3 Ways to Get You, 1 Ways to… What? [Part 5]


3 Ways To Get You, 1 Way To... 1 (800 x 800)

3 Ways to Get You, 1 Ways to…  What?

Main Cast : Cho KyuHyun

Kwon Yuri

Support Cast: SNSD and Super Junior’s members

Pg: 17+ || NC

Genre : Fluff, angst, and romance

Art: Kwon Yura

Disclaimer: All of the strory is my Mine, Own, and Pure belong to me. Do no to Copy-Paste / Plagiat / Take Out.

I don’t ever permit you. And happy reading all🙂

Listening to : Lee Hyun (8Eight) – My Heartache | Cho Kyuhyun – A Million Pieces

Life without knowing how precious you’re and it’s my mistake for not making you love me as much as I wanted you to.”— © Kwon Yura.

Please, respect, don’t be stupid, arrogant or anything else.

All right reserverd © Kwon Yura, 2016.

 

Yuri tengah membawa secangkir kopi cappucino begitu pesanannya telah dibuat dan ia membayarnya. Saat ini ia sedang berada dikafe kesukaannya dengan salah satu tangannya membawa setumpukkan majalah edisi lama dan baru. Senyum tipis dan paksa tersungging diwajahnya saat seorang laki-laki tengah menatapnya dengan begitu posesif. Entah mengapa Yuri tidak menyukai tatapan itu dari lelaki yang tengah menunggunya dan menjadi kekasihnya saat ini.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya lembut saat Yuri sudah duduk dihadapannya.

“Baik, seperti biasa. Kau?” tanya Yuri cuek dan dingin. Entah mengapa ia selalu bersikap seperti ini pada Minho dari kali pertama mereka bertemu. Tetapi itu bukan masalah besar bagi laki-laki itu.

“Aku juga baik, tetapi lebih baik lagi saat bertemu denganmu.” Jawabnya dengan senyum manis diwajahnya. Yuri hanya melihatnya sekilas sambil meng-‘oh’kan lalu menatap kembali majalahnya. “Apa kau hari ini ada tawaran pekerjaan lagi?” tanyanya lagi. Yuri hanya menganggukkan kepalanya pelan sembari menyahut ucapannya dengan malas. “Kali ini siapa penyanyinya?” tanya Minho lagi.

Oh Ya Tuhan, jika saja Yuri lupa kalau lelaki ini adalah kekasihnya saat ini, mungkin ia akan melayangkan tinju atau membungkam mulut laki-laki itu secepat yang ia bisa agar tidak mengganggu. “Entahlah, aku juga belum tahu. Direktur Kim belum memberitahuku.” Jawab Yuri malas sembari terus membaca majalahnya.

“Hm? Aneh sekali.” Gumam Minho pelan sembari menatap Yuri dengan tatapan bingung. Biasanya, Yuri akan mencaritahu lebih dulu siapa rekan kerjanya tiap kali ia mendapatkan tawaran pekerjaan, tetapi kali ini sepertinya ia tidak begitu tertarik dan berminat pada rekannya itu. Minho menatap jam arloji ditangannya, keningnya sedikit mengernyit. Pukul 15.45 KST. “Well, aku harus pergi sekarang karena masih ada latihan yang harus aku ikuti. Apa kau yakin tidak ingin ikut bersamaku?” tanya Minho memastikan pada Yuri.

“Tidak. Pergilah, hati-hati dijalan.” Ucap Yuri cuek sembari menatapnya sekilas lalu sibuk kembali dengan majalahnya.

“Baiklah, kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja. Aku pergi dulu.” pamitnya lalu mencium pucuk kepala Yuri tanpa permisi, membuat Yuri merasa risih dan tidak suka.

Choi Minho, seorang atlet kebanggaan Korea Selatan yang saat ini tengah berada dipuncak karirnya. Entah mengapa bisa menjadi kekasih Yuri saat ini. Tidak, tidak, melainkan ini sebuah kesalahan fatal yang pernah Yuri perbuat setelah melepaskan dan menerima KyuHyun begitu saja. Yuri menghela napas berat, ia tahu seharusnya ia tidak menerimanya pernyataan Minho disaat hati dan pikirannya tidak benar-benar berada disitu.

Jujur, ia merasa bahwa dirinya jahat saat ini dan tidak lebih dari seorang player yang tidak berperasaan. Yuri menatap kosong pada lembaran majalah dihadapannya. Entah mengapa ia benar-benar tidak suka dengan kalimat maupun fakta kebenaran dalam artikel majalah itu. Dan itu adalah salah satu penyebab mengapa ia menerima Minho sekalipun ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap lelaki itu.

