LIKE A FOOL [Part 1]


 

 

LIKE A FOOL

Author : Kwon Yura

Main Cast : Tiffany Hwang

Lee DongHae

Im YoonA

****

Support Cast : ****

PG : +16  and BO

Length : OneShoot

Disclaimer : Because of I like HaeFany Couple so, I write it. This is my gift for you friends J Wish you will like it. Marry Christmas and Happy New Year!

“ Kita dipisahkan oleh takdir. Kemudian dipertemukan oleh takdir kembali. Seperti orang bodoh yang terus berharap akan sesuatu hal. Walau ku tahu aku ini bodoh karena mencintaimu sampai seperti ini dan detik ini. Tapi, cinta tak pernah salah memilih. Karena cinta adalah suatu hal yang murni dan tulus.” –Kwon Yura.


Kami dilahirkan ke dunia secara berbeda

Mungkinkah ini sebuah kutukan?

Kami hidup  di bawah  langit

Tetapi kami hidup  ditempat berbeda

Mungkinkah ini juga kutukan?

Kami tidak ditakdir kan untuk saling bertemu

Apakah ini juga sebuah kutukan?

Kami dilahirkan untuk saling mencintai

Apa ini juga sebuah kutukan?

Cintaku padamu begitu murni dan tulus

Apakah salah?

Walau ku tahu kau tak mencintaiku

Walau ku tahu aku akan menderita karenanya

Walau ku tahu aku hanya menyakiti diriku sendiri

Walau ku tahu aku seperti orang bodoh

Walau ku tahu kau tak mengharapkannya

Walau ku tahu kau tidak memilki perasaan yang sama sepertiku

Apakah aku salah untuk tetap mencintaimu?

–          © Kwon Yura.

“Aku berjanji akan kembali padamu. Maaf, aku harus pergi meninggalkanmu saat ini. Tapi, sungguh, jika aku kembali lagi aku pasti akan menemuimu dengan segera. Maaf, maafkan aku.” Ucapnya meyakinkanku saat kami ingin berpisah.

“ Haruskah kau pergi Lee DongHae? Tak bisakah kau tinggal?” pintaku dengan airmata yang tertahan dipelupuk mataku. Hatiku sakit dan sedih harus melihat kepergiannya.

“ Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku harus ikut appa-ku, Tiff.” Jelasnya lembut sambil menatapku dengan tulus.

Aku menundukkan kepalaku kebawah, menghela napas dalam sambil memenjamkan mataku. Mencoba menahan semua keegoisanku ini. Ini demi kebaikannya, Tiff. Jadi kau harus merelakannya pergi. Hanya sebentar, tak akan lama. Dan bukankah ia telah berjanji padamu untuk kembali lagi padamu nantinya? Ayolah, jangan bersikap egois, Tiff. Batinku untuk meyakinkanku. Aku menghela napas dalam sekali lagi sebelum memutuskan sesuatu.

“ Baiklah, aku mengerti.” Putusku pada akhirnya. Aku membuka ke dua mataku dengan perlahan lalu menatap matanya. Berharap ada kesedihan yang tersirat dibola matanya. Tapi, sayangnya tidak ada. Disana hanya ada pancaran kesenangan dan kegembiraan. Apa aku salah melihatnya? Tidak mungkin, Lee DongHae, tidak merasa sedih berpisah dariku. Aku pasti salah.

“ Terima kasih, Fany-ah, aku tahu, kau paling mengerti aku.” Ucapnya dengan senyum bahagia yang tersungging diwajahnya, ia lalu memelukku. Aku hanya bisa terdiam tanpa membalas pelukannya sama sekali.

Pelukan yang ku harapkan sebelum ia pergi meninggalkanku. Pelukan yang hangat dari kekasihku. Tapi.. kenapa aku merasa pelukan ini seperti… pelukan sahabat? Aku pasti salah mengartikannya lagi.

Kau melihat apa yang dilakukan DongHae hari ini semuanya salah, Tiff. Percayalah ia pasti sedih karena harus meninggalkanmu, dan lagi, bukankah ia sangat mencintaimu? Jadi, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Gunakan detik-detik terakhir bersama DongHae sebaik mungkin. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.

DongHae melepaskan pelukannya. Ia lalu menatapku dengan bola matanya yang indah.

“ Aku pergi.” Pamitnya dengan senyuman yang masih tersungging di wajahnya.

