After Time Passes [Part 2—END]


After Time Passess

After Time Passes

Author: Kwon Yura

Main Cast : Kwon Yuri

Cho KyuHyun

Cho Kyungsan

Support Cast : Super Junior and SNSD’s member

Genre : Angst, comfort, fluff and romantic

Rating : 21+ || NC

Art: Kwon Yura

Disclamer : They belong to God. All of (this) story is belongs to me, so please respect ya.

Do not try to plagiat / copy-paste / take out , please. I don’t ever permit you.

Be creative, no need to copy-paste. Just show it to the world who you’re.

Thank you and happy reading all🙂

Listening to : Cho Kyuhyun – Until I Reach Your Star | Kwon Yuri – Bling Star

Maafkan aku. Jika aku bisa kembali ke masa itu, aku akan berusaha memperbaikinya.”—Cho Kyuhyun

All rights reserved to © Kwon Yura, 2015

Busan, South Korea

2013, November 11st

  1. 25 KST

“Ingin berjanji pada eomma, bahwa kau tidak akan pergi kemanapun hingga eomma datang menjemputmu?” tanya seorang wanita cantik kepada anak kecil laki-laki berusia sekitar 6 tahunan dihadapannya.

Anak laki-laki itu mengangguk mengerti sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah Ibunya itu. “Hm, aku mengerti eomma.”

“Bagus, anak pintar!” puji gadis itu sembari mengelus lembut pucuk kepala anaknya itu. “Kalau begitu masuklah ke dalam, kelasmu sebentar lagi akan dimulai.” Ucapnya diiringi sebuah senyuman diwajahnya.

“Eomma hati-hati ya bekerjanya, jangan terlalu capek.” Ucap anak itu khawatir sembari menyentuh kedua pipi ibunya yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman. “Eomma, kau tidak perlu bekerja seperti ini, appa-kan kaya dan kita hanya perlu menemuinya.” Lanjut anak itu.

Napas wanita itu tercekat dan rahangnya sedikit mengeras saat mendengar kata-kata anaknya itu.

A-ppa?

Ia lalu menggenggam kedua tangan anaknya itu dengan ringan dan erat. “Kyungsan-ah, kita sudah membicarakan tentang ini kemarin, begitu juga beberapa waktu yang lalu. Jadi, eomma mohon padamu jangan melakukan hal apapun untuk mencari dan menemui appa-mu.”  Pintanya.

Anak yang bernama Kyungsan itu hanya menundukkan wajahnya sembari mengangguk. “Arraseo eomma.”

“Anak pintar!” pujinya lagi lalu menyuruh anaknya itu masuk ke dalam kelasnya dan anak itupun menurut. Wanita itu menatap dan memastikan anaknya itu masuk ke dalam kelasnya lebih dulu sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu. Ia menghela napas berat dan panjang sembari melanjutkan langkah kakinya menuju kantor tempatnya bekerja. Langkahnya terhenti saat ia sudah jauh dari tempat sekolah Kyungsan dan melihat tv berukuran raksasa yang sengaja dipajang digedung pusat perbelanjaan.

Seorang pengusaha muda yang telah sukses menjalankan bisnisnya diberbagai  negara, kini membuka cabangnya kembali dibeberapa negara bagian. Berikut berita selengkapnya.” Ucap pembawa berita ditelivisi berukuran besar yang sengaja dipasang dipinggir jalan raya. Yuri—wanita itu—menatap sendu pada layar telivisi itu, ia berdiam diri selama beberapa saat lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi bekerja.

Apa kabar? Sudah lama sekali bukan?

***

Seoul, South Korea

2013, November 11st

06.35 KST

Seorang laki-laki hanya duduk terdiam dimeja kerjanya sembari menatap sebuah bingkai foto seorang perempuan tengah tertawa ke arah kamera saat itu. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal yang sama pagi dini hari ini, ia sendiri juga tidak bergeming dari tempatnya. Dihadapannya terdapat sebuah benda kecil yang menunjukkan hasil positif berwarna merah.

Laki-laki itu menghela napas berat dan panjang sembari memejamkan kedua matanya erat. Ia tak habis pikir mengapa wanita itu menyembunyikan semuanya dengan rapat-rapat dan pergi secara diam-diam tanpa memberitahukannya sedikitpun. Sebuah dering ponsel membuyarkan lamunannya dengan segera ia mengangkat dan menaruhnya didekat telinga.

“Selamat pagi, Tuan Cho. Hari ini anda memiliki perubahan jadwal dengan Direktur Jung di Busan pukul sepuluh nanti.” Sapa sekretarisnya begitu ia mengangkat panggilan pertama dipagi itu.

“Baiklah, siapkan helikopter pribadiku saja. Aku ingin cepat sampai disana dan siapkan kamar untukku.” Sahutnya sebelum sambungan berakhir. Kyuhyun kembali menaruh ponsel miliknya di atas meja, ia mengusap wajahnya pelan dengan sedikit frustasi.

“Dimana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana anak kita? Apakah ia mirip denganku atau denganmu?” lirihnya sembari menatap bingkai foto wanita itu dengan sendu.

“Maafkan aku, jika aku bisa kembali ke waktu saat itu, aku pasti akan memperbaikinya. Dan tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku.” Lirih Kyuhyun lagi dengan tidak begitu bertenaga dan kedua airmata yang tertahan dipeluk.

***

Kyuhyun tiba di Busan tepat pukul sembilan pagi dan disambut oleh Direktur utama Jung dan beberapa pegawainya. “Lama sekali tidak bertemu denganmu, Kyuhyun-ah.” Sambutnya hangat sembari berjabat tangan.

“Hm, bagaimana kabarmu sendiri, Yonghwa-ya?” balasnya.

“Aku dan Seohyun baik, bagaimana denganmu sendiri? Apa kau sudah mendapat kabar tentangnya? Haha…” goda Yonghwa ketika mengingat kejadian beberapa tahun lalu sembari tertawa pelan.

Kyuhyun hanya menyunggingkan sebuah senyum paksa diwajahnya. “Gadis itu sulit ditemukan.” Jawabnya pelan sembari menundukkan wajahnya.

“Apa Yuri belum juga mengabarimu?” tanya Yonghwa ikut prihatin.

“Tidak, ia bahkan sama sekali tidak mencoba menghubungiku.” Jawab Kyuhyun sembari menatap kearah lain.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini.” Sesalnya sembari menepuk-nepuk punggung Kyuhyun sedikit keras.

“Tidak apa-apa, ayo kita masuk ke dalam!” ajak Kyuhyun berusaha bersemangat dan mengabaikan perasaan-perasaan yang mengganggunya. Yonghwa menurut dan mempersilahkan Kyuhyun untuk memasuki gedung perusahaannya dengan suka cita.

***

Yuri masih saja bekerja keras walau waktu telah menunjukkan untuk makan siang. Ia mengecek kembali data-data perusahaan yang masuk ke dalam komputernya dengan seksama. Seorang laki-laki yang baru saja keluar dari ruangannya hanya tersenyum melihat sahabatnya itu. “Yuri-ya, ayo makan siang dulu!” ajaknya begitu ia telah sampai dimeja kerja Yuri.

Yuri menoleh dan mendapati sahabatnya itu tengah tersenyum dan menatapnya lembut. “Oh sajangnim, sebentar lagi aku akan selesai.” Sahut Yuri sembari kembali fokus pada layar PCnya.

“Tidak perlu memanggilku seperti itu, aku sudah bilangkan? Kau cukup memanggilku, Donghae saja.” Balasnya santai.

“Ini dikantor bukan diluar, sajangnim.” Tegas Yuri mengingatkan sahabatnya itu.

“Baiklah, baiklah, terserah kau saja. Ayo, keluar! Aku sudah lapar.” Ajaknya lagi antusias.

“Kau duluan saja, hari ini aku harus menjemput Kyungsan lebih dulu.” Tolaknya halus.

“Hm, mau aku temani? Sudah lama sekali lagipula aku tidak bertemu dengannya.” Tawar Donghae.

“Lain kali saja, hari ini kami berdua memiliki jadwal tersendiri.” Jawab Yuri lalu menjulurkan sedikit lidahnya kearah Donghae.

“Eishh, kau ini ibu yang protektif sekali.” Ucap Donghae pura-pura kesal dan cemberut.

“Biarkan saja, dia anakku.” Sahut Yuri lalu kembali menjulurkan lidahnya.

“Yaa, Kwon Yuri!” kesalnya tak terima sedangkan Yuri hanya tertawa pelan melihat sahabatnya itu. Ia lalu mematikan PCnya dan segera pergi meninggalkan ruang kerjanya diikuti Donghae. “Tunggu, aku ikut!” pinta Donghae tetapi Yuri tidak terlalu mendengarkannya.

***

Seorang anak kecil tengah duduk diam dikursi taman sekolah sembari mengayun-ayunkan kedua kakinya. Bibirnya sedikit mengerucut juga kedua pipinya sedikit mengembung kesal karena ibunya tak kunjung datang menjemputnya. Ia lalu bangkit berdiri dan ingin berjalan ke depan gerbang sekolah, kedua matanya sedikit menyipit saat ia mengenali wajah seseorang tak asing baginya. “Ap-pa…” gumamnya dan iapun segera berlari menuju seorang laki-laki yang tengah keluar dari mobilnya dan berbicara dengan seseorang lewat ponsel.

Ucapan laki-laki itu terhenti saat dirasakannya ada seseorang menepuk-tepuk kakinya dengan pelan. Ia menoleh lalu menundukkan wajahnya dan mendapati seorang bocah laki-laki tengah menatapnya dengan senyum juga tatapan berbinar-binar. Keningnya sedikit mengernyit saat melihat anak kecil itu. “Ahjussi!” panggil anak itu dengan antusias dan kening Kyuhyun semakin mengernyit saat mendengarnya. “Ahjussi! Kau yang ada ditelivisi itukan?” lanjutnya. Apa dirinya setua itu hingga dipanggil ahjussi?

“Nanti aku telepon lagi.” putus Kyuhyun sepihak dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia lalu berjongkok dan menatap anak laki-laki dihadapannya. “Siapa namamu?” tanyanya, walau ia tidak terlalu menyukai anak kecil tetapi entah mengapa untuk kali ini ia ingin berada didekat anak kecil itu.

“Ibuku bilang, Cho Kyungsan.” Jawabnya diiringi senyuman yang menghiasi wajahnya.

“Ibumu bilang? Memang kau tidak tau namamu sendiri?” tanya Kyuhyun sedikit penasaran dan mulai merasa nyaman dengan anak kecil dihadapannya kini.

“Aku tahu, tetapi jika ayah menikah dengan ibu maka namaku akan berganti menjadi Cho.” Jelasnya, membuat kening Kyuhyun semakin mengernyit tidak mengerti.

“Memang ayahmu belum menikahi ibumu?” sahut Kyuhyun heran.

“Belum, ibu bilang ayah sudah dijodohkan dengan orang lain.” Jelas Kyungsan, seketika senyuman diwajahnya menghilang dan menatap Kyuhyun dengan sendu.

Kyuhyun tersenyum getir saat mendengarnya, hatinya ikut merasakan pilu dan kesedihan. Kyuhyun mengelus pucuk kepala Kyungsan pelan. “Bagaimana bisa ibumu memberitahukan hal-hal yang seharusnya belum kau ketahui?” tanya Kyuhyun iba.

“Anio, ibu tidak memberitahuku. Aku yang mencari tahu sendiri.” Jelasnya, membuat Kyuhyun menatapnya tidak percaya.

“Bagaimana bisa kau melakukannya?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Kenapa tidak? Alat teknologi sekarang sudah canggih dan kecerobohan eomma yang selalu saja lupa menaruh benda berharga miliknya kembali ke tempatnya, tentu saja mempermudahkanku.” Jelasnya Kyungsan.

“Aishh, anak kecil jaman sekarang benar-benar.” Gumam Kyuhyun, merasa sedikit tersaingi.

“Ahjussi, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyungsan teringat seharusnya Kyuhyun tidak berada di tempat ini.

“Aku ada perlu selama beberapa hari disini, bagaimana denganmu? Apa kau sekolah ditempat ini?” tanya Kyuhyun sembari menatap sekilas sebauh gedung seokalah dengan tatapan iba dan menunjuk tempat itu dengan dagunya. Sekolah itu tidak terlalu terawat dan kondisinya juga sedikit memprihatinkan.

Kyungsan mengangguk. “Hm, eomma tidak memiliki cukup uang untuk menyekolahkanku ditempat yang bagus jadi aku disini.” Kyuhyun kembali menatap Kyungsan dengan sedikit iba. “Ahjussi, maukah kau membantuku?” tanya Kyungsan dengan kedua mata berbinar-binar menatap Kyuhyun sedangkan yang ditatap mengernyitkan keningnya.

“Apa yang bisa aku bantu?” tawarnya.

“Aku ingin sekali permen kapas disebrang sana, maukah kau mengantarku?” pintanya dengan memohon. Entah mengapa anak itu membuatnya teringat dengan seseorang yang selama ini ia rindukan dan nanti. Kyuhyun tertawa pelan lalu menganggukan kepalanya.

“Baiklah, ayo!” setuju Kyuhyun lalu bangkit berdiri dan menggenggam tangan Kyungsan dengan ringan.

***

Yuri baru saja tiba dihalaman sekolah Kyungsan dan menemukan anaknya itu tengah menunggunya sembari memakan permen kapas. “Kyungsan-ah?” panggilnya sembari menghampiri anaknya. “Darimana kau mendapatkan permen kapas itu?” tanyanya saat ia telah duduk disamping anaknya.

“Dari ahjussi didepan, aku bertemu dengannya tadi.” Jawab Kyungsan dengan senang.

“Ahjussi? Apakah dia orang asing?” tanya Yuri khawatir.

“Anio, dia seseorang yang telah lama aku kenal.” Jawab anaknya itu, membuat Yuri menggelengkan kepalanya pelan saat mendengarnya.