Cho KyuHyun Mengakui Hubungannya Dengan Jessica Jung

 

***

 

Kakinya kembali berhenti melangkah disebuah tempat tak asing lagi baginya, maupun bagi seorang laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu. Yuri menatap datar dan dingin pada hotel mewah berkelas atas itu. Dulu, ia pernah berada disini dengan lelaki itu sebelum mereka berpisah dan masih bersama-sama. Melewati malam yang panjang penuh dengan canda tawa bersama, penuh kasih, saling memberi dan menerima satu sama lain. Tapi itu dulu, cerita lama. Cerita dimana tujuh bulan yang lalu disaat mereka masih bersama-sama.

Yuri kembali melanjutkan langkah kakinya dengan tidak begitu bertenaga. Beberapa pelayan direstaurant itu mengenali Yuri dengan baik karena ia sering datang kemari. Seperti biasa, Yuri akan mengambil kelas exclusive—oh, jangan tanya berapa harganya jika kau tidak ingin pingsan saat ini jugadan duduk disalah satu meja dekat beranda. Pemandangan malam hari itu—disaat dirinya dan KyuHyun belum berpisah—ataupun hari ini tidak jauh berbeda. Tetap cantik dan mengangumkan. Hanya saja tidak ada bintang-bintang yang menemani rembulan malam itu. Begitu gelap dan redup, hanya ada sebuah cahaya remang dari bulan saja.

Pesanan makanan telah diantar dan disajikan atas meja Yuri, tetapi gadis itu tidak terlihat ada niatan dibola matanya untuk menyentuh maupun menyantap makanan itu. Setiap malam harinya, ia biarkan berlalu begitu saja. Dengan harapan kosong, dengan tatapan mata lelah, dengan hati sakit dan pilu.

 

***

 

“Yuri-ssi, kau baru pulang?” sapa seorang laki-laki yang saat ini tengah berada di depan pintu milik apartement lelaki itu. Yuri menoleh dan mendapati tetangga barunya tengah menatapnya dengan khawatir. Tetangga yang baru tujuh bulan terakhir ini menempati apartement KyuHyun, tetangga yang Yuri kira bahwa ia adalah KyuHyun, tetangga yang Yuri kira selalu memata-matainya kemanapun ia pergi. Tetapi, tetap saja itu semua adalah kebohongan belaka tanpa ada bukti akurat di dalamnya. Yuri menganggukkan kepalanya lemah sembari memaksakan sebuah senyuman diwajahnya.

“Aku permisi dulu. Selamat malam, Changmin-ssi.” Balas Yuri lemah lalu masuk ke dalam apartementnya begitu saja. laki-laki itu hanya bisa menatap punggung Yuri dengan menghela napas berat dan penuh penyesalan. Sekalipun ia tak rela membiarkan sosok gadis itu menghilang dihadapannya, toh ia juga tidak bisa melakukan apapun padanya.

“Unni, kau baru pulang lagi?” tanya YoonA khawatir. Akhir-akhir ini Yuri suka sekali pulang hampir larut malam, jika jam belum menunjukkan pukul 11 malam maka jangan berharap Yuri akan tiba dirumah.

“Hm, aku lelah. Selamat malam.” Sahutnya lalu pergi menuju kamarnya begitu saja.

“Unni?” panggil YoonA lembut sembari menatap punggung Yuri yang perlahan-lahan menghilang dibalik pintu kamar. YoonA menghela napas berat. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Batinnya.

 

***

 

Hari ini ia kembali menghabiskan waktunya dikafe langganannya itu sembari membaca-baca majalah milik perusahaannya. Entahlah apa yang harus ia lakukan selain menunggu pemberitahuan dari Direktur Kim tentang rekan kerjanya itu. Yuri membolak-balikkan halaman majalah itu dengan malas dan suntuk.

“Kau yakin? Bagaimana bisa laki-laki itu berbuat seperti itu?” tanya seorang gadis tidak percaya, membuat Yuri menolehkan kepalanya dan mencari tahu pemilik suara yang mengusiknya. Dua orang gadis tengah membelakanginya dan duduk bersampingan dengan salah satu raut wajah gadis—yang berhasil mengusik Yuri—itu dengan khawatir, sedangkan gadis satunya lagi tidak tahu karena ia benar-benar membelakangi Yuri.

Teman gadis itu menganggukkan kepalanya pelan sembari sibuk menempelkan tisu-tisu ke hidungnya. “Tentu saja! Cih, kalau seperti ini jadinya aku tidak akan mau menyebarkan rumor berita itu.” Umpatnya kesal.

Yuri menghela napas pelan lalu kembali memfokuskan pikirannya pada majalah yang tengah ia baca dengan setengah hati. Matanya terpaku pada beberapa kalimat dalam artikel itu, napasnya sedikit tercekat, dan sistem peredaran darahnya bekerja secara lambat untuk memproses segala sesuatunya. SeoHyun, gadis itu yang kini diwawancarai.