Haruskah kau pergi Lee DongHae?

Aku hanya bisa menatapnya dengan sendu. Tidak ingin ia pergi jauh dariku. Entah mengapa jika ia saat ini pergi akankah ia kembali lagi padaku?

“ Hei, jangan memasang wajah seperti itu padaku. Aku hanya akan pergi untuk menyelesaikan kuliahku saja. Hanya empat tahun Fany, hanya empat tahun. Tak lebih,  Aku pasti akan kembali lagi padamu. Aku janji.” Ucapnya sambil menyentuh ke dua bahuku dengan ke dua tangannya. Aku tahu, ia berusaha meyakinkanku dan menenangkanku.

Tapi sungguh, entah mengapa aku tetap tidak tenang. Aku merasa dia dan setengah jiwaku akan pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa mempedulikanku lagi nantinya.

“ Bagi penumpang pesawat berkeberangkatan Amerika Serikat, diharapkan untuk segera menaiki pesawat karena keberangkatannya sepuluh menit lagi. Terima kasih atas perhatian anda semuanya.”

Pemberitahuan itu membuatku menatapnya semakin sedih. Air mataku terasa sekali ingin jatuh saat ini juga.

“ Ah, aku sudah harus naik pesawat sekarang. Baiklah, sampai jumpa lagi, adikku sayang.” Ucapnya lembut sambil mengelus kepalaku dengan gemas.

Aku hanya diam mematung melihatnya dan mendengar ucapannya.

“ Jika aku nanti sampai di sana, aku pasti langsung menghubungimu, Tiff.” Ucapnya lembut dan diiringi sebuah senyuman –lagi-lagi- yang tulus tanpa ada rasa kesedihan sekalipun.

“ A-aku tahu, oppa. Oppa harus berjanji padaku pada semua ucapan yang oppa katakan padaku saat ini.” Jawabku  sambil menatapnya dengan nanar. Mataku pasti berkaca-kaca saat ini.

Ia membalas senyumanku dengan lembut. “ Aku tahu. Sampai jumpa.” Pamitnya padaku. Sebelum ia pergi melangkahkan kakinya, ia sekali lagi mengelus kepalaku dengan lembut. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi menjauh dariku.

Air mataku terjatuh begitu saja saat melihat punggungnya yang mulai menjauh.

Tak adakah kata cinta yang kau ucapkan sebelum kau pergi meninggalkanku?

Apakah kau begitu bodoh?

Apakah kau tak menyadari hatiku?

Apakah kau tak bisa melihatku sebagai seorang gadis?

Apakah kau tak bisa untuk tetap tinggal di sampingku?

Apakah kau tak merasa sedih meninggalkanku?

Ya Tuhan…

Tak tahukah kau …

Lee DongHae, aku mencintaimu.

###

Aku menatap ponselku dengan tatapan sendu dan berharap. Harapan yang tak pernah sirna dihatiku hampir selama 4 tahun ini. Selalu saja seperti ini setiap harinya.

“ Kau sedang menunggu telepon dari siapa?” tanya Jessica tiba-tiba sambil duduk di depanku. Aku tersadar lalu menatapnya dengan wajah sedikit kaget. Karena tentu ke datangannya itu yang secara tiba-tiba pasti membuatku kaget.

“ Ti-tidak. Aku tidak menunggu telepon dari siapapun.” Elakku setenang mungkin agar tidak ada yang mengetahui jika saat ini aku tengah berbohong.

Jessica memincingkan matanya untuk menatapku dan mencari suatu kejanggalan dariku. “ Bohong.” Ucapnya keluar begitu saja dengan tepat sasaran.

“ Aku tidak bohong, Sica. Aku memang tidak sedang menunggu telepon dari seseorang.” Elakku lagi, yang jelas sekali berbohong.

Ia mengangkat bahunya, tanda tidak tahu dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Aku menghela napas lega.

“ Well, kenapa kau memintaku datang kemari? Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.

“ Tidak, hanya saja aku merasa bosan di rumah. Lagipula, kau juga tidak memiliki kegiatan, bukan? Tugas kuliah kita juga sudah kita selesaikan minggu kemarin.” Ucapnya tidak peduli pada tatapanku yang merasa kesal karena tidak tahu ingin melakukan apa? Pasti hanya membuang-buang waktu saja dikafe ini. Dan, itu hanya akan membuatku bosan.