“Baiklah, ayo kita pergi! Kau ingin membeli buku kan hari ini?” ajak Yuri sembari bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada anaknya itu. Kyungsan menerima uluran tangan Yuri dan merekapun pergi bersama menuju sebuah toko buku dipusat mall perbelanjaan Busan.

Kyungsan sudah pergi berlari meninggalkan Yuri menuju rak-rak buku tentang ensiklopedia dan bacaan berat lainnya sedangkan Ibunya itu hanya bisa menggeleng pelan sembari tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu ketika mereka telah tiba ditoko buku.

Kau benar-benar mirip sekali dengan ayahmu, gumam Yuri dalam hati sembari mengikuti Kyungsan dari belakang. Yuri menatap buku-buku yang disusun rapih dan apik dirak dan ia mencoba mengambil beberapa yang menarik perhatiannya. “Eomma?” panggil Kyungsan sembari menarik-narik ujung mantel milik Yuri. Yuri menoleh dan mendapati anaknya itu tengah mengambil dua buku tebal dengan jenis yang berbeda. “Aku beli ini saja.” Lanjutnya sembari memberikan sebuah buku fisiologi manusia dan manajemen perusahaan.

Yuri menerimanya dan menekukkan lututnya untuk menyamai tingginya dengan Kyungsan. “Kalau begitu kau harus memilih salah satu diantara mereka.” Ucap Yuri lembut sembari menggenggam buku-buku itu dimasing-masing tangannya.

“Yaah, eomma…” keluhnya. “Haruskah lagi-lagi membeli satu buku?” tambahnya.

“Eomma tidak mungkin membeli keduanya sekaligus, ini hampir seharga uang makan sebulan, Kyungsan-ie.” Jelas Yuri pelan dan lembut agar anaknya itu memahami keadaan perekonomian mereka.

“Arraseo, kalau begitu aku akan mencari buku lainnya. Eomma jalan-jalan saja sana sambil mencari buku juga.” Sarannya lalu mengambil dua buku yang ingin dibelinya tadi dari tangan Yuri lalu pergi menuju rak-rak buku. Yuri berdiri dan berjalan mencari buku-buku yang mungkin akan ia beli nantinya.

Ia melihat dan memerhatikan judul maupun cover buku-buku sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari buku lainnya. Langkah kakinya terhenti saat kedua matanya menangkap sosok seseorang yang tak asing baginya berada tak jauh dari hadapannya. Selama beberapa saat, Yuri hanya bisa berdiri mematung melihat sosok laki-laki itu yang saat ini tengah membaca sebuah buku ditangannya.

“Shim Changmin oppa?” panggilnya, membuat laki-laki itu menoleh dan menatap Yuri.

“Kwon Yuri?” sapanya diiringi seulas senyum diwajahnya. Yuri berjalan mendekatinya dengan langkah ringan. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” lanjutnya saat Yuri sudah berada didekatnya.

“Mencari-cari buku dan menemani seseorang.” Jawabnya sembari kedua matanya mencari-cari keberadaan Kyunsan.

Changmin tersenyum mendengarnya. “Siapa? Apakah dia kekasihmu atau… suami?” goda Changmin.

“Eish, oppa.” Balas Yuri sembari memukul pelan lengan laki-laki itu. “Dia seseorang yang berarti dalam hidupku.” Tambahnya.

“Benarkah? Siapa? Yaa, kau belum menikah bukan? Jika iya, kenapa kau tidak mengundangku dalam pernikahanmu?” protes Changmin sembari mengetuk pelan kening Yuri agar terbangun dari mimpinya.

“Yaa, kau kan berada di Jepang setelah perpisahan sekolah dulu.” Sahut Yuri tidak terima. “Oh ya, kapan kau kembali ke Korea? Kenapa tidak mengabariku?” tanyanya, teringat sejak kapan laki-laki itu bisa berada di Korea.

“Hm, tidak terlalu lama, baru dua hari yang lalu aku tiba di Seoul dan tadi pagi sampai disini.” Jelas Changmin.

“Bagaimana di Jepang? Apakah menyenangkan tinggal disana?”

“Tidak terlalu buruk, aku lebih menyukai berada di negaraku sendiri.”

“Kalau begitu kenapa kau harus pergi?”

“Yaa, apa kau ini sudah berganti profesi sekarang menjadi wartawan?” tanyanya sembari menatap Yuri. “Kau taukan, ayahku sangat ingin sekali aku belajar di Jepang dan membangun usaha disana. Jadi, aku putuskan saja untuk melanjutkan studi ke sana.” Lanjutnya.

Yuri mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Apa kau sedang menemui seorang investor disini?”

“Tidak, aku hanya menemani teman lamaku saja. Ia sedikit terlihat buruk akhir-akhir ini, makanya aku menemaninya. Aku tidak mau terjadi hal buruk padanya.” Jawab Changmin santai.

“Tumben sekali kau ingin berbuat baik?” goda Yuri sembari mengingat laki-laki itu lebih sering mengerjai seseorang ketimbang membantu orang lain.

“Yaa!” protesnya dan Yuri hanya tertawa kecil. “Dimana suamimu? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Yaa, apa kau bercanda? Apa aku terlihat sudah menikah dengan seseorang saat ini, huh?” tanya Yuri polos.

“Aku pikir kau sudah menikah karena kau berbicara seperti tadi.” Jawab Changmin.

Ania, aku belum memikirkan untuk menikah dengan siapapun.” Balas Yuri diiringi sebuah senyuman diwajahnya untuk menutup luka dihati.

“Eishh, kau ini. Pasti yang kau pikirkan hanya uang dan uang saja, jadi mana ada laki-laki yang mau denganmu jika kau seperti itu terus? Sekali-kali cobalah untuk berkencan, tidak ada salahnya kan untuk mencobanya?” ucap Changmin sembari mengetuk kening Yuri lagi dengan lembut.

“Yaa, Shim Changmin! Kau ingin mati ya?” kesal Yuri sembari mengelus-elus keningnya pelan.

Changmin hanya tersenyum lebar sembari mengeluarkan sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Yuri. “Ini kartu namaku, jika kau merubah pikiranmu untuk berkencan dengan laki-laki lain, aku akan mencarikannya untukmu.” Tawarnya.

Moya?” tanya Yuri tak percaya sembari mengambil kertas itu. “Tch! Aku tidak mungkin melakukannya, kau tahu itu.” Tambah Yuri sembari membaca kata-kata dikertas itu.

“Kenapa tidak? Aku akan mengatur segala sesuatunya untukmu, bagaimana? Setuju?” rayu Changmin. Ia sedikit tidak tega melihat teman lamanya itu belum juga merasakan hal namanya ‘kencan’.

“Aku akan memikirkannya lagi nanti.” Balas Yuri sembari menatap Changmin dan laki-laki itupun hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

Diwaktu dan ditempat yang sama, seorang laki-laki tengah mencari-cari temannya yang satu itu. Ia yakin, ia berada ditempat yang benar dimana temannya itu mengiriminya alamat pesan. Tetapi selama beberapa menit berlalu, ia belum juga menemukan temannya itu. Kedua matanya kembali mencari-cari sesosok yang dicarinya saat ini dan berhenti ditengah-tengah pusat buku. Matanya sedikit menyipit saat temannya itu tengah berbicara dengan seorang perempuan. Kyuhyun segera melangkahkan ke dua kakinya dengan cepat, bertepatan dengan perempuan itu berjalan pergi meninggalkan Changmin. Gadis itu sedikit menunduk dan mencari-cari sesuatu di dalam tasnya hingga rambut panjang gadis itu jatuh ke depan menutupi wajahnya.

“Yaa, Shim Changmin!” panggil Kyuhyun sedikit kesal—karena pergi tidak bilang-bilang—begitu ia hampir sampai dihadapan temannya itu. “Eishh, kau ini benar-benar…” ucapannya terpotong karena gadis yang berbicara dengan Changmin tadi menabrak tubuhnya tidak sengaja.

Jeoseongiyeyo.” Sesal gadis itu sembari menundukkan kepalanya beberapa kali dan pergi begitu saja tanpa menoleh atau melirik sedikitpun ke arah Kyuhyun. Kyuhyun sedikit menundukkan wajahnya, mencoba melihat wajah gadis itu tetapi tidak terlihat karena rambut gadis itu menutupi wajanya. Namun, ada ia sedikit keyakinan bahwa gadis itu seseorang yang ia kenal, tapi siapa?

“Yaa Kyuhyun-ah, ada apa?” tanya Changmin, membuyarkan lamunan Kyuhyun dan membuatnya teringat untuk memprotes sikap temannya itu yang suka menghilang sendiri. Kyuhyun kembali menatap Changmin dan menghampirinya.

“Yaa, kau ini. Kenapa kau tidak memberitahuku, huh? Tadinya aku ingin sekali pergi meninggalkanmu sendirian disini, jika saja aku tidak ingat berkasku ada padamu.” Kesalnya.

“Hahaha, maaf sekali tadi aku lupa padamu. Lagipula, kau terlihat serius sekali saat menelepon, jadi aku tidak ingin mengganggumu.” Jelas Changmin.

“Haishh, kau ini benar-benar lebih kejam dariku. Sudahlah, ayo kita pergi! Yonghwa sudah menunggu kita dikantornya.” Ajak Kyuhyun yang diikuti anggukan kepala dari Changmin.

***

“Eomma?” panggil Kyungsan lembut setelah mereka pulang dari toko buku dan ingin pergi tidur karena hari sudah berganti malam.

“Hm?” sahut Yuri malas-malasan sembari menepuk-tepuk punggung Kyungsan pelan.

“Bolehkah aku bertemu appa?” tanya Kyungsan hati-hati. Seketika gerakan tangan Yuri terhenti dan iapun terdiam. Inilah yang membuat Yuri selalu tidak bisa melupakan Kyuhyun dengan mudahnya, ia memang sangat bersyukur memiliki Kyungsan saat ini dari hasil buah cintanya, tetapi ia juga selalu tidak sanggup untuk bernapas kembali ketika laki-laki itu selalu ada dalam perbincangan mereka. Apa yang harus Yuri katakan kepada anaknya itu? Tidak mungkin ia memberitahu kejadian sebenarnya bukan? Tidak, Kyungsan masih terlalu dini untuk mengerti hal-hal seperti itu. Jadi, Yuri hanya bisa selalu mengatakan…

“Kyungsan-ie, appa sedang bekerja diluar kota sayang. Ia selalu sibuk sekarang-sekarang ini, jadi ia tidak punya waktu untuk kita. Kau ingin mengertikan?” pinta Yuri dengan penuh berharap.

“Apa appa tidak bosan bekerja terus? Apa appa tidak merindukan kita eomma? Bukankah appa sudah memiliki uang yang banyak sekarang? Jadi untuk apa bekerja keras lagi?” tanya Kyungsan beruntun.

Yuri menghela napas berat sembari menyungging sebuah senyuman diwajahnya. “Appa tidak akan membiarkan kita terlantar begitu saja, sayang. Ia tidak ingin kita dalam kesulitan lagi seperti waktu itu.” Bohong Yuri sembari memeluk erat anaknya itu, seolah-olah ia ingin melepaskan rasa sakit dihatinya.

“Lalu untuk apa eomma bekerja keras lagi? Kitakan sudah punya appa.” Sahut Kyungsan sembari menatap Yuri sedang memeluknya.

Yuri melepaskan pelukannya dan menatap Kyungsan lekat. Napasnya sedikit tercekat saat ia melihat ke dua bola mata anaknya itu. Ya Tuhan, mereka memiliki mata yang sama… “Tentu saja untuk membantu appamu.” Bohong Yuri lagi sembari memaksakan sebuah senyuman diwajahnya.

“Tapi eomma, selama ini aku belum pernah melihat appa sama sekali. Aku selalu merasa iri jika melihat teman-temanku sedang bersama appa mereka dan bermain bersama. Aku juga ingin seperti mereka, eomma. Eomma, ayo kita pergi melihat appa! Sekali saja, aku ingin berada di dalam dekapannya dan memanggilnya appa. Bisakan eomma?” pinta Kyungsan sedikit memohon dan merengek. Matanya sedikit memerah menatap Yuri.

Yuri menghela napas berat. Ia lalu menyentuh kedua tangan Kyungsan dan meremasnya pelan. Sebuah senyum paksa terlihat diwajahnya. “Sudah malam sayang, waktunya untuk tidur. Besok kau harus pergi ke sekolah.”

Kyungsan hanya mengangguk pelan dan menuruti ucapan ibunya itu. Walau rasanya ingin sekali menolak, tetapi ia juga tidak ingin melihat ibunya bersedih. “Mimpi indah, Kyungsan-ie.” Bisik Yuri lembut ditelinga anaknya itu lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Yuri lalu pergi meninggalkan kamar anaknya itu dan mematikan lampunya, ia segera berjalan menuju kamar miliknya sendiri.

“Maafkan eomma, Kyungsan-ah…” lirih Yuri, airmatanya jatuh begitu saja saat ia menutup pintu kamarnya sendiri.

***

Seorang laki-laki keluar dari mobilnya dengan kesal sembari membanting pintu kasar. “Aishh, ada apa dengan mobil ini? Kenapa selalu berhenti ditempat ini, huh?” gerutu laki-laki itu sembari menatap dan menendang kesal ban mobilnya. “Aish! Aku akan benar-benar telat sekarang!” kesal Kyuhyun lagi dengan kesal sembari menatap sekelilingnya.

Tempat ini cukup terpencil dan saat ini jarang ada taxi kosong karena ini bukan di Seoul yang hampir dua puluh empat jam selalu tersedia. “Jung Yonghwa! Kenapa kau suka sekali di Busan, huh?” gerutunya lagi. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.

