukkan koperku ke dalam bagasi.

Aku butuh secepat mungkin dan sesegera mungkin untuk meninggalkan Negara ini. Aku butuh waktu untuk mengendalikan diriku sebelum bertemu dengannya lagi. Intinya adalah aku butuh waktu untuk mengontrol diriku, terlebih emosiku terhadapnya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ini semudah yang tak ku bayangkan selama ini.

Aku menaiki anak tangga pesawat, mencari-cari sesosok seseorang yang selalu saja mengisi relung hatiku. Aku mempererat genggamanku pada besi tangga, seketika benakku terpenuhi oleh senyumannya, dekapannya, ciumannya, lalu semuanya. Semua yang ada di dirinya. Aku merindukannya. Aku berhenti melangkah, ingin membalikkan tubuhku kembali dan berlari ke dalam pelukannya. Tetapi, terurung kembali niat itu ketika terbesit bayangan KyuHyun dengan gadis pemilik mobil itu. Ia bahkan melupakanku selama beberapa saat. Mengabaikan keberadaanku, membiarkan orang lain menyentuh lengannya dengan begitu leluasa, membiarkan bekas bibirnya dikecup orang lain tanpa beban sedikitpun. Bahkan, ia membiarkan gadis itu mencubit lengan dan perutnya dengan begitu gemas.

Hatiku terasa pilu saat memori itu memenuhi benakku. Aku kembali menata serpihan hatiku lagi dengan cepat, mengabaikan luka-luka yang ditimbulkan karena ketidakpedulianku. Kakiku melangkah ke anak tangga berikutnya dengan langkah berat tetapi yakin. Dari sekian banyak perlakuan gadis itu padanya, yang membuatku benar-benar terluka adalah untuk sepersekian detik, ia melupakanku dan membiarkan gadis itu melakukan apapun sesuka hatinya pada KyuHyun.

Aku yakin, butuh beberapa waktu untuk menyadari kepergianku ini. Dan untuk saat ini, ia tidak akan menyadari kepergianku. Mungkin, setelah aku sampai di Paris ia baru menyadari kepergianku. Atau mungkin tidak akan menyadari sama sekali?

Aku mencari tempat duduk yang tertera ditiketku. Lalu saat menemukannya, aku langsung duduk begitu saja, menaruh tas kecil yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi, disamping kursiku yang masih kosong. Aku menatap ke arah luar kaca jendela pesawat, menatap kosong aspal yang menjadi landasan empuk untuk membantuku terbang meninggalkan Negara ini.

“Apakah kursi ini kosong?” tanya seseorang bersuara berat. Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki asing tengah berdiri di samping kursi kosongku. Laki-laki itu berbadan kekar seperti Siwon. Aku mengangguk pelan sembari menyingkirkan tasnya agar laki-laki itu bisa duduk.

Thanks.” Ucapnya sembari duduk disampingku dengan santai. Ia menatapku lalu menjulurkan tangannya padaku, untuk beberapa saat aku mengernyit bingung tetapi segera memahami. Bayangan KyuHyun yang memintaku untuk tidak dekat dengan pria lain terlintas dibenakku, hingga untuk beberapa saat membuatku ragu untuk menerima jabatan tangan darinya.

Yuri, untuk sementara lupakan KyuHyun. Ia sedang mengabaikanmu, ingat.

Pikiran itu mendesakku untuk menerima jabatan tangan darinya walau sedikit ragu.

“Aku Ok Taecyeon, panggil saja Taecyeon.” Ucapnya memulai memperkenalkan diri.

“Aku Yuri, Cho… err, maksudku Kwon Yuri.” Ucapku dengan sedikit ragu untuk meralat kata-kataku barusan.

“Senang berkenalan denganmu.” Ucapnya dengan santai. Sepertinya, ia tipe orang yang mudah akrab dengan siapa saja. Dan, aku menyukai gagasan itu. Setidaknya, aku butuh teman berbicara walaupun itu seorang laki-laki sekalipun. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua larang-larangan yang ia buat untukku. Terlalu banyak hingga membuat kepalaku terasa pening saat mengingat kembali jajaran daftar perkataannya mengenai hal-hal yang tidak boleh aku lakukan selama ia tidak berada disisiku.

