I Hate You Even Though I Love You


I Hate You Even Thought I Love You (Diff Ver) (600 x 600)

I Hate You Even Though I Love You

Main Cast: Cho KyuHyun

Kwon Yuri

Support Cast: Choi Siwon, Jessica Jung, Kim JongWoon, Kim TaeYeon and Park JungSoo

Pg: 17+ || NC

Genre : Fluff, angst, and romance

Art: Kwon Yura

Disclaimer: All of the strory is my Mine, Own, and Pure belong to me. Do no to Copy-Paste / Plagiat / Take Out.

I don’t ever permit you. And happy reading all🙂

Listening to : Cho KyuHyun – I Temporarily Live By Yourside & 7 Years Of Love | Kim TaeYeon – Missing You Like Crazy & Can You Hear Me | Infinite – Destiny | Hyorin – Driving Me Crazy |

We met for reason, either you’re blessing or lesson.” – SoDamnTrue.

Respect me, please. Don’t be stupid or arrogant, please.

All right reserverd © Kwon Yura, 2013.

 

Sinar hangat mentari menghangatkan tubuhku saat melewati jalanan anak-anak tangga menuju rumah seseorang yang ingin ku kunjungi. Seulas senyum tersungging diwajahku, bersyukur  kepada Yang Maha Kuasa karena aku dapat merasakan kebahagian setiap saatnya.

“Oh, Yuri, kau sudah datang? Syukurlah, aku benar-benar lega sekali melihatmu datang.” Ucap seorang wanita cantik yang tengah menggendong seorang balita perempuan berusia sekitar 5 tahunan. Aku mengulum senyum padanya lalu pada anak perempuan yang tengah menggigit jari-jarinya. “Maaf, hari ini aku merepotkanmu lagi tapi saat ini aku benar-benar harus ke kantor karena ada urusan mendadak dan mereka membutuhkanku saat ini.” Jelasnya yang entah sudah keberapa kalinya ia mengatakan hal yang sama ditelepon semalam, pagi buta hari ini, dan saat ini. Aku menjulurkan tanganku pada anak perempuan itu untuk menggendongnya dan tanpa pikir panjang sang ibu balita itu memberikannya padaku. “Well, aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi selain dirimu karena hanya kau satu-satunya yang dapat kupercayai.” Ucapnya lagi sembari menatapku dan anaknya secara bersamaan.

“Tenanglah, Tiffany. Aku mengerti keadaanmu, lagipula aku ini memang sedang tidak sibuk. Restaurant milik paman JunSoo hari ini sedang santai karena tidak banyak pengunjung! Ah, satu lagi, hari ini adalah hari santaiku jadi jangan terlalu merasa bersalah dan tidak enak hati padaku.” Ucapku mencoba menenangkannya sembari tersenyum.

“Benarkah? Kalau begitu syukurlah, aku benar-benar lega mendengarnya. Well, aku tak punya banyak waktu lagi. Aku titip Lauren padamu, ya?” ucapnya sebelum ia pamit pergi padaku. Aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan yakin dan senyum diwajah tanpa harus mengatakan apa-apa. Tiffany bernapas lega lalu mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang sebelum ia pergi menjauh.

“Ah, iya, hampir saja aku melupakannya! Tiffany-a!” gerutuku lalu memanggil Tiffany dengan cukup keras karena ia sudah mulai menjauh. Tiffany menoleh menatapku dengan ekspresi wajah yang mengatakan, ‘ada apa?’. “Apa aku boleh mengajak Lauren pergi jalan-jalan keluar?” Tiffany mengangguk santai sembari tersenyum padaku, tanda ia menyetujui permintaanku. Lalu tanpa pikir panjang lagi ia melanjutkan langkahnya menuju mobil pribadi miliknya, dimana seseorang telah menunggunya.

“Nah, Lauren, ayo kita juga pergi bersenang-senang!” ajakku pada bocah itu, yang dibalas dengan anggukan dan tawa senang darinya.

***

Kami berdua sudah hampir mengelilingi berbagai kedai penjual aneka makanan dan minuman dalam acara festival musim semi tahun ini yang memang diadakan setahun sekali. Tetapi, sepertinya belum ada yang mampu membuat hati anak kecil ini merasa tertarik sama sekali. Aku sudah mencoba menawarinya beberapa makanan manis yang tak berbahaya untuknya ataupun kue-kue sekalipun, tetapi Lauren selalu menolaknya. Salah satu jari telunjuk Lauren menunjuk arah suatu tempat. Aku menoleh dan mengikuti arah yang ia tunjuk.

“Kau menginginkannya?” tanyaku sembari mencuil hidungnya dengan gemas. Lauren tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi kecil yang sedang tumbuh.

“Baiklah, aku akan membelikannya untukmu.” Ucapku padanya sembari berjalan menghampiri pedagang tersebut. “Paman, tolong balon birunya satu ya.” Ucapku pada pedagang tersebut sembari mengeluarkan selembaran uang kertas dari dompet lalu memberikannya. Pedagang itu lalu memberikannya pada Lauren. “Kau menyukainya?” tanyaku padanya. Lauren lalu memainkan balon itu sembari tertawa senang layaknya seperti bayi yang mendapatkan mainan baru. Aku ikut tersenyum melihatnya bahagia. Sebuah getaran mengagetkanku, buru-buru aku mencari ponselku lalu mengangkatnya. Yesung calling.

“Hallo, Yuri? Apakah kau hari ini bisa datang ke restaurant? Kami butuh bantuanmu karena saat ini pengunjung banyak yang datang untuk makan disini. Apa kau bisa?”

Aku melirik ke arah Lauren yang saat ini tengah berdiri disampingku. “Err… tapi mungkin aku akan membawa seseorang untuk ku ajak ke sana. Apa tidak masalah?”

“Tentu saja tidak! Itu akan lebih baik lagi!” sahut Yesung antusias.

“Kau yakin dengan perkataanmu?”

“Ya, Kwon Yuri, kau ini bicara apa? Tentu saja, sudahlah cepat kau datang kemari! Kami benar-benar kewalahan menghadapi orang-orang sebanyak ini.”

“Aku mengerti, aku akan secepat mungkin datang kesana.” Ucapku sebelum sambungan telepon terputus.

“Lauren-a, maafkan eomma ya hari ini tidak bisa bermain selama sehari penuh. Yul eomma ada pekerjaan yang sedang menanti.” Ucapku pada Lauren dengan menyesal lalu menggendongnya dan mulai berjalan menuju restoran Tuan Park, tempatku bekerja. Dan itu nama restaurant-nya.

***

Ini sudah berjam-jam berlalu tetapi belum ada tanda-tanda restaurant ini akan kembali sepi. Sedangkan kami benar-benar tidak beristirahat sejak pagi tadi karena jumlah pengunjung yang datang-pergi hampir sama. Aku menitipkan Lauren pada istri Tuan Park yang kebetulan sedang tidak terlalu sibuk karena ia hanya bekerja sebagai kasir restaurant. Aku sedikit merasa bersalah pada Lauren karena menempatkannya disituasi dan tempat seperti ini. Memang tidak terlalu buruk tapi tetap saja sangat membosankan untuknya.

Hari sudah mulai berganti malam saat aku baru melihat ke luar jendela restaurant. Aku menghela napas berat saat mengingat serentettan hal-hal yang sebenarnya harus aku lakukan hari ini, salah satunya mencari suamiku. Hah, lucu sekali. Tidak, mungkin lebih tepatnya melihat dengan mata kepalaku sendiri untuk memastikan keadaannya. Salah satu air mataku jatuh begitu saja saat bayangan seseorang melintas dalam benakku. Aku memepereat cengkramanku pada nampan yang saat ini telah berisi tumpukan mangkuk dan gelas kotor.

“Yuri, apa kau tidak apa-apa?” tanya Sica sembari menghampiriku dan menatapku penuh khawatir. Aku segera menghapus air mataku sebelum ia benar-benar menyadarinya.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja aku baik-baik saja.” Jawabku sembari memaksakan sebuah senyuman diwajahku untuk meyakininya.

“Benarkah? Tapi tadi aku melihat kau sedang menangis?” tanyanya tak percaya.

“Kau mungkin salah lihat? Lihatlah, buktinya saat ini aku benar-benar baik-baik saja bukan?”

“Apa… suamimu yang kau cari itu sudah kau temukan?” tanyanya ragu. Deg! Aku menoleh ke arahnya dengan sedikit kaku lalu menggeleng pelan. Tenagaku terasa habis.

“Aish, laki-laki menyebalkan! Tega sekali ia meninggalkanmu yang seperti ini! Sebenarnya macam apa sih suamimu itu? Lihat saja nanti jika ia bertemu denganku, akan kubuatkan daging cincang!”

Aku tersenyum kecut saat Sica mengatakan bahwa laki-laki itu meninggalkanku. Benarkah ia yang melakukannya?  “Cho KyuHyun, dia suamiku.” Jawabku pelan, yang dibalas oleh cibiran dan ketidakpercayaan Sica. Aku tahu, tiap kali aku mengatakan dia adalah suamiku, mereka tidak memercayaiku begitu saja.

“Oh ya, lebih baik kau pulang sekarang. Pekerjaan disini serahkan pada kami saja!”

“Apa benar tidak apa-apa?” tanyaku padanya.

Ia terdiam menatapku lalu menganggukkan kepalanya pelan. “Sudahlah, kau pulang saja lebih dulu, lagipula sepertinya Lauren sudah lelah dan mulai mengantuk. Kasihan ia jika harus menunggu lebih lama lagi. Pekerjanmu serahkan kespada kami saja.” Sarannya lembut sembari tersenyum tulus. Aku melirik sekilas ke arah Lauren, dan ku akui apa yang diucapkan Sica memang benar adanya.

“Apa tidak apa-apa?” tanyaku lagi padanya.

“Tentu saja! Lagipula, hari inikan seharusnya kau tidak bekerja tapi malah bekerja karena kami.” Sahut Yesung yang entah darimana datangnya, tetapi ia tiba-tiba disampingku diiringi Tuan Park JungSoo dan Taeyeon, istrinya.

“Kalau begitu, maaf telah merepotkan kalian dan terima kasih telah membantuku.” Ucapku pada mereka sembari menundukkan kepala.

“Ya, yang seharusnya bicara seperti itukan kami semua, bukan kau.” Ucap Tuan Park tak enak hati. “Terima kasih telah membantu kami.” Lanjutnya lembut dan penuh wibawa yang diikuti oleh mereka semua.

“Sudahlah, pulang sana! Nanti kau kemalaman mengantar Lauren!” kesal Sica sembari mengambil alih nampan yang tengah ku pegang. Taeyeon lalu memberikan Lauren padaku dan aku menerimanya.

“Kalau begitu, selamat malam. Aku pergi dulu.” Pamitku pada mereka sebelum pergi meninggalkan mereka.

***

Sebuah lingkar hitam terlihat dengan jelas di kedua kantung mataku. Ini pasti karena aku tidak bisa tidur semalam dan sekarang aku mulai merasakan kantuk yang luar biasa  saat ini. Yeah, hari ini aku kembali bekerja lagi seperti biasa. Aku duduk disofa ruang santai belakang restaurant, dimana tempat ini digunakan saat tidak ada pengunjung sama sekali dan dikhususkan untuk kami. Aku menyalakan telivisi untuk mencari acara telivisi yang bagus, tetapi sepertinya mustahil karena ini masih terlalu pagi.

“Ya!” panggil Yesung saat tengah duduk disampingku dan mencoba mengambil alih remote telivisi dariku tetapi kalah cepat.

“Pergilah! Jangan ganggu aku!” kesalku padanya.

“Aish, kau ini. Lebih baik kita melihat acara seputar gosip hangat atau melihat drama, daripada kau harus melihat film kartun seperti itu.” Sarannya kesal melihat acara yang tengah ku tonton.

“Kenapa? Tidak ada salahnyakan jika aku menontonnya? Lagipula, Lauren menyukainya.”

“Lauren menyukainya karena ia masih anaka-anak! Sedangkan kau? Ya Tuhan, kenapa ada orang macam kau?”

Aku menatap Yesung dengan bingung. “Memangnya ada apa denganku? Apa ada yang salah?”

“Tentu saja ada! Ya, Kwon Yuri, mana ada orang dewasa menonton acara anak-anak sepertimu?”

“Memangnya apa salahnya jika aku melihat pororo? Ia lucu dan cukup menghiburku, daripada melihat drama ataupun gosip yang tak jelas kebenarannya!”

“Ya! Setidaknya itu membantumu untuk menambah informasi!”

“Informasi apa, huh? Kau ini laki-laki tapi suka sekali acara seperti itu!”

“Memangnya kenapa jika aku menyukainya? Apa kau merasa tersaingi, huh?”

“Siapa yang kau maksud tersaingi?”

“Tentu saja kau! Memang yang ada disini siapa lagi, bodoh!”

“Berani sekali kau mengataiku bodoh! Kau kira kau lebih pintar dariku, huh?”

“Memang kenyataannya seperti itu! Aku memang lebih pintar darimu!”

“Yaaa! Hentikan!” teriak Sica kencang, membuat kami berdua terpaksa menutupi ke dua telinga kami agar tidak rusak nantinya. Ia mendekati kami lalu duduk ditengah-tengah dianatara kami berdua. “Tidak bisakah kalian berhenti bertengkar atau aku akan melayangkan tinjuku pada kalian berdua, mengerti?” peringatnya kesal sembari menatapi kami dengan gemas.

“Nee.” Sahut kami serempak sembari menundukkan kepala kami, tanda menyesali perbuatan kami.

“Bagus, itu lebih baik.” Puji Sica lalu tersenyum puas menatap kami berdua. Ia merebut remote telivisi dariku lalu menggantikan saluran chanel dengan berita terbaru pagi ini. Aku menatapnya dengan malas sembari menopangkan daguku pada lengan sofa.

“Berita pagi ini! Seorang pengusaha muda yang saat ini tengah sukses dengan gemilang, tengah membuka lapangan pekerjaan di Paris dan menjalin hubungan baik disana. Berikut berita selengkapnya.” Ucap pembawa berita lalu terlihat sebuah video yang menampilkan beberapa sekurumunan orang tengah mengelilingi seorang laki-laki yang tengah mencoba keluar dari tempat itu tetapi dicegah para wartawan. Beberapa bodyguard tengah mencoba memberikan lahan untuk aki-laki itu berjalan tetapi tetap saja kalah jumlah dan tenaga dari para wartawan itu.