Kedua mata anak kecil itu sedikit menyipit dan senyumnya melebar saat melihat sesosok laki-laki dewasa berada di depan gerbang sekolahnya. Ia berlari-lari kecil untuk mendekati laki-laki itu dengan senyum lebar diwajahnya. “Ap- ahjussi!” panggilnya ceria ketika sudah berada di dekat Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki berlari kearahnya dengan ceria sembari memanggilnya, untuk beberapa saat ia terdiam dan berpikir. Akankah bagusnya jika ia bisa mendengar anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan appa dan berlari kearahnya ketika ia pulang, menyambutnya dengan suka cita.

Seulas senyum tersungging diwajah Kyuhyun, ia lalu menekukkan lututnya untuk menyamai tinggi anak kecil itu. “Aku akan menunggumu disini, jadi cepatlah sedikit.” Sahutnya ditelepon sembari melihat anak kecil dihadapannya. Sebelum anak kecil itu datang, Kyuhyun sedikit terlibat perbincangan ditelepon tadi.

“Ahjussi! Apa yang kau lakukan disini?” tanya anak itu dengan ceria.

“Ahjussi baru saja ingin pergi ke kantor teman yang berada disini, tetapi mobilnya mogok. Bagaimana denganmu? Apa hari ini kau belajar dengan baik?” tanya Kyuhyun lembut sembari menaruh tangannya diatas kepala anak kecil itu lalu mengelusnya pelan.

Kyungsan mengangguk dengan semangat untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Ne ap- ahjussi! Aku tidak ingin mengecewaka kedua orangtuaku.” Balasnya sembari mengingatkan dirinya untuk tidak memanggil pria dewasa dihadapannya ini dengan sebutan appa.

“Anak pintar. Ayah dan ibumu pasti sangat bangga padamu.” Balas Kyuhyun diiringi sebuah senyuman diwajahnya.

“Benarkah ayahku akan bangga padaku?” ulang Kyungsan mencoba meyakinkan. Ia terlalu senang mendengarnya.

“Tentu saja, ayah mana yang tidak bangga pada anaknya?” balas Kyuhyun.

“Kalau begitu aku akan belajar lebih giat lagi!” serunya dengan bersemangat saat mendengar ucapan Kyuhyun barusan.

“Apa kau baru pulang sekolah? Dimana ibumu? Apa ia tidak menjemputmu?” tanya Kyuhyun sembari mencoba mencari-cari seseorang tetapi tidak ada siapapun disekolah itu selain anak kecil dihadapannya.

“Dia selalu telat untuk menjemputku karena pekerjaannya, tapi tidak apa-apa aku sudah biasa dengan hal seperti itu.” Jawab Kyungsan.

Kyuhyun menatap anak dihadapannya dengan sedikit iba dan merasa bersalah. Ingin sekali ia menggantikan posisi ibu anak itu untuk pergi mengantar dan menjemputnya tepat waktu, jadi ia tidak perlu menunggu. “Kalau begitu, bagaimana jika kita membeli es krim?” hibur Kyuhyun lalu bangkit dan menjulurkan tangannya pada anak kecil itu.

“Ahjussi yang mentraktirku kan?” sahut Kyungsan sembari menerima uluran tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan erat.

“Memang kau punya uang?” goda Kyuhyun sembari terkekeh. Orang-orang yang melihat mereka seperti itu pasti akan mengira bahwa mereka sepasang ayah dan anak.

***

Tepat pukul 14.30 KST, Yuri baru tiba disekolah Kyungsan dengan napas sedikit tersengal-sengal. Ia mendapati anaknya itu tengah memakan es krim ditangannya. Keningnya sedikit mengernyit saat melihat anaknya mendapat es krim. “Kyungsan-ie?” panggilnya lembut. Kyungsan menoleh dan mendapati ibunya tengah berjalan menghampirinya yang sedang duduk dibangku taman. “Maaf, eomma telat menjemputmu lagi.” sesal Yuri dan Kyungsan-pun hanya tersenyum kearah ibunya itu.

“Eomma! Aku mendapatkan es krim ini dari ahjussi yang kemarin.” Ucap Kyungsan yang sengaja tidak ingin memberitahukan siapa ahjussi itu sebenarnya. Tidak, ia terlalu takut jika eommanya tau dan melarangnya untuk bertemu dengan ahjussi itu.

“Ahjussi? Siapa?” tanya Yuri tidak mengerti.

“Ahjussi yang baik hati.” Jawab Kyungsan lalu kembali menikmati es krim miliknya. Dan Yuripun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan walau ingin sekali bertanya-tanya siapa ahjussi yang dimaksud anaknya itu tetapi ia tidak ingin terlalu mempermasalahkannya.

Kajja! Kita pulang!” ajak Yuri sembari mengulurkan tangannya dan Kyungsan menyambutnya dengan suka cita.

***

“Lee Donghae!” panggil Kyuhyun ketika ia melihat temannya itu ingin memasuki sebuah ruangan. Ia baru saja tiba dikantor temannya itu beberapa menit yang lalu. Donghae menoleh dan mendapati sahabatnya itu tengah berjalan menghampirinya. Dengan sigap, Donghae berjalan menghampiri meja sekretarisnya itu dan menyembunyikan papan nama milik gadis itu dibalik laci di dekat meja.

“Hoi, Cho Kyuhyun!” sapanya ramah dan berusaha menenangkan dirinya juga mengatur napasnya.

“Ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun penuh selidik saat melihat temannya itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

“Baik-baik saja. Bagaimana kabarmu saat ini?” tanyanya mencoba mengalihkan topik lalu berjalan lebih dulu menuju ruangannya.

Kyuhyun mengikutinya dari belakang. “Tidak terlalu baik, kau sendiri?” sahutnya. Ia lalu duduk disofa tamu diruangan Donghae.

Well, seperti yang kau lihat.” Jawabnya sembari mengendikan kedua bahunya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jessica?” tanya Kyuhyun sembari mengambil bantal sofa di dekatnya lalu memeluknya.

“Kami selalu baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan seseorang yang kau cari?” tanya Donghae berbasa-basi lalu membuka dan meminum minumannya.

“Belum, perempuan itu sulit ditemukan dimanapun.” Jawab Kyuhyun sembari menatap kosong meja dihadapannya. Donghae hanya mengendikkan bahunya acuh lalu kembali meneguk air mineral miliknya. “Terkadang aku berpikir…” jeda Kyuhyun sesaat lalu menatap Donghae dengan tajam. “Ada seseorang yang selalu membantunya untuk menutupi dirinya dan menghilangkan jejak.” Lanjut Kyuhyun dingin, tajam, dan dalam sembari menatap Donghae. Selama beberapa saat, Donghae merasa mati kutu dan kalah telak oleh sahabatnya itu. Donghae meneguk air mineralnya kembali dengan susah payah.

“Benarkah? Siapa orang itu?” tanyanya pura-pura tertarik dan tidak mengerti apapun.

“Seseorang. Seseorang yang memiliki kekuasaan yang hampir sama denganku, seseorang yang selalu mengawasi gerak-gerikku, seseorang yang selalu berada di dekatku maupun gadis itu.” Jelas Kyuhyun tajam. Tatapan matanya terkunci pada seseorang dihadapannya itu. “Dan aku rasa seseorang yang paling tepat dan benar itu adalah…” jeda Kyuhyun sembari menatap tajam sahabatnya itu. “Kau.” Lanjutnya.

Donghae hanya bisa diam tak berkutik mendengar semuanya dari Kyuhyun. Tetapi ia harus berpikir dan mencari akal, bagaimana caranya untuk mengelak saat ini? Dan satu-satunya cara adalah… “Hahaha, kau bercanda Cho Kyuhyun.” Tawanya berusaha senatural dan meyakinkan. “Mana mungkin aku melakukan semua hal yang kau sebutkan tadi itu?” tanya Donghae sembari mengendikan kedua bahunya. “Lagipula, untuk apa aku melakukan hal bodoh semacam itu?” kata-katanya itu benar-benar sama dengan apa yang dikatakannya beberapa tahun lalu, bedanya ia mengatakannya pada seorang perempuan yang waktu itu datang ke rumahnya dengan pakaian basah kuyup dan memohon agar ia melakukan sesuatu hal untuknya.

Kyuhyun sedikit menaikkan salah satu alisnya sembari menatap sahabatnya itu. “Entahlah, tetapi aku rasa ini semua ada hubungannya denganmu.” Jawab Kyuhyun pelan lalu mengusap wajahnya. Tidak, tidak, tidak mungkin Donghae melakukannya. Ia adalah sahabatmu sendiri, Cho Kyuhyun. Jadi mana mungkin ia akan diam saja melihatmu hampir putus asa setiap saatnya karena gadis itu? “Maafkan aku, Donghae hyung.” Sesalnya.

“Tidak apa-apa, Kyuhyun-ah. Santai saja.” Sahut Donghae mencoba bersikap tenang dan santai sembari menikmati air mineralnya.

***

Hari ini adalah hari ke-3 Kyuhyun tinggal di Busan, selama 3 hari itu pula Kyuhyun sibuk dengan urusan bisnisnya dengan Yonghwa. Terkadang ia harus bolak-balik ke kantor temannya itu untuk mengurusi semua surat dan urusannya dengan Yonghwa. Ini juga merupakan ke-3 kalinya mobil Kyuhyun berhenti di depan sebuah sekolah tak terlalu terawat dan kondisinya sedikit memprihatikan. Kyuhyun turun dari mobilnya dan mendapati seorang anak kecil tengah berlari menghampirinya dengan senyum manis diwajahnya. Kyuhyun menekukkan lututnya untuk menyamai tinggi anak itu dan menunggunya dengan senyuman diwajahnya.

“Ahjussi!” panggilnya semangat dan berhenti dihadapan Kyuhyun. “Kau datang lagi hari ini?” tanyanya dengan senang.

Kyuhyun mengangguk pelan sembari menatap anak kecil dihadapannya. “Hari ini adalah hari terakhirku di Busan, jadi sebelum aku pergi ke Seoul aku ingin melihatmu terlebih dahulu.” Jelas Kyuhyun sembari menyentuh kedua lengan Kyungsan.

Senyum diwajah Kyungsan pudar begitu saja saat mendengar penjelasan Kyuhyun. “A-apa ahjussi tidak akan kembali ke sini lagi?” tanya Kyungsan sedih.

“Ahjussi tidak tahu, tetapi jika punya waktu luang aku akan menemuimu.” Hiburnya sembari mengelus pucuk kepala Kyungsan dengan penuh kasih.

“Ahjussi, aku pasti akan sangat merindukanmu nantinya…” gumam Kyungsan sembari menatap Kyuhyun dengan berkaca-kaca.

“Ahjussi juga akan sangat merindukanmu nantinya, Kyungsan-ah.” Balas Kyuhyun sembari kembali mengelus pucuk kepala Kyungsan.

“Apa…” jeda Kyungsan. Sungguh, ia tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya itu tetapi ia juga tidak ingin mati penasaran karena pertanyaannya itu. “A-apa istri ahjussi menyuruh pulang hingga ahjussi harus pulang?” tanyanya pelan dan sedikit terisak.

Kyuhyun mengernyitkan keningnya saat pertanyaan itu keluar dari bibir anak itu lalu tersenyum pilu ketika mengingat seseorang. “Tidak, ahjussi belum menikah, nak.”

“Benarkah? Bukankah eomma bilang ahjussi telah menikah dengan orang lain?” balas Kyungsan dengan bersemangat dan tanpa sadar akan ucapannya.

Kening Kyuhyun kembali mengernyit saat Kyungsan kembali mengatakan hal yang aneh-aneh. Kyuhyun tertawa kecil sembari mengelus pucuk kepala Kyungsan lagi. “Benarkah seperti itu? Eomma-mu tahu darimana?”

“Aku juga tidak tahu…” jawab Kyungsan pelan.

“Kalau begitu, eomma-mu itu sok tau sekali. Hahaha…” sahut Kyuhyun lalu tertawa pelan. “Ingin bermain-main dengan ahjussi sebelum eomma-mu datang menjemput?” tawar Kyuhyun yang disambut dengan sebuah anggukan antusias dari Kyungsan. “Kajja!” ajaknya lalu bangkit berdiri dan menggenggam ringan tangan Kyungsan.

***

“Yaa, Shim Changmin!” protes Yuri pada temannya itu ketika laki-laki itu tengah mengatur kencan buta untuknya dan memukul lengan lelaki itu dengan sedikit keras.

“Aishh, Yaa Kwon Yuri!” protesnya sembari melindungi dirinya dari amukan kekesalan Yuri.

“Kau ini. Sudah aku bilangkan, aku tidak ingin berkencan dengan lelaki manapun!” ucapnya sembari menghentikan pukulannya dan menatap pria dihadapannya dengan kesal.

“Tapi selama dua puluh lima tahun ini kau belum pernah merasakan hal yang namanya berkencan, Kwon Yuri.” Elak Changmin bersikukuh pada pendiriannya itu untuk membuat temannya merasakan hal-hal yang dirasakan perempuan pada umumnya.

“Yaa, aku sudah punya anak!” sahut Yuri kesal, dan seketika kedua mata Changmin membelalak kaget menatap Yuri.

Mworago?” tanyanya.

“Aku sudah pernah berkencan, menjalin hubungan yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya, dan aku sudah memiliki anak sekarang. Kau puas sekarang?” jawab Yuri.

“Yaa, kenapa kau tidak memberitahuku, huh?” protesnya tidak terima.

“Apa kau menanyakan soal itu, huh?” sahut Yuri.

“Kalau begitu benar, kau sudah menikah dan tidak mengundangku.” Tebaknya lalu menyikut lengan Yuri pelan dengan sebuah senyum jahil diwajahnya.

“Hei, aku tidak bilang seperti itu kan?” sahut Yuri.

“Jadi kau benar-benar belum menikah, tetapi punya anak? Heol! Hebat sekali! Aku tidak pernah menyangka kau gadis seperti itu.” Ucap Changmin kagum. Sebuah jitakan mendarat dengan mulus dikepalanya. PLETAAKK!

