Love Two Us


Love Two Us

Author : Kwon Yura
Main Cast : Kwon Yuri
Cho KyuHyun
Support Cast : Tiffany, SeoHyun, DO, Wu Fan (Kris)
PG : 17+ and BO (?) (Bimbingan OrangTua)
Disclaimer       : I don’t know why? Maybe I like them and I just write my imagination about them. I wish you will like it.
POV : Pandanganku sebagai orang ketiga.

Art : Banana Juice Thanks a lot🙂

“Cinta tidak pernah memandang benar atau salahnya kau melakukan suatu hal.” – Kwon Yura.

Listening :
KyuHyun – 7 Years Of Love
SPICA – Painkiller

Squel Of :

Bring It Back …

All Riserved © Kwon Yura 2012.



 “Cho, apa kau mencintaiku?” tanyanya sembari tersenyum lembut padaku.

 

“Tentu, aku sangat mencintaimu hingga ingin mati rasanya.” Balasku sembari menatapnya lembut.

 

“Errr? Bohong.” Balasnya tak percaya sembari mencibir kesal.

 

“Tidak, aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kwon Yuri.” Tegasku lalu memeluk tubuhnya erat.

 

Ah, benar, ingin mati rasanya jika seperti ini.

 

“Jika kau mencintaiku, apakah kau akan meninggalkanku?” tanyanya dalam pelukanku.

 

Aku mengernyitkan keningku lalu melepaskan pelukan kemudian menatapnya. “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucapku yang aku anggap sebagai janjiku pada diriku sendiri untuk tidak meninggalkan wanita yang sangat ku cintai ini.

 

“Tsk?” cibirnya sembari memukul dadaku pelan. “Terlalu banyak berbohong.” Ucapnya sembari menundukkan kepalanya ke bawah kemudian menatap lurus ke arahku. “Tapi, terima kasih. Terima kasih atas cinta yang kau berikan padaku.”

 

Aku tersenyum lembut padanya lalu menarik tubuhnya untuk lebih mendekat padaku. Wangi shampoo yang ia pakai dapat ku hirup dengan baik, lalu ku dekap tubuhnya dengan erat dan lembut, rasanya tak ingin melepaskan dirinya begitu saja walau hanya sedetik saja.

 

“Yul?” panggilku lembut.

 

“Hm?” sahutnya.

 

“Jangan tinggalkan aku.” Pintaku padanya sembari menikmati pelukan diantara kami.

 

“Cho?” panggilnya lembut.

 

“Hm?” sahutku.

 

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Balasnya sembari mengecup bahuku dengan dalam. Aku tidak mengerti mengapa ia seperti ini, tetapi aku menikmatinya dan tidak ingin mempermasalahkannya untuk saat ini. Cukup seperti. Cukup memeluknya seperti saat ini saja sudah membuatku mabuk kepayang.

 

“Cho…”

 

“Cho…”

 

“Cho…”

 

“Cho…”

***

“Sir, are you fine?” tanya asisten pribadiku. Aku menoleh kearahnya sekilas dan hanya menyahutnya dengan kata “Hm” sembari melanjutkan langkah kakiku.

Pikiranku terlalu kacau akhir-akhir ini. Sudah 7 tahun tanpa kabar darinya satu kalipun. Mengirimiku email atau pesan singkat saja tidak pernah. Pergi diam-diam tanpa memberiku kabar sama sekali, benar-benar membuatku kehilangan semangat hidup.

“KyuHyun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang sedikit familiar ditelingaku. Aku menoleh ke sumber suara itu dan mendapati seorang wanita tengah berjalan menghampiriku dengan raut wajah yang sangat khawatir.

“Tentu.” Ucapku tak bersemangat sambil melewatinya begitu saja.

“Tapi sepertinya dirimu berkata lain.” Tegasnya sembari menyamai langkah kakinya denganku.

“Sudahlah, aku tidak ingin membahas apapun sekarang, Vic.” Balasku dengan dingin.

“Kalau begitu, menyerahlah.” Ucapnya dengan yakin dan tegas saat ia mengambil satu langkah lebih dulu dariku lalu berhenti di depanku secara tiba-tiba sembari melipat ke dua tangannya di depan dada.

Aku menatapnya dengan tatapan tidak mengerti atas maksud ucapannya.

“Menyerahlah.” Tegsnya sekali lagi dengan smirk yang menghiasi wajahnya. “Untuk apa kau terus bertahan selama ini? Tidakkah ia sudah melupakanmu begitu saja? Jadi untuk apa?” jelasnya.

Aku tersenyum getir padanya, lalu berjalan melewatinya begitu saja dengan jalan yang tidak ia cegat.

“Ya! Cho KyuHyun!” panggilnya kesal. “Aish! Kau ini!” kesalnya yang tak ku hiraukan sama sekali. Aku membuka pintu ruang kerjaku dengan tidak begitu bertenaga. Bau harum yang sangat khas, mengudara dapat ku hirup dengan baik, membuatku ingin mati terkulai lemas karena perasaan yang sangat menyesakkan ini.

Aku menduduki kursiku lalu memenjamkan ke dua mataku dengan dalam. Menenangkan diriku yang mungkin saja tidak akan bisa terkontrol lagi nantinya.

Yuri, kau dimana?

Bulir-bulir lembut turun begitu saja tanpa bisa ku tahan lagi. Aku tahu, aku bukan seorang laki-laki yang kuat. Dan, aku tahu ini sangat memalukan atau bahkan menggelikan. Tetapi, aku rasa tidak ada salahnya jika saat ini aku menangis.