Sekilas, aku dapat melihat sosok yang tidak jelas tetapi sangat ku kenali dengan baik siapa pemilik sosok itu. Napasku tercekat selama beberapa saat, lalu mencoba bernapas dengan normal kembali. Satu kata, rindu. Perasaan itu menyeruak begitu saja saat aku melihat laki-laki itu tengah tersenyum tipis sembari melewati para wartawan begitu saja. Dingin dan acuh, seperti biasa. Dua kata, apa kabar? Pertanyaan itu selalu menghantuiku setiap saatnya. Karena rasa bersalahku padanya. Tiga kata, apa kau bahagia? Aku tahu, sangat. Aku tidak pantas mempertanyakan ini padanya, hanya saja aku ingin selalu mempertanyakannya. Empat kata, apa kau masih mengingatku? Kejam. Jika ia masih mengingatku dan belum menghapus ingatannya tentangku. Lima kata, apa kau hidup dengan baik? Aku bahkan sangat berharap jawabanmu adalah ‘ya’ ketimbang ‘tidak’. Itu sangat menyakitkan untukku melebihi saat aku mencoba mengacuhkanmu.

Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan menjauhi ruangan itu yang sangat ku yakini diikuti oleh tatapan heran dari Jessica dan  Yesung. Aku tidak kuat lagi melihat laki-laki yang sangat ku cintai melebihi apapun yang ada di dunia ini, terlihat buruk keadaannya. Ia bahkan jauh terlihat arrogant dan diam, ketimbang saat kami kali pertama bertemu. Aku tahu, ini semua salahku. Pergi meninggalkannya begitu saja tanpa menunggu kepulangannya dari China untuk memperbaiki taraf hidup kami nantinya. Setiap bulannya ia mengirimiku uang dengan jumlah nominal cukup untuk membeli keperluan selama sebulan itu, tapi ia tidak pernah pulang selama 4 tahun. Bahkan untuk menjenguk istrinya-pun tidak, maka dari itu aku putuskan untuk pergi dan mencari nafkah sendiri. Menghilang begitu saja tanpa kabar dan kembali menjadi diriku sendiri sebelum menikah dengan pria itu.

Aku tahu, ini salahku. Semua salahku yang tidak bisa menunggu dan mengerti dirinya lebih dari itu. Tetapi, aku juga seorang manusia yang bisa saja lelah dan goyah saat hal-hal tidak pasti selalu menghantuiku. Pria itu bahkan hanya mencoba menghubungiku enam bulan sekali dalam setahun. Hei, apakah ia tidak berpikir ada seseorang yang menantinya? Apakah ia berpikir aku ini robot?

Aku menghembuskan napas panjang dan berat. Sepertinya, aku harus pergi dari tempat ini. Entah mengapa aku merasa tempat ini sudah tidak aman lagi untukku. Walau memang hampir setahun terakhir ini, tempat ini cukup aman sebagai persembunyianku. Sudah beberapa kali aku pindah tempat tinggal hanya untuk mencari dan memastikan satu hal selama tujuh tahun terakhir ini. Tapi kali ini rencanaku berubah, membiarkannya hidup dengan bebas dan baik. Tidak perlu memastikannya lagi, berita tadi telah cukup menjawab pertanyaanku. Aku menghampiri Taeyeon yang saat ini tengah membersihkan meja restaurant dengan giat.

“Eonni!” panggilku mencoba ceria, walau sebenarnya ingin sekali aku menangis. Taeyeon menoleh ke arahku dan menatapiku dengan heran. “Aku ingin berjalan-jalan disekitar sini sebentar.” Pamitku, yang dijawab dengan anggukan dan senyuman manis darinya. Aku tersenyum padanya.

“Cepat kembali ya!” pintanya saat aku mulai berjalan menjauh darinya. Aku hanya menjawabnya dengan tangan ke atas sambil melambai tanpa membalikkan tubuhku sedikitpun.

Aku tidak tahu kaki-ku akan membawaku kemana, aku hanya mengikutinya saja. Sinar matahari pagi menyentuh wajahku diiringi hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat rambutku menari-nari karenanya, membuatku merasa nyaman. Aku merentangkan salah satu tanganku untuk menyentuh udara hangat pagi ini, walau terlihat sia-sia dan bodoh. Tetapi, kenangan dimana kami bersama-sama terlihat membahagiakan dan merindukan.

Ya, aku memang merindukan kenangan itu. Dan tidak pernah mencoba menghapusnya dari kepalaku. Seulas senyum tersungging diwajahku. Bahkan, aku tidak ingin dan mencoba untuk menghapusnya. Tidak sama sekali.

 

Saat itu, kami sedang tertawa bersama saat sedang menaiki sepeda. Pagi itu cuaca sangat indah dan bersahabat, membuat siapa saja ingin keluar rumah dan menikmati cuaca pagi hari ini.

“Yaa, KyuHyun-ah! Bagaimana jika kita berhenti disebuah taman?” tanyaku sembari mencoba menatap wajahnya yang tengah tersenyum dan menatap lurus ke depan. Saat ini kami sedang menaiki sepeda, KyuHyun yang membocengiku, tentunya.

“Apa kau menginginkannya?” tanya KyuHyun dengan senyum yang belum juga pudar dari wajahnya.

“Hm,” aku berpikir sejenak. “karena cuaca pagi ini bagus, ku rasa tidak apa-apa jika kita mencobanya.” Putusku.

“Yaa, Cho Yuri! Alasanmu sungguh buruk sekali!” makinya lembut lalu menertawai kebodohanku.

Aku mencibir kearahnya dengan kesal sembari mencubit pelan pinggangnya. “Yaa, sakit!” protesnya kesal membuat sepeda yang kami naiki sedikit oleng.

“Yaa, setidaknya aku cukup pintar untuk membuatmu jatuh cinta padaku!” belaku pada diriku sendiri lalu menjulurkan lidahku ke arahnya.

“Yeah, ku akui kau cukup pintar untuk membuatku jatuh dan mencintaimu.” Aku KyuHyun, terlihat sebuah senyuman lembut diwajahnya.

“Jadi, apakah kita akan ke taman sekarang?” tanyaku lagi.

“Tentu saja, jika itu permintaan istriku.” Jawabnya yang berhasil membuat wajahku terasa merah padam.

Aish, pria ini selalu saja berhasil melakukannya. Aku menenggelamkan wajahku dalam punggung KyuHyun sembari memeluknya dengan erat.

“Wae? Apakah wajahmu merah lagi?” godanya senang yang selanjutnya terdengar ledak tawa bahagia miliknya.

Aish, awas saja kau, Cho KyuHyun!

 

Ke dua kaki-ku berhenti melangkah, aku menatap nanar pada sebuah rumah kecil sederhana yang sangat familiar untukku. Tidak berubah, hanya sedikit lebih bersih dan terlihat asri karena ditumbuhi tanaman hias disekitar perkarangannya. Aku dapat melihat beberapa maid tengah bekerja disana membersihkan dan merapihkan rumah itu. Rumah itu terbilang cukup besar dan mewah ketimbang apartement milikku saat ini.

Senyum getir tersungging diwajahku. Aku menggigit bibir bawahku untuk mencoba menahan tangis yang mulai menyeruak dan menghancurkan benteng pertahananku. Bodoh, kenapa datang ke tempat ini? Menyebalkan. Bulir lembut menetes begitu saja disalah satu sudut mataku. Aku semakin menggigit bibir bawahku, menahan semua emosi dan ke-egoisanku untuk tidak berlari menghabur ke pelukan seorang laki-laki yang baru saja menuruni anak tangga menuju ruang tamu.

Ya Tuhan, aku merindukannya…

Cho Yuri… tidak, bukan lagi… Kwon Yuri, kau harus segera pergi dari sini sekarang juga! Titahku pada diriku sendiri, yang entah mengapa sulit sekali dipatuhi jiwa-ragaku. Laki-laki itu duduk disofa sembari membaca koran pagi ini dan ditemani secangkir kopi, tentunya. Aku teringat, dulu ia tidak ingin minum ataupun makan apapun selain buatanku ketika ia berada dirumah. Ia bahkan rela merasakan kelaparan atau tidak minum kopi jika bukan aku yang membuatkannya. Tapi itu dulu, cerita lama mulai dari sekarang. Aku diam, hanya termangun sembari menatapinya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya lalu menyimpannya dalam memori terdalamku. Aku takut, jika aku pergi lebih jauh lagi aku tidak bisa melihatnya seperti saat ini. Dekat, tetapi jauh.

Aku hanya berharap banyak pada semak-semak dedaunan yang melindungiku agar mereka semua tidak menyadari keberadaanku. Mereka? Ya, KyuHyun dan para maidnya. Aku menghela napas berat sembari memejamkan ke dua mataku erat-erat. “Sampai bertemu lagi, Cho KyuHyun.” Gumamku pelan, lalu membalikkan tubuhku dan mulai berjalan menjauh dari perkarangan rumahnya. Aku bahkan tidak akan sanggup mengatakan selamat tinggal padamu.

“Yuri!” panggil seseorang setengah berteriak yang dapat didengar telingaku. Aku mengenali suara ini, sangat mengenalinya. “Kau, Kwon Yuri kan?” tanyanya, dengan nada tidak percaya sekaligus senang bukan main. Aku semakin mempercepat langkahku sedangkan suara derap langkah lari terdengar ditelingaku. “Yuri! Tunggu aku!” pinta orang itu yang tidak ku gubris sama sekali, aku justru semakin mempercepat langkahku. “Kwon Yuri! Aku bilang berhenti!” titahnya sembari terus mencoba mengejarku. Entah saat ini aku berjalan atau berlari, yang aku tahu saat ini adalah jangan sampai KyuHyun menangkapku dan menemukanku.

Aku mohon, Cho KyuHyun, jangan mengejarku lagi… Bulir-bulir lembut mengalir begitu saja disudut ke dua mataku tanpa bisa ku tahan. Aku mengahapus air mataku dengan kasar lalu melihat sebuah belokan di ujung jalan sana, dengan cepat aku menambah laju lariku lalu menghilang begitu saja saat telah berada dibelokan. Lebih tepatnya, bersembunyi di balik tiang listrik dijalanan ini. Setelah merasa aman dan yakin bahwa KyuHyun tidak mencariku lagi, aku keluar dari persembunyianku dan terjatuh begitu saja karena tersandung kaki-ku sendiri. Aku meringis kesakitan dalam diam.

***

“Ya ampun, Kwon Yuri! Ada apa denganmu?” tanya Sica khawatir saat melihatku kembali dengan salah satu lutut dan siku-ku mengalir darah segar. Aku hanya dapat menyunggingkan senyum lebar pada meraka yang saat ini tengah menatapku khawatir.

“Kau ini bodoh ya?” maki kesal seseorang yang dapat ku tebak siapa pemilik suara itu. Aku meliriknya sekilas dengan malas lalu kembali berjalan memasuki restaurant.

“Ayo, kemari! Kita obati dulu luka-mu.” Ucap Taeyeon sembari menuntunku untuk berjalan ke ruang belakang. Aku hanya mengangguk dan menuruti ucapannya begitu saja. Toh, aku sudah terlalu lelah pagi ini. Taeyeon membantu mendudukanku dengan perlahan-lahan disofa lalu berjalan mengambil kotak obat untuk mengobati luka-ku. “Ayo, ceritakan kepada kami semua apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanyanya penasaran saat ia telah selesai membersihkan dan mengobati luka-ku.

Aku tersenyum tipis dan kaku saat mereka semua menatapku dengan rasa penasaran. Apakah aku harus memberitahu mereka apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya tidak. “Err… itu aku… tadi terjatuh ditangga jalanan sana.” Bohongku.

“Apa hanya karena itu?” tanya Taeyeon penuh selidik. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku kaku sebagai jawaban ‘ya’.

“Tapi, dari raut wajahmu kau terlihat seperti habis dikejar-kejar oleh sesuatu.” Tebak Sica, tepat sasaran.

“A-aku dikejar-kejar anjing saat tengah melakukan jogging dan menuruni anak tangga.” Jawabku, mencoba santai sembari berpikir.

Jogging dengan memakai rok seperti itu?” tanya Yesung tidak percaya. Bingo! Aku lupa saat ini aku tengah memakai rok.

“Kau bukan pembohong yang baik, nona Kwon.” Ucap JungSoo dengan lembut yang disetujui oleh semua pihak dengan anggukkan kepala mereka secara serempak.

Oh baiklah, aku tahu ini tidak akan berhasil. “Katakan yang sejujurnya pada kami semua, Yuri-ya.” Pinta Taeyeon lembut. Aku hanya dapat menghela napas panjang dan berat. Rasanya jika aku memberitahu mereka sekarang, rasa sakit itu kembali menggerogoti hatiku.

“A-aku…” ucapanku terpotong karena ada beberapa pengunjung yang datang, membuat mereka mau tak mau mengesampingkan urusanku dulu dan dengan berat hati mengabaikanku. Thanks God! Senyum kemenangan tersungging diwajahku saat ini tetapi aku mencoba menahannya.

“Ceritanya nanti saja, ada pengunjung datang.” Putus Park JungSoo, pemilik restaurant ini, membuat mereka semua mau tak mau menuruti ucapannya. “Dan kau, Yuri, kau istirahat disini saja.” ucapnya sebelum pergi meninggalkanku, diikuti yang lain dibelakangnya.

“Jangan senang dulu, Kwon Yuri, kami belum selesai.” Peringat Sica lalu pergi meninggalkanku.

Yayaya, setidaknya untuk saat ini aku bisa tenang.

Aku merebahkan tubuhku disofa sembari menyalakan musik diponselku. Lantunan lagu kesukaanku terdengar ditelingaku. Perlahan, rasa kantuk mulai menghinggapiku hingga akhirnya aku-pun tertidur pulas tanpa sadar.

***

“Kwon Yuri!” panggil lembut seseorang mencoba membangunkanku. Aku mencoba ke dua mataku perlahan-lahan dan mendapati Sica tengah menatapku iba.

“Hm, apa?” tanyaku padanya.

“Hari ini restaurant ramai dan hm, sedikit ada masalah kecil. Apa kau bisa membantu kami?” tanyanya dengan tatapan memohon.

Aku menganggukkan kepalaku. “Tentu.” Jawabku sembari mencoba bangun dari tidurku. Sica membantuku duduk dengan hati-hati. Rasa sakit dan perih akibat terjatuh saat mencoba menghindari KyuHyun, kembali dapat aku rasakan. Aku meringis pelan tanpa sadar, membuat Sica menatapku dengan khawatir. Sepertinya ia menyadarinya.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya. Aku menyunggingkan sebuah senyum sembari menganggukkan  kepalaku. “Jika kau memang tidak bisa, tidak apa-apa.” Putusnya.

