The Truth Behind


The Truth Behind

The Truth Behind

[The True Story of “Because It’s You]

Main Cast : Cho KyuHyun

Kwon Yuri

Choi MinHo

Support Cast : SNSD, SJ, EXO, Shinee members

PG: 17+

Art: Kwon Yura.

Pov: Yuri side’s

Disclaimer : They belong to God. All of this story is my Mine, Own, and Pure of Me. So, please, don’t copy-paste / plagiat / take-out!

I don’t ever give you my permission.

Respect me as you like them.

Thank You .

If it the better for we us, i think is okay althought i get hurt then.” –Kwon Yura.

Listening : KyuHyun – Love Again

Davichi – Because It’s You

Huh Gak – One Person

Zhang LiYing ft Junsu – Timeless

As One – Do Should I Have To Say Sorry

Emilia – Big Big World

All rights reserved to ©Kwon Yura 2013.

Aku tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta dengan seseorang lagi. Cukup dia. Dan hanya dia saja yang aku cintai. Terlihat sedikit munafikkah? Tsk, aku bahkan tidak peduli jika dibilang seperti itu. Bagiku, itu tak penting sama sekali. Apa jawabanku terlihat lucu? Aku rasa tidak.

Musim dingin telah tiba. Aku merapatkan mantel berwarna putih yang tengah ku kenakan. Setiap hembusan napasku yang keluar, terlihat uap mengepul di udara malam kota Seoul. Aku tahu, seharusnya aku tak keluar malam-malam sepert ini. Apalagi saat ini tengah memasuki cuaca dingin, dan itu membuatku merasakan dingin yang luar biasa menusuk kulit hingga tulangku.

Aku mencoba menghangatkan tanganku. “Dingin sekali.” Ucapku pelan sembari terus menggesek-gesekkan ke dua tangan.

“Yuri?” panggil seseorang yang familiar ditelingaku. Aku menoleh dan mendapati Siwon berada dibelakangku. Seulas senyum tersungging diwajahku saat melihat lelaki ini.

“Siwon-ah.” Sapaku padanya. Ia lalu menjajari langkahnya denganku.

“Ada apa malam-malam begini kau datang kemari?” tanyanya.

“Hm, seperti biasa, aku tidak bisa tidur dan aku rasa akan lebih baik jika aku datang kemari untuk datang latihan.”

“Benarkah? Apa kau tidak merasa lelah?” tanyanya sembari menatapku dengan kagum.

“Tidak. Aku mungkin akan merasa puas setelah itu.”

“Cukup menarik. Dan kau tak berubah sedikitpun.” Ucapnya sembari menatapku dengan senyum memukau miliknya. Aku berani bertaruh, dalam hitungan detik para wanita akan jatuh hati padanya dan mungkin termasuk diriku.

Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyum gugup. Karena jujur, aku memang terpesona dengan laki-laki ini. Tetapi tidak tahu harus melakukan apa selain bersikap ramah padanya.

Well, bagaimana hubunganmu dengan KyuHyun? Ku dengar kau telah menjadi kekasihnya tiga minggu yang lalu.”

Benar, aku telah menjadi kekasih resmi seorang Cho KyuHyun semenjak tiga minggu yang lalu. Entah apakah ini mimpi atau tidak? Tetapi, aku sungguh merasa bahagia menjadi kekasihnya seorang.

“Hm, baik.” Ucapku sedikit malas menjawabnya. Perasaan sesak perlahan-lahan menghampiri diriku. Aku mengepalkan ke dua tanganku di ke dua sisi. Aku baru menyadari satu hal belakangan terakhir ini yang menggangu pikiranku, ia sulit dihubungi. Aku tidak tahu alasan pastinya apa, aku hanya mencoba untuk percaya padanya.

“Matamu berkata lain.” Ucapnya sembari menatapku lembut.

“Benarkah?” tanyaku. “Tidak juga.” Tambahku sebelum ia berbicara lebih banyak lagi. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin ada yang mengetahui isi hatiku saat ini.

Kami memasuki lift, ia mempersilahkanku lebih dulu untuk masuk. Ia menekan angka 4, tempat ruang latihan SMEnt. berada.

“Siwon-ah, apa yang ingin kau lakukan malam-malam begini?” tanyaku padanya. Ia menoleh ke arahku sembari menatapku dengan tatapan berbeda kemudian mendorong tubuhku ke dinding lift dalam hitungan detik. Sebelum kepala ku terantuk dinding lift, salah satu tangannya ia selipkan dikepala bagian belakangku, membuatku terkejut dan bingung. Semua ini terjadi dalam hitungan detik. Wajahnya mendekati wajahku. Sepertinya ia tidak sedang dalam pikirannya saat ini.

Bibirnya mendekati telingaku dan mulai membisikkan sesuatu dengan sangat pelan. “Kau harus berhati-hati dengan pria yang ada disekelilingmu, karena mungkin saja pria itu akan berbuat diluar dugaanmu. Aku tidak tahu apakah aku bisa menolongmu saat itu atau tidak, tetapi jagalah dirimu baik-baik.” Ucapnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, ia pergi begitu saja tanpa memedulikanku yang diam mematung.

A-apa?

“Siwon!” panggilku kesal sembari berlari kecil mengejarnya. “Apa maksud ucapanmu barusan?” tanyaku ketika telah berada disampingnya.

“Kau perlu melihat sekelilingmu dan berpikir, Yuri-ssi. Seseorang dari masa lalumu pasti tidak akan tinggal diam mengetahui ini semua.” Jelasnya sembari menatapku sekilas lalu melihat ke arah lain sambil berjalan.

“A-pa? Seseorang dari masa lalu?” ulangku sembari berpikir keras untuk mengingat-ingatnya. Seseorang dari masa lalu katanya? Aish, apa maksud ucapannya? Apa ia hanya ingin mengerjaiku? Aku melirik Siwon sekali lagi yang saat ini tengah memasang wajah serius.

“Sepertinya nanti aku yang akan menjadi super hero untukmu.” Ucap Siwon pelan yang dapat ku dengar dengan bangga sembari menepuk-nepuk dada bidangnya. Keningku mengernyit, mulutku terbuka, ingin memprotes kata-katanya barusan.

Super hero? Lucu sekali.

“Siwon-ah…” ucapanku terpotong karena sebuah suara membuatku berhenti bernapas selama beberapa saat.

“Yul?” panggilnya pelan, yang dapat ku tangkap oleh indra pendengaranku. Ya Tuhan. Aku menoleh dan mendapati seseorang yang sangat familiar untukku, KyuHyun.

“KyuHyun?” panggilku balik sembari mendekatinya dengan seulas senyum tipis diwajahku. Tidak, tidak, tidak, bukan karena aku tidak senang tetapi aku sedang membuat benteng pertahanan saat ini. Aku selalu melakukannya saat sedang bersamanya. Aku memeluk tubuhnya erat yang dibalas olehnya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyanya sembari mengakhiri pelukanku. Ia menatapku lembut dan penuh kasih.

“Aku ingin latihan menari.” Jawabku singkat.

“Malam-malam begini?” tanyanya sedikit terkejut. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban mengiyakan. “Tidak boleh, ini sudah pukul sebelas malam nona Kwon. Ayo pulang!” ucapnya sembari menggenggam salah satu tanganku. Aku menggeleng untuk menolaknya.

“Yaa! Kau kira aku akan membiarkan gadisku menjadi sakit hanya karena latihan menari?” tanyanya sembari menatapku tajam.

Aku menatapnya dengan bingung. Apakah saat ini ia sedang marah padaku? “Tapi aku akan baik-baik saja.” Kukuhku pada pendirianku.

KyuHyun menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak boleh.” Putusnya lagi lalu menarik pelan tanganku untuk mengikutinya. “Siwon-ssi, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya pada Siwon, sepertinya ia baru menyadari kehadiran Siwon disini. Apa ia tidak melihat bahwa Siwon datang bersamaku tadi?

“Menemui seseorang.” Jawabnya singkat sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Ia lalu menatapku. Aku hanya membalas tatapannya dengan kening berkerut.

KyuHyun menoleh ke arahku dan menatapku sesaat yang ku balas dengan kening berkerut. Apa?

“Ayo pulang.” Ajaknya lagi sembari berjalan lebih dulu dariku. Aku menahan diriku untuk tidak tertarik dengannya. Ia berhenti melangkah lalu menoleh ke arahku. Aku menggeleng pelan, menolak ajakannya.

“Kau istirahatlah, aku masih ingin disini.” Tolakku lembut sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Ia menatapku kesal. “Aku akan pulang nanti.” Tambahku padanya.

“Siapa nanti yang akan mengantarmu?” tanyanya dingin.

“Eh, itu.. a-aku…”

“Aku yang akan mengantarnya pulang nanti.” Sela Siwon sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

Aku menoleh ke arah Siwon dengan tatapan tidak mengerti. “Eh?” Aku menatap KyuHyun yang saat ini tengah menatapnya dingin.

“Tidak perlu, ia bisa pulang sendiri.” Ucap KyuHyun dingin, ia lalu menatapku. “Aku pulang dulu.” Pamitnya sembari menarik pelan tanganku hingga jatuh ke dalam pelukannya. Aku terdiam selama beberapa saat karena ia melakukan ini dengan begitu cepat. KyuHyun memelukku dengan erat yang ku balas dengan pelukan balik dariku. Ia menyudahi pelukannya. “Mana ciuman selamat malam untukku?” tanyanya sembari menyunggingkan smirk miliknya.

Aku sedikit terkejut mendengarnya, jadi aku hanya tertawa tak percaya mendengar perkataannya barusan. “Mwoya?” tanyaku disela tawaku.

“Ciuman selamat tidur.” Jelasnya sembari sedikit menuntut.

“Ya ampun, sini kemarilah.” Ucapku padanya sembari sedikit merentangkan ke dua tanganku. Ia kemudian datang mendekatiku. Aku memeluknya dan sedikit berjinjit untuk menggapai pipinya. Aku mencium salah satu pipinya dengan mata terpenjam dan penuh kasih. Bagaimanapun aku sangat menyayangi pria ini. Apakah ia menyadari perasaanku ini?

“Yaa!” protesnya sembari menatapku kesal begitu aku telah selesai mencium pipinya.

Baik, aku sudah tau ia akan protes untuk hal ini.

“Mwoya?” tanyaku polos padanya.

“Bibir bukan pipi.” Ucapnya sembari cemberut padaku. Astaga, laki-laki ini benar-benar membuatku gemas. “Ulangi lagi.” Putusnya sendiri.

“Lagi?” tanyaku tak percaya padanya.

“Tentu saja.” Jawabnya dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya. Ya Tuhan, apakah laki-laki ini ingin membunuhku dengan perlahan-lahan?

“Ehem!” deham seseorang membuatku teringat bahwa kami tidak sedang berdua. “Sepertinya aku lebih baik pergi. Sampai bertemu lagi.” Pamit Siwon lalu pergi begitu saja. Aku hanya menatap punggungnya dengan tatapan tak mengerti. Kenapa ia seperti itu?

“Pengganggu sudah pergi, jadi kau bebas menciumku.” Ucapnya dengan senang yang membuatku sedikit kaget mendengarnya. Pengganggu? Bebas menciumnya? A-apa? Bebas menciumnya?

“Lama.” Ucapnya lagi yang semakin membuatku tak mengerti. Ia lalu mendekatiku dan memojokkanku di dinding bangunan gedung SMEnt. ini. Aku menatapnya dengan kening berkerut. Apa yang ingin ia lakukan padaku?

Aku terbius olehnya. KyuHyun mendekatkan wajahnya padaku perlahan-lahan sembari menatapku lekat-lekat hingga hidung kami saling bertemu. Ya Tuhan, bisa beri tahu aku bagaimana caranya bernapas? Sungguh, aku lupa bagaimana caranya untuk saat ini. Ya Tuhan.. Ia mengunci seluruh pandangan dan perhatianku hanya tertuju padanya. Aku seperti terbius oleh tatapan matanya yang lembut. Ia memenjamkan ke dua matanya perlahan-lahan yang membuatku mengikutinya tanpa sadar. Aku dapat merasakan bibirnya menyentuh bibirku lalu melumatnya dengan pelan dan lembut. Membuatku larut dalam ciumannya selama beberapa saat.

Cho KyuHyun…

Karena pria ini, aku benar-benar selalu merasakan desir-desir aneh setiap di dekatnya.

Karena pria ini, aku benar-benar tidak bisa menghentikan rasa senang saat berada di dekatnya.

Karena pria ini, aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya dalam setiap hembusan napasku.

Karena pria ini, aku selalu terbius olehnya.

Karena pria ini, aku selalu ingin menjadi orang yang pertama untuknya.

Karena pria ini, aku selalu melakukan tindakan bodoh tanpa sadar.

Karena pria ini, aku selalu berpikir tentangnya.

Karena pria ini, hari-hariku terasa jauh lebih baik.

Karena pria ini, hatiku menjadi jauh lebih hangat.

Karena pria ini, aku ingin melindunginya dengan kemampuanku.

Terkadang aku pernah berpikir,  a day without you like a day without sunshine.

 

Karena Cho KyuHyun seorang… aku merasakan hal yang telah lama ku lupakan.

“Apa kau hanya akan diam saja?” tanyanya pelan disela-sela ciumannya lalu melumat kembali bibirku. Tersadar bahwa aku tidak membalas ciumannya stelah ia menciumku beberapa kali, aku mulai membalas ciumannya sembari melingkarkan ke dua tanganku dipinggangnya.

Ciuman kami berlangsung begitu lama, lembut, dan pelan. Aku menyukainya. Aku menyukai cara KyuHyun yang memperlakukanku. Hangat dan tenang.

KyuHyun mengakhiri ciuman kami. Ia lalu menatap ke dua mataku dengan lembut. “Aku pergi dan kau cepatlah pulang.” Ucapnya lembut. Aku hanya membalas ucapannya dengan anggukan kecil. Sebelum ia berbalik badan, ia tersenyum lembut padaku.

Aku hanya menatap punggungnya dengan tatapan tak rela. Hari ini kami baru bertemu satu kali yaitu hanya saat ini saja. Ia mengirimiku pesan sebanyak 3 kali. Entahlah ia sibuk atau apa? Aku hanya mencoba memahami keadaannya saja. Aku kembali melangkahkan ke dua kakiku ke dalam ruang tari dan memulai latihanku untuk gerakan terbaru.

***

Mataku masih mengantuk dan sulit sekali untuk dibuka. Sepertinya aku benar-benar butuh istirahat sedikit lagi.

Girls! Ayo kita lakukan yang terbaik!” suara pelatih khusus grupku membuatku menatapnya.

SONE.

Entah mengapa hanya kata itu saja yang terlihat dibenakku, membuatku merasa bangkit dan memiliki energi kembali. Aku membuka ke dua mataku dengan lebar dan mencoba memfokuskan pikiranku untuk latihan.

Suara lagu terbaru kami terdengar. Flower Power. Pelatih itu langsung memberi aba-aba gerakan tari untuk kami ikuti.

Kwon Yuri fighting!

Bagaimanapun aku sangat menyayangi mereka.