“Kau cari matinya?” Kesal Yuri sembari menatap tajam.

“Yaaa, aishhh!” protes Changmin sembari mengelus-elus kepalanya. “Kalau begitu kenapa kau belum menikah? Kaukan sudah memiliki anak sekarang.” Lanjutnya, mengabaikan tatapan membunuh Yuri.

Yuri menghela napas berat dan panjang. “Orang tuanya mana mungkin merestui kami? Lagipula ia telah dijodohkan dengan perempuan lain.” Balas Yuri pelan dengan wajah tertunduk. Melihat Yuri yang seperti itu, Changmin merasa tidak enak hati padanya. Changmin menggaruk tengkuknya pelan yang tak gatal.

“Maaf, aku tidak tahu dan bermaksud melukaimu.” Sesalnya.

“Tidak apa-apa.” Sahut Yuri. “Aku permisi dulu, aku harus menjemput anakku sekarang.” Pamit Yuri sembari sedikit menundukkan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan Changmin dijalanan pinggir kota.

***

Tepat pukul 6 sore, Kyuhyun tiba dihalaman rumahnya. Ia telah kembali ke Seoul setelah hampir satu jam lebih ia berada dihelikopter miliknya. Bau khas kamarnya memenuhi seluruh rongga paru-paru miliknya. Aroma kamarnya ini sengaja ia pilihkan parfum yang Yuri pakai saat mereka masih bersama dulu dan ia terlalu enggan untuk mengganti wangi ini dengan yang lain. Kyuhyun merebahkan tubuhnya diranjang ukuran besar miliknya berselimut beludru merah marun. Bayang-bayangan Yuri dan dirinya saat melakukan kegiatan itu diranjang ini, terlihat jelas dalam benaknya seolah-olah baru sedetik yang lalu mereka melakukannya.

Rahang Kyuhyun mulai mengeras dan terasa haus. Ia butuh gadis itu untuk menghilangkan perasaannya itu. Ia butuh gadis itu untuk selalu disampingnya saat ini. Ia butuh gadis itu untuk menjadi pendamping hidupnya sampai kapanpun. Ia butuh… Ia butuh… Ia butuh… Ya Tuhan, ia benar-benar membutuhkan dan menginginkan gadis itu.

“Yuri-ya, dimana kau saat ini?” lirihnya. Salah satu airmatanya terjatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah.

***

Seperti biasa, ketika hari mulai menjelang malam Yuri selalu menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Menu makan malam hari ini tidak sama dengan yang sebelum-belumnya, tidak ada istimewa dan terlalu sederhana. “Kyungsan-ie, dari mana saja kau?” tanyanya ketika ia baru melihat anaknya itu kembali pulang setelah bermain-main dengan temannya. “Eishh, cuci tangan dulu sebelum makan.” Peringat Yuri ketika tangan Kyungsan baru saja ingin mengambil bibimbap di atas meja makan. Dan dengan patuh tanpa memprotes, Kyungsan menuruti ucapan ibunya itu.

“Kyungsan-ie, besok eomma mungkin pulang sedikit terlambat karena beberapa pekerjaan belum terselesaikan. Jadi, tidak apa-apakan kau dirumah bersama Leo—teman sepermainannya—?” tanyanya ketika Kyungsan telah kembali dan duduk dikursi meja makan miliknya.

Kyungsan hanya mengangguk pelan sembari menyambar bibimbap yang tak sempat ia ambil tadi. Sekelebat rencana terlintas diotaknya untuk melakukan beberapa hal selama menunggu ibunya pulang besok. Tidak mungkinkan dia hanya akan bermain bersama temannya itu? Tidak, tidak, ia tidak terlalu suka menghabiskan waktunya untuk hal-hal seperti itu.

“Apa eomma menitipkanmu pada Jung ahjuma saja?” gumam Yuri sembari berpikir, dan Kyungsan hanya mengendikkan kedua bahunya saja. Terserah eommanya ingin melakukan apa, yang terpenting adalah ia akan melakukan rencananya itu.

***

Kyuhyun sedikit mengerang kesal saat sinar matahari pagi mencoba masuk ke dalam kamar dan mengganggu tidurnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba kembali tertidur lagi tetapi sepertinya keinginannya itu harus ditunda dulu ketika bunyi ponsel miliknya berdering. Kyuhyun mendecakkan lidahnya sebal sembari membuka kedua matanya, lalu meraih ponselnya yang berada di atas laci meja kecil miliknya.

Kim JongWoo calling. Kening Kyuhyun sedikit mengernyit lalu tanpa menunggu lagi ia segera menggeser layar sentuh miliknya. “Halo?” sapa Kyuhyun dengan nada sedikit serak karena kemarin ia langsung tertidur tanpa menyentuh makanan maupun minuman.

“Halo, Kyuhyun-ssi. Ada kabar baik untukmu saat ini.” Sahut JongWoo ditelepon diiringi sebuah senyum senang diwajahnya sembari memain-mainkan secangkir kopi hangat dimeja. Ia saat ini tengah berada dikafe dengan menggunakan pakaian santai untuk membuatnya nyaman melakukan tugasnya.

“Apa? Aku harap kau tidak lagi mengecewakanku kali ini, JongWoo-ssi.” Sahutnya dengan malas namun berdebar-debar untuk mendengarkan informasi yang akan dikatakan temannya itu.

“Tenanglah, kali ini tidak. Tentang gadis itukan? Gadis yang kau perlihatkan fotonya beberapa minggu yang lalu.” Balas Yesung santai lalu kembali menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Kyuhyun menghela napas berat ketika seseorang yang berarti dalam hidupnya terlibat perbincangan mereka. “Apa kau menemukannya?” tanya Kyuhyun sedikit lemas.

Well, tidak juga. Tetapi datanglah ke alamat yang aku kirimkan padamu setelah ini. Aku akan menunggumu disini, itupun juga jika kau tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya seperti waktu itu.” Jawab Yesung, sedikit acuh dan berpikir. Ia kembali melihat foto seseorang ditangannya dan memperhatikannya lekat-lekat.

“Untuk apa aku harus datang jika kau tidak tau keberadaannya?” tanya Kyuhyun dingin sembari berjalan menuju lemari pakaiannya.

“Kalau begitu, kau akan menyesal nantinya. Dan jangan salahkan aku, kenapa aku tidak memberitahukanmu tentang ini.” Sahut Yesung tegas namun santai. Baru juga Kyuhyun ingin menyahuti ucapan Yesung barusan, tetapi laki-laki itu telah mengakhiri pembicaraan mereka membuat Kyuhyun sedikit kesal dan mengambil dengan kasar salah satu pakaiannya.

1 New Massage

Kafe KJW’s, Busan.

***

Pagi-pagi sekali Donghae sudah berdiri menunggu Yuri di depan rumah gadis itu. Yuri tersenyum ramah saat mendapati sahabatnya itu tengah menunggunya. “Maaf membuatmu menunggu, aku harus menyiapkan segala sesuatunya untuk Kyungsan nanti.” Jelas Yuri begitu ia sudah berdiri di depan Donghae.

“Tidak apa-apa, aku mengerti. Sekarang kita berangkat saja, aku takut kita terlambat nantinya.” Ucapnya sembari membukakan pintu sisi kemudi untuk Yuri.

“Terima kasih.” Balasnya sembari masuk ke dalam mobil. Segera setelahnya Donghae menutup pintu dan berlari kecil kearah kursi kemudi untuk mempersingkat waktu.

“Memangnya kita akan rapat dimana?” tanya Yuri saat Donghae telah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

“Seoul.” Jawab Donghae singkat dan berhasil menutup mulut gadis itu dengan kepala tertunduk. “Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, ini sudah terlalu lama kau bersembunyi darinya.” Ucapnya mencoba menghibur dan meyakinkan sahabatnya itu.

“Tidak, aku sedang tidak bersembunyi dari siapapun Lee Donghae. Aku sudah mengatakannya beberapa kali padamu.” Tegas Yuri sembari menatap Donghae tajam dan kesal. Ia tak suka juga tak mau untuk pergi ke Seoul.

“Baiklah, baiklah. Kita pergi ke sana untuk pekerjaan Kwon Yuri, bukan untuk berkenang ria masa lalu.”

“Aku tahu.” Sahut Yuri sembari memalingkan wajahnya. “Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya saja.” Tambahnya pelan. Bohong, itu bohong. Rasa sakit dihatinya kembali menguak. Perlahan-lahan tapi pasti, rasa rindu itu ingin membunuhnya.

Donghae menghela napas panjang dan berat mendengar sahabatnya berkata seperti itu. “Lalu, sampai kapan kau akan seperti ini? Sampai kapan kau akan menjauhkan Kyungsan dengan ayahnya, huh?”

“Kyungsan tidak membutuhkannya.” Sahut Yuri pelan. Pandangannya mulai kabur karena air matanya tertahan dipelupuk.

***

Busan, South Korea

11.00 PM

Kyuhyun baru saja tiba dikafe tempat Yesung janjikan setelah ia mendarat dan menggunakan mobil pribadinya untuk sampai ke sini. Kyuhyun sempat mencari keberadaan temannya itu sebelum Yesung melambaikan tangan ke arahnya dan berjalan menuju tempat laki-laki itu berada. “Jadi, ada berita apa?” tanya Kyuhyun buru-buru saat ia telah duduk dihadapan Yesung.

“Kau terlalu lama. Hampir lima jam aku menunggumu.” Sahut Yesung cuek sembari menatap jam ditangannya.

“Kau pikir jarak tempuh menuju kesini sangatlah singkat?” balas Kyuhyun sedikit kesal.

“Terserahlah.” Acuhnya lalu memberikan Kyuhyun sebuah amplop besar berwarna coklat. Kening Kyuhyun sedikit mengernyit saat temannya itu menyodorkan amplop tersebut. “Waktuku sudah hampir habis disini. Kirimkan nominalnya ke dalam rekeningku sesuai perjanjianmu. Satu lagi, aku mengumpulkannya dari beberapa sumber. Yaah, mungkin beberapa diantaranya sedikit palsu dan asli. Itu kau sendiri yang memutuskan berita mana yang benar dan salah.” Ucapnya sembari bangkit berdiri dari duduknya dan menatap Kyuhyun datar. “Aku akan menunggumu. Karena aku masih banyak pekerjaan lainnya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, kawan.” Pamitnya sembari menepuk-nepuk bahu Kyuhyun pelan dan tersenyum sekilas lalu berjalan pergi meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya terdiam mematung sembari menatap dan memegangi amplop besar itu. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Detik berikutnya setelah ia bergulat dengan dirinya sendiri untuk membuka atau tidak, Kyuhyun akhirnya memilih untuk membukanya perlahan-lahan.

“Ahjussi!” panggilan itu menghentikan gerakannya dan membuatnya menoleh ke asal suara itu. Kyuhyun tersenyum senang saat melihat seorang anak laki-laki tengah tersenyum lebar dan berlari ke arahnya. Ia kembali menaruh amplop itu di atas meja dan melupakan segala sesuatunya.

“Kyungsan-ah?” sapanya sembari mengangkat tubuh anak itu ke atas pangkuannya ketika Kyungsan berada disampingnya.

“Ahjussi, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya antusias dengan kedua mata berbinar-binar. “Bukankah seharusnya ahjussi berada di Seoul?”

“Ahjussi sedang ada urusan disini. Lalu bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun sembari menyunggingkan senyuman diwajahnya.

“Aku pergi bersama Jung ahjuma untuk membeli es krim kesukaanku.” Jawab Kyungsan sembari menunjuk seseorang dengan jari telunjuknya diantara antrian kasir. Kyuhyun mengikuti arah jari telunjuk anak itu dan melihat seseorang dengan sekilas lalu kembali menatapnya.

“Kau ini suka sekali dengan es krim.” Ucap Kyuhyun hangat sembari mengelus pucuk kepala Kyungsan.

“Karena eommaku juga sangat menyukainya.” Sahutnya yang membuat senyum Kyuhyun semakin melebar.

“Sepertinya kau sangat menyayangi eomma-mu ya?”

“Aku juga menyayangi appa.” Jawab Kyungsan sendu sembari menatap Kyuhyun lekat. Kyuhyun hanya tersenyum mendengar jawaban dari anak itu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, apakah anaknya itu selalu menanyakan keberadaan ayahnya? Apakah anaknya menyayangi dirinya? Apakah anaknya itu akan menerimanya sebagai ayah nantinya? Oh ya Tuhan, aku ingin bertemu dan memeluk mereka berdua.

***

Seoul, South Korea

16.01 KST

Donghae dan Yuri baru saja tiba di Seoul. Mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju ruang rapat yang sudah ditentukan. Begitu mereka sampai ke dalam gedung perusahaan, beberapa pegawai dan sekretaris telah menunggu mereka juga menyambut ke datangannya dengan hangat. Seseorang sekretaris mengantarkan mereka menuju ruang rapat.

“Maaf, kami sedikit terlambat.” Sesal Donghae sedikit menundukkan kepala saat mereka telah memasuki ruang rapat dan mendapati beberapa investor terbesar telah duduk juga menunggunya.

“Tidak apa-apa, Tuan Lee. Beberapa orang masih juga belum datang.” Sahut Direktur Choi sebagai kepala kedua pemegang rapat saham ini.

“Siapa?” tanya Donghae ketika ia telah duduk dikursi samping direktur itu yang sudah disiapkan.

“Kyuhyun, siapa lagi?” balas Siwon santai lalu kembali memainkan ponselnya. Yuri dan Donghae saling terdiam. Gadis itu menundukkan wajahnya sembari mencoba berpikir.

Tidak, jangan sekarang. Aku tidak ingin sakit untuk ke dua kalinya.