“Anio, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku!” ucapku mencoba menghiburnya lalu bangkit berdiri yang disambut dengan rasa ngilu dan perih dari luka-lukaku, tetapi aku mencoba mengabaikannya. “Ayo!” ajakku padanya yang dituruti olehnya.

Aku keluar dari ruangan dan mendapati JungSoo dan Yesung tengah menundukkan kepalanya sembari mengatakan maaf sedalam-dalamnya. Seorang laki-laki yang tengah dimintai permohonan maaf dari mereka berdua duduk membelekangiku, membuatku sulit untuk melihat raut wajahnya. Kedua alisku bertemu saat melihat kejadian itu. Aneh, tidak biasanya ada pengunjung yang komplain atau sebagainya kepada kami. Apakah terjadi sesuatu?

“Itu… Direktur itu meminta makanan yang sama saat ia makan kali pertama disini. Kami sudah memberikan pesanannya dengan sebaik mungkin, tetapi ia bilang rasa dari masakan itu tidak sama dengan yang kau buat minggu lalu.” Jelas Sica yang sepertinya tahu apa yang aku pikirkan. Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Bagaimana bisa ia mengetahuinya?” tanyaku bingung.

“Aku juga tidak tahu, yang jelas ia bilang bahwa ia menginginkan makanannya dibuat oleh-mu. Selain mu, ia tidak akan makan ataupun pergi dari sini. Dan kau tahukan, saat ini restaurant tengah ramai oleh pengunjung yang silih berganti? Jika ia tidak segera pergi, maka pengunjung lain yang akan pergi karena tidak kedapatan tempat duduk.” Jelasnya lagi. Aku dapat melihat pengunjung yang datang dan pergi silih berganti. Ada yang rela menanti dan juga tidak. Aku menghela napas dalam-dalam.

“Baiklah, aku akan memasakkannya. Kita lihat nanti, sepenting apakah orang itu hingga membuat keributan kecil seperti ini?” ucapku kesal lalu pergi menuju ke dapur dan membuatkan pria itu makanan sesuai permintaannya. Jessica memilih kembali pada pekerjaannya dan mencoba menenangkan pria menyebalkan itu.

20 menit kemudian, masakanku telah siap dan dengan senang hati aku mengantarkannya. Entah mengapa langkah kaki-ku dan tubuhku terasa ringan sekali. Bahkan rasa sakit dan perih luka-ku sudah tidak begitu terasa lagi. Aneh, ada apa denganku? Rambutku terjatuh begitu saja dikedua sisi saat aku ingin meletakkan pesanannya dimeja. “Tuan, pesanan anda sudah siap.” Ucapku pelan. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat rambutku menari-nari karenanya. Tanpa sadar aku menolehkan kepalaku saat mencium bau parfum seseorang yang sangat familiar, bertepatan dengan laki-laki itu menoleh kepadaku. Mata kami saling bertemu satu sama lain. Kedua mataku membulat saat mengetahui siapa pria ini sebenarnya. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku seceroboh ini?

“Kwon Yuri!” panggilnya lalu dalam sekali gerakan cepat ia berdiri dari duduknya. Aku berjalan mundur sembari menyunggingkan senyum paksa diwajahku.

“Permisi.” Pamitku pada mereka lalu pergi berjalan meninggalkan mereka sebelum… Well, terlambat. Sebuah tangan kekar menahan salah satu tanganku. Aku hanya bisa mengumpulkan sedikit keberanian yang aku miliki saat ini.

“Coba jelaskan maksud dari semua ini, Cho Yuri!” pintanya dengan dingin dan marah. Aku tahu, ia marah padaku saat ini. Aku dapat merasakan cengkraman KyuHyun yang sedikit bergetar. Tidak ada niatan untuk menjawab atau sekedar membalikkan tubuhku untuk menatapnya. Karena jika aku melakukannya, pertahananku akan runtuh lagi dan akan sulit nantinya untuk mengumpulkannya kembali. Aku mencoba melepaskan diriku dari cengkramannya sebisa mungkin, tapi hasilnya nihil. “Jawab dan tatap aku ketika aku sedang berbicara, Cho Yuri!” titahnya dengan kesal, membuat hampir seluruh pengunjung menatap kami dengan tatapan heran.

Good job, Cho KyuHyun! Aku mencibir kesal saat JungSoo mendekatiku dan membisikkan sesuatu ditelingaku. “Tolong selesaikan baik-baik, jangan sampai pengunjung kabur hanya masalah ini.” Pintanya.

Aish, laki-laki ini benar-benar!

Dengan berat hati, aku membalikkan tubuhku dan meliriknya sekilas. “Ayo kita bicara diluar.” Ucapku lalu mencoba melepaskan tanganku darinya, tetapi hasilnya tetap sama. “Sakit, lepaskan.” pintaku datar yang langsung dituruti KyuHyun dengan berat hati. Aku berjalan lebih dulu darinya diikuti tatapan rasa ingin tahu dari para pengunjung dan juga mereka semua, tentunya.

Aku membawanya ke tepi pantai yang kebetulan tidak teralalu jauh dari restaurant dan cukup sepi ditempatku saat ini, kecuali diujung pantai sana. Aku hanya menatap hamparan laut luas dan ombak-ombak yang saling berlomba satu sama lain tanpa ada niatan membuka percakapan lebih dulu.

Entah sudah berapa menit berlalu begitu saja tanpa ada diantara kami yang memulai pembicaraan. Panas terik matahari membuatku tersadar dan pergi berjalan untuk mencari tempat teduh ketimbang harus berjemur dipanas terik siang hari ini. KyuHyun mengikutiku dari belakang dalam diam, membuatku semakin bersalah padanya. Aku dapat melihat ada sebuah kedai kecil yang menjual es kelapa muda tak jauh dari tempatku dan menghampirinya dengan senang hati lalu ku urungkan niatku saat mengingat aku tidak mengenakan mantel ataupun membawa dompetku sama sekali. Aku kembali berjalan menyusuri tepi pantai ini sembari memain-mainkan pasir dengan kaki-ku. Angin berhembus kencang, membuat rambut dan rok-ku ikut menari-nari karenanya. Aku hanya bisa menahan napas dan malu sembari memejamkan ke dua mataku saat rok-ku sedikit terangkat ke atas menampilkan ke dua pahaku. Ya Tuhan, ini sangat memalukan!

Sebuah benda melingkari perutku dan memakaikannya dipinggangku.  Aku membuka ke dua mataku dan dapat ku lihat KyuHyun berada tepat dihadapanku sembari tengah sibuk dengan jas miliknya. Ingin sekali rasanya menolak dan memprotesnya jika tidak ingat bagaimana angin-angin nakal ini menari-narikan rok-ku. “Terima kasih.” Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulutku dengan mulus. Ia lalu menatapku sendu tetapi menuntut.

“Sekarang, coba jelaskan.” Titahnya dingin dan datar sembari menatapku lekat-lekat.

“Tentang?” tanyaku, tidak ingin langsung ke intinya.

“Kenapa kau meninggalkanku begitu saja?” tanyanya kesal.

“Hanya itu?” tanyaku lagi sembari menatapi hamparan lautan yang tidak berujung. Sudah kubilangkan, aku tidak ingin langsung ke intinya. Lebih tepatnya, menceritakan semuanya begitu saja.

“Semuanya.” Jawabnya, masih sama, dingin dan datar sembari menatapku lekat-lekat.

“Bagaimana jika aku tidak ingin?” tantangku.

“Maka kau akan mendapatkan hukumannya.” Jawabnya tenang.

“Kau bercanda?” tanyaku sinis.

“Apa aku terlihat sedang seperti itu?” tanyanya tak kalah sinisnya denganku.

Aku diam sejenak. Memikirkan sesuatu sembari menggigit bibir bawahku kuat-kuat. “Bagaimana jika kita bercerai?” tanyaku ragu. Pada akhirnya, aku berada dipuncak emosiku.

“Mengapa kau bisa mengatakannya dengan semudah itu?” tanyanya tak percaya.

Kau tahu? Ini tidak mudah untuk dikatakan, Cho KyuHyun. “Untuk apa mempertahankan hubungan ini lagi?”

“Apa maksudmu?” tanyanya sembari mencoba meredam emosinya.

“Kau bahkan tidak memiliki waktu untukku lagi, jadi untuk apa kita melanjutkan hubungan ini?” ucapku dengan dingin dan sinis mengingat jadwal KyuHyun yang sangat padat.

“Apa kau meninggalkanku hanya karena ini?” tanyanya tak percaya.

Bukan, melainkan aku meragukan cinta dan kasih sayangmu kepadaku, Cho KyuHyun. “Bagimu, aku ini tidaklah berarti apa-apa lagi, benarkan?” sindirku sembari menatapnya dengan dingin dan sinis.

“Itu hanya pendapatmu saja.” jawabnya, mencoba menjelaskan.

“Dan itu kenyataannya.” Tambahku menegaskan.

“Dengar, lakukan semua hal yang kau suka. Aku akan tetap mencintaimu.” Ucapnya lembut dan tegas.

Aku memincingkan ke dua mataku sembari menatapnya lekat-lekat. Aku tidak akan mempercayai kata-kata mu lagi, Cho KyuHyun. “Uh-oh, liar deatected!” sindirku.

“Yeah, and proud of it!” sahutnya.

Lihat? Jadi, untuk apa aku tetap mempertahankanmu? “Well, poor you.” Sinisku padanya.

Whatever, i’ll still love you.” Balasnya melembut.

Satu kata, ragu. Dan tepat sekali! Aku ragu dan lelah dengan semua kata-kata yang kau ucapkan, Cho KyuHyun. “I hate you so much.”

“But i love you.” Balasnya lagi dengan yakin.

Rasanya ingin sekali aku menutup kedua telingaku saat ia mengatakannya seperti yang saat ini tengah aku lakukan, menutup telingaku dengan ke dua tanganku erat-erat. “Please, stop to being a liar!

I was said rite? I love you!” tegasnya sekali lagi, membuatku semakin ingin menyumpali telingaku dengan ke dua tanganku.

“Argh! I hate you so much!” tegasku padanya lalu pergi meninggalkannya begitu saja tanpa ingin mendengar kata-katanya lagi.

Aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, Aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, Aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci, aku benci. Aku sangat-sangat membencimu, Cho KyuHyun.

***

Aku berharap, Tuan Park dan mereka semua mau membantu dengan suka cita padahal aku sudah memohon pada mereka dengan tatapan memohonku tetapi sepuluh menit kemudian, aku mendapati diriku tengah berada satu mobil dengan laki-laki menyebalkan disampingku. Sedangkan ia, tersenyum puas melihat mereka semua mendukungnya ketimbang mendukungku.

“Kali ini kau tidak bisa menghindariku, Cho Yuri.” Ucapnya dengan bangga dan puas. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku hanya memutar ke dua bola mataku dengan malas lalu menyumpali ke dua telingaku dengan earphone kesayanganku sembari menatap keluar jendela disampingku. Detik berikutnya, terdengar lantunan lagu ditelingaku. Beberapa menit kemudian tanpa bisa ku tahan lagi, perlahan-lahan ke dua mataku tertutup rapat.

“Kau tidak berubah.” Ucap pelan seseorang sembari mengelus pucuk kepalaku dengan lembut. Ingin sekali aku menepisnya tetapi aku sudah berada dialam bawah sadarku saat ini, lagipula aku tidak ingin tidurku terganggu hanya karenanya.

***

Sinar matahari pagi mengusik tidurku. Perlahan-lahan, aku membuka ke dua mataku dan mendapati wajah seorang laki-laki tidak jauh dari wajahku tengah tertidur pulas. Ah satu lagi, sebuah tangan kekar yang melingkari perutku dengan protektif dan posesif. Aku menatap lekat wajahnya, ada guratan-guratan lelah dan lingkar hitam dikantung matanya.

Apa dia kurang istirahat?

“Apa kau sedang mengagumi wajah tampan suami-mu ini?” tanya seseorang dengan percaya diri sembari menyunggingkan sebuah senyuman diwajahnya.

Aish, sial! Aku mencoba menyingkirkan tangannya dari perutku tapi, laki-laki itu justru memperat pelukannya hingga tidak ada jarak diantara tubuh kami. “Aku tidak mengijinkanmu turun dari tempat tidur, Cho Yuri.” Ucapnya dengan kedua mata yang masih tertutup.

“Lalu?” tantangku.

Morning kiss untukku?” pintanya manja lalu membuka ke dua matanya.

“Lebih baik kau mencium tembok atau guling.” Saranku dingin.

KyuHyun mencibir kesal. “Kau kan sudah lama tidak menciumku.” Rujuknya.

“Apa peduliku?” tanyaku padanya, masih bersikeras untuk tidak meruntuhkan benteng pertahanan yang telah aku buat. Aku bahkan berusaha mengumpulkan lebih banyak lagi.

“Aku ini suami-mu.” Jawabnya mulai kesal.

“Lalu?” tanyaku cuek.

“Kau ini masih marah padaku?” tanyanya kesal.

“Tidak, aku membencimu.” Jawabku mencoba meyakini ucapanku walau rasanya sangat mustahil untukku lakukan.

“Berhenti mengatakan kau membenciku!” titahnya dingin.

“Terserah.” Ucapku cuek lalu membuang wajahku darinya.

Terkadang, aku membutuhkan bukti dan tindakan daripada hanya kata-kata saja, Cho KyuHyun.

KyuHyun menghela napas dalam lalu merubah posisinya menjadi di atasku. Mataku membulat kaget saat melihatnya menindihku dengan senyum evil miliknya. “Mwoya? Apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanyaku panik, sedangkan ia melebarkan senyum menyebalkannya itu.

“Sudah lamakan kita tidak melakukannya? Lagipula, kau membuatku hampir gila karenamu selama tujuh tahun terakhir ini.” Jawabnya santai sembari menahan ke dua tanganku dengan salah satu tangannya, menjadikannya satu lalu menaruhnya di atas kepalaku.

“Cho KyuHyun, andwaeyo!” pintaku panik saat ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajahku.

“Sampai saat ini, aku berhak melakukan apa saja dari ujung kaki hingga ujung rambutmu.” Ucapnya tegas. Aku tahu, yang dikatakannya barusan memang benar adanya. Terlebih dalam hubungan suami-istri, ia sangat berhak melakukannya padaku.