SONE, terima kasih untuk cinta kalian kepada kami. Kami semua akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Jadi, tunggu dan lihatlah kami untuk penampilan-penampilan berikutnya!

***

Aku menatap KyuHyun dengan tatapan sedih saat aku berada diluar ruangan tari bersama Siwon. Ia tidak menyapaku sama sekali saat ia berjalan melewatiku dan Siwon. Apa ia sedang teburu-buru? Apa ia tidak bisa melihatku walau hanya sekali saja? Apa ia tidak bisa menyapaku walau dengan kata ‘hai’ saja? Ya Tuhan… Aku menundukkan kepalaku, memenjamkan ke dua mataku, dan menghela napas dalam.

“KyuHyun sepertinya tidak melihatmu.” Ucap Siwon, mencoba menghiburku. Aku mengangkat kepalaku lalu menatapnya.

“Sudahlah, mungkin ia terburu-buru saat ini. Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku. Anyway, what are you want talking about? I don’t have many time, Won-ah.” Ucapku, teringat perkataan Siwon yang ia ingin membicarakan sesuatu padaku.

“Ikutlah pergi denganku ke Jepang.” Ucapnya sembari menatap lurus ke arahku.

Apa? Jepang? Untuk apa?

“Kau  sedang bercanda? Untuk apa aku pergi denganmu?” tanyaku tertawa pelan untuk menghilangkan ketegangan diantara kami.

“Aku serius, Kwon Yuri. Ok, ini mungkin terlihat lucu dan terlalu tiba-tiba untukmu, tapi kau harus tau satu hal, MinHo tidak mungkin tinggal diam saat ia mengetahui kau telah memiliki ke kasih lain.” Jelasnya.

Mataku membulat kaget. Seseorang yang tidak ingin ku temui, bahkan namanyapun tidak ingin ku dengar, saat ini tengah terlibat dalam pembicaraan kami.

“Aku tahu kalian memiliki hubungan sebelumnya.” Tambahnya sembari menghela napas dalam dan mata terpenjam. “Walau kalian menutupinya, aku tahu dengan baik kalian menjalin hubungan. Dan, aku tahu dengan baik penyebab kalian mengakhiri hubungan kalian. Jadi, biarkan aku menolongmu.” Lanjutnya.

Oh, ayolah, aku tidak suka pembicaraan ini.

“Aku tidak bisa. Terima kasih kau telah ingin menolongku sunbae, tapi aku benar-benar akan baik-baik saja.” Tolakku halus sembari memenjamkan ke dua mataku, menahan air mata yang ingin jatuh.

“Yuri, aku mohon, kali ini saja kau membiarkanku melindungimu.” Ucapnya lembut dan sabar sembari menyentuh lenganku.

“Andwaeyo…” tolakku lagi.

“Kalau begitu…” ucap Siwon memberi jeda ucapannya. Aku masih memejamkan ke dua mataku, menahan perasaan yang mulai tak menentu. Terdengar suara helaan napas panjang dari Siwon, perlahan-lahan aku membuka ke dua mataku. “kau harus mengakhiri hubunganmu dengan KyuHyun.” Lanjutnya dengan pelan.

Aku menatapnya dengan tidak percaya. A-apa? Semudah itu yang ia katakan padaku? Oh look, why he is do it for me? Aku menatap tajam ke arah Siwon. “Aku tidak bisa.” Ucapku dingin lalu pergi begitu saja  meninggalkan Siwon yang masih diam melihat ke pergianku.

Jika benar MinHo kembali ke Korea setelah SHINee menyelesaikan pekerjaannya di Jepang, aku akan menghadapinya. Karena hubungan kami telah berakhir dari 3 tahun yang lalu. Jadi, untuk apa dikhawatirkan? Toh, ia sudah memiliki gadis lain. Dan lagi, ini bukan sesuatu yang dikhawatirkan sama sekali.

Aku berjalan ke lokerku, ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal. Aku membuka pintu loker dan mendapati sepucuk kertas berwarna kuning berada di atas tumpukan buku-bukuku. Aku menghela napas dalam-dalam. Lalu mengambilnya dengan ragu dan takut.

Hei my princess, I’m back. Are you shock with it? I’ll find you and got you back again, Kwon Yuri. See and wait, I’ll ruin live your boyfriend soon. Is it funny? Haha

 

Fr: Your Prince

 

Aku membuang kertas tak jelas itu dengan cuek ke sembarang tempat. I’m not you princes Sir, I think you’re wrong person. Aku mengambil tasku lalu pergi.

***

“Noona!” panggil seseorang, aku menoleh dan mendapati Kris berlari ke arahku saat aku tengah berada ditempat parkir.

“Wae?” tanyaku saat Kris telah berada di depanku.

“Apa kau sibuk dan terburu-buru? Seluruh anggota a keluarga SMEnt. diundang untuk merayakan keberhasilan SHINee di Jepang, dan kau diundang khusus oleh…nya.” Jawabnya sembari menatap ke arah lain. Aku mengikuti tatapannya, dan benar saja. MinHo tengah berjalan ke arahku. Aku menggeleng pelan lalu menatap Kris lagi.

Sudah datang rupanya, huh? Cepat juga.

“Beritahu padanya aku sedang terburu-buru. Terima kasih.” Ucapku cuek lalu berjalan cepat menghampiri mobil pribadiku, memasukinya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi sebelum MinHo berhasil mencegahku.

Untuk saat ini aku butuh ketenangan sebelum menghadapi pria itu lagi.

Aku dapat melihat raut wajah MinHo yang berubah seketika menjadi kesal, ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapan tombol. Aku tersenyum sinis melihatnya, beberapa detik berikutnya ia terlihat mengumpat kesal menatap layar ponselnya. Selanjutnya, aku tidak tahu lagi apa yang ia lakukan karena mobilku telah keluar dari area bangunan gedung SM.

Look? I’m the winner, Choi MinHo. Actually, I have many number and you don’t know it because I’m always change.

***

Ponselku berdering saat aku tengah mengemudikan mobil tanpa tahu arah tujuan. Aku memasangkan earphone ke telingaku dan menekan tombol.

“Yeoboseyo?” sapaku tanpa melihat siapa yang menghubungiku.

“Hentikan sikapmu yang seperti itu. Ayo, kita bertemu.” Pintanya dengan dingin.

Aku menghela napas dalam saat menyadari siapa yang menghubungiku saat ini. “Tidak mau. Hentikan. Jangan buat aku semakin membencimu.”

“Kalau begitu, akhirilah hubunganmu dengan pria itu. Ia tidak pantas untukmu.” Pintanya dengan lirih.

“A-apa? Huh. Kau selalu berkata seperti itu padaku, semua laki-laki yang berada di dekatku tidak pantas denganku. Lalu, laki-laki seperti apa yang pantas di dekatku, huh?” tanyanya sinis dan dingin.

Hening sejenak, MinHo terdiam sedangkan aku tersenyum sinis. “A-aku. Hanya aku yang pantas untukmu.” Ucapnya dengan sedikit bergetar.

“Ya Tuhan… hentikanlah semua ini, Choi MinHo! Bisakah kau membiarkanku pergi? Apakah kau lupa? Kau telah memiliki Sulli saat ini, jadi lupakanlah aku. Begitupun dengan aku yang telah memiliki KyuHyun. Tidakkah kau mengerti?”

“Aku tidak bisa. Aku hanya memberimu dua pilihan, kembalilah padaku atau…” hening sejenak. Terdengar suara helaan napas panjang darinya. “… aku akan membuat kalian berdua berpisah.” Lanjutnya.

Aku menghela napas pendek. Aku tahu ia akan mengatakan ini padaku, jadi itu sudah tidak membuatku terkejut lagi. “Kalau begitu, aku benar-benar akan membencimu mulai saat ini.”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu melakukan hal sebaliknya.” Ucapnya lirih.

“Apa kau bercanda, huh? Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak bisa menerimamu lagi. Karena aku hanya mencintai satu pria saja, hanya satu, tidak lebih. Dan pria itu adalah Cho KyuHyun seorang.” Jelasku padanya. Sekelebat perasaan rindu menghampiriku, membuat dadaku terasa sesak dan sakit. Ya Tuhan, aku merindukan pria itu.

“Berhenti menyebut pria itu saat bersamaku, Kwon Yuri!” ucapya hampir berteriak.

“Cho KyuHyun, Cho KyuHyun, Cho KyuHyun, Cho KyuHyun, Cho KyuHyun, Cho KyuHyun…”

“Aku mencintaimu, noona.” potongnya lirih. Dapat ku tebak, saat ini ia tengah menangis. Aku menghela napas panjang.

“Aku mencintai KyuHyun. Hanya dia, orang yang sangat ku cintai melebihi diriku sendiri. Hanya Cho KyuHyun seorang. MinHo-ssi, hentikanlah semua ini. Aku benar-benar tidak ingin membencimu sama sekali dan aku tidak mau menyakitimu lebih dari ini. Jadi aku mohon padamu, hentikanlah.” Tegasku lalu melembutkan nada suaraku pada beberapa kalimat.

“Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu itu dengan satu syarat.”

“Syarat apa?”

“Tetaplah disisiku.” Pintanya penuh harap.

“Aku tidak bisa. Aku akan berada disisi KyuHyun selalu dan selamanya. Jadi, lupakanlah permintaan konyolmu itu. Sebagai gantinya, hubungan kita tidak lebih dari seorang teman, selain itu aku tidak bisa menerima hubungan apapun lagi padamu.” Tegasku.

“Baiklah, aku terima keputusanmu. Kita teman.”

“Ne.”

***

Aku merebahkan tubuhku dikasur saat sampai di apartementku.  Rasanya sedikit lelah dan juga menegangkan saat melewati beberapa kejadian yang sedikit sulit namun bisa dilewati dengan baik.

Rasa kantuk perlahan-lahan menghampiriku, dan tanpa sadar aku tertidur pulas. Membiarkan suara iringan musik Super Junior KRY – Loving You terdengar ditelingaku.

KyuHyun-ah, aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu.

***

Sesuatu hal mengganggu tidurku, aroma masakan yang tengah dibuat membuatku merasakan lapar. Perlahan-lahan, aku membuka ke dua mataku dan menatap sekelilingku. Siapa yang datang kemari? Para member SNSD kah? Keningku sedikit mengernyit sembari turun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur.

“Hyo unni?” panggilku untuk memastikan siapa yang saat ini tengah memasak. Tidak ada jawaban. Aku berjalan lebih dekat lagi saat ingin sampai ke dapur. Keningku mengernyit saat melihat sesosok pria asing tengah menggunakan dapurku tanpa izin. “Kau siapa?” tanyaku tidak suka.

Laki-laki itu menoleh ke arahku. Mataku membulat kaget saat mengenali wajah pria itu. “Untuk apa kau datang ke sini?” tanyaku dingin.

“Apa aroma makanan ini mengganggu tidurmu?” tanyanya balik dengan santai sembari menyiapkan makanan dimeja makan.

“Aku tanya padamu, untuk apa kau berada di apartementku?” ulangku, kali ini dengan tegas.

Ia berhenti sejenak lalu menatapku lembut. “Menyiapkan makan malam untukmu, noona.”

“Tidak perlu. Aku bisa membuatnya jika aku mau. Bisakah kau meninggalkan tempatku sekarang juga? Aku sedang tidak ingin menerima tamu atau beramah-tamah kepada orang lain. Jadi, keluarlah.”

“Baik, aku akan pulang. Tapi, makanlah masakanku ini.” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Terdengar suara pintu yang tertutup. Aku menghela napas lega sembari menatap langit-langit rumahku.

Ponselku berdering, membuatku menoleh dan mencari asal suara itu. Keningku mengernyit saat mendapati ponselku tengah berada di atas meja makan. Bagaimana bisa ada disini? Aku yakin sekali bahwa aku tidak menaruh ponselku disini.

Cho KyuHyun

“Yeo-yeoboseyo?” sapaku sedikit kaku.

“Apa kau saat ini tengah bersama MinHo?” tanyanya langsung tanpa menyapaku terlebih dahulu.

“Hm.. tadi aku bersamanya, tetapi sekarang sudah tidak lagi.”

“Dimana kau sekarang?”

“Apartement. Wae?”

Terdengar suara lega darinya. “Apa kau hanya seorang diri disana?”

“Tentu.”

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir, membuatku merasa aneh dan tidak mengerti dengannya.

“Tentu, aku baik-baik saja.”

Terdengar suara helaan napas lega darinya lagi. “Syukurlah kalau begitu. Ya! Kau tidak boleh pergi kemana-mana, tetap di tempatmu. Pejamkan ke dua matamu saat melihat laki-laki lain selain aku, jangan biarkan hatimu goyah saat aku tidak bersama denganmu, dan jangan kau pedulikan mulut berbisa laki-laki lain. Mengerti?” pintanya tulus dan berharap.

Ok, sebenarnya ini ada apa? Kenapa ia berubah menjadi seperti ini. “Aku mengerti, KyuHyun-ah.”

“Dan satu hal lagi, jangan tinggalkan aku.” Ucapnya dengan suara bergetar.

Ada apa dengannya? Apakah saat ini ia tengah ingin menangis?

“Aku mengerti, KyuHyun-ah.” Jawabku dengan penuh keyakinan. Sambunganpun terputus. Aku lalu mengecek ponselku, apa yang telah MinHo lakukan selama aku tertidur? Mataku membulat kaget saat aku mendapati pesan keluar untuk KyuHyun dariku.

Kau tak baik untukku. Kita akhiri saja hubungan ini. Selamat tinggal.

A-apa? Sial! Emosiku naik saat membaca pesan yang MinHo buat untuk KyuHyun.

***

Ini sudah 4 lebih bulan kami menjalin hubungan mungkin hampir 5 bulan, dan selama itu pula hubungan kami baik-baik saja walau hampir setiap saat kami berdua Minho selalu datang menggangguku dan KyuHyun. Tetapi kami dapat mengatasinya dengan baik. Terkadang, aku pernah berpikir, apakah hubungan kami akan baik-baik saja? Apakah ia juga memiliki perasaan yang sama denganku?

Aku melangkahkan ke dua kakiku pada salah satu pintu apartement milik seseorang dengan tubuh basah kuyup dan sedikit menggigil. Sebelumnya, aku tidak pernah datang ke sini tetapi, hari ini aku harus datang dan memastikan sesuatu. Aku mengetuk-ketuk pintu apartement berwarna silver beberapa kali dan menunggu jawaban dari sang pemilik.

Pintu terbuka, menampakkan sang pemilik dengan rambut dan wajah yang berantakkan. “Kau?” tanyanya tak percaya. Aku tersenyum lembut padanya. Ku sentuh kening dan lehernya dengan punggung tangan.

“Tubuhmu terasa hangat. Apa kau tidak apa-apa? Bagaimana jika kita ke dokter?” saranku padanya yang dibalas dengan gelengan pelan.

“Masuklah.” Ucapnya sembari mempersilahkanku masuk. Aku menurutinya dan mengganti flat shoesku dengan sandal salah satu miliknya. “Apa yang ingin kau lakukan disini?” tanyanya lalu masuk ke dalam kamar. Apakah kedatanganku ini sedikit mengganggunya?