Jika kemarin aku pergi dari sisinya dengan alasan ingin bebas darinya selama beberapa waktu. Maka kali ini, aku memiliki alasan lain, lebih akurat dan pantas untuk dipertimbangkan. Ia melupakanku untuk sepersekian detik hanya demi wanita lain. Bahkan, saat ini aku mulai meragu padanya. Kenapa bisa dengan begitu mudahnya ia melakukan itu?

Egois, keras kepala, dan tidak mau berbagi seseorang yang aku cintai dengan orang lain? Itulah aku. Karena aku terlalu mencintainya hingga membuatku sesak dan sistem sarafku rusak saat berada di dekatnya.

Aku selalu ingin berlari darinya, melupakan bayang-bayang tentangnya, serta seberapa berartikah aku untuknya. Sampai saat ini, aku tidak tahu dengan baik jawabannya.

Jadi, aku selalu berlari dan terus berlari. Hanya untuk mencari tahu jawaban darinya.

Dan, kali ini aku benar-benar akan mencari tahu jawabannya. Apakah ia tetap mencintaiku sama seperti 3 tahun yang lalu? Atau… sudah tidak lagi?

Melihatnya seperti itu, tidak, lebih tepatnya tersenyum kepada seorang perempuan yang bahkan ia tidak memperkenalkannya padaku, membuat hatiku terasa sakit dan pilu. Aku tidak begitu suka jika terlalu berdekatan dengan wanita lain sama seperti tadi.

Aku bahkan mulai meragu padanya. Takut. Perasaan itu selalu saja menguasai diriku dengan baik. Aku terlalu takut untuk kehilangannya. Aku takut perlahan-lahan tetapi pasti, cintanya akan pudar padaku.

“Hei, bukankah kau Kwon Yuri yang akan dipasangkan olehku disalah satu iklan minuman ternama?” tanya Taecyeon membuatku mengalihkan perhatian padanya. Aku menatapnya dengan kening berkerut.

“Hm, apa?”

“Kau ini adalah model ternamakan? Kwon Yuri itu?” tanyanya memastikan.

Aku mengangguk pelan sebagai jawabannya, lalu menatapnya kembali dengan tatapan bingung.

“Apa kau belum diberi tahu oleh agency-mu?” tanyanya lagi dengan raut wajah bingung.

“Oh, itu, aku… selama empat hari terakhir ini mematikan ponselku dan lupa untuk menyalakannya. Memangnya ada apa?” jelasku padanya.

“Kita berdua,” ucapnya sembari menunjuk diriku dan dirinya sendiri secara bergantian. “… akan memainkan comersial film sebuah minuman. Kau dipasangankan denganku, dan aku tidak begitu tahu pemain lainnya tetapi sepertinya kalau tidak salah ada Im YoonA juga sebagai model utama peran dalam iklan itu.” Lanjutnya menjelaskan padaku. Aku mengernyit saat sebuah nama tidak asing lagi ditelingaku disebutkan olehnya.

Im YoonA, model ternama di Korea Selatan. Ia  juga banyak membintangi film drama ataupun iklan dan pemotretan lainnya, layaknya seperti model ternama. Aku selain sebagai istri dari pengusaha terkaya nomor satu di Korea Selatan, pekerjaanku adalah model ternama, seperti YoonA. Hanya saja, karena memiliki serentetan daftar larangan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh pria menyebalkan itu, aku sudah tidak begitu aktif lagi. Bahkan, terkadang aku sering diomeli oleh agency-ku sendiri karena sifat iblisnya itu yang selalu memonopoli diriku semaunya.

“Lalu, apakah ada pemain lainnya juga?” tanyaku padanya, aku yakin begitu aku menyalakan ponselku setibanya di Paris nanti akan ada banyak serentetan kata-kata dari EunHyuk –managerku. Ia pasti akan mencaci-makiku dulu sebelum ia memberitahukan jadwal dan info tentang pekerjaanku.

“Tentu saja, sepertinya akan ada enam orang pemain dan beberapa figuran lainnya.” Jelasnya padaku sembari menerawang dan mencoba mengingat-ingat apa yang telah diberitahukan manager padanya.

