Our Treasure Memories


 

49

Our Treasure Memories

Main Cast : Kwon Yuri

Cho KyuHyun

Support Cast : Kwon’s Family with the other member

Genre : Angst, comfort, au and fluff

Pg: 17+

Art : Little Rabit

Disclamer : They belong to God. All of (this) story is Belongs to Me, so please respect ya.

Do not try to plagiat / copy-paste / take out , please. I don’t ever permit you.

Be creative, no need to copy-paste. Just show it to the world who you’re.

Thank you and happy reading all🙂

Listening to : Song Jieun – False Hope | Shin YoungJae – Love You, Erase You, Cry Again | Lena Park – My Wish

All rights reserved to © Kwon Yura, 2014.

Tes!

Air mata gadis itu mengalir begitu saja tanpa ia sadari. Ia hanya menatap sendu pada jalanan taman dekat apartement rumahnya. Ia tidak menyangka laki-laki itu benar-benar tidak mengingat kejadian apapun hari ini. Bukankah pria itu seharusnya mengingat dengan baik sama seperti dirinya?

Apakah ia sesibuk itu hingga benar-benar lupa? Atau… yang lebih buruk lagi, apakah dirinya sudah tidak penting lagi baginya? Gadis itu tau, sangat tau. Gadis itu juga mengerti, sangat mengerti. Dan gadis itu sadar, bahkan sangat sadar dan menyadari. Laki-laki itu selalu tidak menganggap dirinya ada.

Sungguh, sekalipun benar tentang hal itu, tetapi kali ini… rasanya benar-benar keterlaluan.

Pria itu melupakannya.

Pria itu mengabaikannya.

Pria itu… well, tidak benar-benar menyukainya.

Pria itu membencinya.

Pria itu memilih gadis lain daripada dirinya. 0h, mungkin juga tidak.

Pria itu… hm, apalagi yang belum disebutkan? Ah ya, pria itu tidak pernah membutuhkannya.

Pria itu bahkan sangat dingin dan menyebalkan. Tetapi, bagaimanapun gadis itu tetap menyukainya.

Pria itu bahkan terlalu bodoh. Hm baiklah, diralat.

Pria itu…

Pria itu…

Dan pria itu…

Gadis itu terus saja berjalan dengan pikiran kosong. Pikirannya saat ini sedang tidak bersamanya, hanya tubuh mungil yang perlahan-lahan membeku dan menggigil. Musim dingin—atau lebih tepatnya musim salju—tahun ini terlalu tidak baik untuk kesehatan, gadis itupun tau bahkan jika pria itu tidak selalu memberitahukannya tentang hal sekecil macam itu.

Gadis itu mati rasa. Ia tidak lagi dapat merasakan apapun selain kehampaan dan rasa sakit dihatinya karena pria itu. Pandangannya sedikit kabur saat ia melihat sebuah cahaya menyinari dirinya. Awalnya terlihat hanya satu namun perlahan-lahan menjadi dua. Gadis itu tidak bergeming dari tempatnya, hanya menatap kosong sembari terus melangkahkan kedua kakinya mendekati cahaya itu.

Rasanya saat ini  ia hanya berharap, semoga ingatannya menghilang. Terlebih… tentang pria itu.

TIIINNN!

Suara klakson mobil terdengar seperti angin lalu baginya. Ia hanya melihat mobil itu semakin mendekatinya. Gadis itu tidak menyadari pada jalanan yang ditapaki olehnya, ia terjatuh dan tergelincir saat ia tak menyadari anak tangga dihadapannya. Mobil truk itu melewatinya disisi samping jalan raya dengan kecepatan tinggi, ponselnya hancur berkeping-keping.

Gadis itu hanya mengumpat pelan atas kecerobohannya. Bau amis dan anyir dapat ia cium dengan baik melalui hidungnya. Ia menyentuh bagian kepalanya dengan tangan bergetar, sebuah warna merah dan bau khasnya membuat gadis itu sangat terkejut. Darah. Ia takut sekali dengan darah. Seluruh tubuhnya menggigil ketakutan, bahkan pupil matanya sudah membesar. Detik berikutnya ia tidak lagi sadar. Semuanya hitam dan gelap.

—o0o—

 

Seoul International Hospital

07.23 KST

Seorang gadis tengah menatap kosong jendela luar kamar inapnya. Ia mengerjapkan kedua mata-nya berkali-kali seperti anak bayi yang baru saja lahir ke dunia dan menyaksikan betapa indah dan besarnya dunia ini. Gadis itu duduk terdiam sembari menatap cahaya matahari pagi yang membantu para tumbuhan untuk melakukan fotosintesis dan menerobos masuk setiap celah sebisa yang ia lakukan.

Sejujurnya ia tidak mengerti mengapa ia bisa berada ditempat seperti ini. Ditempat yang sama sekali tidak akan pernah mau ia injakkan kakinya. Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamarnya, membuatnya terpesona akan keindahan dihadapannya. Suasana pagi musim semi yang selalu ia sukai setiap saatnya. Suara derap langkah kaki sedang berlari dapat ia dengar, dan mampu membuatnya menolehkan wajahnya bertepatan dengan terbukanya pintu kamar. Seorang laki-laki masuk dengan deru napas yang saling memburu dan kedua matanya berkaca-kaca menatap gadis yang saat ini tengah duduk dengan manisnya. Laki-laki itu terlihat sangat berantakan dan semerawut penampilannya, tidak terlihat seperti dokter kebanyakan.

Gadis itu menatapnya dengan senyum yang tersungging diwajahnya, sebuah senyuman lembut yang selama ini laki-laki itu rindukan. “Yu-ri…” panggil laki-laki itu dengan lirih tanpa bergerak atau merubah posisinya sama sekali. Gadis yang bernama Yuri itu hanya melebarkan senyuman diwajahnya saat laki-laki itu memanggilnya.

“Ya? Apa anda mengenali saya?” tanyanya dengan ringan.

Pertanyaan itu berhasil merobek hati dan menghempaskan diri laki-laki itu ke dasar bumi. Laki-laki itu tak bergeming sedikitpun, rahangnya sudah sangat mengeras, bahkan ia lupa bagaimana caranya untuk bernapas dengan benar selama beberapa detik.

“Oppa!” panggil gadis itu ceria saat seorang laki-laki memasuki kamarnya dan menatapi laki-laki didepan pintu Yuri dengan tidak mengerti.

“Yuri, bagaimana kabarmu, sayang?” tanyanya sembari menatap lurus ke arah gadis itu dan melangkahkan kakinya dengan ringan. Sebuah kecupan hangat mendarat dikening Yuri, membuat gadis itu tersenyum.

“Baik, bagaimana denganmu oppa?” balasnya, laki-laki itu lalu duduk dikursi sisi ranjang Yuri.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja sejauh ini.” Jawabnya santai.

“Oh ya, mengapa aku berada disini?” tanya Yuri sembari mengingat-ingat kejadian sebelum ia berada dirumah sakit.

“Kemarin kau terjatuh dari tangga rumah, lalu Ibu menemukanmu saat kau sudah pingsan. Jadi kau dibawa kemari.”

Yuri mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti walau sebenarnya ia ingin menanyakan suatu hal pada kakaknya itu, tetapi ia tidak tau ingin menanyakan apa. Yuri mengalihkan perhatiannya pada seorang laki-laki yang masih saja berdiri didepan pintu dengan tatapan kosong. Baru saja ia ingin membuka mulutnya tetapi sudah terdahului oleh seseorang.

“Dokter Cho, ada pasien yang membutuhkan bantuan anda sekarang!” panggil salah satu perawat sembari menepuk pundak laki-laki itu. Yuri hanya menatapnya dengan tatapan biasa, walau hatinya merasa tak suka pemandangan dihadapannya, tetapi ia tidak ingin mempermasalahkannya.

“Oh ya, siapa laki-laki yang ingin kau kenalkan padaku?” tanya kakaknya itu, membuat perhatian Yuri terarah padanya.

“Hm? Apakah aku pernah mengatakan hal seperti itu padamu?” tanya Yuri dengan kedua alis yang hampir menyatu.

Kakaknya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan adik perempuannya itu. “Saat kau berada di Italia dulu.” Tambahnya. “Hm, mungkin sekitar empat tahun yang lalu.” Lanjutnya.

“Empat tahun?” ulang Yuri sembari mencoba mengingat-ingat.

“Dokter Cho, apa anda baik-baik saja?” tanya perawat itu khawatir sembari menatap laki-laki disampingnya itu. Yuri menolehkan wajahnya kembali, menatap laki-laki aneh didepan pintu kamarnya.

Ada sebuah perasaan asing yang mengganggunya setiap kali laki-laki itu menatapnya atau bahkan mereka bertatapan tanpa sengaja. “Apa dokter itu baik-baik saja?” gumamnya pelan. “Kenapa ia menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?”

Laki-laki itu menghela napas berat lalu membalikkan tubuhnya dengan tidak bertenaga. Jika saja ia tidak ingat seseorang pernah mengatakan hal-hal yang selalu membuatnya bersemangat dan bertahan sampai saat ini, ia mungkin akan tetap berdiri mematung didepan pintu kamar gadis itu. “Di nomor berapa pasien itu berada?”

“Tiga ratus lima.” Jawab sang perawat sembari berjalan menyamai langkah pria itu.

“Apa kau mengenal dokter tadi?” tanya kakaknya saat mereka tidak lagi melihat kedua manusia itu berdiri didepan pintu kamar.

“Tidak, tetapi sepertinya ia mengenaliku.” Jawab Yuri tanpa melepas pandangannya dari punggung laki-laki itu yang mulai menjauh. Ada perasaan sedih dihatinya saat melihat pria asing itu mulai pergi menjauh.

“Aneh sekali.” Gumam Jun—kakak laki-laki Yuri—dengan pelan sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

 

***

 

Ia kembali memasuki ruang kerjanya sebagai dokter. Bau khas dari ruangan itu memenuhi seluruh rongga paru-parunya setiap ia kembali dari kegiatannya. Ia menghela napas berat dan panjang. Setelah sekian lama, ia sangat menantikan saat-saat seperti ini. Selama setahun lebih terakhir ini, ia selalu berusaha dan mencoba menemukan seseorang yang hilang dari hidupnya. Dan itu membuatnya frustasi dan gila!

Cho Kyuhyun, nama laki-laki itu. Kyuhyun menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya, memejamkan kedua matanya dalam-dalam, mencoba mengendalikan dirinya untuk berpikir jernih, dan menghilangkan rasa lelahnya setelah selama setengah hari ini ia bekerja.

“Kau tak akan pernah mengerti. Selamanya tak akan pernah mengerti.” Ucap seorang gadis dihadapannya, beberapa tahun yang lalu. Dari suara serak dan berat yang gadis itu katakan, ia dapat menebak bahwa ia tengah menangis. Namun, tak terlihat karena hujan begitu lebat.

KyuHyun saat itu hanya terdiam, menatap sendu gadis itu, tenggorokannya terasa sakit dan berat, bahkan mulutnyapun terkunci untuk mengatakan apapun. Jadi, ia hanya bisa berdiam diri melihat gadisnya seperti itu.

Sampai saat inipun, Kyuhyun masih mengingat dengan baik setiap kata yang gadis itu ucapkan. Kyuhyun menghela napas berat kembali, entah ini kali keberapanya ia melakukan hal seperti itu. Ia kembali membuka kedua matanya, mengusap wajahnya pelan, dan berjalan menuju jendela ruang kerjanya.

Hal pertama yang ia lakukan adalah ia tidak dapat memercayai kedua matanya begitu saja. Apakah aku bermimpi? Gumamnya dalam hati. Seulas senyum kembali menghiasi wajahnya, ia kembali mengingat gambar-gambar yang gadis itu buat untuknya. Hanya untuknya. Tetapi mengapa ia begitu bodoh untuk tidak menyadarinya?

Yuri sedang duduk dibangku taman rumah sakit dengan buku sketsa ukuran sedang disalah satu tangannya dan sebuah pensil. Tangannya begitu gemulai dan lihai saat ia mencoret-coret diatas kertas itu. Salah satu bagian rambutnya jatuh kedepan, membuatnya semakin terlihat cantik dan menawan.

Gerakan tangan gadis itu terhenti saat ia menyadari apa yang ia gambar dibuku kesayangannya itu. “Siapa pria ini?” gumamnya pelan sembari menatap lukisan gambar hasil karyanya. “Aneh. Kenapa aku bisa menggambar pria ini? Apa aku mengenalnya?”

Pandangan Kyuhyun tak pernah lepas dari Yuri selama setengah jam terakhir ini. Ia sangat memperhatikan gadis itu setiap saatnya tanpa Yuri tau. Kyuhyun ingat bagaimana kali pertama mereka bertemu bahkan sebelum Yuri menyadari pertemuan mereka. Kyuhyun juga ingat bagaimana kecerobohan Yuri setiap ia memperhatikannya dari jauh. Dan Kyuhyun ingat saat Yuri tersenyum padanya untuk pertama kalinnya, juga bagaimana gadis itu membuat jantungnya menjadi tidak karuan setiap Kyuhyun melihat Yuri.

“Yuri.. aku sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Tidakkah kau mengingatku?” lirihnya. Salah satu airmatanya jatuh begitu saja saat Kyuhyun kembali mengingat fakta yang membuatnya hampir kehilangan arah.

 

***

 

“Kau benar-benar tidak ingat?” tanya Jun pada Yuri saat ia menanyakan seseorang pada adiknya itu. Yuri yang hanya duduk diranjangnya, menatap kakaknya dengan tatapan polos. Ia tidak mengerti maksud ucapan Jun barusan. Kakaknya itu lagi-lagi menanyakan seseorang yang tidak ia kenal, ia bilang bahwa laki-laki itu adalah kekasihnya dan ia—Yuri—selalu menceritakan hal apapun kepada kakaknya tentang pria itu.

“Tidak, kenapa?”

“Apa kau ini amnesia atau apa?” tanya Jun lagi, hampir putus asa menghadapi adik satu-satunya itu. Dan lagi, ia masih belum mengetahui kebenarannya tentang keadaan adik perempuannya itu.

“Aku memang amnesia.” Jawab Yuri ringan, tetapi berhasil membuat Jun membalalakkan kedua matanya.

Heol! Seorang Kwon Yuri bisa juga amnesia! Aku tidak percaya tetapi ini sungguh hebat!” sahutnya sedikit menyindir Yuri.

“Yaa, oppa!” protes Yuri sembari memukul pelan lengan kakaknya itu. “Kenapa kau senang sekali aku amnesia, huh?”

“Tidakkah itu pertanda baik? Kau mengingat terlalu banyak, lagipula ingatanmu yang tidak penting itu lebih baik tidak perlu diingat. Apalagi untuk seorang laki-laki yang pergi meninggalkanmu. Kau pasti merasa tertekan karenanya lalu kau menjadi amnesia seperti sekarang ini.” Sahut Jun asal.

“Ditinggal seorang laki-laki? Apa aku pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya?” tanya Yuri sembari berfikir dan mencoba mengingat. Maklumi saja, Yuri benar-benar di diagnosa menderita amnesia jadi ia akan mudah melupakan segala hal tentang masa lalunya.

“Kau tidak ingat? Ahh, ingatanmu bagus juga untuk tidak mengingat semuanya! Haha…”

“Yaa, oppa!” kesal Yuri sembari memukul lengan Jun lagi. “Aku ini sedang serius!”

“Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja kau tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun selama dua puluh lima tahun terakhir ini.”

“Tetapi… kenapa aku bisa putus dengannya? Apa kau mengenali laki-laki itu? Apakah ia memperlakukanku dengan buruk?” tanya Yuri beruntun.

“Yaa yaa yaa! Kenapa kau banyak sekali bertanyanya? Mana aku tahu sedangkan kau saja tidak pernah memperkenalkannya padaku. Tetapi sepertinya ia selalu memperlakukanmu dengan buruk, kau selalu dibuat sedih olehnya.” Jawab Jun mencoba mengingat-ingat Yuri dulu pernah menangis karena lelaki itu. “Sudahlah, lebih baik kau tidur. Aku ingin pulang hari ini, kau tidak apa-apakan sendirian disini? Besok pagi-pagi sekali aku harus ke Jepang.” Lanjutnya saat ia melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 9 malam KST.

“Hm, aku mengerti.” Sahut Yuri pelan.

Jun lalu mencium pucuk kepala adiknya itu sebelum ia pergi meninggalkan Yuri seorang diri. Yuri menghela napas panjang sembari memikirkan ucapan Jun yang tadi.

Apa benar laki-laki itu memperlakukanku dengan buruk? Aishh, pria macam apa ia? Seenaknya saja berbuat seperti itu pada perempuan. Batinnya sembari merebahkan tubuhnya ke ranjang, dan perlahan-lahan ia mulai tertidur.

 

***

 

 

Pukul 22.22 KST. Tetapi Yuri tidak bisa benar-benar tertidur lelap. Ia membuka kedua matanya kembali, menatap seluruh bagian ruang kamarnya dengan malas. Besar dan sepi. Ia tidak terlalu menyukai tempat besar dan sepi seperti kamarnya ini. Yuri akhirnya memilih duduk, berpikir sejenak, lalu turun dari ranjangnya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar rumah sakit sebelum ia kembali tidur.

Beberapa perawat yang melihatnya keluar dari kamar menatapnya dengan heran, salah satu diantaranya dengan tanggap segera menghampirinya. “Nona, ada yang bisa saya bantu?” tawarnya dengan sopan dan ramah.

Yuri menatapnya dengan tatapan tenangnya. “Tidak, terima kasih. Saya hanya ingin berjalan-jalan sebentar saja.” Tolaknya sembari mendorong alat infus disampingnya.

“Apa anda tidak bisa tidur?” tanyanya lagi.

Yuri menganggukkan kepalanya pelan. “Aku hanya butuh udara segar saja.”

“Ingin saya temani?” tawarnya lagi.

Oh Tuhan, ini hampir membuatku jengah. “Aku bisa sendiri.”

“Baiklah, saya mengerti.” Putusnya lalu sedikit menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Yuri seorang diri.

Yuri kembali melanjutkan langkahnya, ia berjalan-jalan mencari sesuatu hal yang baru. Siapa tau ia bisa menemukan jalan untuk kabur dari rumah sakit ini? Yuri memperhatikan seluk-beluk rumah sakit ini dengan kening  mengernyit.

“Aneh. Sepertinya rumah sakit ini sudah tidak asing lagi bagiku.” Gumamnya pelan sembari menatap dan memerhatikan koridor tempatnya berdiri. Kedua mata Yuri semakin menyipit saat ia melihat sesosok pria dan wanita tengah berjalan bersama dikoridor. Jarak mereka cukup jauh hingga pria dan wanita itu tidak menyadari keberadaan Yuri didepannya. “Jika aku ingat satu hal dimasa lalu akan lebih bagus.” Gumam Yuri pelan lalu ia membalikkan tubuhnya. Ia tidak ingin melihat pemandangan dihadapannya itu. Entah mengapa hatinya ingin memberontak dan berlari ke dalam pelukan pria itu.

Langkah Yuri terhenti saat rasa sakit kembali mendera salah satu bagian kepalanya. Salah satu tangannya menyentuh kepalanya sedangkan yang satunya lagi menggenggam dinding rumah sakit. Yuri merintih pelan, ia memejamkan kedua matanya mencoba untuk mengurangi rasa sakit, menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara, dan berusaha berdiri agar tidak terjatuh.

Sekelebat bayangan-bayangan memori mulai memenuhi isi kepalanya tanpa ampun. Terlalu banyak, terlalu banyak, terlalu banyak hingga ingin sekali kepalanya itu pecah. Yuri menjerit pelan, deru napasnya semakin memburu bahkan seolah-olah kadar oksigen disekelilingnya tidak akan cukup hanya untuknya, ia mencengkram kerah baju yang ia kenakan. “Akhh… Haahh.. haahh..” rintihnya, seolah-olah meminta meminta tolong. “Aku mohon… hentikan…” tangis Yuri mulai pecah saat memori-memori itu kembali menghujami dirinya tanpa ampun.

