I Wanna Say “I Love You” [Part 3]


 

i-wanna-say-e2809ci-love-youe2809d

I Wanna Say “I Love You

Bestfriend

Staring by Cho Kyuhyun & Kwon Yuri

Additional Cast by Oh Seunghwan, Victoria Song, SNSD & Super Junior’s member

A song for you is Ali – Hurt | Cho Kyuhyun – Time We Were In Love | tYoon Mirae – I’ll Listen To You What Have To Say

Inspired by drama The Time We Were Not In Love | Kuch Kuch Hota Hai

Rating for 19+

Genre is Hurt, Fluff, Friendship & Romance

“People may change, but memories don’t.”

“There is haven’t bestfriend relationship between man and women.”

—“But, both of those theory, I wanna break it down.”— Kwon Yura

Please, respect, don’t be stupid, arrogant or anything else.

All Right Reserved © Kwon Yura, 2015

Sahabat itu seperti bintang. Kau tidak selalu melihat mereka, tetapi mereka akan selalu ada.

“Hai, Kwon Yuri!” sapa seorang laki-laki dengan semangatnya saat melihat sahabatnya itu akhirnya tiba dikelas. Ia melambaikan tangannya dengan antusias kearah gadis itu, sedangkan Yuri hanya menatapnya dengan salah satu alis terangkat ke atas sembari melihat sikap sahabatnya itu. Ia tertawa pelan, lalu menghampiri kursi disamping Kyuhyun dan duduk disampingnya.

So, how was your day? I guess, you’re really happy in this morning.” Tanyanya disela senyum manis.

Kyuhyun mengendikkan kedua bahunya sesaat. “Apa terlihat jelas sekali?” tanyanya dengan raut wajah bahagianya.

Yuri mengangguk pelan. “Jika kau sesenang ini, pasti ada hubungannya dengan Seohyun?” tanya Yuri, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.

Kyuhyun tertawa senang lalu menatap Yuri dengan senyuman diwajahnya. “Whoaa, sepertinya aku benar-benar tak bisa berbohong padamu.” Sahut Kyuhyun, sembari menopang dagunya dengan salah satu tangan diatas meja.

Yuri mengangguk pelan. “Ya, sepertinya begitu.” Setuju Yuri sembari menatap bawah dan berpikir. “So, apa yang terjadi kemarin?” lanjutnya sembari menatap Kyuhyun dengan senyum diwajahnya ketika melihat pria itu tersenyum dengan bahagianya.

Kyuhyun mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi dengannya dan Seohyun kemarin. “Aku dan Seohyun kemarin bertemu.” Jelas Kyuhyun, tanpa mencoba menahan atau menyembunyikan kebahagian diwajahnya.

Yuri ikut tertawa pelan membayangkan dan juga merasakan kebahagian yang dirasakan sahabatnya itu. “Jadi, kemarin kau mengabaikanku karena sedang bersamanya?” goda Yuri diiringi senyum jahil diwajahnya.

Kyuhyun tertawa. “Kau tau kan, Yuri? Aku tidak bisa menahan perasaan ini jika itu berkaitan dengan Seohyun?” tegas Kyuhyun.

Yuri mengangguk pelan dan diam-diam dirinya menyetujui ucapan Kyuhyun barusan. “Jadi, kau sedang berusaha mendekati Seohyun lagi setelah kau memilih memutuskannya?” tanya Yuri lagi sembari berpikir sejenak.

Kyuhyun menatapnya dengan lembut. “Menurutmu bagaimana? Apa kau berpikir ia akan kembali padaku atau… tidak?”

Yuri menatap balik Kyuhyun sesaat sebelum menatap ke arah lain dan berpikir. “Mungkin saja. Mungkin saja Seohyun akan menerimamu kembali. Tetapi… tidakkah kau berpikir kau kejam?” tanya Yuri hati-hati.

Kyuhyun menghela napas berat. “Yah, kau benar. Aku benar-benar pria jahat untuknya.” Ucapnya sendu.

“Lalu, jika kau kembali dengan Seohyun, bagaimana dengan Victoria? Diakan kekasihmu sekarang.”

Kyuhyun kembali menghela napas dan mengeluarkannya dengan berat hati. “Kau benar. Victoria noona sudah mulai mencintaiku dan tidak bisa melepaskanku dengan mudah saat ini.” Balasnya dengan tatapan mata kosong dan kepala yang tergeletak lemah diatas meja.

Diam-diam, Yuri menghela napas berat. Ia cukup tau bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini, tetapi satu fakta yang tidak boleh terlupakan adalah dirinya juga seorang perempuan. Perempuan.

Yuri lalu menepuk punggung Kyuhyun dengan lembut dan pelan. “Lalu, apa keputusanmu?” tanya Yuri lembut.

“Entahlah. Aku sendiripun tidak tau harus bagaimana?” balasnya lemah dengan kedua mata terpejam. Dan Yuri pun hanya bisa menepuk-nepuk bahu Kyuhyun dengan pelan, seolah mencoba memberinya kekuatan dengan tepukan tangan dibahunya. Seolah, memberi isyarat bahwa ia tidak seorang diri dan mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

 

***

 

Yuri hanya berdiri sembari menyenderkan punggungnya didinding dekat kamar mandi dengan salah satu tangan di atas perut, sedangkan satunya lagi memegang ponselnya dan sesekali menscrollnya. Kedua matanya menatap kosong pada layar ponselnya, sekalipun ponselnya itu menampilkan jejaring sosial yang saat ini dibukanya. Terkadang, ia benar-benar berharap sekali bahwa laki-laki yang ia tunggu dan cintai akan kembali dan memberinya kabar.

Walaupun itu hanyalah harapan palsu atau bodoh sekalipun, tetapi tetap saja ia tetap akan berharap seperti itu. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang yang sudah tak asing lagi bagi Yuri dengan wajah sedikit condong ke ponselnya—mungkin lebih tepatnya sengaja menempel—hingga membuat gadis itu menjauhkan benda digengaman tangannya.

Yuri mendecak pelan lalu menatap Kyuhyun dengan tatapan bertanya-tanya. “Apa yang sedang kau lakukan disini?”

Kyuhyun terkekeh pelan. “Malas mendengarkan ocehan Profesor Kang. Kau sendiri?”

“Tidak ada. Lebih baik aku masuk ke kelas sekarang, sudah terlalu lama ijinnya.” Balas Yuri lalu berjalan melewati Kyuhyun. Tetapi sebuah tangan kekar menahannya. Yuri membalikkan sedikit tubuhnya dan menatap Kyuhyun dengan alis terangkat sebelah.

“Oh Seunghwan?” tanya Kyuhyun. Atau lebih tepatnya saat ini ia sedang menebak sesuatu.

Yuri tak menjawab, ia hanya memilih diam saja.

“Kau tidak menjawab, berarti benar.” Lanjut Kyuhyun mencoba menegaskan diiringi anggukan kepala kecil.

Yuri hanya tersenyum simpul lalu menyentuh tangan Kyuhyun yang sedang meng-genggamnya dan mencoba melepaskan tangannya. “Kau masih memikirkan laki-laki itu?” tanya Kyuhyun lagi dengan tatapan tak mengerti.

Dan Yuri pun berjalan pergi meninggalkan Kyuhyun dibelakangnya. Gadis itu mencoba menahan kesedihan yang dirasakannya sembari berjalan menuju kelasnya. Sedangkan Kyuhyun menatap Yuri dengan tatapan putus asa sembari mengusap wajah maupun kepalanya dengan sedikit frustasi.

***

 

Oh Seunghwan. Seorang pria yang amat-sangat-disukai Yuri dan membuat gadis itu rela menunggu setahun lamanya tanpa kabar satupun darinya. Dan tentu saja, setiap kali mendengar atau melihat Yuri menyebutkan nama laki-laki itu atau setidaknya menyinggung laki-laki itu, berhasil membuat darah Kyuhyun mendidih. Tetapi, apalagi yang bisa dilakukannya selain menahan amarahnya dan mendengarkan setiap kata dari gadis itu.

Kyuhyun memang kesal dan rasanya ingin sekali melayangkan tinjunya tepat diwajah laki-laki itu setiap kali melihat Yuri merintikkan air matanya—okey, ini terlalu berlebihan karena faktanya gadis itu tidak pernah sekalipun menangis dihadapan Kyuhyun walaupun hatinya merasakan sakit sekalipun.

Tentu saja, Kyuhyun sudah mencoba membalikkan akal sehat Yuri walau sampai saat ini hasilnya benar-benar nihil. Ia memang tidak tau dengan pasti, bagaimana dari awal mereka bertemu hingga menjalin hubungan seperti itu. Tetapi yang ia tau, setiap kali Yuri menceritakan sesuatu hal yang berhubungan dengan pria itu, ia terlihat murung dan sedih. Dan ia, Kyuhyun, benar-benar tak menyukai Yuri seperti itu.

Kyuhyun juga tau, gadis itu selalu berusaha melupakan dan membuka lembaran baru. Mencoba membuka hatinya kembali walau itu hanya dengan potongan-potongan kecil yang tersisa setelah ia memberikan hampir keseluruhan hatinya untuk pria itu. Kyuhyun juga tau, bahwa gadis itu mencoba selalu tegar dan kuat walau rasanya gadis itu mungkin saja akan terjatuh untuk kesekian kalinya karena tak cukup bisa berdiri lagi seperti dulu. Dan Kyuhyun juga tau, bahwa gadis itu berusaha dan selalu berusaha dan berharap jika suatu saat nanti laki-laki itu akan kembali ke sisinya seperti dulu kala.