Yul, aku merindukanmu.

***

Paris

12 a.m.

Seorang wanita menatap ponselnya sedari 3 jam yang lalu tanpa bergeming sedikitpun. Ini adalah salah satu kebiasaan akhir-akhir ini. Hanya menatap ponselnya tanpa berani menyentuhnya.

“Yuri eonni?” panggil seorang gadis padanya. Yuri menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapati SeoHyun, adik sepupunya tengah berjalan menghampirinya. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya gadis itu.

Yuri tersenyum lembut. “Hm… tidak tahu.” sahutnya sembari menatap pemandangan di depan mereka.

“Kau hanya berdiam diri sedaritadi disini?” tanya SeoHyun takjub.

Yuri hanya membalasnya dengan senyum tipis.

“Eonni, ada apa denganmu? Apa kau memiliki masalah? Ceritalah padaku, aku akan berusaha membantumu.” Tawarnya, yang entah ini sudah berapa kali ia tawarkan dan entah beberapa kali Yuri tolak.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja.” tolaknya halus.

“Baiklah, baiklah jika kau bersikeras untuk tetap menyimpannya sendiri itu tidak masalah. Tetapi, aku ada disini untukmu jika kau membutuhkanku kapan saja.” tawarnya lagi, yang juga entah ditolak oleh Yuri berapa kali.

“Aku tahu. Seo, mungkin aku akan pergi lagi besok.” Ucap Yuri sembari mengalihkan topic pembicaraan.

“Kemana? Dengan Kris kah?” tanyanya sembari menatapku lurus.

Yuri mengangguk pelan. “Hm, aku akan pergi dengan Kris ke Paris.”

“Berlibur?”

“Tidak, hm? Tapi, mungkin.”

“Aku rasa kau dan Kris sangat cocok, kenapa kalian tidak melanjutkan hubungan kalian ke hal yang lebih serius saja?” usulnya sembari menyunggingkan senyum usil diwajahnya.

Yuri menoleh menatapnya lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin, umur kami terpaut dua tahun. Lagipula, mana mungkin ia menerimaku?”

SeoHyun tertawa geli saat mendengar penjelasan langsung dari Yuri. “Eonni, apa kau sekarang mulai jatuh cinta padanya? Benarkah? Hahaha…”

Yuri mencibir kesal ke arahnya lalu tersenyum lembut.

“Lucu sekali.” ucap SeoHyun saat telah reda tawanya sambil menatap langit senja. Yuri menoleh ke arahnya. “Jika kau benar-benar bersama Kris nantinya, tidakkah itu lucu? Tidakkah awalnya sering kali bertengkar? Tetapi sekarang hubungan kalian jauh lebih kata baik. Bisa dibilang seperti sepasang kekasih yang saling mengasihi. Dan, aku rasa Kris juga memiliki hal yang sama terhadapmu eonni.”

Yuri diam, hanya tertunduk ke bawah.

“Aku tidak berharap seperti itu, Seo.” Ucap Yuri pelan, tetapi tentu saja SeoHyun dapat mendengarnya walau sayup-sayup.

“Kenapa?”

“Karena aku…” ucap Yuri terpotong, genangan air terlihat dikedua matanya. Yuri menatap langit yang perlahan-lahan berubah menjadi gelap.

“Hm, apa?” tanya SeoHyun penuh dengan kesabaran, menanti ucapan dari Yuri yang ia hentikan begitu saja.

Yuri menoleh ke arah SeoHyun sembari memaksakan sebuah senyuman. “Lupakan.”

SeoHyun hanya menatapnya dalam diam.

“Ah ya! Bagaimana calon tunanganmu? Apakah dia tampan?” tanya Yuri mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana yang mulai canggung.

SeoHyun lalu menceritakan pertemuannya besok dengan calon tunangannya yang saat ini sedang berada di Korea. Yuri menyimaknya dengan baik sembari terkadang tertawa atau senyum-senyum sendiri jika ada hal yang ia rasa lucu.

***

Seoul, South Korea

8.45 p.m

 

Lagu Baby Baby terputar beberapa kali di ruang kerjanya, sedangkan sang pemilik ruangan itu hanya duduk sembari tertidur mendengarkan lagu itu. Ia, Cho KyuHyun, masih dengan jelas mengingat kejadian itu. Kejadian dimana Yuri menyanyikan lagu itu bersama sahabatnya –Tiffany- saat acara prom nite dikampusnya dulu yang kebetulan mereka juga MC dalam acara itu.

Air matanya turun kembali disalah satu pipinya. Tentu saja ia tidak benar-benar tertidur. Karena walau bagimanapun, tanpa Yuri disisinya, ia tidak benar-benar dalam keadaan baik.. Ia sudah melakukan berbagai cara untuk menemukan gadis itu selama 7 tahun terakhir ini, tetapi hasilnya selalu nihil yang ia dapatkan.

Sampai saat inipun, ia masih terus berusaha mencari Yuri. Pernah terbesit dalam pikirannya untuk menyerah saat genap 1 tahun Yuri pergi tanpa kabar sedikitpun, tetapi itu justru membuatnya semakin tersiksa selama berminggu-minggu. Bayangan gadis itu selalu menghantuinya, tak pernah melepaskannya atau memberikannya kebebasan sedikitpun.