“Yuri?” panggil seorang laki-laki dengan lembut dan tersenyum ke arahnya.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.” Bisik pria itu dengan lembut sembari mendekap tubuh Yuri erat.

“Jika kau melanggar, aku akan menghukum-mu. Mengerti?” tegas pria itu dan Yuri hanya menatapnya dengan wajah cemberut.

“A-ani, oppa! Tapi tidak bisakah kau meluangkan waktumu untuk besok? Besok adalah hari istimewa untuk kita, tidakkah kau mengingatnya?” tanya Yuri dengan kedua air mata yang tertahan sembari menatap laki-laki dihadapannya.

Pria itu tersenyum lembut. “Aku ingat, Cho Yuri. Bagaimana bisa aku melupakannya?” balasnya lalu mendaratkan bibirnya dibibir Yuri.

“Siapa gadis itu?” tanya Yuri tak bertenaga.

Pria itu hanya menatap Yuri dengan menaikkan salah satu alisnya. “Siapa yang kau maksud?”

“Gadis yang bersamamu semalam.” Sahutnya lemah, tetapi ia berusaha terlihat tegar dan biasa.

“Oh, Han Ahra. Dia teman lamaku dan kemarin kami tidak sengaja bertemu. Kenapa memangnya?”

“Haruskah kalian sedekat dan semesra itu?” tanya Yuri, ia lalu mengalihkan wajah dan tubuhnya membelakangi pria itu. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.

“Apa kau cemburu?” godanya dengan senyum manis yang tersungging diwajahnya.

“Sudahlah lupakan. Maaf, aku mengganggu pekerjaanmu.” Ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan pria itu begitu saja.

“Kau selalu sibuk. Tidak pernah ada waktu untukku lagi walau hanya sebentar. Tidakkah kau mengerti perasaanku seperti apa? Kau selalu dekat dengan para gadis lainnya, kau bahkan sangat baik dengan mereka, juga kau memberikan harapan pada mereka. Tetapi kenapa… Kenapa hanya aku saja kau selalu bersikap dingin dan abaikan?” tutur Yuri saat tengah hujan lebat dan berada ditengah jalan. Saat ini sebenarnya ia sedang menangis. Kata-kata yang tersimpan dalam benaknya keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan lagi.

“Aku tidak bermaksud berbuat seperti itu padamu. Maafkan aku…” sesal pria itu sembari mencoba menggapai tangan Yuri, tetapi gadis itu menepisnya.

“Bukan kata maaf saja yang ingin aku dengar…” lirih Yuri sembari menundukkan wajahnya.

“Lalu?” tanya pria itu lembut, sebisa mungkin ia harus tenang walau hatinya merasa sakit dan pilu melihat gadis dihadapannya.

Yuri menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menatap pria itu lurus-lurus, lalu menghembuskan napas berat dan panjang. “Kau tidak akan pernah mengerti. Selamanya kau tidak akan mengerti.”

Dan pria itu hanya terdiam, menatap lurus kearah gadisnya itu dengan tatapan sendu.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servis area. Silahkan, hubungi beberapa saat lagi. Atau silahkan tinggalkan pesan setelah nada beep berikut ini.” Suara mesin penjawab telepon itu sudah ia dengar hampir seharian ini.

Yuri mengakhir sambungan telepon dan menatap jam ditangannya, lalu kembali mengecek pesan, dan SNS miliknya. Hening, tidak ada yang baru. Semuanya hampir 6 jam yang lalu ia terima.

 

Sepertinya hari ini aku sibuk tetapi akan aku usahakan ^^~

Bagaimana kabarmu hari ini sayang? ㅋㅋㅋ

Sampai saat ini aku masih sibuk, maaf… ㅠ.ㅠ

Jangan berwajah seperti itu, sweety. Akan aku usahakanㅋㅋㅋ

Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat

Jangan menungguku, pulanglah. Maaf ㅠ.ㅠ

 

Ia tidak datang lagi. Yuri melangkahkan kedua kakinya, meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki berat.

Dasar pembohong. Aku membencimu.

Air matanya jatuh begitu saja, tatapan kedua matanya kosong,  hatinya begitu hampa dan sakit. Ini bukan kali pertamanya pria itu seperti ini. Melainkan… entahlah, sudahlah lupakan saja.

Yuri terus saja berjalan hingga melihat sebuah cahaya terang lalu perlahan-lahan cahaya itu menjadi dua. Suara klakson mobil itu terdengar seperti angin lalu baginya, ia bahkan tidak mengenali bunyi itu sebagai peringatan. Sistem saraf responnya sedang tidak berfungsi saat ini, yang ia tahu hanya satu, berjalan dan melupakan segala hal tentang pria itu. Semuanya.

Sekalipun itu adalah mimpi buruk untuknya. Tubuhnya terasa ringan saat ia terjatuh dan tergelincir pada anak tangga jalan. Bau amis dan anyir dapat ia cium dengan baik. Kepalanya terasa sangat sakit begitu juga dengan tubuhnya. Ia ingin menggapai ponselnya yang terlempar jauh dihadapannya, tetapi terlambat. Ponsel itu telah rusak terlindas truk yang lewat begitu saja. Detik berikutnya, semuanya perlahan-lahan menjadi gelap dan menakutkan.

“Yuri!” panggil seseorang, suaranya hampir memekakan telinga. Pria itu berlari secepat mungkin saat melihat tubuh gadis itu mulai goyah. Kyuhyun berhasil mendekap tubuh Yuri sebelum gadis itu benar-benar terjatuh menyentuh lantai.

Yuri menatap pria dihadapannya kini dengan pandangan samar. Kepalanya masih terasa sakit dan menyiksanya, kedua matanya juga tidak bisa melihat dengan baik. Apapun yang dilihatnya tidaklah berada pada rotasinya, berputar-putar seperti kehilangan arah.

“Op-pa?” panggilnya lirih lalu detik berikutnya semua menjadi gelap.

Napas Kyuhyun tercekat begitu saja saat gadis itu kembali memanggilnya dengan sebutan oppa. Bahkan walau hanya dengan satu kata itu saja, gadis itu mampu mengembalikan rasa sakit yang selama ini ia tahan, melupakan perasaannya terhadap gadis itu dan memulai hidup yang baru.

“Yu-ri…” panggilnya lirih lalu mendekap tubuh gadis itu dengan erat, menenggelamkan wajahnya dibahu gadis itu, dan menangisi kebodohannya sendiri.

“Dokter Cho! Apa anda tidak apa-apa? Kita harus membawa pasien ini ke dalam kamarnya.” Saran sang perawat yang bersamanya tadi saat ia telah berada disisi Kyuhyun. “Dokter Cho?” panggilnya lagi, kali ini suaranya melemah karena melihat sisi lain dari dokter itu.

Ia terlihat begitu… rapuh dan sakit.

 

***

 

“Jadi, apa disini tamannya?” tanya Yuri dengan ceria pada keesokan harinya. Yuri kembali melupakan kejadian semalam. Walau ia merasa aneh mengapa dokter itu bisa terjaga disampingnya, tetapi Yuri tidak bisa menanyakannya. Lidahnya terasa kelu.

Seseorang yang bersamanyapun hanya menatap Yuri dengan pilu dan memaksakan sebuah senyuman diwajahnya. “Hm.” Sahutnya malas.

“Huaa, indah sekali!” serunya lalu pergi berlari begitu saja ke tengah halaman taman sembari melebarkan kedua tangannya.

Seperti hembusan angin, rambut gadis itu menari-nari bersamanya.

Seperti seputih salju, gadis itu begitu murni dan tulus.

Seperti mawar merah mekar, gadis itu sangat mempesona dan menggoda.

Seperti gelas kaca, gadis itu begitu menawan dan menarik.

Seperti obat terlarang, gadis itu seperti candu.

Seperti sinar matahari pagi, gadis itu begitu hangat dan menyenangkan.

Seperti sinar rembulan, gadis itu begitu menyejukan dan indah.

Setidaknya itu yang saat ini berada dipikiran Kyuhyun. Yuri menyunggingkan sebuah senyuman diwajahnya, memejamkan kedua matanya dalam-dalam, dan menghirup udara segar pagi hari ini untuk memenuhi seluruh rongga paru-parunya.

Kyuhyun hanya menatapnya dengan lembut. Ada rasa lelah dalam dirinya setelah semalaman ia menjaga Yuri, juga ada rasa takut dan bersalah pada gadis itu. Yuri melambaikan salah satu tangannya pada Kyuhyun agar laki-laki itu mendekatinya dan ikut bersamanya.

Kyuhyun dengan enggan menuruti permintaan Yuri tetapi akhirnya ia menuruti gadis itu. Yuri menepuk-nepuk bangku taman disampingnya, menyuruh Kyuhyun untuk duduk disampingnya. “Kau tahu?” tanya Yuri, membuka percakapan diantara mereka kembali setelah Kyuhyun duduk disampingnya. “Semalam aku bermimpi aneh sekali.” Lanjutnya tanpa memedulikan sahutan Kyuhyun.

Salah satu alis Kyuhyun naik saat mendengar ucapan Yuri barusan. “Tentang apa?”

“Aku bermimpi tentang seseorang. Ia bilang, ia akan mengajakku pergi ke suatu tempat jika waktunya sudah tepat.” Jawab Yuri sembari menatap langit tak berawan. Kyuhyun semakin tak mengerti maksud ucapan Yuri barusan.

“Pergi ke suatu tempat?” ulang Kyuhyun, menuntut penjelasan.

“Hm,” sahut Yuri pelan. “Entahlah itu tempat apa, tapi mungkin surga.” Lanjut Yuri tanpa merubah posisinya sedangkan Kyuhyun hanya menatapnya tidak percaya, ia ingin berbicara tetapi bibirnya terkunci begitu saja. “Aku rasa itu tidak terlalu buruk. Akan lebih baik lagi jika secepatnya, daripada terus berada di dunia ini tetapi tidak ingat apapun sama sekali. Benarkan?” tanya Yuri, meminta pendapat Kyuhyun sembari menolehkan wajahnya kearah laki-laki itu. “Hei, ada apa denganmu?” tanya Yuri dengan tatapan tak mengerti saat ia mendapati Kyuhyun menatapnya sendu.

“Aku rasa itu ide yang sangat buruk.” Bantah Kyuhyun sembari berdiri dari duduknya. “Apapun yang dikatakan orang itu dan apapun yang diminta orang itu, jangan pernah kau menurutinya. Mengerti?” pintanya dengan tegas, membuat Yuri menatapnya tidak percaya.

Yuri tertawa pelan melihat Kyuhyun seperti itu. “Apa ada yang lucu, nona Kwon?” tanya Kyuhyun sedikit kesal.

“Tidak ada, hanya saja kau mirip seseorang.” Jawab Yuri lalu mengalihkan wajahnya dari Kyuhyun.

“Siapa?” tanya Kyuhyun hati-hati.

“Kekasihku.” Jawab Yuri sendu sembari menundukkan wajahnya.

Hati Kyuhyun mencelos begitu saja saat mendengar ucapan Yuri barusan. Ya Tuhan… “Kekasihmu?” ulangnya lagi.

Yuri menganggukkan kepala pelan. “Hm, dia adalah kekasihku. Tetapi ia selalu sibuk dan tak punya waktu untukku. Dan ia memilih…” potong Yuri.

Hati Kyuhyun kembali merasa sakit saat mendengar ceritanya. “Dia memilih?” tanya Kyuhyun lagi, tidak sabar menunggu kelanjutan ucapan Yuri.

“Mengakhiri hubungan kami.” Jawab Yuri pelan sembari menundukkan kepalanya lagi, membuat Kyuhyun ingin sekali meneriakinya dan menyadarkannya bahwa kenyataannya tidak seperti yang ia katakan.

“Apa kau mengenalinya sekarang?” tanya Kyuhyun tak begitu bertenaga, ia bahkan lebih memilih duduk kembali daripada berdiri dan jatuh begitu saja saat mendengar jawaban Yuri nantinya.

Yuri menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sudah tidak mengenalinya lagi.” Jawab Yuri pelan. “Dan sepertinya ia juga sudah tidak mengenaliku lagi.” Lanjutnya.

Kyuhyun menghela napas berat dan panjang. “Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

“Karena diluar sana masih ada banyak perempuan yang lebih cantik, juga baik dan sehat dariku. Aku hanyalah seorang perempuan menyedihkan dan tidak tau apapun.” Jawab Yuri sembari menatap bunga mawar yang tak jauh dihadapannya.

“Kau tahu? Mungkin diluar sana memang masih banyak yang lebih cantik, baik, pintar, juga lebih segalanya darimu. Tapi apakah kau tahu hati seorang pria? Hatinya tidak mudah berubah begitu saja dalam sekejap, sekalipun laki-laki itu telah berusaha melakukan segala cara untuk melupakan cintanya. Kau pikir, apakah didunia ini hanya seorang perempuan saja yang hatinya mudah terluka? Kau pikir, apakah didunia ini hanya seorang wanita saja yang ingin dijaga? Kau pikir, apakah didunia ini hanya seorang perempuan saja yang ingin dicintai? Dan apakah kau pikir, apakah hanya perempuan saja yang lemah?

Tidakkah kau berpikir bahwa pria juga ingin mendapatkan hal yang serupa? Tidakkah kau pikir bagaimana perasaan kami saat setiap gadisnya mengeluhkan kelakuan mereka? Tidakkah kau pikir pria juga merasakan sakit saat melihat gadisnya berada dalam dekapan orang lain? Tidakkah kau berpikir bahwa cinta sejati itu ada? Nona Kwon, bangun dan sadarlah! Apakah kau selamanya akan terus bermimipi indah dan tidak ingin menghadapi sebuah kenyataan? Kau pikir ini didunia dongeng? Jika kau ingin benar-benar dengan seseorang yang kau cintai itu, maka bertahanlah, bersabarlah, dan tetaplah bersamanya dalam situasi apapun.” Tutur Kyuhyun panjang lebar sembari menatap Yuri lekat-lekat. Ia sedikit merasa kesal dan marah pada sikap pesimis Yuri yang seperti itu.

Kepala Yuri kembali terasa sakit. Ia meringis pelan sembari menyentuh salah satu bagian kepalanya yang terasa sakit. Perkataan Kyuhyun barusan membuatnya kembali membangkitkan ingatannya. Hal yang selama ini Yuri lupakan, hal yang selama ini ia abaikan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun khawatir dan hampir panik. Ia menyentuh kedua lengan Yuri dengan hati-hati. “Maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Sesalnya.

Pandangan Yuri kembali kabur, benda-benda yang ia lihat tidak lagi berada dalam rotasinya, salah satu bagian dirinya menyuruhnya untuk segera tidur sedangkan lainnya bertahan. Yuri menatap Kyuhyun lekat-lekat, walau ia tidak bisa melihat bayangan Kyuhyun dengan jelas tetapi jauh dalam hatinya ia sangat mengenali pria itu. Pria yang selalu mengisi seluruh ruang hatinya tanpa sisa. Pria yang selalu mengisi hari-harinya dalam suka maupun duka. Pria yang selalu berusaha ada disampingnya. Pria yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Pria…

“Cho Kyuhyun?” panggil Yuri pelan sembari mencoba mempertegas penglihatannya. Selama beberapa saat, Kyuhyun terdiam dan mencoba mencerna kalimat yang ia dengar dari mulut gadis itu. “Oppa, apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Yuri saat ia kembali teringat sesosok pria dihadapannya itu. “Apa kita sedang kencan hari ini?” tanya Yuri lagi. “Yaaa, ada apa denganmu? Kenapa kau berdiam diri seperti itu? Apa sesuatu hal telah terjadi?” tanya Yuri karena melihat Kyuhyun tak bergeming.

“Yaa, Cho Kyuhyun?” panggil Yuri lembut sembari mencubit gemas kedua pipi pria itu lalu tertawa melihat ekspresi yang dibuatnya. “Hahaha… lucu sekali! Kau tidak pernah berubah ternyata.” Goda Yuri sembari menatap Kyuhyun lembut. Yuri terdiam, karena Kyuhyun tidak kunjung meresponnya dan hanya menatapnya tidak pecaya seolah-olah ia adalah keajaiban untuknya. “Yaa, ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu, hm?” tanya Yuri lebih lembut. “Kau tahu?” lanjutnya, karena Kyuhyun tak kunjung meresponnya. Ia menyentuh kedua tangan Kyuhyun, membuat kedua tangan itu memeluk dan mendekapnya dari samping, Yuri lalu menyenderkan salah satu telinganya didada Kyuhyun. “Entah mengapa saat ini aku sangat merindukanmu hari ini, seperti setahun tidak berjumpa dan melihatmu. Dan itu membuatku merasa takut, padahal baru saja kemarin kita bertemu.” Ucap Yuri mencurahkan seluruh perasaannya. “Dipeluk seperti ini olehmu benar-benar membuatku merasa nyaman dan tenang. Kyuhyun-ah, aku benar-benar merindukanmu. Tidakkah kau juga?” tanya Yuri lagi. Detik berikutnya ia mulai mengingat sesuatu. “Ahh!” serunya lalu bangkit dari dada Kyuhyun. “Oh ya, bagaimana pasienmu hari ini? Apakah mereka membuatmu merasa kesal?” Yuri terdiam, ia menatap wajah Kyuhyun lekat-lekat. Ada guratan lingkar hitam dibawah kantung matanya. “Kau juga harus cukup tidur dan istirahat. Baiklah, aku akan pulang sekarang dan gunakan waktu luangmu untuk tidur.” Yuri berdiri dari duduknya. Ia baru menyadari pakaian yang dikenakan olehnya. “Eh, kenapa aku berpakaian pasien seperti ini? Apa aku sakit?” gumamnya.

Yuri baru saja ingin menatap Kyuhyun lagi, tetapi rasa sakit itu kembali menderanya. Detik berikutnya semua menjadi hitam dan gelap, tubuhnya juga terasa ringan.

 

***

 

Kyuhyun hanya bisa duduk lemas menatap seseorang terbaring lemah diranjangnya. Matanya terlihat begitu sendu dan hatinya sakit melihat gadis yang ia cintai terbaring lemah dihadapannya. Ia harus kembali menghadapi kenyataan pahit, mungkin beberapa saat lalu ia bisa menemukan sesosok Yuri yang mengenal dan memperhatikannya, namun detik berikutnya ia harus kembali menelan kepahitan fakta bahwa tidak selamanya gadis itu dapat mengingatnya dalam waktu lama.

Kyuhyun menggenggam salah satu tangan Yuri dengan ringan sembari mengelus-elus lembut punggung tangan gadis itu. “Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi.” Pinta Kyuhyun dengan sangat memohon, sekalipun gadis itu tidak sedang mendengarnya. “Aku mohon, jangan ikuti orang itu jika ia memintamu untuk mengikutinya.” Lanjut Kyuhyun, kali ini dengan suara parau. “Aku mohon, aku mohon, aku benar-benar memohon padamu, Tuhan.” Isak Kyuhyun, kedua air matanya keluar begitu saja tanpa ia pinta. “Aku benar-benar tidak akan kuat lagi tanpa kau disisiku.” Isaknya lagi. Kyuhyun membenamkan wajahnya disisi ranjang Yuri, salah satu tangannya menggenggam erat tetapi ringan tangan Yuri.

Yuri sedang koma, setelah kejadian tadi keadaan gadis itu semakin menurun akibat goncangan hebat yang terjadi didalam sistem syaraf otaknya. Sekarang semua keputusan berada ditangan Tuhan dan Yuri, hidup atau mati? Mati atau hidup?

 

Suara gelak tawa dapat Yuri dengar dengan baik ditelinganya. Ia mencari-cari sumber suara itu dengan kening mengernyit. “Siapa disana?” tanya Yuri ditengah rasa ketakutan dan kekalutannya. Suara tawa itu kembali terdengar, mengacuhkan pertanyaan Yuri barusan. “Siapa kau? Dan mau apa?” tanya Yuri lagi, hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. “Yaa, jawab aku!” titahnya kesal walau ia merasa takut berada ditempat asing seperti ini.