Kedua mata Kyuhyun melirik dengan kesal dan tajam melihat ke arah Yuri yang kini menatap kosong buku dihadapannya, walaupun suara Profesor Kang cukup memenuhi ruangan ini tetapi tidak berhasil menarik Yuri dari dunianya.

Kyuhyun kembali lagi memfokuskan dirinya pada topik pembahasan Profesor Kang dan mulai mengabaikan keberadaan Yuri yang membuatnya sedikit terganggu karena tidak bisa fokus. Dalam hati Kyuhyun, ia memaki Oh Seunghwan dan Yuri secara bergantian.

Oh Seunghwan! Kenapa harus kau, huh?

Kwon Yuri! Kau benar-benar bodoh atau apa, huh?

***

 

“Cho Kyuhyun!” panggil seseorang dibalik punggung laki-laki itu dengan suara khasnya—ceria dan hangat. Tanpa menoleh atau menebakpun, Kyuhyun sudah tau siapa pemilik suara itu. “Kyuhyuun!” panggil suara itu lagi, kali ini sedikit manja dan melunak ketika ia sudah berada tepat dibelakang laki-laki itu sembari menarik ujung kemeja Kyuhyun. “Yaa?” ulangnya lagi dengan pelan sembari menatap punggung Kyuhyun, karena tak kunjung menyahutinya.

“Hm?” sahut Kyuhyun singkat dan malas tanpa ada keinginan untuk sekadar menoleh atau melihat Yuri sekilas.

Yuri mengernyitkan keningnya dan berjalan selangkah ke depan untuk melihat raut wajah Kyuhyun saat ini. Yuri melipat kedua tangannya didepan dada dan mulai berpikir sejenak. Kira-kira, hal apa yang membuat sahabatnya itu seperti ini?

Kyuhyun hanya menatap Yuri sekilas lalu, baru saja ia ingin melangkahkan kedua kakinya tetapi ditahan oleh sebuah tangan yang menarik pelan lengannya hingga membuatnya mengurungkan niatnya, dan memilih untuk menatap sahabatnya itu. “Apa lagi?” tanyanya cuek.

Yuri menatap Kyuhyun dengan penuh selidik. “Apa kau sedang ada masalah dengan kedua gadismu?” tanyanya dengan salah satu alis naik keatas.

Kyuhyun menatap Yuri dengan tatapan tidak suka. “Urusi saja urusanmu, nona.” Balasnya dingin lalu mengacak rambut Yuri pelan dan berjalan pergi. Sebenarnya, Yuri ingin memprotes pada sahabatnya itu, tetapi Kyuhyun sudah berjalan menjauh dan Yuri hanya bisa melihat punggung laki-laki itu ditempatnya.

“Aneh sekali. Ada apa dengannya?” gumam Yuri pelan. Dari arah yang berlawanan dan mengikuti arah pandang Yuri, seseorang berjalan mendekatinya.

“Kau benar. Dia benar-benar aneh sekali.” Timpal orang itu, membuat Yuri tersadar dan menoleh keasal sumber suara.

“Lee Donghae?” panggil Yuri canggung karena wajah mereka sangat dekat.

Donghae menyunggingkan senyuman mautnya sembari menatap Yuri lembut. “Hai, Kwon Yuri!” sapanya ceria. “Bagaimana harimu? Menyenangkan?”

Melihat Donghae tersenyum seperti itu, mau tak mau Yuri membalas senyumannya. “Kurasa cukup baik. Apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Tadinya aku ingin mengajak Kyuhyun untuk berdiskusi mengenai tugas besok, tetapi sepertinya moodnya sedang tidak baik sekarang.” Balasnya sembari menatap punggung Kyuhyun yang mulai menjauh, lalu kembali menatap Yuri lagi. Lagi-lagi, Donghae menyunggingkan senyuman manisnya. “Jadi, aku bertemu dan berbicara denganmu saja. Kau sedang tidak sibukkan? Ingin ku temani ke suatu tempat?”

Yuri diam sejenak sembari berpikir. “Hm, boleh juga. Lagipula tadinya aku ingin mengajak Kyuhyun, tetapi sepertinya ia sedang tidak ingin diganggu.”

“Bagus!” seru Donghae dengan senang. “Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, takut nanti ada yang mengganggu kita.”

Yuri tertawa pelan melihat tingkah Donghae seperti itu, ditambah lagi dengan sikapnya yang memperlakukan dirinya seolah-olah adalah putri raja.

Ditempatnya Kyuhyun berada, walaupun kakinya melangkah jauh meninggalkan Yuri tetapi hati maupun pikirannya masih bersama gadis itu sekarang. Kyuhyun memang merasa jengkel dan sebal dengan Yuri, yang masih saja bersikap bodoh dan menunggu laki-laki yang tak jelas keberadaannya. Tetapi, jauh dilubuk hatinya, dirinya—Cho Kyuhyun—sangatlah peduli terhadap sahabatnya, Kwon Yuri.

Kyuhyun menyerah untuk bersikap keras kepala dan memilih untuk kembali pada Yuri. Baru saja ia membalikkan tubuhnya, tetapi pandangannya terganggu dan sedikit terusik saat melihat Yuri bersama dengan Lee Donghae sekalipun.

Tanpa pikir panjang lagi, Kyuhyun segera berlari cepat ketempat Yuri dan Donghae berdiri sebelum mereka beranjak atau setidaknya tangan Donghae merangkul—tidak, tidak, bahkan sekalipun tangan itu sedikit saja menyentuh Yuri—ia tidak akan membiarkannya terjadi.

Kajja, Yuri-ya!” ajak Donghae dengan tangan terangkat keatas dan ingin merangkul bahu temannya itu. Baru saja terangkat dan belum—benar-benar belum—sempat menyentuh bahu Yuri, sebuah tangan lebih dulu menggantikannya dan sedikit mendorong tubuh gadis itu menjauh hingga tergantikan dengan dirinya. Kyuhyun menggantikan posisi Yuri.

“Yaaa!” protes Yuri saat Kyuhyun mendorong dirinya menjauh dari mereka.

“Ahh, Donghae-ya! Apa yang sedang kau lakukan disini? Aku mencarimu kemana-mana.” Ucap Kyuhyun dengan canggung dan terbata karena harus berpikir alasan apa yang harus ia gunakan saat ini, ditambah lagi agar tidak kena semprot ocehan Yuri.

“Aish, Cho Kyuhyun, temanku! Kau ini benar-benar… sangat mengganggu sekali ya.” Sahut Donghae dengan kesal tetapi tetap menyunggingkan senyuman diwajahnya walau terpaksa. “Ada apa kau mencariku?”

Sedangkan Yuri hanya menatap jengkel pada kedua laki-laki itu dan mulai berjalan pergi, meninggalkan mereka tanpa ingin tau urusan sama sekali.

“Yaa, Kwon Yuri!” panggil Donghae dengan pasrah dan sungguh disayangkan sekali, kesempatan untuk berduaan dengan Yuri pun harus gagal lagi untuk kesekian kalinya. “Ahh, benar-benar!” rutuknya.

Sedangkan Kyuhyun hanya senyum-senyum melihat kepergian Yuri. “Yuri, sayang, hati-hati dijalan ya!” ucapnya dengan ceria dan santai.

Donghae menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal dan ingin membunuhnya, membuat yang ditatap untuk beberapa saat tidak peka tetapi siapa juga yang tidak akan peka jika ditatap seperti itu? “A-ada apa hyung? Ke-kenapa tatapanmu seperti itu kepadaku? Hehe…” tanyanya sok polos dan mencoba mencairkan suasana tak menyenangkan diantara mereka sembari terkekeh pelan. Dan Donghae rasanya benar-benar ingin mencekik leher Kyuhyun saat ini.

***

 

Langkah kaki gadis itu terhenti seketika. Wajahnya sedikit tertunduk. Tubuhnya seakan membeku detik itu juga. Dan, tatapan mata gadis itu sangatlah kosong. Perlahan-lahan, kedua matanya mulai memerah dan memanas. Dijalanan yang tidak terlalu ramai ini, selalu memiliki kenangan tersendiri bagi Yuri dengan seseorang yang ada dihatinya, Oh Seunghwan.

Hari ini adalah tepat tanggal 30. Hari dimana seharusnya mereka merayakan hubungan yang telah terjalin hampir dua tahun ini. Yuri kembali terdiam—merasakan hatinya yang terasa pedih dan pilu. Ia mengangkat salah satu tangannya dan mencengkram pelan kerah bajunya untuk mengurangi rasa sakit.

Oppa…” lirihnya, diiringi air mata yang mulai jatuh disudut matanya. Bibirnya bergetar pelan menahan rasa perih didadanya. “Oppa…” panggilnya lagi, membuat rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. “Oppa…” tangisnya-pun mulai pecah dan tak tertahankan. Ia membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah karena tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang ia terima. Sedangkan Yuri juga tak kuasa untuk menutup rapat bibirnya untuk mengurangi kepedihan dihatinya.

Oppa, kau ada dimana sekarang?” tanyanya disela tangis. Ia mencoba—bahkan selalu mencoba—untuk tetap bertahan dan menanti seseorang yang sangat ia sayangi akan kembali lagi ke sisinya, apapun yang terjadi.

Sekalipun… sekalipun ia terlihat seperti gadis bodoh dimata teman-temannya. Sekalipun mungkin saja ia bisa bahagia dengan orang lain. Sekalipun ia menjadi sangatlah egois. Sekalipun ia merasa terluka dan tersiksa. Sekalipun ia membutuhkan waktu lama untuk datangnya hari bahagia itu. Sekalipun… Ya Tuhan, sekalipun ia benar-benar merasa, mati seperti hidup dan hidup seperti mati… ia selalu berusaha dan bertahan. Karena bagaimanapun juga, seseorang telah mencuri hatinya, mencuri perhatiannya, dan menyita waktunya.