‘Tentu saja hubunganku dengan KyuHyun oppa hanyalah sebatas hubungan pekerjaan dan tidak lebih. Lagipula sebenarnya aku sudah menjalin hubungan dengan Yonghwa selama tiga tahun terakhir ini, jadi bagaimana bisa aku berpaling darinya ke pria lain? Hahaha.’

….

‘… Hm, aku rasa KyuHyun oppa menyukai gadis lain, hanya saja ia begitu bodoh untuk enggan menyadarinya.’

‘Tentu saja aku tahu gadis itu! Tidak, kami tidak sempat berkenalan secara langsung hanya sempat bertatapan saja. Tapi begitu aku melihat unni itu, hati kecilku langsung berkata; gadis itu diciptakan Tuhan untuknya.’

‘Err.. sebenarnya aku cukup menyayangkan sekali mendengar kabar berakhirnya hubungan unni itu dengan KyuHyun oppa, walau bagaimanapun aku benar-benar mendukung hubungan mereka. Dan, aku benar-benar merasa marah pada orang-orang yang telah menghina atau berbuat jahat kepada unni itu. Apa-apaan mereka seenaknya berbicara seperti itu? Apakah mereka tidak punya hati?’

‘Rumor kabar tentang hubungan KyuHyun oppa dengan model itu? Hm, entah mengapa aku sedikit tidak memercayainya karena aku belum mendapat konfirmasi langsung dari KyuHyun oppa sendiri. Mungkin itu hanya rumor belaka saja.’

‘Hm, gadis yang KyuHyun oppa cintai? Apakah aku boleh mengatakannya oppa? Hahaha’

‘Baiklah, karena kalian terus memaksa dan mendesakku. Gadis itu berinisial KY. Itu yang KyuHyun oppa ceritakan padaku, dan sampai sekarang ia masih mencintai gadis itu. Ya Tuhan, semoga saja mereka bisa bersama dan bahagia kembali, amin. Benarkan aku?’

Salah satu air mata Yuri jatuh begitu saja saat membaca paragraf terakhir dan perbincangan akhir diartikel itu. Sungguh, hal bodoh apa yang telah ia perbuat sekarang? Sepertinya, dihatinya itu akan ada badai dahsyat saat ini.

KY? Siapa gadis itu kali ini? Apakah dihati laki-laki itu benar-benar sudah tidak ada lagi dirinya yang tersisa? Menagapa laki-laki itu begitu kejam padanya? Mengapa laki-laki itu pergi dengan mudahnya meninggalkannya begitu saja? Mengapa… oh ya Tuhan, entah harus mengatakan apalagi saat ini?

“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang, Sica-ah?” tanya teman gadis itu lagi. Yuri menolehkan kembali wajahnya menatap mereka dengan tatapan iba setelah gadis itu berhasil menenangkan dirinya dan menghapus kedua airmatanya.

“Tidak ada, mau berbuat apalagi? Laki-laki itu lagipula benar-benar kejam dan jahat seperti iblis bagiku. Ketika aku memintanya untuk datang menemuiku, ia tidak pernah melakukannya. Selalu aku dulu yang berbuat, dan setelah melakukan suatu hal untuknya, laki-laki itu seperti pria berhati es yang tidak memiliki perasaan.” Keluh gadis yang bernama Sica itu dengan kesal.

“Kalau begitu, lupakan dia saja. Masih banyak pria lain yang menantimu dan mencintaimu. Jika hanya masalah karirmu, kau bisa menemukan laki-laki lain yang dapat membantumu untuk mendongkrakmu keatas.” Hibur temannya itu.

“Kau benar, Sunny-ssi.” Setuju gadis itu. Punggung gadis itu sedikit terlihat lebih tegar dan tegak dari sebelumnya. Yuri hanya tersenyum simpul melihat gadis itu, setidaknya ia ikut senang melihat gadis itu kembali tegar.

Yuri merapikan majalahnya dan membawa cup capucino miliknya lalu pergi dari kafe itu begitu saja. Ia menunggu bus dihalte sembari menyenandungkan kecil lagu barunya. Hari ini Yuri sengaja tidak membawa mobilnya dan memilih naik transportasi umum. Ia ingin memperpanjang waktunya untuk sampai diapartementnya. Kali ini, Yuri berencana pergi ke Sungai Han. Tempat dimana ia dan KyuHyun kali pertama berkencan saat dulu.

Kedua mata Yuri menyipit saat seorang laki-laki tengah menaiki bus yang sama dengannya. Laki-laki itu berpakaian mantel panjang dengan topi hoodie dikepalanya dan dihiasi sebuah kacamata hitam yang bertengger dihidung, dan tak lupa masker yang menutupi setengah wajahnya. Laki-laki itu mirip KyuHyun, batin Yuri sembari menghela napas panjang dan berat. Laki-laki itu memilih tempat duduk jauh dibelakang Yuri, walau dengan perasaan kecewa dihati Yuri, tetapi ia segera menggubris bayang-bayang tentang KyuHyun yang mulai memenuhi hati maupun pikirannya saat ini.