Well, dimana syuting itu akan di adakan?” tanyaku lagi, sedikit terganggu dengan jadwal liburanku yang akan dipenuhi dengan pekerjaan.

“Paris. Memangnya saat ini kau akan pergi kemana?” tanyanya bingung sembari menatapku dengan heran. Aku hanya tersenyum tipis saat melihat reaksinya. “Kau akan pergi ke Paris kan? Kau tidak akan meninggalkan pekerjaanmu hanya demi sebuah liburan atau hubungan percintaan kan?”

Well, aku bertujuan datang ke Paris untuk pergi berlibur. Tetapi, tidak menyangka aku akan mendapat pekerjaan disana.” Cibirku sedikit kesal tetapi juga rindu terhadap pekerjaanku.

“Sepertinya, setiba nanti kau akan mendapat banyak rentetan kata-kata dari managermu.” Ejeknya sembari tersenyum lebar padaku, menampilkan sederetan gigi putih yang tertata rapih dan apik.

“Ah, jangan ingatkan aku tentang hal itu! EunHyuk pasti mengomeliku panjang lebar. Ingin mati rasanya saat mendengar omelan panjang darinya.” Keluhku padanya sembari membayangkan wajah EunHyuk yang berwajah kesal dan dingin, mengomeliku dan memakan waktu yang lama jika ia sudah berbicara panjang lebar.

Taecyeon tertawa pelan melihatku seperti itu, membuatku mau tak mau ikut tertawa pelan karena melihat tawa diwajahnya.

“Kau, kau ini lucu sekali, Yuri-ya.” Ucapnya sembari mencubit pelan ke dua pipiku. Aku sedikit terkejut dengan sikapnya padaku lalu segera menepis ke dua tangannya dari wajahku. “Jangan sentuh aku.” Ucapku sedikit dingin padanya. Wajah dingin KyuHyun kembali terlihat dalam benakku, membuatku merasa sesak karena merasa bersalah padanya.

Taecyeon menatapku dengan bingung. “Maaf, aku tidak sengaja melakukannya.” Sesalnya yang ku balas dengan sebuah senyum lebar, seakan-akan menandakan ‘tidak apa-apa, bukan suatu masalah besar.’

“Tidak masalah.” Balasku padanya.

“Ah, sepertinya kita harus membangun chemistry kita di iklan nanti. Setidaknya, harus terlihat kita ini menyatu dan seperti sepasang kekasih.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan dan memulai pembicaraan baru tentang pekerjaan kami nanti.

Sepertinya menyenangkan berada di dekatnya. Ia ramah dan hangat sekali orangnya. Dan aku suka sifatnya yang bisa mencairkan suasana di antara kami yang hampir kaku tadi.

Berbeda sekali dengan iblis itu. Dingin, menyebalkan, egois, terlalu protektif, dan selalu manja padaku. Tetapi, ia mencintaiku dengan tulus.

Dan, aku merindukan dirinya yang dulu sebelum menjadi seperti ini. Melupakanku dengan mudah walau hanya sepersekian detik. Tidak, bukan, bahkan lebih dari tiga ratus enam puluh detik setiap jamnya. Selama satu jam, ia mengabaikanku hanya demi wanita lain yang sangat asing bagiku tetapi, sangat familiar baginya.

Aku akui, wanita itu cantik dan begitu polos. Yah, segala sesuatu yang gadis itu miliki hampir diinginkan oleh laki-laki lainnya. Pasti. Dan mungkin KyuHyun termasuk dalam daftar menginginkan wanita itu.

Entahlah, aku tidak mau terlalu memikirkan hal menyakitkan seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuatku ingin merinding dan mengendikkan bahu ngeri saat KyuHyun benar-benar meninggalkanku dan memilih wanita itu daripada aku yang notebanenya saat ini adalah istrinya.

Cemburu? Ya, aku akui sangat cemburu untuk saat ini. Karena aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang dilakukan KyuHyun dibelakangku. Aku tidak tahu, dan ia tidak akan mengijinkanku untuk mengetahuinya.

Dasar, iblis. Kejam.