Oppa, aku sangat-sangat merindukanmu…” bisiknya pelan pada angin yang berhembus di sore hari itu. “Aku mohon, cepatlah kembali…”

***

 

“Sayangg!” panggil suara itu dengan manja sembari berlari pelan saat melihat kekasihnya telah tiba diapartement. Laki-laki itu menoleh dan mendapati seorang gadis cantik tengah menunggu diapartement—rumahnya.

“Noona?” panggilnya datar. Entah mengapa ia sedikit tidak menyukai seseorang memasuki rumahnya begitu saja tanpa sepengetahuan dirinya, yaah sekalipun gadis itu adalah kekasihnya.

Victoria berhambur kepelukan Kyuhyun dengan manja dan mesra. “Kau lama sekali pulangnya? Aku sangat merindukanmu hari ini.” Ucapnya dalam pelukannya.

Kyuhyun mendorong pelan tubuh Victoria untuk memberikan jarak diantara mereka. “Hari ini aku sangat sibuk kuliah, noona. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan.” Balas Kyuhyun santai lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju dapur.

“Hari ini apa saja yang kau lakukan? Apa ada gadis genit yang menggodamu?” tanya Victoria sembari berjalan menyusul dibelakang Kyuhyun.

Kyuhyun menghela napas malas dan berat sembari menggapai pintu kulkas di depannya. “Kau tau dengan baik bagaimana para gadis melihatku.” Sahutnya datar sembari mencari-cari jus jeruk di dalam kulkas.

Victoria menghela napas kesal sembari menggerutu sebal dengan kedua tangan di depan dada. “Aish! Menyebalkan! Apa mereka tidak tau bahwa kau sudah ada yang punya?”

Gerakan Kyuhyun terhenti sesaat ketika ia ingin meminum jus jeruknya dalam gelas. “Tidak ada yang tau, kecuali satu orang.” Gumam Kyuhyun pelan, sangat pelan hingga Victoria tidak mendengar perkataannya barusan. “Dan orang itu sangatlah polos.” Tambahnya saat ia teringat sosok Yuri yang tengah menatapnya dengan sebal. Lalu ia mengendikkan kedua bahunya. “Terlalu polos atau bodoh, beda tipis kan?” lanjutnya, dengan suara yang sangat-sangat pelan lalu ia mulai meminum jus jeruknya.

“Kyuhyun-ie, bagaimana jika besok aku datang ke kampusmu?” tanya Victoria dengan wajah sumringahnya dibalik punggung Kyuhyun.

Kyuhyun hampir saja tersedak jika ia tidak berhasil menelan jus jeruknya ke kerongkongan. Ia lalu sedikit membalikkan tubuhnya dan menatap Victoria dengan alis berkerut. “Untuk apa?” tanyanya tak suka.

“Tentu saja untuk membuktikan, bahwa kau ini milikku dan para gadis itu tidak boleh mendekati bahkan mencoba menggodamu.” Jelas Victoria.

“Tidak perlu seperti itu, toh aku juga tidak menghiraukan mereka.” Balas Kyuhyun cuek.

“Terserahlah! Pokoknya, aku tidak mau tau besok kita akan datang bersama. Titik.” Tegas Victoria lalu berjalan pergi setelahnya tanpa menunggu penolakan Kyuhyun sama sekali.

Kyuhyun menghela napas berat. “Hah, merepotkan saja.” Kesalnya.

Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mulai menghubungi seseorang. Awalnya, panggilan itu tidak terjawab tetapi ia kembali menghubungi orang itu.

“Kenapa kau lama sekali menjawab teleponku? Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sibuk sekarang?” tanyanya beruntun. Bahkan orang disebrang sana belum sempat mengatakan ‘halo’.

Wae? Ada apa kau meneleponku?” sahut orang itu disebrang sana dengan setengah sadar.

“Kau mabuk?” tanya Kyuhyun mulai khawatir.

Dalam sekali gerakan cepat, seseorang disebrang sana menegakkan tubuhnya. “A-aniya! Aku baik-baik saja.” Balasnya mencoba meyakinkan.

“Kau dimana sekarang?” tanya Kyuhyun mulai merasa marah.

“Ru-rumah.” Bohongnya.

“Yaa! Kau pikir aku bodoh atau apa? Cepat katakan dimana kau saat ini!” titahnya dengan dingin dan mencoba menahan emosinya. Sungguh, seluruh tubuhnya terasa membeku saat ini jika membayangkan apa yang akan terjadi pada orang itu.

Seseorang disebrang sana terdiam sesaat dan menggerutu sebal karena laki-laki itu mulai mengomelinya. “Sudahlah lupakan. Tidak penting.”

“Yaa, gadis bodoh! Apa kau ingin mati, huh? Aku mengerti kau sama sekali tidak ada niatan untuk menikah nantinya. Baiklah, aku mengerti. Tetapi, sebagai sahabatmu aku ingin memastikan bahwa kau aman dan baik-baik saja sekarang. Urusan kau menikah atau tidak, nanti kita bicarakan setelah bertemu. Jadi, sekarang beritahu aku, dimana kau saat ini?” ucapnya dengan mencoba bersabar dan santai, walau ia merasakan kekhawatiran yang luar biasa.

Gadis disebrang sana mencibir pelan sebelum menyahuti ucapan Kyuhyun. “Yaa, Cho Kyuhyun!” panggilnya sebal. “Dengarkan aku, Cho Kyuhyun, sahabatku.” Lanjutnya. “Aku tidak bilang, aku tidak ingin menikah, bodoh. Aku hanya tidak ingin menikah untuk waktu sedekat dan sementara ini. Entah dengan siapa dan dimana, aku pasti akan menikah nantinya. Aku akan menikah disaat aku merasa siap, bukan disaat aku merasa sepi atau hanya mengikuti napsu sesaat saja. Aku bukan orang sepertimu, b*st*rd! Aku akan menikah antara tiga atau lima tahun lagi, bodoh. Jadi, jangan pernah menyinggung soal pernikahan lagi di depanku, mengerti?” jelasnya dengan nada sedikit rancu.

“Ini tidak baik. Kau benar-benar mabuk! Cepat beritahu aku, kau dimana sekarang?” cemasnya.

“Aku baik-baik saja, bodoh. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Ucapnya dengan setengah sadar. “Dan lagi, aku bisa menjaga hati ini.” Lanjutnya membuatnya terlihat semakin tidak normal. “Aku tutup teleponnya, dan jangan ganggu aku, mengerti? Karena aku ada kencan dengan Seunghwan oppa… Haha!” dan sambunganpun terputus, membuat salah satu pihak benar-benar merasa marah dan khawatir.

Kwon Yuri! Jika aku berhasil menemukanmu, tamatlah riwayat kau! Gerutu Kyuhyun kesal lalu berlari mengambil mantel dan kunci mobil miliknya.

***

 

Seorang gadis tengah terkapar lemah tak sadarkan diri. Ia hanya berbicara melantur kesana kemari tanpa arah dengan salah satu lengan sebagai sandaran kepalanya. Sesekali ia tersenyum dan tertawa pelan, membayangkan masa-masa indah saat bersama seseorang yang ia kasihi. Lalu, bersedih diri saat menyadari bahwa semuanya telah berubah.

Kalian ingat? Salah satu quote:

People may changes, but memories don’t.”

Seperti itulah gadis itu saat ini. Seperti itulah gadis itu merasakan kesakitan yang luar biasa. Seperti itulah gadis itu merasa telah hancur. Seperti itulah gadis itu kehilangan semangat hidupnya. Seperti itulah gadis itu merasakan mati seperti hidup, dan hidup seperti mati. Dan seperti itulah ia saat ini.

Tetapi, bukan gadis itu fokusnya saat ini. Melainkan, ya melainkan, seseorang yang berdiri menatap gadis itu dengan tatapan kosong. Cahaya bola matanya tidak lagi memancarkan cahaya seperti dulu, justru saat ini kedua bola mata itu terlihat dingin dan angkuh. Tidak ada lagi pancaran cahaya hangat ataupun keramahan disana. Pria itu—ya, pria yang mengenakan mantel hitam pekat dan kacamata hitam—menatap dingin pada seorang gadis dihadapannya.

Kedua kakinya terasa berat untuk melangkah maju atau mundur dan berbalik, seperti yang selalu dilakukannya hampir setahun terakhir ini. Pria itu tidak tau, haruskah ia melangkah maju atau benar-benar mundur saat ini? Yang ia tau selama ini adalah, pergi dan menghilang seperti angin. Tak berbekas maupun meninggalkan jejak, sama sekali tidak berbekas.

Oppa…” lirih gadis itu dalam rancuannya. Salah satu air matanya telah jatuh membasahi wajahnya. Sungguh, terlihat sangat menyedihkan gadis ini. Pria itu masih berdiri ditempatnya, tanpa tau ia harus bergerak kemana. Pria itu mendengar. Semuanya. Mendengar semua pembicaraan Yuri dengan seseorang ditelepon tadi. Tidak, tidak, tidak! Ia bahkan mengetahui semuanya. Ya, semuanya. Semua hal yang terjadi pada gadis itu, Kwon Yuri, kekasihnya. Atau mungkin sudah tidak lagi?

Pernah dengar? Salah satu quote ini:

Seberapapun kenal, seberapapun sayang, jika tidak ditakdirkan bersama maka kau tidak akan dibersamakan dengannya. Dan seberapapun tidak kenal, juga seberapapun benci, jika kau ditakdirkan bersama maka seberusaha apapun kau mengelaknya, kau akan dibersamakan dengannya.