“ Kau tenang saja, aku juga meminta Yuri, SeoHyun, Sunny, Taeyeon, HyoYeon, dan juga SooYoung untuk datang. Jadi kita pasti takkan merasa bosan hanya melewati waktu untuk hari ini.” Jelasnya sambil mengambil majalah di depan meja kami  lalu melihat-lihatnya.

“ Ck, cold Sica.” Ucapku pelan. Aku mengucapkan seperti itu karena dia saat ini terkesan dingin dan cool.

Ia mendongakkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan dinginnya itu. “ Well, aku tahu aku memang dingin dan jutek. Dan aku menikmatinya.” Ucapnya sambil tersenyum licik padaku. Entahlah apa maksudnya?

“ Natal kali ini apakah akan istimewa?” tanyanya sambil menatap langit dan menerawang jauh.

Aku menghela napas berat. Sekelebat perasaan menyesakkan menghampiriku. “ Entahlah, tapi mungkin akan sama saja.” Ucapku pelan dan melamun. “ Sama seperti tiga tahun terakhir ini.” Lanjutku pelan.

“ Hm? Apa? Bukankah kita melewati natal selama ini dengan baik-baik saja? Apa kau tak merasa seperti itu?” tanya Sica bingung. Aku menatapnya sambil tersenyum kaku.

“ A-ani, tentu saja menyenangkan melewati natal bersama kalian. Hanya saja.. aku meindukan.. seseorang.” Ucapku pelan saat ingin menyelesaikan kalimatku.

“ Siapa? Kenapa kau tak pernah membicarakannya pada kami?” tanyanya sedikit menuntut.

“ Ti-tidak, bukan begitu maksudku. Aku merindukan.. appa-ku.” Ucapku sedikit berbohong padanya. Dan DongHae. Tambahku dalam hati.

“ Oh, aku juga merindukan ke dua orang tuaku yang berada di Amerika saat ini.” Sahutnya sambil membolak-balikkan halaman majalah.

Aku mengangkat bahuku, tanda tak ingin tahu dan malas untuk membahas masalah tak penting. Alunan music yang diputar dikafe membuatku terdiam mendengarkannya.

Being too hot, i hate it

Me who love only you, i hate it

Just like a fool

A sad love song, i hate it

Keeps getting hurt and whimpering

Shutting my lips to keep me from calling you

Ah~ Im so sorry

If i used to cry, but i will not cry again

Oh, please dont let go this hand that holding you

Ah~ Im so sorry for my weak heart

Everytime you get far away, a big questioning whether you will back

This bad guy, you, an uncapable man

Me who living only looking only at one man, only you

Week girl, good girl

What if he went away, what if he leave

Being too cold, i hate it

Like other people seing me

Oh, i really hate that look in your eyes

Ah~ Im so sorry Oh~

I will do whatever you ask me to

Let’s go back like what we used to

Ah~ Im so sorry for im being young

Being easily bruised, torn apart and hurt

This bad guy, you, an uncapable man

Me who living only looking only at one man, only you

Week girl, good girl

What if he went away, what if he leave

What if you have your pride hurt?

It’s okay if only you coming back

Even now, in front of your house, im here alone waiting for you

That’s right, i know nothing beside you, i must be a fool, i really am

Born as a woman with only one day to live

Living with only looking to one man

Bad guy, im a fool

What if he went away, what if he leave

Seulas senyum getir menghiasi wajahku. Bodoh. Mencintai laki-laki itu seperti ini. Ah, Tiffany, kenapa kau sungguh bodoh sekali? Cih, bahkan ia telah melupakanmu sama sekali. Jadi, percuma saja kau menunggunya kembali. Hanya membuang-buang waktumu saja.

Dan lagi, ia mengingkari kata-katanya sendiri. Jadi, apa yang kau tunggu dan harapkan lagi? Ia telah melupakanmu, Tiff.

Ia telah melupakanmu. Benar-benar telah melupakanmu, Tiffany.

Sebulir air mata membasahi pipiku. Bodoh.

“ Hei, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Sica bingung. Aku menatapnya sembari memaksakan sebuah senyuman yang tersungging diwajahku.

“ Tidak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Yakinku padanya.

Sica menaikkan salah satu alisnya sambil menatapku bingung. “ Kau yakin? Tapi, kau bukan pembohong yang baik nona Hwang.” Ucapnya setengah meledekku.