“Maaf semuanya, aku sedikit terlambat.” Semua orang menoleh ke sumber suara itu tetapi tidak semua. Hanya satu. Satu orang saja yang tidak melakukannya. Jantung Yuri berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia mengenali suara itu. Sangat. Tidak ada yang bisa Yuri lakukan selain… diam.

***

“Kyungsan-ah, ayo kita pulang! Ibumu pasti sebentar lagi akan menjemputmu.” Ajak bibi Jung saat mereka berdua tengah berada ditaman bermain dekat rumah. Kyungsan menggelengkan kepalanya pelan sembari memain-mainkan ayunan yang ia naiki. “Yaa, ini sudah hampir gelap. Kau tidak takut disini sendirian?” rayunya, berusaha agar anak itu menurutinya.

“Ahjuma?” panggilnya pelan dan penuh misterius sembari memikirkan sesuatu.

“Ada apa?” sahutnya.

Kyungsan menghentikan ayunan dengan kakinya lalu menolehkan wajahnya ke arah bibi Jung. “Kau mengenal paman yang tadi itukan?” tanyanya, kedua matanya sedikit menyipit untuk memastikan raut wajah maupun perkataan yang akan dikatakan oleh bibinya itu.

Bibi Jung menghela napas berat dan panjang. Apa yang harus dikatakannya kepada Kyungsan? “Kyungsan-ah…” panggilnya sedikit lirih.

***

“Kau?” tanya suara itu dengan sedikit terkejut yang ditujukan oleh seseorang. Seseorang yang tidak pernah ia sangka akan bertemu lagi. Seseorang yang ia sangka tidak mungkin berada dihadapannya saat ini. Seseorang yang—hei, bagaimana bisa orang itu berada disini?

Yuri terdiam, menutup kedua matanya erat-erat, menggigit bibir bawahnya, dan merutuki dirinya sendiri tanpa henti. Ohh, benar-benar sial!

“Kwon Yuri, apa yang kau lakukan disini?” ulang orang itu lagi sembari duduk dikursi direktur utama rapat kali ini dengan sedikit heran.

Yuri tak bergeming. Sungguh, ia tidak ingin mengatakan apapun saat ini. “Yuri-ya, tenanglah.” Bisik Donghae pelan sembari mengelus-elus kedua tangan Yuri yang berada dibawah meja.

Tenang? Bagaimana bisa aku tenang dalam keadaan seperti ini? Gerutunya dalam hati. “Hei, tidak apa-apa. Coba bukalah kedua matamu dulu.” Bujuk Donghae lembut sembari mencoba meyakinkan Yuri.

Oh, Lee Donghae… teman macam apa kau?

“Baiklah, rapat akan segera kita mulai. Maaf atas ketidakhadiran Cho Kyuhyun selaku CEO utama disini, ia memiliki beberapa urusan saat ini jadi aku yang menggantikannya. Kenalkan aku Shim Changmin, orang kepercayaan Kyuhyun. Senang berkenalan dengan kalian, semoga kita bisa menyelesaikan proyek ini dengan hasil terbaik.” Ucap Changmin membuka rapat pembukaan hari ini. Kedua mata Yuri perlahan-lahan terbuka dan ia menoleh ke arah laki-laki itu yang saat ini tengah sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.

Changmin? Kalau begitu… dimana Kyuhyun? Tubuh Yuri sedikit bergetar karena rasa takut yang luar biasa membayangkan suatu hal. Ohh, tidak. Itu tidak boleh terjadi!

***

Pukul 8 tepat, Kyuhyun tiba di Seoul dan disambut oleh para maid dirumahnya. Ia hanya melanjutkan langkahnya dengan dingin dan angkuh tanpa memedulikan orang-orang yang menyambutnya.

Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah kaki lebar sembari menggenggam amplop coklat yang tadi diberikan Yesung. Kyuhyun belum sempat membukanya sejak tadi, ia terlalu sibuk dengan pikiran-pikirannya saat ini. Kyuhyun mengunci pintu kamar dan langsung duduk begitu saja disofanya sembari membuka tali amplop dengan sedikit terburu-buru.

Kyuhyun mengeluarkan isi dari amplop itu, sebuah catatan laporan yang dilampirkan data akurat didalamnya. Kyuhyun membuka dan membacanya dengan cermat pada setiap tulisan-tulisan.

Name                                 : Kwon Yuri

BOD                    : Seoul, 5 December 1989

Gender              : Women

Status                : Single / Married yet

 

Warga negara Korea Selatan, bertempat tinggal di Seoul sebelum pindah ke Busan sejak 2006 lalu. Bekerja sebagai sekretaris pribadi di Lee’s Corporation. Ia tinggal di Busan sejak 7 tahun yang lalu karena suatu insiden. Dikabarkan wanita ini hamil diluar nikah dan mengalami keguguran saat usianya 7 bulan. Rumah sakit yang menampungnya saat itu adalah Busan Hospital di daerah distirk dekat kota. Dikabarkan pula wanita ini kabur dari pernikahannya karena ia tidak mencintai atau menyetujui orangtuanya untuk menikah dengan sang calon mempelai pria. Dan ia memilih kabur dengan laki-laki lain yang ia cintai. Mereka hidup bersama selama 7 tahun terakhir ini secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun.

Napas Kyuhyun tercekat dan rahangnya sudah sangat mengeras ketika membaca sebuah kata …Lee’s Corporation. Tetapi dirinya merasa terhempaskan ke dasar jurang dengan paksa tanpa ampun ketika membaca …mengalami keguguran.

Hasil laporan itu jatuh begitu saja dari tangannya. Ya Tuhan… ya Tuhan… ya Tuhan, ini semua…bohongkan?

***

“Sungguh, aku merasa sedikit kecewa sekali padamu.” Gumam seorang laki-laki padanya sembari menyusuri jalanan pinggir kota Seoul dimalam hari. Gadis itu hanya sedikit menundukkan wajahnya sembari menikmati bubble ice yang beberapa menit lalu mereka beli. “Yaa,” panggilnya pelan lalu menghentikan langkahnya dan menatap gadis disampingnya itu dengan tatapan tidak mengerti. Gadis itu hanya mengernyitkan keningnya sembari terus meminum minumannya tanpa mengatakan apapun, seolah-olah dari raut wajahnya ia sudah mengatakan ‘ada apa?’. Laki-laki itu diam sejenak, menutup kembali bibirnya, lalu kembali membukanya. “sejak kapan kau hidup dengan penuh misteri seperti ini?” lanjutnya.

“Yaa, Shim Changmin! Sudahlah, tidak usah kau mempermasalahkannya. Aku bekerja dengan Donghae sebagai sekretarisnya sudah—well ya, cukup lama. Dan haruskah aku memberitahumu?” sahut Yuri, menatap Changmin dengan salah satu alisnya yang terangkat.

“Hm, tidak juga. Hanya saja bukankah Donghae sahabat Kyuhyun? Dan aku dengar kau dulu pernah bekerja bersama Kyuhyun? Lalu kenapa tiba-tiba sekarang kau bekerja dengan Donghae?” tuntutnya dengan kedua alis yang hampir menyatu.

Yuri menghela napas pendek. “Aku bekerja dengan Kyuhyun itu masa lalu, Shim Changmin. Di hidup ini, tidak ada yang namanya tiba-tiba jika kau ingin tau. Aku bekerja dengan Donghae bukan karena tiba-tiba melainkan memang karena waktu. Waktu yang membuatku seperti sekarang. Waktu yang membuatku berpikir dan memutuskan hal apa saja yang harus aku lakukan. Waktu yang setiap saatnya tidak pernah ku pahami hingga saat ini.” Tutur Yuri sembari menatap kosong pada jalanan aspal dan pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun lalu.

“Apa bekerja dengan Kyuhyun, gaji kau begitu kecil? Tsk! Laki-laki itu memang sangat pelit terhadap teman sahabatnya sendiri.” Gumam Changmin sembari menggelengkan kepalanya pelan.

Yuri menoleh dan menatap Changmin dengan senyum kecil. “Ini bukan masalah uang, Shim Changmin. Ini masalah waktu, aku sudah bilangkan tadi?” tegas Yuri mengingatkan. Changmin diam, ia tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud temannya itu. Yuri memalingkan wajahnya, menatap sekelilingnya dengan pandangan sedikit kabur. Ia menghela napas pendek. “Tiga hari ini berada disini pasti akan sangat membosankan.” Ucapnya pelan dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.

***

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 23 menit malam dan Kyuhyun masih berada di dalam helikopternya menuju Busan. Semua berkas yang diberikan Yesung tadi membuatnya benar-benar hampir gila! Kyuhyun mempererat genggamannya pada berkas itu hingga meninggalkan tanda cengkraman kuat disalah satu sisi.

Kyuhyun sudah memesan kamar hotel untuk menginap selama beberapa hari. Saat ini ia benar-benar bertekad akan menemukan Yuri dan anaknya, apapun yang terjadi. Oh, sungguh! Persetan dengan data akurat yang diberikan Yesung kepadanya. Toh, ia tidak akan memercayainya sama sekali.

Kyuhyun menaruh berkas itu diatas meja dekat ranjang dengan sedikit kasar dan menjatuhkan tubuhnya dikasur. Perlahan-lahan, ia mulai tertidur. Salah satu kertas dalam berkas itu sedikit keluar hingga terlihat jelas sekali tulisan diatasnya.

 

Name                                 : Kwon Yuri

DOB                    : 5 December 1989

Status                : Single parents / Married yet

Yuri memiliki seorang anak laki-laki yang saat ini tengah bersekolah. Anaknya dikabarkan lahir normal dirumah sakit Busan Hospital pada malam Kamis, 8 Oktober 2006…

 

***

Kyuhyun terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi ponsel miliknya. Ia mendecak kesal sebelum mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa peneleponnya. “Halo?”

“Kyuhyun-ah, datanglah ke Seoul. Ku dengar kau berada di Busan sekarang. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang hari ini.” Ucap Changmin antusias disebrang sana.

“Kau bercanda? Aku tidak bisa, lain kali saja. Aku sedang sibuk sekarang.” Ucap Kyuhyun kesal dan setengah sadar. Aish, temannya itu kenapa harus meneleponnya dipagi buta seperti ini? Padahal ia baru saja tiba dan merebahkan tubuhnya beberapa menit yang lalu.

“Yaa, apa kau masih ingin tidur sekarang?” tebaknya. “Yaa, bangunlah! Kau tidak lihat jam berapa sekarang, huh?” kesal Changmin. “Lagipula, aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang—”

“Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, akan ku tutup.” Putus Kyuhyun dan sambunganpun berakhir. Sungguh, pembicaraan dipagi buta yang tidak penting. Detik berikutnya, Kyuhyun kembali memejamkan kedua matanya dan mencoba tidur. Ia lelah, sungguh. Ia butuh waktu untuk istirahat lebih, sungguh. Ia bahkan tidak habis pikir dengan dirinya yang tidak tau waktu, sungguh.

Bayangan Yuri kembali memenuhi benaknya. Ia bahkan dapat merasakan suara tawa renyah gadis itu, melihat cantiknya senyuman diwajahnya, tatapan mata yang sangat menggoda bagi Kyuhyun, dan bau harum juga hangat tubuhnya dapat ia rasakan. Seolah-olah,  dapat ia rasakan. Seolah-olah, Yuri benar-benar di dalam dekapannya.

Satu kata yang terlintas dan Kyuhyun ucapkan pada gadis itu, bodoh. Lalu air matanya jatuh begitu saja tanpa ia sadar.

***

Lagi. Entah mengapa hatinya ingin sekali kembali ke tempat ini, menanti seseorang berlari kearahnya dengan senyum ceria menyambut ke datangannya. Dan benar saja, seorang bocah laki-laki berlari kearahnya saat melihat Kyuhyun tengah berdiri di depan gerbang sekolah. “Ahjussi!” sapanya semangat ketika sudah hampir tiba dihadapannya.

“Kyungsan-ah!” sahut Kyuhyun tak kalah antusias dengan bocah itu. Kyuhyun sedikit berjongkok untuk menyamai tinggi mereka. “Ingin jalan-jalan sebentar, sebelum eomma-mu datang menjemput?” tawar Kyuhyun. Entah perasaan apa, yang jelas ia ingin sekali menghabiskan waktunya bersama bocah lelaki itu.

Kyungsan mengangguk dengan antusias. “Mau! Kajja!” sahutnya antusias sembari menggandeng tangan Kyuhyun.

“Cho Kyungsan?” panggil seseorang dengan lembut yang berada tak jauh dari mereka berdiri.

Keduanya saling menoleh dan mencari asal suara tersebut. Kedua mata Kyuhyun membulat kaget saat mendapati seorang perempuan berdiri tak jauh darinya. Ia sedikit menatap tidak percaya saat melihat gadis itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dan perempuan itu sudah sedikit berubah. Rahang Kyuhyun sedikit mengeras dan napasnya sempat tercekat saat melihat perempuan itu.

“Bibi Jung?”

“Jessica?”

Panggil keduanya dengan tidak percaya, sedangkan perempuan yang dipanggil hanya terdiam kaku ditempatnya. “K-kyuhyun… oppa?” panggil Jessica pelan.

“Bibi, apa yang kau lakukan disini? Dimana eomma?” tanya Kyungsan, karena dari kemarin ia belum juga bertemu dengan ibunya itu. Kyungsan bahkan harus menginap dirumah Jessica dan ketika paginya ia juga tidak diantar ibunya.

Jessica tersenyum kaku sesaat sebelum menjawab pertanyaan Kyungsan lalu berjalan mendekatinya kemudian sedikit berjongkok. “Kyungsan sayang, ibu sedang ada pekerjaan diluar kota. Jadi selama ibumu bekerja, kau bersama bibi, kau mengertikan?” jelasnya lembut.