“Tidak ada, hanya ingin membuatkanmu beberapa makanan dan memastikan keadaanmu baik-baik saja. Apa kau sudah makan?” balasku sembari mengeluarkan bahan-bahan yang ku beli disupermarket saat datang kemari.

“Bersihkan tubuhmu dulu.” Ucapnya sembari melempariku handuk yang ia bawakan untukku. Aku menangkapnya. “Pakailah kamar mandi dan kamarku dulu. Aku juga telah menyiapkan baju untukmu di atas ranjang. Aku akan menunggumu disini.” Ucapnya lalu duduk disofa dan menyalakan telivisi.

Aku menurutinya karena tubuhku mungkin juga tidak akan begitu kuat untuk menahan rasa dingin lebih lama lagi. Aku memasuki kamar pribadinya dengan takjub walau sering keluar masuk tempat ini tetap saja merasa kagum. Seorang Cho KyuHyun memiliki kepribadian rapih dan disiplin. Ia menyusun kamarnya dengan apik. Mataku tertuju pada dua orang dalam lukisan besar yang sangat mencolok. Seulas senyum bahagia tersungging diwajahku. Lukisan itu melukiskanku dan KyuHyun saat kami berdua pergi diam-diam dari rombongan di Paris pada malam hari. Kami mengambil foto bersama dan aku tidak tahu sejak kapan KyuHyun meminta seseorang untuk membuatnya menjadi lukisan. Perasaan senang yang tak terhingga menghampiriku.

Aku memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhku. Aku memenjamkan ke dua mataku saat air hangat membasahi tubuhku.

***

Aku membuka pintu kamar, dan mendapati KyuHyun menoleh ke arahku dengan wajah konyolnya itu. Apa? Kenapa ia melihatku seperti itu? Adakah yang aneh dengan diriku?

Aku melihat ke arah KyuHyun dengan kening berkerut. “Waeyo?”

“A-aniyo.” Jawabnya dengan gugup sembari menyunggingkan senyum kaku. Aneh. Aku berjalan mendekati KyuHyun, membuat laki-laki itu menjadi kehilangan akal. Sebuah jitakan dikepala membuatnya mengaduh kesakitan dan kembali ke akal sehat.

“Yaa! Apa kau masih bermain-main dengan mereka?” omelku saat mengingat ia suka sekali bermain game lama-lama sembari bertolak pinggang.

“Mwoya? Aish!” protes KyuHyun kesal.

“Psp dan laptopmu itu.” Jawab Yuri kesal.

KyuHyun menatapku dengan sebuah senyum yang menampakkan deretan gigi miliknya. “Aku tidak bisa jauh dari mereka.” Jawab KyuHyun pelan.

“Waeyo? Aish, kau ini.” Ucapku sedikit kesal lalu mencubit ke dua pipi KyuHyun dengan gemas membuat sang pemilik pipi mengaduh kesakitan. Aku tertawa puas saat melihat ekspresi wajah KyuHyun dan sedikit membullynya. Tanpa memedulikan KyuHyun yang menepuk-nepuk ke dua tanganku untuk segera dilepaskan. Rasanya sangat menyenangkan sekali.

“Yaa! Sakit!” protesnya kesal. Aku tertawa puas melihatnya lalu melepaskan cubitanku.

“Mianhae.” Sesalku berpura-pura -tentu saja aku tidak benar-benar menyesal telah melakukannya karena melakukan itu padanya adalah hal yang menyenangkan- sembari tersenyum lembut lalu mencium hidung KyuHyun sekilas dengan perasaan tulus, membuat desir-desir aneh dihatiku. KyuHyun-ah, aku berharap kau dapat merasakan perasaan tulusku ini. Aku meninggalkan KyuHyun yang masih terdiam menuju meja makan. Tidak kuat berlama-lama berada di dekatnya. Aku takut menjadi seseorang yang egois dan menjadi beban untuknya, jika ia tidak menyadari setiap tingkahku padanya itu benar-benar tulus adanya.

Aku sibuk mengeluarkan dan menyiapkan alat dan bahan dari kantong plastik belanjaan yang aku bawa kemari. Terdengar suara langkah kaki KyuHyun yang berjalan mendekatiku. Aku sedikit terlonjak kaget karena sikap KyuHyun yang tiba-tiba, ia memelukku dari belakang. KyuHyun menaruh dagunya pada bahuku, membuatku menahan napas tanpa sadar sembari menyentuh ke dua tangan KyuHyun yang melingkari perutku.

“Maaf.” Ucap KyuHyun lembut sembari memenjamkan ke dua matanya. Yuri menghela napas dalam. Aku paling tidak suka bila ada seseorang mengatakan kata maaf padahal orang itu tidak memiliki kesalahan apapun terhadapnya. Kalaupun ada, aku sudah memaafkannya sebelum orang itu mengatakan kata itu.

“Maaf? Untuk apa?” tanyaku.

“Telah membuatmu mengkhawatirkanku seperti ini.” Jawab KyuHyun masih dengan posisi yang sama.

Aku menghela napas lagi. Ini bukan sesuatu hal yang perlu dimaafkan bukan? Tetapi ini hal yang biasa jika pasangan kekasih mengkhawatirkan kekasihnya. “Cho, don’t say you’re sorry if you haven’t a mistake. I don’t want to hear that anymore.

“Aku mengerti.” Ucap KyuHyun pelan. Ia lalu menyelingkap rambutku pelan lalu melumatnya dengan hangat dan lembut. Aku merasa geli dan shock mendapati KyuHyun melakukan ini tiba-tiba. Aku  memenjamkan ke dua mata dan mendesah pelan tanpa sadar saat bibir KyuHyun melumat leherku lagi. KyuHyun mulai menjelajahi seluruh bagian leherku dan meninggalkan beberapa tanda merah. Ya Tuhan, apa yang sedang ia lakukan? Aku sedikit menundukkan wajah saat bibir KyuHyun menghisap kuat leherku untuk menahan sensasi aneh dan membuat laki-laki itu kekurangan space untuk melumatku. KyuHyun menyentuh daguku dan mendorongnya perlahan-lahan ke atas untuk memberinya ruang.

KyuHyun lalu memutar tubuhku secara perlahan-lahan untuk mempermudah aktifitasnya sembari melumat habis seluruh leherku. Aku menggigit bibir bawah untuk tidak mengelurakan suara sama sekali. Aku ingin menghentikan ini tetapi seluruh tubuhku seakan menolak untuk dihentikan. Salah satu tangan KyuHyun melingkari pinggangku, sedangkan satunya lagi menyentuh dan sedikit menekan tengkuk Yuri untuk tetap dalam gapaian bibirnya. Ia melumat bibir gadis itu dengan hangat dan lembut, menjelajahi seluruh isi rongga. Aku hanya mendesah pasrah dalam ciuman kami tanpa sadar.

Ya Tuhan, apa ini? Apa yang ia ingin lakukan padaku? Oh, tidak, tidak, tidak, cukup hentikan ini sekarang juga.

“C-cho…” panggilku. “..hentikan..” pintanya.

Aku sedikit mendorong tubuh KyuHyun untuk mencoba menghentikannya. “Cho, hentikan.” Pintanya tegas. Tetapi KyuHyun tidak mendengarkannya, ia justru melumat leherku dengan lebih lagi. Aku menghela napas dalam lalu menyentuh ke dua pipi KyuHyun dengan penuh kasih. Ke dua mata KyuHyun perlahan-lahan terbuka, menatapku dengan tatapan bingung dan bersalah. Aku menatap KyuHyun dengan lembut dan penuh kasih. “Ayo kita hentikan, ini tidak baik.” pintaku lalu mengecup lembut sekilas bibir KyuHyun.

“Aku mengerti, maafkan aku telah berbuat seperti itu padamu tadi.” Sesalnya sembari menatapku dengan lembut.

“Aku tahu, sudahlah tidak apa-apa. Bagaimana jika kau duduk dengan manis disofa sembari menungguku selesai membuatkanmu makanan?” usulku padanya sembari mendorong tubuhnya perlahan ke sofa.

“Kalau begitu biarkan aku membantumu memasak bagaimana?” usulnya yang ku balas dengan sebuah gelengan kepala dariku.

“Tidak boleh, aku tidak mau kejadian legenda Sungai Han kembali terulang lagi.” Ejekku padanya sembari menjulurkan lidah ke arahnya.

“Ya! Itukan karena kami ada banyak, mana ku tahu aku harus memasak air berapa banyak?” belanya pada diri sendiri.

Aku tertawa pelan mendengar pembelaan darinya. “Arraseo, arraseo. Tunggulah disini, duduk yang manis adik kecil, noona mu yang cantik dan baik hati ini akan membuatkanmu makanan.” Ucapku sembari melakukan aegyo sebisaku walau terlihat kaku dan konyol dimatanya.

“Mwo? Noona? Cantik? Yaa, Kwon Yuri-ssi, kerutan di wajah anda semakin terlihat jelas, tidakkah anda tahu?” ejeknya sembari menatapku dengan sebuah seyum evil khas darinya.

Aish, pria ini. Tidakkah ia tahu bahwa aku sedang sedikit menggodanya?

Aku menatap kesal ke arahnya. “Yaa! Berhenti mengejekku! Duduklah diam tanpa melakukan apapun!” kesalku padanya.

KyuHyun menatapku dengan terkejut melihat perubahan sikapku yang berubah 180 derajat dari yang tadi. “Lihat! Noona ini galak sekali kepadaku ckck.” Balasnya sembari mendecakkan lidahnya.

“Hei, aku baik! Aku ini seperti malaikat.” Belaku tak mau kalah.

“Malaikat? Malaikat apa?” tanyanya dengan senyum evil diwajahnya.

“Aku ini malaikatnya Cho KyuHyun.” Ucapku sembari menyunggingkan senyum bahagia.

“Benarkah? Kalau begitu bisakah kau membuktikannya padaku, Cho Yuri?” tantangnya dengan sebuah senyum bahagia diwajahnya tanpa bisa ia tahan lagi.

A-apa? Cho Yuri? Pipiku terasa memanas saat ini juga. Ya Tuhan… “Membuktikan apa?”

“Karena kau sangat mencintai pria yang sangat beruntung itu, maka kau harus menciumku.” Pintanya dengan sebuah evil smirk tersungging diwajahnya.

“Aku tidak bisa…” tolakku berpura-pura menyesal.

“Kenapa? Kau bilang kau ini malaikatnya bukan?” tanyanya, ada nada kecewa disela-sela ia mengatakannya.

“Nanti kau dimarahi oleh Cho KyuHyun.” Jawabku tanpa merubah ekspresiku sama sekali.

“Ta-tapi aku Cho KyuHyun.” Balasnya sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Benarkah? Hmm, tunggu, aku ingat-ingat dulu Cho KyuHyun itu seperti apa?” ucapku sembari menaruh dagu ditanganku sedangkan tangan yang satunya melingkar diperutku, pura-pura berpikir.

KyuHyun menatapku dengan manis sembari membenarkan posisi duduknya menjadi tegap serta merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Cho KyuHyun itu…” potongku sembari menatap langit-langit diapartement miliknya. “gendut, sering sekali berselingkuh diam-diam dibelakangku dengan psp dan laptopnya, dia seorang magnae dari Super Junior yang terkenal dengan sifat evilnya, suka menjahili para hyung-hyungnya, memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, memiliki seorang kekasih yang juga mencintainya… hmm, aku rasa ia seperti itu.” Ucapku sambil menatapnya. KyuHyun menatapku dengan sedikit kesal.

“Yaa! Kenapa kau hanya menyebutkan sifat burukku saja? Yaa! Kwon Yuri, aku tidak gendut, aku ini berisi. Soal hyung-hyungku, itu adalah cara kami agar kami dekat satu sama lain. Dan soal kekasihku itu, hmm, ku akui aku sangat mencintai nenek tua itu.” Balasnya tak terima dengan senyum jahil tersungging diwajahnya.

“Nenek? Yaa! Siapa yang kau maksud dengan nenek tua itu?” protesku kesal.

“Seseorang yang bernama Kwon Yuri.” Jawabnya enteng dan polos.

“Apa? Yaa! Aku belum jadi nenek-nenek tua tau!” protesku.

“Tapi bagiku kau itu adalah seorang nenek tua.” Balasnya tak mau kalah.

“Yaa! Umurku masih muda, masih dua puluh empat tahun! Mana bisa dibilang nenek-nenek seperti itu?”

“Aku tidak peduli, bagiku sampai kapanpun aku sangat mencintai nenek tua itu.” Jawabnya sembari menatapku lembut dengan senyum bahagia diwajahnya.

“Jadi kau mencintai nenek tua itu daripada aku?”

“Yaa! Nenek tua itukan kau.”

“Aku bukan nenek tua, kakek buyut tua bangka!”

“A-apa? Kakek buyut tua bangka kau bilang? Yaa! Kenapa bagianku selalu lebih jelek darimu?”

“Tidak tahu, tapi itu tidakkah cocok untukmu?” tanyaku sembari tertawa bahagia.

“Yaa!” KyuHyun lalu menarik tanganku hingga membuatku jatuh ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat dan penuh kasih. Bau harum dari tubuhnya dapat ku hirup dengan baik. Aku menatapnya dengan polos. Hm, apa?

“Panggilku aku oppa. Atau aku akan menciummu sekarang juga.” Ancamannya dengan sebuah smirk diwajahnya. Ancaman seperti apa itu?

“A-apa? Yaa! Mana bisa seperti itu?” protesku sembari menatap ke arah lain. Ya Tuhan, bisakah kau memberitahuku bagaimana caranya bernapas? Aku lupa caranya bernapas untuk saat ini.

“Karena kau milikku, Kwon Yuri.” Ucapnya tegas sembari menatap ke arahku lekat-lekat.

Oh, Ya Tuhan, bisakah kau memberi tahuku bahwa saat ini aku sedang tidak bermimpi? Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Jika ini kenyataan, akan lebih baik rasanya.

“Tetap tidak ingin memanggilku oppa? Baik.” Putusnya lalu menyentuh leherku dengan salah satu tangannya. Wajahnya mendekatiku perlahan-lahan. KyuHyun menatapku lembut sembelum ia memenjamkan ke dua matanya secara perlahan-lahan, membuatku terbius dan melakukan hal yang sama.

Bibirnya mendarat dibibirku, lalu melumatnya dengan lembut dan hangat. Aku menikmatinya, aku menikmati setiap perlakuan KyuHyun disaat-saat seperti ini.

***

Aku mencicipi sayuran -untuk makan malam kami yang sempat tertunda tadi- yang masih berada di atas kompor. Hmm, rasanya enak. Ponselku bergetar di atas meja makan. Aku menoleh lalu mengambilnya.

“Yeoboseyo?” sapaku tanpa melihat kontak sama sekali.

“Aku menunggumu diluar. Jangan biarkan aku mendobrak pintu apartement ini dan menggeretmu keluar.” Ucap orang itu dengan dingin dan marah yang tertahan.

Aku menghela napas panjang. “Aku berada di rumah kekasihku saat ini. Aku tidak akan kenapa-kenapa dan tidak akan terjadi apapun disini.” Ucapku cuek dan dingin sembari melihat ke arah KyuHyun yang tengah asyik menonton acara telivisi. Sepertinya ia tidak menyadari bahwa saat ini aku tengah menerima telepon.