“ Sungguh, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedih mendengar lagu Joo tadi.” Jelasku padanya yang dibalas dengan kening Sica yang berkerut.

“ Huh? Tidak masuk akal jika kau hanya menangis karena mendengar lagu itu. Tapi, untuk orang sepertimu.. mungkin masuk akal juga.” Ucapnya sedikit menyebalkan terdengar, tapi aku tahu maksudnya baik.

“ Hahaha… sudahlah. Tidak perlu dibahas. Oh ya, kemana mereka semua? Kenapa mereka belum ada yang sampai saat ini juga?” tanyaku, mengalihkan perhatian.

“ Entahlah, mungkin mereka akan terlambat datangnya.” Ucapnya tak peduli pada topik yang sedang ku bicarakan. Ia hanya membolak-balikkan halaman majalah.

“ Well, mungkin.” Anggukku pelan lalu memilih diam sambil menyesap cappuccino yang ku pesan sedari tadi.

“ I’m sorry, I’m late.” Ucap Yuri tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi sampingku.

Aku menatapnya dengan datar. “ Kenapa kau telat? Aku hampir bosan menunggu kalian semua datang.”

“ Maaf, temanku yang dari Amerika baru saja datang. Jadi aku menjemputnya dulu tadi baru datang kesini.” Jelasnya sambil memasang wajah tak bersalah.

“ Ya, baiklah, aku mengerti. Tapi, mana yang lainnya?” tanyaku padanya.

Yuri malah celingukan sendiri mencari seseorang. “ Apa mereka belum datang juga? Wah, jadi ternyata bukan aku yang datang telat sendiri toh.” Ucapnya tanpa rasa bersalah, dan malah memasang wajah ceria.

“ Seperti yang kau lihat saat ini.” Ucapku datar lalu menyesap kembali cappuccino milikku.

“ Ahahaha… maaf, aku sedikit sibuk minggu ini karena harus mempersiapkan pertunangan seseorang.” Ucapnya merasa bersalah kali ini.

“ Pelanggan baru-mu?” tanyaku sedikit tertarik, tetapi terlalu malas untuk membahasnya.

“ Iya, tapi lebih tepatnya teman lamaku.” Jelasnya sambil menerawang jauh.

“ Kapan mereka akan bertunangan?” tanyaku sambil menyenderkan punggungku kepada kepala kursi.

“ Hm, bulan depan. Dan mereka akan menikah tahun depan.” Jelasnya.

“ Siapa temanmu itu? Apakah wanita? Atau laki-laki?” tanya Sica kali ini, mungkin ia merasa tertarik?

“ Wanita, dia sangat cantik sekali. Pasangannya juga sangat tampan.” Jelasnya bersemangat.

“ Benarkah? Wah, ku ucapkan selamat pada temanmu itu.” Ucap Sica dengan semangat yang terpancar dari matanya.

“ Ahahahaha… Baiklah, nanti aku akan menyampaikannya.” Ucap Yuri sambil memanggil pelayan kafe untuk memesan sesuatu.

“ Oh ya, berhubung kau bilang kau memiliki teman yang ingin bertunangan bulan depan, aku jadi teringat teman sekolahku dulu.” Ucap Sica sambil mencoba- mengingat-ingat.

“ Wah, kenapa sepertinya banyak sekali yang ingin menikah?” tanyaku polos.

Sica menatapku datar tanpa ekspresi.

“ Apa?” tanyaku lagi polos.

“ Tiffany-ssi, usia kita memang sudah sewajarnya untuk menata hidup baru. Jadi, wajar saja jika di usia kita ini ada banyak yang ingin dan sudah menikah.” Jelasnya tanpa ekspresi.

“ Oh, menurutku tidak juga.” Ucapku polos sambil mengangkat bahu tanda tak peduli.

“ Itu menurutmu, menurut kebanyakan gadis, diusia kita ini, kita sudah harus menikah.” Ucapnya sambil menatap Yuri kembali. “ Well, kapan mereka akan bertunangan?” tanyanya pada Yuri dan mengabaikanku.

“ Hm, tanggal dua puluh tujuh?” Jawab Yuri sambil mengingat-ingat.

“ Maaf, kami telat.” Ucap Taeyeon tiba-tiba dan langsung duduk di sebelah kursi Yuri disusul oleh Sunny, SooYoung, dan HyoYeon.

Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat mereka semua.