“Luka-ku belum sembuh…” ucapku sedikit memohon padanya, berharap ia mengerti walau hm, sepertinya tidak.

“Aku akan melakukannya selembuutt mungkin.” Balasnya sembari menekan salah satu kata dikalimatnya.

“Oppa, aku mohon…” pintaku padanya dengan tatapan memohon. Dan aku rasa cara ini akan berhasil.

“Baik, kita akan melakukannya setelah lukamu sembuh.” Putusnya lalu melepaskan ke dua tanganku, sebagai gantinya ia melumat habis bibirku dengan rakus dan haus. Aku tahu, jika ia seperti ini berarti sangat menginginkan dan merindukanku. Aku membalas ciumannya dengan melumatnya lembut sembari melingkari lehernya dengan erat hingga perlahan-lahan KyuHyun melumat bibirku pelan dan lembut hingga menimbulkan decakan-decakan diruangan itu.

Aku sangat merindukanmu, Cho KyuHyun.

***

Dan disinilah aku, direstaurant Tuan Park berada setelah melalui debat panjang dengan KyuHyun tadi pagi.

“Kau sudah tidak perlu bekerja lagi, Cho Yuri.” Tolaknya halus saat aku mengatakan aku ingin pergi bekerja hari ini.

“Aku harus bekerja sekarang juga, aku tidak peduli kau mengijinkanku atau tidak.” Ucapku bersikukuh sembari mengenakan pakaian kerjaku lagi.

“Jika kau butuh uang, kau bisa memberitahuku.” Sarannya tulus.

“Sayangnya, aku tidak membutuhkan uangmu, Tuan Cho.”

“Panggil aku oppa!” pintanya yang mulai kesal karena dari kemarin aku tidak memanggilnya layaknya suami-istri atau lebih tepatnya tidak menghprmatinya sama sekali.

“Terserah, aku malas bertengkar denganmu terus. Aku tetap akan pergi.” Putusku cuek.

“Kapan kau akan pulang?” tanyanya sabar.

“Malam, tentu saja.” jawabku cuek.

“Aku akan menjemputmu nanti, jadi cepatlah selesaikan pekerjaanmu.” Pintanya sembari menatapku lurus.

“Tidak perlu, aku akan pulang ke rumahku sendiri.” Tolakku cuek yang langsung mendapatkan deathglare dari KyuHyun, membuatku sedikit takut. “Baik, aku mengerti.” Ucapku lagi dengan kesal. Aku masih menyayangi nyawaku dan ingin keluar rumah sesukaku, ketimbang harus berada dikamar dan melayani napsu birahinya ataupun tidak diperbolehkan keluar rumah.

“Gadis pintar.” Pujinya yang langsung melembutkan tatapannya sembari mengelus-elus pucuk kepalaku.

Aish, pria ini benar-benar!

Aku melangkahkan kaki-ku masuk dan langsung mendapati sambutan tatapan tajam juga khawatir dari mereka semua. “A-apa?” tanyaku polos pada mereka semua.

“Annyeonghaseoyo.” Salam seorang laki-laki dibelakangku dengan ramah. “Terima kasih, selama ini kalian telah menjaga dan merawat Yuri dengan baik.” Tambahnya.

“Tidak perlu sungkan seperti itu.” Ucap Tuan Park dengan suka cita sembari mendekati kami berdua. “Jadi, kau ini suaminya Yuri? Huaa, aku tidak menyangka Yuri bisa mendapatkan laki-laki sepertimu!” pujinya sembari menepuk-nepuk punggung KyuHyun dengan cukup keras. Entah maksudnya apa?

“Ku kira Yuri hanya berkhayal memiliki suami seperti mu, tetapi ternyata ia benar-benar mengatakannya.” Timpal Sica ikut-ikutan.

“Jadi, kau suami yang sangat dicintai Yuri itu? Aku kira ia sedikit buruk dibandingkan saat Yuri bercerita tentangmu, ternyata kau lebih baik. Dasar kau ini!” maki Yesung lembut dan hampir saja menyentuh pucuk kepalaku tetapi tertahan oleh tangan KyuHyun.

“Jangan sentuh istriku.” Peringat KyuHyun dengan dingin dan tegas. Aku langsung menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Bagaimana mungkin ia tidak berubah sama sekali?

Yesung tersenyum kaku mendengar perkataan KyuHyun barusan tetapi ia menurutinya.

“Aku bersyukur kalian dapat bertemu dan bersama kembali.” Ucap Taeyeon dengan lega dan tenang sembari menatap kami bergantian. Ia lalu menatap lurus ke arah KyuHyun. “Kau tahu? Yuri selalu mencari-mu setiap ada waktu luang. Ia bahkan terlihat seperti gadis menyeramkan saat ia belum berhasil menemukanmu. Jika kau melihat ekspresi wajahnya saat itu, maka tawamu akan meledak saat itu juga.” Aku Taeyeon, membuatku mati kutu dibuatnya.

Sial, habis sudah imageku dimata KyuHyun. Aaa, eonni kenapa kau mengatakan itu semua dihadapannya? Aku melirik ke arah KyuHyun dengan kaku dan benar dugaanku, saat ini ia tengah senyum-senyum sendiri mendengar perkataan Taeyeon barusan.

Sebuah tangan kekar melingkari pinggangku begitu saja dan mendekatkan tubuhku pada tubuhnya. “Jadi, selama ini kau mencari oppa? Kenapa kau tidak memberi tahu oppa kemarin? Apa kau malu memberitahukan hal ini pada oppa?” ejek KyuHyun dengan nada sangat menyebalkan sekali menyebut dirinya oppa, ditambah lagi ke dua mata bulatnya dibuat sok manis saat menatapku.

“Kau membuatku ingin mengeluarkan kembali semua isi perutku.” Balasku sembari menatapnya datar yang dibalas ledakan tawa keras dari KyuHyun diikuti tawa mereka semua. Mereka semua? Siapa lagi kalau bukan Sica, Taeyeon, JungSoo, dan Yesung aneh itu.

***

Aku menggosok-gosokkan ke dua tanganku yang mulai terasa dingin. Cuaca malam hari akhir-akhir ini memang terasa dingin dibandingkan musim gugur, tentu saja. Aku mempercepat langkahku saat melihat seseorang tengah menunggu dengan sabar.

“Sudah berapa lama kau menungguku hingga membeku seperti ini?” tanyaku kesal tetapi juga khawatir melihatnya yang hampir mati kedinginan.

“Mungkin dua jam lebih.” Jawabnya dengan suara serak. Ia lalu membukakan pintu mobil untukku.

“Kenapa kau tidak mencoba menghubungiku? Atau setidaknya menunggu didalam mobil?” tanyaku padanya, masih kesal karena tindakan bodohnya itu. Aku masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis di dalamnya.

“Aku tidak ingin mengganggumu, aku ingin kau cepat menyelesaikan pekerjaanmu. Untuk apa aku melakukannya, sedangkan kau kedinginan diluar sana.” Jawabnya sembari memakaikanku sabuk pengaman.

Ya Tuhan, pria benar-benar… “Aku bisa sendiri. Ayo cepat masuk! Kau bisa sakit jika lebih lama lagi.” Titahku padanya. Seulas senyuman tersungging diwajah tampannya sembari menatapku lembut.

“Apa kau mengkhawatirkanku?” godanya dengan ke dua mata yang berbinar-binar.

Aish, pria ini sungguh menyebalkan. “Ayo cepat masuk, hangatkan tubuhmu dengan penghangat mobil.” Saranku sembari menyalakan mesin penghangat dimobil miliknya. Ia menurutinya lalu menutup pintu mobilku dan berlari kecil menuju pintu mobil sisi kemudi.

“Lebih baik kau menghangatkan tubuhku ketimbang mesin itu yang menghangatkanku.” Pintanya yang sangat aku mengerti maksudnya. Aish, pria ini tetap saja tidak merubah pikirannya.

PLETAK!

Sebuah jitakan dengan mulus mendarat dikepalanya. KyuHyun meringis kesakitan sembari mengelus-elus kepalanya. “Yaa, kenapa kau memukulku?” protesnya.

“Sudah tidak dinginkan? Ayo jalan.” Ucapku cuek padanya sembari mencoba menahan tawaku agar tidak keluar.

“Aish, kau ini benar-benar Ice Pearl.” Ucap KyuHyun sembari melajukan mobilnya.

“Sudah tahu aku ini Ice Pearl, kenapa kau tetap mempertahankanku?” tanyaku dingin dan cuek. Aku menatap ke arah luar jendela disampingku dengan nanar. Rasanya sakit, setiap aku mempertanyakan hal-hal seperti itu pada KyuHyun.

“Karena aku mencintaimu.” Jawabnya tegas.

“Sedangkan aku membencimu.” Sahutku lalu menghela napas dalam-dalam sembari memejamkan ke dua mataku erat-erat.

“Terserah, aku tidak akan lagi termakan kebohonganmu itu.” Putusnya tenang dan yakin. Aku menutup kembali ke dua mataku rapat-rapat, menahan emosi yang ingin sekali menyeruak dan rasa sakit lainnya.

Jika kau mencintaiku maka buktikanlah, Cho KyuHyun.

***

Aku baru saja mengganti baju kerjaku dengan piyama yang dibelikan KyuHyun jauh-jauh hari sebelum kami bertemu kembali. Aku mematikan lampu tidur, dan berlindung dibalik selimut dari udara dingin ataupun AC kamar kami, lalu merebahkan tubuhku. “Yul, dingin.” Rengek seseorang sembari memeluk tubuhku dari belakang. Aku menyentuh tangannya dan seperti yang diucapkannya ia memang kedinginan. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya lalu memeluk tubuhnya dengan erat.

“Sudah merasa lebih baikan?” tanyaku khawatir.

“Belum.” Jawabnya datar.

Aku mengernyitkan keningku. “Apa mau ku buatkan sesuatu?” tawarku tulus.

“Aku hanya menginginkanmu.” Jawabnya lalu mencium keningku dengan tulus dan penuh kasih sayang, membuatku merasakan sengatan-sengatan listrik bertenaga rendah disekujur tubuhku. Ciumannya turun ke mataku sembari menciuminya bergantian, lalu hidung dan pipiku, terakhir… bibirku. KyuHyun mencium, melumat, dan menggigit bibirku dengan lembut dan penuh kasih. Aku membalas ciumannya seperti halnya ia menciumku.

***

Aku mendorong troli sembari melihat-lihat makanan siap saji yang tertata apik dan rapih. Aku dan KyuHyun telah hidup bersama lagi selama 3 minggu lebih, sepertinya. Hari ini aku libur bekerja, jadi ku putuskan untuk membeli beberapa bahan makanan dan camilan pagi ini. KyuHyun sudah pergi ke kantor sejak setengah jam yang lalu, itupun aku yang menyuruhnya pergi karena ia bersikeras untuk cuti sehari agar bisa menemaniku hari ini. Dasar pria menyebalkan itu, membuatku semakin merasa bersalah saja.

Mataku tertarik pada udang yang sedang didinginkan di atas tumpukan es dalam kaca etalase. Aku berjalan mendekatinya lalu meminta udang itu sebanyak 1 kilogram kepada chef yang saat itu tengah bertugas dan membelinya. Ku rasa itu cukup untuk kami berdua. Terlintas dibenakku untuk membuatkan KyuHyun tempura dan membuatkan bekal makan siang untuknya. Aku lalu memilih kembali ke rumah saat merasakan sudah cukup belanja hari ini untuk keperluan selama sebulan nanti.

“Yuri!” panggil seseorang saat aku tengah mengantri dikasir. Aku menoleh ke asal sumber suara dan menemukan seorang laki-laki familiar untukku. Aku tersenyum melihatnya yang saat ini tengah berlari kecil menghampiriku. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Lanjutnya saat ia sudah berada disampingku.

“Kau benar, Siwon-ssi. Bagaimana kabarmu?” tanyaku padanya dengan senyum yang masih tersungging diwajahku. Siwon mengulurkan salah satu tangannya untuk berjabat yang ku terima dengan senang hati.

“Baik, dan aku sangat merindukanmu.” Jawabnya sembari ingin memelukku tapi aku menghindarinya. Ia lalu menatapku dengan heran.

“Ini bukan Amerika.” Ucapku, menjawab pertanyaanyang tertulis  diwajahnya.

“Maaf, aku tidak bermaksud.” Balasnya yang hanya aku sahuti dengan sebuah anggukan kecil lalu melangkahkan ke dua kakiku saat giliranku tiba. Aku mengeluarkan barang-barang belanjaanku untuk didata oleh mesin kasir. “Kenapa kau belanja sebanyak ini?” tanya Siwon sembari menatap troliku yang penuh dengan barang kebutuhan selama sebulan.

“Untuk keperluan kami selama sebulan nanti.” Jawabku singkat.

“Bukankah kau hidup seorang diri?” tanyanya lagi.

Aku menoleh dan menatapnya dengan kening mengernyit. Sepertinya, berita aku dan KyuHyun menikah belum tersebar secara luas. Laki-laki itu bahkan tidak mengumumkannya setelah kesuksesannya selama ini tapi, well bukan salahnya juga. “Aku sudah menikah.” Jawabku datar lalu menatap kembali mesin kasir.

“Benarkah? Kapan? Kenapa kau tidak mengundangku?” tanyanya beruntun.

“Tujuh tahun yang lalu, maaf saat itu aku tidak tahu keberadaanmu.” Jawabku cuek.

“Apa aku mengenal suami-mu?” tanyanya sembari menyenggol-senggol lenganku dengan senyum jahil miliknya.

“Hm, mungkin? Ia sama sepertimu, bussinessman.” Jawabku sembari mengeluarkan kartu atm yang diberikan KyuHyun padaku untuk membayar semua barang yang kubeli. Jika memakai gajiku saat ini, aku rasa tidak akan cukup untuk membayarnya.

“Benarkah? Kenalkan aku padanya kalau begitu.” Pintanya yang ku tanggapi dengan senyum paksa. “Ada apa?” tanyanya heran yang melihatku seperti itu.

“Lain kali saja aku mengenalkannya padamu.” Ucapku cuek lalu mengambil 4 kantong belanjaanku yang sudah disiapkan. Sial, kenapa berat sekali?

“Mari ku bantu.” Tawar Siwon sembari mencoba mengambil 3 kantong plastik dikedua tanganku.

“Ti-“ baru saja aku ingin menolaknya, ia justru telah mengambilnya begitu saja lalu berjalan lebih dulu dariku. “Terima kasih.” Ucapku padanya saat telah berada disisinya.