Ponselnya bergetar beberapa kali, sedangkan ia tidak ingin menghiraukannya, tetapi hatinya berkata lain untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia mengangkatnya, tentu saja itu adalah pilihan yang harus ia lakukan. Karena bagaimanapun, ia tetap berharap itu adalah panggilan dari gadis yang ia cintai sepenuhnya atau sekalipun tidak, orang suruhannya memberitahukan keberadaan gadis itu sekarang.

“Hm?” ucapnya dingin dan tak sabaran.

Hening, tidak ada jawaban apapun dari sebrang telepon sana.

“Halo?” ucap KyuHyun lagi.

Masih sama, tidak ada jawaban.

KyuHyun melepaskan ponsel dari telinganya untuk melihat ID si penelepon itu. Nomor asing. Ia mengernyitkan kening, lalu ia mengakhiri panggilan tersebut.

Tsk! Mengganggu saja. Dasar orang tak ada kerjaan.

Ia merebahkan kembali punggungnya pada sandaran kursi miliknya, lalu memenjamkan ke dua matanya perlahan. Dia terlalu malas untuk pulang ke rumahnya. Tidak, bukan rumahnya, tetapi rumah mereka berdua. Ya, rumah ia dan gadis itu.

“Cho… kau dimana? Cepatlah pulang, aku mati kebosanan disini sendirian.” Omel seorang wanita ditelepon, sedangkan yang dimarahi hanya tersenyum bahagia.

 

“Aku masih sibuk, masih ada rapat. Lagipula, Cho Yuri, tidakkah ini masih siang? Aku baru meninggalkanmu tujuh jam yang lalu. Apakah sebegitunya kau merindukanku?” godanya sembari membenarkan berkas-berkas yang berserakan dimeja kerjanya.

 

“Kau cari mati ya?” kesal wanita itu. “Baiklah, aku mengerti. Aku akan pergi kalau begitu.”

 

“Kemana?” tanya KyuHyun sembari senyum-senyum sendiri.

 

“Menemani Kris, ia memintaku untuk menemaninya pergi ke suatu tempat.”

 

“Kau… pergi dengannya? Ya! Kau cari mati ya berselingkuh dibelakangku!” kesal KyuHyun sembari melepaskan berkas-berkas yang tengah ia pegang dan kembali menjadi berantakan.

 

“Tidak, bukan begitu. Ia memintaku untuk menjadi model rancangan baju terbarunya. Cho, apa kau lupa bahwa aku ini model?” tanya Yuri melembut.

 

KyuHyun menghela napas. “Aku antar kau.” Ucapnya sembari meredam amarahnya yang ingin meledak-ledak.

 

“Err… itu tidak usah. Aku sudah dijemput olehnya. Lagipula kau yang bilang sendiri bahwa kau sibuk. Err.. Sampai bertemu nanti.” Ucapnya buru-buru lalu nada sambunganpun terputus.

 

“Apa?! Ya! Kwon Yuri!” makinya kesal saat sambungan sudah terputus. “Aish!” kesalnya lagi sembari menggebrak meja pelan.

 

KyuHyun tersenyum miris mengingat salah satu moment dirinya dengan gadisnya itu.

“Cho….” Bisik seseorang ditelinganya, membuatnya membuka ke dua matanya dalam satu kali kedipan.

Apakah ia tengah bermimpi? Apakah ia hanya berhalusinasi saja? Terasa dekat, tetapi mengapa begitu jauh?

“Cho…”  panggil suara itu lagi. Ke dua matanya mencari-cari sumber suara itu hingga ke pelosok ruangan miliknya. Tetapi, tidak ada siapapun diruangan itu. Hanya ada benda-benda kantor dan dirinya sendiri.

“Cho…” panggil pemilik suara itu dengan lembut.

Sepertinya aku memang berhalusinasi lagi. Lupakan. Baiklah, aku akan pulang sekarang daripada keadaanku semakin memburuk..

***

Seorang gadis tengah membekap mulutnya dengan kuat-kuat agar tidak ada suara apapun yang akan keluar dari mulutnya. Gadis itu tengah menahan tangis yang ingin ia keluarkan daritadi.

“Nomor yang anda tuju, sedang sibuk. Silahkan tunggu beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan suara anda setelah bunyi beep berikut ini.” Ucap seorang wanita provider.

Aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Cho.

***

Sepasang mata membuatnya terganggu dalam tidurnya. Perlahan-lahan ia membuka ke dua matanya sembari mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali dan mendapati seorang laki-laki tengah menatapnya sembari ke dua tangan disisinya.

“Kris?” tanya Yuri tak percaya. Kris –laki-laki itu- hanya membalas dengan sebuah senyum yang mematikan.

“Sedang apa kau dikamarku?” tanya Yuri dingin lalu membenarkan posisinya untuk duduk di atas ranjang.

“Melihatmu.” Jawabnya santai dan ringan sembari menatap tajam ke arah Yuri.

“Cih, rayuanmu tak akan mempan padaku. Keluarlah, aku akan bersiap-siap lalu setelah itu kita pergi.” Ucap Yuri sembari menyelingkap selimut tebal miliknya.

“Kau yakin tidak ingin kembali ke Korea?” tanya Kris, yang membuat langkah Yuri berhenti seketika.

Yuri terdiam selama beberapa saat, menahan air mata yang mungkin akan keluar jika ia tidak bisa menahannya.

“KyuHyun mencarimu.” Ucapnya lagi, yang membuat Yuri semakin sakit mendengar nama laki-laki itu.

“Noona, apa kau mencintaiku?” goda Kris yang masih berada ditempat tidur Yuri.

“Lucu sekali.” ucap Yuri sembari tersenyum getir, lalu pergi menuju kamar mandi pribadinya.