“ Maaf, tadi kami bertemu teman kami di jalan, yang kebetulan adalah teman Sunny, SooYoung, dan HyoYeon juga. Jadi, kami mengobrol dulu.” Jelas TaeYeon sambil mengambil cappuccino milikku dan meminumnya.

“ Hei! Itu milikku!” protesku.

“ Aku tahu, aku haus.” Ucapnya tanpa rasa bersalah.

Well, memiliki satu orang teman yang ternyata teman mereka semua… tidakkah aneh? Kenapa bisa kebetulan sekali dalam satu waktu bertemu? Ck, ini pasti takdir.

“ Maaf unnie, aku telat.” Ucap SeoHyun dengan diikuti seorang wanita cantik dibelakangnya yang tak ku kenal.

“ YoonA?!” kaget Yuri dan langsung berdiri.

“ YoonA?!” panggil yang lainnya kaget dan terkejut.

Aku mengernyitkan kening dan diikuti raut wajah SeoHyun yang juga bingung.

Apa mereka semua saling mengenal satu sama lain?

“ Kalian?” sahut gadis itu yang bernama YoonA.

“ Hai! Sudah lama kita tak bertemu.” Ucap Sica sambil menghampiri dan ingin memberikan sebuah pelukan kecil yang disambut dengan sebuah senyuman YoonA.

Cantik. Hanya satu kata itu saja yang dapat ku ucapkan untuk seorang gadis seperti dia. Malah dia terlalu cantik untuk seorang gadis,

“ Unnie, kalian saling mengenal?” Tanya Seo bingung.

“ Ah, iya, dia ini temanku saat sekolah dulu,” jelas Jessica.

“ Hai, Yul.” Sapa YoonA pada Yuri yang disambut senyum ramah Yuri.

“ Tunggu! Sepertinya kita saling mengenal YoonA.” Ucap TaeYeon tiba-tiba sambil saling menatap kami semua.

Aku hanya dapat mengernyitkan keningku mendengar pendapatnya. Karena aku tidak mengenal YoonA sama sekali.

“ Iya, kau benar, Taeng. Kita semua saling mengenal satu sama lain. Apakah ini takdir untuk kita bertemu seperti ini?” tanyanya diselingi tawa dan memilih duduk disamping Yuri.

Aku hanya bisa diam melihat mereka. Tidak tahu dan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan aku seperti diabaikan.

“ Hei! Namamu siapa? Aku tidak tahu kau.” Ucapnya tiba-tiba setelah sekian lama berbincang-bincang dengan yang lainnya.  “ Aku YoonA, Im YoonA.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Aku membalasnya dengan suka cita. “ Tiffany, Hwang Tiffany.” Balasku sembari tersenyum ramah padanya.

“ Senang bisa berkenalan denganmu.” Ucapnya lagi sambil tersenyum ramah padaku.

“ Aku juga senang bisa berkenalan denganmu. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik.” Ucapku lalu kami menyudahi untuk berjabat tangan itu.

“ Well, apa kau jadi bertunangan dengannya?” Tanya TaeYeon, kembali pada topic semula.

YoonA mengangguk semangat. “ Tentu, segala sesuatunya telah disiapkan. Aku tinggal gaun yang akan ku pakai nanti.” Jawabnya.

Aku hanya bisa terdiam sambil mendengarkan apa yan mereka bicarakan. Karena aku tidak mengerti sama sekali apa yang sedang mereka bicarakan.

###

Uap hangat dari mulutku terlihat dengan jelas sekali di udara. Hari sudah begitu laru saat ini. Aku mempercepat langkahku untuk sampai rumah sambil mempererat jaketku yang tebal untuk tetap menghangatkan tubuhku.

Aku menatap langit malam yang hanya ada 1 bintang yang terlihat. Sisanya tidak terlihat karena awan gelap.

Dari dulu hanya ada 1 bintang. Di malam sebelum natal, selalu hanya 1 bintang. Bahkan 3 tahun terakhir ini, hanya ada 1 bintang yang terlihat. Padahal bintang itu sinarnya begitu redup dan hampir tak terlihat. Tapi, entah mengapa bintang itu tetap dapat terlihat olehku.

Bintang itu seperti aku yang saat ini, tengah kesepian dan sendirian. Menunggu dan berharap seperti orang bodoh.

We’ve loved each other
but we are separating now
although we are under the same sky at different places but please don’t forget me

When the cold wind’s brushes
against my fingertips
i can hear the sound of your your laughter
i cry again because i am lonely
because i miss your two eyes in which reflected me
i couldn’t say those words, because my lip frozen.