“Tidak perlu sungkan.” Balasnya santai.

***

Aku memasuki sebuah gedung bangunan yang asing untukku tetapi familiar untuk seseorang. Ini kali pertamanya aku menginjakkan kaki-ku ditempat ini. Jika bukan untuk mengantarkan bekal siang untuknya, aku tidak akan mau datang ke tempat seperti ini. Aku melihat-lihat lobi bangunan ini dengan kagum, struktur bangunan ini sungguh elegan dan mewah. Interiornya juga tidak kalah memukau hingga membuatmu tidak mengerjapkan ke dua mata-mu selama beberapa saat.

“Hei, kau yang disana!” panggil seseorang hingga membuatku menoleh. Seorang laki-laki berumur 40-an tengah menatapku dengan kesal sembari berjalan menghampiriku. A-apa? “Kau ini pegawai baru ya? Kenapa kau baru datang? Sudah jam berapa saat ini, huh? Kau ingin ku pecat atau apa? Pegawai baru saja sudah sok begitu, bagaimana kau bekerja nantinya?” omel laki-laki itu beruntun sembari berkacak pinggang.

Aku menatapnya dengan tidak mengerti. “A-aku bukan…” sebelum aku menyelesaikan ucapanku, ia telah memotongnya lebih dulu.

“Huh, sudahlah! Ikut aku! Masih banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan!” titahnya lalu menarik tanganku dengan kasar untuk mengikutinya.

“Ta-tapi aku bukan…” ucapku lagi mencoba memberitahunya tapi lagi-lagi ia memotong ucapanku.

“Kau ini sudah salah tapi tetap saja menyangkal!” kesalnya yang masih tetap saja mengomeliku.

Hei, aku ini kan bukan pegawai disini! Aku istri, Cho KyuHyun!

“Lain kali, jika kau datang terlambat lagi maka kau akan ku pecat saat itu juga!” ancamnya yang tidak aku pedulikan sama sekali, aku justru mengabaikannya dan membiarkan laki-laki itu berkata-kata sesuka hatinya.

Entah sudah berapa menit berlalu begitu saja dan laki-laki tua ini masih saja gemar memarahiku diruang kerjanya dan aku tidak menanggapi ucapannya sama sekali. Aku justru menatap langit-langit ruang kerjanya dengan cuek dan kesabaran yang masih tersisa.

TOK! TOK! TOK!

Suara pintu diketuk-pun terdengar, seorang laki-laki berpakaian lengkap office boy masuk dengan hormat. “Tuan, ada telepon dari office girl, pegawai baru kantor ini. Ia bilang, hari ini ia tidak bisa masuk karena sakit dan surat keterangannya akan menyusul besok ketika ia bekerja kembali.” Ucapnya lalu mengundurkan diri dan menghilang dibalik pintu.

Aku lalu menatap laki-laki di depanku dengan tatapan puas saat melihat perubahan raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. “Tidak masalah, lupakan saja kejadian tadi.” Ucapku cuek lalu bangkit dari dudukku. “Oh ya,” ucapku sembari membalikkan tubuhku menghadapnya. “dimana ruangan direktur?” lanjutku.

“Apa anda sudah membuat janji dengannya?” tanya laki-laki itu ramah. Cih!

“Belum, haruskah aku membuat janji dengannya dulu?” tanyaku dingin.

“Tentu, Tuan Cho sangatlah sibuk akhir-akhir ini dan ia jarang berada dikantor.” Jawabnya lagi.

“Kemana dia pergi?”

“Keluar, pergi menemui para investor atau mendatangi pertemuan lainnya bersama sekretaris tercintanya.”

“Apa maksud anda?” tanyaku dengan tajam dan dingin. Sekretaris tercintanya? Huh.

“Anda belum tahu mengenai hubungan mereka yang cukup dekat? Mereka terlihat serasi saat bersama, aku sangat setuju jika mereka menikah nantinya.” Jawabnya antusias. Tunggu, sejak kapan pria tua ini suka sekali bergosip?

“Apakah anda belum mengetahui kabar bahwa Tuan Cho sudah menikah?” tanyaku sinis.

Laki-laki itu menatapku dengan ke dua alis yang hampir bertemu. “Belum ada kabar seperti itu.” Jawabnya bingung.

Lihat? Ia bahkan tidak memberitahukan kepada karyawannya bahwa ia sudah menikah. “Sudahlah, beritahu saja dimana ruangannya?” tanyaku masih sama, dingin dan cuek.

“Dilantai 6, disitu kau bisa bertanya pada resepsionis atau sekretarisnya.” Jawabnya sedikit kaku. Aku lalu meninggalkannya begitu saja.

Rasanya kaki-ku terlalu berat untuk melangkah. Tidak sesemangat seperti saat menginjakkan kaki-ku disini kali pertamanya. Terlebih, aku benar-benar ragu padanya. Aku memasuki lift lalu menekan angka 6 pada tombol kemudian pintupun tertutup. Aku menyenderkan punggungku pada dinding lift, ingin mengistirahatkan tubuhku dulu sebelum aku bertemu dengannya. Sebenarnya untuk apa aku menemui KyuHyun yang sangat jelas aku ketahui pada akhirnya akan berakhir dengan pertikaian diantara kami? Aku bahkan sangat lelah untuk terus bertengkar dengannya. Entah siapa yang memulai lebih dulu tapi, aku benar-benar lelah dengannya. Dia menganggapku, tetapi seperti tidak menganggapku. Terkadang aku merasa hanya sebagai pajangan untuknya. Ia bahkan tidak memiliki banyak waktu untukku, hingga aku merasa seperti sendiri. Aku dapat mengingat dengan baik saat ia benar-benar sibuk sebelum aku pergi meninggalkannya, ia pulang larut malam dan pergi saat matahari masih enggang untuk keluar. Bahkan waktu liburpun ia gunakan untuk bekerja dan mengabaikanku, sampai akhirnya ia dipindahkan ke China dan memulai karir baru disana. Dan setelah itu ia semakin sibuk dengan pekerjaannya. Hingga aku memutuskan untuk mencari hidup baru. Hidup baru? Ya, kembali menjadi seperti Kwon Yuri sebelumnya.

Pintu lift terbuka dan dengan enggan aku melangkahkan ke dua kaki-ku untuk keluar. Aku berjalan mendekati resepsionis dilantai ini sembari menyunggingkan senyum ramah diwajahku.

“Permisi, dimana ruangan Tuan Cho?” tanyaku padanya dengan ramah.

Ia menyunggingkan sebuah senyuman diwajahnya. “Dipojok sana, nona. Bisa beritahukan nama anda dulu? Dan apa anda sudah membuat janji dengannya?” tanyanya ramah.

“Aku Kwon Yuri. Belum, tetapi aku hanya ingin mengantarkan bekal untuknya.” Jawabku padanya.

“Kalau begitu, silahkan.” Ijinnya sembari mendukkan kepalanya.

“Terima kasih.” Ucapku lalu berjalan pergi menuju ruangan KyuHyun. Aku menatap sekilas pada meja kosong dekat ruangan KyuHyun. Aneh, bukankah sekretarisnya harusnya ada? Apa mereka pergi? Aku lalu membuka pintu ruang kerja KyuHyun dengan pelan, menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan tengah berdansa bersama sembari tertawa senang diiringin musik dansa. Perempuan itu cukup cantik, memiliki rambut panjang sepinggang, dan postur tubuh ideal.

Satu kata, sakit. Melihatnya seperti itu bersama wanita lain. Dua kata, aku membencinya. Bukankah ia mengatakan ia mencintaiku? Dan uh-oh, lihatlah apa yang sedang ia perbuat saat ini. Tiga kata, cukup! Aku lelah. Lelah dengan sifatnya yang seperti ini. Aku menatap nanar pada mereka berdua yang masih tengah asik menari diiringi musik dansa yang sangat aku kenal. Bagaimana tidak? Dulu kami pernah melakukannya bersama, saat acara prom nite sepuluh tahun lalu.

Aku menutup pintu ruangan itu kembali dengan pelan, tidak ada niatan untuk menghancurkan kesenangan mereka saat ini. Bulir-bulir lembut air mataku bahkan turun begitu saja tanpa dapat ku tahan lagi. Aku menutup mulutku dengan salah satu tanganku sedangkan satunya lagi ku kepalkan, untuk menahan segala emosiku yang saat ini tengah memuncak.

“Nona, apakah anda baik-baik saja?” tanya resepsionis itu khawatir, yang tidak gubris sama sekali.

Aku berharap tidak ada satu orangpun yang melihatku disaat seperti ini. Pandanganku buram karena air mataku yang tertahan maupun jatuh begitu saja tanpa aku pinta. Dadaku terasa sakit dan sesak saat ini. Aku butuh oksigen untuk bernapas tetapi entah mengapa kadar oksigen disekitarku sulit sekali untukku hirup. Aku memasuki lift, menekan tombol lantai dasar dengan tangan yang bergetar. Sialnya, tombol itu tidak terpencet olehku dan pintu lift-pun masih terbuka. Aku menekan kembali tombol itu dengan kesal dan sedikit tenaga tersisa. “Yuri!” panggil seseorang, tetapi aku mengabaikannya begitu saja. Tenagaku sudah hampir habis. Pintu liftpun tertutup perlahan-lahan dan aku membiarkan tubuhku terjatuh begitu saja dilantai lift. Ke dua kaki-ku sudah tidak kuat lagi menopang tubuhku dan tangiskupun semakin menjadi-jadi.

Ya Tuhan, sakit… Kau tahu?

***

Aku menutupi mataku dengan kacamata hitam saat pintu lift terbuka dan aku melangkahkan ke dua kaki-ku dengan terburu-buru. Airmataku masih mengalir begitu saja tanpa bisa aku kendalikan. Terlalu sakit. Terlebih, hatiku.

Aku berjalan terburu-buru saat keluar dari bangunan ini sembari menutupi mulutku agar tidak ada isak tangis yang terdengar oleh siapapun. Sebuah tangan kekar menarik tanganku yang bebas hingga terjatuh dalam pelukannya tanpa sempat aku melihat siapa pemilik tubuh ini, ia telah mendekapku dengan erat. Apa dia Kyu-Hyun? Sepertinya bukan, bau parfumnya berbeda dari biasa yang ia gunakan. “Tenanglah, aku ada disini.” Ucapnya lembut, mencoba menenangkanku. Aku tahu pemilik suara ini, bukan KyuHyun melainkan Siwon. Aku sangat mengenali suara sahabatku yang satu ini. Aku mencoba melepaskan diriku dari dekapannya lalu menatapnya dengan samar. Ia menyunggingkan senyumnya padaku lalu menghapus kedua air mataku dengan ibu jarinya. “Jika kau membutuhkan bantuanku, aku bersedia membantumu kapanpun.” Tawarnya tulus. Siwon lalu merapikan poni miringku yang sepertinya sedikit berantakan. “Dan jika kau ingin menceritakan isi hatimu sekarang juga, aku siap mendengarkannya.” Tawarnya lagi sembari menyentuh ke dua bahuku.

Entah mengapa tangisku semakin menjadi-jadi dihadapannya padahal seharusnya aku tidak menangis seperti ini. Aku bersyukur saat ini, sedang tidak begitu banyak orang dijalanan ini. Aku menelungkupkan wajahku ke dalam ke dua tanganku, menutupi wajahku yang saat ini tengah menangis kembali. Ia mendekapku lembut, membiarkan aku menangis di dada bidangnya, dan menepuk-nepuk pelan bahuku.

Jika saja KyuHyun yang melakukan ini, akan lebih baik lagi rasanya. Tapi, dimanakah ia disaat aku seperti ini?

***

Hari sudah malam, tetapi aku tidak ada niatan untuk kembali ke rumah KyuHyun ataupun ke apartement kecilku. Aku hanya terduduk dan termangun dalam ayunan sembari menatap rembulan yang saat ini tengah menyinari gelapnya malam. Sendiri, tentu saja aku seorang diri lagi saat Siwon sedang tidak berada disisiku. Ia sudah ku suruh pulang sejak dua jam yang lalu walau dengan enggangnya ia menuruti permintaanku karena malam semakin larut.

Aku memikirkan satu hal, sudah waktunya aku melepaskan KyuHyun. Aku tidak ingin menahannya lagi untuk berada disisiku sedangkan ia menginginkan orang lain disisinya. Maksudku, hm, entahlah… Ia selalu bilang bahwa dirinya hanya mencintaiku tapi lihat hari ini dan apa yang dilakukannya hari ini. Lelah, rasa itu selalu saja berhasil menggerogoti hatiku saat menghadapinya. Seperti kemarin, saat kami kali pertama bertemu kembali setelah sekian lama kami tidak bertemu, hari ini, dan esok. Entah, akankah ada cerita kami lagi dihari esok atau… tidak?

Aku mengayun-ayunkan kembali ayunan yang saat ini tengah ku naiki. Tatapanku kosong pada pasir mainan anak-anak di taman kanak-kanak ini. Hatiku masih terasa sakit dan pilu. Aku tidak ingin melihat KyuHyun saat ini, tidak juga besok, ataupun lusa. Aku tidak ingin melihatnya atau bertemu dengannya saat aku belum merasa siap. Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan pergi menuju apartement milikku. Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin hingga menusuk kulit ataupun tulangku tetapi aku mengabaikannya. Hatiku jauh terasa lebih dingin daripada cuaca malam hari ini.

***

Aku mendengus kesal saat menyadari tidak ada lengan kekar melingkari perutku dengan begitu protektif dan posesif. Walau hanya 3 minggu lebih kami hidup bersama, tetapi aku mulai terbiasa dengan tangan kekar melingkari perutku, begitu protektif dan posesif. Bahkan, wajah tidur seseorang saat aku membuka kembali kedua mataku dikala paga hari itu.  Aku membuka ke-dua mataku perlahan-lahan sembari kembali mengingat-ingat apa yang harus aku lakukan hari ini. Bunyi dering ponsel milikku terdengar ditelingaku, aku mengambilnya lalu menerima panggilan dari Tiffany.

“Halo, Yuri?” sapanya lebih dulu.

“Halo, Tiff. Ada apa kau meneleponku pagi-pagi seperti ini?” tanyaku padanya saat aku melirik jam weker di atas meja kecil samping tempat tidur. Pukul 05.30 KST.

“Maaf mengganggu-mu lagi, tapi bisakah kau membantuku menjaga Lauren? Aku dan DongHae sibuk hari ini, kami berdua sama-sama tidak bisa membatalkan jadwal hari ini.” Jelasnya sedikit terburu-buru dan berharap aku mengerti lalu membantunya.