“Yuri, bagaimana jika kita menjadi sepasang kekasih saja untuk sementara waktu? Well, setidaknya untuk membangun pesona kita sendiri.” Ucapnya yang membuatku membulatkan mata saat mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya begitu saja.

Menjadi sepasang kekasih? Tetapi, aku…

“Oh, ayolah, aku rasa kau tidak akan keberatan dengan tawaran ini. Hanya demi pekerjaan, tidak lebih. Kecuali kau ingin melanjutkan hubungan kita nantinya, dan itu tidak masalah untukku asal kita saling memahami satu sama lain.”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Apa? Hei, apa dia tidak tahu kalau aku ini sudah menikah dengan seorang laki-laki yang sangat ku cintai melebihi apapun di dunia ini, huh? Apa dia sedang bercanda dengaanku? Lucu sekali. Apakah ia tidak pernah membaca berita atau menonton telivisi tentang seputar artis?

“Oh, come on, bersikaplah se-profesional mungkin, Kwon Yuri.” Ucapnya dengan senyum harap bercampur sinis diwajahnya.

Aku diam, berpikir untuk menerima tawarannya atau tidak. Disisi lain, aku ingin bersikap layaknya seorang professional seperti dulu sebelum aku menikah dengan laki-laki iblis itu. Tetapi, disisi lain aku sudah memiliki KyuHyun dan tidak mungkin dengan mudahnya aku mengkhianatinya begitu saja hanya demi seorang laki-laki asing dan pekerjaan yang menuntut.

Seulas senyum evil tersungging diwajahku.

Tetapi, siapa yang tahu aku akan menjalani hubungan dengan laki-laki ini, huh?

“Aku menyukaimu.” Ucapnya yang membuatku sedikit terkejut saat mendengar ia mengatakan hal itu. “Sejak pertama kali aku melihatmu disebuah pemotretan majalah, aku sudah menyukaimu. Tetapi, aku tidak berani mendekatimu karena aku takut kau akan menolakku. Dan, lagipula aku saat itu tidak sebanding denganmu yang karirnya sedang naik. Jadi, aku putuskan untuk mempersiapkan diri lebih matang dahulu sebelum aku benar-benar bertemu denganmu secara langsung. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku saat ini?” jelasnya yang membuatku sangat terkejut atas apa yang ia katakan padaku.

Pengecut.

Ia menatapku dengan tatapan penuh harap dan cemas. Aku tersenyum datar saat melihat ketulusan cinta dimatanya, membuatku sedikit merinding dan meragu akan suatu hal.

Apakah KyuHyun masih mencintaiku sama seperti dulu?

“Yuri-ya, ku mohon, jawab aku.” Pintanya sedikit bergetar karena menahan rasa cemas dan khawatir.

***

============================ TBC =============================

Hai Yura balik lagiii~~~ Wkwkwk adakah yang merindukan Yul? Hehehehe maaf ya, yura dateng-dateng gak bawa TFFB, IWSILU, MP, tapi bawa ff lain wkkwk ^^

Sebelumnya,  yul minta maaf karena blm bisa lanjutin TFFB karena feel yul lagi dibawa pergi sama seseorang dalam ff itu hikhikshiks T^T << curhat ahahhaha😀

Tapi, walau gimanapun, yul akan berusaha menyelesaikan semua ff-ff yura yg udah yura buat ^^ Semoga aja cepet kelar ya ^^ ahahahhahha😀 Maaf ya, harus bersabar menunggu lebih lama lagi ^^ Hehehehe😀


DON’T FORGET TO RCL (READ, COMMENT(s), AND LIKE) PLEASE!!

Comment(s) Like Oxygen for me.

THANK YOU FOR YOUR SUPPORT.😀😀😀

48 thoughts on “RUN [ Part 1 ]

  1. wuahhhhh apaan tuh ????
    ni ff bru ya bkn yg together nto kn ?
    hahaha bagus ,kyu posesif tp dy dket2 ce jg . huuuuu
    aduh yul jgn mau am taecheon ,np gg am siwon ajh si . hahaha
    bkal runyam ni hbngan mrka .
    lanjut yaaaaa

  2. kok yuri ninggalin kyunyun dengan alasan kl dia itu protektif bgt?
    Bknnya yuri itu juga orangnya kyk gt?
    Masak cm didiemin beberapa menit lsg kabur k paris?
    Taecyon masak gak tau sih kl yuri itu udah punya suami?