We’ve loved each other
but we are separating now
although we are under the same sky at different places
but please don’t forget me

I couldn’t say those words
because the tears covered my lip

We’ve loved each other
but we are separating now
although we are under the same sky at different places
but please don’t forget me
do you know? Who person who had to let you go
as they clutched their heart? That person is me, please love that person.

Even though we are in different places
under the same skyreturn to me someday

We’ve loved each other
but we are separating now
although we are under the same sky at different places
but please don’t forget me

But please don’t forget me

Tiffany – Don’t Forget

Aku berdiri terdiam sambil menutup mataku. Lagu itu ku nyanyikan tanpa sadar. Hanya keluar begitu saja dari bibirku. Bulir-bulir lembut mengalir membasahi ke dua pipiku.

Oppa, apa kau telah melupakan aku? Apa kau benar-benar sudah melupakanku?

Kenapa kau mengingkari janji yang kau ucapkan padaku? Kenapa kau tidak menepatinya saja? Kau tahu? Aku sangat mencintaimu sampai seperti orang bodoh.

Bodoh, Tiffany, bodoh.

###

Aku mengeringkan rambutku yang basah akibat sehabis mencuci rambutku dengan handuk. Aku menatap kea rah luar jendela. Kamar DongHae oppa berada. Aku mengernyitkan keningku. Menatap bingung pada kamarnya.

Lampu kamarnya menyala. Aneh, tidak seperti biasanya lampu kamar itu menyala. Biasanya akan selalu mati. Mungkinkah…

Aku menggelengkan kepalaku. Menepis pikiran yang tidak mungkin terjadi.

Mungkin saja Mrs, Lee sedang berada di kamar DongHae karena ia merindukan anaknya itu? Ah, Tiffany, kau jangan berpikir hal yang membuatmu berharap begitu banyak. Lebih baik kau saat ini tidur, kau pasti lelah karena seharian ini.

Aku menatap jam dinding kamarku yang bergantung pada dinding. Pukul 11 malam.

Waktunya tidur, Tiff. Jernihkan kepalamu itu.

###

Aku melangkahkan kaki-ku keluar dari rumah dengan terasa berat. Entah mengapa? Hari ini aku memiliki janji dengan Yuri untuk ke rumahnya. Membantunya untuk merancang sebuah gaun pengantin yang akan dipakai YoonA saat menikah nanti.

Aku membalikkan tubuhku setelah aku menutup pintu pagar. Langkahku terhenti, jantungku berhenti berdetak, aliran darahku membeku, dan tubuhku mematung. Melihat seseorang di depanku. Lebih tepatnya di depan rumah sampingku.

Laki-laki itu belum menyadari keberadaanku yang masih terdiam mematung menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan perasaan sesak yang memenuhi diriku saat ini. Ia masih sibuk dengan ponselnya. Berbicara dengan seseorang lalu baru memberbalikkan tubuhnya ke arahku. Dan barulah ia sadar keberadaanku yang saat ini tengah mematung menatapnya.

“ Tiffany?” sapanya lembut dan kaget. Ia lalu memutuskan sambungan seketika dan langsung berlari memelukku.

Air mataku jatuh membasahi pipiku saat ia menarik tubuhku dalam pelukannya.

Hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa. Perasaan ini terlalu menyesakkanku.

Pelukan ini… hangat. Pelukan yang selalu ku inginkan darinya. Pelukan yang berbeda jauh sebelum ia pergi meninggalkanku.

“ Aku merindukanmu.” Ucapnya lembut tepat ditelingaku. Air mataku turun kembali dengan deras. Tidak bisa dapat berkata apapun. Hanya bisa menangis tersedu-sedu yang dibalas oleh senyum DongHae yang lembut. Senyum yang selama ini ku rindukan. Senyuman yang selalu membuatku hangat dan tenang disaat apapun.

“ Oppa…” panggilku lirih dan kacau.

DongHae hanya tersenyum lembut padaku. “ Jangan menangis lagi, Fany-ah.” Pinta lembut sambil mencubit ke dua pipiku dengan lembut.

Aku lalu tertawa diperlakukan seperti itu olehnya.

“ Dasar oppa…”

“ Hahahaha… Beri aku pelukan sekali lagi! Oppa-mu telah pulang sekarang.” Pintanya.