“Baik, aku mengerti. Aku akan ke rumahmu sebelum kau berangkat.” Ucapku padanya yang membuatnya lega dan senang.

“Aku tahu, aku dapat mengandalkanmu.” Ucapnya yang ku balas hanya dengan senyuman. “Kalau begitu, sampai bertemu lagi.” Aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil dan sambunganpun terputus.

Aku merenggangkan tubuhku terlebih dulu sebelum beranjak atau memulai aktifitas pagi hari ini. Semangat, hoi hoi!

***

“Yuri!” panggil Tiffany senang saat melihatku datang. Aku tersenyum padanya dan berjalan mendekati Lauren yang saat ini tengah asik bermain dengan mainannya. “Maaf, merepotkanmu lagi.” Sesal Tiffany. Aku menatapnya lalu menyunggingkan sebuah senyuman.

“Apa-apaan kau ini? Aku inikan temanmu.” Ucapku berusaha menenangkannya.

“Aku tahu, kau sahabat terbaikku.” Ucapnya lalu memelukku yang kubalas dengan memeluknya balik.

“Yuri?” panggil seseorang yang familiar untukku. “Maafkan kami merepotkanmu lagi.” Lanjutnya sembari tersenyum padaku.

“Aish, kalian ini apa-apaan? Kaliankan sahabatku dan itu gunanya sahabat, bukan?” ucapku padanya yang dibalas dengan anggukan setuju dari DongHae maupun Tiffany.

“Yul eomma.” Panggil Lauren sembari berjalan pelan menghampiriku. Aku menatapnya dengan senyuman lalu menggendongnya ketika ia berada di depanku.

“Kami titip dia padamu dulu ya, Yul.” Pinta Tiffany lalu mencium kening Lauren yang diikuti DongHae setelahnya.

“Kalian tenang saja, aku pasti akan berusaha menjaganya dengan baik.” Balasku pada mereka.

“Kami percaya padamu.” Ucap mereka serempak sembari merangkul satu sama lain. “Kami pergi dulu.” pamit mereka.

Ya ampun, pasangan ini benar-benar serasi. Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. “Nah, hari ini Lauren ingin bermain apa?” tanyaku pada Lauren sembari membawanya ke tempat mainan miliknya.

“Bagaimana jika eomma menceritakan sesuatu?” sarannya saat aku telah menurunkannya. Ke dua alisku saling bertemu satu sama lain.

“Hm, menceritakan apa?” tanyaku padanya.

“Eomma bilang, eomma sudah mempunyai suami. Bagaimana bercerita tentang kisah cinta kalian?” pintanya dengan ke dua mata yang berbinar-binar.

Aku terdiam, menatap Lauren dengan tidak percaya. Menceritakan cerita masa lalu sama saja membuka kembali luka yang mulai sembuh. Dan aku belum cukup siap untuk membuka luka itu, bahkan sekedar mengingat atau melihatnya. “Bagaimana kalau Yul eomma bercerita tentang putri Aurora?” tanyaku, berusaha mengganti topik.

“Kenapa eomma tidak bercerita tentang suami eomma saja?” tanyanya, bersikeras.

Aku memaksakan sebuah senyuman tersungging diwajahku. “Kau masih terlalu dini untuk mengetahuinya, nanti jika kau sudah besar eomma akan menceritakannya padamu. Dan saat itu pula kau akan mengerti.” Ataupun cerita telah berganti, tambahku dalam hati.

“Janji?” tanyanya lagi sembari mengulurkan jari kelingkingnya padaku.

“Janji.” Balasku sembari menerima ulurun jari kelingkingnya.

“Kalau begitu ceritakan tentang putri Aurora.” Pintanya antusias. Akupun mulai bercerita tentang putri tidur dari awal sampai akhir.

***

Bunyi ponsel mengalihkan perhatianku saat tengah memasakkan sesuatu untuk Lauren. Aku menghampiri ponselku lalu mengambilnya. Jessica calling.

“Halo?” sapaku padanya.

“Yuri, kau dimana sekarang?” tanya Sica panik.

“Di atas bumi, dibawah langit. Ada apa?” jawabku datar.

“Ya ampun, Kwon Yuri! Bukan itu maksudku! Maksudku kau berada dimana sekarang?” tanyanya mulai kesal.

“Ada apa? Bukankah aku sudah meminta ijin cuti selama seminggu?” tanyaku, mengabaikan pertanyaan Jessica yang barusan.

“Err.. aku tahu, tapi bisakah kau memberitahu suami-mu untuk tidak membuat ke kacauan disini?” pintanya memohon.

“Kalau begitu bilang saja padanya, mudahkan?” jawabku cuek sembari menyibukkan diriku kembali memotong-motongi sayuran segar.

“Jika bisa sudah daritadi kami melakukannya!” histeris Sica putus asa. “Kau tahu apa yang suami-mu lakukan? Ia minum terlalu banyak alkohol, ia bahkan berteriak-teriak dan mengatakan hal-hal yang tidak jelas, dan kau tahu? Ia memukuli Yesung hingga berdarah saat mereka sedang berbicara berdua.” Ceritanya panjang lebar yang hanya ku balas dengan ‘oh’ saja. “Yaa, Kwon Yuri!” panggilnya kesal.

“Ada apa lagi?” tanyaku cuek.

“Sebenarnya kalian ini ada apa? Coba ceritakan padaku.” Sarannya.

“Tidak ada apa-apa, sudah ya. Hari ini aku sibuk, bye!” putusku begitu saja dan sambunganpun terputus. Detik berikutnya, ponselku bergetar dan menampilkan sebuah pesan singkat. Aku membukanya dengan malas lalu membacanya.

Setidaknya, tolong beritahu suami-mu untuk tidak membuat kekacauan disini.

Aku menghela napas dalam-dalam lalu mencoba menghubungi seseorang. Sambungan pertama-pun terdengar, tak lama kemudian terdengar suara sapaan dari sebrang sana.

“Tolong, jangan buat keributan disana.” Pintaku dingin dan datar.

“Dimana kau sekarang?” tanyanya dengan emosi yang tertahan.

“Lebih baik, mulai saat ini kita urusi urusan masing-masing.” Balasku dingin lalu aku memutuskan sambungan secara sepihak. Aku melepaskan bantrai ponsel dan simcard milikku,  lalu membuang simcard ke tempat sampah. Bulir-bulir lembut mengalir begitu saja tanpa aku pinta.

“Yul eomma…” panggil Lauren khawatir. Aku mendudukkan tubuhku menghadapnya sembari mencoba menyunggingkan sebuah senyuman.

“Maafkan eomma, Lauren.” Sesalku sembari memaksakan senyuman diwajahku walau tidak terlihat.

Lauren menggelengkan kepalanya pelan lalu memelukku. “Tidak apa-apa eomma, menangis saja jika ingin menangis. Jangan ditahan lagi, nanti eomma bisa sakit.” Tuturnya lembut sembari mengelus-elus kepalaku. Sungguh, aku merasa malu padanya karena bersikap tidak dewasa seperti ini dihadapannya. Ia jauh terlihat lebih dewasa dibandingkan aku saat ini.

***

Sejujurnya, aku masih belum kuat untuk melihat dan menghadapi KyuHyun. Tapi JungSoo memintaku  membantunya karena restaurant tengah ramai saat ini dan akibat keributan kecil yang dibuat KyuHyun, suasana direstaurant gaduh. Terkadang, aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku melihat Sica yang saat ini tengah menungguku di depan restaurant dengan raut wajah lega saat melihat ke datanganku. “Syukurlah kau datang!” serunya sembari berlari kecil menghampiriku. Aku langsung memindahkan Lauren ke tangannya dan memasuki restaurant untuk melihat keadaan seseorang.

“Yuri, aku mohon selesaikan masalah kalian baik-baik.” Pinta JungSoo yang saat ini telah berada disisiku. Aku menghela napas saat melihat KyuHyun tengah tertidur dimeja makan sembari menuangkan sebotol bir ke dalam gelas. Aku berjalan mendekatinya lalu mengambil gelas bir itu dengan kasar dari tangannya, menyingkirkan botol-botol itu dan membuangnya ke tempat sampah. KyuHyun diam, tidak memprotes ataupun berbicara sesuatu padaku. Ia sangat mengetahui dengan jelas raut wajahku saat ini.

“Jika kau datang kemari hanya untuk membuat keributan, silahkan pergi Tuan.” Ucapku dingin dan cuek sembari menatapnya dengan sangat-sangat kesal. Ia diam, membuatku semakin kesal melihatnya seperti itu. “Pergilah dan jangan membuat keributan disini.” Titahku padanya. Mungkin saat ini aku tengah berbicara pada angin lalu karena ia benar-benar tidak merespon ucapanku sama sekali. Aku membalikkan tubuhku tetapi sebuah tangan besar dan kekar menahan salah satu tanganku lalu memeluk perutku dari belakang. Ia lalu menyenderkan kepalanya dipunggungku.

“Jangan pergi…” lirihnya dengan suara parau. Aku  diam, tidak tahu harus menyahutinya dengan apa? “Aku mohon, jangan tinggalkan aku.” Lanjutnya yang diiringi isak tangis darinya.

Ya Tuhan… apakah aku terlalu kejam padanya? Aku mohon, jangan menangis dihadapanku. Aku sudah harus melepaskanmu, Cho KyuHyun.

“Kau tahu? Aku sangat-sangat menyayangimu melebihi diriku sendiri, Kwon Yuri.” Lanjutnya lagi yang semakin memeluk tubuhku semakin erat dan menenggelamkan wajahnya dipunggungku.

Aku tahu, aku tahu kau sangat mencintaiku, Cho KyuHyun. Hanya saja, entah mengapa aku belum bisa mempercayaimu seperti dulu.

“Ugh, stop!” titahku padanya dengan kesal sembari menutup ke dua telingaku dengan ke dua tanganku. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, tetapi ia tidak melepaskan pelukannya sama sekali. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya dalam perutku. “Can’t you stop to being a liar, huh?” tanyaku padanya tidak percaya. Salah satu air mataku turun begitu saja disudut mataku.

Sakit? Sangat. Melihatnya seperti ini membuatku semakin sakit. “Don’t you ever think about my feel? Don’t you ever think i’ve got tired because of you? Don’t you ever think i’m being stupid because of you? And don’t you ever think i’m waiting on you all of the time, huh? But now i know, you never care about me.” ucapku penuh dengan emosi yang menyeruak begitu saja. Air mataku bahkan sudah mengalir tanpa aku sadari. KyuHyun terdiam, mendongakkan wajahnya untuk menatapku.

I’m sorry.” Sesalnya. Sedangkan aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya sembari menggeleng-gelengkan kepalaku.

Just say you’re sorry, huh? Bad guy. Aku melepaskan diriku dari dekapannya dengan seluruh tenaga yang aku miliki saat ini lalu pergi berlari begitu saja meninggalkannya. Aku bahkan meninggalkan Lauren bersama Jessica. Aku tidak ada tenaga untuk menggendongnya saat ini dan juga membiarkannya melihat kesedihan ataupun kelemahanku didepannya bukanlah yang terbaik.

Just see you like that without doing anything, it’s make me feels more than hurts.

Aku menutup mulutku dengan salah satu tanganku, berharap agar isakanku tidak keluar. Ya Tuhan, sakit sekali…

***

Seseorang memeluk tubuhku dengan erat. Membiarkanku menangis di dada bidangnya hingga aku merasa jauh lebih baik. Aku mencoba melepaskan diriku dari pelukannya, menghapus kasar air mataku yang masih tersisa di kedua pelupuk mataku. Menyedihkan. Bahkan KyuHyun-pun tidak mencoba mengejarku atau menemukanku. Hanya duduk diam seperti orang bodoh dan menungguku menghampirinya, aku membenci sifatnya seperti itu.

Jika kata maaf bisa menyelesaikan semuanya, aku tidak perlu bersusah-payah merasakan perasaan sakit ini karena dirimu, Cho KyuHyun.

“Aku memang tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu saat ini, tetapi aku merindukan Yuri-ku sepuluh tahun yang lalu.” Ucap Siwon sembari membantuku menghapus ke dua air mataku. Aku diam, tidak ada tenaga untuk menyahuti ucapannya. Hanya ada isakan kecil yang keluar dari bibirku. Ia menyunggingkan senyum lembutnya padaku. “Aku tidak memintamu untuk kembali seperti dulu, hanya saja aku berharap kau bisa ceria lagi saat kali pertama kita bertemu. Seberat apapun beban yang kau pikul, kau tetap ceria dan bersemangat setiap saatnya.” Aku diam, menatap Siwon dengan lekat-lekat. “Kau tahu? Waktu dulu aku sangat menyukaimu, hanya saja kau tidak menyadarinya sampai sekarang. Jangan mencoba berpikir saat ini aku tengah merayu-mu atau mencoba menggoyahkan hatimu dari suami-mu itu, hanya saja aku ingin mengatakannya sekarang. Aku tahu, ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tetapi, aku benar-benar tidak kuat melihatmu manangis setiap saatnya hanya karena KyuHyun. Maka dari itu aku putuskan, jika kau butuh bantuanku, kapanpun yang kau mau,” Siwon kembali menyunggingkan senyuman terbaiknya padaku. “aku siap melakukannya untukmu.” Lanjutnya.

Satu kata, lelah. Aku telah lelah menghadapai KyuHyun yang seperti ini, yang setiap saatnya tidak memedulikanku ataupun setidaknya mencoba berada disisiku, walau hanya sesaat. Hanya sesaat saja, kau berada disisiku. Tidak bisakah melakukannya untukku, huh? “Terima kasih, Siwon-ssi. Aku tahu kau memang sahabat terbaikku.” Ucapku lalu menyunggingkan sebuah senyuman padanya walau sedikit memaksakannya.

“Tidak perlu sungkan padaku.” Balasnya lalu mengacak-acak rambutku dengan lembut dan penuh kasih.

“Yaa, kau merusak tatanan rambutku!” protesku kesal sedangkan Siwon tertawa puas yang membuatku ikut tertawa melihatnya tertawa seperti itu.

***

Aku kembali ke restaurant Tuan Park untuk menjemput Lauren yang sempat ku titipkan pada Jessica, tapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda mereka disini. Aku mendekati Taeyeon yang terlihat sedang membersihkan piring dan gelas. “Eonni-ya, dimana Jessica dan Lauren?” tanyaku padanya. Taeyeon menatapku dengan kesal.