Detik berikutnya, sebuah cahaya mendekatinya. Semula kecil namun perlahan-lahan menjadi besar dan menyilaukan, membuat Yuri menutup kedua matanya dengan tangannya. Suara gelak tawa kembali terdengar olehnya, tapi kali ini lebih lembut dan renyah. Yuri membuka kedua matanya dan mendapati dirinya sedang mengalami deja vu. Tentu saja, ia pernah merasakan dan melewati hari ini saat itu.

Seorang gadis dan pria tengah berjalan bersama dengan kedua tangan yang saling tertaut. Kedua wajah mereka terlihat begitu senang dan bahagia melihat satu sama lain. Awalnya, Yuri merasa sedikit asing namun lama-lama ia mulai menyadari dan mengenali siapa pasangan itu. Bagaimana tidak? Pasangan itu adalah dirinya dan Kyuhyun.

“Kau suka hari ini?” tanya pria itu sembari menghentikan langkahnya dan menatap lekat-lekat kearah gadisnya.

“Hm, aku sangat menyukainya.” Balas gadis itu dengan senyum manis khas miliknya.

“Tetapi aku lebih menyukaimu.” Canda Kyuhyun—nama pria itu—sembari menatap gadisnya dengan wajah pura-pura cemberut.

“Yaa, oppa! Keumanhaera! Kau benar-benar tidak pantas melakukannya.” Sahut Yuri sembari memukul pelan lengan Kyuhyun.

“Yaa, kau ini kenapa tidak ada romantisnya sama sekali?” protes Kyuhyun.

Heol! Lihat ahjussi tua ini, memangnya kau ini tipikal laki-laki romantis, huh?” protes Yuri tak mau kalah.

“Yaa, setidaknya aku berusaha menjadi pria romantis hanya untukmu.” Bela Kyuhyun sembari menyentuh kedua pipi Yuri dengan lembut dan tatapan mematikannya.

Yuri tersenyum melihatnya. “Kau tahukan? Kau tidak perlu menjadi apapun sekalipun untukku, kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Kau ingatkan?”

“Hm, arra arra. Aku selalu mengingatnya dengan baik, Cho Yuri.” Balas Kyuhyun dengan senyum puas diwajahnya.

“Moya? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyanya penuh curiga.

“Apa aku terlihat semakin tampan jika seperti itu?” goda Kyuhyun dengan smirk khasnya, baru saja Yuri ingin memprotes tetapi ia kalah cepat dengan pria itu. Kyuhyun telah mendaratkan bibirnya dibibir Yuri, membuat gadis itu terbang tinggi kelangit ketujuh. Sebuah ciuman lembut yang selalu Yuri suka dari Kyuhyun.

Seulas senyum tersungging diwajah Yuri saat ini, sesuatu hal menarik dan menyedot tubuhnya mundur kebelakang. Ia kembali berhenti pada salah satu moment, Yuri hampir saja melupakan kenangan berharga ini. Ia menatap seorang laki-laki tengah berlari kearah dirinya yang lain.

 

“Maaf, aku terlambat lagi.” Sesal Kyuhyun dengan napas tersengal-sengal saat ia berhenti dihadapan Yuri. Ia baru saja selesai melakukan penilitian untuk tugasnya dan segera berlari ke tempat itu untuk menemui juga menepati janjinya.

Yuri menghela napas panjang. “Tidak apa, ayo masuk! Filmnya sebentar lagi akan dimulai.” Balasnya lalu menggenggam salah satu tangan Kyuhyun.

“Kau memesan tiket apa hari ini?” tanya Kyuhyun ketika mereka akan berjalan masuk ke dalam bioskop.

“Belum, aku kan ingin bertanya juga padamu. Kau ingin menonton film apa?” sahut Yuri sembari mengayun-ayunkan genggaman tangan mereka.

“Manisnyaa!” goda Kyuhyun lalu mengacak-acak rambut Yuri dengan lembut dan penuh kasih.

“Yaa, Cho Kyuhyun! Kau merusak tatanan rambutku!” protes Yuri lalu merapihkan tatanan rambutnya kembali. “Eishh, butuh waktu lama untuk merapihkannya.” Gerutunya kesal.

“Hanya untukku?” goda Kyuhyun lagi dengan senyum senang diwajahnya.

“Bukan, memangnya siapa yang ingin melakukan hal sebodoh itu untukmu?” bela Yuri asal lalu menjulurkan lidahnya kearah Kyuhyun, walau kenyataannya ia melakukan berjam-jam didepan cermin untuk merapihkan dan menata rambutnya saat ini.

“Kau!” jawab Kyuhyun sembari menunjuk Yuri.

“Aku tidak!” bantah Yuri.

“Kau ingin oppa cium ya?” tanya Kyuhyun sembari menatapnya dalam dan lekat. Entah mengapa gadisnya ini terlalu keras kepala untuk mengakui hal semacam itu, tetapi itu membuatnya semakin menyukainya.

“Baiklah, aku akan diam.” Ucap Yuri sembari mengunci mulutnya rapat-rapat dengan salah satu tangannya.

“Bagus! Gadis manis.” Sahut Kyuhyun dan sebuah kecupan singkat mendarat dipunggung tangan Yuri karena gadis itu menutupi mulutnya. Kedua pupil Yuri membesar saat Kyuhyun melakukannya.

“Yaa, oppaa!” protesnya sembari memukul lengan Kyuhyun pelan, sedangkan pria itu hanya tertawa pelan mendapati reaksi Yuri barusan.

Seulas senyum tersungging diwajah Yuri. “Bodoh. Kenapa aku bisa melupakannya?” makinya pelan pada dirinya sendiri. Lagi, tubuh Yuri tertarik dan tersedot kebelakang tanpa bisa ia cegah atau tahan. Yuri kembali berdiri lagi disalah satu kenangannya.

 

Kyuhyun menatap Yuri dengan tatapan lembut dan penuh kasih sekalipun gadisnya itu mengoceh tak karuan, tetapi ia tetap mendengarkan dan memperhatikannya. “Aku tidak mengerti kenapa semua orang hanya bisa datang dan pergi dikehidupan orang lain?” tanyanya lalu Yuri kembali memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya. “Apakah orang-orang itu hanya jadi penghias dalam kehidupan seseorang? Atau…” potongnya sembari berpikir. “orang-orang itu sebenarnya berarti tetapi kita tidak menyadarinya? Oppa, bagaimana menurutmu?” lanjutnya lalu menatap Kyuhyun. “Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh diwajahku?”

Kyuhyun tertawa pelan. “Tidak, bagiku kau itu adalah hal teraneh yang aku miliki.” Jawab Kyuhyun asal dan langsung mendapati cubitan kecil diperutnya.

“Yaa, kau kira aku ini apa?” protes Yuri.

“Yaa, Kwon Yuri!” protes Kyuhyun tak mau kalah.

Yuri kembali menyunggingkan senyuman diwajahnya. Tubuhnya lagi-lagi kembali tertarik dan tersedot kebelakang. Yuri kembali berhenti disalah satu kenangannya. Sebenarnya ia tidak begitu ingat dan tau dimana dirinya berada. Tetapi… ia tau bahwa itu dirinya.

 

“Aishh! Kenapa profesor itu tidak memberiku tugas yang lebih aku mengerti?” gerutu Yuri saat ia berada disebuah meja kafe dekat taman. Ia lalu mengeluarkan alat-alat menggambarnya setelah ia menaruh cappucino yang ia pesan tadi. “Sebuah hal yang lebih nyata, hm?” gumam Yuri sembari mencoba berpikir keras.

Yuri tersenyum tak percaya pada dirinya yang beberapa tahun lalu seperti itu. Masih begitu muda, ceria, tomboy, kekanak-kanakan dan sifat buruk lainnya. “Apakah aku dulu benar-benar seperti itu? Heol, bagaimana bisa aku menjadi seperti sekarang ini?” gumamnya tak percaya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang tengah menatapnya. Bukan, bukan pada dirinya yang sekarang, melainkan dirinya yang lain. Kedua mata Yuri membulat kaget saat mendapati laki-laki yang dikenalnya tengah memperhatikan dirinya. “Kyuhyun oppa?” gumamnya lagi tidak percaya.

“Aishh! Apa-apaan ini? Kenapa profesor itu memberi tugas seperti ini?” gerutu dirinya yang lain, membuat Yuri menoleh pada dirinya itu lagi.

“Jadi, kau lebih dulu menyadari keberadaanku?” tanya Yuri pada diri sendiri.

“Sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata, sebuah hal yang nyata. Eishh, apa-apaan itu?” gumam Yuri lagi. Sedangkan Kyuhyun hanya tertawa pelan menertawakan seseorang yang tak jauh dihadapannya. Yuri menegakkan tubuhnya seketika, seolah-olah ia baru saja mendapatkan ide yang luar biasa. “Cinta?” gumam Yuri pelan. “Tidak, tidak, tidak, itu tidak benar. Didunia sekarang ini, mana ada hal semacam itu? Aku pasti akan ditertawakan oleh yang lain.” elak Yuri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan mencoba berpikir lagi.

“Dan ketika cinta yang mustahil itu sulit didapat, ternyata ia hidup disekitaran kita.” Gumam Yuri saat ini. Lagi-lagi, tubuhnya kembali ditarik tetapi kali ini didorong. Yuri kembali berhenti disalah satu memorinya.

 

Udara dingin kota Seoul menusuk kulit hingga daging dan tulangnya. Yuri merapatkan mantel miliknya. Ia baru saja pulang dari perkuliahannya, tetapi kedua matanya menangkap sesuatu yang tak asing baginya.

Cho Kyuhyun, kekasihnya saat ini tengah berjalan bersama dengan seorang wanita lain. Hati Yuri kembali mencelos saat mendapati kekasihnya itu pergi dengan wanita lain tanpa memberitahunya sama sekali. Yuri hanya dapat berdiri dan membeku ditempatnya, sedangkan kedua matanya mengikuti sosok laki-laki yang tengah menyebrangi jalan tanpa menyadari keberadaannya.

Apa-apaan ini? Gerutu Yuri tidak terima dalam hati. Ia baru menyadari kejadian itu setelah mereka tidak terlihat lagi, dan ia terlalu malas untuk mengejarnya. Keesokan harinya Yuri mendatangi ruang kerja Kyuhyun sebagai dokter walau hanya beberapa bulan karena belum tetap.

“Siapa wanita yang bersamamu semalam?” tanya Yuri tanpa basa-basi ketika ia memasuki ruang kerja Kyuhyun.

“Siapa maksudmu?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Wanita yang bersamamu semalam?” jelas Yuri dengan malas.

“Oh, maksudmu Han Ahra. Dia adalah teman lamaku dan kami sudah lama tidak berjumpa. Kenapa?” jawab Kyuhyun santai.

Yuri hanya menghela napas panjang. Ia merasa terkadang rasa cemburunya ini terlalu berlebihan, tetapi jika laki-laki itu menyadarinya maka ia tidak mungkin berbuat seperti ini. “Sudahlah, lupakan saja. Maaf mengganggumu.” Ucap Yuri dan pergi meninggalkan ruang Kyuhyun tanpa bisa menahan airmatanya lagi. Rasa cemburu berlebihannya itu benar-benar menyiksanya.

“Oppa, seharusnya kau memberi tahuku juga. Aku mungkin tidak akan merasa bodoh seperti itu.” Tutur Yuri pelan saat ini, ia mencoba menggapai Kyuhyun tetapi tidak bisa, tangannya menembus wajah Kyuhyun.

Tubuh Yuri lagi-lagi ditarik dan didorong kembali oleh sesuatu. Yuri kembali berhenti disalah satu bagian memorinya. Hujan sedang lebat dan Yuri hanya bisa menyipitkan kedua matanya pada dua orang yang tak jauh dihadapannya.

 

“Tidak, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Tolak Yuri saat Kyuhyun ingin menyentuh dan menghapus air matanya.

“Maafkan aku, aku… aku…” ucap Kyuhyun mencoba menjelaskan tetapi lidahnya terasa kelu.

“Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Tidak seharusnya aku memaksamu untuk datang padahal aku tahu kau sedang sibuk.” Balas Yuri sembari menahan tubuh Kyuhyun agar tetap menjauh darinya dengan salah satu tangannya.

“Maaf, lain kali aku akan mencoba mengatur kembali jadwalku.” Sesal Kyuhyun lagi.

“Hei, tidak masalah. Aku yang terlalu egois dan kekanak-kanakan. Tetapi… aku hanya ingin membuat sesuatu dihari annivesary kita yang berbeda dari sebelum-sebelumnya, kemarin-kemarin kita tidak melakukannya karena kau sibuk dan aku mencoba mengerti. Tapi… tidak bisakah sehari saja kau meluangkan waktumu untukku? Apa hanya aku saja yang mempertahankan hubungan ini sedangkan kau tidak? Apa hanya aku saja yang menginginkanmu untuk tetap berada disisiku sedangkan kau tidak? Apa… apa.. apa… hikss…” tangisnya sudah pecah sedari tadi dan Yuri tidak lagi dapat menahannya.

Kyuhyun melangkah maju dan ingin mendekap gadis itu tetapi lagi-lagi Yuri menahannya dengan tangan untuk tetap menjaga jarak. “Tidak, tidak perlu. Aku lelah dan ingin pulang.” Pintanya pelan lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun. Sejujurnya, ia juga tidak memiliki tenaga lebih untuk berjalan setelah selama 4 jam terakhir ini ia menanti Kyuhyun ditempat itu. Tetapi, ia juga tidak mau berada dekat dengan Kyuhyun untuk saat ini. Walau hatinya terasa sakit, tetapi tetap saja ia hanya ingin sendiri.

“Aishh, jeongmal nappeun namja!” gerutu Yuri saat ini dengan kesal. Tubuhnya kembali ditarik dan didorong oleh sesuatu. Yuri kembali berdiri disalah satu bagian memorinya. Yuri kembali dihadapi kenangan menyakitkan dihadapannya. Ia menghela napas berat, ia ingat bagaimana lelahnya dirinya menanti kabar seseorang, juga betapa frustasinya ia menghadapi sikap laki-laki itu.

 

Pukul 00.02 KST, tetapi belum juga ada kabar dari Kyuhyun. Ia bilang kemarin dini hari akan pergi ke daerah distrik selama beberapa bulan, dan akan memberinya kabar begitu ia sampai disana.

“Pembohong.” Maki Yuri pelan dan dingin sembari menatap layar ponselnya yang hitam. “Menyebalkan.” Makinya lagi, salah satu air matanya jatuh begitu saja saat ia mengingat Kyuhyun tadi pagi sebelum laki-laki itu pergi.

“Jaga dirimu, sayang. Aku pergi dulu, jaga kesehatanmu juga. Ingat, jangan bekerja terlalu keras. Aku tidak ingin kau sakit.” Ucap Kyuhyun mengingatkan sembari memeluk tubuh Yuri dengan erat dan menatap lurus gadis itu. Yuri hanya mengangguk lemah tak bertenaga.

“Kau juga, jangan sampai sakit. Aku tidak ingin kau sakit lagi seperti waktu itu.” Peringatnya sembari membalas dekapan Kyuhyun. “Hubungi aku ketika kau sampai, hati-hati dijalan. Jangan lupa makan dan jangan sampai telat! Makan-makanan bergizi, jangan makan mie instan terus!” ucap Yuri beruntun. “Semoga harimu selalu menyenangkan.” Tambahnya, lalu membenamkan wajahnya didada bidang Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum saat mendapati gadisnya kembali bersikap manja dan kekanak-kanakan. “Aku mengerti, Cho Yuri.” Sahutnya lembut, lalu mendaratkan bibirnya dikening Yuri dengan penuh kasih. “Aku menyayangimu, Kwon Yuri.” Ucapnya lembut saat ia telah mengakhiri kecupan dikening Yuri dan menatap Yuri lekat-lekat.

Benteng pertahanan Yuri hancur dan luluh begitu saja saat Kyuhyun mengatakan hal itu dengan mudahnya. Benteng yang selalu menjadi pertahanannya setiap saatnya ketika laki-laki itu sedang atau tidak berada disisinya untuk sementara waktu. Saat itu Yuri hanya bisa menundukkan wajahnya yang mulai bersemu merah dan menahan senyuman diwajahnya. “Apakah saat ini wajahmu sedang memerah dan kau merasa senang?” tebak dan goda Kyuhyun jail sembari mencoba melihat wajah Yuri tetapi gadis itu semakin menundukkan wajahnya hingga membuatnya sulit melihat.

Yuri menghela napas berat saat ia kembali mengingat kejadian tadi pagi. “Oppa…” panggil Yuri tanpa sadar. Kata itu berhasil keluar begitu saja tanpa ia ketahui dan sadari. Ia lalu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. “Kwon Yuri bertahanlah.” Pintanya pada diri sendiri. “Ku mohon, bertahanlah.” Pintanya, memohon.

Yuri saat ini hanya menghela napas berat. Tubuhnya kembali ditarik dan didorong begitu saja. Ia kembali berhenti pada ingatannya. Ingatan dimana ia berharap, ia dapat melupakan semua kenangan bersama pria itu, Cho Kyuhyun.

 

Ia bangun dari tidurnya dan mendapatkan dirinya berada dirumah sakit. Putih, semuanya terlihat seperti itu ketika ia membuka kedua matanya. Yuri duduk diranjangnya, ia menyentuh kepalanya yang kembali terasa sakit. Yuri meringis pelan. Suara langkah kaki dan sesosok laki-laki tampak dengan jelas dihadapannya dengan pakaian setelan jas rapih.

“Kau sudah sadar?” tanya laki-laki itu diiringin senyum ramah.

“Anda siapa? Apakah kita saling mengenal?” tanya Yuri hati-hati dan takut.

“Kenalkan, aku Lee HyukJae. Aku kemarin menemukanmu pingsan dipinggir jalan, karena aku takut terjadi apa-apa padamu jadi aku membawamu kemari.” Jelasnya.

“Ahh, terima kasih banyak.” Ucap Yuri sembari sedikit menundukkan kepalanya.

“Tidak masalah. Oh ya, aku belum mengabari keluargamu atau siapapun. Apakah kau ingat nomor telepon yang bisa dihubungi? Mungkin Ayah-Ibumu atau kekasihmu?” tanya HyukJae dengan sopan.

“Tidak, aku tidak ingat apapun.” Balas Yuri sembari mencoba berpikir.

Laki-laki itu hanya mengangguk mengerti. “Nanti akan ada dokter yang memeriksamu dan menjagamu selama beberapa hari ke depan. Dan mungkin, aku tidak bisa menemanimu hari ini karena aku memiliki urusan lain. Apa kau tidak apa-apa?’

“Eh? Tentu saja, terima kasih banyak dan maaf telah merepotkanmu.” Balas Yuri dengan sopan.

“Jangan sungkan seperti itu, santai saja. Oh ya, kau bisa memanggilku Eunhyuk. Teman-temanku memanggilku seperti itu.”

“Ah, baiklah. Saya mengerti, Eunhyuk-ssi.” Pria itu hanya tersenyum lalu pamit untuk segera pergi dari kamar Yuri. Selang beberapa saat, seorang dokter datang dan memeriksanya. Ia baru mengetahui dirinya terkena amnesia saat ia telah menjalani beberapa pemeriksaan lebih lanjut.

Tubuh Yuri kembali ditarik dan didorong oleh sesuatu. Ia kembali berhenti dan berdiri disalah satu ingatannya. Kali ini Yuri tidak bergeming dan berbicara tentang sesuatu hal. Ia hanya diam dan melihat semua potongan memori yang terlupakan begitu saja.

 

Hari ini Yuri kembali bekerja sebagai pelatih yoga maupun tari modern hanya saja ia pindah tempat. Ia masih dapat mengingat semua hal dengan baik tanpa menyadari sesuatu hal yang telah hilang. Bahkan jika sesuatu hal itu dekat sekalipun, ia tidak tahu.

“Yul!” panggil seseorang sembari menyikut lengannya saat ia masih dalam dunia khayalnya.

“Hm, apa?” sahutnya sembari menatap temannya itu.

