I Wanna Say “I Love You” [Part 4]


 

i-wanna-say-e2809ci-love-youe2809d

I Wanna Say “I Love You

Bestfriend

Staring by Cho Kyuhyun & Kwon Yuri

Additional Cast by Oh Seunghwan, Victoria Song, SNSD & Super Junior’s member

A song for you is Ali – Hurt | Cho Kyuhyun – Time We Were In Love | tYoon Mirae – I’ll Listen To You What Have To Say

Inspired by drama The Time We Were Not In Love | Kuch Kuch Hota Hai

Rating for 19+

Genre is Hurt, Fluff, Friendship & Romance

“People may change, but memories don’t.”

“There is haven’t bestfriend relationship between man and women.”

—“But, both of those theory, I wanna break it down.”— Kwon Yura

Please, respect, don’t be stupid, arrogant or anything else.

All Right Reserved © Kwon Yura, 2015

Hembusan angin sepoi-sepoi sedikit menari-narikan rambut seorang gadis yang tengah mengayuhkan sepedanya. Sinar matahari pagi hari itu sangat ia sukai. Ia selalu menyukai saat-saat cahaya matahari pagi memancarkan cahaya hangatnya, terlebih ketika menyentuh wajahnya dengan sentuhan hangat dan cerah, membuatnya semakin bersemangat setiap hari.

Hari ini adalah akhir pekan, yang berarti waktunya bersantai setelah hampir seminggu ini ia menjalankan rutinitasnya. Sesekali Yuri tersenyum tanpa sadar ketika melihat beberapa pasang kekasih bermesraan atau menunjukkan kedekatan mereka.

Entah mengapa, diam-diam ia ingin kembali merasakan hal-hal seperti itu. Hari-hari dimana semuanya terasa begitu indah dan jauh lebih baik dari saat ini. Hari-hari dimana semuanya terasa sempurna dan membahagiakan setiap saatnya. Hari-hari dimana semua itu… belum berubah. Yah, benar, semuanya belum berubah. Masih sama seperti dulu, ketika bertemu dengannya.

Yuri mengulum senyum pilu namun ia mencoba memilih untuk merelakan kesakitan dihatinya.

‘Oppa,’ panggilnya dalam hati dan memberi jeda sedikit sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. ‘kau pasti bahagia saat ini, maka kau pergi meninggalkanku dan lebih memilih untuk berdiam diri agar aku tidak terluka lebih dalam lagi.’ Lanjutnya lalu seulas senyum getir tersungging diwajahnya, dan kedua matanya mulai memerah. ‘Aku… baik-baik saja. Sampai saat ini… aku baik-baik saja. Jadi, jangan khawatirkan aku.’ Salah satu air mata Yuri turun begitu saja tanpa bisa ia tahan. Suara tawa bercampur tangis mulai keluar dari bibirnya, tetapi segera ia tahan kembali. ‘Jika…’  Yuri mengambil napas berat dan panjang sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. ‘Jika kau benar-benar menginginkan kita berakhir seperti ini…’ Air matanya kembali jatuh begitu saja, disusul dengan suara tangis yang hampir pecah jika saja Yuri tidak bisa menahannya lagi. Orang-orang disekitarnya tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, jadi tidak terlalu memperhatikan keberadaan Yuri.

‘Baik, mari kita berpisah dengan cara seperti ini.’ Putus Yuri dengan berat hati pada akhirnya diiringi air mata yang tak bisa ia tahan lagi.

Hembusan angin menerpa lembut wajah Yuri yang hampir sebagian wajahnya tertutup oleh topi, membuatnya semakin terlindungi. Setidaknya tidak akan ada yang melihatnya seperti itu.

 

***

 

Seorang laki-laki berjalan bolak-balik diberanda kamarnya dan sedang berusaha menghubungi seseorang dengan perasaan cemas. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya pelan sembari berkacak pinggang dengan tangan yang bebas. “Ahh, kenapa lagi?” umpatnya kesal sembari menatap layar ponsel ketika suara operator kembali terdengar. “Aish, jinjaa!” lanjutnya sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

“Apa kau gila, huh? Ini sudah dua hari kau mengabaikanku! Kau dimana, huh? Apa sesulit itu kau hanya mengabariku, memberitahuku, huh? Huh? Huh!” omelnya dengan sangat kesal sembari menatap layar ponselnya, seolah-olah seseorang yang dimaksud sedang berdiri dihadapannya dan berada dalam genggamannya.

“Aishh, gila!” makinya lagi lalu membanting asal ponsel tersebut ke sofa dan ia memilih berjalan menuju kulkas untuk mendinginkan kepalanya.

***

 

Sinar matahari mulai terasa terik dan sangat menyengat bagi dua perempuan yang saat ini tengah berteduh dibawah kanopi berpayung besar yang berada ditengah-tengah meja bundar berukuran sedang. Kedua gadis itu tengah menikmati es krim dan hembusan angin laut.

“Kau serius?” tanya Tiffany sembari menatap Yuri dengan kedua mata yang sedikit menyipit karena rasa panas terik matahari. Ia langsung sesegera mungkin datang menghampiri Yuri saat sahabatnya itu meneleponnya sembari menahan tangis, dan mengatakan semuanya telah berakhir.

Yuri menganggukkan kepalanya pelan tanpa menoleh atau melihat ke arah Tiffany.