“Aku tidak bisa melihatmu berlama-lama disana!” ucapnya hampir berteriak.

“Lalu apa peduliku terhadapmu?” tanyaku dingin.

“Noona… aku mohon, jangan seperti ini.” Pintanya lirih. Ya Tuhan…

“Berhenti membuatku terlihat seperti penjahat, Choi MinHo.” Dinginku.

“Sungguh, jika kau marah padaku tentang gadis-gadis itu, aku benar-benar minta maaf tentang hal itu. Aku tidak bermaksud menduakanmu atau bermain-main denganmu. Hanya kau yang ku cintai. Kembalilah padaku, noona.” Pintanya lirih.

“Berapa kalipun kau memintaku kembali, aku tidak akan lagi kembali padamu. Luka yang kau berikan untukku, aku ucapkan terima kasih banyak padamu. Berkat sikapmu itu, aku dapat menemukan seseorang yang lebih baik lagi darimu.” Ucapku tenang dan lembut sembari menatap KyuHyun yang membelakangiku. Seulas senyum tanpa sadar tersungging diwajahku.

“Kalau begitu, kita akan lihat nanti. Aku akan mendapatkanmu kembali.” Ucapnya sembari ingin memutuskan telepon.

“MinHo-ssi, kau melupakan satu hal. Saat ini kita adalah teman, tidak lebih. Itu yang telah kita sepakati.”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu membenci pria itu.”

Sambunganpun terputus. Aku hanya menghela napas dalam lalu mencicipi kembali masakanku, kemudian menyiapkannya.

“KyuHyun-ah, cepatlah kemari, makanannya telah siap.” Ucapku padanya sembari membawa mangkuk berisi sup ayam ke meja makan.

KyuHyun lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya.

“Duduklah dengan tenang, dan nikmati makananmu.” Ucapku padanya dengan puas.

“Makanan apa ini? Yaa! Apa yang kau masakkan untukku? Apa kau ingin membunuhku secara perlahan-lahan?” tanyanya dingin.

“Wae?”

“Aku tidak akan mau memakannya.” Jawabnya sembari mendorong pelan mangkuk yang telah ku siapkan untuknya menjauh darinya.

“Yaa! Cobalah memakannya.” Pintaku.

“Kau ingin aku makan-makanan dinosaurus ini? Tidak, terima kasih. Kau saja yang memakannya.” Tolaknya sembari menatap sinis makanan itu.

“Jadi kau tidak ingin memakannya?” tanyaku lagi untuk memastikan.

KyuHyun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin.

Aku melihatnya kesal. “Sekalipun aku yang memasakkannya untukmu?”

KyuHyun mengangguk sekali lagi.

“Benar-benar tidak mau?”

Jawabannya tetap sama, ia kembali mengangguk.

Aku menghela napas dalam. Rasa kesal mulai menghampiriku. “Baiklah kalau itu mau-mu.” Ucapku lalu mengambil mangkuk milikku dan KyuHyun, lalu membuangnya begitu saja.

“Yaa! Kenapa kau membuangnya? Apa kau marah padaku?” protes KyuHyun.

Aku diam, tidak memedulikannya sama sekali. Aku melewatinya begitu saja saat berjalan menghampiri tasku, mengganti sandalku dengan sepatuku lalu membuka pintu. “Besok aku ada jadwal, selamat malam.” Pamitku sebelum pintu ku tutup.

“Kau tidak menciumku dulu?” tanyanya yang dapat ku dengar sebelum pintu tertutup.

Aku berjalan menjauhi pintu apartement KyuHyun tanpa menghiraukan apapun lagi dengan langkah kaki yang kesal.

Menyebalkan. Kenapa ia tidak bisa menghargaiku sama sekali? Setidaknya, ia harus mencobanya dulu kan?

Sebuah tangan besar dan kokoh mencegah langkahku. Aku berhenti melangkah, terasa asing dengan tangan ini.

“Noona…” panggilnya.

Tepat dugaanku. Tangan ini bukan milik KyuHyun. Aku tersenyum sinis mendapati kenyataan bahwa saat ini aku bertatap muka lagi dengannya.

“Lepaskan.” Pintaku dingin.

“Tidak mau.” Tolaknya tegas.

“Aku bilang lepaskan.” Tegasku sekali lagi.

“Tidak, kali ini aku tidak akan melepaskanmu.” Tegasnya.

Aku membalikkan tubuhku ke arahnya. “Huh, kau benar-benar ingin membuatku terlihat seperti penjahat ya? Baik, aku akan mengikuti permainanmu ini.”

“Aku sedang tidak bermain-main, Yuri noona.” Ucapnya dengan tegas. “Aku sedang mempertahankan apa yang telah hilang dariku.”

“Kau telah kehilangan itu sejak tiga tahun lebih yang lalu, Choi MinHo. Kemana saja kau selama ini, tuan?”

“Tidak, aku belum kehilanganmu, nona Yuri.”

“Oh, ya Tuhan, masih pantaskah kau berkata seperti itu? Hm, aku rasa lagu U-kiss  dorra-dorra, sangat cocok untukku. Kamu adalah satu yang jahat padaku, mengapa kau yang merasa tersakiti melebihiku? Jangan kacaukan aku oh~ Aku yang berada dalam kesakitan, mengapa kau menangis melebihiku? Jangan kacaukan aku oh~ ” ejekku padanya sembari menyanyikan lagu U-kiss dengan raut wajah mengesalkan.

MinHo terdiam. Menatapku dengan tatapan sendu dan bersalah.

“Hentikan aktingmu itu, hanya melupakan masa lalu dan lihatlah masa depan. Tidak bisakah kau melihatnya? Ah, satu lagi, aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara kau dan aku dimata Sulli. Jika kau menyakitinya, kali ini aku benar-benar tidak akan memaafkanmu.” Peringatku padanya, lalu melepaskan tanganku dari cengkramannya dengan sekali gerakan cepat. Aku membalikkan tubuhku dan pergi meninggalkannya. Aku tidak mau menaiki lift karena mungkin saja ia bisa melakukan hal yang nekad nantinya. Aku menuruni anak tangga menuju parkiran mobil. Ponselku bergetar dalam genggamanku. Aku membuka pesan singkat yang masuk itu.

Lihat dan tunggulah, aku akan menghancurkan hidupnya.

Aku menghela napas panjang membaca pesan itu. Aku tahu dengan baik siapa itu, Choi MinHo. Jika ia benar-benar ingin mendapatkan sesuatu maka ia akan melakukannya dengan cara apapun. Ya Tuhan… Sepertinya, kali ini aku yang harus menurunkan keegoisanku.

Apa maumu sebenarnya?

 

Balasku padanya. Sepertinya, ini akan menjadi malam terpanjang untukku.

***

Hari ini aku sengaja menghindari KyuHyun. Jika kami bertemu secara tidak sengaja, aku akan mengabaikannya dengan cara berpura-pura tidak melihatnya atau mencari kesibukan sendiri. Aku melakukan ini benar-benar tidak mudah untuk dilakukan, ini hanya karena untuk kebaikannya. Kebaikan KyuHyun seorang. Bahkan, aku mematikan ponselku agar ia tidak bisa menghubungiku. Semua ini aku lakukan hanya karenanya. Setidaknya, aku harus memastikan bahwa ia selalu baik-baik saja walaupun hanya dari kejauhan sekalipun, aku harus memperhatikan setiap gerak-geriknya. Memastikan pria itu tidak melakukan apapun terhadapnya. Pria itu? Huh, menyebut namanya saja aku tak ingin.

“Hai, nona Cho Yuri.” Sapa seseorang yang familiar ditelingaku. Aku menoleh dan mendapati Siwon berdiri disampingku.

“Oh, hai, Won-ah.” Sapaku balik sedikit cuek dan dingin.

“Ada apa? Sepertinya kau sedang berada dalam mood yang tidak baik saat ini.” Tanyanya sembari menatap lurus ke mataku. Ia sedikit menundukkan tubuhnya saat melakukannya.

Aku mengernyitkan kening saat ia melakukan itu. “A-apa?” tanyaku bingung sendiri. Mood ku tidak baik? Tentu saja, pria itu telah menyewa mata-mata untuk memastikanku agar tidak mengingkari perjanjian yang kami buat semalam.

“Hanya ingin memastikan keadaanmu, Yul.” Jawabnya sembari menyunggingkan seulas senyum diwajahnya.

“Oh. Bagaimana syuting drama-mu? Apakah berjalan lancar?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tentu. Sangat lancar, walau sedikit mengalami kesulitan. Apa kau telah melihat dramaku ditelivisi?” tanyanya dengan senyum malaikat yang masih tersungging diwajahnya.

“Tidak, belum. Aku sama sekali belum melihat drama-mu itu.” Jawabku sembari membenarkan rambutku yang terasa sedikit berantakan.

“Benarkah? Kalau begitu cobalah untuk melihatnya.” Ucapnya sedikit mempromosikan film drama miliknya.

Aku tertawa pelan. “Kalau begitu aku akan menunggunya hingga drama itu selesai, baru membeli dvdnya.”

“Kalau begitu tunggulah dengan manis.” Ucap Siwon menyetujui ucapanku. “Anyway, apa kau tidak merasakan sesuatu aneh? Misalnya sebuah tatapan tajam yang diberikan tiga orang itu?”

Aku mengernyitkan keningku. “Tatapan tajam? Tiga orang itu? Siapa?” tanyaku masih tak mengerti.

“Sepertinya aku lebih baik menjauhimu sebelum ada yang terluka nantinya. Dan jangan lupa, beritahu padanya kita hanya mengobrol biasa saja, tidak lebih. Kau harus menjelaskan hal itu cukup pada satu orang, selebihnya aku sendiri yang akan mengurusinya nanti.” Ucapnya dengan berjalan sedikit terburu-buru.

Aku hanya menatapnya dengan bingung lalu mengendikkan bahu. Aneh.

“Sampai kapan kau ingin mengabaikanku?” tanya seseorang dibelakangku. Aku menahan napas selama beberapa saat tanpa sadar. “Apa kau tidak merindukanku?” tanyanya lagi. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di depanku dengan tatapan sendu.

Aku hanya mengendikkan ke dua bahuku dengan cuek sebagai jawaban atas pertanyaannya. Aku sedang tidak ingin berbicara banyak untuk saat ini. Aku benar-benar tidak ingin KyuHyun mengetahui perasaanku yang sebenarnya, karena akan menjadi sulit nantinya.

“Apa kau masih marah padaku?”

Aku menggeleng pelan sebagai jawabannya.

“Yuri-ya…” panggilnya lembut sembari melingkari tangannya dipinggulku. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

Aku menganggukkan kepalaku.

“Hei, ada apa denganmu? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Katakanlah.” pintanya sembari menatapku lembut dan mengelus ke dua pipiku dengan penuh kasih.

Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi

KyuHyun menghela napas dalam-dalam sembari memenjamkan ke dua matanya.

Wae? Apa kau telah lelah menghadapi sikapku ini?

“Aku mohon, jangan seperti ini.” Ucapnya sedikit kesal dan sedih.

Aku diam menatapnya lalu mengendikkan ke dua bahuku.

Ia menghela napas panjang sekali lagi. “Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.” Pamitnya sembari mengelus pucuk kepalaku dengan penuh kasih sebelum ia melangkah pergi.

Aku hanya menatap punggungnnya dalam diam. Walau dalam hatiku berteriak meminta untuk segera menghentikannya, tetapi ragaku tidak mau melakukannya. Karena aku tahu dengan baik jawabannya, ia tidak akan mau tinggal lebih lama disisiku saat seperti ini.

KyuHyun-ah, aku merindukanmu.

Yaa, Cho KyuHyun, aku harus bagaimana saat ini?

Sedangkan aku benar-benar tulus mencintaimu.

***

More days later

Aku berjalan menaiki anak tangga perlahan-lahan. Rasanya seluruh tubuhku terserap habis keluar begitu saja tanpa ampun. Jadwal padat SNSD tak pernah ada jeda. Aku membuka pintu apartement milikku. Pukul 23:57 KST. Aku mengernyitkan keningku saat mendapati sederetan lilin berada dilantai apartementku menuju ke suatu tempat.

Siapa yang melakukan ini?

Walau terasa aneh dan janggal, tetap saja rasa penasaran yang ku miliki menuntutku untuk mengikuti sederetan lilin di kedua sisi ini. Aku mengikutinya dengan perasaan takut dan hati-hati. Siapa yang melakukan ini? Apakah hari ini adalah hari yang istimewa untukku? Tanggal berapa sekarang? Aku yakin ini bukan tanggal 5 Desember, dimana hari ulang tahunku. Lalu sekarang hari apa? Aish, kenapa aku bisa melupakan tanggal berapa sekarang?

Lilin-lilin itu berhenti diruang tengah apartementku. Mataku membulat kaget saat melihat sekumpulan bunga mawar berbentuk hati yang cukup besar dikelilingi lilin-lilin yang sama.

Happy 5th Month Annivesary Kwon Yuri

 

Aku menahan napas dan air mata yang ingin keluar begitu saja. Ya Tuhan… bagaimana bisa aku melupakan hari ini?

“K-yuhyun…”

Mataku mencari-cari sesosok pria dengan penuh harapan ia masih berada disini untukku. Aku melewati lilin-lilin itu dan mulai mencari KyuHyun diberbagai tempat rumahku. Hasilnya tidak ada. Apakah ia sudah pergi? Ya Tuhan, apa yang ku telah lakukan padanya?

Aku mengaduk-adukkan isi tas yang baru saja ku pakai untuk mencari ponselku. Selama beberapa hari terakhir ini, aku sengaja mematikan ponselku dan hanya menghubunginya saat telah larut malam, dimana ia telah tertidur lelap. Itupun jika aku benar-benar lupa perjanjianku dengan MinHo.

11 New Massage

24 Miss Call

Tubuhku terasa lemas saat membaca pemberitahuan itu. Aku membaca pesan-pesan itu dengan tangan yang bergetar. Air mataku telah turun sedaritadi dengan deras.

20:34 KST

Mrs. Cho KyuHyun, who is to be future my wife, don’t ever forget to something special. Are u remeber it? Kkkk hmm how many days stayed that day will come? Kkk

 

09: 40 KST

Hei, where are you now? I miss you so badly. Did u miss me too? Kkk

 

14: 50 KST

Yaa! Cho Yuri~ why you not active your phone? Heung

 

00:23 KST

Yuri-ya, don’t be like this. I miss u, are u didn’t miss me?

 

04:45 KST

I’m always praying for u, I wish God blessing u as always. Take care and fighting!

 

07:00 KST

Whoaa! I got some cinema ticket from my hyung. Are u want to watching together? Kkk

 

12:09 KST

Yaa yaa yaa! Cho Yuri, let’s eat together again kkk~

 

19:19 KST

I love u.