“Apa eomma pergi bersama Donghae samchon?” tanya Kyungsan lagi sedikit cemberut dan tak melepaskan genggamannya dari tangan Kyuhyun. Entah mengapa kepala Kyuhyun terasa sedikit pening dan tatapannya menjadi tidak fokus. Eomma? Bersama Donghae?  Kyungsan dan Jessica? Yuri? Rasanya benar-benar membuat otaknya harus bekerja lebih keras lagi untuk mencerna ini semua. Apakah ini semua ada hubungannya dengan Yuri… atau tidak?

Jessica mengangguk pelan. “Kajja, kita pulang!” ajaknya lalu bangkit berdiri.

Ania, aku ingin pergi bermain bersama Kyuhyun ahjussi!” rengek Kyungsan sembari merapatkan tubuhnya ke sisi Kyuhyun dan menggenggam tangan pria itu dengan erat.

“Kyungsan-ah?” panggil Jessica. “Kau ingatkan, pesan ibumu?”

“Tidak mau!” tolak Kyungsan lagi.

Kyuhyun sedikit mengernyitkan keningnya sesaat sembari berpikir. “Ka-u… sahabatnya Yuri kan?” tanyanya mencoba memastikan.

Jessica lalu menoleh dan menatap Kyuhyun dengan dingin. “Lalu?”

“Ka-u… tau dimana Yuri sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Dimana ia tinggal sekarang? Bisakah kau memberiku alamatnya?” tanya Kyuhyun khawatir dan bertubi-tubi.

Jessica menatap tajam kearah Kyuhyun lalu berdeham pelan. “Aku tidak tau.” Jawabnya singkat, ketus, dan dingin.

“Jessica-ssi!” panggil Kyuhyun sedikit menuntut jawaban lebih, membuat gadis itu kembali menoleh kearahnya. “Kau tau kan dimana Yuri sekarang? Beri tau aku! Ijinkan aku bertemu dengannya, ya? Ku mohon!” pintanya dengan sangat.

“Aku sudah bilang padamu, aku tidak tau.” Tegas Jessica dengan angkuh. Lalu sedikit menarik paksa Kyungsan dari Kyuhyun. “Kyungsan-ah, ayo kita pergi!” ajaknya dengan terburu-buru dan pergi meninggalkan Kyuhyun dibelakang.

“Bibi, aku tidak mau! Lepaskan aku!” rengek Kyungsan dengan air mata yang mengalir. “Ahjussi! Ahjussi! Tolong aku!” pintanya pada Kyuhyun.

Kyuhyun baru saja ingin melangkahkan kedua kakinya untuk menolong Kyungsan dan meminta penjelasan lebih pada gadis itu tetapi terhenti saat bunyi ponsel terdengar ditelinganya. Ia lalu mengambil ponselnya itu dan melihat layar.

Shim Changmin calling

***

“Bibi, kenapa kau jahat sekali padaku?” tanya Kyungsan dimobil saat telah berada dijalan dan menuju ke suatu tempat.

“Kyungsan-ah, aku mohon diam dan mengertilah. Ini bukan saatnya kau mengacaukan semuanya.” Pinta Jessica memohon sembari mengemudikan mobil.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh bersama ahjussi tadi? Bibi bilang kemarin, tidak mengenalnya. Lalu kenapa tadi bibi bersikap seperti itu? Dan lagi, kenapa ahjussi itu mengenal bibi? Ahjussi itu bahkan menanyakan tentang eomma.” tanya Kyungsan tak mau kalah. Bagaimanapun ia tidak terima dipisahkan oleh ayahnya lagi.

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, suatu saat nanti jika kau sudah besar dan eomma-mu mengijikannya, aku akan menceritakan semuanya padamu. Bagaimana?” tawar Jessica sembari sesekali menatap Kyungsan lalu fokus ke jalanan.

Kyungsan menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, ia sudah tau beberapa hal. Hanya saja ia benar-benar ingin menuntut lebih dan menyelesaikan masalah orang dewasa ini. Tetapi, karena ia mengingat ibunya itu, akhirnya ia memutuskan… “Baiklah, terserah saja.”

Seulas senyum puas tersungging diwajah Jessica, setidaknya mereka tidak lagi harus bertengkar kecil ataupun ia tidak perlu mencari-cari alasan untuk menutupinya.

***

Dengan enggan Kyuhyun turun dari mobilnya dan melangkahkan kedua kakinya itu menuju gedung perusahaan miliknya. Jika saja sahabatnya itu tidak cerewet mengenai berbagai hal proyek yang mereka kerjakan, mungkin ia terlalu malas kembali ke Seoul. Ia mengambil ponsel miliknya dari saku dan mencari-cari kontak seseorang lalu menghubunginya.

“Kau dimana sekarang?” tanyanya, begitu sambungan terhubung. “Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Dan sambunganpun terputus.

***

Yuri merenggangkan tubuhnya saat rasa lelah menghinggapinya. Sudah hampir seharian ini ia bekerja dan ia belum istirahat sama sekali.

“Kau masih bekerja?” tanya Donghae saat lewat dan ingin masuk ke ruang kerja sementara, karena mereka—lebih tepatnya untuk Donghae—adalah tamu istimewa ditambah salah satu sahabat terbaik Kyuhyun jadi mereka mendapatkan ruangan khusus untuk bekerja selama proyek ini berlangsung.

Yuri menoleh dan tersenyum simpul. “Seperti itulah.” Jawabnya. Donghae baru saja ingin membuka pintu ruangannya, tetapi ditahan oleh Yuri. “Tunggu!” serunya, membuat Donghae berhenti dan menatap kearahnya. “K-apan Kyuhyun sajangnim akan kembali?” tanyanya takut-takut dan mencoba memastikan.

Donghae tersenyum lembut. “Tidak tau. Kami belum menghubungi satu sama lain sejak kita datang kemari. Jangan khawatir, nikmati saja waktumu disini. Syukur-syukur kalian bisa bertemu nantinya, siapa yang tau kan?” goda Donghae yang dibalas dengan tatapan tidak terima dari Yuri, dan ia pun masuk begitu saja ke dalam ruangan saat gadis itu ingin membalas atau sekadar memprotes ucapannya.

“Aishh, benar-benar!” gerutunya kesal.

***

Jessica tiba ditempat tujuannya pukul 4 sore, dan dengan senyum mengembang diwajahnya ia menghubungi seseorang. “Yuri-ya, turunlah sebentar! Aku datang kemari bersama Kyungsan.” Ucapnya begitu sambungan terhubung dengan suara cerianya. “Tentu saja benar! Kyungsan terus rewel dan memintaku untuk mempertemukan kalian. Sudahlah, cepat kemari! Aku akan berada dilobi, ah tidak! Ditaman saja, cepatlah datang!” jelasnya lalu menutup sambungan tersebut dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangannya. “Kyungsan-ah, ayo pergi menemui ibumu!” ajaknya antusias dengan senyum manis diwajahnya.

Jinja?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Jessica menganggukkan kepalanya pelan. “Hm, kajja!”

Diwaktu dan tempat yang sama, Yuri mengambil tasnya dengan sedikit terburu-buru sembari mematikan PCnya. Ia lalu mengenakan mantel hitam sembari menatap lurus kearah PCnya untuk memastikan bahwa benda itu benar-benar telah dalam keadaan mati.

Sebuah pintu terbuka dan menampakkan seseorang. Donghae menatap Yuri dengan kening sedikit mengernyit. “Ada apa denganmu? Kenapa kau terburu-buru sekali?” tanyanya penasaran.

“Oh, Donghae-ya! Istrimu dan Kyungsan ada dibawah sekarang.” Jawab Yuri sembari merapikan rambut dan mantelnya. Setelah merasa rapih, ia ingin segera pergi menemui anaknya itu.

“Tunggu!” cegah Donghae dengan salah satu tangan mengambang diudara, mencoba menahan Yuri. Yuri menoleh dan menatap sahabatnya itu. “Apa Jessica ada dibawah?” tanyanya mencoba memastikan dan disahuti dengan anggukan kepala dari Yuri. “Untuk apa?” tanyanya lagi.

“Kyungsan merindukanku, dan ia sudah rewel dari kemarin.” Jawab Yuri lalu kembali melanjutkan langkahnya yang diikuti Donghae dibelakangnya.

“Tunggu, aku ikut!” sahutnya dengan langkah sedikit tergesa-gesa.

***

“Eommaa!” panggil Kyungsan senang saat melihat Yuri tengah berjalan kearahnya. Bocah itu sedikit berlari menghampiri ibunya itu. Yuri merentangkan kedua tangannya untuk bersiap-siap memeluk anaknya itu dengan senyum mengambang diwajahnya sembari berjongkok.

“Kyungsan-ah!” panggil Yuri, saat anaknya telah berada di dalam pelukannya. “Eomma sangat merindukanmu, sayang.” Ucapnya sembari mempererat pelukannya. Kyungsan melepaskan pelukan mereka dan menatap ibunya itu.

“Eomma, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pulang? Aku hampir tidak bisa tidur karena menunggumu semalaman.” Ceritanya.

Yuri tersenyum lembut. “Maafkan eomma, sayang. Tetapi, pekerjaan eomma yang satu ini tidak bisa ditinggalkan.” Jelasnya lalu mencium salah satu pipi Kyungsan. “Apa kau tidak bisa tidur dengan baik kemarin?” tanyanya yang dibalas anggukan dari anaknya itu. “Aigu, kasihan sekali anak eomma satu ini.” Goda Yuri lalu tertawa pelan.

“Eomma, bagaimana kalau kita beli es krim? Aku ingin es krim!” ajak Kyungsan dengan wajah polosnya.

“Baiklah, kajja!” sahut Yuri antusias lalu bangkit berdiri dan menggenggam tangan Kyungsan. Donghae dan Jessica hanya menggelengkan kepalanya sembari ikut tersenyum senang melihat pasangan ibu dan anak dihadapannya.

“Aiguu, ibu yang berlebihan.” Gumam Jessica pelan sembari tak lepas menatap sahabatnya itu.

“Aku setuju. Dia terkadang benar-benar berlebihan sekali.” Timpal Donghae tanpa melepas pandangan dari punggung pasangan tersebut.

“Oppa, ayo kita juga pergi makan es krim.” Ajak Jessica lalu berjalan lebih dulu dan disusul Donghae dibelakangnya.

“Yuri?” panggil seseorang dengan senang saat melihat gadis itu tengah berjalan melewati pintu putar untuk masuk kembali ke dalam gedung. Yuri menoleh dan tersenyum pada temannya itu.

“Shim Changmin?” panggilnya dengan senyum ramah diwajahnya. Lalu, pandangan Changmin teralih saat menyadari bahwa Yuri tak seorang diri melainkan tengah menggendong seorang anak kecil ditangannya.

“A-apa dia anakmu?” tanya Changmin tak percaya.

Senyum manis mengembang diwajah Yuri. “Ya, dia anakku.”

“Be-benarkah? Kau sungguh-sungguh telah punya anak?” tanyanya lagi tak percaya sembari menutup mulutnya.

“Yaa, apa aku sedang berbohong padamu, huh?” kesalnya.

“Yaa, Shim Changmin! Jangan berlebihan seperti itu!” timpal Donghae dibelakang Yuri.

“Hai, oppa! Sudah lama tidak bertemu!” sapa Jessica.

“Whoaa! Kita benar-benar sedang berkumpul sekarang? Rasanya seperti reuni kecil saja.” Sahut Changmin dengan senyum diwajahnya, tetapi raut mukanya tetap menampakkan ketidakpercayaan. “Kalian ingin pergi kemana sekarang? Bolehkah aku ikut?”

Jessica mengendikkan bahunya. “Kami ingin memakan eskrim, terserah kau saja.”

“Ayo, ayo! Kita pergi sekarang!” ajak Changmin antusias.

Tak jauh dari tempat mereka berada, seorang laki-laki dengan nafas lega bercampur kesal menghampiri seseorang yang dikenalnya dalam sekumpulan orang tersebut. “Yaa, Shim Changmin! Kemana saja kau?” kesalnya sembari memukul pelan kepala sahabatnya itu. “Kau bilang diruanganku, tetapi malah keluyuran begini.” Tambahnya, lelaki itu belum menyadari bahwa sedang tidak hanya mereka berdua saja melainkan ada beberapa orang.

“Akh! Benar-benar kau ini!” protes Changmin sembari mengelus-elus bagian kepalanya yang terasa sakit.

“Ayo, cepat! Aku tidak punya banyak waktu sekarang ini.” Kesalnya, lalu ia baru saja ingin mengedarkan pandangannya itu tetapi… matanya telah terkunci saat melihat seseorang. Kedua bola matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka, napasnya tercekat, dan jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Tak jauh beda dengan seseorang dihadapannya, gadis itu juga sama terkejutnya dengan lelaki dihadapannya. Bahkan, gadis itu seperti terpaku ditempatnya tanpa bisa melangkah atau lari dari tempatnya saat ini.

“Yu-ri…?” panggil Kyuhyun lirih lalu mencoba menarik paksa kakinya untuk berjalan mendekati gadis dihadapannya itu. Kedua matanya memerah dan tenggorakkannya terasa serak. “Kw-on Yu-ri?” panggilnya lagi saat ia telah tiba dihadapan gadis itu.

Salah satu airmatanya telah jatuh membasahi wajahnya dan mulutnya masih sedikit terbuka. Hatinya kembali terasa sakit dan pilu. Ya Tuhan… aku merindukannya…

Salah satu tangan Kyuhyun masih mengambang diudara dan belum berani menyentuh wajah gadis itu. Ia terlalu takut untuk melakukannya. Ia takut bahwa ini semua hanyalah mimpi belaka. Kedua pipi Kyuhyun telah basah dengan airmatanya.

“Ah-jussi?” suara itu membuyarkan semuanya. Kyuhyun menoleh dan mendapati bocah lelaki yang dikenalnya berada dihadapannya dan sedang berada digendongan Yuri.