Aku tersenyum lalu memeluknya dengan senang hati.

Oppa aku merindukanmu.

###

“ Bagaimana kalau seperti ini?” Tanya Yuri padaku saat aku tengah sibuk membuat desain-desain gambar gaun pengantin yang akan digunakan YoonA. Ia lalu memberikan buku sketsa-nya padaku. Saat ini aku berada di rumah Yuri untuk membantunya mempersiapkan gaun pengantin.

Kembalinya DongHae oppa dari Amerika membuatku bersemangat hari ini. Banyak ide-ide yang ingin aku tuangkan pada gaun YoonA nantinya.

Aku menatapnya dengan seksama. “ Bagus, tapi, bagaimana jika dibagian ini diberi renda dan bagian ini sedikit dibuat panjang. Sepertinya akan lebih terlihat elegant lagi.” Saranku padanya.

“ Benarkah? Tapi sepertinya saranmu boleh juga.” Ucapnya sambil mengangguk-angguk. Ia lalu mengikuti saranku dan menggambarnya.

“ Oh ya, Yul?” ucapku teringat sesuatu.

“ Hm?” sahutnya sambil tetap focus pada sketsanya.

“ YoonA itu orangnya seperti apa?” tanyaku. Melupakan bagian terpenting dalam mendesain gaun pengantin ini. Gaun pengantin harus menyesuaikan kepribadian sang pengantinnya bukan?

“ Dia?” ucap Yuri sambil menerawang dan mengingat-ingat sikap YoonA. “ Ceria, drama queen, naturally, baik, murah senyum, ramah, dan suka menyukai hal-hal yang membuatnya menjadi pusat perhatian.” Jelasnya.

Aku lalu terdiam dan mulai memikirkan untuk gaun pengantin seperti apa yang cocok dan disukai YoonA. Lalu mulai menuangkan ideku dalam sebuah gambar sketsa.

###

Malam telah tiba saat aku berjalan pulang ke rumah. Aku menghela napas berat sehingga menimbulkan uap di udara yang malam yang semakin dingin.

DongHae oppa telah kembali, syukurlah.

Aku berhenti berjalan dan memenjamkan mataku dalam-dalam.

Perasaanku menjadi satu saat ini. Entahlah mengapa? Hanya saja saat ini aku merasa sedih dan… takut? Takut. Takut DongHae oppa meninggalkanku. Padahal tadi aku tak merasa perasaan seperti ini.

Aneh bukan? Tiba-tiba merasa seperti ini. Tiff, kau ini sedang melakukan apa? Jangan berpikir yang tidak-tidak! Bukankah DongHae oppa telah kembali? Bukankah kau seharusnya merasa senang dan gembira? Bukan bersedih dan merasakan hal-hal aneh seperti ini. Dan setidaknya malam natal nanti kau tidaklah sendirian. Dan itu sudah cukup.

Aku memenjamkan mataku dalam-dalam. Membuang jauh perasaan yang aneh ini. Membuang jauh ke dalam hatiku. Tanpa ku sadari, tanganku mengepal dengan kuat. Bulir-bulir lembut jatuh begitu saja. Pelan namun pasti, dan lama-kelamaan menjadi sebuah tangisan yang tak dapat ku hentikan. Hanya mengalir begitu saja. Hanya merasakan perasaan menyesakkan ini begitu saja. Hanya terpaku dengan bingung begitu saja. Tanpa tahu penyebabnya sama sekali.

Yang ku pikirkan saat ini adalah DongHae oppa seorang. Hanya dia seorang.

“ Tiff? Ada apa denganmu? Apa ada yang salah?”

Aku menahan napasku tanpa sadar. Membuka mataku secara perlahan-lahan. Menahan harapan yang begitu besar dan banyak terhadap satu orang. Aku takut, aku takut jika harapan itu menghancurkanku pada nantinya.

Hanya aku yang terluka.

Aku melihat dengan samar-samar seseorang di depanku karena air mata yang masih tertahan dipelupuk mataku. Untuk beberapa detik, aku tak dapat mengenalinya. Tapi, detik berikutnya aku dapat mengenalinya dengan baik dan jelas.

“ Oppa…” panggilku pelan dan kaget.

DongHae tersenyum tipis padaku. “ Hai, Tiff. Kau kenapa? Apa ada masalah?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng pelan. “ Tidak, tidak ada apa-apa, oppa.”