“Baguslah, kalau seperti itu. Aku lega mendengarnya.” Lanjut Tiffany lagi lalu menatap hamparan biru laut dihadapannya. “Sebenarnya, aku tak habis pikir dengamnu, Yuri-ya.” Tambah Tiffany, membuat Yuri kali ini menolehkan kepala kearah sahabatnya itu. “Bagaimana bisa kau kuat bertahan sampai seperti itu? Padahal, laki-laki itu telah memutuskan pergi dari kehidupanmu secara diam-diam. Pergi meninggalkanmu dan tak mau memedulikanmu lagi.” Ucapnya lalu menatap lurus kearah Yuri.

Yuri hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Tiffany barusan. “Karena aku… menyayangi dirinya, Tiffany-ah.” Hanya kata-kata itu yang berhasil terucap dan keluar dari bibir Yuri.

Tidak ada percakapan lagi diantara keduanya. Keduanya saling diam dan hening, menikmati hembusan angin dan hamparan indah biru laut.

***

 

Yuri baru saja ingin masuk dengan menuntun sepedanya ke dalam perkarangan rumahnya, tetapi suara pintu pagar terbuka dari samping rumahnya ditambah langkah kaki terburu-buru membuatnya menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara tersebut. Selama beberapa saat Yuri terdiam tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, dan kedua bola matanya membulat sempurna.

“Kyu-hyun?” tanyanya tak percaya pada seseorang yang saat ini menatapnya dengan senang dan napas sedikit tersengal-sengal.

Kyuhyun menegapkan tubuhnya seketika dan memasang gaya stay coolnya. “Hai, Kwon Yuri-ssi! Sudah lama tidak bertemu.” Sapa Kyuhyun sembari mengangkat salah satu tangannya setinggi bahu diiringin senyum lebar diwajahnya.

Yuri tertawa tak percaya. “A-apa-apaan ini?” tanyanya, masih sulit percaya dengan kehadiran Kyuhyun yang tiba-tiba, ditambah lagi ia keluar dari rumah sebelah. Tunggu— rumah sebelah? Yuri menyipitkan kedua matanya sembari menatap Kyuhyun dengan penuh selidik. “Kau… tidak—” sebelum Yuri dapat menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun lebih dulu menyelanya.

“Mulai saat ini kita menjadi tetangga sebelah. Yaps, benar sekali! Aku membeli rumah tepat disebelahmu ini, jadi bisa memudahkan kita untuk terus bersama.” Ucapnya dengan tanpa rasa bersalah sama sekali dan ditambah lagi senyum lebar nan mempesona diwajahnya, membuat darah Yuri ingin mendidih seketika. “Kau pasti senangkan, punya tetangga baru sepertiku?” tanya Kyuhyun dengan wajah berseri.

Salah satu tangan Yuri terkepal erat disisinya, keningnya sedikit mengernyit sebal, dan bibirnya sedikit mengerucut kesal. Jika Kyuhyun pindah kesebelah rumahnya, ini berarti hal buruk mungkin akan terjadi secepat mungkin! Pikir Yuri yang masih bergelut dengan berbagai pengalamannya saat ia bersama dengan Kyuhyun. Terakhir kali Kyuhyun tinggal disamping rumah sewanya—Yuri—setahun lalu, seorang gadis datang dan menjambak rambut Yuri lalu menuduh dirinya yang tidak-tidak. “Tidak mungkin…” gumam Yuri sangat berharap.

“Eiyy, ada apa dengan wajahmu? Tidak perlu seseram itu, jangan khawatir! Aku tidak akan menimbulkan masalah untukmu.” Ucapnya sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan tenang dan dihiasi senyum menyebalkannya.

“Boleh saran?” tanya Yuri dengan tatapan dan gaya bicara angkuhnya. “Cepat pindah dari sini! Aku tak mau kena masalah.” Lanjutnya dengan cepat dan dingin, sebelum Kyuhyun berhasil menjawab pertanyaan Yuri barusan. Gadis itu lalu masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Kyuhyun yang mencibir dibelakangnya.

Yuri menutup pagar perkarangan rumahnya dengan wajah sedikit tertunduk dan entah mengapa kaki maupun tubuhnya sulit digerakkan. Rasanya kaki maupun tubuhnya itu tidak akan mau menuruti dirinya sebelum mengatakan sesuatu. “Kyuhyun-ah.” Panggil Yuri pelan ketika Kyuhyun ingin membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Kyuhyun mengurungkan niatnya dan kembali menatap Yuri dengan sabar, walaupun gadis itu tidak menatapnya balik.

“Hm wae, Yuri-ssi?” sahut Kyuhyun malas, mengingat cara Yuri mengusirnya tadi. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“A-aku… memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Oh Seunghwan.” Jawab Yuri pelan dan nyaris tidak terdengar oleh telinga Kyuhyun jika saja laki-laki itu tidak menajamkan pendengarannya.

DEG! Jantung Kyuhyun seolah berhenti berdetak selama beberapa saat ketika mendengarnya. Tenggorokan Kyuhyun seakan tercekat dan sulit untuk bernapas. Kyuhyun mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana, dan memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah Yuri, membuka pintu pagar perkarangan gadis itu, lalu… entah apa yang ia pikirkan saat ini, tetapi ia hanya ingin memeluk sahabatnya itu dengan lembut dan hangat. Kyuhyun bahkan menghujani pucuk kepala maupun kening Yuri dengan ciuman tanpa ampun, dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Membiarkan sahabatnya itu menumpahkan semua kesakitannya dalam dekapannya.

Ia brjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya, Cho Kyuhyun, tidak akan pernah tinggal diam jika sahabatnya itu disakiti oleh orang lain. Tatapan kedua mata Kyuhyun mulai tajam dan dingin, menatap sesosok bayangan hitam gelap yang berlindung dibawah pohon tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.