Tidak, tidak, tidak boleh.

 

***

 

Entah berapa lama Yuri terdiam dan duduk seperti itu sembari menatap kosong aliran air Sungai Han. Hari mulai berganti malam saat ia mulai menyadari sekelilingnya. Yuri menghela napas pelan sembari menatap pancuran lampu-lampu sungai itu. Cantik, gumamnya pelan.

“… Will you come back? Will you come back?

One heart fluttering night

I waited all night in a dark room

I waited and waited for you and I cried a lot

Because I know it won’t work even if we meet again..”

(Davichi – Because I Miss You More Today)

 

Yuri melantunkan sebuah lagu yang tak asing lagi baginya. Lagu itu terlantun begitu saja dibibirnya tanpa ia sadari sembari menatap kosong aliran Sungai Han. Seakan lagu itu mewakili hati dan perasaannya saat ini. Yuri menghela napas berat saat ia telah berhasil menyelesaikan lagu tersebut.

Yuri menatap sekelilingnya dengan tatapan pilu namun dengan senyum pedih diwajahnya. “Kau tidak tahu seberapa sakitnya aku, KyuHyun-ah.” Gumamnya pelan.

 

***

 

Entah bagaimana cara Yuri untuk mengendalikan ciuman panas dan intens kali ini. Minho tidak henti-hentinya menghujani dirinya dengan ciumannya, setelah ia meminta Yuri bertemu dan mengajaknya ke rumah malam ini. Laki-laki itu bilang, ia akan menjadikan Yuri gadisnya malam ini. Entah apa maksud dari ucapannya itu, sebelum Yuri sempat mengatakan apapun, laki-laki itu telah berhasil memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Yuri mencoba bersikap tenang dan tidak terbawa suasana, ia bahkan tidak begitu berniat untuk membalas ciuman kali ini. Terlalu lelah dan malas hari ini. “Hentikan!” pinta Yuri disela-sela ciuman mereka. Minho menurutinya dan menatap Yuri dengan kening berkerut. “Sudah cukup, aku terlalu lelah hari ini. Aku ingin pulang sekarang.” Putus Yuri sembari menjauhkan tubuhnya dari Minho dan menyambar tas miliknya. Ia benar-benar pergi begitu saja dari rumah laki-laki itu tanpa mengindahkan serentettan kata perintah atau permohonan dari laki-laki itu.

Napas Yuri menderu hebat saat ia berhasil keluar dari rumah laki-laki itu. Ternyata dugaannya selama ini benar, laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya saja. Ini gila, laki-laki itu benar-benar gila! Maki Yuri dalam hati sembari menyentuh dadanya yang bergemuruh. Kedua airmatanya kembali jatuh membasahi pipi-pipinya. Sekalipun ini tidak masuk akal baginya, tetapi ia benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki itu.

“Cho KyuHyun, aku membutuhkanmu sekarang…” lirihnya lemah sembari tetap menyentuh bagian dadanya atau lebih tepatnya, hati.

Krek! Suara ranting patah itu berhasil menarik perhatian Yuri. kedua matanya segera mencari asal sumber suara tersebut tetapi hasilnya hampir nihil, jika saja kedua matanya tidak menangkap sesosok pria berpakaian mantel hijau tosqa dengan warna topi senada berlari menjauhinya begitu saja. KyuHyun?

“Siapa kau?” alih-alih ia mengatakan nama KyuHyun, lebih baik ia menanyakan siapa sebenarnya laki-laki itu. Ia terlalu takut akan berharap lagi dengan kekosongan belaka. Tetapi, entah mengapa hati dan tubuhnya tidak ingin berkompromi pada logika yang telah ia buat saat ini. Kedua kakinya terus melangkah yang semula perlahan-lahan kemudian berlari mengikuti laki-laki asing itu, lalu hatinya kembali memanggil-manggil nama KyuHyun berkali-kali.

Aku pasti sudah gila, makinya pada diri sendiri.

“KyuHyun, tunggu aku!” pinta Yuri tanpa sadar setengah berteriak. Tetapi lelaki didepannya itu tidak menggubris permintaannya barusan. “Oppa, aku mohon jangan lari!” ulangnya lagi. “Yaa, Cho KyuHyun! Kau cari mati ya?” peringat Yuri bersikukuh untuk menghentikan langkah laki-laki itu dan menangkapnya. “Yaa, Cho KyuHyun! Aish, kau benar-benar!” maki Yuri kesal sembari melempari laki-laki itu dengan tasnya. Berharap, laki-laki itu akan tekena tasnya dan terjatuh. Tetapi, hasilnya nihil. Laki-laki itu memang terkena tas Yuri tetapi ia tidak menghentikan langkah kakinya, pria itu hanya sedikit terhuyung selama beberapa detik lalu kembali berlari seperti semula. Yuri mengambil kembali tasnya yang sempat terjatuh dijalanan aspal. “KyuHyun, aku mohon!” pinta Yuri, sedikit frustasi kali ini.