“Kau tahu? Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi suami-mu telah menunggumu selama semalaman disini. Ia bahkan jauh terlihat lebih buruk ketimbang saat kau tidak menemukannya sama sekali.” Ucapnya kesal, membuatku menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. “Aku memang tidak mengerti masalah kalian, hanya saja aku juga tidak bisa diam melihat kalian seperti ini terus. Jadi, aku sarankan selesaikanlah dengan baik-baik.” Lanjutnya sembari menatapku iba. “Sebesar apapun suami-mu melakukan kesalahan, ingatlah ia tetap jadi suamimu.” Tuturnya lembut sembari menyentuh salah satu bahuku.

Termasuk jika ia telah berselingkuh dan melakukan kebohongan yang lain, begitu? Apakah aku harus memaafkannya? Aku rasa aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya menanggapi perkataan Taeyeon dengan senyum tipis yang ku paksakan.

“Jessica ada dibelakang, sedangkan KyuHyun dan Lauren sedang berjalan-jalan saat ini. Lauren yang mengajak KyuHyun, jadi jangan salahkan suami-mu nantinya.” Jelasnya padaku lalu kembali memfokuskan kembali pada piring dan gelas.

Lauren mengajak KyuHyun? Untuk apa?

Aku menunggu mereka kembali sembari membantu Yesung mengantar pesanan ataupun mencatat pesanan. Lebih dari 2 jam sejak mereka pergi tapi belum juga terlihat batang hidung mereka. 30 menit berlalu. 40 menit berlalu. 50 menit berlalu. Aku tetap menunggu mereka pulang, tetapi belum ada tanda-tandanya. Aku menghela napas dalam-dalam.

“Eomma!” panggil seseorang yang sangat familiar untukku. Aku menoleh ke asal sumber suara dan mendapati Lauren tengah digendong KyuHyun dengan salah satu tangannya memegang bunga kapas ukuran besar. Aku menghampiri mereka lalu mengambil alih Lauren dari KyuHyun. “Eomma, aku tadi berjalan-jalan dengan KyuHyun ahjussi.” Ucapnya dengan ceria. Aku lalu menatapnya dengan senyuman yang tersungging diwajahku. “KyuHyun ahjussi juga membelikanku aneka makanan manis. Kami juga tadi sempat bermain-main disana. Eomma tadi kemana? Kenapa pergi meninggalkan Lauren begitu saja? Dan siapa ahjussi bersama eomma ditaman tadi?” tanyanya sedih. Eh? Maksudnya Siwon? Apa mereka melihatku sedang bersama dengan Siwon? Aku menyunggingkan senyum padanya lalu membawanya menjauh dari KyuHyun.

“Pergi sebentar. Maaf ya, eomma meninggalkanmu begitu saja. Dia sahabat eomma, sayang.” sesalku padanya yang dibalas dengan gelengan kepala darinya. “Kau tidak mau memaafkan eomma?” tanyaku padanya.

“Laauren maafkan jika eomma mau berbaikkan dengan KyuHyun ahjussi.” Putusnya yang membuatku menatapnya tidak percaya.

“Kenapa harus seperti itu?” tanyaku lagi.

“Karena eomma dan KyuHyun ahjussi marahan, jadi harus baikan. Eomma sendiri yang bilang, marahan itu tidak baik jadi harus segera berbaikan.” Tuturnya yang membuatku menghela napas dalam. “Ayo, eomma tunggu apa lagi? Baikaaaan!” titahnya antusias.

“Iya, iya, eomma mengerti.” Balasku padanya dan berjalan menghampiri KyuHyun yang saat ini tengah menatapku sembari menahan tawanya itu. Aish, laki-laki itu pasti merasa senang. Apa yang KyuHyun lakukan hingga berhasil menyogok Lauren sampai seperti ini?

“Tunggu, turunkan Lauren lebih dulu eomma!” titahnya lagi. Aku menghela napas lalu menuruti permintaannya. “Ayo, ayo, baikan!” ucapnya antusias. Aku berhenti berjalan saat sudah berada di hadapan KyuHyun. “Ayo, ayo, ulurkan jari kelingking-mu eomma!” titah Lauren lagi dengan antusias sedangkan Yesung, Taeyeon, Sica, JungSoo, dan para pengunjung lainnya menatapi kami dengan ke dua mata yang berbinar-binar.

Aish, memalukan. Apa aku dan KyuHyun terlihat seperti tontonan saat ini? Sesuai permintaan Lauren, aku menjulurkan jari kelingking-ku pada KyuHyun. KyuHyun menatapku dengan senyuman bahagia yang daritadi belum sirna dari wajahnya. “Baikan?” tanyaku padanya, menahan perasaan malu dan gengsi. KyuHyun semakin melebarkan senyumannya lalu menerima uluran kelingkingku.

“Baikan.” Jawabnya. Entah mengapa senyumku mengembang begitu saja melihatnya yang tersenyum seperti itu. Suara heboh sorak-sorai terdengar ditelinga kami berdua.

“Akhirnya! Selamat untuk kalian berdua!” heboh Yesung dan Jessica serempak lalu menepuk-nepuk bahu kami.

“Ayo peluk!” pinta Taeyeon dan JungSoo secara serempak.

“Cium! Cium! Cium!” pinta para pengunjung yang didukung oleh mereka berlima, termasuk Lauren, dengan senang hati.

Aku menatap KyuHyun dengan tatapan panik. “Kau, ma-u apa?” tanyaku panik saat KyuHyun menyunggingkan senyum khasnya lalu berjalan pelan menghampiriku. “Yaa, jangan coba-coba melakukannya.” Peringatku panik padanya sembari berjalan mundur.

“Apa salahnya mengabulkan permintaan mereka, hm?”tanyanya dengan nada suara terdengar sangat menjengkelkan ditelingaku.

“Jangan coba-coba melakukannya, KyuHyun!” peringatku panik. Sebuah tangan melingkari punggungku dan mencoba menahan diriku dalam dekapannya. Aku menahan napas saat KyuHyun telah memejamkan ke dua matanya sembari mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menutup ke dua mataku dan membuka sedikit mulutku.

“Kena!” ucap KyuHyun puas. Aku langsung membuka ke dua mataku dan menatapnya yang saat ini tengah menyunggingkan senyuman khasnya lagi. “Kau menginginkannya kan?” goda KyuHyun puas.

Aish, menyebalkan. “Anio.” Jawabku kesal.

“Lihat, wajahmu memerah Cho Yuri!” serunya sembari tertawa puas melihat ke dua pipiku yang mulai memanas.

Sial.

***

Aku tidak mengerti, mengapa KyuHyun tidak merasa lelah sama sekali saat ini? Padahal kami telah melakukannya sebanya tiga kali malam ini. Ia bahkan tidak mengijinkanku untuk beristirahat sejenak.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya lembut tepat ditelingaku, entah berapa kali ia telah mengucapkannya malam ini. Aku mendesah pelan saat KyuHyun menyentuh bagian sensitifku. “Katakan kau juga mencintaiku.” Bisiknya lembut ditelingaku, lalu menggigitnya pelan. Membuatku kembali mendesah saat ia melakukannya. “Ayo, katakan.” Pintanya sembari terus mencoba menggodaku.

“Aku juga mencintaimu…” ucapku dengan susah payah sedangkan ia terus menyiksaku dengan permainannya. “Ahh… aku mohon lebih cepat lagi…” pintaku padanya untuk mempercepat mengakhiri permainannya.

“Tentu, nyonya…” balasnya lalu mempercepat laju (?) permainannya sembari terus menyiksaku dengan permainannya. Ia bahkan mengatakannya lagi, aku mencintaimu. Entah berapa kali membisikkannya ditelingaku, membuatku semakin gila dibuatnya.

***

Aku membuka ke dua mataku saat sinar matahari pagi mengganggu tidurku. Tubuhku terasa sedikit sakit saat digerakkan. Aku menatap KyuHyun lekat-lekat yang saat ini tengah menghadapku dengan posisi tidurnya, sembari menyentuh salah satu pipinya. Seulas senyum tersungging diwajahku. Aku merindukan wajah tidur ini setiap paginya ketika aku membuka ke dua mataku kali pertama pagi itu. Dan saat ini, aku dapat menatapinya lagi.

“Mengagumi wajah tampanku, Cho Yuri?” tanyanya dengan ke dua mata yang masih tertutup dan senyum khasnya. Ia menyentuh salah satu tanganku yang sedang menyentuh pipinya, menurunkannya ke bibirnya lalu mengecup tanganku dengan penuh kasih. Aku tersenyum kecil melihatnya seperti itu. “Kau benar-benar hampir membuatku gila setiap saatnya.” Ucapnya pelan lalu membuka ke dua matanya dan menatapku dengan lekat-lekat. Aku mengernyitkan keningku, tidak mengerti ucapannya. “Tanpamu disisiku, aku merasa hidup seperti mati.” Jelasnya lalu mengelus-elus pucuk kepalaku dengan penuh kasih. “Jangan mencoba pergi dan menghilang dari sisiku lagi. Tanpamu disisiku sama saja kematian untukku.” Pintanya memohon padaku. “Seberapapun kau membenci dan mencintaiku, aku mohon jangan pernah kau melepaskanku. Lebih baik kau mendekapku erat ketimbang membiarkanku pergi tanpa kau disisiku.” Tambahnya sembari menatapku dengan sendu. “Karena hanya kau, dan satu-satunya dirimu yang aku cintai. Bukan yang lain, aku mohon dengarkan dan mengertilah.” Pintanya lagi, menahan salah satu tanganku saat aku ingin menutup ke dua telingaku. “Sampai kapan kau tidak ingin mempercayai ucapanku? Sampai kapan kau bersikeras untuk tidak mendengarkanku? Sampai kapan kau berpikir aku tidak membutuhkan dan mencintaimu sama sekali? Sampai kapan kau ingin melihatku tersiksa? Dan sampai kapan kau menyakiti dirimu sendiri, Kwon Yuri? Sampai kapan?” tanyanya sedih. Air matanya keluar begitu saja disalah satu sudut matanya, membuatku merasakan apa yang ia rasakan saat ini.

Ya Tuhan… Aku menghapus ke dua air matanya yang mulai turun membasahi pipinya. “Jangan menangis lagi, aku mohon.” Pintaku lembut padanya, tetapi tangisannya justru semakin menjadi-jadi. Aku mendekatkan tubuhku padanya lalu membiarkannya menangis dalam pelukanku hingga KyuHyun merasa jauh lebih baik. “Maafkan aku.” Bisikku lembut tepat ditelinganya.

***

3 months later

“Ayo Cho Yuri, tersenyumlah!” pinta seseorang yang sangat familiar ditelingaku dengan handycam ditangannya, tengah menyorot ke arahku yang sedang berjalan menulusuri pasir pantai. Saat ini kami tengah berbulan madu dipantai Repulse Bay, Hong Kong, karena dulu taraf hidup kami terbilang jauh dari cukup maka hari ini kami baru sempat melakukannya. Pantai ini sangat mewah dan memesona dengan bentangan pasir membentuk bulan sabit. Bukan, bukan, bukan berarti hubungan kami ditentang oleh ke dua orangtua kami, justru mereka merestuinya. Hanya saja KyuHyun bersikeras memulai segalanya dari bawah hingga seperti saat ini, memiliki karir yang sangat gemilang. Aku menoleh ke arah laki-laki itu, menatapnya sekilas lalu tersenyum ke arah kamera sembari membentuk tanda cheers. “Lihatlah, ada seorang malaikat jatuh ke bumi.” Ucap KyuHyun sembari terus menyorotiku dengan handycam miliknya, membuatku tertawa geli mendengar ucapannya.

“Malaikat?” tanyaku padanya sembari menahan tawa. Angin sepoi-sepoi menari-narikan anak-anak rambutku yang saat ini dikuncir kuda dan juga gaun putih selututku.

“Tentu saja, dan malaikat ini satu-satunya milikku, hanya milik Cho KyuHyun seorang.” Jawabnya bangga lalu mencium keningku dengan penuh kasih. Err… ia bahkan merekamnya dalam handycam miliknya lagi.

“Yaa, sudah matikan!” pintaku padanya sembari mencoba merebut benda itu darinya. Tetapi kalah cepat dari KyuHyun, dengan bangganya ia menjulurkan lidahnya kepadaku. Aish, menyebalkan. “Yaa, oppa!” protesku lalu berlari ke arahnya, berusaha menangkapnya. KyuHyun tidak menghindariku, ia justru sengaja meninggikan handycamnya ke atas dan merekam kejadiaan saat ini. Saat aku tengah berusaha menggapai tangannya yang memegang benda itu.

KyuHyun merangkulku sembari menatap kamera. “Ayo katakan cheers!” ajaknya yang membuatku menatapnya dengan heran.

“Apa kita sedang berfoto bersama?” tanyaku polos. KyuHyun menatapku lalu tertawa pelan.

“Bukan, tetapi kita sedang merekamnya.” Jawabnya disela-sela tawanya.

“Lalu kenapa kau bilang cheers? Ayo matikan.” Pintaku padanya sembari membuat benang kusut didadanya. KyuHyun tertawa pelan lagi lalu menurunkan kembali handycamnya dan lagi-lagi ia menyorotku yang masih membuat benang kusut di dada bidangnya.

“Lihat, baby Yul sedang merujuk.” Ucapnya pada handycam miliknya.

“Aish, oppa. Ayo matikan dan lihat sunset bersama!” pintaku padanya dengan ke dua mata berbinar-binar.

Kiss me first.” Pintanya tak mau kalah sembari menunjuk-nunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Aku mencibir kesal ke arahnya lalu menuruti permintaannya. Mencium KyuHyun dengan lembut dan penuh kasih. KyuHyun merekam kembali adegan ini, entah sudah berapa banyak video rekaman kami di dalam sana yang seperti ini. Aku mengakhiri ciuman kami lalu menjulurkan lidahku ke kamera sembari melambaikan tangan, berniat mematikan benda ini. Tapi, sebuah benda mendarat dipipiku sebelum aku berhasil mematikannya dan aku hanya pasrah saat KyuHyun melakukannya. “Aku mencintaimu.” Ucapnya lembut tepat ditelingaku, membuat ke dua pipiku terasa panas, kemudian kamerapun mati. “Lihat wajahmu, memerah!” goda KyuHyun senang lalu tertawa puas melihat ke dua pipiku yang sudah memerah. Aku memukul pelan lengannya.

“Yaa!” protesku kesal. KyuHyun-pun lalu memelukku dari belakang dengan erat dan posesif.