Itulah yang dirasakan pria itu. Dia, Oh Seunghwan, sekalipun ia mencoba menjauhi Yuri dan memalingkan dirinya dari gadis itu, tetap saja. Hasilnya akan selalu sama. Akan ada, selalu ada, saat-saat ia bertemu dan memandang pemilik wajah itu sekali lagi dan lagi. Sekalipun, Yuri tidak pernah menyadari keberadaan dirinya, tetapi ia tidak dapat memungkiri bahwa ia sangat-sangat menyukai moment-moment seperti itu. Setidaknya, dari tempatnya berada ia dapat memastikan dengan baik bahwa gadisnya itu baik-baik saja sekalipun tengah mengalami masa-masa sulit seperti sekarang ini.

Seunghwan melangkahkan kakinya dan duduk di depan Yuri. Selama beberapa saat, ia terdiam dan mematung. Gadis itu telah banyak berubah sekarang. Yuri bahkan sengaja mengubah gaya rambutnya sekarang, dan menghilangkan beberapa berat badannya. Dan saat ini, ia terlihat semakin cantik.

Rahang Seunghwan mulai mengeras dan napasnya tidak lagi beraturan. Ia merasa sesak dan sakit melihat Yuri saat ini. Bukan, bukan sakit karena melihat Yuri semakin cantik. Tetapi, ia sakit melihat Yuri menderita dan berjuang seorang diri saat ini. Tanpa dirinya.

“Kau terlihat semakin cantik, Love.” Ucapnya pelan sembari menatap Yuri dengan nanar dibalik kacamata hitamnya. “Kau bisa menjaga dirimu dengan baik, sayang. Kau hebat. Kau gadisku yang luar biasa.” Lanjutnya. “Tetapi, kau akan jauh lebih hebat dan kuat lagi jika…” jedanya sesaat. “kau bisa menjalani harimu tanpa bayang-bayang diriku lagi.” Tambahnya. “Aku… aku harus meninggalkanmu sekarang, Love. Kau harus bahagia tanpa aku, sama seperti aku bahagia tanpa kau lagi, sayang. Setidaknya, kau harus memenuhi salah satu janjimu yang ini, kau ingatkan?” tanyanya, sembari menahan suara tangis yang mungkin saja bisa keluar tanpa bisa ia cegah.

Seperti potongan-potongan dalam sebuah film, dalam tidurnya sekalipun, saat ini terasa begitu nyata untuknya. Sekalipun ini adalah mimpi sedih baginya, tetapi ini terlalu membahagiakan. Oh Seunghwan, pria yang sangat ia sayangi, datang kepadanya lagi. Datang menemuinya lagi. Berbicara kepadanya lagi. Dan memanggilnya dengan panggilan sayangnya lagi. Tidakkah ini sudah cukup untuknya? Oh Seunghwan, jika pria itu kembali padanya, maka itu saja sudah cukup.

Salah satu sudut air mata kirinya jatuh begitu saja. Gadis itu menangis tanpa sadar. Ini sudah cukup, Tuhan.

“Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, Yuri-ya. Jangan hidup dibawah bayang-bayang diriku lagi.  Jangan hidup menyedihkan seperti ini lagi. Jangan menutup pintu hatimu untuk yang lain. Jangan lupakan kenangan kita, jangan lupakan diriku. Tetapi jika itu berat untukmu, maka lepaskan dan lupakanlah aku. Selamat tinggal, my love. Ingat, kau harus menepati janjimu padaku. Dan berbahagialah.” Ucapnya lalu berdiri dari duduknya dan berbalik, lalu mulai melangkah menjauh dari Yuri.

“Selamat tinggal. Selamat tinggal. Aku mencintaimu.” Ucapnya pelan berkali-kali, sembari menahan suara isak tangis.

 

 

Seorang laki-laki datang dari arah berlawanan dengan terburu-buru dan rasa khawatir. Ia takut. Sangat takut. Jika sesuatu hal buruk terjadi dengan sahabatnya itu. Ia bahkan mengendarai mobilnya dengan semrawutan sembari mencoba menghubungi teman-teman gadis itu. Berharap, salah satu diantara mereka ada yang tau keberadaannya. Tetapi hasilnya nihil.

“Kwon Yuri!” seru laki-laki itu saat melihat sahabatnya tergeletak lemah diatas meja yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Langkah kakinya semakin cepat menghampiri gadis itu dengan napas tersengal-sengal.

“Yuri-ya…” panggilnya lirih saat melihat sahabatnya itu benar-benar mabuk tak sadarkan diri. Kyuhyun mendekati tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. Kedua matanya sudah memerah dan memanas sedari ia memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.

Sungguh. Ia takut. Sangat.

“Bodoh…” makinya pelan sembari memeluk tubuh Yuri dengan erat.

***

 

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke jendela kamar, dan sedikit mengusik seseorang yang saat ini tengah tertidur pulas. Gadis itu perlahan-lahan mengerjap pelan sebelum membuka utuh kedua matanya.

Biru muda. Warna yang pertama kali ia lihat ketika sadar. Kedua matanya lalu berkeliling, mencoba memerhatikan sekelilingnya. “Huh? Dimana aku? Ini bukan kamarku.” gumamnya pelan, lalu mencoba bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa sakit dan lemas ketika ia gerakan. Yuri mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi padanya semalam.

Pintu terbuka dan menampakkan seseorang dibaliknya. “Kau sudah bangun?” tanyanya dengan senyum lembut diwajahnya. Ia lalu berjalan mendekati tempat tidur Yuri dengan langkah ringan.

“Ch-cho Kyuhyun?” herannya, kedua alisnya mengernyit menatap Kyuhyun yang saat ini tengah duduk disisi ranjang.

“Keluarlah. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita.” Sahutnya, tanpa menggubris ucapan Yuri barusan. Kyuhyun tau, gadis itu pasti memiliki banyak pertanyaan untuknya. Tetapi, ini masih terlalu pagi untuk membahas hal-hal seperti itu. Ditambah lagi, Yuri sedang tidak baik saat ini.

“Tapi…” sebelum Yuri dapat menyelesaikan ucapannya, Kyuhyun lebih dulu menyelanya.

“Kita bicarakan nanti. Aku sudah lapar. Kajja!” ajaknya sembari mengulurkan kedua tangannya.

Yuri tertawa pelan. “Benar-benar player!”

Kyuhyun tak menggubris sindiran Yuri sama sekali, ia terlalu malas untuk melakukannya. Alih-alih, ia tersenyum sangat manis pada sahabatnya itu. Yuri menerima uluran tangan Kyuhyun dan membiarkan sahabatnya itu membawanya pergi.

Ahh, jinjaa!” Yuri tak bisa menahan keterkejutan maupun tawanya saat Kyuhyun membopong dirinya dari tempat tidur. Benar-benar diluar kendali Kyuhyun, tetapi ia melakukannya. Dan entah mengapa, ia benar-benar ingin menjaga dan melindungi gadis yang tengah tertawa dalam dekapannya saat ini.

Ia, Cho Kyuhyun, ingin sekali menjaga senyum dan tawa itu. Dan tak akan pernah membiarkan senyum maupun tawa itu redup, terlebih menghilang. Tidak, setelah kejadian kemarin malam.

“Yaa, Cho Kyuhyun! Ini sungguh memalukan!” ucap Yuri disela malu dan tawanya, saat Kyuhyun memperlakukannya dengan sangat baik. Terlebih Kyuhyun benar-benar seperti menggodanya.

“Whoaa, sepertinya akan lebih baik jika kita berdua segera menikah, Kwon Yuri.” Goda Kyuhyun sembari menatap Yuri dengan tatapan dan senyuman mautnya.

Baiklah girls, adakah yang tahan akan senyumannya ituu?

 

***

 

Baik, apa lagi yang akan terjadi setelah ini setelah sarapan bersama, memakai pakaian Kyuhyun hingga membuatnya hampir sedikit tenggelam, duduk satu mobil dengan pria menyebalkan itu, dan membicarakan hal-hal tak penting lainnya. Lalu, sekarang apa lagi?

Gadis itu—Kwon Yuri—sedikit kesusahan menelan liurnya sendiri. Ini diluar batas dari apa yang ia duga atau bayangkan sebelumnya. Tidak! Bahkan sekalipun ia tidak pernah membayangkan atau mengharapkan hal seperti ini terjadi dikehidupannya. Dan poin paling pentingnya lagi adalah—lebih baik kalian mencatatnya baik-baik kawan—ia tidak ingin berurusan dengan seorang laki-laki bernama Cho Kyuhyun. Tidak. Dan tidak akan pernah mau.

Yuri keluar dari mobil Kyuhyun dengan sangat canggung dan terburu-buru. Semua mata menatap dirinya dengan penuh rasa keingintahuan. “Aish, menyebalkan!” gerutu Yuri sebal saat ia baru saja turun dari mobil Kyuhyun dan segera menutup kepalanya dengan kupluk jaket. “Apa sih tatapan mata itu? Kenapa mereka melihatku seperti itu? Arggh!” gumam Yuri lagi saat dirasakan bulu kuduk dilehernya berdiri. “Aku tidak melakukan satu kesalahan apapunkan? Aku benar kan?” gumamnya lagi dengan wajah sebalnya.