Bagaimana bisa? Laki-laki yang ia cintai dan sayangi kali ini benar-benar mengabaikannya begitu saja.

“Baik! Aku akan berhenti mengejarmu, tetapi aku mohon berhentilah! Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu!” putus Yuri akhirnya, ia sebisa mungkin menahan tangisnya agar tidak pecah begitu saja. Langkah kakinya terhenti saat laki-laki itu menghentikan langkah kakinya beberapa meter di depannya. Tetapi, laki-laki itu tidak menolehkan wajahnya atau sekadar membalikkan tubuhnya ke arah Yuri.

Huh, ternyata benar KyuHyun, batinya dengan rasa sedih dan pilu.

“Mengapa kau tak memberitahuku semuanya? Mengapa kau meninggalkanku hanya karena wanita lain? Mengapa kau tega melakukan ini semua padaku? Mengapa kau berbohong padaku? Mengapa kau tidak menunjukkan dirimu padaku selama tujuh bulan terakhir ini? Mengapa kau tidak mengabariku selama ini? Mengapa kau harus memata-mataiku setiap saatnya? Baik, aku terima jika kau memang ingin menjalin hubungan dengan gadis lainnya. Tetapi kenapa kau harus berbohong padaku bahwa kau ingin merintik karirmu di Cina? Apa kau gila?” salah satu air mata Yuri jatuh begitu saja saat ia mengatakan semua isi benaknya selama ini yang ia tahan. Ia berjalan mendekati KyuHyun beberapa langkah dengan pelan dan tenang, hingga laki-laki itu tidak menyadarinya.

“Sepertinya aku yang gila.” Lanjutnya dengan sinis pada dirinya sendiri. “Aku mencoba bertahan selama ini dan meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini akan baik-baik saja. Aku juga meyakinkan diriku sendiri semua yang kau ucapkan itu benar. Aku juga meyakinkan diriku sendiri untuk tetap menunggumu dengan sabar, tetapi sepertinya aku terlalu bodoh. Aku terlalu salah menilaimu dimataku.” Lirihnya, kali ini tangisnya mulai pecah. Isakan-isakan kecil mulai keluar dari mulutnya. Hatinya benar-benar terasa sakit dan pilu saat ini. Tetapi, melihat pria dihadapannya tidak melakukan apapun padanya, walau hanya sekadar menolehkan wajahnya dan menatapnya saja, itu sudah lebih dari cukup. Tetapi lelaki ini lebih memilih berdiam diri dan tidak melakukan apapun padanya.

Ya Tuhan, sepertinya ia benar-benar sudah mendepakku dari hatinya. Batinya sembari menyunggingkan senyum getir diwajahnya, kedua tanganya menghapus kasar air mata diwajahnya.

“Baik, sepertinya kau sudah lebih bahagia tanpaku saat ini.” Lanjutnya lagi setelah beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. “Lebih baik, kita tidak perlu lagi bertemu satu sama lain. Aku akan pergi, dari kehidupanmu. Aku janji.” Sungguh, kata-kata ini terlalu pilu dan menyayat untuk dikatakan atau didengar. Jika saja ada cara lain untuk bisa menyelesaikan persoalan ini, mungkin lebih baik memilih cara itu ketimbang harus melakukan ini semua. “Jaga dirimu baik-baik, oppa. Selamat tinggal, selamat tinggal, selamat tinggal, selamat tinggal, dan selamat tinggal.” Ucap Yuri pelan tetapi masih dapat di dengar lelaki itu dengan baik. Diiringi senyum pahitnya diwajah gadis itu, perlahan-lahan ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan lelaki dihadapannya kini dengan langkah kaki berat dan panjang.

Lelaki itu hanya diam sambil bergumam dan mengumpat pada seseorang. Ia tidak tahu cara atau hal apa yang harus ia lakukan saat ini. Menurutnya, keputusan sahabatnya itu benar-benar hal paling bodoh dan fatal yang pernah ia setujui. Seharusnya ia tidak mau mengiyakan dan melakukan semua ini dengan embel-embel persahabatan. Persetan dengan hal semacam itu,  jika pada akhirnya sahabatnya itu terluka dan menyesal seumur hidupnya. Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu berbalik dan mulai mengejar Yuri yang sekarang sudah jauh di depannya.

“Kwon Yuri, tunggu!” pinta laki-laki itu, tetapi kali ini gadis itu yang tidak menggubrisnya. “Yuri, tunggu! Aku mohon!” pintanya, sembari mencengkram salah satu lengan Yuri dan membalikkan tubuh gadis itu ke hadapannya. “Aku benar-benar minta maaf padamu, sungguh! Ini semua rencana KyuHyun!” ucapnya sembari mencoba menjelaskan. “Aku mohon, jangan pergi dari hidupnya! Apapun alasannya, jangan pernah mencoba pergi dari hidup KyuHyun.” Pintanya dengan sedikit memaksa dan menuntut. Cengkraman tangannya pada lengan Yuri sedikit bertambah kuat, membuat Yuri meringis kesakitan. Detik berikutnya, lelaki itu segera melepaskan cengkramannya dan meminta maaf atas perbuatan kasarnya itu.