Rindu? Tentu saja ia rindu kepada laki-laki itu. Tetapi, apa yang bisa ia perbuat sekarang?

***

Cho’s Music Company Paris

“KyungSoo-ya, ayo turun.” Pinta Yuri lembut kepada seorang bocah laki-laki dihadapannya kini.

“Eomma, kita akan kemana?” rengek manja bocah laki-laki itu.

Yuri tersenyum melihat anak laki-lakinya ini. “New York, tetapi sebelum pergi kita akan bertemu seseorang terlebih dahulu.”

“Siapa? Eomma, kapan kita akan bertemu dengan ayah?” tanya KyungSoo yang membuat senyum Yuri memudar seketika. Yuri terdiam, hanya bisa memaksakan sebuah senyum kecil diwajahnya.

“Suatu saat nanti. Ayo turun, apa kau tidak merindukan bibi SeoHyun?” tanya Yuri, mengalihkan perhatian dan mengingat tujuan utama diperusahaan elite ini untuk apa.

“Tentu! Aku sangat merindukan bibi Seo!” ucap KyungSoo antusias lalu menerima uluran tangan Yuri dan menggenggamnya kuat. Yuri tersenyum lalu menutup pintu mobil belakang tempat anaknya duduk. “Eomma, jika ayah sedang tidak disisi eomma, maka aku yang akan menjaga eomma.” Ucapnya dengan penuh semangat dan keyakinan kuat. Yuri hanya tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya itu.

“Tidak mungkin, paman Kris yang akan menjaga eomma-mu.” Sahut Kris tak mau kalah saat tengah berada disisi KyungSoo. KyungSoo menatap Kris sembari mencibir lalu tertawa sendiri.

“Ayo kita masuk, lalu kita pamitan dengan bibi Seo sebelum pergi.” Ajak Yuri sembari melangkahkan kakinya kepada anak tangga.

***

“KyungSoo-ya, eomma ingin pergi ke toilet sebentar. Kau baik-baik ya disini, bibi Seo segera kembali.” Pamit Yuri sebelum ia pergi meninggalkan anak semata wayangnya begitu saja. KyungSoo mengangguk mengerti sembari membuka majalah mode milik SeoHyun.

Yuri hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan anaknya sendirian dalam ruangan. Dalam majalah, KyungSoo memperhatikan gerak-gerik eommanya. Sebuah smirk tersungging diwajahnya, dengan buru-buru ia keluar dari ruangan itu.

Cho KyungSoo, anak jenius keturunan ayahnya itu tidak mungkin bisa diam saja melihat eommanya suka terlihat berdiam diri sembari menatap layar ponsel miliknya. Selama 1 tahun terakhir ini, ia telah menyelidiki siapa ayahnya, latar belakang keluarga ayahnya, dan apa saja kegiatan ayahnya saat ini. Tapi, yang tak pernah ia ketahui sampai saat ini, mengapa mereka terpisah?

Bukan hal mudah juga ia mengetahui tentang ayahnya, ia meminta Tuan Lee, asisten pribadi ibunya untuk menyelidiki diam-diam. Tidak, tidak, bahkan Tuan Lee tidak tahu siapa itu Tuan Cho, yang ia ketahui Tuan Cho itu adalah pemegang saham terbesar dan paling berpengaruh dalam perindustrian music Korea Selatan.

Ia, memang anak kecil yang berusia 7 tahun tetapi ia sangat jenius. Ia bahkan selalu mendapat nilai sempurna dalam setiap pelajarannya dan prestasi yang memuaskan.

KyungSoo mengendap-ngendap untuk keluar dari ruangan SeoHyun. Ia lalu pergi menuju lift dan menekan tombol paling akhir angkanya dalam gedung ini. Ia tahu harus kemana ia pergi, dan ibunya tidak boleh mencegahnya. Mungkin, ibunya melupakan suatu hal, dimana mereka berada sekarang.

***

KyungSoo memasuki sebuah ruang kerja yang megah dan mewah. Bau harum ruangan ini sangat familiar dihidungnya.

Tidak salah lagi! Ini ruang kerja appa! Batinnya gembira. Penjagaan disini terlalu longgar, Sekretaris bodoh sedang asik berbicara ditelepon sembari tersenyum malu-malu sendiri ditelepon itu tidak menyadari bahwa ia bisa masuk dengan mudah. Ia memperhatikan seluk-beluk ruang ini dengan takjub.

Benar-benar khas eomma. Rapih, bersih, harum, dan penataan ruangan ini ia yakin, bahwa ayahnyalah yang mengatur semua ini dengan begitu sempurna hanya seorang diri.

KyungSoo beralih ke meja kerja KyuHyun dengan tatapan kagum. Di atas meja kerjanya, terdapat sebuah foto pernikan mereka berdua. Senyum bahagia menghiasi wajah mereka berdua. Perlahan, KyungSoo ikut tersenyum melihat foto itu.

“Mereka begitu bahagia, tetapi kenapa kalian terpisah seperti ini?” ucapnya pada foto itu dengan sedih.

“Kau terlalu minum banyak, Kyu.” Ucap seorang wanita sembari membuka pintu kerja KyuHyun lalu membawanya masuk. KyuHyun hanya terkulai lemas dan mulai tak sadarkan diri.

“Le..pas..kan..!” titahnya tak karuan sembari mendorong tubuh Victoria menjauh darinya.

“Bisakah kau diam? Aku hanya ingin membantumu.” Kesal Victoria sembari menopang tubuh KyuHyun ke sofa.