Sementara Yuri terus bergumam menunggu sahabatnya itu selesai memarkirkan mobilnya, Kyuhyun justru senyum-senyum sendiri saat melihat perempuan dihadapannya itu bertingkah aneh pagi ini. Entah mengapa selalu ada sifat Yuri yang membuatnya tak habis pikir dan sedikit merasa geli saat melihatnya, seperti salah satu ini contohnya. Ia benar-benar terlalu berlebihan. Kyuhyun segera turun dari mobilnya lalu menguncinya dan berjalan menghampiri Yuri. “Kenapa cemberut seperti itu? Ada yang salah?” tanya Kyuhyun gemas saat melihat Yuri mengembungkan kedua pipinya.

Yuri melirik sesaat lalu menatap kearah lain. “Kajja!” ajaknya sembari berjalan lebih dulu. “Aish, apa sih yang ada dipikiranku saat ini?” gumam Yuri pelan sembari merutuki dirinya sendiri, sedangkan Kyuhyun berjalan dibelakangnya. “Aku pasti sudah gila sekarang.” Lanjutnya pelan sembari kembali mengingat-ingat kejadian semalam hingga dirinya berakhir dirumah Kyuhyun pagi ini.

Tunggu, omong-omong soal semalam… Langkah Yuri berhenti detik itu juga. Tubuhnya mulai membeku, dan kepalanya mulai terasa berputar-putar.

“Kau ingat janjimu padaku kan? Aku harap kau menepatinya saat ini.” Suara itu terasa terngiang-ingang dikepala Yuri. Perlahan-lahan, ingatan semalam mulai memenuhi benaknya.

“Kau terlihat semakin cantik, Love… Kau bisa menjaga dirimu dengan baik, sayang. Kau hebat. Kau gadisku yang luar biasa… Tetapi, kau akan jauh lebih hebat dan kuat lagi jika… kau bisa menjalani harimu tanpa bayang-bayang diriku lagi.”

“Aku… aku harus meninggalkanmu sekarang, Love. Kau harus bahagia tanpa aku, sama seperti aku bahagia tanpa kau lagi, sayang. Setidaknya, kau harus memenuhi salah satu janjimu yang ini, kau ingatkan?”

“Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, Yuri-ya. Jangan hidup dibawah bayang-bayang diriku lagi.  Jangan hidup menyedihkan seperti ini lagi. Jangan menutup pintu hatimu untuk yang lain. Jangan lupakan kenangan kita, jangan lupakan diriku. Tetapi jika itu berat untukmu, maka lepaskan dan lupakanlah aku. Selamat tinggal, cintaku. Ingat, kau harus menepati janjimu padaku. Dan berbahagialah.”

Keseimbangan Yuri mulai goyah hingga ia hampir saja terjatuh jika Kyuhyun tidak menahan tubuh gadis itu. Tubuh Yuri terasa sangat lemas tak bertenaga, bahkan untuk berdiri dan menopang tubuhnya saja susah. Ia seperti kehilangan tenaganya untuk saat ini. Disudut matanya, air matanya sudah jatuh tanpa ia sadar. Dan hati maupun pikirannya mulai berkecamuk saat ini.

“Kwon Yuri, ada apa?” khawatir Kyuhyun sembari mempererat dekapannya dan menatap Yuri lekat-lekat.

Kedua bola mata Yuri terus bergerak ke kanan-ke kiri, seolah-olah ia baru saja sadar dari lamunannya dan sedang mencari seseorang. Sedangkan bibirnya mulai mengeluarkan suara isakan kecil dan rancuan. “Di-dimana?” ucap Yuri pelan, yang membuat kening Kyuhyun sedikit mengernyit. “Di-mana kau?” lanjutnya, kali ini sedikit keras. “Yaa!” lanjutnya lagi, kali ini Yuri mencoba bertahan dan berdiri tegak, membebaskan dirinya dari dekapan Kyuhyun lalu mulai mencari sesuatu. Atau lebih tepatnya… seseorang. “Yaa, eoddiseo? Yaa, apa kau bodoh? Yaaa, keluarlah, bodoh!” pinta Yuri dengan nada sedikit memaksa dan keras, menatap sekelilingnya. Berharap… ia sungguh-sungguh berharap bahwa, laki-laki itu akan keluar dari persembunyiannya dan datang menemuinya. “Oh Seunghwan! Cepatlah keluar, bodoh!” tambahnya, dengan nada sudah tak karuan lagi karena air mata dan tangis yang tak bisa ia tahan.

Kyuhyun tak bisa menahan dirinya lagi melihat Yuri seperti itu. Ia mencoba memeluk sahabatnya itu dengan erat, berharap temannya itu tidak merasakan seorang diri, berharap temannya itu kembali tenang dengan adanya dirinya, berharap temannya itu bisa merasakan ketulusan hatinya, berharap temannya itu menyadari keberadaannya, dan berharap temannya itu… ya Tuhan, ia sangat berharap luka yang diterima Yuri cepat sembuh dan tak berbekas hingga ia bisa kembali seperti dulu lagi. Ya Tuhan, ia bahkan berharap yang paling terbaik untuk gadis itu. Kyuhyun semakin mempererat pelukannya dan menciumi pucuk kepala Yuri dengan lembut juga penuh kasih berkali-kali. Tangis Yuri semakin pecah dalam dekapan Kyuhyun, ia bahkan memukul tubuh sahabatnya itu berkali-kali untuk menghilangkan rasa sakit dan pilu dihatinya.

***

 

Suara detikkan jam perpustakaan dapat didengar ditelinga Yuri. Ia—tidak, mungkin lebih tepatnya Kyuhyun—lebih memilih berada ditempat ini daripada mengikuti kelas Profesor Ahn. Kyuhyun menempelkan minuman kalengan dingin ke wajah Yuri, membuat gadis itu sedikit terkejut dan menatap Kyuhyun dengan sendu. Kyuhyun tersenyum tipis, memaksakan sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas melihat sahabatnya seperti itu. “Masih mencoba berpikir keras tentang Oh Seunghwan?” tanya Kyuhyun memecah keheningan.

Yuri menghela napas berat. “Entahlah.” Sahutnya pelan sembari menatap kosong lantai.

Kyuhyun mengendikkan bahunya. “Apa kau sebegitu merindukannya?”

Yuri mengangguk pelan lalu mendongakkan wajahnya, menatap dedaunan pohon lewat jendela perpustakaan. Saat ini ia sedang duduk didekat jendela untuk mengusir atau mencoba menghilangkan sedikit perasaan sedihnya. “Sangat. Aku sangat merindukannya.” Lirih Yuri.

Diam-diam Kyuhyun tersenyum getir disudut bibirnya. “Dia pasti sangat berarti sekali untukmu.”

“Sangat, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun terdiam sesaat. “Apa… bagimu, dia adalah sahabat terbaikmu?” tanya Kyuhyun pelan dan sedikit menunduk, melihat kedua ujung sepatunya yang sengaja ia goyangkan daritadi.

Yuri sedikit mengernyitkan keningnya sebelum menoleh dan menatap Kyuhyun. “Maksudmu?”

“Ti-dak, hanya saja aku teringat kata-katamu dulu.” Balas Kyuhyun sembari menoleh, menatap Yuri. “Cinta adalah sahabat. Dan sahabat adalah cinta. Jika kau mencintai seseorang, maka kau harus menganggap dan memperlakukannya seperti sahabatmu sendiri. Karena sahabat adalah seseorang yang tidak mungkin mengkhianati kita, akan selalu terus berusaha disisi kita dalam keadaan apapun, dan selalu menyayangi juga mencintai kita dengan hatinya.” Jelas Kyuhyun, diiringi senyum miring diwajahnya saat mengakhiri kalimatnya.

Yuri tertawa pelan sembari mengangguk. “Hm, Rahul Khanna?”

Kyuhyun terdiam. Mematung. Melihat seseorang dihadapannya kini tertawa lagi. Dunianya seolah berhenti saat ini, melihat gadis itu kembali tertawa. Ia merasakan, jantung maupun paru-parunya kembali berfungsi setelah semuanya tidak berjalan dengan normal tadi.

“Berjanjilah padaku.” Ucap Kyuhyun dalam dan tenang.

“Hm?”

“Kau tidak boleh lagi bersedih seperti tadi dan hari-hari sebelumnya. Berjanjilah padaku, kau akan selalu tersenyum dan tertawa dalam keadaan apapun.” Tegas Kyuhyun. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya seakan dingin dan terluka.

“Kyu-hyun-ah… ada apa denganmu?” tanya Yuri takut. Takut, melihat tatapan Kyuhyun yang seperti itu sebelumnya.

“Berjanjilah padaku, Kwon Yuri!” balas Kyuhyun dengan nada yang sangat tegas dan bergetar.

Yuri tidak bisa melakukan apapun, bahkan berpikir untuk saat inipun tidak bisa. Yuri menganggukkan kepalanya pelan. “A-aku berjanji.”

Kyuhyun menghela napas lega dan perlahan-lahan, tatapan mata Kyuhyun kembali seperti semula. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Lalu menarik tubuh Yuri untuk dalam dekapannya. “Maafkan aku, Yuri-ya.” Bisiknya lembut sembari menenggelamkan wajahnya dalam bahu Yuri.

 

***

 

“Heii!” seru Yuri ketika Kyuhyun mengambil makan siangnya tanpa permisi. Yuri menepis sebal tangan Kyuhyun sesegera mungkin tetapi terlambat, Kyuhyun lebih dulu menghindari dan memasukkan daging ke dalam mulut. “Yaa! Kau kan bisa memakan punyamu sendiri.” Omel Yuri sembari memanggang daging bakar dihadapannya. Saat ini mereka tengah berada dikedai daging untuk makan siang bersama.