“Jadi, kau selama ini adalah teman KyuHyun, Shim Changmin-ssi?” tanya Yuri tidak percaya sembari menatap laki-laki dihadapannya kini dengan tajam.

Changmin menganggukkan kepalanya lemah. Tidak peduli apa yang akan dikatakan KyuHyun nanti padanya, yang terpenting saat ini adalah ia harus memastikan dan menjaga Yuri agar tidak melakukan sesuai janjinya barusan itu.

“Aku tidak mengerti apa yang kalian pikirkan saat ini, tetapi mempermainkan perasaan perempuan bukanlah sifat laki-laki sejati.” Balas Yuri dengan dingin dan tajam, seakan jika saja ia tidak bisa menahan dirinya, mungkin ia akan menjadikan lelaki itu santapan sarapan pagi binatang buas terdekat. “Satu hal, katakan pada KyuHyun, selamat tinggal.” Pintanya dengan tegas dan dingin tanpa menggubris permintaan Changmin barusan. Yuri lalu meninggalkan Changmin begitu saja saat taksi kali pertama lewat dijalan perumahan elit yang sepi itu.

Lelaki itu hanya bisa terdiam dan membisu sekarang ini. Entahlah apa yang akan terjadi pada kedua orang itu nantinya, ia sendiripun terlalu takut dan ngeri untuk membayangkannya. Terlebih, sahabatnya itu. Ia kenal betul siapa Cho KyuHyun sebenarnya. Dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, serta berharap keduanya dapat kembali bersama dan hidup bahagia selamanya.

 

***

 

“Unni?” panggil YoonA pelan dan hati-hati diikuti tatapan khawatir dari kekasih barunya kini. Tetapi sepertinya gadis itu tidak ada niatan untuk menyahut atau sekadar melirik sepasang kekasih itu. Ia terlalu marah dan fokus pada kopernya. Kali ini ia benar-benar akan pergi meninggalkan negara tercintanya, jika beberapa hari yang lalu ia merapihkan dan memasukkan barang-barangnya ke koper untuk berjaga-jaga saja, maka kali ini ia sungguh-sungguh akan melakukannya. “Unni, kau yakin ingin pergi tanpa menjelaskan apapun padaku?” tanya YoonA hati-hati.

“Aku lelah, bisakah kalian keluar dari kamarku sekarang?” ketusnya tanpa melirik YoonA atau Donghae sedikitpun.

“Baik, aku mengerti. Selamat malam, istirahatlah dengan baik.” Ucap YoonA lembut sebelum ia pergi dan menutup pintu kamar Yuri. Yuri menghela napas panjang dan berat. Sekalipun ia berharap KyuHyun akan berada disini dan menjelaskan semuanya, ia pasti akan memaafkan laki-laki itu. Tapi sepertinya itu terlalu mustahil. Yuri merebahkan tubuhnya di atas ranjang, perlahan-lahan ia menutup kedua matanya dan mencoba untuk tidur sekalipun hati dan pikirannya tidak menentu malam ini.

 

***

 

Surat pengunduran diri pagi-pagi sekali sudah ia taruh dimeja Direktur Kim. Ia juga hanya meninggalkan sepucuk surat untuk YoonA dimeja tanpa memberitahukannya kemana ia akan pergi. Segala sesuatunya seakan ia sudah rencanakan malam itu. Apa yang harus dilakukan gadis itupun juga sudah ia pikirkan dan persiapkan matang-matang.

Ia kembali menatap ponselnya dengan dingin dan datar, nama seseorang yang ia harapkan tertera diponselnya tidak pernah muncul. Selalu orang lain, bukan laki-laki itu. Choi Minho calling. Detik berikutnya, Yuri mematikan ponselnya dan melepaskan baterai ponsel tersebut lalu menyimpannya dalam tas kecilnya. Ia lalu melakukan check in. Sudah, tidak ada harapan lagi yang ia harapkan selain harapan baru untuk masa depannya. Ia hanya ingin melupakan semua cerita cinta kepahitannya disini, dinegara ini, sebelum ia terbang ke Amerika Serikat. Lalu memulai cerita kembali dengan lebih baik dan hati-hati lagi.

Pesawat yang Yuri tumpangi akan lepas landas beberapa menit lagi. Yuri menghela napas panjang dan dalam, lalu menyunggingkan senyuman diwajah cantiknya dengan lebih cerah dan optimis lagi, bertepatan dengan lepas landasnya pesawat itu.