KyungSoo yang melihat itu hanya bengong terdiam dengan mulut yang terbuka lebar.

“Sudah ku bilang, lupakan wanita itu!” kesal Victoria sembari merebahkan KyuHyun ke sofa.

“Diamlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Ucap KyuHyun dengan dingin.

“Apa kau ingin seperti ini terus? Apa kau ingin mabuk-mabukkan selamanya dan hidup sendiri selamanya hanya karena wanita itu, huh! Ya! Cho KyuHyun! Apa kau bodoh, huh? Dimana dirimu yang dulu yang tidak pernah mempercayai cinta? Dimana dirimu yang dulu saat mempermainkan hati wanita? Apakah hanya Kwon Yuri seorang kau berubah menjadi seperti ini? Tidakkah kau sadar bahwa kau telah dicampakkan oleh wanita jalang itu, huh!” tanya Victoria dengan kesal. Air matanya turun begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi. Ia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.

KyuHyun bangkit berdiri dalam satu kali gerakan, menatap tajam dan ingin membunuh. Ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Victoria. “Ku peringatkan kau untuk tidak menyebutnya seperti itu!” ancam KyuHyun dengan tegas.

Victoria menahan tangis yang mungkin akan semakin jadi nantinya. “Aku membencinya! Aku benci wanita itu karena telah membuatmu seperti ini!”

KyuHyun hanya diam menatap Victoria seperti itu. Detik berikutnya, terdengar suara tangis isak anak kecil membuat ke duanya tersadar dan menoleh ke asal sumber suara itu. KyuHyun dan Victoria menaikkan ke dua alis mereka dan sama-sama bingung.

KyuHyun dengan perasaan yang ia miliki membuatnya berjalan untuk mendekati anak kecil itu. Ia memeluk KyungSoo dengan penuh kasih selama beberapa saat hingga membuat tangisnya mereda. KyuHyun perlahan-lahan melepaskan pelukannya, lalu menatap lurus ke arah KyungSoo sembari tersenyum tulus.

“Siapa namamu?” tanya KyuHyun dengan ramah sembari menghapus sisa air mata di pelupuk matanya.

“Aku Cho KyungSoo.” Jawabnya sembari mengelap air matanya sendiri.

KyuHyun mengernyit tidak mengerti. “Namamu sama denganku.” Ucap KyuHyun lalu tertawa getir sendiri.

“Karena aku anakmu.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh.

KyuHyun terdiam menatap anak kecil itu. Anakku?

“Ibuku…”

“KyungSoo-ah!” panggil seseorang yang masuk ke dalam ruangan begitu saja. Semua mata tertuju kepada seorang laki-laki dengan tinggi menjulang. Ia lalu mendekati anak kecil itu dengan langkah panjang lalu menggendongnya.

“Paman?” panggil KyungSoo saat ia tengah digendong oleh Kris.

“Maaf, telah membuat keributan kecil disini.” Ucap Kris sembari terus berjalan menjauh.

“Paman, turunkan aku! Aku ingin bersama ayahku!” berontak KyungSoo sembari ingin menangis.

“KyungSoo diamlah. Ibumu telah menunggumu diluar. Jangan membuatnya khawatir, dan jangan melakukan ini lagi kepadanya.” Pinta Kris dengan nada suara yang aneh.

“Appa! Appa! Ibuku adalah Kwon Yuri! Tidakkah kau mengenalnya?” Teriak KyungSoo tak karuan sembari meronta-ronta untuk minta dilepaskan. KyuHyun terdiam, masih tidak mengerti pada apa yang terjadi.

Yu…ri?

Hatinya menyuruhnya untuk berlari ke luar dari ruang kerjanya. Entahlah apa yang ia pikirkan saat ini? Kakinya melangkah begitu saja untuk keluar dari ruangan ini.

Dengan sekecil harapan yang ia miliki. Ia berlari mencari seseorang yang ia cintai.

“Berhenti! Kau tidak boleh menemuinya!” teriak Kris lalu berlari mengejar KyuHyun yang lebih dulu di depannya. Dadanya mulai terasa sesak oleh hal-hal yang tidak ia inginkan.

“Yuri!” panggil KyuHyun sembari mencari-cari sosok seorang wanita yang ia cintai dari kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang. Dan dengan pasti ia memilih seorang wanita yang tengah membelakanginya, menatap keluar jendela kaca dengan gerak-gerik cemas.

Seorang wanita menoleh ke arah sumber suara tersebut dan dalam hitungan detik, ia telah berada dalam pelukan seseorang yang sangat familiar.

“Ketemu…” ucap KyuHyun bahagia sembari memenjamkan ke dua matanya dengan dalam. Senyum bahagia tersungging diwajahnya. KyuHyun mendekap erat wanita itu.

“C-cho?” tanya wanita itu takut-takut.

“Ya, ini aku, Yuri.” sahut KyuHyun, masih menikmati pelukannya.

“Cho, lepaskan.” Pinta Yuri.

KyuHyun terdiam. Ia tidak menyangka Yuri akan memperlakukannya seperti ini.

“Sa-sakit. Kau menginjak kakiku.” Omel Yuri padanya. Dalam sekali gerakan, KyuHyun melepaskan pelukannya lalu menatap ke bawah.

“Maaf, aku tidak tahu.” sesalnya lalu terduduk untuk melihat kaki Yuri.

“Tidak apa-apa. Sudahlah, bangun.” Ucap Yuri.