 

09:09 KST

Ahhh really missing you like crazy. Where are u now? Take care

 

06:00 KST

Today is something special rite? I wish you didn’t miss it. Come back early please, I want gift u a little surprise in ur home~ kkk I’ll wait u at 7 pm. Don’t be late, chagiyaa

 

22:51 KST

Are you really busy now till you’re hard to reach? Ok. Just forget about today, take care, and keep ur health. Fighting

Aku benar-benar tidak kuat lagi menahan tangisku saat membaca pesan-pesan itu lagi. Tangisku pecah begitu saja tanpa bisa ku tahan.

KyuHyun-ah, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…

***

Aku membuka pintu apartement KyuHyun dengan perlahan-lahan. Akhirnya aku dapat datang kemari setelah menang dari perang dingin antara aku dan MinHo sebelum ke apartement KyuHyun. Aku menatap bingung pada lampu-lampu dirumah ini yang belum juga padam. Apa KyuHyun masih belum tidur?

Aku melangkahkan kakiku untuk masuk lebih dalam lagi. Bau kuat alkohol tercium dihidungku saat mendapati tumpukan botol-botol alkohol berserakan dilantai begitu saja. Tenagaku benar-benar terserap keluar begitu saja saat mendapati seorang pria tergeletak lemah tak berdaya di atas sofa sembari menggenggam botol alkohol disalah satu tangannya.

Ya Tuhan, sekacau inikah ia?

Air mataku turun membasahi ke dua pipiku. Aku menutup mulutku sekuat mungkin agar tidak mengelurkan suara dengan ke dua tanganku. Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Aku mohon, jangan seperti ini di hadapanku. Kau harus tegar dan ceria seperti dulu. Jika saatnya tiba, kau harus baik-baik saja tanpa diriku lagi.

Aku mendekati KyuHyun yang tertidur pulas. Aku yakin, saat ini ia tengah tertidur lelap tanpa menyadari kehadiranku sama sekali. Aku duduk dilantai dan merebahkan kepalaku disofa untuk menatapnya lebih dekat. Entah mengapa hatiku terasa jauh lebih baik.

“Hari ini adalah hari jadi kami. Aku harus bertemu dengannya.” Pintaku dingin padanya saat berada di parkiran apartement KyuHyun entah ke berapa kalinya aku mengucapkan kata-kata yang sama. MinHo mengetahui kepergianku dari mata-matanya dan langsung menemuiku saat aku tengah ingin pergi ditengah malam seperti ini.

 

“Tidak boleh. Kau tidak boleh bertemu dengannya.” Tegasnya sekali lagi.

 

Aku memicingkan ke dua mataku melihatnya. “Apa kau belum puas melihat kami berpisah sementara waktu?”

 

“Benar! Aku belum puas melihat kalian jika berpisah seperti itu! Kau harus mengakhiri hubunganmu dengannya!” jawabnya dengan kesal hampir berteriak.

 

“Jika kau tidak memperbolehkanku menemuinya saat ini juga, maka aku tidak akan mengakhiri hubunganku dengan KyuHyun sesuai permintaanmu.” Aku menatap MinHo dengan datar dan dingin.

 

MinHo terdiam menatapku.

 

Hanya beberapa hari saja waktu yang kami miliki saat ini, tidak bisakah kau membiarkanku merasakan bahagia disisinya?

 

“Baik, kau boleh bertemu dengannya. Aku akan menunggumu di luar.” Putusnya sembari menelan salivanya sendiri.

 

“Pulanglah. Jangan menungguku. Itu hanya akan membuang-buang waktumu saja. Aku akan bersamanya sampai besok pagi. Lebih baik kau istirahat dirumah.” Saranku padanya dengan dingin lalu berjalan melewatinya begitu saja tanpa menoleh atau melirik sedikitpun ke arahnya.

“Cho…” panggilku sepelan mungkin agar ia tidak terlalu mendengarnya. “A-aku akan mengatakan beberapa hal padamu yang mungkin tidak akan pernah ku katakan padamu, jadi dengarkanlah baik-baik.” Pintaku pelan sembari menghapus ke dua air mataku. “Mungkin bagimu, aku terlihat jahat. Tapi aku memiliki alasan kuat untuk melakukannya.” Hening sejenak. Aku menatap wajah KyuHyun dengan tatapan sendu. “Cho, kau tahu? Aku selalu takut saat terbangun dari tidurku ketika nanti aku mendapati kenyataan bahwa kita telah berpisah.” Ucapku mulai menerawang jauh.

“Aku tidak pernah berhenti memikirnya saat kita sedang tidak bersama. Itu membuat hatiku perih dan pilu. Cho, apa kau pernah mendengarkan lagu Emilia Big Big World? Jika belum, maukah kau mendengarkannya dariku? Aku tahu suaraku tidak sebaik milikmu, tapi coba dengarkanlah.” Pintaku sembari menghapus kembali air mataku.

I’m a big big girl
In a big big world
It’s not a big big thing if you leave me
But I do do feel
That I do do will
Miss you much
Miss you much

I can see the first leafs falling
It’s all yellow and nice
It’s so very cold outside
Like the way I’m feeling inside

Outside it’s no raining
And tears are falling from my eyes
Why did it have to happen
Why did it all have to end

I have your arms around me
Warm like fire
But when I open my eyes
Your gone

(Emilia – Big Big World)

Aku memejamkan ke dua mataku. Air mataku kembali turun membasahi ke dua pipiku.

Cho, a-aku takut…

***

Aku mencicipi bubur yang tengah ku masak. Hm, aku rasa ini sudah cukup. Hari ini aku tidak tidur sama sekali. Selama semalaman aku hanya memandangi wajah KyuHyun yang tertidur, merekamnya dengan baik di dalam benakku, lalu ketika pagi menjelang aku membersihkan rumah KyuHyun yang cukup kotor karena botol-botol alkohol itu, dan melakukan kegiatan saat ini, membuatkannya makanan.

Aku terlonjak kaget saat KyuHyun memelukku dari belakang secara tiba-tiba. Protective dan posesif. Ia menaruh dagunya di bahuku. Aku memejamkan ke dua mataku, menikmati pelukannya. Ya Tuhan… aku pasti akan merindukan pemilik lengan ini.

“Kau sudah bangun?” tanyaku lalu merutuki diri sendiri karena tentu saja aku tahu jawabannya.

“Hm.” Balasnya dengan malas-malasan. Seulas senyum tanpa sadar tersungging diwajahku. Apa ia sedang merajuk padaku?

“Apa tidurmu nyenyak?” tanyaku lagi.

“Tentu.” Jawabnya sembari mempererat pelukannya.

“Apa yang kau mimpikan?”

“Aku bermimpi kita menikah dan memiliki tiga orang anak yang sangat lucu. Lalu kita menjadi keluarga kecil yang bahagia selamanya.” Jawabnya sembari tersenyum bahagia.

Aku terdiam. Entah apa yang harus ku katakan? Aku tahu, seharusnya aku merasa senang sekarang tetapi, mengingat kami akan berpisah, hatiku menjadi pedih dan pilu. “Benarkah? Menyenangkan sekali jika seperti itu.”

“Tentu. Kau, apa yang kau mimpikan semalam? Apa sama sepertiku?” tanyanya dengan nada senang.

“A-aku?” ulangku.

“Hm, iya kau.”

“A-aku…” apa yang harus ku katakan sekarang? Apakah aku harus jujur bahwa aku tidak tidur semalam? Rasanya tidak mungkin seperti itu, yang ada kami akan pertengkaran kecil nantinya. “A-aku… hm… bermimpi tentang Doraemon yang datang menjemputku lalu pergi terbang ke angkasa bersamanya. Ahh.. menyenangkan sekali jika itu benar-benar terjadi.” Bohongku sembari menyunggingkan senyum untuk menutupinya.

“Apa? Doraemon kau bilang?” tanyaku tak percaya. Aku menoleh ke arahnya lalu mengangguk pelan untuk mengiyakannya.

“Yaa! Apa bagusnya dengan musang gendut dan jelek itu?” kesalnya.

“A-apa? Gendut? Jelek? Yaa! Kau juga tidak kalah gendut darinya.” Bantahku.

“Aku tidak gendut, Cho Yuri.” Elaknya.

“Kau itu gendut sekarang, apa kau tidak menyadarinya?”

“Tidak, aku tidak gendut. Kau yang membuatku seperti ini.”

“Ke-kenapa aku?”

“Karena kau menyuruhku makan terus, tidakkah kau menyadarinya?”

“Yaa! Itukan demi kebaikanmu.”

“Tapi lihat hasilnya? Aku seperti robot biru jelek yang kau sukai itu.”

“Dia tampan, dia tidak jelek.”

“Aku lebih tampan darinya.”

“Tsk! Kenapa kau percaya diri sekali?”

“Karena kenyataannya aku ini memang tampan, Cho Yuri. Jika aku tidak tampan dan menarik, tidak mungkin kau mau denganku.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Aku rasa tidak juga.”

“Lalu jika tidak, apa yang kau suka dariku?”

“Hm, apa ya?” ucapku sembari menaruh dagu ditanganku.

“Coba beritahu padaku.” Pintanya.

“Hm?” gumamku sembari berpikir sedangkan KyuHyun memasang gaya coolnya. Aku tersenyum geli melihatnya seperti itu. “Tidak ada.” Jawabku.

Mata KyuHyun membulat kaget saat mendengar perkataan yang keluar dariku. “A-apa!”

“Apanya apa?” tanyaku balik

“Yaa! Kau benar-benar tidak menyukaiku sama sekali?” tanyanya tak percaya.

Aku tersenyum lembut padanya. Ya Tuhan, mana mungkin aku tidak menyukai ciptaan-Mu yang satu ini? “Aku belum selesai berbicara gendut.”

“Aku tidak gendut!”

Aku tersenyum geli melihat sifat kenak-kanakannya muncul kembali. “Yaa, Cho KyuHyun, aku mencintai semua yang ada pada dirimu.”

“Benarkah?” tanyanya tak percaya.

“Tentu saja.”

Seulas senyum bahagia tersungging diwajahnya, membuatku ikut tersenyum tanpa sadar.

Ya, aku memang mencintaimu dengan tulus, KyuHyun-ah.

“Tunggu! Aku ingin memberikan sesuatu untukmu.” Ucapku, teringat sesuatu yang telah ku siapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

“Hm, apa?” tanyanya penasaran melihatku berlari kecil menghampiri tasku. Aku lalu mengambil sebuah buku yang ingin ku berikan padanya lalu menyembunyikannya di belakang punggungku sembari berjalan menghampirinya.

“Tada~” ucapku mengikuti suara backsound kartun. KyuHyun mengernyitkan keningnya saat melihat benda yang ku tunjukkan padanya.

Because It’s You?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku padanya. “Bacalah. Walau ceritanya tidak begitu menarik, tapi cobalah untuk mengerti setiap kalimat yang ada dinovel itu.” Saranku padanya.

KyuHyun lalu mengambil novel itu dari tanganku dan memperhatikannya dengan seksama.

“Aku menyukai cerita ini, karena disana tertulis dengan ringan dan full romantic tanpa ada konflik yang menegangkan sedikitpun.” Ucapku padanya sembari menatap novel itu. Berbeda sekali dengan ceritaku disini(?).

“Aku akan membacanya nanti.” Ucap KyuHyun sembari mengelus pucuk kepalaku. ‘Terima kasih.” Tambahnya yang ku balas dengan sebuah anggukan kepala.

Because It’s You and The Truth Behind, who is the better story?

Yaa, KyuHyun-ah… maafkan aku…

***

Aku menghela napas dalam-dalam sebelum menemui pria yang saat ini tengah menungguku ditaman. Sudah hampir seminggu kami tidak saling bertemu satu sama lain karena kesibukan yang kami miliki. Hari ini aku sengaja menggerai rambutku untuk tidak mudah diketahui orang-orang disekitar dan melakukan sedikit penyamaran. Seorang laki-laki menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat ke datanganku.

Maafkan aku melakukan ini.

Ingatanku mengingatkan kembali tentang beberapa hari sebelumnya, saat aku bertemu dengan MinHo pada malam hari.

“Kau harus mengakhiri hubunganmu dengannya. Noona, aku sudah memberimu waktu yang lama untuk kau melakukannya. Jika kau mengulurnya lagi, maka aku takkan sungkan menyewa pembunuh bayaran kali ini.” Ucap laki-laki itu dengan tegas dan dingin sembari menatapku lurus. Aku baru saja tiba di parkiran dorm SNSD, dan ia telah menungguku sebelum aku tiba.

 

Wae? Hari ini aku benar-benar lelah sekali, Tuhan. Kenapa ia selalu membuatku merasa tertekan karena sikapnya ini? Dan lihat, mengapa aku tidak begitu terkejut saat ia mengatakannya, huh?

 

Hidup atau mati. Bukan jawaban yang mudah bukan? Terlebih, aku benar-benar tidak bisa memutar otakku untuk berpikir lebih jernih lagi saat ini. Terlalu padat jadwal grupku saat ini.

 

Aku hanya diam, menatap sendu wajah MinHo. Bad guy.

 

“Aku akan atur tempat pertemuanmu dengannya, kau bisa memberitahukannya sepulangnya ia dari China.” Lanjutnya karena tidak ada respon sama sekali dariku. Aku hanya bisa diam seperti patung. Percuma menghadapi orang sepertinya. Psycho.

 

“Aku akan memberimu beberapa benda yang harus kau gunakan nantinya.” Lanjutnya lagi. Hening, ia menatapku dengan sendu. “Tersenyumlah, aku tidak pernah melihat senyumanmu lagi sama seperti kita bersama dulu. Yuri noona, aku merindukanmu.” Lirihnya.

 

Aku menatapnya sinis dan tak percaya. Masih pantaskah ia berbicara seperti itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara ku dengannya? Cih!

 

“Kau mungkin bisa mendapatkan ragaku, tetapi tidak hatiku. Aku tidak akan bisa tersenyum tulus lagi, walaupun kau melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Selamat malam.” Ucapku dingin lalu melewatinya begitu saja tanpa memedulikannya lagi.

Aku memperlambat langkah kakiku saat mendekati pria itu. Perasaan pilu mulai datang menghampiriku. Tubuhku mulai terasa bergetar setiap langkahnya.

Mungkin, setelah aku mengatakan ini kau akan membenciku. Tetapi aku mohon padamu, jangan benci aku.

Bayangan pria itu sedikit kabur karena air mataku telah tertahan di ke dua pelupuk mata. Pria itu merentangkan ke dua tangannya di udara, menungguku untuk berlari ke dalam pelukannya. Bolehkah aku melakukannya?

Jika aku mengatakan kata-kata itu, masih adakah pelukan hangat darimu untukku seperti dulu lagi?

Yaa, aku jadi teringat lagu yang pernah aku nyanyikan untukmu dulu. Apa kau masih mengingatnya? Because it’s all you, because it’s you that I miss, I love you
It hurts so much, it’s so hard but because it’s you, I’m okay
.