Tangis Yuri semakin pecah dan keras ketika hatinya merasakan sesuatu hal yang sangat memilukan dan sakit, tetapi ia berusaha merelakannya agar seseorang itu bahagia. Yuri bahkan memukul-mukul pelan dada Kyuhyun tanpa ampun untuk mengurangi kesakitannya. “Sakit… sangat sakit…” adu Yuri pada Kyuhyun dalam tangisnya. “A-aku… aku menyayangimu… sangat-sangat menyayangimu…” lanjutnya, membuat dadanya sendiri merasakan sesak saat mengatakannya. Memori-memori membahagiakan itu datang kembali. Memutarkan film-film pendek antara mereka berdua hingga membuat kepalanya terasa sakit. Sakit sekali.

“Sudah, cukup!” putus Kyuhyun tak tahan lagi. Entah apa yang dipikirkan oleh Kyuhyun saat ini. Melihat sahabatnya seperti itu, benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan hanya ingin melindungi perempuan yang saat ini berada dalam dekapannya.

Kyuhyun lalu sedikit memaksa mengangkat wajah Yuri, menatap dalam gadis itu, dan hitungan detik berikutnya Kyuhyun melumat lembut bibir Yuri tanpa ampun atau jeda. Yuri terdiam, mematung. Tidak percaya jika Kyuhyun akan melakukan hal seperti ini padanya.

Dan mataharipun perlahan-lahan terbenam, menyisakan sedikit semburat cahaya, kemudian digantikan oleh sinar bulan yang tak kalah indah.

Perlahan-lahan, Yuri memejamkan kedua matanya. Menikmati sentuhan hangat yang Kyuhyun berikan padanya. Ada perasaan hangat yang mulai menjalar ke dalam tubuhnya.

***

 

“Dia pasti bercanda.” Gumam Yuri di depan cermin sembari mengatakan kalimat itu berkali-kali pada dirinya sendiri, memejamkan kedua matanya dalam-dalam lalu membukanya kembali. Dan ketika ia melihat pantulan dirinya dicermin, bayangan kejadian itu kembali terputar dalam benaknya, membuatnya kesulitan bernapas dan merasakan perasaan campur aduk yang dirinya sendiripun tidak ia pahami.

Yuri melempar sebal handuk ditangannya ke cermin hingga benda tersebut jatuh di atas westafel. “Dia pasti sudah gila!” maki Yuri kesal dengan raut wajah yang terlihat jelas sekali diwajahnya bahwa ia benar-benar bisa meledak kapan saja.

“Benar-benar! Apakah ia tidak bisa berpikir jernih dulu sebelum bertindak, huh!” gerutunya lagi sembari berjalan ke tempat tidurnya dan mulai mondar-mandir. Ia benar-benar merasa cemas, marah, takut, gelisah, sedih, dan kesal, semuanya menjadi satu. Yuri menyentuh bibir bawahnya dan mengusap-usapnya pelan.

Lagi. Bayangan Kyuhyun menyentuh bibirnya kembali memenuhi benaknya. Sial, maki Yuri dalam hati. Bibirnya benar-benar lembut, lanjutnya tanpa sadar dan bibirnya sedikit terbuka saat ia kembali teringat bibir Kyuhyun berhasil menyapu habis bibirnya. Begitu… lembut.

Detik berikutnya, Yuri menggelengkan kepalanya dengan cukup keras. “Ahh, aku pasti sudah gila sekarang!” makinya saat telah sadar dan merutuki sikapnya tadi. Ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dengan cuek, sekalipun hal tersebut membuat kening maupun dada merasakan sakit akibat benturan keras tak disengaja tersebut. “Akh, aduuh!” rintih Yuri. Ia lalu memiringkan wajahnya dan mulai teringat kembali kejadian tadi.

“Hah, aku pasti sudah gila sekarang.” Maki Yuri pada diri sendiri, lalu kembali menyentuh bibirnya. “Tapi, aku suka gaya ciumannya.” Ucapnya lagi dengan pelan dan kali ini, ia benar-benar sadar saat mengatakannya.

***

 

Disebelah rumah Yuri, tak berbeda jauh keadaannya dengan gadis itu. Seorang laki-laki justru mengadu keningnya dengan dinding ruang tamunya dan sesekali memaki dirinya sendiri. “Aishh, bodoh! Kenapa aku melakukannya?” makinya putus asa. “Dia pasti akan membenciku mulai saat ini.” Lanjutnya.  “Bagaimana jika ia menjaga jarak perlahan-lahan, hingga ia menghilang dari kehidupanku?” tambahnya makin frustasi. “Ahh, benar-benar sial!” gerutunya sebal.

“Ya Tuhaan, Cho Kyuhyuun! Dimana akal sehatmu tadii, huh?” gumamnya tak karuan sembari mengacak-acak rambutnya frustasi dan berjalan kesana-kemari tanpa henti.

“Tapi…” langkah kakinya terhenti saat itu juga, dan pikirannya kembali melayang jauh ke kejadian beberapa jam tadi. “Bibirnya benar-benar lembut dan manis…” ucapnya sembari mengingat-ingat ciuman mereka tadi. “Apalagi saat bibirnya membalas ciumanku tadi…” lanjutnya. Kyuhyun menggigit pelan bibir bawahnya tanpa sadar dan mengepalkan kedua tangannya lalu menaruhnya diatas dada. “Aku benar-benar suka.” Tambahnya.