KyuHyun lalu berdiri dan menatap Yuri dengan tajam. “Ya! Kau kemana saja? Pergi tanpa memberiku kabar sama sekali.” omel KyuHyun mengingat Yuri pergi menghilang.

Yuri hanya tersenyum tipis mendengarnya lalu memeluk tubuh KyuHyun erat. KyuHyun hanya diam tanpa memberi respone sama sekali. Ia –KyuHyun- merasa marah dan kesal pada gadisnya karena telah pergi seenaknya begitu saja.

Yuri melepaskan pelukannya. “Cho, maafkan aku.” Sesalnya.

“Aku tidak butuh kata maaf darimu, Cho Yuri.” Ucap KyuHyun kesal.

Yuri menatap dalam-dalam ke arah KyuHyun.

“Eomma! Appa!” ucap KyungSoo yang masih digendong (?) Kris.

“Noona, ayo pergi.” Ajak Kris sembari menggenggam tangan Yuri saat telah berada disisi Yuri.

“Lepaskan tanganmu dari gadisku!” teriak KyuHyun yang dapat memekan telinga siapa saja.

Yuri menoleh ke arahnya. Begitupun juga dengan KyungSoo dan Kris. Dalam hitungan detik, tangan Yuri terlepas dari  Kris. KyuHyun mendelik tajam kepadanya lalu mengambil alih KyungSoo darinya. Yuri berjalan mendekati Kris untuk mencairkan suasana mungkin akan terjadi pertumpahan darah.

“Kris, kembalilah ke mobil lebih dulu. Aku akan berbicara dengan KyuHyun terlebih dahulu.”

Kris lalu menatap Yuri dengan lembut dan tegas, seakan-akan Yuri itu adalah mangsanya yang tidak boleh lepas. “Aku akan menunggumu dimobil. Cepatlah kembali.” Ucapnya.

Yuri mengangguk pelan.

“Tidak perlu. Dia tidak akan datang.” Tegas KyuHyun sembari menarik Yuri ke dalam dekapannya.

Kris menatap KyuHyun dengan tatapan ingin membunuh atau mungkin akan benar-benar membunuhnya jika saja Yuri tidak memohon kepadanya.

“Kris, ku mohon.”

Kris menatap sekilas lalu membalikkan tubuhnya dan pergi menuju parkiran mobil dimana mobilnya diparkirkan.

Yuri menatap KyungSoo lembut lalu menggendongnya. “Ya, bukankah eomma sudah bilang jangan pergi kemanapun?” omel Yuri dengan lembut.

“Maafkan aku eomma.” Sesalnya.

Yuri hanya tersenyum lembut menatapnya. Ia lalu menatap KyuHyun. “Cho, aku harus pergi.” Pamit Yuri dengan air mata yang tertahan.

KyuHyun mendelik tajam ke arahnya.

“Cho, aku memiliki pekerjaan disana.” Jelasnya, lalu membalikkan tubuhnya.

“Aku bilang tidak boleh pergi.” Tegasnya marah, lalu menarik lengan Yuri untuk mengikutinya.

“Cho, lepaskan!”

Tetapi, sepertinya KyuHyun tidak akan mendengarkan Yuri lagi untuk saat ini.

***

KyuHyun membawa mereka ke sebuah rumah yang sangat familiar bagi Yuri. Rindu? Sangat. Itulah perasaan Yuri saat ini.

KyungSoo sudah tertidur dari perjalan menuju kesini dan ia sudah berada dikamarnya sendiri yang telah disiapkan saat mereka menikah dulu.

KyuHyun melumat habis bibir Yuri dengan sedikit kasar saat telah berada dikamar pribadi mereka. Ia merebahkan tubuh Yuri diranjang mereka. Yuri beberapa kali memberontak untuk tidak melakukan hubungan yang lebih intim lagi. Tetapi, KyuHyun bersikukuh untuk membuat gadisnya menerima hukuman darinya.

“Cho, hentikan….” Pinta Yuri saat KyuHyun tengah melumat lehernya.

“Jelaskan kenapa kau pergi begitu saja selama tujuh tahun ini.” Titahnya sembari melanjutkan kegiatannya.

“Hentikan dulu.” Pinta Yuri lagi. KyuHyun menyerah, ia lalu berbaring disamping Yuri. Terpaksa ia harus menghentikan napsunya itu, atau ia tidak akan pernah tahu alasan Yuri melakukan hal itu padanya.

Yuri-pun memilih duduk untuk lebih leluasa lagi menjelaskan kejadian yang sebenarnya. “Cho, kau tahu? Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan.” Jelas Yuri sembari tersenyum getir dan menghapus air matanya saat ia mengingat kejadian 7 tahun yang lalu.

“Waktu itu, aku seharusnya menikah dengan Siwon. Bukan kau.” Yuri tersenyum miris lagi. “Tetapi, karena suatu kesalahan dari pendeta itu sendiri karena terlalu kecil suaranya dan kesalahan tempat, kau-lah yang menikah denganku bukan Siwon. Seharusnya kau menikah dengan Victoria, bukan aku. Tapi, entah bagaimana kita bisa salah tempat waktu itu, maka kitalah yang menikah. Dan saat, sumpah suci itu telah selesai dan kita telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Barulah kita tau  bahwa ini salah. Kau tahu? Orangtuaku tidak setuju dengan pernikahan ini, tetapi mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.