Langkahku semakin dekat dengannya. Ia masih menungguku dengan sabar ditempatnya menunggu. As I always have worried I look at you, I wait for you and get exhausted Because of you, I get sad

Ia lalu memelukku erat dan kuat saat aku telah berada tepat di depannya, seakan-akan ia tidak akan melepaskanku walau hanya sekejap mata saja. Senyum tipis tersungging diwajahku. Pelukan terakhir darimu. Jika seperti ini, aku akan menjadi serakah dan egois padamu. Because it’s you, because it’s you that I love Because it’s all you, because it’s you that I miss, I love you I keep getting greedy, I keep crying Because its you, because it’s all you (by: Davichi – Because It’s You)

“Cho Yuri-ssi, aku sangat-sangat merindukanmu.” Bisiknya lembut tepat ditelingaku.

Ya Tuhan, ba-bagaimana caraku untuk mengatakannya?

“Benar, memelukmu seperti ini sangatlah menyenangkan.” Lanjutnya.

Ya Tuhan… sepertinya aku akan benar-benar menjadi wanita jahat jika seperti ini.

“Yaa, kenapa kau hanya diam saja? Tidakkah kau merindukanku juga? Jawab aku.”

Ya, itu benar. Aku sangat-sangat merindukanmu, Cho KyuHyun. Bisakah aku memberitahukannya padamu?

“Cepat katakan, atau kau akan melihat kematian di depan matamu.” Peringat seseorang diearphone yang tengah ku pakai saat ini.

Ya Tuhan… haruskah aku melakukannya?

“Hei, ada apa denganmu?” tanya KyuHyun sembari menatap lurus ke arahku dan menyentuh ke dua pipiku. Aku bahkan baru menyadari bahwa saat ini ia sedang tidak memelukku lagi.

Pelukan terakhir… pelukan terakhir darimu…

“Kyu-kyuHyun-ah…” panggilku dengan suara yang sedikit bergetar. Ba-bagaimana ini?

Ia menatapku lembut. Aku bisa melihat ketulusan dan cinta yang ia berikan untukku melalui kacamata berlensa biru yang ku pakai saat ini. KyuHyun memakai kacamata berlensa putih tembus pandang, membuatku dapat melihatnya dengan baik. “Hm?” sahutnya lembut.

“Ke-kenapa kita tidak mengakhiri hubungan ini? Aku rasa sudah waktunya kita berakhir sekarang.” Ucapku dengan susah payah dan mencoba untuk berdiri dengan kuat saat ini.

Tuhan, kenapa…? Kenapa harus seperti ini?

Mulut KyuHyun sedikit terbuka, matanya membulat kaget, dan seluruh tubuhnya menegang. “A-apa yang ka-u ucapkan? Hahaha, apa kau sedang bercanda? Yaa! Ini tidak lucu bukan?” jawabnya sembari mencubit gemas ke dua pipiku.

Buat kebohongan. Beritahu padanya bahwa saat ini kau tidak mencintainya lagi.” Ucap pria disebrang sana sembari memberiku instruksi.

Apa kau saat ini sedang tersenyum puas melihatku dan KyuHyun seperti ini?

“A-aku tidak bohong. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.” Ucapku berusaha tegas sekali lagi.

“Ada apa denganmu? Apa aku melakukan suatu kesalahan padamu?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan apapun terhadapku.

“Tidak ada, hanya saja aku tidak ingin menjadi beban untukmu.”

Benar. Aku hanya akan menjadi beban untukmu.

KyuHyun menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, kau tidak menjadi beban untukku.” Tegasnya sembari menyentuh ke dua bahuku dengan lembut.

Ya Tuhan, bagaimana caraku untuk melindunginya?

Mataku membulat kaget saat sebuah senapan arahnya menuju ke arah kami di atas gedung pertokoan taman kota Seoul. Ada 3 orang pembunuh bayaran yang telah MinHo sewa untuk ini, yaitu salah satunya di atas gedung pertokoan itu, disudut jalan taman ini, dan terakhir bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari tempat kami saat ini.

Kenapa? Kenapa ia begitu kejam dan jahat padaku?

“Tapi… tapi…” ucapku sedikit panik karena bisa saja sang penembak itu menarik pelatuknya kapan saja tanpa di duga. Tubuhku benar-benar lemas sekarang. Energiku seperti telah terserap keluar begitu saja tanpa ampun.

“Sstt!” titah KyuHyun sembari menaruh telunjuknya dibibirku. Aku menatapnya dengan tatapan sendu. “Jangan bicara apapun lagi. Kau tidak membuatku merasa terbebani.” Lanjutnya lalu mendekap tubuh erat.

Aku menatap nanar KyuHyun. Seandainya aku tidak bertemu dengan MinHo dan lebih dulu bertemu denganmu Cho, itu akan jauh lebih baik aku rasa.

Waktumu hampir habis, noona sayang.” Peringatnya dengan santai.

Choi MinHo-ssi, apa kau merasa senang sekarang melihatku seperti ini?

“Aku tidak bisa lagi, Cho. Terima kasih atas segala kenangan yang telah kau berikan padaku. Aku tidak akan melupakannya dengan mudah.” Ucapku pada KyuHyun dengan sedikit menundukkan kepalaku. Aku tidak berani menatapnya matanya. Ini terlalu menyakitkan untukku. KyuHyun melepaskan pelukannya, menatapku dengan tidak percaya.

“Ke-kenapa kau selalu seperti ini? Tidakkah aku tidak berarti apa-apa untukmu?”

Tidak, kau sangat-sangat berarti untukku, Cho KyuHyun.

“Bagiku, kau hanyalah kakak-ku selama ini. Maaf telah melakukan banyak kebohongan padamu.”

Bohong.

Air mata KyuHyun jatuh disalah satu pipinya begitu saja saat aku ingin menatapnya.

Jangan… jangan seperti ini ku mohon… a-aku tidak akan kuat melihatmu menangis di depanku… Hentikan. Ku mohon hentikan. Jangan menangis…

“Aku tahu ini berat untukmu…” bahkan ini jauh lebih berat untukku karena aku sangat mencintaimu. “…tapi aku harus melakukan ini. Kau akan baik-baik saja nantinya.” Tetapi, tidak untukku.

“A-aku tidak ingin mengucapkan kata-kata selamat berpisah…” jangan ucapkan kata-kata itu padaku. “…padamu. Jadi, sampai jumpa.” Sampai bertemu lagi di masa yang akan datang. Dan aku berharap, kita memiliki takdir untuk hidup satu selamanya tanpa ada orang ketiga dikehidupan nantinya, bisakah aku memohon seperti itu kepadamu Tuhan?

Aku membalikkan tubuhku, berjalan meninggalkan KyuHyun yang masih diam ditempatnya.

KyuHyun-ah, maafkan aku. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.

Air mataku telah jatuh tanpa bisa ku tahan lagi.

Kejam. Lelaki kejam.

“Gadis pintar.” Puji orang disebrang sana yang ku yakini saat ini ia merasa puas dan senang melihatku melakukan semua ini, sesuai dengan keinginannya.

“Huh. Apa kau merasa senang sekarang, MinHo-ssi? Ah, pasti kau senang melihatku menderita seperti ini.” Ucapku sembari menangis.

“Tidak, hentikan. Jangan menangis!” ucapnya panik.

“Aku tahu kau bahagia sekarang, tapi a-aku.. aku sangat menderita melakukan ini semua… Tidak bisakah kau melihatku bahagia? Tidak bisakah kau melepasku begitu saja dan pergi bersama orang lain? MinHo-ssi, aku memiliki seseorang yang sangat ku cintai melebihi apapun yang ada di dunia ini. Bahkan, aku merelakan hidupku untuk orang itu. Karena ia sangat berarti untukku.

Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau mencintaiku? Apa kau benar-benar mencintaiku? Tidakkah kau berpikir bahwa yang kau lakukan selama ini adalah sebuah obsesi belaka terhadapku? Jika itu yang kau beri nama cinta, kau salah. Cinta tidak seperti itu. Cinta adalah sebuah air yang jernih dan murni mengalir apa adanya. Bukan sebuah air kotor yang yang tidak tahu arah dan mengotori benda-benda disekitarnya. Tidakkah kau mengetahuinya?

Jika kau seperti ini terus, kau sama saja membunuhku secara perlahan-lahan. Kau tahu? Manusia memiliki berbagai titik puncak sesuatu hal yang bisa meledak kapan saja saat mereka merasa tidak sanggup melewatinya. MinHo-ssi, aku juga seorang manusia yang memiliki berbagai keterbatasan dalam beberapa hal. Dan, ini adalah titik batas kesabaranku terhadapmu. Apa kau melihat dimana saat ini aku berada? Aku rasa akan lebih baik jika aku membiarkan tubuhku jatuh ke dalam sungai ini. Mungkin akan menyenangkan sekali, benar? MinHo-ssi, aku lelah. Aku benar-benar lelah menghadapi sikapmu yang seperti ini setiap saatnya.

Kau tahu? Aku bahkan benar-benar tidak tahu tempat dimana kau tidak bisa menemukanku. Ini lucukan? Kau selalu menemukanku walaupun aku pergi ke tempat terpencil sekalipun. Dan itu… membuatku jengah dan terganggu. MinHo-ssi, kau tahu kata-kata apa yang selalu ingin ku ucapkan padamu? Selamat tinggal. Lupakan aku. Hapus aku dalam ingatanmu. Aku bukanlah wanita yang pantas kau cintai lagi karena hatiku milik orang lain. Selamat tinggal, selamat tinggal, dan selamat tinggal.” Ucapku lalu melepaskan earphone dari telingaku sebagai alat komunikasi ia denganku, lalu melemparkannya ke dalam sungai beraliran deras itu begitu saja bersamaan dengan kacamata yang tengah ku pakai tadi. Di dalam kacamata itu, MinHo telah memasang kamera kecil disalah satu bagiannya. Ia dapat melihat semuanya dari kejauhan lewat monitor.

Aku harap, hari-hariku akan menjadi lebih baik lagi nantinya. Batinku berdoa kepada Yang Maha Kuasa sembari menatap langit.

Aku meyakini satu hal yang selalu ku lakukan untuk orang-orang disekitarku. Ketulusan akan membuahkan hasil terbaik. Aku menuruni beberapa anak tangga untuk sampai dipinggiran sungai beraliran deras itu.

Di dalam sana, apakah dingin?

Aku melepas mantel abu-abu milikku, melepas sepatu flat shoes, lalu menutup ke dua mataku perlahan-lahan. Bayangan-bayangan saat aku dan KyuHyun sedang bersama-sama terputar dengan baik dalam benakku. Air mataku kembali turun di sudut mataku. Rasanya aku ingin membiarkan tubuhku terhanyut oleh aliran sungai yang deras itu.

Perih.

Outside it’s no raining

And tears are falling from my eyes

Why did it have to happen

Why did it all have to end

(Emilia – Big Big World)

Tuhan, ini sangat menyakitkan untukku… batinku sembari menggigit kuat bibir bawahku untuk menahan rasa sakit yang menggerogoti dihatiku.

***

Aku memasuki dorm dengan tidak bertenaga. “Yuri-ya.” Panggil Tiffany dengan khawatir. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Aku tahu berita berakhirnya hubungaku dengan KyuHyun telah diketahui oleh mereka semua. Tetapi aku tidak memiliki tenaga yang cukup saat ini untuk menceritakannya lebih lanjut.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sembari menyentuh salah satu bahuku.

Ani.

“Yuri?” panggil Jessica lembut.

Aku hanya menatap para member SNSD dengan kosong dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Aku tidak memiliki tenaga yang cukup bahkan untuk mengeluarkan suara sedikitpun.

“Istirahatlah dulu, aku akan memasakkanmu makanan yang enak nantinya.” Saran Hyoyeon sembari jalan untukku kekamar karena mereka semua mengelilingiku, terasa sedikit sesak untukku.

Aku merebahkan tubuhku dikasur saat telah tiba dikamar. Perlahan-lahan, aku menutup ke dua mataku agar tertidur. Dalam benakku, wajah KyuHyun menangis tadi kembali terngiang. Membuat air mataku kembali atuh disudut mataku.

Maafkan aku. Maafkan aku.

***

Hari-hariku benar-benar terasa sulit untuk dilewati tanpanya. Ditambah lagi dengan MinHo yang kembali over protective padaku. Aku berjalan menuju lokerku berada untuk mengambil handuk dan tas. Mataku membulat kaget saat mendapati sepucuk surat berwarna biru muda, tergeletak dengan manis di dalam loker. Aku mengambilnya dengan perasaan sesak yang mulai menghampiriku.

Missing you

Fr: idk

Ya Tuhan…

KyuHyun-ah, apa ini kau yang mengirimkannya? Atau… orang lain?

Yaa Cho KyuHyun, jika itu kau, kau tahu? Aku sangat-sangat merindukanmu selama ini hingga ingin mati rasanya.

Aku menggenggam erat surat itu sembari menahan suara tangis yang mungkin saja akan keluar.

***

Aku berjalan terburu-buru saat menuju sebuah gedung aula besar yang telah dipesan secara khusus oleh Lee SooMan ahjussi untuk merayakan keberhasilan kami dalam berbagai acara musik. Sebenarnya aku tidak mengerti untuk apa kami merayakannya ditempat ini? Sangat aneh bukan?

“Yuri-ya, kau dimana?” tanya Tiffany ditelepon.

“Sebentar lagi sampai, aku sudah disini sekarang. Tunggulah sebentar lagi.” Jawabku sembari mengatur napasku karena aku datang terlambat. Aku tidak mengerti mengapa mereka semua tega meninggalkanku sendirian di dorm dan diam-diam pergi begitu saja datang kemari.

“Cepatlah sedikit, kami semua menunggumu disini.” Balasnya.

Langkahku berhenti saat aku telah tiba tepat di depan pintu aula. “Aku sudah sampai di depan pintu sekarang.” Ucapku sembari merapikan rambut dan pakaianku sebelum membuka pintu itu.

“Benarkah kau sudah di depan sekarang?” tanya Tiffany panik.

“Iya, ada apa?” tanyaku padanya, membuatku mengernyitkan keningku.

“Ani.” Jawabnya lalu sambunganpun diputus begitu saja sebelum aku membalas ucapannya. Aneh.

Aku membuka pintu aula. Gelap. Apa tidak ada orang disini? Bukankah tempat yang dimaksud itu adalah ini? Apa aku salah tempat? Batinku sembari masuk lebih dalam aula dan berhenti tepat dipinggir panggung. Tanpa sadar pintu aula itu tertutup begitu saja hingga menimbulkan suara keras, membuatku sedikit menjerit kaget karena tempat ini terlalu gelap. Dalam hitungan detik berikutnya, sebuah lampu di atas panggung menyala, memperlihatkan seorang laki-laki sedang duduk dikursi piano di atas panggung. Jarak di antara kami tidaklah begitu jauh, hanya beberapa langkah saja.

Mataku membulat kaget saat mengetahui siapa pria itu, napasku tercekat, dan otakku tidak dapat berpikir jernih saat ini. Aku menutup mulutku agar tidak bersuara. Suara dentingan tuts-tuts piano mulai terdengar. Ia memainkan beberapa tuts-tuts dengan asal tetapi menghasil nada-nada yang enak di dengar.

“Ya ya ya, wanita tua yang berdiri disana.” Ucapnya melalui mic-nya.

Aku diam, tidak tahu harus melakukan apa? Yang aku tahu apa yang harus ku lakukan saat ini adalah menjaga hati dan diriku untuk tidak menghambur ke dalam pelukannya saat ini.