“Tidakkah pria itu tampan?” goda Tiffany—teman dekatnya saat itu. Yuri mengikuti arah tatapan mata gadis itu. Beberapa laki-laki tengah memasuki ruang gym tempatnya bekerja. “Laki-laki yang itu! Yang pakai baju kuning-merah!” tunjuk Tiffany pada seorang laki-laki berwajah Thailand-Korea.

“Oh, hm, mungkin?” sahut Yuri datar lalu mengeringkan rambutnya kembali setelah ia membersihkan tubuhnya akibat terlalu berkeringat, bertepatan dengan seorang laki-laki yang menoleh kearahnya. Laki-laki itu hanya menatap gadis disampingnya dengan datar dan dingin tanpa melihat dan memperhatikan lebih dalam lagi siapa gadis itu. Laki-laki itu berjalan menghampiri teman-temannya, bertepatan dengan Yuri melepaskan handuk dari kepalanya.

“Kyuhyun! Kenapa lama sekali?” kesal salah satu dari mereka pada laki-laki yang tengah berjalan.

“Maaf, tadi aku kira melihat seseorang yang aku kenal disini.” Ucap Kyuhyun lemas sembari duduk dikursi sebelum mereka melakukan pemanasan olahraga gym.

“Siapa? Gadis yang bernama Yuri itu?” balas temannya. Kyuhyun hanya mengangguk lemah.

“Oppa…” lirih Yuri saat ini, gadis itu mencoba menyentuh wajah Kyuhyun. Namun sia-sia saja, tangannya menembus wajah Kyuhyun. Tubuh Yuri kembali ditarik dan didorong oleh sesuatu. Yuri kembali berhenti dan berdiri disalah satu kenangannya.

 

“Yuri! Kenapa kau tidak mencari seorang kekasih saja?” tanya Tiffany saat ia telah selesai melatih beberapa orang. Yuri mengelap keringatnya dengan handuk kecil ditangannya diiringi Tiffany disampingnya.

“Alasanku untuk tidak mencari kekasih adalah…” jawabannya terpotong saat seseorang memasuki gym—dimana tempat mereka bekerja—dan Yuri menoleh, menatap laki-laki yang baru saja masuk. Entah mengapa jika Yuri perhatikan, laki-laki itu kerap kali datang ke tempat ini selama beberapa minggu terakhir.

“Adalah apa?” tanya Tiffany tidak sabaran.

Yuri kembali menatap Tiffany, sesaat ia lupa padanya. “Aku ingin mencari tahu masa laluku. Aku merasa hidupku tidak akan pernah tenang jika aku tidak mengetahui kebenarannya.”

“Ini sedikit gila.” Ejek Tiffany tidak percaya. “Tetapi aku mengerti. Kau pasti tersiksa karena amnesiamu itu.” Lanjutnya. Yuri hanya membalas ucapannya dengan senyuman. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk melakukan olahraga ringan. Langkah kakinya terhenti saat sebuah benda menggelinding dan berhenti dihadapannya. Kening Yuri mengernyit tidak percaya. Yuri mengambil benda berbentuk lingkaran itu yang dipasangi sebuah kalung didalamnya. Ia memperhatikan seluk-beluk benda itu dengan seksama. Didalam cincin itu terlihat jelas ada sebuah ukiran nama, Cho Yuri.

“Cho Yuri?” ulangnya sembari mencoba mengingat-ingat sesuatu hal yang tak asing lagi baginya. Ia mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang berada didalam gym saat ini, kedua matanya berhenti pada sesosok pria yang tengah melakukan pemanasan ringan ditengah ruangan. “Apakah ini miliknya?” gumam Yuri sembari terus memperhatikan pria itu. “Jika pria itu berada disana, dan jika benar benda ini miliknya, berarti ini masuk akal. Tidak terlalu jauh dari tempatnya terjatuh. Aishh, pria itu pasti menaruh sembarangan benda ini. Seharusnya, jika benda ini begitu berharga ia akan lebih hati-hati lagi tentunya.” Gumam Yuri sembari menatap pria yang berada tak jauh dihadapannya lalu tas merah milik laki-laki itu.

Ia baru saja ingin kembali melangkahkan kakinya, tetapi rasa sakit dikepalanya mulai menderanya, membuatnya hampir jatuh dan goyah jika saja ia tidak berpegangan pada loker didekatnya. Yuri membalikkan tubuhnya perlahan-lahan sembari berjalan menjauh dari tempat itu, ia harus istirahat. Disisi lain, sesosok pria itu melihat ke arah Yuri ketika gadis itu membalikkan tubuhnya dan mulai pergi menjauh dengan tatapan penasaran juga dingin lalu menatap kearah luar jendela ruangan lagi.

Yuri meminta tolong pada Tiffany saat gadis itu ia temukan tengah duduk diam sembari melakukan pemanasan ringan. “Fany-ah, tolong berikan benda ini pada laki-laki berbaju putih ditengah ruangan sana.” Pinta Yuri dengan lemas. Wajahnya seketika kembali pucat dan tenaganya seperti terserap habis keluar begitu saja tanpa ampun.

“Ya ampun, Yuri! Apa kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Yuri hanya mengangguk lemah sembari memberikan cincin kepada Tiffany.

“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat sebentar. Ini, tolong kembalikanlah.” Tanpa menunggu kata-kata lagi, Tiffany segera menuruti permintaan Yuri barusan sedangkan ia mulai tertidur.

Lalu, Yuri saat ini mengikuti Tiffany menghampiri laki-laki yang dimaksud dirinya yang lain. “Tuan, sepertinya ini milik anda.” Ucap Tiffany sembari menepuk pelan bahu pria itu.

Pria itu menoleh dan menatap Tiffany sekilas lalu pada benda ditangannya. “Oh, terima kasih banyak.” Ucapnya penuh syukur, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika ia kehilangan benda itu.

“Tidak masalah, lagipula tadi temanku yang menemukannya, aku hanya dimintai tolong olehnya saja.” Jelas Tiffany sembari menyunggingkan senyum termanisnya.

“Dimana dia sekarang?” tanyanya.

“Ia sedang istirahat dibelakang, kau ingin bertemu dengannya?” tawar Tiffany.

“Ahh, tidak, tidak, terima kasih. Sampaikan saja padanya rasa terima kasihku.” Tolak pria itu—Kyuhyun—dengan halus.

“Aku akan menyampaikannya, tapi mungkin besok. Karena orangnya baru saja pergi.” Tunjuknya dengan ujung dagunya kearah pintu. Kyuhyun menoleh dan dapat ia lihat sesosok gadis anggung dan sexy dari punggung perempuan itu. “Kau ingin berkenalan dengannya? Kebetulan dia masih single dan mencari seseorang dalam hidupnya.” Goda Tiffany jail saat melihat ekspresi wajah Kyuhyun menatap punggung Yuri.

“Aishh, aku tidak tahu Tiffany begitu menjengkelkan seperti ini?” gerutu Yuri saat ini.

“Tidak, terima kasih. Sampaikan salamku saja padanya.” Tolak Kyuhyun lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok tubuh Yuri.

 

Lagi, tubuh Yuri kembali ditarik dan didorong oleh sesuatu. Ia kembali mendapati dirinya berhenti dan berdiri disalah satu memorinya lagi.

Yuri kembali melihat dirinya lagi sedang berada dikamarnya. Ia sedang melihat-lihat hasil sketsa gambar miliknya dengan senyum yang tak pernah luput dari wajahnya. Gerakan tangannya terhenti pada salah satu sketsa wajah seseorang.

“Ch-o Kyu-hyun?” ejanya pelan dan hati-hati. Detik berikutnya semua kenangan-kenangan yang telah hilang itu kembali datang dan muncul dalam kepalanya. Semuanya terputar seperti inti film pendek dari cerita itu. Tanpa rasa sakit, tanpa rasa takut, dan tanpa rasa pilu dihatinya sekalipun, kenangan-kenangan itu terus menghujaminya dengan baik dan tanpa ampun. “Op-pa…” panggil Yuri lagi dengan lirih, senang juga sedih. Bahkan ia ingat kecelakan itu, kecelakan yang menyebabkan ia lupa ingatan selama setahun lebih terakhir ini.

Ia segera mengambil ponsel miliknya dan mencoba mengaktifkan kembali. Tubuhnya bergetar hebat untuk menahan semua rasa dihatinya. Sungguh, ia benar-benar tak sabar lagi untuk menemui seseorang itu. Ia segara menyambar tas miliknya dan keluar dari kamarnya. Ponselnya kembali aktif setelah ia harus menunggu beberapa detik untuk siap dipakai. Ia segera menyentuh angka-angka diluar kepalanya dan menghubungi seseorang.

“Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada diluar service area. Silahkan…” Yuri mengumpat kesal pada ponsel milik Kyuhyun. Apakah ponselnya itu tidak bisa bersahabat dengannya walau hanya saat ini saja, huh?

Baru saja Yuri ingin menuruni anak tangga rumahnya tetapi keseimbangannya mulai goyah dan rasa sakit itu kembali menderanya. Yuri tergelincir dari anak tangga dan jatuh begitu saja. Perlahan-lahan, kesadarannya mulai menghilang digantikan kegelapan.

“Jadi, karena itu aku dirumah sakit saat ini?” gumam Yuri saat ini sembari menatap dirinya sendiri terkapar lemah dan tidak berdaya.

Tubuh Yuri kembali ditarik dan disedot oleh sesuatu. Yuri kembali berhenti dan berdiri disebuah ruang gelap dan tidak terawat. Suara langkah kaki dapat ia dengar ditelinganya hingga langkah kaki itu semakin dekat dan menampakkan pemilik sang kaki tersebut. Yuri membelalakkan matanya saat mendapati tubuh juga penampilannya tidak terawat.

 

“Ikut aku sekarang, seperti janjimu!” titahnya sedikit kasar sembari menatap Yuri tajam.

“Siapa kau ini?” tanya Yuri takut dan tidak suka pada sosok gadis itu.

“Aku adalah kau! Tidak bisakah kau melihatnya? Hahaha…” jawab sosok menyeramkan itu.

“Tidak, tidak mungkin!” bantah Yuri tegas.

“Apa maksudmu? Kau yang membuatku seperti ini! Kau juga sudah berjanji untuk menemaniku kemarin, ingat?” paksanya sembari mengingatkan.

“Tetapi kau tidak seperti ini!” berontak Yuri saat sosok menyeramkan itu memaksa dan menarik tangannya.

“Aku tidak peduli! Kau sudah berjanji akan menemaniku disini!” tegasnya tak mau kalah.

“Tidak! Aku tidak mau! Aku masih tetap ingin hidup! Lepaskan aku!” berontak Yuri lagi, tetapi tenaganya tak sebanding dengan sosok buruk rupa dan menyeramkan itu.

“Perjanjian adalah perjanjian! Kau tidak boleh hidup! Tidakkah kau tersiksa karena laki-laki itu, ingat!” ucap sosok itu mencoba mengingatkan dan meyakinkan. “Jika kau pergi denganku, kau akan lebih bahagia pastinya!” rayunya.

Yuri berhenti memberontak. Memang benar apa yang dikatakan sosok itu, ia memang cukup lelah untuk menghadapi Kyuhyun. “Aku benarkan?” tanya sosok itu dengan sebuah senyum puas diwajahnya. “Ikutlah denganku, dan kau akan bahagia selamanya.” Lanjutnya.

 

Sementara Yuri berperang melawan batas hidup dan mati, Kyuhyun harus menghadapi kenyataan lain. Suara derap langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat ditelinganya. Kyuhyun bangun dari duduknya saat mendapati keluarga Yuri tengah datang dan menatap dirinya dengan tatapan tidak mengerti.

“Selamat malam eomonim-abonim, saya Kyuhyun kekasih Yuri.” Sapanya sembari memperkenalkan diri.

“Apa?” tanya ibu Yuri tidak terima, ia melangkah maju begitu saja ke hadapan Kyuhyun.

PLAAKK!

“Jangan pernah kau ganggu putri kami lagi! Gara-gara kau, putriku harus terbaring lemah disini! Dimana rasa tanggung jawabmu sebagai seorang pria, huh? Apa kau puas membuat putriku menderita, huh! Apa saja yang kau lakukan selama ini? Mengabaikan dan melupakan putriku seenaknnya, lalu kembali padanya sesukamu, huh! Kau ini pria macam apa? Apa kau tidak punya harga diri sama sekali? Apa putri kami itu sebuah boneka, huh! Jawab aku!” amarah nyonya Kwon membludak begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi. Ayah Yuri segera mendekati dan menenangkan istrinya itu.

“Sudahlah, mereka sudah cukup besar untuk menyelesaikan masalahnya.” Bujuk tuan Kwon.

Kyuhyun hanya diam dan menundukkan wajahnya tanpa ada keberanian untuk menatap mereka semua. Ia sangat merasa bersalah pada mereka semua.

“Aku rasa pertunjukkan kali ini akan lebih seru.” Gumam Jun sembari menatap Kyuhyun dan Yuri yang terbaring lemah secara bergantian.

“Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu berada didekat putriku lagi.” Pinta nyonya Kwon dingin.

“Aku tidak akan pergi, maafkan aku.” Tolak Kyuhyun pelan dan tegas sembari menatap Ibu Yuri.

“A-apa?” tanya Ibu Yuri tak percaya.

“Saat ini aku tidak ingin pergi dari sisinya, Yuri membutuhkan aku untuk berada disisinya.” Tegas Kyuhyun.

“Tidak cukupkah kau melihat Yuri menderita selama ini, huh?” tanya Ibu Yuri sembari menaikkan satu oktaf suaranya.

“Aku tidak tahu jika Yuri amnesia dan menderita karenaku, maaf.” Sesal Kyuhyun.

“Oh, tentu saja kau tidak tahu! Yang kau ketahui itu hanya dirimu sendiri dan duniamu!” seru ibu Yuri sembari menyindir Kyuhyun.

“Aku tahu, aku salah dan tidak pantas kalian maafkan. Tetapi, aku sangat mencintai Yuri, putri kalian. Dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, aku mohon pada kalian…” potong Kyuhyun, ia lalu menekukkan lututnya hingga mencium lantai. “Biarkan aku menjaga dan melindungi Yuri.” Pintanya dengan sangat memohon sembari menatap kedua orang tua Yuri maupun kakaknya.

Ibu Yuri hanya tertawa pelan merendahkan tetapi juga tidak percaya sedangkan ayah Yuri menghela napas panjang. Jun berjalan mendekati mereka bertiga sembari mengendikkan kedua bahunya. “Well, aku tidak terlalu ingin mempermasalahkannya.” Sahut Jun sembari mengulurkan tangannya pada Kyuhyun dan membantunya berdiri.

“Kalian sudah besar dan dewasa, kalian lebih tau bagaima cara menyelesaikannya ketimbang orang lain.” Tutur ayah Yuri bijak.

Ibu Yuri menghela napas kasar sembari menatap suami dan anak laki-lakinya dengan tidak percaya. Kyuhyun menangkap Ibu Yuri dengan penuh harap. “Jawabanku akan tetap sama.” Ucapnya singkat sembari mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Kyuhyun menghela napas dalam.

 

Yuri masih tak bergeming dari tempatnya. Ia mencoba kembali berpikir dan berpikir. Yuri menghela napas panjang dan dalam dengan tenang. “Maaf,” sesalnya masih dengan kedua mata tertutup. Sosok itu menatap tajam kearah Yuri. Yuri kembali membuka kedua matanya menatap sosok itu. “Tetapi, aku sangat-sangat mencintai Kyuhyun. Sekalipun ia akan tetap sama memperlakukanku dengan buruk, aku tetap akan mencintainya. Sekalipun ia sudah tidak mencintaiku lagi, aku akan tetap mencintainya. Dan sekalipun ingatanku akan menghapus semua hal tentangnya, juga airmataku takkan pernah berhenti karenanya, aku tetap mencintainya. Karena hatiku selalu tau kebenarannya.” Jawab Yuri dengan tenang dan yakin. Seulas senyuman tersungging diwajahnya.

Sosok itu terdiam, perlahan-lahan ia melepaskan genggamannya pada Yuri. Yuri menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Kemudian sosok itu perlahan-lahan berubah menjadi wanita cantik dan bernampilan rapih, tempat inipun berubah menjadi lebih bersih dan wangi. “Dulu aku memiliki seseorang yang sangat aku cintai hingga ingin mati rasanya, tetapi suatu ketika aku merasa putus asa dan menyerah akan dirinya. Aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi untuk menghadapi maupun meyakinkannya jika aku mencintainya.

Ia terlalu sibuk dan tidak punya waktu untukku, well, hampir sama dengan kisahmu. Maka dari itu aku memilih untuk mengakhiri hubungan kami dan mencari laki-laki lain. Tetapi… itu tidak semulus yang aku rencanakan. Laki-laki itu terus datang dan menghampiriku bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku hampir gila karenanya.

Suatu malam, aku mendapati panggilan darinya. Awalnya aku enggan untuk mengangkatnya tetapi ia tetap menghubungiku berkali-kali hinggap aku menyerah dan mengangkat teleponnya itu. Ia bilang, ia ingin mengatakan sesuatu padaku dan ia memintaku untuk datang menemuinya.

Tetapi, sebuah malapetaka datang. Aku tertabrak mobil saat menyebrangi jalan dan aku tidak melihatnya sekalipun lampu saat itu tengah hijau untuk pejalan kaki. Sampai saat inipun, aku tidak tahu ia akan mengatakan apa. Mungkin sebuah ucapan perpisahan?” tutur gadis itu panjang lebar dengan sedih.

“Aku mencintaimu?” Tebak Yuri, membuat gadis itu menoleh kearahnya. Kedua pipinya terlihat merona saat mendengar kalimat itu.

“Kau benar, ia mungkin ingin mengatakan ia mencintaiku tetapi tidak tau bagaimana cara mengatakannya dan bersikap.” Sahut gadis itu. “Dan aku baru mengetahui semua hal tentangnya, sama sepertimu tadi. Melihat masa lalu dan masa kini, tetapi tidak bisa melihat masa depan karena kau yang akan membuatnya sendiri.” Lanjutnya.

“Memangnya apa yang dilakukan laki-laki itu?” tanya Yuri penasaran.

Gadis itu kembali menatap Yuri dengan senyum manis diwajahnya. “Ia mencintaiku, sangat-sangat mencintaiku. Setiap saatnya ia selalu memikirkanku ditengah-tengah kesibukannya, hanya saja ia mencoba menahan dirinya untuk tidak selalu menggangguku. Ia bahkan selalu bersikap dingin dan acuh padaku karena menahan perasaannya padaku.” Gadis itu tertawa pelan saat mengingat sesuatu hal yang membuatnya lucu. Yuri menaikkan salah satu alisnya dan menantikan kelanjutan cerita gadis itu. “Dia selalu menahan dirinya untuk tidak berbuat macam-macam dan mengecewakanku. Sekalipun bersama dengan gadis lainnya, ia tetap memikirkanku dan menempatkanku dalam prioritasnya.” Gadis itu lalu duduk dikursi dekat mereka, entah sejak kapan Yuri baru menyadarinya disitu ada kursi. Gadis itu lalu menunjuk kearah sesuatu, Yuri mengikuti arah jari telunjuk gadis itu. “Lihatlah, tidakkah ia manis?” godanya pada Yuri.

“Kyuhyun?” panggil Yuri pelan saat ia menyadari bahwa saat ini sedang berada dalam salah satu memori seseorang.

“Aku meminjam beberapa memori kekasihmu dan menghubungkannya denganmu.” Jelas gadis itu santai dan tenang. Terlihat ia begitu bahagia. Yuri kembali memperhatikan Kyuhyun dengan seksama.

Ini benar-benar sedikit tak masuk akal, gumam Yuri tidak percaya.

Terlihat Kyuhyun sedang menulis laporan kesehatan pasien tetapi salah satu tangannya menggenggam ponselnya sembari memainkannya. Kyuhyun bergumam pelan sembari membacakan setiap kalimat dalam laporan itu. Ponselnya menyala dan ia segera menolehkan wajahnya untuk menatap layar. Sebuah foto seorang gadis tengah tertawa terlihat sebagai wallpaper diponsel itu.