Kyuhyun lalu sengaja menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan pikiran yang masih melayang-layang diudara. “Aku pasti sudah gila sekarang.” Makinya pelan pada dirinya sendiri.

***

 

Yuri baru saja menginjakkan kakinya diluar pagar rumahnya dengan perlahan-lahan dan terburu-buru. Entah mengapa kejadian kemarin sore membuatnya bertindak seperti ini. Ia lalu menutup pintu pagarnya dengan secepat mungkin dan hendak berjalan pergi tetapi diurungkan niatnya itu ketika seseorang dibelakang menepuk pelan bahunya.

“Yuri-ya?” sapa ceria orang itu. Yuri memejamkan kedua matanya dengan alis yang hampir bertemu satu sama lain sebelum membalikkan tubuhnya dan menyapa balik orang itu.

“Kyuhyun-ah!” sapanya mencoba ramah dengan sedikit memaksakan senyum diwajahnya.

“Ayo kita pergi bersama!” ajaknya.

Salah satu alis Yuri terangkat ke atas sembari menatap Kyuhyun. “Ke-mana?” tanya Yuri.

“Kampus. Kau memang ingin pergi kesana kan?” sahutnya.

“Err—” jeda Yuri sembari berpikir sesaat. “Ah benar, kampus!” lanjutnya.

Kening Kyuhyun sedikit mengernyit tak mengerti melihat sikap Yuri barusan. “Yaa, ada apa denganmu? Aneh sekali. Kajja!” ajaknya.

“Err, Kyuhyun-ah!” panggil Yuri dan menahan lengan Kyuhyun sebelum laki-laki berjalan pergi. Kyuhyun menoleh dan menatap Yuri dengan tatapan tak mengerti. “Kau tidak memakai mobil kesayanganmu?” tanyanya.

“Oh, tidak. Aku sedang ingin naik bus hari ini.” Jawabnya jujur. “Sudahlah, ayo! Nanti telat.” Lanjutnya lalu berjalan lebih dulu dari Yuri, meninggalkan gadis itu dibelakangnya.

Yuri memukul pelan kepalanya dan merutuki dirinya sendiri. “Ahh, benar-benar sial!” makinya sembari menatap tajam punggung Kyuhyun yang mulai menjauh dan berjalan mengikuti sahabatnya itu.

“Kwon Yuri, cepatlah!” ajak Kyuhyun tak sabaran sembari terus berjalan. Yuri memberengut lebih dulu sebelum memaksakan kedua kakinya untuk berjalan.

***

 

Dua minggu telah berlalu dari kejadian tak terduga itu. Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama. Hanya saja kini Kyuhyun lebih disibukkan dengan agenda kampus karena menjadi panitia dalam acara ulangtahun difakultasnya. Sedangkan Yuri menjadi panitia dokumentasi dalam acara tersebut, menggantikan posisi Kyuhyun.

Yuri berjalan-jalan seorang diri dalam ruang aula gedung sembari melihat-lihat dan sekali-kali memfoto panitia lainnya ketika ada moment yang bagus untuk diabadikan. “Kau tidak haus?” tanya seseorang dibelakang punggung Yuri saat ia ingin memfoto YoonA yang tengah sibuk meniup balon bersama beberapa temannya.

Yuri membalikkan tubuhnya dan mendapati seseorang yang tidak ingin ia temui atau bahkan melihatnyapun sudah tidak mau lagi. Yuri memasang wajah dingin dan tidak bersahabatnya lalu berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu dibelakangnya.

“Kwon Yuri, tunggu!” pintanya sembari berlari kecil menghampiri Yuri. “Yuri-ya, tunggu!” tegasnya sembari menahan lengan Yuri dan menggenggamnya erat. Yuri menoleh dan menatap Siwon dengan tatapan mata yang masih sama.

“Lepaskan.” Titah Yuri dingin.

“Kenapa? Apa aku begitu menggelikan untukmu, huh?” kesalnya.

“Siwon-ssii!” panggil Yuri tegas sembari mencoba melepaskan lengannya dan berhasil. “Jangan pernah menyentuhku lagi!” peringatnya tegas dan dingin.

“Lalu, apa yang akan terjadi jika aku menyentuhmu, nona Kwon?” ejek Siwon dengan pandangan merendahkannya.

Yuri hanya menatapnya tajam lalu memilih berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu dibelakangnya dan tak menggubris panggilan dari Siwon sama sekali. Baginya, pria itu sungguh gila dan sakit.

“Kwon Yuri, sungguh!” ucap Siwon sembari berlari kecil dan berhenti tepat dihadapan gadis itu. “Kita harus bicara.” Lanjutnya.

“Untuk apa?” tanya Yuri dengan angkuh dan dingin.

“Tidak disini. Ada hal yang perlu kau jelaskan padaku.” Jawabnya lalu meraih dan mencengkram tangan Yuri erat, menarik paksa gadis itu untuk mengikutinya.

“Sudah ku bilang, jangan menyentuhku!” ucap Yuri tak terima dan sedikit memberontak.

“Aku tidak akan melepaskannya sebelum kita menemukan tempat yang tepat untuk bicara.” Tegas Siwon.

“Kau benar-benar sakit.” Maki Yuri dingin.

“Terserah.” Cuek Siwon.

 

Tak jauh dari tempat Yuri dan Siwon, Kyuhyun melihat pemandangan itu dengan tatapan tak suka. Ia lalu melirik dengan malas ke arah lengannya sendiri. Karena saat ini, lengannya sedang tidak bebas. Ada sebuah lengan yang lain sedang merangkul manja dan mengawasinya. Walaupun ia sedang menjalankan tugasnya sekalipun sebagai panitia dekorasi.