“ Benarkah? Lalu kenapa kau menangis?” tanyanya lagi sambil memincingkan matanya menatapku. Menyelidiki seseuatu. “ Apa… ada laki-laki yang telah menyakitimu?” tanyanya asal.

Aku menggeleng pelan. “ Bukan oppa, bukan begitu. Aku sungguh baik-baik saja oppa.” Yakinku padanya.

“ Benarkah? Lalu kenapa kau menangis?” tanyanya lagi yang masih belum meyerah.

Aku membalikkan tubuh DongHae dan mendorongnya untuk berjalan. “ Sudahlah oppa, bukan apa-apa. Lebih baik kita pulang. Di luar dingin sekali.” Pintaku.

“ Eh? Tapi… tapi…” tolaknya, tapi aku tetap mendorongnya untuk berjalan.

Maaf, oppa, aku tidak bisa memberi tahumu tentang ini. Jika aku memberi tahumu tentang perasaanku, apakah kau akan tetap menjadi oppa-ku? Oppa yang selalu aku cintai melebihi dari kau menganggapku sebagai seorang… adik kesayanganmu.

Bulir lembut membasahi pipiku. Aku menundukkan kepalaku ke bawah. Tubuhku bergetar pelan,  karena –lagi-lagi- perasaan aneh ini menghampiriku. Begitu menyesakkan, begitu memilukan, dan… menyakitkan.

DongHae oppa, kau tidak akan meninggalkanku kan?

***

======================= ==TBC=========================

DON’T FORGET TO LEAVE COMMENT! THANK YOU😀

I wish you will like it readers!😀

KEEP RCL (READ, COMMENT, AND LIKE) PLEASE!😀

AND HAPPY NEW YEAR READERS!😀😀😀

25 thoughts on “LIKE A FOOL [Part 1]

  1. I’M THE FIRST!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! YEAY
    HAPPY NEW YEAR Yul~ah🙂
    Jangan bilang tunangan si Yoona itu Donghae??? ANDWEEEEEEE
    btw , part ini dikiiiiit😦 banyakin doooong.
    Feel-nya lumayan dapet coba dibanyakin pasti dapet banget deh wkwkkw *sotoy bet yak?*

    Can’t wait for the second part ^^

    1. Ahahahahahahha😀 yeah, you the first ^^
      hahaahhahahahhaa😀
      iya padahal 19 page lhooo😀
      hahhahahaha oke oke oke😀 nggak kok nggak sotoy ahahahhaa😀

      eheheheheh😀
      thank you ^^😀

    1. oke ^^ tapi masih on going chingu yang ini heheheehehe😀😀😀 sabar nunggu ya hehehhehe😀😀😀
      wah, kamsahamnida😀😀 *deeply bow* (_ _)😀
      terima kasih telah rcl chingu😀 hehehhee😀

  2. Annyeong !!
    Ega imnida,,
    Waaw ,, akrnyaa nemu jg ff yg pair fany ama donge,, aku jga shipper haefany ,, **ngga nanyaa** (¬_¬”)
    Hhehe ,, crtnyaa bgus chinguu ,,
    Oh yaaa yg mau tunangan sma yoona itu sii fishy yaa,,??
    Trus fany onnnie’nya gmnaa??
    Lnjut k part 2 yaa ,, aku tggu looh !!
    Smaa ff love again ,, d tggu yaa part slnjutnyaa😀 ,,
    Daebak buat author🙂 ^^

    1. annyeong ^^
      Yura imnida senang berkenalan denganmu ^^
      hehehehehe😀 Aku juga HaeFany Shipper lohhh ahahahahha😀😀😀
      wah makasih banyak loh ega hehehehe >////<😀
      hahhahahaha rahasia ^^ kekekke~😀

      oke~ aku lanjutin kok ^^ tenang aja tinggal tunggu tanggal post hehehehee ^^
      oke oke~😀😀😀
      wah makasih banyak loh ega ^^ *deeply bow* hehehehhe😀

  3. waaaahh…ini ff udah di post last january..kok aku bru liatnya 2 juni?
    hehehe…
    bagus bagus bagussss!!! ><
    ditunggu next partnyaaaa!!! jangan lama2 ya unn^^

  4. aduuuhhhhhhhh kasian bgt sich uri eonni………….hiks hiks hiks………..-_-
    udah fany eonni sama sehun oppa aza………beres dah……..^_^

Leave Your Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s