  3. Wahh daebak !!! Tapi kenapa pacarnya fany donghae ? Aku gak suka sama pairing itu, aku sukanya haesica yaa tapi gak apa-apa dehh, di tunggu yaa kelanjutannya sama ff yang lainnya.

  4. ff baru ya unnie…
    smoga sukses dgn ff ini hehe ^^

    yuri kok ninggalin kyuhyun gitu aja
    hubungan yang rumit antara yuri dan kyuhyun

  5. yey ada ff kyuri yang baru🙂
    Kyuhyun terlalu protektif sama yuri soalnya cinta banget sama yuri ya🙂. Itu lagi kenapa taecyeon suka sama yuri
    Lanjut ya chingu fighting🙂

  6. sifat yuri egois, cemburuan !! karakternya seru eoni ,biasanya kan yuri selalu ngalah
    castnya ada taecyeon juga tambah seru!!! gmn nanti yuri nerima taec gak ???
    terus kyu berpaling ke seo?*jgndeh
    #good lanjut eonni !!!!!!

  7. Part selanjutnya kayaknya bakalan seru. Aduh kyu kok sampai ga sadar klo yuri pergi sih? Penasaran, kira2 gimana ya reaksi kyuhyun klo dia tahu yuri pergi lagi. Apa taecyeon benar2 ga tahu status yuri? Ih…Bnyk tanya ya aku (He…He…He…Mian)

  8. Haduhhh parah parah nih >,<
    Kyuhyun malah asyik m Seohyun mpe lupain Yuri
    Ah Yuri di tembak taecyeon huhuhu
    moga ga diterima m Yuri n buat Kyuhyun cepat susul Yuri ke paris !!!!^^Riku suka deh m FF KyuRi

  9. kyaaaaaa saeng…ada cerita baru ngehehh suka2..yuri ksian bgd mpe kabur gt..ckckck kyuhyun kamu ga bisa berhenti jadi evil namja ya..ckck lebih terasa emosinya krna yang jadi cew ke tiganya seohyun ommo keren ni pasti..lanjutannya jangan lama2 ya saeng..keep writing always..kekeke

  10. Mwo? Itu kyuhyun meluk yuri yang lagi dalam keadaan naked eon? O,o #plak
    eh, nih sumpah ff nya bagus eon. Ceritanya lebih berat dari ff ff eonni yang biasanya dan aku suka #ciyee
    kyuhyun dimana aja emang nyebelin ya, tapi KyuRi tetep aja romantis!😀
    next nya ditunggu ya eon😉

  11. annyeong ^^ waahhh akhirnya ada ff baru xDD jadi gak bakal ketinggalan jauh sebagai readers baru hehe
    huaaaa, itu… Taecyon gimana sihh?? massaaa gak tau Yul punya suami, malah ngajak pacaran, Yul, jangan diterima, inget Kyu *plakkk
    Kyu posesifnya parahhh, tapi mlah lupa ma yuri dan bercengkrama ma cewe lain… ahhh…susahh ini mahh

    lanjutkan!!

  12. Seru., !! kok tiba” kyu jd ninggalin yuri..apa kyu ga sadar ya..🙂 ga sabar cpetan d lanjutin ya.. ff yg lain jga.. B)

  13. yah lagi seru malah tbc.
    yuri jngan nrima twaran taecyeon. nanti kalo ktauan kyuhyun bisa2 taecyeon dibunuh sma kyuhyun. hehe..
    kyuhyun protektif bnget ya.. tp aq suka. haha..

    kereen critanya..
    ditunggu ya next partnya. sma ff yg lain juga..

  14. Waah .. Keren eon .. Itu yuri eonni gk cpek apa lari2 truss ?? .. Hhee .. Ohh ya eon ..Ini lnjutan dari yg teaser ” together ” bkn? att baru lagi .. ?? Jngan lma2’x eon lnjutin’x hhee ,, pnasaran soal’x .. Hhee ..