“Dimana gadis itu? Kenapa tak kunjung mengabariku?” gumamnya pelan sembari menatap pesan dari seseorang, membaca sekilas dan mengabaikannya tanpa ada niatan untuk membalas.

“Sekalipun ia tidak selalu mengabari dan mengirimu pesan, tetapi ia mengkhawatirkan juga memikirkanmu setiap saatnya.” jelas gadis itu sembari menatap Kyuhyun dengan senyum diwajahnya.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Yuri, ia bahkan tidak mengetahuinya.

Kenangan kembali silih berganti ke kenangan lain. Saat ini menampilkan kenangan dirinya dengan Kyuhyun tengah bersama. Yuri mengernyitkan keningnya mengingat kembali saat Kyuhyun memeluknya erat sebelum ia pergi ke daerah distrik. “Jika ia tidak benar-benar menyayangi dan mencintaimu, ia tidak akan memelukmu seperti itu.” Jelas gadis itu sembari menunjuk sesuatu dengan jari telunjuknya.

Yuri mengikuti arah yang dimaksud gadis itu. Benar, Kyuhyun mendekapnya dengan erat hingga sesak rasanya jika ia kembali mengingat hal itu. “Dalam hidupmu, kau pasti sudah banyak menemukan berbagai tipe laki-laki tetapi tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar mampu mencuri perhatian dan hatimu.” Ucapnya tenang, Yuri kembali berpikir dan mengingat-ingat masa lalunya.

“Kau benar. Dalam hidup, hanya akan ada satu orang yang menjadi cintamu. Sedangkan yang lain hanya kau sayangi, tidak untuk dimiliki dalam hidup tetapi dimiliki dalam hati.” Sahut Yuri sembari berpikir dan kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.

“Sepertinya kau mulai mengerti sekarang. Well, aku harap kau dan kekasihmu itu selalu bersama selamanya sampai maut memisahkan kalian.” Balasnya. Gadis itu lalu berdiri dari duduknya dan menatap Yuri dengan lembut. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan menantikan Yuri menerima ulurannya. “Aku Jessica Jung. Senang berkenalan denganmu.” Ucapnya ramah.

Yuri menjabat tangan Jessica dengan senang hati. “Aku Kwon Yuri, senang berkenalan denganmu juga.” Balasnya.

“Sudah waktunya kau pulang. Kau pasti merindukan mereka semua.” Balasnya sembari mengakhiri jabatan tangan mereka. Yuri hanya menurut dan mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Jessica seorang diri.

“Oppa, jika nanti aku akan terbangun dari tidur panjangku dan kembali menghapus semua kenangan kita, akankah kau tetap berada disisiku? Bahkan jika aku sudah tidak mengenalimu lagi sebagai seseorang yang berarti dalam hidupku, akankah kau tetap mencintaiku sepenuh hati? Sekalipun aku mencintaimu, sekalipun aku menghapusmu dari hatiku, dan sekalipun aku kembali menangisi kebodohanku, akankah kau tetap berada disisiku sampai kapanpun? Oppa… jawab aku, jangan hanya berdiam diri seperti itu saja.” Jiwa Yuri kembali melayang dan memasuki raganya yang tengah tertidur. Sebelum ia memejamkan kedua matanya, ia menatap seorang laki-laki yang saat ini tengah tertidur disisi ranjangnya. Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama. Bisiknya dalam hati dan ia pun tertidur.

 

***

 

Suasana pagi menjelang siang itu kembali riuh dan  jadwal seseorang selalu padat. Ia menghampiri seorang perawat yang saat ini tengah berada dimeja resepsionis. “Henry-ssi, tolong kau cek kembali data pasien. Sepertinya dokter Choi kemarin salah memaksukan datanya.” Pintanya pada seorang perawat laki-laki.

“Ah, baiklah sajangnim.” Sahutnya sembari menerima data laporan kesehatan pasien.

Kedua matanya menangkap seorang gadis tengah berjalan berlawanan arah dengannya, dengan segera ia menghampiri perawat itu. “Bagaimana kondisi pasien nomor empat ratus dua, perawat Im?” tanya Kyuhyun saat ia telah berada disamping gadis itu.

“Oh, dokter Cho. Sejauh ini masih belum ada perkembangannya, ia masih dalam keadaan koma.” Jawab perawat Im YoonA, yang bertanggung jawab untuk memantau keadaan Yuri selama ia berada dirumah sakit.

Kyuhyun menghela napas panjang. Ia ingin sekali menjenguk atau sekadar melihat keadaan Yuri jika saja Ibu gadis itu mengijinkannya untuk masuk. YoonA menepuk-tepuk bahu Kyuhyun pelan seolah memberi kekuatan padanya. “Tenanglah, dokter Cho! Aku akan segera memberimu kabar tentangnya saat ia sudah siuman.” Hiburnya.

Kyuhyun memaksakan sebuah senyuman diwajahnya lalu menatap YoonA sembari mengangguk pelan. “Hm, terima kasih.” YoonA hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Sudah hampir tiga minggu Yuri dalam keadaan koma, dan itu membuat Kyuhyun semakin tersiksa melihatnya. Ia seorang dokter! Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu, berharap, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk segera mengembalikan Yuri dalam dekapannya lagi. Sesungguhnya itu membuat Kyuhyun hampir frustasi.

 

***

 

Suara mensin denyut jantung terdengar diruang itu. Seorang wanita paruh baya menatap putrinya dengan sendu. Ia tidak mengerti mengapa nasib putrinya begitu tragis seperti saat ini hanya karena pria itu. Putrinya kehilangan ingatan karena pria itu. Putrinya menderita juga karena pria itu. Putrinya saat ini terbaring lemah dan komapun juga karena pria itu.

Ibu Yuri tidak habis pikir bagaimana bisa Yuri tetap bertahan dan sampai seperti ini? Jika Yuri tak kunjung sadar nanti, ia tidak akan pernah memaafkan Kyuhyun seumur hidupnya. Pukul 10.15 KST. Ibu Yuri menghela napas dalam, sedari kemarin ia tidak bisa tidur dengan baik melihat putrinya menderita dan tersiksa seperti itu. “Ibu akan memaafkan Kyuhyun dan merestui hubungan kalian, jika kau saat ini bangun dari tidurmu.” Putusnya pada akhirnya.

Salah sattu tangan Yuri bergerak, mencuri penuh perhatian Ibu Yuri. Bibirnya sedikit terbuka sembari menatap putrinya tidak percaya. Perlahan-lahan kedua tangan Yuri bergerak diiringi kerjapan mata Yuri. Ibu Yuri hampir saja tidak percaya pada penglihatannya, dengan sigap ia menekan tombol darurat untuk memanggil dokter atau bantuan lainnya.

“Nomor empat ratus dua meminta bantuan!” seru salah seorang perawat yang saat itu tengah bertugas dimejanya. Beberapa diantaranya menoleh dan segera berlari memanggil dokter yang menangani pasien tersebut dan segera menuju tempat yang dimaksud. Salah seorang dokter yang saat itu masih berada ditempat itu hanya terdiam. Ia takut, sangat takut. Ia tidak berharap banyak, hanya satu yang terbaik. Itu saja. Hanya itu.

Yuri perlahan-lahan membuka kedua matanya, mengerjap-kerjapkannya selama beberapa saat untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, dan sedikit mendesah pelan. Tenggorokannya terasa sangat kering. “Yuri!” panggil Ibunya dengan senang sekali saat mendapati putri telah terbangun dari komanya. Yuri menoleh dan mendapati Ibunya tengah berdiri dan menunggunya.

“Eomma?” panggilnya pelan. Yuri berusaha bangun dari tidurannya dan duduk yang dibantu oleh Ibunya. “Kenapa eomma bisa ada disini? Bukankah eomma seharusnya ada di Roma menemani appa?” tanyanya heran.

“Kau ini. Bagaimana bisa eomma meninggalkanmu sendirian disini?” omel Ibunya lembut sembari duduk dikursi samping ranjang Yuri. Ia memberikan putrinya minum yang telah ia siapkan. Yuri meminumnya hingga habis dalam sekejap.

“Aku sudah besar eomma, jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucap Yuri menenangkan sembari menyunggingkan senyuman diwajahnya. Baru saja Ibu Yuri ingin memprotes ucapan putrinya itu tetapi beberapa perawat dan dua orang dokter telah datang.

Jantung mereka saling berhenti selama beberapa saat, napas mereka sama-sama tercekat, dan segejolak rasa rindu menyeruak begitu saja dalam diri mereka. Tetapi keduanya hanya saling terdiam, menatap satu sama lain penuh arti.

Seorang dokter ditemani beberapa perawat segera mengecek keadaan Yuri. Sedangkan kedua mata mereka berdua masih saling bertemu dan tidak ada percakapan, hanya bahasa isyarat saja yang dapat mereka lakukan saat ini. Ibu Yuri hanya menatap cemas kearah keduanya, ia masih berharap bahwa mereka tidak saling bertemu bahkan berharap putrinya lupa akan pria itu.

“Kondisinya baik-baik saja saat ini. Tetapi kami akan kembali memeriksanya secara detail nanti. Untuk sementara pasien ini hanya butuh istirahat lebih.” Jelas dokter itu ketika ia telah memeriksa kondisi Yuri. Lalu keduanya terlibat percakapan diluar kamar Yuri, dan para perawat meninggalkan Yuri dan Kyuhyun hanya berdua.

Kyuhyun melangkahkan kakinya untuk mendekati Yuri dan berhenti disisi ranjang gadis itu. Ia menatap lekat-lekat gadisnya itu. Tubuhnya sedikit bergetar ketakutan untuk mengetahui sesuatu hal yang mungkin akan membuatnya kembali terhempas begitu saja. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya.

Yuri menatap seeseorang dihadapannya dengan wajah polosnya. “Hm, jauh lebih baik.” Jawabnya sembari menatap Kyuhyun dengan heran. Kyuhyun menghela napas panjang dan lega.

“Syukurlah… kau baik-baik saja saat ini.” Balasnya sembari menyunggingkan senyuman diwajahnya.

“Ahh, terima kasih.” Sahut Yuri dengan canggung. Keduanya kembali terdiam. Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali selama beberapa saat. Hanya ada saling tatap-menatap satu sama lain.

“Hm,” deham Kyuhyun pelan sebelum memulai pembicaraan untuk mengurangi kecanggungan. Yuri kembali menatapnya dengan heran. “A-pa kau… mengenaliku?” tanya Kyuhyun pelan pada akhirnya. Ada sekelebat perasaan takut dan sakit dalam hatinya, namun ia tahan.

Hening beberapa saat, Yuri belum juga menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Ye? Nuguseyo?” tanya Yuri polos, membuat Kyuhyun merasa dihempaskan ke dasar bumi dengan paksa.

Kyuhyun terdiam. Keduanya saling kembali terdiam. Hanya saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan suara. Hati Kyuhyun kembali merasa sakit dan pilu karena gadisnya itu kembali melupakannya. Sedangkan Yuri menantikan setiap kata yang mungkin akan keluar dari bibir Kyuhyun.

 

***

 

“Eomma?” panggil Yuri saat ia menatap layar telivisi dengan tatapan kosong. Saat ini ia tengah duduk bersandar dibantalnya. Ibunya menoleh dan menatap putrinya tanpa menyahut sama sekali. “Dokter yang tadi itu… siapa?” lanjutnya.

Ibunya diam, ia tidak percaya putrinya kembali melupakan pria itu. Dengan senyum senang diwajahnya, dijawabnya “bukan siapa-siapa, itu tidak penting sayang.” Ibu Yuri lalu mengelus-elus kepala anaknya dengan lembut.

“Eomma, kau berbohong padaku.” protes Yuri lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Ibunya itu. Ibu Yuri sedikit terkejut saat mendengar ucapan Yuri barusan. “Kau pasti tau. Eomma pasti mengenalnya.” Tuntut Yuri terdengar sedikit memaksa.

“Untuk apa kau mengetahuinya?” tanya Ibunya itu sembari menghela napas panjang.

Yuri kembali menolehkan wajahnya ke arah telivisi dan menatap kosong pada salah satu iklan. “Aku juga tidak tahu.” Jawab Yuri pasrah. Hening, Yuri kembali terdiam selama beberapa detik. “Tapi, hanya saja aku… merasa sangat mengenalinya.” Lanjutnya.

Ibu Yuri kembali menghela napas panjang, sepertinya ia harus menepati janjinya sendiri. “Ia yang membuatmu jadi seperti ini.” Jawab Ibu Yuri, berhasil membuat Yuri menolehkan wajahnya dan menatapnya tidak percaya. Bibirnya sedikit terbuka karena kaget. “Ia yang membuatmu amnesia dan koma kemarin.” Lanjutnya, sedangkan Yuri masih tidak memercayai alat indranya itu. “Ia yang membuatmu merasa menderita setiap saatnya. Ia yang selalu membuatmu bersedih karena keegoisannya. Ia yang selalu mengabaikanmu setiap saatnya. Dan ia yang selalu… kau cintai.” Tambahnya dan memberi jeda juga memelankan nada suaranya diakhir kalimatnya itu.

Rahang Yuri terasa mengeras dan napasnya tercekat saat mendengar semua penjelasan Ibunya itu. Benarkah seperti itu? Apa itu cinta? Batinnya dalam hati. Ia lalu mencoba turun dari ranjangnya tetapi Ibunya itu berusaha mencegahnya. “Yuri kau mau kemana?” tanyanya. “Ini sudah sangat malam.”

“Aku ingin jalan-jalan sebentar, eomma. Jangan khawatir, aku tidak akan pergi kemanapun.” Ucap Yuri meyakinkan sembari terus berjalan dan mendorong alat infusannya. “Eomma disini saja, aku hanya ingin sendiri.” Pinta Yuri dengan tegas saat melihat Ibunya akan mengikutinya. Ibunya hanya menurut walau ingin sekali rasanya melawan dan menemani putrinya itu, tapi ia paham putrinya butuh waktu sendiri.

 

***

 

“Aku ingin tahu, dimana ruang pribadi dokter Cho?” tanya Yuri begitu ia telah berada dimeja resepsionis.

“Apa anda sudah ada janji dengannya?” tanya perawat itu sembari mengutak-atik komputernya.

“Belum, tetapi saya ada perlu dengannya sekarang.” Jawab Yuri sembari memainkan kuku-kukunya. Ia merasa cemas dan takut saat ini.

“Maaf nona, tetapi dokter Cho sudah off sekarang. Anda bisa menemuinya besok hari.” Balasnya ramah.

“Apa ia sudah pulang?” tanya Yuri kecewa.

“Saya kurang tau, tetapi sepertinya sudah.” Jawab perawat itu masih dengan ramah diiringi senyum manis diwajahnya.

“Boleh aku tau dimana ruangannya?” tanya Yuri lagi dengan lemas.

“Maaf nona, kami tidak bisa.” Sahut perawat itu ramah.

“Aku kekasihnya.” Balas Yuri asal, setidaknya ia membutuhkan informasi saat ini.

Perawat itu sedikit terkejut dan diam selama beberapa saat mendengar pengakuan Yuri barusan. “Di lantai tujuh, sayap kanan, belok kiri. Disitu nanti anda akan menemukan ruangan nama dokter Cho.” Jelas perawat itu sembari menunjukkan jalan dengan kedua tangannya.

“Terima kasih.” Sahutnya, Yuri berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju ruangan Kyuhyun. Ia menaiki lift yang saat itu terbuka dan kosong lalu menekan angka 7. Yuri menanti dengan sabar untuk sampai dilantai yang ia tuju. Pintu lift terbuka dan ia segera berjalan keluar begitu saja. Ia lalu menghentikan langkahnya saat ia telah berada tepat didepan pintu ruang kerja Kyuhyun.

Ia mencoba membuka ruang pribadi Kyuhyun tetapi percuma, ruangan itu dilengkapi sistem operasi keamanan yang ketat. Yuri mencoba memikirkan password apa yang mungkin digunakan Kyuhyun. Ia lalu mencobanya, tetapi hasilnya nihil. Ia kembali mencobanya lagi, lagi, dan lagi tetapi hasilnya tetap nihil. “Aishh! Sebenarnya laki-laki itu memasukkan password apa?” maki Yuri kesal sembari terus mencobanya.

Suara nada password benar dan pintu terbukapun terdengar ditelinganya. Yuri yang masih terkejut dengan tebakannya itu hanya berdiam diri menatap ruangan Kyuhyun. “Heol! Aku memang hebat.” Pujinya pada diri sendiri setelah sadar lalu memasuki ruangan Kyuhyun. Ia menekan pelan saklar lampu didekatnya dan lampu-pun menyala. Ruangan itu cukup rapih dan bersih membuat Yuri terkagum-kagum saat melihatnya. “Well, aku merasa kalah.”gumam Yuri sembari terus memasuki ruangan Kyuhyun.

Ruangan itu memang tidak terlalu besar karena hanya sebuah tempat untuk Kyuhyun lembur bekerja saat ia tidak pulang ke rumah. Yuri menatap barang-barang diruangan itu satu per satu, tidak ada yang ia kenali kecuali… Matanya tertuju pada salah satu benda dengan berbinar-binar. “Akhirnyaa! Aku bisa menonton drama jugaa!” serunya ceria sembari berjalan menghampiri komputer milik Kyuhyun. Yuri menyalakan komputer itu dan menantikannya hingga siap digunakan dengan senyum cerah diwajahnya.

Sebuah pemandangan yang tak terduga dihadapannya, membuat jantung Yuri berhenti berdetak selama beberapa detik. Sungguh ia tidak mempercayai ini. Sebuah foto yang dijadikan wallpaper di PC Kyuhyun dimana dirinya dan ia tengah berlibur juga berkencan di Disney Land. Difoto itu, Kyuhyun tengah memeluk Yuri dari belakang sembari tersenyum senang sedangkan Yuri merentangkan kedua tangannya kesamping. “Kyu-hyun?” panggil Yuri pelan dan tidak percaya.

Ia lalu menatap dan memperhatikan sekelilingnya. Jika diperhatikan baik-baik, Yuri sangat mengenali semua benda diruangan ini. Ada bantal sofa berbentuk kepala Mickey yang sempat mereka beli saat di Disney dulu, tirai berwarna biru muda yang disukai Yuri saat ia melihatnya kali pertama dulu, kotak kado yang diberikan Yuri untuk Kyuhyun saat hari ulang tahun laki-laki itu, stiker-stiker lucu yang tertempel didinding berbentuk tokoh kartun larva, dan tumpukan-tumpukan novel yang Yuri pinjami pada Kyuhyun. Bahkan hampir seluruh benda-benda diruangan ini ia kenali.

Yuri menatap semua ini dengan tidak percaya. Bagaimana bisa Kyuhyun selalu menyimpan semua kenangan mereka dengan baik tetapi dirinya menghapus dan melupakan semuanya? Hati Yuri merasa sakit dan pilu melihat saat mendapati kenyataan ini. Kedua airmatanya sudah turun begitu saja tanpa Yuri pinta, dan suara isakan kecilpun keluar begitu saja dari bibirnya tanpa Yuri sadari. Ia menangis.

“Yuri?” panggil seseorang dengan terkejut saat melihat seseorang tengah duduk dikursi kerjanya. Kyuhyun berlari cepat menghampiri Yuri dan langsung menekukkan lututnya dihadapan gadis itu. “Ada apa denganmu?” tanyanya khawatir. “Apa kau baik-baik saja? Dimana yang sakit?”

Yuri masih menangis dan menatap Kyuhyun dengan pandangan kabur akibat airmata yang tertahan dikedua pelupuk mata. Ia merasa sedih saat ini. “Kau… kau menyimpan semua benda-benda ini?” tanyanya dengan susah payah disela tangisnya.

Kyuhyun menatapnya lembut, menyunggingkan sebuah senyuman diwajahnya, dan menghapus kedua airmata Yuri dengan ibu jarinya. Kyuhyun merasa lega sekaligus senang, gadisnya itu mengenali setiap benda diruangannya. “Hm, aku menyimpannya.” Jawabnya lembut.