Kyuhyun tertawa pelan sembari menutup mulutnya dengan tangan. “Mengganggumu itu sangatlah menyenangkan.” Ucapnya lalu mencubit gemas pipi Yuri. Gadis itu menatap tajam ke arahnya.

“Yaa!” protesnya, sedangkan Kyuhyun menahan tawanya. “Aish, jebal!”

Kyuhyun lalu melepas cubitannya dan mulai membolak-balikkan daging bakar dihadapan-nya. “Yaa, akan bagus sekali jika kita bisa seperti ini terus.” Ucap Kyuhyun tanpa sadar sembari terus membolak-balikkan daging dipanggangan.

“Hm, maksudmu?” tanya Yuri santai sembari memasukkan daging ke dalam mulutnya.

“Tinggal bersama, sarapan bersama, berbagi cerita satu sama lain, tertawa bersama, melakukan hal-hal seperti sepasang kekasih, dan kau menungguku pulang ke rumah sepulang kerja, membuatkanku makan malam, menyiapkan air mandi hangat untukku, memiliki anak-anak yang kita cintai, selalu menemani dalam suka maupun duka, dan kita sampai tua nanti akan selalu bersama—” ucapan Kyuhyun terhenti karena Yuri memasukkan daging ke dalam mulutnya secara sengaja.

“Makanlah, makan. Daritadi kau berbica terus.” Jelasnya sembari terus menyuapi beberapa daging ke dalam mulutnya. Kyuhyun mencibir sebal dan hendak memprotes tetapi tak bisa karena Yuri terus menyuapinya. “Enakkan?” tanya Yuri diiringi senyum lembut diwajahnya.

Dalam diam, Yuri menghela napas dalam dan panjang. Entahlah, rasanya ia tidak terlalu sanggup mendengar Kyuhyun mengatakan hal-hal bodoh seperti tadi.

***

 

“Kau benar-benar tidak ingin menginap dirumahku lagi?” tanya Kyuhyun untuk kesekian kalinya, hingga rasa-rasanya Yuri mulai jengah mendengar perkataan itu.

“Ya ampun, Cho Kyuhyun. Aku bilang tidak, ya tidak. Orangtuaku pasti khawatir dirumah.” Jelas Yuri lagi.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya sembari menatap Yuri lewat jendela mobil miliknya. Sungguh, sebenarnya ia benar-benar tak rela harus menurunkan Yuri dihalte bukan didepan rumahnya. Terlebih, ia benar-benar menyukai Yuri selalu berada di dekatnya. Mungkin saat ini ia sangat menyukai; Yuri berada di dekatnya, tawa renyah milik Yuri, omelan Yuri padanya, bibir Yuri yang selalu memanggil namanya, kedua mata Yuri yang hanya melihat kearahnya, bau harum tubuhnya, dan terakhir hal-hal yang berhubungan maupun berkaitan dengan Kwon Yuri.

Dan hal yang paling tidak disukai Kyuhyun adalah dijauhkan dari hal-hal yang disukainya. Ada yang ingin protes? Hm, baiklah, terserah saja. Tapi toh, Kyuhyun tidak akan menggubris protesan itu.

“Yaa, Cho Kyuhyun!” panggil Yuri ceria sembari mencubit gemas hidung Kyuhyun. Kyuhyun menoleh dan menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan bodohnya. “Pergilah! Kau membuat bus dibelakangmu mengantri.” Lanjut Yuri sembari menunjuk bus dibelakang mobil Kyuhyun dengan ujung dagunya.

Kyuhyun hanya menyunggingkan sederetan gigi putih dan rapih miliknya. “Aku pergi. Jaga dirimu. Hati-hati ya!” pamitnya yang hanya dibalas dengan anggukan pelan dari Yuri, dan tak lama pun mobil Kyuhyun sudah mulai menjauh pergi.

Yuri melambaikan tangannya lalu menurunkannya dan mulai berjalan pergi. Pergi ke suatu tempat, bukan ke rumahnya. “Maafkan aku, Kyuhyun-ah.” Sesal Yuri. Ya, dia berbohong pada Kyuhyun tadi. “Saat ini aku ingin seorang diri saja.”

 

***

 

Kyuhyun baru saja melangkahkan kakinya ke dalam apartementnya, dan Victoria sudah menyambutnya dengan senyum getir diwajahnya. Kedua matanya menatap Kyuhyun dengan pilu dan sakit. “Victoria?” panggil Kyuhyun canggung.

“Ke-napa….” Tanyanya terhenti karena air mata dan tangis mulai keluar menjadi satu. “Ke-napa kau memperlakukanku seperti ini?” lanjutnya beberapa saat kemudian. “Kenapa kau tega sekali, Cho Kyuhyun?” tangisnya semakin pecah dan baju disalah satu tangannya semakin tak karuan bentuknya.

Baju Yuri? Gumam Kyuhyun.

“Ke-napa…? Kali ini siapa lagi? Apakah ini milik Seohyun?” tanya victoria mulai histeris, merasakan sakit dihatinya.

“Ti-dak, bukan begitu…” balas Kyuhyun mencoba menjelaskan tetapi lidahnya kelu. Rasanya sulit sekali mengatakan sesuatu disaat seperti ini. Terlebih, ia tidak tega melihat Victoria menderita seperti ini.

Victoria berjalan mendekati Kyuhyun dan mencengkram lengannya dengan kuat. “Coba beritahu padaku sekarang, Kyuhyun-ie.” Pinta Victoria lembut dan sedikit tergesa-gesa. “Kali ini, perempuan murah mana lagi yang datang dan menggodamu seperti ini, huh? Mana lagi?” lanjutnya.

Noona…” panggil Kyuhyun takut dan lirih. Victoria menatap Kyuhyun dengan tatapan sendu. “Itu bukan siapa-siapa. Kemarin Ahra noona datang kemari dan menginap disini, mungkin dia tak sengaja meninggalkan bajunya disini.” Bohong Kyuhyun.

Perlahan-lahan, Victoria menjadi lebih baik dan tersenyum manis pada Kyuhyun. “Syukurlah…” leganya lalu memeluk tubuh Kyuhyun erat dan menenggelamkan wajahnya di dadanya. “Aku sungguh takut kehilangan dirimu, Kyuhyun-ie.”

Kyuhyun pun hanya terdiam, tanpa ada niatan membalas pelukan Victoria sama sekali. Aku tak menyukai ini. Benar-benar tak menyukai ini. Aneh. Rasanya sangat menjengkelkan.

Dimana Yuri? Kenapa ia tidak mencoba menghubungiku?

Ingat? Hal yang sangat Kyuhyun benci; dijauhkan dari hal-hal yang ia sukai.

Sungguh, dimana Kwon Yuri?

 

***

 

Angin sepoi-sepoi yang menyentuh wajah maupun rambut seseorang, membuatnya tertidur dipinggiran bangku sungai Han.

DEG! Jantungnya mulai berdebar-debar lagi. Kedua matanya mulai terbuka. Kedua matanya mulai mencari-cari sesuatu. Dan hatinya… mulai kembali merasakan hal aneh itu lagi.

Yuri terbangun dari tidurnya dan mulai melihat-lihat sekelilingnya. Salah satu tangannya menyentuh baju bagian atasnya, terlebih adalah ia ingin sekali memastikan jantung maupun hatinya baik saja-saja saat ini. “Aneh. Aku yakin sekali ada yang memanggil namaku tadi.” Gumamnya. Yuri mulai merenggangkan tubuhnya dan menghirup udara sebebasnya. “Hmm, ini mungkin efek tidur siang.” Tambahnya. “Oh, sudah sore?”

“Haus?” tanya seseorang dibalik punggung Yuri sembari menyodorkan sekaleng jus jeruk. Yuri melirik sekilas ke kaleng itu, lalu tersenyum malas.

“Tidak, terima kasih.” Balasnya.

“Hm, sayang sekali.” Balasnya sembari memasukkan kaleng itu ke dalam saku. Lalu seseorang itu beralih duduk disampingnya dan menatap pemandangan dihadapannya. “Ternyata bagus juga pemandangannya walaupun sudah sore hari.” Ucap orang itu. Yuri lalu menatap sebal ke arah seseorang dihadapannya. Mau apa sih sebenarnya?

“Permisi, tapi bisakah kau duduk dibangku sebelah sana yang masih kosong?” pinta Yuri dengan masih sangat sopan walau ia merasa kesal sekalipun karena pria itu mengganggu zona privasinya.

Pria itu menoleh dan tersenyum pada Yuri. “Bagaimana jika aku tidak mau?” tantangnya.

Yuri menghela napas sebal. “Maka tidak ada pilihan lain.” Gumamnya sembari mengangguk pelan.

“Pilihan apa?” tanya pria itu dengan sangat penasaran. Belum juga pria itu mendapat jawaban dari Yuri, gadis itu lebih dulu bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan orang asing itu. Ia tidak suka ruang privasinya diganggu oleh orang asing.

Pria itu tersenyum lembut dibalik punggung Yuri sembari menatap gadis itu. “Heii, namaku Lee Hyukjae! Sampai berjumpa lagi!” seru pria asing itu dengan antusias sembari melambai-lambaikan tangannya tinggi dibalik punggung Yuri. Yuri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan memilih diam daripada menghiraukan ucapan orang asing tersebut.

 

***

 

Ponsel Yuri terus saja berdering dan menampilkan nama yang sama dilayar, tetapi entah mengapa Yuri merasa enggan untuk mengangkatnya. Yuri jadi sedikit berpikir selama beberapa saat—well, maksudnya mungkin perjalanan dari tempat Sungai Han menuju halte tempatnya berhenti nanti—setelah Kyuhyun mengatakan hal-hal aneh hari ini.