Kyuhyun menatap sesaat dan mencoba mencerna semuanya. “K-au… Kyung-san?” tanyanya mencoba memastikan. Dan bocah itu menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. Dan Kyuhyun pun terisak tidak percaya. Ia memeluk Yuri dan Kyungsan dalam dekapan hangat dan eratnya, sebagai seorang ayah juga sebagai pria sejati yang telah menemukan cintanya kembali.

***

Suasana malam itu sangat hening, terlebih tak ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu diantara keduanya. Keduanya hanya menatap lurus ke depan, menatap bangunan-bangunan tinggi kota Seoul. Saat ini Kyuhyun dan Yuri tengah berada ditaman yang tak jauh dari perusahaan Kyuhyun berada.

“Kenapa kau meninggalkanku begitu saja?” tanya Kyuhyun pelan, memecahkan keheningan diantara mereka. Kyuhyun tak merubah pandangannya dari pemandangan indah kota Seoul pada malam hari.

“Karena… sudah tidak ada apa-apa lagi diantara kita.” Jawab Yuri dingin dan sama seperti Kyuhyun, ia tak merubah pandangannya dari kota Seoul.

Kyuhyun tertawa sinis saat mendengarkan jawaban Yuri barusan. “Jangan bercanda, Kwon Yuri.”

Yuri memilih menutup mulutnya rapat-rapat ketimbang membalas perkataan Kyuhyun itu.

“Apa kau pikir hubungan kita semudah itu berakhir, setelah semua yang telah terjadi?” tanya Kyuhyun lagi.

Yuri terdiam sesaat. “Seperti itulah.”

“Apa kau tidak berpikir lebih dulu, mengapa aku melakukan hal sejauh itu terhadapmu? Apa kau pikir, aku akan bertunangan dengan SeoHyun setelah kau membuatku mencintaimu, huh?” tanya Kyuhyun tak habis pikir sembari menatap Yuri dengan tajam.

Yuri menghela napas panjang lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menatap langit malam penuh bintang. Seulas senyum samar tersungging diwajah Yuri. Cantik sekali, batinnya. Hening sejenak, sebelum Yuri memilih untuk membuka mulut.

“Bagaimana menurutmu?” sahut Yuri dan Kyuhyun semakin menyipitkan kedua matanya menatap gadis disampingnya itu. “Saat melihat kau bersama SeoHyun, aku selalu berpikir bahwa aku ini hanyalah perusak hubunganmu dengannya. Dan, aku tak lebih dari perempuan murahan lainnya. Aku mengetahui betul, bahwa kau telah memiliki seorang kekasih tetapi tetap mengijinkanmu menyentuhku.” Seulas senyum pahit terlihat diwajah Yuri, dan Kyuhyun hanya bisa melihatnya dengan hati pilu. “Saat aku mendengar bahwa kau akan dijodohkan dengannya, tentu saja aku merasa sangat sakit dan tak rela waktu itu. Tapi, apa dayaku? Kalian adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi satu sama lain, kau juga sangat perhatian padanya. Jujur saja, jika aku mengingat hal itu, selalu berhasil membuatku cemburu dan ingin… memilikimu seutuhnya.” Setetes airmata Yuri turun membasahi pipinya, Yuri sedikit menundukkan wajahnya lalu menghapus kasar. Tubuh Kyuhyun mematung dan menegang saat melihat air mata Yuri keluar. Disudut hatinya, terasa nyeri dan pilu.

“Dan hari dimana aku tidak bekerja maupun kuliah, aku menginap dirumah Jessica untuk mencoba mulai memikirkan berbagai cara agar merelakanmu, melupakanmu, juga menganggap semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali seperti semula. Tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kita.” Tambahnya sembari mengingat-ingat ke beberapa tahun yang lalu. “Tetapi saat aku kembali kerumahmu, kau meruntuhkan kembali benteng pertahananku. Dan aku, dengan bodohnya kembali jatuh dalam dekapanmu.” Lanjutnya, lagi-lagi airmatanya jatuh membasahi kedua pipinya. Yuri tertawa hambar, menertawakan kebodohannya sendiri. “Di dunia ini, aku bertanya-tanya…” Yuri menoleh ke arah Kyuhyun dan menatapnya dengan sendu. “Kenapa harus kau, orang yang sangat aku cintai? Kenapa harus kau, orang yang sangat aku rindukan? Kenapa harus kau, orang yang membuatku seperti ini?” tanyanya lirih. “Kenapa harus kau, Cho Kyuhyun?”

“Yuri-ya…” panggil Kyuhyun lirih.

Yuri mengalihkan pandangannya dan kembali menatap langit malam diiringi senyum getir diwajahnya. Pikirannya kembali teringat ke beberapa waktu lalu.

Saat itu, Yuri tidak sengaja berjalan melewati koridor fakultas Kyuhyun. Entah mengapa kakinya membawanya kemari, padahal ia sedang berusaha untuk menghindari lelaki itu. Seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan dihadapannya. Kedua matanya membulat sempurna, napasnya tercekat, dan tubuhnya seperti terpaku.

Kyuhyun dan Seohyun tengah berpelukan. Perlahan, langkah kaki Yuri mulai berjalan mundur beberapa langkah. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan keduanya dibelakang. Rasanya sulit sekali untuk memercayai kenyataan dihadapannya itu. Seulas senyum pahit terlihat diwajah gadis itu beberapa kali.

Sepanjang perjalan pulang, Yuri hanya menatap kosong jalanan dan dengan langkah kaki sedikit gontai. Hatinya terasa kosong dan dingin saat ini. Faktanya bahwa dirinya saat ini tengah hamil—setelah kejadian dirumah sakit bersama Donghae, 3 hari lalu—sepertinya harus ia pendam sendiri. Ia tidak mungkin memberitahukan Kyuhyun tentang hal ini setelah melihat kejadian dikoridor tadi.

‘Jangan tinggalkan aku… Aku sangat membutuhkanmu… Aku mencintaimu, Kwon Yuri.’

Yuri tersenyum sinis saat otaknya itu memutar kembali ingatannya tentang ucapan Kyuhyun padanya. Cinta? Apa yang kau maksud dengan cinta, huh? Cih, sepertinya aku benar-benar bodoh telah mau dijadikan boneka untuknya. Yuri kembali tersenyum sinis untuk kesekian kalinya.

Ia menapaki jalanan anak tangga dekat rumahnya dengan langkah gontai. Pikiran maupun hatinya benar-benar sangat kacau hari ini. Hatinya terasa beku dan dingin. Airmatanya telah kering sedari tadi. Ia tidak perlu menghabiskan banyak airmata untuk lelaki macam itu.

Yuri sedikit mengangkat wajahnya saat ia hampir sampai diatas anak tangga. Kedua matanya sedikit menyipit saat melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi membelakanginya. Ia lalu menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri untuk memastikan suatu hal. Tidak ada orang lain selain kami berdua. Lalu, apa yang tengah dilakukan pria itu?

Pria itu lalu membalikkan tubuhnya saat mendengar suara langkah kaki dibelakangnya. Lagi, kedua mata Yuri membulat sempurna serta bibirnya sedikit terbuka. “Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu juga!” Ucapnya senang dengan senyum manis menghiasi wajahnya.

“A-apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Yuri menyelidik.

“Aku ingin bertemu denganmu. Akhir-akhir ini kau sulit sekali ditemui. Kau tidak ada dikampus maupun dirumahku. Ada apa denganmu? Kemana saja kau selama ini?” tanya Kyuhyun beruntun dengan sedikit kesal.

“Aku tidak kemana-mana. Jadi, apa urusanmu sudah selesai?” tanya Yuri sedikit dingin sembari mengedarkan pandangannya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau aneh sekali akhir-akhir ini?”

“Ti-dak ada. Sudahlah, lebih baik kau pulang. Aku lelah sekarang.” Jawab Yuri, tanpa melihat kearah Kyuhyun sama sekali.

“Apa kau sakit? Bagaimana jika kita ke dokter sekarang?” tawar Kyuhyun dengan nada khawatir.

“Ania, jangan membuang-buang waktumu untukku. Pulanglah.” Jawab Yuri, masih dengan posisi yang sama—tak menoleh sedikitpun kearah Kyuhyun.

“Tsk! Dasar tidak sopan! Setidaknya kau harus memperlakukan tamu-mu ini dengan baik, seperti mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahmu misalnya.” Balas Kyuhyun dengan seulas senyum senang. Kedua mata Kyuhyun berbinar-binar menatap Yuri. Sungguh, walau terlihat sekali dari raut wajahnya bahwa saat ini gadis itu tengah lelah, tetapi pancaran kecantikan dari dalam perempuan itu tidak bisa tertutupinya. Gadis itu benar-benar terlihat semakin cantik setiap harinya.

“Sebenarnya… ada apa kau menemuiku?” tanya Yuri, lalu menatap Kyuhyun lurus-lurus.

Kyuhyun terdiam sejenak lalu berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan Yuri barusan. Tangannya ia sembunyikan dibalik punggung—menambah kesan kemisteriusan atau menyembunyikan tujuannya datang menemui Yuri. “Ti-dak ada, hanya karena aku sedikit merindukanmu dan ingin melihatmu hari ini.” Jawabnya sembari menahan sebuah senyuman diwajahnya. Berharap, gadis itu akan sedikit melunak dan kembali seperti biasanya. Kwon Yuri yang selalu tersipu malu dan senang saat ia mengatakannya.

Kening Yuri mengernyit dan menatap Kyuhyun tidak percaya. A-apa? Ti-tidak ada? Kau… hanya merindukanku sedikit? Hanya itukah alasanmu untuk menemuiku, Cho Kyuhyun? “Kau sudah puas sekarang?” tanya Yuri dingin sembari menatap arah lain. Yuri benar-benar tidak ingin melihat Kyuhyun saat ini.

“Eh, a-apa?” sahut Kyuhyun tak mengerti. Dugaan ataupun harapannya benar-benar melesat jauh dari apa yang ia bayangkan.

“Kau sudah melihatku, kau bisa pergi sekarang.” Jelas Yuri.

Kyuhyun menatap Yuri lekat-lekat, walau gadis itu sedang tidak ingin menatapnya tetapi ia ingin melihat wajahnya. “Aku tidak mengerti ada apa denganmu sebenarnya. Kau selalu saja membuatku uring-uringan dengan tingkahmu itu. Kau juga selalu saja berhasil memporak-porandakan hatiku. Kau juga selalu bersikap semaumu padaku. Kau bahkan selalu membuatku frustasi tentang dirimu!” Jeda sesaat sebelum Kyuhyun melanjutkan ucapannya lagi. “Baiklah, mulai sekarang lakukan saja sesukamu! Aku tidak peduli lagi.” Balas Kyuhyun dingin lalu ingin berjalan pergi.

Yuri terdiam sesaat saat mendengar ucapan Kyuhyun barusan. Rasanya hal ini Yuri sama sekali juga tidak ingin memercainya. Be-narkah? Benarkah apa yang kau katakan barusan? Apa aku begitu menyulitkanmu, Cho Kyuhyun?

“Baiklah!” ucap Yuri dengan cukup keras dan berhasil menghentikan Kyuhyun yang baru saja beberapa langkah pergi menjauh darinya. Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menatap punggung gadis itu. Yuri membalikkan tubuhnya dan menatap Kyuhyun tajam. “Baguslah! Kau tidak akan memedulikanku lagi. Kau tenang saja, aku akan pergi dari hidupmu dan tak akan mengganggumu lagi. Jadi kau bisa bebas dan hidup dengan tenang nantinya. Kau juga tidak akan uring-uringan lagi atau merasa buruk tentang diriku. Mulai sekarang, lakukan saja sesukamu dan jangan berusaha menemuiku lagi!” lanjutnya dengan setengah berteriak. Kedua matanya sudah sedikit memerah dan basah. Napasnyapun sedikit tidak teratur. Lalu, Yuri membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Kyuhyun dibelakang yang masih tidak percaya atas perkataan Yuri maupun sikapnya tadi.

Dan mulai saat itu maupun  hari-hari selanjutnya, mereka sama sekali tidak bertemu satu sama lain. Atau lebih tepatnya, sudah tidak bertemu satu sama lain. Karena Yuri pindah ke Busan begitu kelulusannya tiba, sedangkan Kyuhyun tidak tau keberadaan Yuri.

 

Yuri kembali menatap Kyuhyun sekilas lalu mengedarkan pandangannya lagi. “Bagaimana pernikahanmu dengan Seohyun?” tanya Yuri. Ada sebuah perasaan sakit saat menanyakannya.

Kyuhyun menghela napas berat dan panjang sembari memejamkan kedua matanya. Ia sudah tau, gadisnya itu pasti berpikir yang tidak-tidak selama ini. Kyuhyun kembali membuka kedua matanya, memutar pelan tubuh Yuri untuk menghadapnya, lalu mencoba meraih kedua tangan Yuri dan menggenggamnya dengan lembut. “Aku tidak bisa menikahi gadis manapun, selain kau, Kwon Yuri.” Jawab Kyuhyun lembut. Seulas senyum tersungging diwajah Kyuhyun. “Dengarkan aku, sayang.” Pinta Kyuhyun sembari menyentuh salah satu pipi Yuri agar gadis itu mau menatapnya. Dan benar saja, Yuri menatapnya. Seulas senyum lembut kembali tersungging diwajahnya. “Hari dimana kau mengatakan untuk tidak saling bertemu adalah hari dimana aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk melamarmu, Cho Yuri.” Jelas Kyuhyun. “Soal pertunanganku dengan Seohyun, jauh sebelum appa menanyakannya padaku, aku telah berpisah dengannya.” Tambahnya, dengan lembut dan penuh kasih.

Yuri menatap Kyuhyun lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan disinar mata laki-laki itu. “Bohong.” Ucapnya, membuat Kyuhyun mengernyitkan keningnya. “Hari dimana aku mengatakan untuk tidak saling bertemu, aku melihat kau dan Seohyun tengah berpelukan. Dan apa itu? Apa kau ingin bilang itu hanyalah salam perpisahan saja?” tanyanya Yuri penuh selidik.