Jadi, mereka memintaku untuk pergi meninggalkanmu secara diam-diam. Siwon sudah melepaskanku, tetapi Kris, adik sepupu Siwon tidak bisa menerima kenyataan ini begitu saja. Maka dari itu, ia selalu mengikuti dan mengawasi setiap gerak-gerikku. Dan, mungkin setelah ini, aku harus pergi darimu lagi.” ucap Yuri, air matanya keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan sama sekali.

KyuHyun mendekati Yuri lalu memeluknya erat. “Kenapa kau tidak berterus terang padaku?”

“Bodoh, jika aku berterus-terang padamu, tidakkah itu lebih menyakitimu?” tanya Yuri dalam tangisnya.

“Bukankah sama saja? Seandainya saja kau memberitahuku dari awal, itu akan lebih mudah dan cepat terselesaikan dari awal tanpa kau harus pergi meninggalkankukan?”

“Tapi, bagaimana jika kau lebih memilih berpisah dariku?”

“Bukan aku. Aku tidak mungkin memilih pilihan bodoh seperti itu. Bukankah kau yang lebih dulu memilih pergi dariku?”

“Berpisah denganmu… aku tidak berani membayangkannya. Aku takut, kau dengan mudahnya pergi dariku dan menemukan wanita lain selain aku.”

“Ya, Cho Yuri. Pikiranmu sempit sekali.” kesal KyuHyun. “Kau tahu? Selama kau tidak berada disisiku, aku ingin mati rasanya jika saja aku benar-benar kehilangan dirimu. Kau pergi tanpa kabar sama sekali. Dan, yang paling menyakitiku adalah ketika kau mengandung anak kita sedangkan aku sedang tidak berada disisimu. Bahkan, ketika kau melahirkan KyungSoo sekalipun aku tidak ada.” Ucapnya dengan penuh penyesalan.

“Maaf, kalau soal itu aku sengaja merahasiakannya darimu. Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah untuk tetap tinggal disisiku ataupun KyungSoo. Aku ingin kau selalu berada disisiku dan disisi KyungSoo dengan keinginanmu sendiri, Cho. Tapi, aku selalu meneleponmu.” Ucap Yuri. KyuHyun melepaskan pelukannya lalu menatap Yuri dengan kening yang berkerut. “Kau selalu menjawabnya dengan dingin ketika aku meneleponmu.”

“Tidak ada sama sekali panggilan darimu.”

“Nomor asing, aku menggunakan nomor Paris untuk meneleponmu.”

“Jadi, itu kau? Ya! Kenapa kau hanya diam saja tanpa berkata sedikitpun?” omelnya.

“Err… itu… lupakan.” Ucap Yuri dengan wajah yang mulai memerah. Ia lalu membaringkan dirinya dan menutupi seluruh dirinya di dalam selimut putih tebal.

“Ya! Cho Yuri, kau harus memberitahuku.” Pinta KyuHyun sembari membuka selimut yang Yuri kenakan.

“Tidak mau~” tolaknya malu sembari berusaha mempertahankan selimutnya.

“Ayo beritahu aku dulu, kalau tidak, kau akan ku cium.” Ancam KyuHyun sembari tertawa geli sendiri.

“Mana ada ancaman seperti itu?” tanya Yuri dalam selimut.

“Tentu saja ada. Tidak mau memberitahuku? Baiklah, selama empat hari ini aku tidak akan melepaskanmu dari ranjang begitu saja.” ancam KyuHyun lagi dengan smirk yang menghiasi wajahnya.

“Ah! baiklah, baiklah, aku akan memberitahumu.” Ucap Yuri saat telah membuka selimutnya. “Er.. Itu karena… aku sangat merindukanmu.” ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.

KyuHyun tersenyum puas mendengar jawaban dari Yuri. Ia lalu menarik selimut yang menutupi wajah Yuri. “Baiklah, selama empat hari kau harus berada diranjang.” Putusnya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah wanita yang ia cintai itu dengan tatapan evil miliknya.

“Apa?!” kaget Yuri. Ia ingin memprotes, tetapi terlambat. Bibir KyuHyun lebih dulu mendarat dibibirnya. Yuri membalas ciuman KyuHyun dengan lembut sembari mengalungkan ke dua tangannya dileher laki-laki itu.

Dari celah pintu yang terbuka sedikit, KyungSoo melihat ayah dan ibunya tengah kembali bersama seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Tentu saja, ia tidak benar-benar tertidur seutuhnya. Ia hanya berpura-pura tidur agar ayah dan ibunya bisa berbicara sepuasnya di dalam mobil tanpa merasa terganggu sama sekali. Dan, rencanya telah berhasil.

“Tuhan, jangan pisahkan mereka lagi. Dan terimakasih atas kesalahan yang kau beri kepada mereka hingga mereka seperti ini. Amin.” doanya kepada Tuhan dengan tulus.

***

Seorang laki-laki keluar dari mobilnya. Ia menatap pemandangan sungai Han dengan tatapan puas. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencari-cari kontak telepon dan menghubunginya. Nada sambung pertama terdengar yang diikuti suara sapaan dari sebrang sana.

“Ah, paman, ini aku.” Ucapnya.

“Bagaimana? Apa mereka baik-baik saja?” sahut laki-laki separuh baya disebrang sana.

“Tentu, mereka telah bertemu dan bersama kembali.” Ucap Kris –laki-laki itu- dengan puas.

“Benarkah? Hahaha… Syukurlah kalau begitu. Harus selama ini mereka baru bersama lagi. Kau tahu? Aku merasa sedikit bersalah pada Yuri, tetapi aku ingin melihat apakah KyuHyun itu adalah laki-laki yang tepat untuk putriku atau tidak? Dan, yah, ternyata dia benar-benar mencintai Yuri dengan sepenuh hati. Hahaha… Dan, kau sendiri? Apa kau sudah mulai jatuh cinta pada anakku?” goda Tuan Kwon dengan senyum jail yang tersungging diwajahnya.