Pertama, Rahul Khanna. Cinta adalah sahabat. Dan sahabat adalah cinta. Jika kau mencintai seseorang, maka kau harus menganggap dan memperlakukannya seperti sahabatmu sendiri. Karena sahabat adalah seseorang yang tidak mungkin mengkhianati kita.

Kedua, janji. Berjanjilah padaku. Kau tidak boleh lagi bersedih seperti tadi dan hari-hari sebelumnya. Berjanjilah padaku, kau akan selalu tersenyum dan tertawa dalam keadaan apapun.

Ketiga, perkataan yang aneh. Tinggal bersama, sarapan bersama, berbagi cerita satu sama lain, tertawa bersama, melakukan hal-hal seperti sepasang kekasih, menungguku pulang ke rumah sepulang kerja, membuatkanku makan malam, menghabiskan waktu dan melakukan segala sesuatunya bersama-sama.

Keempat, hm apa ya? Entahlah, Yuri merasa ada, tetapi tidak tau hal keempat itu apa?

Suara dering panggilan masuk kembali terdengar. Yuri hanya menoleh dan meliriknya sekilas lalu kembali menatap ke luar jendela bus.

6 Missed Call

4 New Massage

Haruskah… aku menjawabnya?

Cho Kyuhyun calling

 

***

 

Oppa?” panggil lembut seseorang sembari tersenyum padanya.  Laki-laki itu tak bergeming dan hanya menatap kosong jalanan dihadapannya sembari melajukan pelan mobilnya. Pikirannya saat ini benar-benar tengah fokus pada suara panggilan tunggu diearphone. Sedangkan hatinya mulai merasa tak menentu, bertanya-tanya keberadaan dan kabar seseorang. “Kyuhyun oppa?” suara itu kembali memanggil namanya berkali-kali, tetapi Kyuhyun masih belum menggubris panggilan itu.

Seohyun menyentuh tangan Kyuhyun dengan lembut. Kyuhyun terhenyak dan mulai sadar dari dunianya. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kau terlihat cemas daritadi.” Tanya Seohyun khawatir.

Kyuhyun memaksakan sebuah senyuman diwajahnya. “Ti-tidak apa-apa. Aku hanya sedang banyak pikiran saja saat ini.”

“Vic-toria unnie? Apa kau memikirkan ia saat sedang bersamaku seperti ini?” tanya Seohyun dengan kesal.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Bu-kan. Percayalah, bukan Victoria.” Sahut Kyuhyun meyakinkan dan sedikit frustasi.

“Lalu?” tuntut Seohyun.

“Ti-tidak ada. Bukan siapa-siapa.” Jawab Kyuhyun dengan tatapan kosong dan napas berat.

Seohyun berpikir sejenak dan mengatakannya dengan takut. “Kalau begitu, a-apakah… Yuri unni?”

Kyuhyun hampir saja terbatuk saat nama Yuri terdengar ditelinganya. “HAHA! Yuri? Maksudmu, makhluk luar angkasa itu?”

Seohyun terdiam, menatap lekat Kyuhyun.

“Tidak mungkin aku memikirkannya.” Ucap Kyuhyun, mencoba meyakinkan sembari mengigit pelan ujung jarinya. “Tidak, tidak mungkin.”

Sudut bibir Seohyun tersenyum getir. “Kau masih bersama Victoria unni, lebih baik kau putuskan ia lebih dulu dan baru menemuiku.” Ucap Seohyun tegas dan dingin. “Aku tidak ingin menjadi simpanan atau kekasih keduamu, oppa.” Lanjutnya.

Kyuhyun menghela napas dalam sembari memejamkan kedua matanya. Ia tau, yang ia lakukan ini sangatlah salah tetapi, ia tidak ingin kehilangan mereka berdua.

“Lebih baik mulai saat ini kita tidak saling bertemu satu sama lain lagi dan jangan menghubungiku lagi sampai kau memutuskan siapa yang sebenarnya kau cintai dan inginkan dalam dirimu untuk menemanimu seumur hidup.” Putus Seohyun tegas. “Kau bisa turunkan aku didepan saja.” Pinta Seohyun.

“Seohyun-ie…” rujuk Kyuhyun.

Salah satu tangan Seohyun terangkat ke udara setinggi dada. “Cukup oppa! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu selain kau mengikuti permintaanku barusan.” Tegasnya lagi.

Kyuhyun menghela napas berat. Victoria atau Seohyun? Sungguh, bukan pilihan yang mudah untuk segera diputuskan.

 

***

 

“All I want to do is find a way back into love… I can’t make it through without a way back into love… And if I open my heart again… I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end… Oh, oh, oh, oh, oh…” Suara dan alunan musik itu membuat Yuri berhenti melangkah dijalanan Gangnam. Langkah kakinya berhenti secara otomatis di depan sebuah band jalanan yang tak jauh dari mereka. Wajahnya menoleh dan melihat mereka dengan tatapan sendu dan kosong.

Lagu itu…

“There are moments when I don’t know if it’s real… Or if anybody feels the way I feel… I need inspiration… Not just another negotiation…” lantunan lagu itu terus terdengar ditelinga Yuri dengan baik. Ia tidak bisa mendengar apapun lagi saat ini, bahkan kebisingan lalu-lintas maupun pejalan kaki lainnya juga tidak dapat di dengar oleh telinganya. Hanya suara itu, hanya lagu itu saja yang dapat ia dengar dengan baik.

 

“Oppa!” panggil Yuri pada laki-laki yang terus menarik paksa tangannya dengan lembut. “Kita mau kemana?” tanyanya lagi, yang entah keberapa kalinya ia bertanya seperti itu.

Laki-laki itu menoleh sembari berlari pelan agar Yuri segera mengikutinya dan berharap gadisnya itu tidak lagi bertanya-tanya padanya. Jalanan di Gangnam saat malam hari terasa begitu ramai dan sedikit padat, tetapi hanya hari itu saja selebihnya tidak terlalu. Seunghwan mengajak Yuri ke sebuah taman dekat air mancur yang diterangi lampu disekeliling kolam itu. Seunghwan menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya, dan menatap Yuri dengan senyum mempesona diwajahnya. Kedua napas mereka sedikit memburu satu sama lain.

“Hm, waee?” tanya Yuri akhirnya, karen Seunghwan tak kunjung mengatakan sesuatu.

Seunghwan tersenyum, kali ini menyunggingkan senyum misteriusnya sembari menatap Yuri lekat, membuat gadis itu semakin penasaran. Ia lalu menggapai kedua jemari Yuri dan menggenggamnya dengan lembut tetapi santai. “Kwon Yuri,” panggilnya dengan nada menggantung di udara tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu. “Aku mencintaimu. Sungguh, mencintaimu.” Lanjutnya. “Aku harap, kau tidak akan pernah memiliki niatan untuk pergi meninggalkanku dalam suka maupun duka. Kau akan selalu berada disisiku, selamanya. Kau akan selalu menungguku, mencintaiku, dan mengasihiku sampai kapanpun.” Jedanya lagi, ia mempererat genggamannya. Sedangkan Yuri menatap lekat-lekat pria dihadapannya kini dan mencoba mencari kebohongan dibola mata laki-laki itu. “A-ku… mungkin saja akan pergi dan menghilang lagi dari hidupmu karena pekerjaanku sebagai seorang dokter. Tetapi…” Ia mengambil napas berat. “Apapun yang terjadi aku harap kau tidak melupakanku dan terus mengingat bahwa kau milikku seorang, juga aku milikmu seorang.”

Tulus. Kata-kata itu terdengar tulus ditelinga Yuri. Ia bahkan tidak dapat berkata apa-apa lagi selain, air mata bahagia yang mewakili perasaannya saat ini. “Jin-ja… oppa?” tanya Yuri mencoba memastikan walau terlihat sia-sia saja. Seunghwan menganggukkan kepalanya dengan pelan dan pasti. Dan suara tangis bahagia dari bibir Yuri pun pecah. Ia tidak dapat menahan kebahagian ini lebih lama lagi. Yuri lalu memeluk Seunghwan dengan sangat erat tanpa merelakan sedetikpun untuk melepaskannya.

“Aku mencintaimu, Kwon Yuri.” Bisik Seunghwan lembut tepat ditelinga gadis itu.

Suara lantunan musik dari sebuah band jalanan dekat tempat mereka beradapun terdengar, membuat keduanya tersadar dan menikmati lagu yang dinyanyikan saat itu.

“… All I want to do is find a way back into love

I can’t make it through without a way back into love

And if I open my heart again

I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end

Oh, oh, oh, oh, oh

There are moments when I don’t know if it’s real

Or if anybody feels the way I feel

I need inspiration

Not just another negotiation…”

 

Suara dan getaran ponsel miliknya membuat dirinya kembali sadar dari alam mimpinya. Yuri mengangkat ponsel dan menatap sesaat siapa yang menghubunginya kali ini. Gadis itu sedikit menghela napas terlebih dahulu sebelum memutuskan menekan tombol hijau dilayar ponsel. “Halo, ada apa?” sapanya sedikit cuek, namun sebisa mungkin ramah.

“Ku kira kau akan kembali mengabaikan panggilan dariku lagi, tapi ternyata tidak.” Sahut seseorang diseberang sana.

Yuri memaksakan senyum paksa disudut bibirnya. “Maaf, tapi ada apa?”

“Tidak ada. Yaa, apa aku hanya boleh menghubungimu jika sesuatu terjadi padaku atau aku hanya ingin sekedar bercerita padamu, huh?” sebalnya.