“Aku mencintaimu, Cho Yuri.” Bisik KyuHyun tepat ditelingaku.

“Aku juga mencintaimu, Cho KyuHyun.” Balasku sembari berusaha menatapnya. Ia mencium sekilas bibirku dan melumatnya lembut, bertepatan saat matahari mulai terbenam.

“Ayo kita segera membuat anak!” ajaknya dengan antusias, yang entah mengapa membuatku tersedak saat ia mengatakannya.

============================= THE END ==============================

Halooo~ Hayo siapa yang hari ini ga nonton GG TOUR INA? *ngancungin tangan* Sedih ya ga bisa liat mereka dari dekat hiks *bakar menyan(?)* Sebenernya Yura bisa nonton tapi karena ospek kemaren… asdfghjkl

FF ini spesial buat nemenin kegalauan kalian yang jomblo *eh lol peace loh peace * dan ga bisa nonton GG TOUR INA. Ayo kita berpesta ria kegalauaan~ hikss Yuri unnieee SNSD unnieee huaaa Btw, gimana ff ini? Jelek ya? Maaf ya, aku juga masih belajar kkk~

FF ini sebenernya udah lama, dari tahun 2012 tapi belum selesai, baru setengah jalan dan pas iseng-iseng buka folder blog Yura ada ff ini dan ff-ffku lainnya yang belum sempet Yura selesaiin. Apa? Mau protes ya? Aduuh plis bangedhh *makanin pudding(?)* Yayaya, Yura tau kok hihi, baryaw😛 Dan karena Yura tau, ga bisa nonton GG TOUR INA, Yura lanjutin jadinya hihi dan nambahin alur ceritanya kkk~

Q: Yura kenapa ga nonton GG TOUR INA? A: Karena ospek kemarin… *main tanah(?)* Hihihihihi

Q: Yura kenapa sarap? A: Err, tanyakan pada rumput bergoyang(?)

Q: Yura sehat, kok rada-rada? A: Aish, kamuu~ sehat kok *pukul manja bahu KyuHyun(?)* hihi lol

KEEP RCL (Read, Comment(s), and Like) PLEASE!

Comment(s) like oxygen.

Please keep support us (Sparkling Pearls / Wild Orchids) and Thank you so much for you all *deeply bow* ^^

N.B : Sekarang udah banyak ya author atau fans Spakling Pearls, applouse buat kaliaan~ *clapping hands* Akhirnya bertambah jugaa walau ngga sebanyak shipper lain, tapi Yura bener-bener bersyukur kkk~ Tetap semangat ya buat kalian semuaa ^^)9

47 thoughts on “I Hate You Even Though I Love You

  1. Aaaa~~~ ini keren banget Yura. akhirnya setelah penantian yang panjang, ampe lumutan nunggu kmu rilis FF, Finally ada juga yang dirilis. Aku juga ikut ngacungin jari loh, cos aku ngga bisa nonton GG Tour INA, uwaa~ *garuk tembok.
    Aish, sumpah ini nyesek banget. mana ngga bisa nonton GG INA, d tambah lagi nih FF, aduh bener-bener komplit deh *lebay.
    Sempet greget di Part Kyuri marahan, bener2 menegangkan. Ehmm.. kayanya ada Typo seidkit, tapi kayanya ngga nganggu ceritanya. Oia, Aku tunggu FF kmu yang lain (MP, TFFB, IWSILY, dll). Mian klo komen ku panjang dan heboh ^^V. Fighting Yura-ah ^^9

  2. hmmm mngobati k galauan krna ga nntn GG Tour INA
    gomawo yuraaaaaaaaa~
    nc’a krang tuhhh *plaakkk abaikan*
    yg jdi sekretaris’a kyuhyun oppa siapa???
    pnjlasan kyuhyun oppa k yuri eonni ap??? *mslah yg d kantor*
    neomu joa joa joa joahae dpt bgtt feel’a😀
    cinta KyuRi mng hbat wlaupn dh b’psah lma tpi msih b’than sling mncintai😀
    kpn iy pnya suami kyk kyuhyun oppa *mnghayal* *abaikan*

    fighting yura!!!
    d tunggu next ff KyuRi ^.^

  3. Akhirnya yura update ff lagi*potongtumpeng
    Baca ff ini puas bgt, keren kok ff nya
    Tp momen kyuri nya kurang yaa
    Trus ga di jelasin knp kyuhyun meluk noh sekertaris ga jelas itu
    But, keseluruhannya udah bagus bgt
    Di tggu ff lainnya ya yura
    Kamu salah satu author favorit aku
    Hwaiting😉

  4. kjfauhjrjwnruhiarurh . Bagus. entah kenapa aku suka adegan nc disini lol xDD.
    tapi yg membuatku bingung, siapa sih sekertaris kyu? Kok ngga ada identitasnya sm sekali? Dan juga kenapa selalu ada konflik antara yul – kyu – siwon. padahal lebih rela yuri – kyu – yesung. Dan lbh setuju jg sih tiff sm siwon. soalnya aku sifany shipper hehe. ada beberapa typo. tp nggak begitu berpengaruh. bingung sm cerita awal mrk. ngebayangin bagaimana hidup selama 7 tahun tanpa suami. dan jg, katanya siwon sahabat yuri bukan? tapi kenapa disini yuri kelihatannya sebel sm siwon? apalagi pas siwon nanya siapa suami yuri sebenernya kkkk~. oke segini dulu comment ku (?) maaf terlalu panjang dan bawel hehehe.

  5. huaaa,
    aku juga ga ikut nonton gg tour ina eonn,
    *ngacung*
    *tosssss*
    pas dtngah cerita rada kurang ngerti eonn,
    tpii pas ngulang baca lumayaan ngerti deh,
    oiya eonn,
    untung saje tdk full nc,
    #wlaupun Nc ttep aku bukak kok abis pnasaran#
    wkwkwkwkwkwk (nahloh?)
    oiya eonn,
    THE FOURTH FLOWERS BOYS nya masihh d tnggu ni eonn,
    jngn lama2 ya eonn,

    yura eonni :saeng banjir curhat
    ye ? -,-
    saeng :#cengengesan#
    y udah eonn,
    keep writing ya eon -_-9
    anyeong
    #tebarkissue

  6. Lanjut eon aku sekalian bilang ya eonni aku udah baca ff yang RUN part 3 lanjut dong eonn ff yang judulnya kalo gak salag The Four apa ya aku lupa pokoknya yg ffnya kayak BBF itu loh eon😉

  7. hehehe..
    akhirnya ada ff kyuri lagi..
    tetap semangat ya chingu..🙂
    di tunggu ff kyuri lainya..
    yang ff White Love kapan publish?
    hehe

  8. yul eon baik bgt, langsung maafin kyuppa …🙂
    gak di klarifikasi dulu eon ?
    atau ada sequel ? *ngarep hehe

    bikin terus KyuRi ya eon …:)
    fighting …

  9. aahh iya eon setuju sama komen diatas siapa sekretarisnya kyuhyun ?
    tapi tetep bagus kok ffnya feelnya dapet banget meski oneshoot ini panjang aku suka hhoho
    ditunggu karya yang lainnya sering update yaa eon🙂

  10. ikutn sedih gg nnton gg concert tp ktny indosiar bkal nayangin lho.

    agg sma ky run y inti yuri prgi ningalin kyu . klo ni prgi krna kyu gg pnya wktu klo d run krn kyu trllu posesif
    tp overall bgus , suka aplgi bag romantisny .
    nto kyu dgn skrtarisny lg ngpaain ? kog gg ad pnjlsanny

  11. Aishh !! Bkin gregettan ajah si author .. *gigitguling*
    Ini ada sequel’x gak thor ??
    Soal’x ada Ϋά̲̣̥ηġ trasa nge-ganttung .
    Apaapaan ituh ? Enak bnget si Kyuppa nyiksa batin’x Yuleon ..
    Bt , dgn egois’x mlah ttap mnta Yuleon ada d.smping’x ?!
    Truz , wktu Yuleon dtg ke kntor’x Kyuppa ..
    Sypa tuh skretaris genit Ϋά̲̣̥ηġ d.ajak dansa sma Kyuppa ??
    Arrrrgggghhhh .. Kessal ! ! *ngacak2rambutfrustasi*

  12. *acungin tangan dlu*aku gk nonton gg world tour
    What!! Suami-istri tpi gk ktemu 7 thn*geleng” kpla bru denger..
    Ff nya kren feelny dpt,konfliknya brasa tpi kykny btuh squel deh untuk penyelesaian mslah sekertaris sma siwon dgn kyuri msa ngambang
    Tpi klo kyurinya sweet like like like!!
    Ok keep writing!!smangat!!

  13. Akhirnyaa eonni satu ini update ff wkwkwk
    Iyaa ketauan kok eonni ngegalau di TL
    Eonn sperti biasa bgs critanya alurnya pas jga
    Bte kpn ljt ff Flowers boyss mu itu eonn aku msih inget pas ad kyu bilang kau itu istriku wkwk
    Sama yang wanna say i love you bikin penasaran wheheh

  14. Keren kereen bngett cerita inii.. duuh pnjaangnyaaaa tp sukaaa puas bnget bacanyaaa.. hhihi

    Btw. Author yg satu ini klo bkin ff selalu TOP BGT dr bahasanya alurnya pkoknya semuanyaa daaah…
    Aku suka semua ff km..

    Kyuri selalu so sweet❤
    Keep writing yaa authoor…
    Anyeoooong ^^

  15. Walau akirnya happy ending, tp gmn kalo cerita kegalauan yuri itu diperjelas. Jd misalny kyu sibuk sampe cm nelpon 6 bulan skali tu ngapain aja. Apa bener kyu selingkuh plus tukang boong. Trus siapa sii sekretris kyu itu ngapain jg mreka pk dansa sgala. Trus akirny org” kantor kyu tau gt kalo kyu t udh merit sama yuri. Berhubung aq masi penasaran sama yg itu gmn kalo ad sekuel?? Hehehehe bisa ditambah mreka pny anak juga nantinya. Hahaha, maunya.
    Okaii deh it hanya saran dr aq aja, kalo berkenan dibuat sekuelnya makasiih bgt. Hehehe.
    Good job and fighting!!!

  16. akhirnya setelah sekian lama eonni ngeport ff jg, kangen tau sm karya2 eonni yg extra super duper fantastic amazing bgt:”
    Seperti biasa feelnya ngena bgt, rahasianya apa si hufff-,-
    Yaudah deh, ini coment udh makan lapak bgt. Pokoknya lanjutan ff chapternya ditungguin! Update soon~ Fighting^^9

  17. Tanggung jawab loh thor, gw ampe nanguis,FF panjang tapi gak bikin bosen, ah….. rasanya seperti melihat kehidupan orang kaya dan orang biasa yang nikah

  18. Huaaahhh ada ff kyuri lagii di blog ini,, meski telat bacanya tapi gpp..
    Selalu puas baca ff buatan yura..hahaha
    Waaaahhh yuri,, lagi” berprasangka buruk sama kyu..padahal klo dia ga egois dan ga ninggalin kyu, pasti dia gak akan tersiksa..meskipun akhirnya mereka bersatu lagii..hahaha
    Kyu jail,, suka bgt ngegodain yuri,,
    Yuri labil ya,, dikit” marah eehh dirayu dikit udah luluh lagii..hehehe
    Seru ff nya,, ini kaya baca ff chapter yg disatuin gitu..soalnya anjang bgt..
    Ayoo bikin ff kyuri lagii..hwaiting

  19. Eonni, aku selalu suka semua ff mu, hehe.
    Mau tnya dong eonni, trs Kyi ngapain ya sama sekretarisnya berdansa?
    Seneng akhirnya Kyu dan Yuri bersatu lagi~

  20. huah ceritanya masuk banget , feelnya ngena sampai hampir ngeluarin air mata :’) , yuri kenapa keras kepala banget disini untung kyu sabar banget dan g egois :’) aku suka karakter kyu disini ><

  21. Author, ikut baca ff’a ya .. Sumpah malem2 nangis gara2 ff ini.. Sakit bgt pasti jadi Yuri, Kyuhyun pun juga. Tp rada gereget ama Kyuhyun, bilang saranghae kayak orang gila tp dansa ama sekretarisnya .. Darting aku ama kyu .. Tp so sweet …

  22. Cerita.a bikin nyesek tpi syukur happy ending juga.
    Penasaran sama secretaris.a, ko bisa deket banget ampe dansa kayak gitu.?
    Keep writing…

  23. Komenan aku udah ga ada lagi ,, di ff ini aku udah pernah komen 2 kali dan dua-duanya hilang ,,

    Aku kan bisa di tuduh jadi siders ,, hehe ..
    Tapi untunglah aku baca lagi jadi ketahuan komenan aku ga ada ,, jadi bisa komenn lagi😀 ..

    Ff mu selalu membuatku senang apa lagi dengan genre yang di buat ,, kar akter kyuhyun maupun yuri aku selalu suka ..

    Selalu menunggu anda muncul dengan ff baru ..😀

  24. eonnie… aku minta pw sleeping beauty sama love again nya… aku udah pernah coment di ff yang lainnya tapi semua hilang entah kemana. di ff ni juga pernah tapi ilang juga… cuma beberapa yang masih ada.. diniirim pw nya ya eon ke
    email sevy.imaniar15@yahoo.com
    ditunggu eon gomawo….

  25. Daebakk..crita’a kren bgt..aku suka..aku suka..aku suka..hehe:-D
    oenni sebene’a siapa sih skertaris itu?kok gk ada pnjelasan ada hubungan apa dia dansa2 sm kyu di ruang kerja kyu lg..
    Mianhae oenni aku bru komen..abiz’a aku bru ktemu ff ini..hehe^^
    oh iya gomawo jg udh belain cepe2 bikin ff sepanjang ini hanya untuk menghibur fans Kyuri..^_^

  26. pertama alurnya keren aku suka, jujur aja biasanya aku kaloo baca ff pertama yang aku liat castnya kedua baru alurnya, ini daebak alurnya, dan ini ff termasuk panjang tapi gak ngebosenin, ffnya keren-keren eon, FIGHTING!

  27. Ping-balik: Regita Hafnie
  28. Aku sebenernya khawatir, kenapa yuri, segitu kekehnya berkata kalau kyu gak cinta lagi ke dia hahaha, mungkin krn yuri kelewat takut yaaa, kyu bakal ninggalin dia lagi..
    Syukurlah kalau gakpapa mereka, buset dah kebayang 7 tahun lhooo berpisah, hmm..

    Bagus bagus kisahnya🙂

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s