“Dengarkanlah lagu yang ingin ku nyanyikan ini untukmu. Aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak, tetapi lagu ini mewakilkan hatiku saat ini. Jadi, dengarkanlah baik-baik.” Pintanya sembari menyunggingkan senyum tulus padaku. Terdengar tuts-tuts lantunan lagu yang sangat familiar untukku.

Aku menyukai lagu ini, mungkin sangat. Perlahan-lahan, mataku mulai terpenjam untuk menghayati lagu ini.

I thought this was the end of my memory
The faces I’ll never see again pass me by
I stood at the end where I couldn’t do anything
I put my hands together and just prayed

So I could show you my heart

That still hasn’t done everything

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”

I thought the entire world stopped
Only the happy times pass me by

I stood at the end I thought I wouldn’t have
I just prayed like that
So I can feel the love
That I’ve passed by

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”
I’ve lived without knowing
How precious you are

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”

(KyuHyun – Love Again)

 

Lagu berakhir, aku membuka ke dua mataku perlahan-lahan lalu menatap KyuHyun yang saat ini hanya melihat ke arahku. KyuHyun-ah…

KyuHyun berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arahku. Ia berhenti saat ia tepat di depanku, menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.

A-apa?

“Aku tidak pernah benar-benar menyadari bahwa betapa berharganya dirimu untukku. Awalnya aku benar-benar membencimu saat kau meninggalkanku begitu saja tanpa persetujuanku. Tetapi…” potongnya, sembari menatap lurus ke arahku. “aku tidak bisa. Kau… kau benar-benar sudah masuk dan memiliki seluruh ruang hatiku tanpa sisa sedikitpun. Jadi, kenapa kau bisa melakukan hal itu kepadaku? Apa kau tidak mencintaiku sama sekali, huh?” tanyanya dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya. “Yuri-ssi, aku tidak tahu sejak kapan kau mulai menjadi oksigen untukku, tetapi setiap saatnya ketika kau sedang tidak berada dalam gapaianku, aku benar-benar merasakan sesak yang luar biasa di dadaku.” Lanjutnya diiringi dengan ke dua air mata yang keluar disudut matanya lalu menghapusnya asal.

Ya Tuhan…

Jebal kumanhaeyo…

“Aku tahu ini mungkin terlihat konyol untukmu, tapi.. tapi aku hanya ingin kau tahu bagaimana kacaunya hidupku tanpa dirimu disisiku lagi.” Lanjut KyuHyun.

“Hentikan.” Ucapku dingin padanya.“Berhenti menangis di depanku, karena mungkin aku tidak akan kuat melihatmu seperti itu.” Tambahku padanya. Jebal…

Ia lalu menekukkan ke dua kakinya dilantai sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru merah lalu membukanya. Menampakkan isi dari kotak itu. “Aku ingin memohon satu hal padamu, would you want to be my wife and promise me to loving me as long your live please, Kwon Yuri?” pintanya.

Mataku membulat, napasku tercekat, jantungku berhenti berdetak selama beberapa saat, peredaran darahku tidak lancar, dan sistem sarafku bekerja dengan tidak baik saat ini. A-apa aku sedang bermimpi saat ini?

KyuHyun menatapku dengan penuh harap, sedangkan aku merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.

Apa ini mimpi?

Apa ini nyata?

Aku berada dimana sekarang?

Seseorang bisakah kau memberitahuku apa ini nyata atau tidak?

Entah ini nyata atau tidak, tetapi aku benar-benar berharap ini adalah kenyataan yang ada saat ini. “Yes, I do.” Jawabku sembari menganggukkan kepalaku padanya.

Seulas senyum bahagia tersungging diwajahnya dengan baik. Ke dua matanya berbinar-binar bahagia menatapku. Ia bangkit dari duduknya lalu memelukku erat yang ku balas dengan sebuah pelukan dariku.

“Terima kasih, terima kasih, terima kasih…” ucapnya berulang-ulang ditelingaku.

Tuhan, terima kasih. Terima kasih kau telah mempersatukan kami lagi. Aku tahu, kata-kata tidak akan cukup untuk membalas apa yang telah kau berikan padaku, tetapi aku benar-benar bersyukur pada apa yang kau berikan untukku.

Terima kasih.

Bunyi sorak-sorai riuh bahagia terdengar olehku diiringi keluarnya para members Super Junior, SNSD, F(x) dan EXO dibalik panggung. Mereka bertepuk tangan bahagia diiringi ucapan selamat untuk kami berdua.

A-apa ini? Sebuah kejutankah untukku?

KyuHyun pasti telah mempersiapkan ini semua dengan sebaik mungkin.

***

Hari pernikahan kami telah tiba setelah dua bulan yang lalu ia melamarku. Hari ini aku menatap pantulan bayanganku melalui cermin besar di depanku. Aku benar-benar gugup saat ini. Hari ini aku akan benar-benar resmi menjadi istri seseorang yang bernama Cho KyuHyun.

“Selamat atas pernikahanmu.” Ucap Tiffany dibelakangku. Aku menoleh dan mendapatinya tengah tersenyum bahagia kepadaku.

“Terima kasih, Fany-ah.” Balasku lalu berpelukan kecil selama beberapa saat untuk melepas rindu karena sudah 2 minggu kami tidak bertemu.

Kami mengakhiri pelukan kami. Aku menatapnya dengan senyum yang masih tersungging diwajahku. “Dimana KyuHyun? Apa ia tidak ingin melihat mempelai wanitanya dulu sebelum pernikahan berlangsung?” tanya Tiffany sembari mencari-cari sosok yang ingin ia lihat.

“KyuHyun sedang tidak disini. Ia bilang, ia tidak mau melihatku sekarang, ia akan melihatku di altar nanti.” Jelasku padanya sedikit tertawa mengingat KyuHyun yang mengatakan itu langsung padaku saat kami tengah mencoba pakaian pernikahan kami.

“A-apa? Kenapa?” tanyanya sembari mengernyitkan keningnya.

“Ia bilang, aku adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuknya saat menggunakan baju pengantin dan berjalan hanya ke arahnya di atas altar.” Jelasku lagi sembari menutupi ke dua pipiku yang mulai memerah.

Ya Tuhan, laki-laki itu selalu bisa membuatku terbang ke langit ke tujuh.

“A-apa? Hahaha, dasar evil itu.” Ucapnya sembari tertawa.

“Hei, dia bukan evil tetapi dia itu seorang angel.” Bantahku sembari tertawa.

“Untukmu, tentu saja. Hahaha.”

Selanjutnya kami terlibat dalam perbincangan kecil selama beberapa saat.

“Yuri-ya, kau sudah siap? Sudah waktunya tiba.” Ucap Ibuku lembut dibalik pintu.

“Aku akan keluar sekarang.” Jawabku padanya.

Sudah tiba saatnya.

“Ayo, tunggu apalagi? Ini yang kau tunggu-tunggu selama ini kan? Ayo cepaatt!” ajak Tiffany bersemangat. Aku mengangguk lalu sedikit menaikkan gaun untuk memudahkanku berjalan. “Mari ku bantu.” Tawarnya dengan senang hati.

“Terima kasih, Tiff.” Ucapku padanya tanpa bisa menutupi rasa gugup yang mulai menyelimutiku kembali.

***

Aku berjalan di atas altar dengan gugup. Pandanganku lurus ke depan, menatap seorang laki-laki yang tengah melihat ke arahku dengan kagum dan penuh kasih. KyuHyun mengambil alih tanganku saat kami telah berada di depan pendeta. Senyum bahagia mengembang di wajah kami masing-masing tanpa bisa ditahan lagi.

“Dirumah suci Tuhan ini, kita akan melihat dua manusia yang saling mencintai menjadi sepasang sah suami-istri. Sebelum acara ini dimulai, adakah yang ingin menentang pernikahan ini?” tanya pendeta itu pada para tamu undangan di gereja ini. Hening, tidak ada yang berbicara sedikitpun. “Baiklah, kalau begitu acara kita mulai. Tuan Cho KyuHyun, apakah anda bersedia menjaga dan mencintai nona Kwon Yuri dalam suka maupun duka, dalam senang maupun sedih, dalam sehat maupun sakit?” tanya pendeta itu pada KyuHyun.

“Saya bersedia.” Jawab KyuHyun dengan yakin dan tegas.

“Nona Kwon Yuri, apakah anda akan bersedia menjaga dan mencintai tuan Cho KyuHyun dalam suka maupun duka, dalam senang maupun sedih, dalam sehat maupun sakit?” tanya pendeta itu padaku.

“Saya bersedia.” Jawabku dengan yakin dan tegas.

“Silahkan bertukar cincin.” Titahnya, lalu Tiffany dan DongHae berjalan ke arah kami membawakan kotak kecil yang berisikan cincin pernikah kami.

KyuHyun mengambilnya dari Tiffany, menarik tanganku pelan. Ia menatapku dengan lembut dan penuh kasih lalu mulai memasangkannya di jari manisku. “Aku mencintaimu, Kwon Yuri.” Ucapnya pelan yang dapat ku dengar, membuatku terbang melayang ke langit ke tujuh.

Aku mengambil cincin untuk KyuHyun dari DongHae, menarik tangan KyuHyun pelan untuk memudahkanku memasangkannya. Aku menatapnya dengan lembut dan penuh kasih. “Aku juga mencintaimu, Cho KyuHyun.” Ucapku padanya.

“Kalian telah ku sah menjadi sepasang suami-istri di rumah Tuhan yang suci ini. Kalian boleh berciuman sekarang.” Ucap pendeta itu.

KyuHyun menyunggingkan senyum jahil diwajahnya. Aku mengernyitkan keningku saat melihatnya seperti itu. A-apa? KyuHyun lalu mendekatkan wajahnya ke arahku sembari memejamkan ke dua matanya perlahan-lahan, membuatku terbius dan melakukan hal yang sama sepertinya. Ia melumat bibirku dengan lembut dan tenang, membuatku terlarut dalam ciumannya.

“HENTIKANNN!!!” Teriak keras seseorang, membuat kami semua dalam ruangan ini terkejut olehnya. Kami menghentikan ciuman diantara kami, dan mencari sumber suara tersebut. Seorang laki-laki berdiri di depan pintu geraja dengan tampilan yang sangat berantakan. Raut wajahnya memancarkan kemarahannya yang luar biasa kepadaku dan KyuHyun.

Laki-laki itu lalu mengeluarkan suatu benda di dalam saku jasnya dan mengarahkannya kepadaku dan KyuHyun, membuat para tamu undangan berteriak panik dan ketakutan. Ia berjalan dengan langkah kaki panjang dan lebar menuju kami. Aku maju selangkah di depan KyuHyun, melindungi KyuHyun dibalik punggungku sembari merentangkan ke dua tanganku membentuk prisai. Aku menyakini satu hal, ia tidak akan mampu menyakitiku secara fisik.

“Kwon Yuri apa yang kau lakukan?” tanyanya KyuHyun sembari mencoba menggeser posisiku. Hari ini adalah hari bahagiaku, jadi aku memiliki energi tambahan untuk bertahan diposisiku.

Mata MinHo membulat kaget melihatku melakukan ini. Seperti biasa, aku menatapnya dingin dan benci. “Menyingkirlah, ini bukan urusanmu.” Titahnya dingin padaku.

“Tentu saja ini menjadi urusanku jika kau ingin melukai orang yang ku cintai.” Balasku padanya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah hubungan kita baik-baik saja sebelumnya? KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU!” teriaknya dengan marah.

“Hubungan kita tidak lebih dari teman, dan aku tidak pernah menganggapmu lebih dari itu.”

“Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Jika aku tidak dapat memilikimu maka tidak ada yang boleh memilikimu juga!” histeris MinHo frustasi.

“Kau bukan Tuhan, MinHo. Jika Tuhan menghendaki aku bersama dengan pria yang ku cintai, aku akan tetap bersamanya walau apapun yang terjadi. Jika tidak, aku tidak mungkin bersamanya sampai saat ini.” Ucapku dengan tenang.

“Tetapi aku sangat mencintaimu, Kwon Yuri!” tegasnya.

“Sedangkan aku tidak. Aku tidak akan pernah mencintaimu lagi, Choi MinHo. Sampai kapanpun, aku hanya akan tetap mencintai suamiku, Cho KyuHyun.”

“Kalau begitu, aku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak akan mampu melihatmu bersama dengannya, Yuri-ssi.” Ucapnya sembari tersenyum getir. MinHo lalu menarik pelatuk dari pistol miliknya. Suara histeris dari beberapa tamu undangan yang masih ditempat terdengar olehku.

DOR!

Bunyi tembakan terdengar oleh telingaku pada detik berikutnya. Bau anyir dan amis tercium oleh hidungku. Bau darah. Pandanganku menjadi kabur. Benda-benda yang ku lihat tidak lagi berada ditempatnya. Aku bahkan tidak menyadari ada sekumpulan orang yang berdiri di depan pintu dan menacungkan suatu benda ke langit-langit tempat ini. Keseimbanganku goyah. Kakiku sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhku dan aku membiarkan tubuhku jatuh beitu saja ke lantai. Tetapi sebelum tubuhku menyentuh lantai, sebuah tangan besar dan kokoh menahan tubuhku agar tidak jatuh. Samar tetapi pasti, aku tahu siapa pemilik tangan yang melingkari tubuhku ini. Seulas senyum lemah tersungging di wajahku. Laki-laki itu meneriaki namaku berulang kali dengan sedikit frustasi dan histeris.

Cho KyuHyun, aku sangat mencintaimu. Apa kau tahu itu?

KyuHyun-ah, ini adalah salah satu bukti perasaanku padamu. Apa kau merasakannya?

Hiduplah dengan baik.

===================== END(?) ========================

And, this is story end *plak. How about it? Kkk

Aku membuka ke dua mataku perlahan-lahan. Putih, warna itu yang kulihat kali pertama saat aku membuka mata. Dimana aku? Apakah saat ini aku tengah berada disurga?

“Kau sudah sadar?” tanya sebuah suara yang familiar ditelingaku. Kyu-Hyun? “Kau tertidur cukup lama juga. Apa kau tidak bosan tidur terus?” cibirnya kesal.

“A-apa?” tanyaku tidak mengerti. Tidakkah seharusnya aku berada disurga sekarang? Bukankah aku telah ditembak oleh pria itu?

“Dokter bilang, kau pingsan karena terlalu lelah dan tegang, Mrs. Cho.” Jelas KyuHyun sembari mencium keningku sekilas.

Pingsan? Aku?

“Yaa, apa kau ini tidak bisa berpikir lebih dulu sebelum bertindak? Bagaimana jika MinHo benar-benar menembakmu saat itu juga? Apa kau tidak memikirkan keadaan diriku nantinya?” omel KyuHyun sembari menatapku kesal dan mencubit ke dua pipiku dengan gemas.

“Untung saja Siwon datang membawa polisi saat itu. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.” Ucapnya sembari bergidik ngeri.

“Siwon? Polisi?” tanyaku tak mengerti.