“Kyuhyun-ie, tidakkah warna ini terlalu mencolok?” tanya gadis itu sembari mengambil salah satu kertas karton berwarna oranye mencolok.

Kyuhyun diam, tidak menggubris ucapan Victoria barusan.

“Kyuhyun-ah?” panggil Victoria dan menatap Kyuhyun dengan pandangan bertanya-tanya sembari menggoyang-goyangkan lengan laki-laki itu.

Kyuhyun tersadar dan menatap Victoria. “Hm?” sahutnya malas.

“Tidakkah warnanya terlalu mencolok? Warnanya terlalu membuat mata yang melihat, jadi sakit.” Jelas Victoria.

“Oh ya, benar.” Sahut Kyuhyun singkat sembari menatap kertas karton itu dengan tatapan mata kosong.

“Bagaimana jika kau beli dan menggantikannya dengan warna yang lain?” usul Victoria dengan bersemangat. Dalam benaknya, ia jadi memiliki waktu berdua lebih banyak bersama Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun hanya terdiam, pikirannya melayang-layang saat ini.

 

***

 

“Sudah cukup, lepaskan!” titah Yuri saat dirasa sudah cukup jauh dari keramaian dan menemukan tempat yang tepat. Saat ini mereka tengah erada di ujung lorong bangunan kampus, tempat ini cukup gelap dan sepi. Tempat yang jarang dilewati para mahasiswa ditambah lagi hari sudah mulai gelap, jadi semakin lengkap sudah waktu dan tempat yang pas untuk saat ini.

“Baik!” sahut Siwon lalu melepaskan cengkramannya dengan sedikit kasar. Yuri mengelus pergelangan tangannya dengan pelan karena sedikit merasa sakit dan panas akibat cengkraman tangan Siwon. Ia melirik Siwon dengan sinis dan angkuh sesaat saat laki-laki itu berkacak pinggang lalu mengusap wajahnya sekilas sembari berpikir.

“Jika kau tidak ingin mengatakan apapun, lebih aku baik pergi.” Ucap Yuri sembari masih mengusap-usap pergelangan tangannya, melihat Siwon tak kunjung bicara.

“Tunggu!” pinta Siwon saat Yuri hendak berjalan pergi. “Aku akan bicara, jadi aku mohon bersabarlah.” Tambahnya sembari tangannya mengambang diudara untuk menahan Yuri pergi. Tentu saja Yuri akan mengurungkan niatnya itu, ia benar-benar tidak mau disentuh oleh orang itu lagi. Siwon menghela napas panjang dan dalam sembari menaruh kedua tangan disisinya.

“Yuri-ssi,” panggil Siwon lembut dan memohon sembari menatap Yuri. Yuri hanya terdiam dan memilih untuk tak menghiraukan ucapan Siwon. “Tidak bisakah kita kembali bersama seperti dulu?” tanyanya.

Yuri menghela napas pendek dan membuangnya dengan kasar lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku…” jedanya sesaat sembari mencoba meraih kedua tangan Yuri, tetapi gadis itu melangkah mundur sebelum Siwon berhasil menggapai tangannya. Laki-laki itu terdiam, tubuhnya terasa membeku mendapati sikap Yuri barusan. Ia kembali menghela napas berat. “Aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tahu yang aku lakukan salah, tak seharusnya aku melakukan itu padamu. Tapi, Yuri…” Siwon menatap lurus kearah gadis itu. “Tidakkah kau kejam? Kau bahkan memperlakukanku dengan sangat buruk saat kita masih bersama, tetapi aku masih bisa bersabar dan mencoba mengerti dirimu. Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaanku padamu? Setidaknya, Kwon Yuri-ssi, kau harus memikirkan poin penting itu agar kita bisa kembali bersama, iya kan?” lanjutnya dengan sedikit menggebu dan memaksa, namun tetap hati-hati saat mengatakannya.

Yuri menatap balik Siwon dengan tatapan tak percaya dan mengerti. Ia menghela napas kasar sembari menggigit bibir bawahnya sekilas. “Dengarkan aku, Choi Siwon-ssi.” Ucap Yuri dengan sedikit kesal namun mencoba untuk bersabar menghadapi seseorang dihadapannya kini.

“Kita tidak bisa lagi seperti dulu. Karena kita sudah jauh berbeda, kau tau maksudku kan?” tanyanya Yuri sembari menatap lurus kedalam bola mata Siwon.

“Dengar, diantara kita tidak ada yang berubah. Aku masih sama seperti dulu, dan kau juga masih sama seperti dulu Yuri sayang—” Sahut Siwon mencoba menegaskan, tetapi Yuri lebih dulu menyelanya.

“Aku yang berubah.” Sela Yuri sembari memejamkan kedua matanya, menahan emosi yang tak menentu dihati.

Mulut Siwon sedikit terbuka saat mendengar ucapan Yuri barusan, ia terkejut dan tak mengerti maksud gadis itu. “Maksudmu?” tanyanya dengan kening mengernyit.

Yuri kembali membuka kedua matanya, menatap Siwon lekat. “Aku… aku menyayangi orang lain.” Jelas Yuri dengan kedua airmata yang mulai memerah. “A-aku menyayangi orang lain, sekalipun orang itu tidak akan pernah melihatku lagi.” Tambahnya. “Maka dari itu, tolong lepaskan dan lupakan aku, Siwon-ssi. Lagipula, bukankah cukup kau memiliki seorang kekasih saat ini?” tanya Yuri sembari memicingkan kedua matanya menatap tajam kearah laki-laki itu.