Selamat tinggal, Cho KyuHyun. Kau tahukan, aku mencintaimu?

 

***

 

Seorang laki-laki tengah menghela napas panjang dengan kedua mata terpejam. Laki-laki itu merupakan sorotan utama dari orang-orang yang berada didalam gedung raksasa itu. Ia duduk terdiam terkulai lemas selama beberapa saat ditengah panggung. Laki-laki itu menatap sendu pada piano dihadapannya. Seluruh orang-orang yang berada ditempat itu terdiam dan menatap laki-laki itu dengan penuh tanda tanya. Beberapa orang tengah berbisik dan bertanya apa yang sedang terjadi pada idola mereka itu, tetapi tidak ada satupun yang bisa menjawab.

“Aku…” ucap laki-laki itu dengan sendu sembari menatap kosong pada tuts-tuts pianonya, memecahkan keheningan diruangan raksasa itu. “Aku bertemu dengan seorang gadis yang menakjubkan.” Lanjutnya, dengan posisi yang masih sama. Laki-laki itu kembali menghela napas dalam dan berat. “Gadis itu telah mencuri hatiku seutuhnya. Tanpa menyisakannya sedikitpun.” Tambahnya. “Dan dia pergi meninggalkanku begitu saja.” suara helaan napas panjang dan berat pria itu terdengar dengan jelas ditelinga orang-orang itu. Seakan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan pria itu, mereka ikut merasa sedih dan tidak akan kuat jika melihat laki-laki itu berlama-lama seperti itu. “Lagu ini ku persembahkan untuknya. Semoga ia mendengarkannya dan cepat kembali padaku.” Suara tuts-tuts dan alat musik lainnya mulai terdengar diruang raksasa itu.

I thought this was the end of my memory
The faces I’ll never see again pass me by
I stood at the end where I couldn’t do anything
I put my hands together and just prayed

So I could show you my heart

That still hasn’t done everything

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”

I thought the entire world stopped
Only the happy times pass me by

I stood at the end I thought I wouldn’t have
I just prayed like that
So I can feel the love
That I’ve passed by

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”
I’ve lived without knowing
How precious you are

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again
I want to say “I love you”

(KyuHyun – Love Again)

Tanpa bisa KyuHyun cegah lagi, setetes air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya. Bibirnya sedikit bergetar pelan dan ia berusaha menahan isakan kecil yang mungkin akan keluar dari bibirnya. Sorot kamera utama masih menyoroti KyuHyun, sedangkan seluruh penggemarnya sedikit histeris saat melihat laki-laki itu menangis. Detik berikutnya, sorot lampu yang menyinarinya mulai meredup dan perlahan-lahan mati. Konser itu sudah berjalan selama tiga jam, dan lagu itu sudah berada hampir diakhir acara.

Mungkin jika gadis yang dicintainya itu memberi kabar kepada dirinya atau paling tidak ke YoonA—adik sepupu gadis itu—untuk sekadar memberitahu bagaimana kabarnya saat ini, KyuHyun tidak akan menjadi orang yang hampir hilang akalnya seperti ini. Sayangnya, gadis itu tidak akan memberitahukannya sedikitpun. Dan itu hampir membuatnya gila selama tiga hari terakhir ini. Sejak sahabatnya itu memberitahukannya bahwa ia tertangkap saat menjalankan permintaan dirinya dan memberitahu Yuri segalanya.

Sungguh, KyuHyun sudah berusaha untuk segera menemui Yuri saat itu juga. Tetapi jarak mereka tidak sangat memungkinkan. Dari Cina ke Korea menempuh waktu setidaknya 9 jam. Itu juga sudah lebih cepat. Dan ketika ia tiba di Korea Selatan—negara tercintanya ini—ia langsung pergi menemui Yuri tetapi ketika ia sampai di apartementnya itu, gadisnya telah pergi pagi-pagi buta sekali. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain merutuki dan memaki dirinya sendiri. Bahkan kedua air mata KyuHyun tidak bisa ditahan lagi untuk tidak keluar. Suara isakan kecilpun sudah keluar dengan mulusnya melalui mlutnya. Hatinya terlalu sakit saat ini. Changmin dan YoonA hanya bisa melihat KyuHyun dengan iba juga sakit tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.

Jika banyak gadis yang menangis dalam hal cinta, maka akan jarang sekali menemukan fakta bahwa laki-laki juga bisa menangis dalam hal cinta. Kau tahu? Laki-laki yang menangis dalam hal percintaan karena satu wanita, maka laki-laki itu mencintainya dengan segenap hatinya, tanpa terkecuali.

 

—To Be Continued—

HAPPY MONDAY GUYSSS!

Semoga hari ini kalian bersemangat ya, pastinya!