“Bagaimana… bagaimana bisa kau menyimpannya… sedangkan aku… melupakan semuanya? Hiks.. hikss..”

Kyuhyun kembali tersenyum. “Tidak apa-apa jika kau melupakannya, sayang. Karena aku tetap akan mengingat dan menjaganya.” Jawabnya tenang, membuat hati Yuri merasa luluh saat mendengarnya.

Napp-eun… nam-ja… hikss…” maki Yuri sebal disela isak tangisnya. Ia memukul-mukul bahu Kyuhyun sedikit keras.

Kyuhyun hanya tersenyum ringan melihat tingkah laku gadisnya itu. Ia lalu memeluk erat tubuh Yuri. “Aku merindukanmu.” Bisik Kyuhyun dengan tulus. Ia semakin mempererat dekapannya itu saat perasaan rindu kembali menyeruak dari hatinya. Yuri hanya bisa menangis dalam pelukan Kyuhyun tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.

“Maaf, maafkan aku…” sesal Yuri penuh penyesalan disela tangisnya.

 

***

 

Yuri telah menjalani berbagai perawatan untuk mengembalikan ingatannya itu selama beberapa hari. Hubungan Yuri dan Kyuhyun juga semakin baik setiap saatnya. Perlahan-lahan, ingatannya kembali ia ingat walau belum sepenuhnya.

“Ohh, ya ampun! Berapa lama lagi aku harus berada disini?” gerutu Yuri kesal diranjangnya dengan frustasi. “Tidakkah kedua dokter itu membiarkanku pergi begitu saja?” kesalnya sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

Pukul 20.00 KST. Yuri diam, berpikir sejenak dan sebuah ide terlintas dalam benaknya. Ia tertawa senang saat membayangkan ide gilanya itu akan berhasil nantinya. Ia turun dari ranjangnya dan melepas alat infus ditangannya dengan pelan. “Akh…” rintih Yuri pelan saat kepalanya kembali pening tetapi itu tidak membuatnya menyerah. Yuri berjalan menuju pintu kamarnya dan memastikan keadaan baik-baik saja sebelum ia keluar.

Koridor saat itu kebetulan tengah sepi dan suasana mendukung aksinya itu agar berjalan. Yuri keluar dari kamarnya dengan santai dan pergi menuju lift untuk ke lantai dasar. Yuri keluar dari lift saat ia telah tiba dilantai satu dan berjalan sedikit mengendap-endap karena koridor cukup ramai.

Bagaimanapun juga ia ingin kabur dari rumah sakit ini. Yuri bersembunyi didekat pohon besar berpot ukuran sedang yang mampu membantunya menyamar. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang begitu saja dan menatap pintu keluar dengan mata berbinar. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya tetapi sebuah suara menghentikannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya orang itu dibalik punggung Yuri. Yuri memejamkan kedua matanya dengan pasrah sebelum ia membalikkan tubuhnya.

“Op-pa?” panggil Yuri polos saat ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Kyuhyun tengah menatapnya dengan kening mengernyit.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” ulangnya lagi.

“A-ku… aku ingin pergi ke… ke…  ke toilet?” jawab Yuri bingung sembari mencari-cari alasan. Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya.

“Kenapa kau tidak menggunakan toiletmu sendiri saja?” tanya Kyuhyun lagi.

Sial! Aku lupa. “Tadi airnya tidak menyala jadi… jadi aku kemari saja sekalian jalan-jalan. Hehe…” kekeh Yuri sembari memaksa menyunggingkan senyum.

“Kenapa tidak ke ruanganku saja?” tanya Kyuhyun lagi.

Yuri memejamkan kedua matanya erat-erat. Aish, laki-laki ini. “Aku ingin jalan-jalan sebentar. Sudah ya, aku ingin ke toilet dulu!” pamit Yuri buru-buru sebelum Kyuhyun kembali menanyakan hal aneh-aneh lagi. Yuri sedikit berlari pelan dan pergi menuju dimana arah toilet berada.

“Yuri! Toiletnya disana!” seru Kyuhyun hampir setengah berteriak karena gadis itu sudah sedikit menjauh.

Akh, sial! Dengan segera Yuri memutar balikkan arah dan pergi menuju toilet.

“Ada apa dengannya? Aneh sekali.” Gumam Kyuhyun melihat sikap Yuri lalu melanjutkan langkahnya dengan pikiran tak tenang melihat gadis itu berjalan tanpa ada sesuatu alat di dekatnya.

Yuri kembali mengendap-endap setelah ia merasa aman saat Kyuhyun sudah tidak berada disekitarnya lagi dan segera berjalan menuju pintu keluar untuk kabur. Ia berjalan setenang mungkin tanpa menarik perhatian siapapun. Dan berhasil! Ia berhasil keluar dari rumah sakit itu. Senyum senang mengembang begitu saja diwajahnya dan langkah kakinya kembali terasa ringan.

“Nona, tunggu dulu!” seru seseorang yang mencoba menghentikan Yuri dan berlari kearahnya. Alhasil, Yuri ikut berlari karena tidak ingin ditangkap oleh petugas keamanan itu.

“Aaaaa! Berhenti mengejarku!” pinta Yuri sembari terus berlari.

“Nona! Anda tidak boleh kabur! Berhentilah disana!” titah petugas itu sembari meniupkan pluitnya.

“Aku ingin pulaangg!” balas Yuri lalu menambah kecepatannya.

“Nona, hei! Nona!” panggil penjaga itu tetapi Yuri mengabaikannya.

“Kwon Yuri!” panggil seseorang yang sangat familiar ditelinganya. Yuri sedikit memelankan laju kakinya. “Berhenti!” titah pemilik suara itu dengan tegas diikuti suara derap langkah kaki mendekat. “Aku bilang, berhenti!” tegasnya lagi karena Yuri tidak kunjung mematuhinya. Yuri memelankan langkahnya hingga ia berhenti berlari tetapi tidak membalikkan tubuhnya. Ia tidak cukup berani melakukannya. Sebuah benda mencengkram lengannya dengan erat dan membalikkan tubuh Yuri dalam hitungan detik. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Kyuhyun menatap Yuri dengan lekat dan dingin, sedangkan Yuri menatap Kyuhyun dengan penuh penyesalan juga kesal. “Apa yang ingin kau lakukan barusan?” tanya Kyuhyun dingin. “Kau ingin membohongiku, huh?” lanjutnya, masih dengan nada dingin.

A-anio…” sangkal Yuri dengan gelagapan.

“Lalu?” tuntut Kyuhyun.

“A…” baru saja Yuri ingin membalasnya, tetapi ia tidak bisa. Ia tidak pandai untuk berbohong.

“Ayo, lebih baik kau masuk ke dalam. Udara diluar sangat dingin.” Ajaknya dengan lembut sembari menggenggam dan menarik kedua lengan Yuri pelan agar gadis itu mengikutinya. Ia menatap Yuri sesaat lalu melepaskan jas dokternya dan menaruhkannya dikedua bahu gadis itu.

“Ahh, syukurlah gadis ini tertangkap juga!” ucap penjaga itu dengan napas tersengal-sengal. “Tuan, gadis ini sepertinya ingin melarikan diri tadi. Tetapi, syukurlah anda bisa menghentikannya.” Lanjutnya. “Yaa, nona! Kenapa kau lari begitu cepat padahal kau sedang sakit?” tambahnya sembari menunjuk-nunjuk Yuri dengan jari telunjuknya.

Yuri hanya menatapnya dengan heran sembari mengendikkan kedua bahunya. Ia ingat bahwa dirinya pernah memenangkan lomba lari maraton dan menjadi juara kedua setelah Hyoyeon diposisi pertama.

“Terima kasih ahjussi telah berusaha menghentikannya.” Ucap Kyuhyun sopan sembari menundukkan sedikit kepalanya. Ahjussi penjaga itu hanya terkekeh senang sembari menatap Kyuhyun.

“Itu bukan masalah besar.” Sahut ahjussi itu.

“Kalau begitu kami akan kembali masuk ke dalam.” Pamit Kyuhyun sopan yang disahut oleh anggukan dan ucapan silahkan dari ahjussi itu. Iapun menuntun Yuri untuk mengikuti dan menurutinya masuk ke dalam rumah sakit lagi.

“Ahh, apakah mereka sepasang kekasih? Kenapa gadis itu menurut sekali dengannya? Tapi tidak terlalu buruk.” Gumam ahjussi itu sembari menatap punggung Yuri dan Kyuhyun.

“Ahh, oppa!” keluh Yuri saat Kyuhyun kembali memaksanya untuk masuk ke dalam rumah sakit lagi. Mereka saat ini tengah berada di depan pintu utama rumah sakit. “Tidak bisakah aku pulang kerumah saja? Aku benar-benar jengah berada disini.” Jelasnya, sedikit merujuk.

“Tidak, Cho Yuri. Kau harus berada disini untuk sementara waktu.” Tolak Kyuhyun sembari sedikit mendorong tubuh Yuri untuk masuk ke dalam.

“Tapi, tapi, tapi….” keluh Yuri lagi sembari menatap Kyuhyun dengan memelas.

“Tidak, sayang. Jika hasil laporan kesehatanmu semakin membaik, kau baru boleh pulang.” Tegas Kyuhyun sembari menyunggingkan sebuah senyuman diwajahnya.

“Yaa, Cho Kyuhyun!” protes Yuri tidak terima.

“Kau ingin aku menciummu disini agar diam?” tantang Kyuhyun sembari menatap Yuri dengan menaikkan salah satu alis. Yuri ingin membantah dan memprotes tetapi ia urungkan niatnya itu. Yuri menuruti Kyuhyun untuk kembali ke rumah sakit. Kyuhyun hanya tersenyum senang melihat Yuri menuruti ucapannya, padahal akan menjadi seru jika gadis itu sedikit melawannya.

 

***

 

“Aku akan benar-benar mengurungmu jika kau melakukan ini lagi.” Omel Kyuhyun saat mereka telah kembali ke kamar Yuri dan memasang ulang alat infus ditangan gadis itu. Yuri hanya mencibir ke arah Kyuhyun saat mendengarnya. Kyuhyun lalu menatap Yuri saat ia telah menyelesaikan tugasnya itu. “Apa kau sedikit merasa pusing?” tanyanya khawatir.

“Hm, tadi tapi sekarang sudah tidak lagi.” Jawab Yuri sembari mengingat kejadian tadi saat melepas alat infus itu.

“Jangan pernah melakukannya lagi. Kau tidak tau bagaimana kondisimu.” Titahnya dengan tegas. Yuri menghela napas pendek lalu menganggukkan kepalanya.

“Aku mengerti.” Sahutnya. Kyuhyun tersenyum lembut  gadisnya itu lalu mengelus-elus pucuk kepala Yuri dengan lembut.

“Gadis manis.” Pujinya senang. Sedangkan Yuri hanya menatap Kyuhyun dengan kesal lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang.. “Sudah malam, tidurlah sekarang.” Titah Kyuhyun saat melihat jam dinding kamar Yuri menunjukkan pukul 21.35 KST.

“Tapi aku belum mengantuk.” Elak Yuri.

“Tidak sayang, kau sudah mengantuk sekarang.” Balas Kyuhyun sembari mengelus pipi Yuri lembut. Perlahan-lahan, kedua matanya mulai menutup dan Yuri pun tertidur tanpa sadar. “Selamat mimpi indah, Cho Yuri.” Bisik Kyuhyun pelan ditelinga Yuri kemudian sebuah kecupan lembut mendarat dikening gadis itu.

 

***

 

Sudah hampir sebulan Yuri berada dirumah sakit setelah ia terbangun dari komanya, tetapi belum ada tanda-tanda ia akan diperbolehkan pulang. Gadis itu hanya menatap jenuh pada koridor rumah sakit. Ia benar-benar ingin pergi dari tempat itu tetapi tidak ada yang bisa membawanya pergi. Well, kecuali dokter-menyebalkan-itu-yang-notebanenya-kekasihnya-itu mau membawanya pergi dari rumah sakit milik keluarganya ini mungkin akan jauh lebih baik lagi walaupun sekadar berjalan-jalan santai diluar sana.

Yuri mempererat pelukannya pada sebuah boneka Teddy besar dihadapannya sembari menyenderkan wajah maupun tubuh bagian atasnya. “Eishh, benar-benar pria menyebalkan.” Gerutu Yuri sebal namun juga sedih. “Apa dia benar-benar tak peka sama sekali? Pria macam apa dia itu? Kenapa bisa aku begitu sangat menyukainya?” lanjutnya sembari menggembungkan kedua pipinya. “Ahh, perempuan yang jatuh cinta padanya pasti bodoh.” Tambahnya asal sembari mengingat-ingat banyak perempuan diluar sana yang diam-diam menyukai kekasihnya. Yuri sempat lupa bahwa ia termasuk salah satu perempuan yang sedang jatuh cinta pada kekasihnya itu, Cho Kyuhyun.

“Aishh, benar-benar tidak masuk logika sama sekali.” Gerutunya lagi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan membenamkan wajahnya diperut beruang besar berwarna coklat itu. Kyuhyun yang sedaritadi duduk dan diam-diam memperhatikan gadisnya itu hanya tertawa kecil saja disamping Yuri. Yuri kembali mengangkat wajahnya dan menatap sisi kirinya. “Jeongmal nappeun namja.” Lanjutnya lagi, kali ini ia seperti manusia tak bernyawa. “Ah, benar!” seru Yuri sembari menegakkan tubuh dan kepalanya kemudia menatap kedua mata beruang dengan bersemangat. “Aku pasti dulu salah orang dan akhirnya aku bersamanya. Karena pria itu tipikal orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jadi ia pasti mengira aku menyukainya dan menjadikanku kekasihnya.” Duganya sembari mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. “Tapi terdengar sedikit tidak masuk akal.” Gumam Yuri. “Atau mungkin, sebenarnya aku menyukai pria lain yang lebih tampan lagi tetapi pria-menyebalkan-itu merusak semuanya dan perlahan-lahan ia mengalihkan perhatianku?” duganya lagi sembari menaruh jari tulunjuknya didagu, menegaskan bahwa ia sedang berpikir.

Kyuhyun yang berada duduk disampingnya hanya menggeleng-geleng pelan sembari tersenyum menatap kekasihnya itu. Sepertinya gadisnya itu benar-benar telah melupakan bagaimana kejadian sebenarnya, juga tidak menyadari bahwa dirinya kini sedang berada disisinya. “Tapi dari semua kejadian, rasanya tidak ada yang benar-benar tepat.” Cibir Yuri lalu membenamkan kembali wajahnya diperut beruang.

“Dokter Cho!” panggil salah satu perawat sembari berjalan menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan diikuti Yuri yang mencari asal sumber suara tersebut. Keduanya matanya membulat kaget saat mendapati Kyuhyun tengah berada disampingnya sembari menatapnya dengan sebuah senyum.

“O-ppa?” panggil Yuri canggung. “Sejak kapan kau berada disini?” lanjutnya sembari menyunggingkan sebuah senyum kaku.

“Sejak kau berdiam diri, bergumam dan berpikir yang tidak-tidak.” Jawab Kyuhyun santai lalu menatap seorang perawat yang kini telah berada didepannya. “Ada apa perawat, Im?”

“Kau dipanggil Dokter Han dan diminta untuk segera menemuinya sekarang.” Jawab YoonA.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan. “Aku akan segera kesana.” Balasnya, lalu menatap Yuri disampingnya yang masih tidak percaya. “Wae? Sudahlah, otakmu itu jangan dibuat berpikir yang tidak-tidak, nanti kau makin bodoh.” Ejek Kyuhyun sembari mengelus pucuk kepala Yuri dengan lembut dan tertawa pelan. Ia lalu bangkit dari duduknya. “Aku pergi dulu, kau istirahat saja.” Ucapnya sebelum ia pergi bersama YoonA. Yuri hanya bisa menatap punggung Kyuhyun dengan bibir mengerucut.

“Aishh, tidak tahukah kau bahwa gadismu ini sedang bosan?” kesalnya lalu membenamkan wajahnya lagi diperut beruang besar itu. Boneka beruang itu memang sengaja dibelikan Kyuhyun untuk Yuri agar saat ia sedang tidak berada disisi gadisnya itu, setidaknya beruang besar itu bisa menemani Yuri.

 

***

 

Kyuhyun mempercepat langkah kakinya saat ia keluar dari ruang Dokter Kim—yang menangani keadaan Yuri selama ia berada dirumah sakit ini—menuju kamar gadisnya itu. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dulu ketika ia sudah sampai dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“Baik, sudah diputuskan kita akan pergi beberapa hari lagi.” Ucap Ibu Yuri pada Jun dan Yuri dengan antusias.

“Kalian akan pergi kemana?” tanya Kyuhyun tanpa sadar, membuat mereka semua menoleh kearahnya.

Ibu Yuri membuang mukanya dan mengabaikan keberadaan Kyuhyun. “Sayang, lebih baik kau tidur sekarang. Sudah waktunya kau tidur lagipula.” Titah nya pada Yuri.

“Tapi eomma, Kyuhyun oppa baru saja ada disini.” Elak Yuri.

“Biarkan saja, siapa suruh ia baru datang sekarang?” ketus Ibu Yuri. Kyuhyun hanya bisa diam dan membiarkan Ibu Yuri melakukan apa yang ingin dilakukannya.

“Eomma, ayo kita keluar.” Ajak Jun sembari menarik lengan Ibunya itu dengan sedikit paksa dan membawanya keluar, membiarkan Kyuhyun juga Yuri hanya berdua saja.

“Sudah ingin tidur?” tanya Kyuhyun pelan sembari melangkahkan kakinya untuk mendekati Yuri.

“Tidak, aku belum mengantuk.” Jawab Yuri sembari menyunggingkan senyuman diwajahnya.

Kyuhyun menggaruk tengkuknya pelan sembari berpikir. “Hm.. soal yang tadi itu…” potong Kyuhyun, membuat Yuri menaikkan salah satu alisnya dan menunggu Kyuhyun untuk melanjutkan kalimatnya. “Kalian akan pergi kemana?” lanjutnya.

Wae? Apa kau penasaran?” goda Yuri diiringi seulas senyum. Kyuhyun hanya diam dan menantikan jawaban dari Yuri. “Aku juga tidak tahu, eomma bilang kita akan pergi beberapa hari lagi.”

“Apa eomonim tidak memberitahukanmu?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Tidak, dia hanya bilang seperti itu. Mungkin oppa tau, kau tanyakan saja padanya.” Jawab Yuri.

“Baiklah. Oh ya, aku sudah meminta izin pada Dokter Kim untuk membawamu pergi berjalan-jalan keluar, kau mau?” tawar Kyuhyun dengan senang saat ia kembali teringat tujuannya.

Yuri menganggukkan kepalanya pelan. “Tentu, aku mau!” serunya dengan antusias.

“Kalau begitu, dua hari lagi kita akan jalan-jalan bersama setelah aku menyelesaikan tugasku.” Putus Kyuhyun dan Yuri pun hanya menganggukkan kepalanya dengan senang. “Sekarang tidurlah, selamat mimpi indah sayang.” Ucap Kyuhyun lalu mendaratkan bibirnya dikening Yuri. Yuri hanya bisa memejamkan kedua matanya saat Kyuhyun menciumnya seperti itu, rasanya semua bagian tubuhnya tersengat listrik bertegangan rendah. Kyuhyun lalu menurunkan ciumannya ke mata, hidung, pipi, dan terakhir bibir Yuri. Kyuhyun menyesap dan melumat lembut bibir Yuri. Sudah lama mereka tidak berciuman seperti ini, dan keduanya benar-benar merasa rindu akan moment-moment seperti saat ini.

“Aku mencintaimu, Cho Yuri.” Bisik Kyuhyun lembut tepat ditelinga gadis itu, membuat Yuri terbang ke langit ketujuh.