Siwon menghela napas kasar dan tertawa pelan dengan nada merendahkan. “Siapa pria itu?” tanyanya dengan nada sedikit mengejek.

“Bukan urusanmu.” Jawab Yuri tegas dan dingin.

Siwon kembali tertawa mengejek. “Apakah sahabatmu itu? Cho Kyuhyun, laki-laki br*ngs*k itu, huh?” tanyanya sembari menatap Yuri dengan tatapan merendahkan. Ia memajukan wajahnya didepan Yuri dan menatap bola mata gadis itu dengan tatapan tajam serta dinginnya. “Coba lihatlah ini,” ucapnya sembari sesekali memiringkan wajahnya dan menatap Yuri dengan pandangan merendahkan. “Jadi, kau menyukainya? Menyukai sahabatmu sendiri, hm?” Siwon tertawa sinis. “Bukankah kau sendiri yang memberitahu padaku, bahwa kau tidak akan pernah menyukai sahabatmu sendiri, huh? Bukankah kau sendiri yang bilang padaku, kau mencintaiku dan akan lebih memilihku daripada sahabatmu sendiri untuk pendamping hidupmu nanti, huh? Tapi, coba lihatlah dirimu sekarang ini.” Ejeknya.

Yuri menatap tajam kearah Siwon. “Aku tidak bilang bahwa laki-laki itu adalah Kyuhyun.” Balasnya. “Dengan siapapun aku jatuh cinta itu tidak ada hubungannya denganmu, Tuan Choi. Satu hal lagi tuan, aku mengatakan hal-hal bodoh itu ketika kita masih bersama dulu bukan seperti kita sekarang ini. Lagipula, kata-kata konyol itu hanya untuk menenangkan dirimu agar kau tidak selalu mengoceh padaku setiap saat.”

Kedua mata Siwon membulat sempurna dan rahangnya sedikit mengeras saat mendengar perkataan Yuri barusan, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Yuri sembari tertawa menyedihkan. “Whuaah, aku tak menyangka kau pintar berakting seperti itu, nona.”

Yuri menelan liurnya sendiri sembari menatap kosong benda dihadapannya. “Karena aku tau semuanya.” Ucap Yuri, membuat tawa Siwon terhenti seketika dan menatap kearahnya yang disambut tatapan balik dari gadis itu. “Aku tau  semuanya. Aku tau kau hanya ingin bermain-main denganku. Aku tau kau hanya menjadikanku koleksian mantan kekasihmu. Aku tau kau hanya memanfaatkanku. Aku tau hal apa saja yang kau sembunyikan dariku, Choi Siwon-ssi.” Lanjut Yuri dengan tatapan mata tajam dan dingin.

Lengkap sudah, Siwon kehabisan kata-katanya. Ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, karena apa yang dikatakan gadis itu benar apa adanya. Tetapi, hal yang tidak bisa ia maafkan adalah… kebungkaman Yuri. Juga, ada satu hal yang tak Yuri ketahui sebenarnya, yaitu… Siwon menyayangi Yuri setulus hati.

“Jadi aku mohon padamu tuan, tolong jangan pernah lagi muncul dihadapanku jika kau masih memiliki perasaan untukku. A-ku… benar-benar ingin kita menjadi teman asing, tidak lebih. Dan tolong jangan menggangguku lagi. Jangan mencoba mengganti nomor atau pura-pura menjadi orang lain lagi untuk menghubungiku. Aku benar-benar sudah muak dan tak ingin berada didekatmu lagi.” Pinta Yuri sedikit memohon. Karena ia benar-benar sudah merasa lelah ketika menghadapi itu semua. Siwon terdiam, berpikir sejenak dengan kedua tangan terkepal dikedua sisi. Yuri menghela napas panjang. “Jika sudah selesai, aku pergi.” Pamitnya lalu berjalan pergi.

“Ke-napa…” ucap Siwon dibalik punggung Yuri ketika gadis itu baru melangkahkan kakinya beberapa langkah. “Jika kau tau semuanya, mengapa kau hanya diam saja, huh?” tanyanya dengan sedikit berteriak lalu menarik tangan Yuri dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding lorong dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman benda keras.

“AKHH!!” rintih Yuri kesakitan saat tubuh maupun kepala bagian belakangnya menghantam dinding lorong kampus. Siwon tak memedulikan suara rintihan kesakitan Yuri sama sekali, ia justru mencengkram kerah baju gadis itu dengan kasar. “Mengapa kau hanya diam? Apa kau mencoba berpura-pura menjadi orang baik, huh?” tanyanya dengan suara yang memekakan telinga. “Jika kau memberitahu dan mengatakan sejujurnya padaku, maka kita tidak akan berakhir seperti ini, kau tau? Aku tidak mungkin selingkuh dibelakangmu atau berniat membohongimu, bodoh!” lanjutnya penuh emosi.

Yuri hanya bisa merintih kesakitan dan pasrah jika laki-laki itu mungkin bisa saja melakukan tindakan lebih kasar daripada ini.

“Jawab aku! Apa kau saat ini pura-pura tuli, huh?” tanya Siwon dengan nada yang masih sama. Yuri tak bergeming sama sekali, ia benar-benar sulit untuk berbicara karena rasa sakit akibat benturan tadi. “Jawab aku, Kwon Yuri!” titah Siwon dengan nada memaksa. Yuri masih diam, kali ini tubuh dan kepalanya terasa sakit bersamaan. “Jawab!” titahnya lagi, lalu mencekik leher Yuri dengan cukup keras hingga membuat gadis itu benar-benar kesulitan bernapas dan merasa kesakitan berkali-kali lipat.