Kris tersenyum getir. Selama 7 tahun terakhir ini, selalu diisi oleh Yuri dan KyungSoo tetapi, untuk hari ini dan mungkin selanjutnya hidupnya akan hampa. Ia tidak mungkin merasa bahagia lagi tanpa seseorang yang mulai cintai disisinya. “Tentu, memangnya laki-laki mana yang akan kuat terhadap pesona anakmu itu paman.” Jawabnya sembari menerawang jauh. Menerawang dang mengingat-ingat senyum khas dari seorang Kwon Yuri.

“Tentu saja, tidak ada yang bisa.” Setuju Tuan Kwon lalu tertawa sendiri. “Kau harus menemukan yang lain. Maaf, telah membuatmu susah selama beberapa waktu ini dan terima kasih telah membantu menjaga putriku.”

“Ya, apa yang paman bicarakan? Kita ini sudah seperti saudara walau Yuri noona dan Siwon hyung tidak jadi menikah.” Protes Kris sambil tersenyum sendiri.

“Baiklah, baiklah, kau juga sudah ku anggap sebagai anakku juga. Hahaha… Baiklah, teleponnya ku tutup dulu, lain waktu baru kita sambung lagi.” putus Tuan Kwon yang dibalas kata “hm” dari Kris dan sambunganpun terputus.

Ia menyenderkan punggungnya dipintu mobil kemudi sembari menatap aliran deras sungai Han.

Yuri noona, selamanya kau tidak akan pernah tahu bahwa aku telah mencintaimu selama waktu kita bersama. Tetapi aku bahagia, setidaknya itu yang kau rasakan saat ini.

Noona, kau harus berjanji padaku. Kau harus bahagia selamanya. Janji? Batin Kris sembari tersenyum tulus, seakan-akan Yuri ada di depannya sembari tersenyum lembut padannya.

Aku anggap, kau mengiyakan janji itu. Batinnya sembari menghapus air mata yang tertahan dipelupuk matanya.

Berbahagialah kau, orang yang ku cintai.

========================== THE END ==========================

35 thoughts on “Love Two Us

  1. Ending yang diluar berkiraan sekari ..
    Awal baca sempet bingung sih, apa coba nyambungnya sama Bring It Back, tapi begitu menjelang ending baru ngeh apa nyambungnya😀

    Ceritanya lebih berat dan lebih touching daripada yang BIB, jadi sangat menarik!😀
    WELL DONE😀

  2. Keren..🙂
    Sudah lama tidak baca FF KyuRi di sini🙂
    Gaya bahasa dan alur yang dipakai di FF ini aku suka soalnya tidak biasa dan konfliknya pun juga ditulis secara jelas dan tidak bertele-tele..

    Oh ya The Fourth Boys Before Flower kapan dilanjut? atau Together? Trims🙂

  3. Paraaaaah!! Eonni! kemana saja kamu hiatus lama banget gak ada kabar! gak ada ff baru! huaaaa~ kangen sama tulisanmu. dan untuk menebus itu(?) eonni telah membuat ff daebak ini. hehe. terimakasih. biarpun masih ada typo menghias, tapi tetep keren. good! good! jangan menghilang lagi ya😀

  4. Annyeong author. Reader baru nih,
    Cerita nya bagus, tp agak bingung dikit. Mgkn klo aq uda bc bring it back bru nyambung Ÿªaãª
    Aq bc dulu y

  5. annyeonghaseyo ^^
    aisah imnida
    18 y.o
    bangapseumnida ^^

    whoaaaaaaaaaaaaaa akhir’a ktmu jga ff kyuri couple…
    ff’a daebak bhsa’a krennnnnn..
    aq tmggu ff lain’a ^^

  6. ceritanya mengharukan kukira yuri dan kyu masih berpacaran ternyata udah menikah. daebak ceritanya yura. aku suka

  7. OMO speechless deh nih thor sequelnya keren bgt!! tapi sedikit kasian sama si kris,dan masih bingung sama nasib si siwon jadi dia nikah sama si victoria dong ya? ok ditunggu karya ff yg lainnya ya thor keep writing and fighting!!

  8. Ak sbner.a udah prnah bca cerita ini, py bru tau kalo ini sekuel dri bring it back. Haha. Kalo jodoh gak kmana.

  9. KyuRi bersatu lg . Trnyata crta’x bgtu?
    Hrus’x YulWon & KyuToria yg nikah . Bt slhfokus eh , slh t4 . Hha~ emng udh jodoh & takdir .
    Liat ajah , pisah ky’ gmnapun ujung”x ktmu lg🙂
    Aigoo~ Kyungsoo kyeopta! Anak pintar .. Ehh~ ituh poor Kris😦 sabar yaa .. /pukpuk/
    Sllu menyenangkan🙂 pkok’x sllu smangat & sllu bersinar dgn karya”mu yaa , Yura .. Hwaiting!!

  10. ceritanya keren, pertama baca agak bingung sih tapi pas ending2 jadi mengerti,,
    akhirnya kyuri bersatu ceritanya bagus banget 😀

  11. Kyuhyun dmana? Kok tiba2 yuri d gdung kyuhyun kan dy d paris nd lg apa jga dstu? Anak merek jga tau tu gdun punya siapa. Alur terlalu cepet th0r.

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s