“Tidak juga.” Sahutnya singkat sembari menundukkan wajahnya sesaat lalu melangkahkan kakinya.  “Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku tutup kalau begitu.” Lanjutnya sembari menatap ke depan jalan.

“Yaa, yaa! Aish! Benar-benar gadis ini!” omel seseorang disebrang sana. “Apa aku sudah selesai berbicara padamu, huh? Tsk, kau ini benar-benar gadis jahat sekali!” makinya dengan benar-benar kesal. “Baik! Jika kau hanya ingin aku meneleponmu disaat aku butuh saja, aku lakukan! Tapi Yuri-ya, aku bukan seseorang yang seperti itu, bodoh! Apa aku hanya datang padamu disaat aku butuh dan sedih saja, huh?” tambahnya. “Ahh, benar-benar! Kau merusak moodku saja!”

Yuri menghela napas pendek dan memincingkan kedua matanya dengan tajam, seolah-olah orang itu berada dihadapannya dan ia bersiap-siap mencekiknya saat ini juga. “Yaa, Cho Kyuhyun!” panggilnya tak terima. “Jika kau hanya menghubungiku untuk mengomeliku, maka lupakan saja! Karena aku benar-benar tak sudi diperlakukan seperti ini olehmu, kau mengerti?” omel balik Yuri tak mau kalah.

Kyuhyun ingin membalas ucapan Yuri barusan tetapi ia kehilang kata-katanya dan hanya bibir terbuka tanpa suara yang menggantung diudara. “Tidak ada kan?” tanya Yuri memastikan dengan nada yang terdengar menjengkelkan ditelinga Kyuhyun. “Oh baiklah, kalau begitu aku tutup saja.” Lanjutnya dengan nada ceria dan sopan yang dibuat-buat. Yuri benar-benar merasa kesal atas perbuatan Kyuhyun tadi. Memangnya aku salah apa sampai ia seperti itu?

“Yaa, Kwon Yuri!” panggil Kyuhyun dengan suara yang dapat memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Bahkan orang-orang disekitaran Yuri dapat mendengarnya dan menatap Yuri dengan pandangan sebal. ‘Apa sih, berisik sekali!’ seperti itulah yang dikatakan ekspresi wajah mereka.

Yuri menghela napas panjang dan dalam sembari mengebelakangi rambutnya dengan salah satu tangan. Ia lalu menggigit bibirnya pelan. “Oke, kali ini apa lagi?” tanyanya mencoba sabar dan menahan emosinya.

“Dimana kau sekarang? Apa kau sudah dirumah dan mengunci kamarmu?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Bukan urusanmu, Tuan Cho.” Balas Yuri singkat dan sedikit malas dengan obrolan tidak penting saat ini.

“Eissh, kau ini.” Sahut Kyuhyun, mencoba merajuk. “Kita kan teman, Yuri-ya. Jadi, wajar saja untukku mengetahui kau berada dimana sekarang, benar?” lanjutnya sembari mencoba berpikir untuk mencari cara agar gadis itu mau memberitahunya dan mengijinkannya menemuinya sekali lagi. Sekali saja. Setidaknya untuk hari ini.

Wae? Apa jika ku beritahu, kau akan datang kesini? Sekarang?” tanya Yuri dengan nada sedikit meledek.

“Ten-tu saja! Jika kau mengijinkannya, aku akan pergi kesana sekarang juga.” Jawab Kyuhyun antusias. Sebuah senyum mengembang diwajahnya. Saat ini, ia tidak merasa uring-uringan lagi, melainkan ada rasa senang dihatinya.

Yuri menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tidak, tidak dan tidak. “Berhentilah bermain-main, Cho Kyuhyun.” Balas Yuri sembari memejamkan kedua matanya. “Aku tutup teleponnya, sampai jumpa.” Putus Yuri dan sambunganpun terputus, meninggalkan rasa kesal disebrang sana.

“Y-yaa, yaa! Aish, benar-benar! Kenapa selalu seperti ini? Nenek sihir itu benar-benar menyebalkan!” gerutu Kyuhyun saat sambungan diputus secara sepihak.

—To Be Continued—

Hellooo~

Ada yang menanti kelanjutan part ini? Semoga ada yaa, hehe😀

Kali ini Yura ngga banyak omong deh, udah malam menjelang pagi soalnya(?) sudah waktunya beristirahat🙂

So, semoga kalian tetap menikmati dan menyukai alur cerita yang Yura saji dan paparkan(?) LOL

Plus, jangan lupa untuk like(s) atau votenya / kasih bintangnya ya buahahaha /tertawa jahat/

Selamat shippers! Selamat beristirahat yaa~

Semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan ^^

Love you all muahh~ /tebar tebar(?)/

Keep RCL, and don’t forget to respect ya.

32 thoughts on “I Wanna Say “I Love You” [Part 3]

  1. sepertinya donghae suka sama yuri.kasian donghae mau deketin yuri tpi gak jdi karna kyuhyun mengganggunya.
    kyuhyun baik banget sama yuri. kyu apa dia itu gak sadar kalau dia itu suka sama yuri bukan seo & victoria.

  2. Huaaa first!!!!
    Udah ini mah positive gregetan. Sahabat adalah cintaaaa yaampun. Sahabatku cho kyuhyun. Kita adalah sahabat. Ini 2 manusia Sama-sama gak peka kali ya. Eonn lanjutannya ditunggu ini mahh. Eh hyuk jae udh muncull wkwwk tambah seru dong nantinyaa. Pkkny lanjutannya eon ^^

  3. eonni kenapa harus oh seunghwan yg jd cast support disini kurang cocok ama yuri nggk ganteng xixixi #mianhe tp bener … pengennya c donghae ajah😀 ..
    ini kyu posesif bgt sbgai sahabat, spertinya dia blm sadar siapa yg dia suka bukan vic atau seo tp yuri .. kapan kyuri saling jatuh cinta eonni, pengen liat moment romantis mereka🙂 .. d tunggu part selanjutnya ya eon ..

  4. jd seunghwan gag akan muncul lg dhadapan yuleon kan ??
    ah disini kyuppa plinplan ya..dan ada monkey oppa…ah jinja..jgn2 nnti satu kampus trus hyukjae oppa bkln tertrik sama yuleon. .dtunggu next ny eon..

  5. Yul euni polosnya nggak ketulungan pdahal kyupa udah ngasih sinyal suka ke yul euni…ada eunhyuk oppa mncul…mkin seru euni nextnya dtnggu….

  6. ahhh yuri masih cinta sama seunghwan, padahal dia udah di tinggalin sama seunghwan😦
    kyuhyun perhatian nya bener-bener tulus .. dia udah ngerasain perasaan cinta ke yuri dan keselnya kenapa gk jujur dan mutusin tu pacar-pacarnya -_-
    hyukjaeeee ahjirnya muncul juga .. sekalinya ketemu yuri cuma sebentar wkwk

    di tunggu nextpartnya eonni🙂

  7. yoan ga ngrti ya sm kyuhyun? knp dia brskap sprt ituh sm yuleonn? sngt protective dn yaa ky pcr’a yuleonn ajah nnya2 brlbihan.. dia sdr ato ga sih eonn? yuleonn ituh kn udh lm shbtn sm kyuhyun.. ato mngkn kyuhyun jtuh cnta sm yuleonn tp dia ga sdr? ahh Srius.. klo gituh bkl rumt nih cnta sgi 4.. kyuhyun Victoria seohyun kwon Yuri.. ahaa stu lg ad hyukjae! smoga hyukjae ga skils doangg yaa eonn.. yaa mngkn jd pcr yuleoon buat smtra..hihihi^^
    over all good job eonni yura^^

  8. Ini yul baper amat sama OSH,, tp binggung juga klo ngelirik kyu , kyu nya aja playboy. Tp pas yul mabuk trus di bawa sama kyu, bangun di gendong itu sweet bgt.. Di tunggu next part nya yaa

  9. wah yuri masih belom bisa move on dari seunghwan, CINTA ITU SAHABAT, greget sama mereka berdua, yuri polos banget gak peka sama kyuhyun, tapi kyuhyun juga sih gimana yuri mau percaya kyuhyun nya juga masih berhubungan sama 2 cewe itu, tapi suka sama moment kyuri di apartemen kyu, hahaha dilanjut sama mereka makan daging panggang dan kata-kata kyuhyun yang yuri abaikan begitu saja

  10. aaaaa
    kak yura. .
    aku suka bgt sama ff ini.
    kak next part ditunggu
    gemesin deh kyuhyun ga peka
    dan yuri blum bisa move on
    btw kok aku cari komen ku gk ada ya kak
    pdhl pnjg bgtTT
    dan aku ulg lgiii ni ceritanya kak

  11. gak sbar sma crita slanjutnya, soalnya pnasaran sma kisah mreka kedepannya yg blum mngerti ptasaan satu sma lain tntang drinya sndiri hehe. kak Yura aku tunggu next part nya^^

  12. Aaa ~ knp komen q gk ada yg masuk eon, pdhl q udh komen tnggal 3 Dec kmren😦 gmna dong eon, entar eonni pkir q gk komen lagi😦

  13. Aduh kyuhyun masih blom sadar kalo dia suka sama yuri…
    Donghae kayaknya suka tapi kyuhyun emang evil bangat ganguin yuri sama donghae…
    Di tunggu next jangan lama-lama

  14. Kenapa harus seunghwan😂kenapa ga siwon aja dia cinta matinya wkwk😂dongek kayanya suka sama yul😂pertama baca dari part 1 kirain yuri yang “sedikit”suka sama kyu😂ternyata dia masih cinta sama osh pftt😂dan kyu yg mulai suka sama yuri😂

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s