Namun, bukannya Kyuhyun menjawab dengan serius justru ia tertawa pelan menanggapi pertanyaan Yuri barusan. “Benar, itu hanyalah salam perpisahan saja karena ia akan pergi ke Amerika bersama kekasih barunya, Jung Yonghwa. Dan lagi, kami tidak sedang berdua sayang, ada Yonghwa disana tetapi ia sedang menyenderkan punggungnya di dinding. Kau pasti tak melihatnya, karena dari arah yang berlawanan.” Jelas Kyuhyun lembut lalu mencuil hidung Yuri pelan.

“Be-benarkah?” tanya Yuri tak percaya. Fakta yang diucapkan Kyuhyun barusan membuatnya benar-benar tidak percaya.

Kyuhyun mengangguk pelan lalu menatap Yuri dengan tatapan lembut. “Aku tidak menyangka kau akan secemburu ini, sayang. Whoaa, keren sekali kau bisa sangat cemburu sampai seperti itu!” goda Kyuhyun lalu menarik pelan tubuh Yuri untuk lebih dekat dengannya. “Tapi, Yuri sayang, cemburumu sungguh keterlaluan hingga membuat kita terpisah selama delapan tahun terakhir ini.” Cemberut Kyuhyun. Yuri hanya bisa terdiam saat mendengarnya.

“Maaf, aku kira kau akan…” sesal Yuri pelan dan menggantungkan ucapannya diudara sembari menundukkan wajahnya. “A-apa yang ingin kau lakukan?” paniknya saat wajah Kyuhyun mendekati wajahnya.

Kyuhyun tersenyum evil saat melihat reaksi Yuri barusan. Sungguh, ia sangat merindukan wanita dihadapannya saat ini. Dan ia sudah cukup bersabar untuk menantikannya kembali dalam dekapannya. “Aku mencintaimu, Kwon Yuri. Menikahlah denganku.” bisik Kyuhyun pelan sebelum mendaratkan bibirnya ke bibir Yuri sembari memejamkan kedua matanya. Ciuman itu begitu sangat lembut dan hati-hati. Seolah-olah Kyuhyun terlalu takut untuk melukai Yuri—gadis yang saat ini berada dalam dekapannya—walau hanya sesaat. Perlahan-lahan, Yuri ikut memejamkan kedua matanya dan mulai membalas ciuman Kyuhyun. Ia mulai terlarut dalam ciuman lelaki itu.

Tak jauh dari tempat mereka berdua berada, beberapa orang tengah sedikit ramai dan ikut merasa senang saat melihat keduanya kembali bersama-sama lagi. “Jadi, Kyuhyun dan Yuri sebelumnya adalah sepasang kekasih?” tanya Changmin penasaran dibalik pohon besar ditaman.

“Bisa dikatakan begitu, tetapi lebih tepatnya waktu itu terlihat seperti cinta segitiga. Aku sangat memahami keadaan Yuri saat itu.” Sahut Donghae sembari menatap kedua sahabatnya yang tengah berciuman.

“Benarkah? Memangnya apa yang kau pahami?” tanya Changmin sedikit mengejek temannya itu.

“Yaa, menurutmu apa yang harus dilakukan perempuan muda hamil, selain merelakan seseorang yang dicintainya bahagia dan berusaha menjalankan hidupnya sendiri sebaik mungkin tanpa membebani orang yang dicintainya?” balas Donghae sembari menatap Changmin dengan kesal.

“Benar juga. Kurasa, hati Yuri benar-benar terlalu lembut.” Gumam Changmin.

“Yaa, kalian berhentilah bertengkar dan bantu aku untuk menggendong Kyungsan. Ia sudah tertidur daritadi sejak datang ke taman ini.” Protes Jessica pada dua orang laki-laki dihadapannya. Keduanya saling berpandangan satu sama lain untuk menggendong bocah itu, tetapi tidak ada yang mau mengalah. “Yaa!” kesal Jessica, dan akhirnya Donghae mengambil alih dan menggendong Kyungsan.

***

Suasana rumah besar dan megah itu kembali berisik dipagi hari akhir-akhir ini. Ada suara anak kecil menangis, ada pula suara pria dewasa tengah memanggil istrinya, maupun suara sahutan dari ibu sekaligus istri tersebut, juga suara keributan di dapur. Dengan segera Yuri berjalan menghampiri anak dan suaminya itu. “Ada apa?” tanyanya.

“Sayang, dimana dasi merah marunku?” tanya Kyuhyun sembari mengancingi bagian pergelangan tangan kemeja.

“Eomma! Appa menjahiliku lagi! Ia mencoba menakut-nakutiku.” Rengek Kyungsan pada Yuri. Sedangkan Yuri melihat mereka berdua dengan gelengan kepala.

“Eissh, benar-benar! Kyungsan-ie, apa kau akan terus mengadukan appa-mu ini ke eomma?” protes Kyuhyun. “Yu-ri, aku tidak melakukannya. Aku hanya bilang, bahwa dikamar mandi ada kecoa.” Jelas Kyuhyun.

Lagi, pagi hari yang riuh. Gumam Yuri dalam hati dengan senyum senang diwajahnya sembari melihat pertengkaran kecil orang-orang yang sangat ia cintai. Pertengkaran antara ayah dan anak yang begitu menggemaskan, membuat siapa saja ikut tersenyum senang saat melihat keduanya.

Kyuhyun dan Yuri menikah beberapa hari setelah mereka bertemu, dan butuh waktu untuk meyakinkan Yuri agar perempuan itu kembali menerimanya. Dan seperti inilah kehidupan keluarga Cho, dipagi hari akan sangat ricuh, disiang hari akan sangat sepi juga damai, dan dimalam hari ketika mereka telah berkumpul akan sangat ramai diiringi canda tawa di dalamnya. Tetapi tetap, harmonis dan penuh kasih.

Walau membutuhkan waktu yang cukup panjang dan lama untuk mencapai kebahagaian ini, aku bersyukur. Walau membutuhkan waktu untuk kami berpisah lebih dulu, aku bahagia. Walau membutuhkan waktu lagi untuk mencapai kebahagian sebenarnya, aku akan berjuang dan tak akan menyerah begitu. Hanya untuk diriku dan orang-orang yang ku cintai maupun kasihi. Aku akan berjuang dan menunjukkan pada sang waktu, bahwa aku akan bahagia karena memiliki kalian berdua, Cho Kyuhyun dan Cho Kyungsan. Maka dari itu, aku harus kuat untuk diriku sendiri, juga untuk orang-orang yang mencintai maupun menyayangiku.

“Eomma!” panggil Kyungsan manja dan menggemaskan sembari memeluk Yuri.

“Yuri sayang!” timpal Kyuhyun tak mau kalah sembari memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan hangat.

“Eomma, kami berdua mencintai dan menyayangimuu!” seru keduanya sembari mendaratkan bibir mereka dikedua pipi Yuri. Dan mereka bertigapun tertawa bahagia bersama.

==================== THE END =====================

Halooo, I’m back! HAHA! *tertawa jahat(?)*

FF apa iniii? Apaaa? My God!

Akhirnya setelah sekian lama menghilang dari peredaran, sekarang Yura kembali lagi dengan ff terbaru. Uhm, diralat kayaknya. Karena sebenarnya ff ini sudah cukup lama yaitu dibuat pertengahan tahun lalu dan seharusnya dipos 2014 kemarin, tapi karena baru setengah jalan, ditambah tugas yang gada ampunnya, juga masih galau mau ending yang kayak gimana, so barulah jadinya sekarang. HAHA!

Seharusnya pas 3 hari update FF yang part 1 kemarin, ini udah diupdate tapiii Yura mager hehe *peace peace* :)v Part 2 Yura sengajain gada adegan NC-nya, kenapa? Soalnya udah ga fokus ke permasalahan itu lagi (?) jadi ke intinya aja (?)

Oh ya, kritik dan saran serta dukungan kalian akan sangat membantu Yura loh! Jadi, jangan sungkan-sungkan yaa! 🙂

KEEP RCL (Comment(s), Read, and Like) please!

Thank You All~

Keep your support and always love Kyuri Shipper ya! ^^

43 thoughts on “After Time Passes [Part 2—END]

  1. Belum baca part 1. Part 2 udah muncul ajaaa.. Huhu…

    Mau nunggu balesan pw dr mbk author bru baca part 2 ini.. Tp udah gak sbar 😂

  2. Ah eonni aku seneng banget akhirnya happy ending juga yuhuuuu ^^
    Kirain aku bakal ada malaikat kecil lg diantar keluarga kecil mereka hehehe😀
    Ceritanya keren tetep semangat eonni hehe😀

  3. butuh baca yg prtma ni. mau pw dong😦
    tp baca ini jg udah jls kok knp mrka brpisah . y ampun smua hny kslahpahaman ajh . kasian kyuri hrus pisah lama tp untungnya happy ending
    like this😀
    kyungsan pinter pisan euy .

  4. Haha akhirnya happy end .. Keren bnget ceritanya , walaupun gak nc tapi gk papa deh kekeke.., ditunggu karya kak yura yang lainnya ya^^

  5. Thank you .. authornim …. happy end juga akhirnya … meski berasa ada yang apa gitu …
    Hehehe inginya pertemuan kyuri agak dramatis.. tp tak apa lah nyang ini udah bagus.
    Keep working ya … ditunggu epep kyuri yang lain … fighting!!!

  6. Thanks authornim akhirnya di posting juga … mana happy end lagi …. #hughug

    Kyungsan kasian amat dijahili bokapnya … aigu … tp di cerita ko ga ada tuan cho senior ya? Hehe berasa ada yang hilang.tp over all daebak kok.

    Tetap semangat authornim …ditunggu epep kyuri selanjutnya … see yaa.

  7. eonni-ya . . . Ya ampun ff eonni tu keren2 bgt, aku haru pas bc ff ini, bgt2 malah, untung bsa nikah tanpa ada kendala dri keluarga kyuhyun, a. . . Si kyungsan encer bgt otaknya disini, mau beli buku manajemen perusahaan, kalo aku mah pasti beli komik, haha, d tnggu ff eonni selanjutnya^^

  8. Unnie seru banget ya part 2nya. Tp aku blm baca yg part 1, blh mnta pw nya ga unnie? Mkshbya sblmnya..

  9. selalu menjadi penulis ff kyuri terbaik🙂
    posting lagi dong thor ff nya. kalo bisa buat bc thor🙂 #yadongkumat.

    thorr ff nya bagussssssa (y)
    suka ff nya😉

  10. Whoaaa daebaakk…meskipun ga baca part 1 tapi tetep seru part ini…part 1 mungkin menceritakan masa2 kyuri pacaran sampe akhirnya berpisah #menerawang sendiri…hahaha
    Setelah penantian panjang selama 8th akhirnya yuri sama kyuhyun bisa bersama lagii…
    Kyungsan anaknya bener2 pinter..
    Pinternya turunan dari appa nya yaa cho kyuhyun..haha
    Seru sekali baca ff ini..

  11. mf thor bru komen coz.a aq bru nemu WP ini kmrin… aq suka banget smw ff yg author buat… lw bsa bwt ff oneshoot yg kyuri.a cmburuan.. author jjang… keep writing 😀

  12. bahagianyaa akhirnya aq bsa comment .. goemawoo eonni pw yg part 1 waktu itu d kirim via email . buat ff kyuriii lg donk eonni . #kyuri shipper .🙂

  13. wah daebakk ,awal2 bacanya smpai greget knpa ga ktemu2 pdhal udah deket bgt tuh kyupa sma yulnie ,tp akhirnya happy ending juga ..aaa senengnya kyungsan🙂
    pw part 1 eon ,penasaran🙂

  14. ff nya bagus banget.. Meskipun belom baca part 1 nya.. Oh ya boleh minta pw nya gak? Aku udah follow twitter kakak.. Id nya @Ssiruroh21

  15. Wah… exis lg ney crtx. aq br ngecek blogx lg trnyt bnyk ff baru. aq minta pw part 1 downk. aq line 89 kok, ini twiterq cingu “@Baek_lina” ato d email “Baeklina89@yahoo.com” gumawo cingu… ^^

  16. Keren~keren thor🙂
    alurnya gak mudah ditebak.
    Ceritanya juga panjang.
    Keep writting and fighting😉

  17. aku engga ngerti gimana awalnya jadi masih rada bingung kemana jalan membawanya. hahaha.

    kyungsan pintar, kaya Appa nya. sifatnya mirip ya sm kyu, hehe. /ya namanya jg anaknya/ /plak/
    btw, ini bagus, sungguh, ga tertebak. tp belum cukup memenuhi napsuku buat baca ff kyuri lg karena langka bgt /><\
    thank u author, udah menyempatkan menulis & publish ff ini. akua tau commentku ga bermutu, tp aku bingung mau kritik apa buat ffmu karena ini udah bagus, banget.
    btw, kurang romance sih menurutku, itu aja. hjehehe

  18. daebak eon masih rada bingung sih, tapi akhirnya ngerti juga kok. ahh itu anaknya kyuri Cho Kyungsang jenius banget kayaa bapaknya yang emang nyatanya jenius wakkss

    sempet ngira kyuhyun tau yang ngembunyiin yuleon donghae, donghae keren bisa nyembunyiin yuleon dari kyuhyun, tapi akhirnya ketauan juga dan itu yang ditunggu-tunggu hihihi . intinya bagus eon suka sama bagian dimana kyungsang ketemu kyu disekolah untuk pertama kalinya. dan seneng sama perjuangan kyuhyun yang gigih banget nemuin yuleon. terus semangat buat ff kyuri lgi eon. Hwaiting^^

  19. Gak sengaja nemu ff ini,,
    Walaupun agak bingung, tp ceritanya so sweet #menurutku,, Penantian yg tak sia2. aku suka, apalg ini kyuri …

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s