  15. wah ff baru lagi nih…
    bagus banget,,, kyuhyunya protectif bgt…
    tapi kyanya kisahnya bakal seru nih,, lanjutin lagi chingu…

  16. jangan terima dong -_- gantengan kyu drpda taecyeon😀
    Wa. Suka banget waktu baca yang punya bandara itu lee donghae pacarnya Tiffany😀 lanjut Eon!

  17. ahh baru aja baikan mereka marahan lagi..
    Kyuhyunnya terlalu protektif sama Yuri, tapi Yuri juga terlalu cinta sama Kyuhyun jadi terlalu egois. andwee Yuri Unnie jangan pergi keparis kasian kan KyuHyunnya sendirian nanti dia makin protektif lagi, hajiman~ hehehehe…
    daebak Unn, aku suka FF nya ^^

    fighting ya Unnie! FF yang lainnya Linda tunggu lho..
    ohh iya yang Bring It Back mau ada sequelnya kan Unn? cepet bikin ya Unn aku makin penasaran setelah KyuHyun sama Yuri ketemu lagi^^

  18. good ff.
    konfliknya keren banget.
    kalo jd yuri pasti sebellah dikekang kayak gt.
    tp setelah tahu alasannya knpa kyu protectif bgt, jd bs memaklumi knpa kyu kayak gt.
    semoga yul ga terima tawarannya taec.
    sebel jg ma kyu masak dy ngelupain yul.
    aidh jinjja.
    lanjuuut chingu.
    hwaiting.

  19. baru nyadar, di semua ff KyuRi yg ada di sini, sifat Kyuhyun cenderung Protektif ama Yuri yah!! Kecuali yang For Sure..
    Aaah, aku membenci wanita yg polos :@ mianhae Seobaby..

    Ada Taecyeon juga, tapiiii penasaran nih ama YoonYul.. Mereka berteman gak?

  20. yaaaah yuri unnie jgn terima taecyeon ! pkok’a yuri unnie hrus ttp sma kyuhyun oppa ! harus harus harus pkok’a! kyuhyun oppa jga nih,nolongin org ampe gk inget sma istri’a sendiri,huuuh>.<
    ditunggu next chap'a…

  21. keren,,
    jadi ni ff tentang kabur2ran niee,,hehe.
    .
    ko’ yuri eonni kabur terus sihh,,?
    trus seohyun tu sppa.x kyu?,,
    n yuri eonni jangan trima tawaran.x taecyon!,,.
    ff.x baguss,,!!
    di tunggu next part.x ya eonn!!?… : )

  22. kereeeeeeennnnn…..
    kyu ndiri np jg tw” nglupain yuri???wlopun bntar sihh…
    aph niatnya kyu td mw blz dendam ke yuri??
    ahhh lanjooot!!!!

  23. Baru baca -_-”
    aih telat,
    eh seo pihak ketiga kah?
    ceritanya asik, disni yuri jadi model yang suka kabur dr suaminya kalo marah, konfliknya jangan berat2 y eonn,

  24. slam kenal😀
    wahh … ff.x kren eonnii…

    pensran nihh , sma ta2pan.x kyu yg bkin Siwon tkut ( ngarep ktmu Kyu )😀 hehehe,,,

    ” Ya,Cho yurii!!!!!,,,
    Knp hrus kbur truz sihh !??.. kn ksihan Kyu.x nyari.in hehehe….”
    *Sok Mrah *

    d.tnggu next part.x eonn!!??,,,,,:-)

  25. Aigoo~ Kyu yg possesiv & protektif brlebihan??
    ituh yg paling bkin seneng buat baca ff” KyuRi dsni .
    Brharga’x mreka bagi satu sama lain kerasa banget🙂
    bt , itu Kyu knpa bisa gitu sihh ??
    Seororo emng mrip sama Yul , bt dy bkn istrimu oppa ! /garukdinding/
    trus Kyu koqq bisa”x mengabaikan Yul gitu ? Lupa apa kalo istri’x tkng lari ? Akhir’x Yul kabur -again- kan? Rasain ! Hha~ /slap
    Aku next ke part 2’x yaa , Yura .. Keep spirit !!

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s