 

***

 

Sesuai janji Kyuhyun, ia akan mengajak Yuri keluar dari rumah sakit untuk sekadar berjalan-jalan biasa. Saat ini mereka tengah berada disalah satu tempat pariwisata di dekat kota Seoul, Lotte World. “Maaf, hanya bisa membawa ke sini.” Sesal Kyuhyun sembari menggenggam tangan Yuri dengan ringan. Yuri mempererat genggaman tangannya sembari menatap Kyuhyun dengan lembut diiringi sebuah senyuman diwajahnya.

“Hei, ini sudah lebih dari cukup untukku.” Hibur Yuri. Kyuhyun menatap Yuri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, hanya dirinya yang mengerti dan tau. Jauh didalam lubuk hatinya, ia benar-benar bersyukur memiliki kekasih seperti Yuri.

Kyuhyun  mengulurkan tangannya dan menaruhkannya dipucuk kepala Yuri lalu sedikit mengacak-acak rambut gadis itu dengan penuh kasih. “Yaa!” protes Yuri, sedangkan Kyuhyun hanya tertawa renyah melihat gadisnya itu. “Kau tau? Butuh waktu lama untuk menata rambut ini.” Jelas Yuri dengan sedikit kesal karena Kyuhyun dengan mudahnya mengacaukan tatanan rambut setelah ia mematut dirinya dicermin hampir setengah jam hanya untuk menata rambutnya itu.

“Kau tahu? Kau tidak perlu menata rambutmu seperti ini.” Balas Kyuhyun sembari membelai rambut Yuri dengan pelan. “Karena bagiku, kau akan tetap menjadi Kwon Yuri-ku.” Lanjutnya sembari menatap Yuri lurus dan yakin. Gadis itu hanya bisa terdiam saat Kyuhyun mengatakannya, menatap pria itu dengan tatapan tidak mengerti dan mencoba memahami maksud Kyuhyun barusan.

“Yaaa!” sahut Yuri sembari menatap Kyuhyun dengan tatapan tak mengerti.

Wae? Apa kau tidak mengerti maksudku, hm?” tebak Kyuhyun. Yuri hanya menundukkan wajahnya sembari menyembunyikan semburat merah diwajahnya. Kyuhyun tertawa kecil lalu menarik pinggang Yuri pelan untuk mendekat ke tubuhnya dan membenamkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Seulas senyum tersungging diwajah Kyuhyun tanpa sadar. Bau aroma khas parfum dan wangi alami tubuh yang Yuri gunakan mengisi seluruh rongga paru-paru Kyuhyun. Sudah lama ia tidak menghirupnya sedekat ini dan Kyuhyun sangat merindukan setiap saatnya. “Sekalipun kau melupakan dan tidak mengenaliku lagi, sekalipun kau sudah tidak mengingatku lagi, sekalipun kau akan berpikir aneh-aneh tentangku, sekalipun kau menganggapku sebagai orang asing, tetapi selamanya kau tetap akan menjadi Yuri-ku. Karena aku tak akan melepaskanmu, melupakanmu, dan mengabaikan keberadaanmu begitu saja sekalipun kau berada jauh dariku.” Jelas Kyuhyun lembut, yakin, dan penuh ketegasan.

Yuri hanya diam dalam dekapan Kyuhyun. Jantungnya sudah berdebar-debar sedaritadi sejak Kyuhyun menarik tubuhnya untuk mendekat, ditambah lagi penjelasan Kyuhyun yang membuatnya seperti ingin terbang melayang jauh ke langit ketujuh. “Ada apa denganmu? Apa kau sedang terbang melayang jauh saat ini, Cho Yuri?” goda Kyuhyun sembari menyunggingkan  sebuah senyuman diwajahnya. Yuri segera tersadar dari lamunannya kemudian mencubit pelan perut Kyuhyun dengan gemas—salah satu kebiasaan yang sering Yuri lakukan saat Kyuhyun menggodanya dan membuatnya sedikit kesal, bukan karena tak suka melainkan ia hanya ingin menyembunyikan rasa senangnya itu—sedangkan Kyuhyun merintih kesakitan.

“Yaa, Cho Kyuhyun!” kesalnya lalu mencoba menatap wajah pria itu.

“Aishh, sifatmu yang satu ini benar-benar tidak berubah.” Protesnya. Yuri melingkarkan kedua lengannya dipinggang Kyuhyun, menatap laki-laki itu dengan sangat kesal tetapi penuh kasih, dan sedikit mengerucutkan bibirnya.

“Kau tahukan? Aku tidak suka laki-laki yang hanya bisa berbicara manis saja dan tanpa melakukan apapun.” Ucap Yuri. “Kau itu benar-benar pria menyebalkan.” Kesal Yuri lalu sedikit menundukkan wajahnya. “Tapi aku tau, kau bukanlah tipikal laki-laki romantis seperti lainnya.” Lanjutnya lalu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Kyuhyun lurus. “Tidak masalah bagiku jika kau seperti itu, walaupun sebenarnya tipe ideal pria idamanku adalah seorang laki-laki romantis yang selalu bisa meluluhkan hatiku.” Ucap Yuri asal dengan serius walau sebenarnya ingin sekali ia tertawa saat ini melihat Kyuhyun dengan wajah bodohnya sedang menatapnya dan ingin memprotes. Tidak, tidak, dan tidak, ia tidak sedang mengatakan sebenarnya melainkan karena saat ini Yuri tengah mengerjai kekasihnya itu. “Yah, mau bagaimana lagi? Aku mendapatkan kau yang notebanenya laki-laki aneh. Hm, baiklah, tidak terlalu buruk dan mulai saat ini aku akan menerimamu.” Lanjutnya lagi sembari tengah berpikir dan menatap Kyuhyun dari ujung rambut hingga kaki.

“Yaa, Cho Yuri!” protes Kyuhyun tidak terima dan segera menari tubuh gadis itu untuk semakin dekat dengan sedikit paksa hingga menghapus jarak tubuh diantara mereka, sedangkan Yuri sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. “Kau sedang mengerjaiku, huh?” lanjutnya sembari menatap tajam kearah gadisnya itu.

Wae? Wae? Wae?” tanya Yuri masih disela tawanya.

Kyuhyun menggeleng pelan dan tanpa menunggu apapun lagi ia mendaratkan bibirnya tepat dibibir Yuri. Kyuhyun menyesap, melumat, dan mencium bibir Yuri dengan lembut dan memabukkan membuat Yuri tidak dapat berpikir jernih selain membalas hal yang sama.

Setelah beberapa saat Kyuhyun melngakhiri ciuman mereka, membuat Yuri menyayangkannya. “Ayo kita jalan-jalan!” ajaknya sembari menggenggam tangan Yuri dengan lembut. Yuri hanya bisa pasrah dan mengikuti ajakan Kyuhyun itu. Mereka menikmati waktu bersama hampir seharian penuh dengan rasa puas dan senang diantara keduanya.

 

***

 

Seoul International Hospital

02.15 KST

 

Yuri  hanya menatap Ibunya dengan tatapan sendu. Baru saja ia merasakan dirinya seperti hidup kembali tetapi kali ini ia harus menghadapi kenyataan pahit. Ibunya masih sibuk berbenah untuk keberangkatan mereka pagi dini hari ini. “Eomma?” panggil Yuri dengan pikiran dan tatapan kosong menatap dinding kamar rumah sakit miliknya. Ibunya menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. “Kenapa kau melakukan ini?” lanjutnya, mengabaikan ketidakpedulian Ibunya itu tertarik atau tidak dengan perkataannya.

“Kau akan lebih baik lagi nantinya jika kita berada disana.” Jawab sang Ibu dengan cuek sembari memasukkan seluruh pakaian Yuri—selama berada dirumah sakit—ke dalam koper.

“Eomma?” panggil Yuri lagi masih dengan posisi yang sama.

“Hm, apa lagi? Sudahlah, kau percaya saja pada eomma-mu. Disana kami akan menjagamu dengan baik daripada kau berada disini, tidak ada yang menjagamu. Lagipula tim medis disana lebih baik daripada di Korea.” Tegas Ibu Yuri.

“Eomma, apa kau tahu? Jika aku tidak melihat Kyuhyun oppa sehari saja, rasanya seperti berada di dalam kematian.” Balas Yuri dengan nada sedikit memohon agar Ibunya ingin mengerti keadaan dirinya. “Eomma, aku tahu kau sangat membenci dirinya tetapi dia tidak seburuk yang kau pikirkan. Aku seperti sekarang ini bukanlah karena dirinya, melainkan kesalahan dan kecerobohanku sendiri. Eomma, Kyuhyun oppa selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku. Ia selalu menyembunyikan betapa buruknya keadaannya karena tidak ingin membuatku khawatir. Eomma, Kyuhyun oppa juga sangat mencintaiku. Aku yakin kau-pun juga tau itu, benarkan? Eomma, Kyuhyun oppa akan sangat menjadi buruk nantinya saat mengetahui aku tidak lagi berada dalam dekapannya. Aku tidak mungkin dapat hidup tenang nantinya sekalipun aku akan kembali melupakan dan tidak mengingatnya lagi. Tapi eomma, hatiku tidak pernah dapat berbohong. Sampai kapanpun aku akan kembali mengenalinya dan mencintainya.

Eomma, aku tahu kau tidak kuat melihatku seperti ini tetapi… aku juga tidak kuat untuk tidak pergi melihat dan menemui Kyuhyun walau hanya sehari saja. Eomma, sebenarnya semua ini bukan Kyuhyun yang salah tetapi anakmu ini yang salah. Kyuhyun selalu mencoba melakukan yang terbaik untukku dan hubungan ini, tetapi… tetapi… hanya aku saja yang tidak sadar. Ia selalu bersabar dan menyayangiku dengan sepenuh hatinya, jika aku pergi… dimana lagi akan aku temukan pria seperti dirinya lagi eomma? Eomma aku mohon, tidak bisakah kau membatalkan semuanya? Aku mohon… karena aku benar-benar tidak akan kuat jika harus berpisah dengannya lagi…” jelas Yuri sedikit lemas—ia tidak memiliki cukup tenaga saat ini, berharap Ibunya itu hatinya akan luluh dan merubah rencananya.

Ibu Yuri telah selesai merapihkan dan menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa pergi beberapa jam lagi nantinya. Ia mengabaikan ucapan anaknya itu, keputusannya sudah bulat. Ia lalu kembali mengecek barang-barang bawaan Yuri.

Yuri hanya bisa menghela napas berat dan panjang sembari menatap Ibunya. Ia lalu turun dari ranjang, membuat perhatian Ibu Yuri mengarah kepadanya. “Kau ingin kemana?” tanyanya.

“Jalan-jalan sebentar. Aku bosan.” Jawab Yuri sembari terus melangkahkan kedua kakinya keluar kamar tanpa menoleh kearah Ibunya sedikitpun.

“Ingat, jika kau mencoba kabur maka Ibu takkan sungkan memisahkan kalian.” Peringatnya dengan tegas. Langkah kaki Yuri terhenti tanpa sadar, tubuhnya terasa begitu lemas, dan hatinya terasa sakit dan pilu saat mendengar perkataan Ibunya barusan. Detik berikutnya, Yuri kembali melangkahkan kedua kakinya dan mengabaikan peringatan Ibunya.

Yuri tidak akan berharap banyak untuk saat ini, ia hanya ingin pergi menemui dan melihat Kyuhyun lalu memeluk laki-laki itu sebelum ia tidak akan pernah bisa melakukannya lagi. Yuri baru saja ingin masuk ke dalam lift tetapi sebuah benda menggenggam lengannya dengan erat dan ringan. Yuri menolehkan wajahnya dan mendapati Kyuhyun tengah berada disampingnya sembari menatapnya khawatir. “Oppa…” panggil Yuri pelan.

“Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya sembari melepas jas dokternya dan memakaikannya ditubuh Yuri.

“Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Kau tidak pulang?” tanya Yuri mencoba mengalihkan topik.

“Tidak bisa tidur lagi? Hari ini giliranku tugas malam.” Jawabnya sembari merapihkan rambut Yuri dengan jari-jarinya.

“Hm, aku baru saja ingin ke ruanganmu.” Balas Yuri.

“Lebih baik kau kembali ke kamarmu, ayo aku antar!” ajaknya dengan antusias sembari memeluk Yuri dari samping. Yuri menahan tubuhnya dengan kedua kakinya agar tidak mengikuti Kyuhyun dan sedikit menarik jas dokter miliknya untuk menahan laki-laki itu. Kyuhyun menoleh dan menatap Yuri dengan tidak mengerti. “Ada apa?” tanyanya lembut.

“Aku tidak ingin kembali ke kamar. Bolehkah aku tidur diruanganmu untuk sementara waktu?” pinta Yuri dengan sedikit memohon.

Kyuhyun diam, menatap kekasihnya itu dengan tatapan tidak mengerti dan aneh. Tidak biasanya Yuri bersikap aneh dan manja seperti ini, ditambah lagi ia sedang memohon. Kyuhyun mengangguk pelan dan segera menyingkirkan pikiran anehnya itu. “Tentu, kau boleh  memakainya kapanpun kau mau.”

Seulas senyum samar tersungging diwajah gadis itu. “Apakah kau memiliki waktu tiga puluh menit untukku saat ini?”

“Yaa, ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun penasaran dan Yuri hanya menggeleng pelan sembari memaksakan sebuah senyuman diwajahnya. “Mungkin bisa, hanya tiga puluh menitkan?” ulang Kyuhyun dan Yuri mengangguk pelan.

“Kalau begitu, temani aku! Aku takut sekali sendirian.” Pintanya pura-pura manja. Kyuhyun hanya bisa menuruti keinginan kekasihnya itu tanpa memprotes sedikitpun. Merekapun akhirnya pergi menuju ruang pribadi Kyuhyun.

Ditempat yang sama, dijarak yang berbeda, sebuah pasang mata hanya menatap sepasang kekasih itu dengan gelisah dan khawatir. Bukan, bukan, bukan karena tak suka melihat sepasang kekasih itu bersama saat ini karena toh nantinya mereka akan berpisah lagi. Tetapi, yang ia khawatirkan saat ini adalah kondisi putrinya. Apakah keputusannya benar atau tidak? Ia hanya bisa berharap bahwa putrinya akan selalu baik-baik saja nantinya.

“Maafkan eomma, Yuri-ya tapi ini demi kebaikanmu juga…” lirihnya pelan.

 

***

 

“Oppa?” panggil Yuri sembari berjalan menghampiri Kyuhyun yang tengah membuka buku kedokterannya dan sedang mencoret-coret catatannya.

“Hm? Kau masih belum bisa tidur?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku. Yuri memeluk leher Kyuhyun dari belakang saat ia telah berada tepat disampingnya.

“Aku tidak bisa tidur. Apa yang sedang kau tulis?” tanya Yuri lembut sembari menempelkan salah satu pipinya ke pipi Kyuhyun.

“Hanya sebuah catatan tambahan saja tentang sistem syaraf.” Jawabnya sembari tersenyum senang saat Yuri bersikap manis padanya.

“Apakah kau tidak lelah?” tanya Yuri lagi.

“Bagaimana bisa aku merasakannya jika kau berada didekatku?” sahut Kyuhyun sembari mencoba melihat Yuri.

“Eish, kau ini.” Ucap Yuri lalu mencubit gemas salah satu pipi Kyuhyun dan tertawa pelan.

“Yaa!” protes Kyuhyun. “Kau ini suka sekali mencubitku.” Rujuk Kyuhyun sembari sedikit mengembungkan kedua pipinya. Yuri tersenyum melihat tingkah Kyuhyun yang seperti itu. Ia lalu melepas pelukannya bertepatan dengan Kyuhyun menarik lengan Yuri pelan hingga jatuh duduk dipangkuannya diiringi sebuah senyum khasnya. Yuri sedikit terkejut selama beberapa saat lalu melingkari kembali leher Kyuhyun.

“Apapun yang terjadi nanti, tetaplah bersemangat setiap saatnya! Karena ini adalah impianmu, juga hidupmu. Jangan pernah menyerah seberat apapun yang kau hadapi, kau juga harus tetap tersenyum dengan baik! Bawalah pergi cintaku bersamamu kapanpun dan dimanapun kau berada, mengerti?” tanya Yuri lembut diiringi sebuah senyum manis diwajahnya.

Kyuhyun tertawa pelan saat mendengar gadisnya itu lalu menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti, Cho Yuri.”

“Bagus! Itu baru pria-ku!” ucapnya lalu tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun, membuat laki-laki itu memejamkan kedua matanya dengan jantung yang berdebar-debar. Yuri menyesap bibir Kyuhyun lembut, bahkan sangat lembut sekali. Seolah-olah ia adalah benda berharga yang tidak boleh disakiti ataupun dilukai sedikitpun. Beberapa detik berikutnya, Yuri melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Kyuhyun lembut. “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Bisiknya pelan.

Sungguh! Gadis dihadapannya kini benar-benar membuatnya merasa tak waras sekarang! Rahang Kyuhyun sudah mengeras dan bibir Kyuhyun sedikit terbuka tetapi ia tidak mengeluarkan suara apapun walau ingin sekali ia mengatakan hal sama yang Yuri katakan. Kyuhyun akhirnya hanya bisa menarik dan menahan tengkuk Yuri, melumat, menghisap, dan mencium dengan lembut juga haus akan diri gadis itu.

Ya Tuhan… aku benar-benar ingin memilikinya sekarang.

***

 

Incheon Airport

04. 44 KST

 

Yuri melangkahkan kedua kakinya dengan gontai dan tidak bertenaga saat ia mulai memasuki kabin pesawat. Dua jam yang lalu, ia masih bersama-sama dengan Kyuhyun. Tetapi di dua jam selanjutnya, ia menemukan dirinya tengah berada dikabin dan sebentar lagi pesawat akan take off , membawanya pergi jauh dari negara tercintanya ini.

Come on baby! We don’t have many time again, darling!” ucap Jun, membuyarkan lamunan Yuri dan menarik tangannya untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam pesawat. “Wohoo! LA’s I’m coming!” lanjut Jun. Yuri hanya bisa menghela napas berat dan panjang. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Maafkan aku Kyuhyun-ah, aku tidak bermaksud untuk melukaimu tetapi aku juga tidak ingin melukai perasaan eomma dan membuatnya salah paham tentang dirimu. Yaa, Cho Kyuhyun, kau tahukan? Bahwa aku sangat meyayangi dan mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak berada disisimu.

Jika semua ini membuatmu sakit, maka lupakanlah aku. Bahkan jika kau tak sanggup melakukannya, maka saat kau melihatku nanti dan aku tidak lagi mengenalimu, anggap saja aku seperti angin lalu. Sekalipun aku akan melihatmu walau hanya sesaat, itu lebih baik karena aku yakin kau selalu baik-baik saja. Ini permohonanku, maukah kau mendengarkannya dan mengabulkannya?

 

***

 

Kyuhyun hanya menatap sendu pada secarik kertas dimeja kamar seseorang yang entah sejak kapan telah pergi meninggalkannya. Kedua airmatanya sudah mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi. Hatinya begitu sakit menerima dan mengetahui kenyataan bahwa gadis itu telah pergi meninggalkannya tanpa memberitahukannya sedikitpun.

Ia juga tidak menyangka bahwa beberapa jam yang lalu itu adalah saat terakhir mereka bersama. Bahkan ia masih bisa merasakan dekapan dan kecupan manis bibir gadis itu dibibirnya. Kyuhyun berusaha menutup mulutnya agar tidak terdengar suara apapun dari bibirnya. Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai karena kedua kakinya tidak lagi mampu menumpu tubuhnya.

Kejam. Kenapa gadis itu selalu kejam padanya? Tidakkah ia memikirkan bagaimana perasaannya saat ia melakukan hal ini?

“Pembohong…” lirih Kyuhyun disela-sela tangisnya saat sekelebat bayangan Yuri memenuhi benaknya.

“Kau tahukan? Aku menyayangi dan mencintaimu. Hahaha.”

“Kau memang bukan tipikal laki-laki idamanku, tetapi apakah itu penting sekarang?”