Yuri mencoba menghirup udara sebisa mungkin walau pasokan oksigen yang masuk sangat sedikit. Ia masih ingin hidup. Yuri masih ingin hidup. A-aku masih tetap ingin hidup…

“Ka-re-na…” ucapnya terbata-bata. “A-aku… ingin me-li-ha-t…” lanjutnya dengan susah payah. “ke-tu-lu-sa-n… d-a-n ke-ju-ju-ran-mu…” tambahnya dengan napas tersengal-sengal.

Siwon pun menggeretakkan giginya mendengar ucapan Yuri barusan. Ia semakin mempererat cengkraman dikerah baju maupun leher Yuri. “Kau benar-benar… arrgh!” kesalnya, lalu detik berikutnya ia melepaskan cengkramannya dan membiarkan gadis itu untuk kembali menghirup udara sepuasnya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Yuri dan melangkahkan kedua kakinya untuk menjauh dari gadis itu. “AARRGGHH!!” teriak Siwon frustasi lalu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan putus asa. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Yuri seorang diri, ia sempat memukul dan menendang kasar dinding lorong kampus.

Salah satu alasan Yuri tidak ingin kembali adalah terkadang Siwon bersikap kasar walaupun tidak sekasar tadi.

Yuri hanya bisa diam juga pasrah melihat sikap Siwon barusan, ia mencoba untuk bernapas dan menahan rasa sakit tubuh maupun kepalanya sembari menyentuh bagian lehernya yang juga terasa sakit akibat cengkraman laki-laki itu. Air matanya sudah jatuh daritadi membasahi pipinya ketika Siwon melepaskan dirinya.

Sekalipun ia merasakan sakit disekujur tubuhnya, tetapi ia masih merasa lega saat ini. Lega? Ya, lega. Karena, setidaknya Kyuhyun tidak ada disini. Kyuhyun tidak melihat dirinya yang lemah dan rapuh seperti saat ini. Kyuhyun tidak melihat perlakuan Siwon terhadap dirinya saat ini. Dan Yuri benar-benar merasa bersyukur, Kyuhyun tidak tau kejadian barusan. Dan ia merasa lebih sangat bersyukur, karena Kyuhyun tidak datang atau setidaknya seorang pangeran tidak datang untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya tadi.

Tidak, tidak, tidak. Yuri bukanlah seorang gadis yang bermimpi akan ada pangeran tampan berkuda putih yang datang menyelamatkannya disaat-saat mengerikan seperti tadi. Sekalipun, Yuri tidak pernah berharap atau bermimpi. Tangis Yuri semakin pecah saat ia semakin merasakan sakit disekujur tubuhnya. Sakit. Sangat sakit.

 

***

 

Yuri hanya bisa berjalan lemah saat menyusuri jalanan kampus sembari mempererat genggamannya pada syal tebal yang sengaja ia lilitkan dileher untuk menutupi jejak cengkraman Siwon. Sesekali ia merintih pelan saat bagian punggung dan pinggang terasa ngilu.

Ia bahkan menyempatkan dirinya untuk kembali ke ruang aula untuk bertukar sapa dan senyum sebelum pamit pulang. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan dirinya baik-baik saja. Disana ia bisa melihat Siwon yang tengah sibuk dengan kegiatannya dan sedikit menundukkan kepala saat Yuri menangkap basah pria itu tengah menatap juga memperhatikannya. Yuri hanya bisa sedikit menundukkan kepalanya pelan dan tersenyum simpul kearahnya, sedangkan laki-laki itu memalingkan wajahnya.

Yuri menghela napas panjang saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang dikenalinya tengah sibuk dengan gadis disampingnya. Ia sempat menggembungkan kedua pipinya sesaat lalu menghembuskannya, kemudian mencibir lalu tersenyum senang saat melihat sahabatnya itu tertawa bersama gadis itu. “Syukurlah… benar-benar melegakan.” Gumamnya pelan. Lalu, memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Dan disinilah ia sekarang berada, masih berada dalam bangunan kampus dan ingin berjalan menuju luar gerbang. “Tahanlah, sedikit lagi.” Gumamnya pada diri sendiri, mencoba menguatkan dirinya bahwa semuanya pasti berlalu.

Yuri menahan napasnya saat rasa sakit itu mulai menderanya, menahannya dengan kedua mata terpejam dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Beberapa detik berikutnya, ia lalu mengelurakan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. Suara panggilan tunggupun terdengar beberapa saat. “Halo, Tiffany-ah?” sapanya begitu sambungan terangkat dan dibalas sapaan hangat disebrang sana. “A-ku butuh bantuanmu. Bisakah kau membantuku sekarang?” pinta Yuri memohon sembari menahan rasa sakitnya.

 

—To Be Continued—

Haloo semuaa! Apa kabar? ^^

Selamat tahun baru! Selamat tahun 2016!

Semoga ditahun ini kita semua semakin menjadi seseorang yang lebih baik lagi, semakin bahagia sejahtera, semakin sukses dan semangat selalu, serta semoga kita tidak pernah lelah untuk mengejar mimpi-mimpi! Aamiin. Kkkk~

Maaf untuk keterlambatan update-annya kawan. Semoga kalian menyukai apa yang Yura sajikan kali ini hehe peacee

Jangan lupa memberikan komentar, kritik, dan saran🙂

Keep RCL guys!