“Siwon-hyung telah membawa beberapa polisi sebelum MinHo datang. Sebenarnya, kami berdua telah membuat kesepakatan sehari sebelum acara pernikahan kita tiba. Aku tahu MinHo tidak akan tinggal diam dihari upacara pernikahan kita. Dan aku tengah memastikan kabar pernikahan kita tidak akan sampai terdengar ke telingannya sehari sebelum acara pernikahan kita dimulai. Ia akan mendengarnya saat detik-detik pernikahan kita dimulai. Dan rencanaku untuk satu itu berhasil berjalan dengan baik. Aku juga tahu alasan kau mengakhiri hubungan kita sebelumnya.” Jelas KyuHyun puas denan sebuah senyuman lembut yang tersungging diwajahnya.

Aku menatapnya dengan lembut. “Lalu dimana dia sekarang?”

“Di tempat menakutkan untuk para penjahat sepertinya.” Jawabnya enteng sembari mengupas apel, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu memberikannya padaku. Aku membuka mulutku lalu mulai memakannya. “Syukurlah keadaanmu sudah baikan. Aku berharap hari ini kau bisa pulang dan melakukan hal yang tertunda.”

Aku mengernyitkan keningku. “Hal yang tertunda?” ulangku tak mengerti.

Sebuah smirk terlihat diwajah tampannya. “Aku akan mengajarkanmu nanti saat tiba dirumah.” Jawabnya.

“Mengajarkanku?” ulangku lagi.

“Aish, sini kemarilah, aku akan memberitahu maksudku.” Ucapnya sembari meletakan apel dimeja kecil disisi ranjang. KyuHyun mendekatkan wajahnya padaku lalu melumat bibirku lembut dan hangat sembari menarik tengkukku. Aku membalas ciumannya.

“Aku mencintaimu, Kwon Yuri.” Ucapnya saat kami mengakhiri ciuman kami. Sebuah senyum bahagia tersungging diwajahnya.

“Aku juga mencintaimu, Cho KyuHyun.” Balasku dengan senyum tulus yang tersungging diwajahku. Lalu kami melanjutkan ciuman diantara kami kembali, hangat dan lembut. Dan, hmm, sepertinya ciuman kami kali ini akan berlangsung panjang dan ke arah lain.

======================= END ===========================

AYO GG!

Haii~ Apa kabar kalian semua? Lama tidak bertemu lagi haha😀

Diantara kalian ada yang menginginkan cerita asli dari Because It’s You kan? Ini aku post~ Kkk

So, how about that? Hmm, unbreakable banget ya ini kkk /gegulingan(?)/

Anw, sepertinya aku akan long hiatus mulai sekarang. Aku udah mulai sibuk lagi soalnya /halah sok sibuk/ :p Tapi bukan berarti ngga ada komen, kritik, dan saran yaa. Heung

Will miss you to my lovely readers /bighug and throwlove/

 

KEEP RCL (READ, COMMENT(s), AND LIKE) PLEASE.

 

Comment(s) like Oxygen.

 

Thank You For Support.😀

 

Wild Orchid jjang! ^^)9

 

 

 

63 thoughts on “The Truth Behind

  1. i cant describe anything now….your story make me fly to my dream, seriuosly.
    unnie ya sumpah demi apapun, bagus banget ini fanfic. aku gabisa komentar apa-apa. tegang. nangis. capur aduk huaaaah <//3. awalnya agak ga nyambung dan gamau baca, tp dilihat endingnya kok beda? ternyata ini cerita asli yg unnie buat. dan ini beda dari Because It's You kemarin kekeke :p.
    Senang banget bacanya, apalagi castnya sesuai sm yg dihati, as you know lha yaa…. minho is my enemy lol :p and i very like this story❤ . Sering2 aja ya bikin cast si minong jahat, dukung sedukung2nya!! Emang shipper sebelah doang yg bisa bikin kyuhyun jadi jahat? HEUNG -_-. You know , Who Am I, right? :p
    I'll miss ur story, usually huhuhu😦 . Jangan lama-lama yah hiatusnya </3 dan jgn lupa, pantengin Hyeahkim/ffindo wp, ultah kyu dipost fanfic WO dengan full …. you know what i mean?
    DI ff ini juga banyak bahasa inggrisnya, sejujurnya sukaaaaaa .<

  2. ow ow ow trnyt ni toh asliny crt ,kirainad nc ny . hahahaha

    kirain siwon suka am yul gtw ny jls sudh .
    aduh tu minho egois bgt x , slh dy tp msi pngn yuri blik .
    kirain endingny bkl matl gtwny dkibulin ni am authorny . hehehe
    asik asik crtany . kyuri nikah euy

    laguny pd nyentuh tuh .

  3. waaahhhhhhhhhhhhhhhhhh ff’a menguras emosi……….
    tegang ..aq aj smpe nngis T.T
    yaakkk minho oppa knp kmu jhat mau misahin kyuri couple ? pngen ngebunuh kyuhyun oppa segala ….tpi ga rela jga klo minho oppa jdi jht gtu😦
    ff’a DAEBAK …
    hiatus? jgn lma2 iy🙂
    next ff aq tunggu🙂

  4. yeaaaaaaaaaahh, i’m very happy right now, this story is real muahahhaahha

    seneng happy ending.. dan akhirnya kyuri bersama😀

    and finally, this is full story from because it’s you fanfiction

    and I HATE CM, hate till the end of time lalala ♬

    ga tau kenapa pas kyuri break up tuh nyesek se nyesek”nya, kenapa? karna, eike sebel deh sama org yg sok tau mengenai kyuhyun dan buat kyuhyun selalu menderita ffnya, emg kita(?) ga bs gitu wkwkwk

    vengeance is beautiful LOL❤

    oia, pas ketemu tgl 24 jan kemarin sepi deh #curcol
    trus fix ketemuan lg bln maret, karna kamu sm fidha ujian🙂
    sukses ya buat ujiannya, fighting!!!

    nah pas maret kita ketemu lagi, setelah ocha onn balik dari jepang karna ocha onn ada dinas ke jepang dan unn moving in lombok, nanti balik lagi pas pertengahan maret

    keep contact ya yura ^^

  5. Huaaaaaa daebakkkkk!!! Minho kasian mending minho sama aku aja yuk wkwkwk #plak, huaaa dikira yuri di tembak ternyata cuma pingsan fiuhh,yeyyy! Happy ending, ditunggu yaa ff-ff yg lainnya🙂

  6. aaaaaaaaaaaaahhhhhh, kereeeeen sumpaaaaaaaaah !!! berasaaa nyataaaaa….. ada konflik yg bener2 bikin tegang, deg degan, menguraaas emosi pkonyaaa.. tapi akhirnya happy ending.. I like it ^^

    chinguuuuu, jngan lama2 hiatusnyaa,, akuu menunggu ff.mu yg lainnya… kekeke

  7. Unnie daebak keren ff ini lbh panjang dr Because It’s You unnie bntr lg kyuhyun ultah tnggl menghitung hari lg tgl 3 februari buatin ff tentang mereka dong itung2 itu kado utk kyuhyun oppa ya unnie ^^
    Unnie kpn THE FOURTH FLOWER BOYS! [ Part 8] aq penasaran unnie aq tunggu ya unnie

  8. eonnie bner2 speechless aku bacanya…feel nya dpet bgt..sedih,kesal,bhagia…..konfliknya bner2 nyata n bkin emosi…tp akhirny kyuri happy ending…sneng deh eon
    daebak eon,aku tunggu ff2 slanjutnya ya…

  9. Huaa keren2!
    Ohh jadi ini cerita aslinya. Pantesan waktu awal2 linda ngerasa familiar sama ff ini soalnya pernah baca di ffindo. Tapi setelah dibaca terus ternyata ada beberapa part yg berbeda.
    Unnie, hebat, kreatif lagi. Linda kasih ratusan jempol deh hehehe..

    Tapi, gemes deh sama Minho. Ganggu mulu, kasian Yurinya. The Power of KyuHyun and Yuri Love. Kuat banget cinta mereka. Jadi envy deh.. Patut dicontoh sama pasangan2 yang lain hehehe..

    Unnie, hiatus tapi selingin post ff ya Unn. Pasti kangen deh sama ff Unnie.

    Yaudah deh, coment linda cukup sekian. Dan, hwaiting for you, Unnie!!!🙂

    Wild Orchid, noemu daebak!!🙂

  10. akhirnya ada cerita baru thor..
    eonni aku baca ff eonni tapi karakter kyu begitu semua selalu yuri yang tersakiti tapi tak apa lah yang penting aku suka dengan jalan ceritanya..

  11. huaaaaaaaa…
    FF nya DAEBAK unnie😀
    Kekeke

    Gak nyangka minong melakukan hal sekeji itu ke yuri..
    Dan Kyuhyun so sweet banget.. :p

    Berarti Minho di penjara gitu?
    Minong emang pantes dipenjara, tapi kasian juga kalo sampai Minong dipenjara, ntar SHINee gimana? #eehh

    Terus karena sekarang KyuRi sudah menikah, maka semoga mimpi Kyuhyun segera terkabul.. Amiieenn :p
    Kekeke

    I’ll always for your next ff unnie ^^
    Fighting!!

    Khamsahamnida ^^

  12. daebakkkkk.
    ceritanya seperti biasa,kerennn
    gak nyangka bakal happy end,aku kira yuri eonni bakal mati. ternyata tidak. wah,minho jahat bnget yaa *geleng-geleng*
    aku puas bnget sama ff ini.
    aku menunggu ff eonni yang lain.keep writing eonni.
    fighting🙂

  13. huaaaaaaa….
    FF nya DAEBAK unnie…😀
    kekeke

    Gak nyangka minong melakukan hal sekeji itu ke Yuri…
    Dan Kyuhyun so sweet banget… :p

    Berarti minong dipenjara gitu?
    Minong emang pantes dipenjara, tapi kasian juga kalo sampai Minong dipenjara, ntar SHINee gimana? #eehh

    Terus karena sekarang KyuRi sudah menikah, maka semoga mimpi Kyuhyun segera terkabul… Amiiiieenn :p
    kekeke

    I’ll always waiting for your next ff unnie ^^
    Fighting!!

    khamsahamnida ^^

  14. (╥﹏╥) eonnie Q bner2 mrindukan, eonnie bserta ff-nya.. #plakk..

    Kyuri romantis banget di sini, krain end-nya yulnie meninggal bneran, trnyata…
    Padahal udah mewek (╥﹏╥)

    Ff yg eon bkin, feelnya dpet bnget, serasa nnt film.. Hehe..
    Di tunggu ff lainnya eonnie.. (ง’̀⌣’́)ง

    Oh iya oen, mau nya ff kyuri yg together kpan di lanjutin, pnasaran sih..

  15. eonni aku suka ma ceritanya..kata2nya bagus banget feelnya jg dapet..
    moga hiatusnya gak lama udh kelas 3 yaa eon sama dong sibuk tugas+les..:D
    oh iyaa aku jg nunggu yang together eon dilanjut yaa..:)

  16. Ff’a daebakk thor…crita’a agk meneggangkan ..aq kra yulnnie yg ktmbak trnyata g..thor lnjtin ff yg lain’a dong,,jngn lam2 hiatus’a ya^^

  17. Hwaaaa! Itu kta end yg prtama q kira bnrn end, hmpir aj q comment “btuh sequel” gk tauny blm end.
    Jhat kamu nih, pembohong #buang muka#
    B’cnda koq hehehehe.
    Oh iy, q reader bru di sni Yuko imnida hehe
    Bangaptta ne!😀

  18. sumpah demi apapun ini cerita bagus dan haru, tak menyangka minho jadi psycho begitu. akhirnya yul dan kyu bahagia. daebak ceritanya thor. walau sedikit menegangkan ditengah tengah dan di akhir cerita. yeah suka suka.

  19. anyeooooong..
    q reader baru soalnya baru nemu blog kamu..hehee
    ternyata disini buanyak bgt ff kyuri yg super duper kerenn,belum baca semua cie…hehee
    ff mu daebak chingu..
    salam kenal yyah dr reader baru ini..=D
    way back in love nya ditunggu kelanjutanyya..

  20. Anyeong Chingu..
    Ak readers bru,, salam knal y..
    FFny Daebak!! Sebel deh liat Minho yg trlalu terobsesi ma Yuri..
    Oia,, yg ditembak itu Minho kn? smoga aja iy,, biar KyuRi bersatu..
    Bikin Sequelny donk*plakk udh readers baru, banyak permintaan lagi.. hehe =D
    Pkokny,, FFny Daebak bgt! sukaa bgt.. (y)

  21. annyeong thor salam kenal aku reader baru disini izin menjelajah wp nya ya hehe,woah aku suka ff yg ini tapi sayang minho dapet peran antagonis disini ya?? hmm :’)

  22. hai aku blogwalker, dan seorang yurisistables. pas jalan jalan kesini, nemu FF ini dan baca. ini asli panjaaaaaaang banget ceritanya. tapi keren kok. aku suka pemilihan katanya. aku juga suka pairing an couple nya. yah.. sebenernya aku suka kalau yuri di pairing ini sama namja manapun sih. yang penting tampan. *plak*

    oke ditunggu cerita selanjtnya.

    visit blog FF ku juga di kyrfanfiction.wordpress.com yaw. khusus yurisitables aja.

  23. Aaaaa!!!!!unnie kirain aku beneran yurinya meninggal ternyata????? ENGAK tapi aku bersyukur gak rela kalo klo yuri unnie meninggal.. Bgus ffnya😉😀🙂

  24. Hohoho baca’nya tuh serasa gimana gitu,gak bisa dijelasin emm bisa sih dijelasin tapi gak tau caranya’-‘) apalagi pas bagian kyu meluk yuri dr belakang dohh romantis itumahh tapi…minho masuk penjara?gimana nasib shawol eonn entar?trus trus apa gak takut ketauan tuhh kalo yuri ke apartemen kyu dan sebaliknya?kan mereka pny banyak sasaeng fans,coba yuri lapor ke polisi soal minho

    Terlepas dari itu,ffnya udah keren abissss!!! Kereeennnn

  25. Ouh, ini toh asli.a. Lebih bgus, lbih dpet feel dan suasana.a *alah
    ak suka ak suka!😀 *jingkrak2
    ak sneng sm minho yg msh suka sm yul, py cara.a jahat gitu. Emang.a knapa sie dia ptus sm yul?

  26. Ak suka bgt sm cerita ini. Bkin ak kebawa…. *arus kalee
    feel dan suasananya dpet.🙂
    ak sneng minho.a suka sm yuri. Py caranya jahat gitu.
    Pkok.a perbnyak lgi cerita kyuri.😀
    gomawo

  27. pas baca wktu yul kyak ditembak, shock !! kok END, eh ternyata..😀
    alurnya bagus, feelnya dpet bnget, smpet negative thinking ma siwon di awal cerita, eh ternyata dia yang bantu kyuhyun nangkap minho..
    kesel banget ma karakter minho disini, dia kayak psycophat akut deh,…😦

  28. Speechless! Bagus, keren, daebak, kerenkerenkerenkeren!!! Aku nangis,ketawa, senyum2 sendiri baca ff eonni, tolong bgt eon.
    Ff chapteran eonni tolong dilanjutin m(-_-)m fighting eon and keep writing🙂

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s