Oh ya, bagi yang meminta password via email untuk sementara ini tidak bisa Yura balas dulu ya. Dikarenakan, jaringannya selalu error ketika buka yahoo dan loading lama. Nanti kalo jaringannya udah benar lagi, Yura langsung kabarin ya ^^

Ngga banyak basa-basi lagi deh kali ini, tapi intinya semoga teman-teman semua selalu bersemangat dan ceria🙂

Semoga kalian juga tetap menyukai ff aku yang satu ini hoho

Keep RCL (Read, Comment(s), and Likes) ya!

Terima kasih banyak~

25 thoughts on “3 Ways to Get You, 1 Ways to… What? [Part 5]

  1. anyeong eonni… trima kasih udah publis… aku udah nungguin ff eonni. ini… wah aku ngk suka sama moment minho sama yuri ya,,, kenapa kyuhyun seperti itu pd yuri,,, dan pd akhirnya mereka saling menyakiti diri sendiri,,,, lanjut eonni… apa kyuhyun akan bertemu kembali dgn yuri,,,, di tunggu next part ya gomawo

  2. kaget pas tau yuri pacaran sama minho .. dan ternyata pacaran sama minho cuman keterpaksaan aja
    jessica -_- mau mendongkrak popularitas nya lewat kyuhyun .. dasarr .. kyuhyunnya juga mau-mau aja -_-
    seohyun ngasih tau orang yg di cintai kyuhyun tapi yuri kenapa gk peka😦 padahal KY itu inisial nama yuri
    wuahh … ketauan deh changmin .. aku kira kyuhyun yg mata-matain yuri dan ternyata changmin
    yuri beneran ninggalin kyuhyun😦 kyuhyun juga ngapain gk dari dulu kasih penjelasan ke yuri .. malah nunggu sampe 7 bulan baru ngomong .. udah deh di tinggal yuri ke AS

    di tunggu nextpartnya eonni🙂

  3. Sakit hati bacanya eon😦. Duh sedih banget. When you find someone that feels so right to be together, but in wrong time😦 sukses buat mewek huaa. Lanjutannya eon ditunggu. Kalo masalah penulisan cerita sih eon lebih pro. Hahaha🙂

  4. aduuh eonni mash bngung knapa kyuppa ninggalin yuleon klo ternyata mash cinta .. akhirnya nyeselkan di tinggl pergi ama yuleon .. semoga mereka bersatu lg ya eon .. lanjutkan n critanya kereen🙂

  5. annyeong authornim, kyaaaa ini alurnya benar-benar buat penasaran, susah ditebak. maunya apa? kita jadi kebawa mikir juga, tapi pas mikir bener-bener buntu. penuh teka-teki yang belom terselesaikan(kenapa Kyuhyun nyuruh Changmin buat mata-matain Yuri) aduhhh penasaran hubungan mereka Kyuhyun ditinggal ke Amerika, dan dia bener-bener nangis, sempet ngira dan yakin banget itu penguntit Kyuhyun, eh taunya bener-bener diluar prediksi ternyata itu bang Changmin, astaga makin penasaran aja ini autornim. kenapa Kyuhyun nyiksa diri banget yak. itu lagu love again ngena banget. pokonya ditunggu banget next chapnya authornim. semangat!!!

  6. eonni
    aku suka bgt ff ini
    bgt bgt bgt dan bgt
    yaampun jgn brpisah kyurii
    kyu nyesel kan ;’

    eonni ditunggu update nya terusss :’

  7. Sedihhh
    Minho jahat ihh cuman mau tubuhnya yuri doanh
    Terus changmin mau aja disuruh sama kyuhyun yaa 😂
    Kyuri kyuri kyuri ya eonnie…
    Lanjut

  8. Yeay, akhirnya publish jg🙂
    Aigoo, itu Yuleon bneran pergi ke Amerika :O
    gk sabar nunggu nextnya…
    Keep Writing ^^

  9. masih bingung alasan kyu mutusin yuri .. inisial ky tuh pasti yuri, ah gk peka nih ..
    aduh ayo kyuri brsatu dong ..

  10. Ish kyuhyunnn-__- knp jd pesimis gini sih, mau ketemu yuri aja harus pake mata2. Biasanya juga arogan sama yuri. Dan akhirnya yuri udh pergi duluan baru dianya nyesell huuuu

  11. kemarin kyu oppa yg meninggalkan yuri. sekarang yuloni yg pergi.. apa mereka akan bersatu? onnie buat mereka bersatu ..

  12. aku kira yg ngikutin yuri kyuhyun ternyata changmin pantes dia nempatin apartemen kyuhyun ternyata disuruh kyu , yaampun seo ngasih tau cewek yg kyuhyun cinta inisialnya KY si yuri kok gk peka ya dia fikir KY cewek lain mungkin , kyu telat ngejelasin semuanya keburu yuri ke amerika rungguin yuri aja pulang dri amerika ,

  13. Next eonnie , makin bikin penasaran sama next chapternya . Semoga aja endingnya kyuri bersatu kembali ..

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s