“Eishh, kau ini! Bagaimana caraku menunjukkannya padaku bahwa aku mencintaimu, huh?”

“Tidak, aku tidak akan lagi pergi meninggalkanmu, Cho Kyuhyun sayang. Hahaha.”

“… Bawalah pergi cintaku bersamamu kapanpun dan dimanapun kau berada, mengerti?”

Tangis Kyuhyun semakin pecah saat kenangan-kenangan itu memenuhi benaknya dan membuatnya sulit untuk bernapas. Sakit dan pilu. Hatinya begitu kosong saat ini. Bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya menuliskan kata-kata terkutuk itu tanpa memikirkan perasaannya sama sekali?

 

Oppa, saat kau membaca tulisan ini mungkin aku sudah pergi jauh. Jangan mencariku, mulailah hidupmu dengan baik. Jika kita nantinya kembali bertemu dan aku tidak mengenali siapa kau sebenarnya, maka abaikan saja aku. Anggap saja aku seperti angin lalu.

Kau ingatkan? Lewati hari-harimu dengan penuh semangat dan senyuman! Cho Kyuhyun jjang! Fighting, my love! ^^

—Yuri—

 

Oh Ya Tuhan… “Gadis bodoh menyebalkan…” maki Kyuhyun pelan disela tangisnya.

 

***

 

2 Years Later…

 

Awal musim semi di Korea Selatan, udara pagi hari ini sangat menyejukkan dan menyenangkan untuk dihirup sepuasnya seperti halnya yang dilakukan seorang gadis yang saat ini tengah berjalan-jalan seorang diri ditaman kota. Senyum cerah tersungging diwajahnya, membuatnya semakin cantik dan mempesona bagi para laki-laki yang melihatnya.

Gadis itu lalu melanjutkan langkahnya sembari menikmati suasana pagi hari dikota Seoul yang masih asri dan ia rindukan selama dua tahun terakhir ini. Sudah cukup lama ia sembuh dari amnesianya itu, tetapi ia butuh waktu lama untuk meyakinkan dan meminta izin kepada Ibunya agar bisa kembali ke negara tercintanya. Dan, disinilah ia sekarang.

Gadis itu membuka tas ranselnya dan mengambil sebuah sketsa gambar. Gadis itu mengulum senyum saat menatap sebuah sketsa seorang pria yang tak pernah luput dari ingatan maupun benaknya kali ini. Ia sembuh total dan Yuri sangat senang menerima kenyataan kali ini, ia dapat mengingat dengan baik siapa seorang Cho Kyuhyun sebenarnya.

“Apa kabar?” lirihnya, kata-kata itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. “Apa kau baik-baik saja?” lanjutnya tanpa bisa ia tahan untuk tidak mengatakannya. “Kau pasti sudah mendapatkan penggantiku sekarang.” Tambahnya sembari menggigit pelan bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan pilu dihatinya. Ia menghela napas berat dan panjang lalu melipat sketsa itu lagi kemudian melanjutkan langkahnya.

Diwaktu yang sama, seseorang tengah berjalan terburu-buru dan berlawanan arah dengan gadis itu. Awalnya, ia tidak percaya pada penglihatannya tetapi semakin lama semakin jelas dan yakin bahwa gadis itu memang seseorang yang selama ini ia tunggu dan cintai setiap saatnya. Kedua matanya semakin menyipit saat ia merasa yakin mengenali seseorang yang berada tak jauh dihadapannya kini. Pria itu lalu melupakan keperluan dan tujuannya saat ini, tugasnya sebagai seorang dokter, yang hanya ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar ia tidak lagi kehilangan gadis itu untuk kesekian kalinya? Bagaimana bisa gadis itu tidak mengabarinya selama dua tahun terakhir ini? Bagaimana bisa gadis itu mengabaikannya begitu saja? Bagaimana? Bagaimana bisa? Oh Ya Tuhan…

Gadis itu menolehkan wajahnya dan menatap kearah lain tanpa melihat jalanan dihadapnnya. Detik berikutnya, langkah kaki pria itu semakin ringan dan tak terkendali. Ia berlari begitu saja ke arah gadis dihadapannya itu, membiarkan tubuh mereka saling menabrak satu sama lain dan pria itu tak ingin menyiakan-nyiakan kesempatan. Pria itu memeluk gadis itu dengan erat dan menghirup aroma shampoo yang gadis itu kenakan untuk mengisi seluruh rongga paru-parunya. “Akh!” gadis itu merintih pelan, tetapi pria itu mengabaikannya. Ia justru menundukkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya tepat dibibir gadis itu, melumat dan melahapnya dengan ganas tanpa ampun. Gadis itu awalnya meronta dan menolak karena ia tidak sempat melihat siapa seseorang yang tengah berani memeluk juga menciuminya seperti ini, tetapi ia mengenali pemilik bibir dan gaya ciuman ini.

Alih-alih meronta, gadis itu justru berjinjit untuk memudahkan laki-laki itu mengakses seluruh rongga mulutnya dan membalas ciuman pria itu dengan lembut, sangat lembut hingga membuat pria itu perlahan-lahan melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat dan merasa mereka membutuhkan pasokan oksigen untuk mengisi rongga paru-paru mereka, mereka saling mengakhiri tautan mereka.

“Ch-o Kyu-hyun?” panggil Yuri—gadis itu—pelan disela-sela deru napasnya.

Kyuhyun—pria itu—menatap tajam kearah Yuri. “Menikahlah denganku.” Pinta Kyuhyun dengan nada terdengar sedikit menuntut untuk Yuri mengiyakannya.

Seulas senyum tersungging diwajah Yuri diiringi semburat merah. “Aku bersedia.” Sahut Yuri sembari membenamkan wajahnya didada bidang Kyuhyun. Kyuhyun lalu mempererat dekapannya dan menenggelamkannya wajahnya dibahu Yuri, menghirup sedalam-dalamnya wangi aroma tubuh alami dan parfum yang Yuri kenakan.

“Kali ini aku tak kan membiarkanmu pergi dari sisiku lagi, Cho Yuri. Dan aku tidak akan pernah menuruti apapun permintaan bodohmu.” janji Kyuhyun pada dirinya sendiri dan menegaskan pada Yuri.

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu terlalu lama, Cho Kyuhyun.” Balas Yuri sembari mempererat pelukannya. “Aku tahu. Sangat tahu.” Tambahnya diiringi seulas senyum bahagia diwajahnya. “Kau adalah pria terbaikku.” Yakinnya dengan pasti sembari menghirup dalam-dalam bau khas parfum Kyuhyun seorang, membiarkan seluruh rongga paru-parunya terisi dengan aroma khas laki-laki itu, menikmati dekapan hangat dari pria itu yang telah lama ia rindukan.

Aku merindukanmu, Cho Kyuhyun. Tidakkah kau dapat merasakannya? Batin Yuri sembari mempererat dekapannya diiringi seulas senyuman diwajahnya.

 

===================== THE END ======================

Haiii! Yura kembali dengan salah satu karya lagi~ Hohoho😀 Bagaimana kabar kalian semua chingu? Duuh, lama gak post dan nulis ff jadi maaf ya kalo ada yang salah atau ff-nya kurang hehe. Hayoo, kalian semua jangan lupa komen, kritik, dan sarannya kalo bisa kkk~ Berharap banget, ff ini bisa kalian serap makna tersiratnya karena aku bikin bukan dengan asal loh ya, melainkan ada beberapa cerita pengalaman dari aku sendiri. Jadi, hayoo kalian semua ambil positifnya terus buang negatifnya ^^

Anw, huaa Yura kangen banget sama kalian semua >< kangen nyerocos bareng lagi (?) sama fangirl-ing ga jelas. Lmao.

Keep RCL (Read, Comment(s) and Likes) ya!

Kalau liat dan baca komen (dalam artian positif dan membangun) dari kalian semua tuh rasanya jadi semangat nulis lagi ^^ So, comment(s) like an oxygen

Keep Support Us (Kyuri’s writer and fandom)!

Thank you so much, chingudeul!

39 thoughts on “Our Treasure Memories

  1. Eonni akhirnyaaaa post ff lagi, seneng banget. Selalu liat blog mu berharap udh post ff terbaru. Dan akhirnya pas liat ff ini terbayarlah (?) sudah semua rasa kangen sm karya2 eon. Hehe
    gatau mau koment apa yg jelas kalo karya eon sih udah KEREN bangeet🙂
    Ditunggu ff yg lainnya lg. Yg together apa lg eon penasaran banget hihi

  2. wuahh akhirnya eonni post ff lagi, sampe berlumut nunggu ff eonni, ^^
    ceritanya daebak eon, banyak flashbacknya tapi keren
    lucu pas bagian yuri mau kabur terus ketahuan ama kyuhyun, kekeke ^^
    ditunggu ff lainnya, keep fighting eonni ^^

  3. Ya ya ye ye ,,

    Ga ada yang kurang dari ff ini ,, eh ada satu “adegan yang memabukkannya ga ada” ,, hehe ..

    Kalo buka blogs trus langsung ada nama kwon yura itu kaya dapet hadiah besar unn .. Kalo bisa di bilang sihh aku ini penggemar beratmu .. Hehe ..

    Aku do’ain moga penyakit males nya pergi ,, biar unnie bisa nulis+gepost ff lagi ..

    Aku suka sama persifatan mereka -kyuri- ..

    Adegan yang aku suka waktu yuri mau kabur trus malah ada kyuhyun .. Mmm itu sesuatu banget ..

    Aku tunggu karya WOW mu selanjutnya ..

    “Penggemar kwon yura” kimikakyuri❤
    Hehe

  4. huaaa chingu akhirnya kamu ngepost ff jg setelah sekian lama menunggu, waduh alurnya daebak nih agak ribet si memahaminya tapi tetep kece bgt.
    masih berharap ff chapter kamu bakalan terus berlanjut, sayang abisnya ceritanya keren keren semua, jjang!(y)
    sering sering update yaaa, keep spirit and keep writing! fighting!!!^^9

  5. Hadduuhh, akhirnya eonni kombek dengan ff yang bener bener daebbak, setelah lama bersemedi (?) ff eonni makin bagus aja, ditunggu karya selanjutnya yah, cuma mau saran nih, kalo bersemedi jangan lama lama ne eon , aku kan jadi kangen #lebay😀

  6. waah akhirnya bkin ff lagi chingu ^^
    huua ffmu sllu daebak ^^
    huua demi apa keren lah kereen..
    akhirnya kyu ma yul bersatu lagi yaaa🙂
    aq bingung mau ngomong pha lagi tentang ff ini pokoknya kereeen ^^

  7. Ihh~ woww !! Annyeong Yura-yaa .. :’)
    kangen banget sama kmu & tulisanmu .. Akhir’x kmu muncul kmbali. Slmt dtg. Hhe~
    Duhh~ tulisan kmu mah emng gak ada mati’x. KyuRi is the best ! KyuRi jjang ! Yura daebak :’)
    Liat gmna kisah panjang mreka tuh bkin hati mencelos skaligus bahagia. Kebayang gitu, gmna mreka kepisah, gmna Yuri yg lupa sama Kyu, gmna trsiksa’x Kyu krna Yuri, gmna prasaan mreka berdua yg kompleks krna Kyu yg kdg sulit mnunjukkan prasaan ssungguh’x dy. Apalagi pas yg eomma’x Yul nyuruh Yul ikut ke luar negeri & bkin mreka trpisah lg. Bt ending’x luar biasa. Happily ever after. & itu yg paling aku suka dr tulisan” kmu :’) meskipun kdg bnyk halangan, rintangan, mmbentang /nyanyikerasakti/abaikan bt mreka ttap bersatu. Indah deh pkok’x.
    Smoga, dgn muncul’x 1 tulisan ini, memancing muncul’x tulisan”mu yg lain yaa~ sllu ditunggu lohh ..
    Ttap smangat & makin bersinar yaa ^^

  8. wahhhh panjang bgt ceritanya
    awalnya sempet ga ngerti tpi akhirnya mengerti

    ffnya keren diceritain scara detail baik ttang yuri yg lupa ingatn di flashbacknya

    untung kyuri bisa bersatu

    new readers

  9. Akhirnya kembali lagi >.< wuhuaa selalu berakhir bahagia , ternyata yul amnesia beneran heheheheh . Welcome back author yura

  10. setuju deh sm meytasari . sllu liat blogmua eh pas mlm ni liat ad yg bru lgsg bca . mnkn krn bca tgh mlm jd agak krg nymbung . wkwkwk
    tl stlh dbca dgn seksama itu sprti flashback nd kata hati gtu ya . kekeke
    dsni kliatan bgt kyu syg , suka deh wktu yul manja2 dkt kyu . hahaha snyum gaje trus klo gtu

    fighting🙂

  11. Annyeong eonni akhirnya eonni post ff lagi pokoknya daebak deh eonni ffnya feelnya dapet banget klo bsa sequelnya dong eonni ditunggu ya eonni ff yang lainnya
    Keep on writing eonni
    Fighting

  12. Suka banget deh baca ff hasil karyamu mu eoni ..
    kyuri i lovee you .. aku suka semua ff kyurimu
    suka deh pas bagian endingnya yg dibandara kyu meluk yuri terus bilang menikahlah denganku ‘ aduh sosweeeeet banget deh

  13. annyeong … Fanny imnida 95line, sebernenya fan udah beberapa kali berkunjung kesini kalo gk salah… tapi itu dulu, hi😀 mianhae authornim sempet jadi siders… tapi fan nemu blog ini lagi di wp midah eonni…
    kalo fan boleh tahu author-nim line berapa ?

    ok cukup untuk basa/i nya … next to story …
    ceritanya suka bgt… bikin nangis😦 apa lagi waktu Yul eon di taman sama Kyuppa, itu bikin jlebb bgt … kebawa bgt deh, sukses bawa fan ikut di cerita, intinya suka bgt deh author-nim, jhoa… untungnya happy ending senang sekali ^^ …
    ok fighting for next author-nim …🙂

  14. WoW so long story^^
    Aku bner” suka banget sm alur ceritanya! Apalagi liat kisah cinta KyuRi yg rumit tp mreka bisa menjalaninya dgn baik,meskipun banyak cobaan rintangan yg sulit tp yg namanya cinta sejati mah gk akan kemana.
    Ini ff oneshoot KyuRi terkeren yg prnah aku bca.salut sama author Yura yg bisa nulis ff spanjang ini dgn alur yg bner” menarik.
    Karakter Yuri aku suka bgt apalagi kpolosannya,gemes sendiri aku😀 klo Kyuhyun awalnya aku berpikir sama kyk Yuri jd rada gmna g2,tp makin kesini trnyata Kyuhyun pria yg mnurutku wow! Meskipun tersiksa pas kehilangan Yuri tp dia Konsisten mencintai Yuri,Hebat!
    D tunggu lg ya karya” yg WoW nya🙂

    Fighting!! Kwon Yura!!
    Fighting!! KyuRi!!
    Kwon Yura jjang!! Kyuri jjang!!^^

  15. Akhirnya unni ngepost fanfic juga -_-
    duh greget ceritanya unn, ga tau kenapa seneng pas ngeliat yuri yang nurut sama kyuhyun😄 aku lanjut baca fanfic yang lain lagi ya unn😉

  16. Happy end!! Yeaay! Awalny sempat agak2 bingung bacany, tp lama2 ngerti koq.. trnyt kyu itu syg bgt y sm yuri.. cm krn dia sibuk seolah2 dia g perhatian, yuleon cb mengerti kyuppa yaa.. kasian, g tega liat kyu wkt yuri hilang ingatan.. kya dia org depresi yg kehilangan semangat hidup jg.. untung yuri udah inget lg.. aku ketawa ngakak loh pas baca adegan yuri hampir kabur dr RS trus dikejar pak satpam.. dasar kkabyul!! Kyeopta..

    Keep writing another fanfic y authornim, aku suka ff buatanmu.. neomu daebaakk.. hehehe.. fighting!

  17. Waaahhh kayanya aku ketinggalan baca ff ini yaa..sumpah deh selalu bikin puas..ini oneshoot tapi kaya chapter cz aku ga bisa baca sekaligus tamat..hahaha..aku kira awalnya kyu yang amnesia lupain yuri..ternyata maksud yuri itu karena kyu akhir2 ini sering sibuk jadi seolah lupain yuri..dan ternyata yuri juga yang amnesia,, untung yaa dia masih bisa inget lagi sama kyu…sayangnya itu kenapa eomma yuri jahat banget mau pisahin yuri sama kyu..padahal dia janji klo yuri siuman mau ngerestuin,, ingkar janji..eehh tapi namanya jodoh, udah 2th ga ketemu akhirnya ketemu lagi,,waaaahhhh sweet couple…never ending story buat kyuri..daeeebbaakk yuraaa..

  18. Unnie ffnyaaaaaa PER to the FECT. PERFECT!
    Ceritanya bikin greget terus adegan romatisnya ngenaa banget, aku sampe baca berulang-ulang saking sukanya hehe. Jadi seneng lagi sama itu couple, gara-gara kemarin sempet tired nyari-nyari ff cast mereka tak ada.
    Tapi sampe sekarang yg bikin aku penasaran, password yg Yuri masukin waktu pertama kali ke ruangan Kyuhyun apa? hehe.. kalau bisa dijawab ya Unn.

    Unn, kalau boleh saranin. Kenapa Unnie ga bikin novel aja terus diterbitin, pasti banyak yang suka dan banyak yang dukung. Ya itusih sekedar saran dari Linda aja hehe..
    Yang jelas DAEBAKK! buat Unnie. Hihihi😀

  19. yeyy akhirnya yura unnie buat ff lagi>u< ditunggu ff lainnya unnie, dan ohiya aku ngarep banget unnie ngelanjutin ff chapter unnie yang lama banget tertunda kkk

  20. Uwaaaa . . . !!!!!!!! FF Nya keren bangetttt !!! sumvah (y). . . FF Nya cetar . . . Kalimat nya uwaaa bgus skali ya eon , cocok🙂 yakkin . . .
    Eon ak msh bgung sma yg “yuri sperti trdorong” it teh kek msa lalu nya ?? Gtuh .
    Romance ny dpet krasa smpe2 mw dong sma kyuppa😀 hehehe
    Gk tau m0 coment ap . . . But , this FF really really awesome (y) . Saya suka . .

  21. Annyeoongg saeng. Wuah udah lama bgd ga main ke wp mu. Pas buka langsung liat da update terbaru. Langsung cuzz baca. Wuah ni FF ngefeel bgd ama eonn. Beuh keren. Feelnya ngena. Ini baca dr smlm baru kelar hari ni. Keke perfect bgt lika liku perjuangan kisah cinta kyu ama yuri. Bnyak bgd nilai baik yg bisa dipetik dari FF ini. Jangan mengambil keputusan sepihak. Lebih baik menanyakan lebih dalam dan saling mengenal diri pasangan kita. Jadinya ga ky gni kan. Saling berprasangka. Yg nyesek ya diri sendiri juga. Klw difkir2 yg lebih menderita dsini tu justru kynya kyuhyun. Tapi yuri selalu ngerasa dirinya yg paling tersakiti. Ah syukurlah happy end. Tadi sempat wanti2 sad end ni. Udah siapin tissue keke siip. Cuzz ke FF selanjutnya ya saeng. Keep writing🙂

  22. aduhhh ini ff sumpah keren banget, aku readers baru trus langsung jatuh hati ama ini ff, pokoknya satu kata buat ni ff sempurna

  23. annyeong I new readers in here *sokinggris gw , kkkkkkk
    pertama kali nya aq baca ff kyuhyun yuri dan bener” gg nyesel , ini emang keren dapet bangett feel nya , walau di pertengahan agak bingung am flashback nya itu , tp sampe part akhir bru ngerti ,keren deh pokok nya (y)

  24. Hah… akhirx, end. aq bacax 1 1/2 jam. aq cm bs blg ceritax KEREEEN buanget cingu. kl’ aq sutradara, aq uda bt jd film. aq minta izin sm om sooman bt kontrak kyuri. hahaha … #ngarep.com
    Exist lg neh crtx??? aq tungg karya2 lainx. ^_^

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s