Terima kasih banyak~

 

31 thoughts on “I Wanna Say “I Love You” [Part 4]

  1. Yeyy ~ sneng bgt akhirnya ff ini publish jg🙂 jdi itu alasan knp Yuleon bgtu mmbenci siwon. Momen KyuRinya so sweet bgt, bkin snyum2 sndri🙂 happy new year 2016 eon🙂 ffmu slalu d.tnggu, fighting ^^

  2. Sneng bgt akhirnya ff ini publish jg, q udh nngguin bgt eon🙂 jdi itu alasan knp Yuleon bgtu mmbenci siwon. Momen KyuRinya so sweet bgt, bkin snyum2 sndri🙂 happy new year 2016 eon🙂 ffmu slalu d.tnggu, fighting ^^

  3. Sneng bgt akhirnya ff ini publish jg, soalnya q udh nngguin bgt eon🙂 jdi itu alasan knp Yuleon bgtu mmbenci siwon. Momen KyuRinya so sweet bgt, bkin snyum2 sndri🙂 happy new year 2016 eon🙂 ffmu slalu d.tnggu, fighting ^^

  4. happy new year to eonni.
    .
    ah eonni ff mu slalu kunanti..
    aduh itu yuleon kasian bgt sih..siwon oppa astaga dy kasar bgt..kyuppa itu sbnrnya suka kan sama yuleon. ..cuma dy msh blm yakin…
    ah eonni next ff nya jgn lama 2 ya..hheee…

  5. Kyaaaaa, drtd gasabar pengen ngetik ini dikomentar..
    Kyuu-yuri kissing!! Omagahhh, kyknya si kyu udh gatahan lg wkw, mana sekarang mereka jd tetangga, yampun kyuuu sayang bgt sama yuri. Krna yuri ngabaikan kyuhyun teu skhir ya pindah rumah biar bisa lebih deket sama yuri kkk

    Oh jd siwon itu mantannya yuri jgaa, parah bgt siwon kalo emosi-_- sampe2 nyekek leher.tu yuri sakit karna siwon apa karna penyakit lain?:(

    Selamat tahun baru jga Yura eonni^^

  6. Yura eonni….suka banget sma ff iniiii, tlong dong jgan bwat tbc klw bisa trusan yang panjang hehehe
    Jalan ceritanya aku sukaa bget apalagi main cast nya…
    eonni next part nya jgan lama”lama yah, jeballll…..

  7. akhirnya yuri mau ngelupain mantannya kan biar gk menderita lagi yurinya🙂
    kyuhyun ciee perhatian banget . sampe pindah rumah biar sebelahan yuri wkwk ahayyy kyuhyun berani cium yuri😀
    siwon -_- ternyata kasar pas jadi kekasih yuri, dan berani minta balikan .. dasar

    di tunggu nextpartnya eonni🙂

  8. Euni akhirnya update jga …nggsk sia” bolak balik blog ini hsilnya mmuaskan moment kyurinya kok sdikit euni tpi sweet……. Happy new year euni smoga euni sring” update ff kyuri…..😗😗😗

  9. happy new year jg eonni😀 ..
    suka paz bagian kyuhyun n yuri kiss mereka sama-sama nggk tenang d dlm kamar gara2 kejadian itu .. kapan mereka saling suka eonni cz jujur driku tak suka liet yuri yg celalu mikirin c ahjussi gendut itu huwwffh ..
    d tunggu part selanjutnya ya eon ..

  10. aaak eonni
    maaf bru sempet baca…
    yuri-ah sabar yaaaaa

    kyuri kisseu~
    aaa akhirnya
    btw hyukjae blum muncul ya eonn?

    keep writing and i’ll be wait for next part

  11. Huuaaaaaa akhirnya update juga, duh udah ditunggu tunggi kelanjutannya dari kemarin kak.
    Ah ff nya ga pernah mengecewakan suka banget sama part ini bener bener bikin seneng pas kyu kiss yuri itu eerrr tapi ada sedihnya juga sih pas siwon kasar gitu ah penasaran sama next part
    Ditunggu ya kak, klo bisa jangan lama lama😁 fighting yaa 😊😊

  12. Kasian banget yurinya, pasti berat banget tuh buat dia ><
    Keren chingu ffnya, di tunggu kelanjutannya🙂
    Aamiin🙂 ,selamat tahun baru juga chingu🙂

  13. aigoo kyupa main nyium2 yul onni ja tuch,,cpa tuch yang ngintip..Aduh siwon kok kasar banget sih,pantesan yul onni nggak mw ma dia..penasaran ma yul onni,dia mw blang pa k.tiffani..next onni,,fighting..

  14. yahh udah part 4 aja . hehe
    yammpun yul masih kepincut ama ajushi itu kahh .. udah relakan dia dan lihatlah kyu . hahhaa apasihh kyu aja blm tau pasti perasaanya .
    aduh yampyunn nenangin yul yg nangis hrs dgn cara nyium ya kyu ?? itumah namanya kesempatann :p
    sebenrnya hubngn yg bagmna sih yul sm siwon itu ??

  15. kyuri dia berdua kayaknya sama sama suka cuma belum pada sadar aja , kyu nyium yuri haha dia gk tahan sama yuri sampe nyium yuri , kyu pindah rmh di samping rumah yuri karna yuri gk ngasih kabar ke kyu selama 2 hari yaampun , si siwon yuri udh bilang gk masih ada ngejar ngejar yuri

  16. eonnni maaf aku baru bisa baca ff mu stelah tugas kuliah yg menumpuk >.< akhirnyaaaa….. hmmm diciuuummmmm huaaaa so sweeettt eonni, ah kangen bgt sama ff kyuri , lanjut eonni fighting🙂

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s